cover
Contact Name
Nurhadi Siswanto
Contact Email
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
corak.jurnalsenikriya@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Corak : Jurnal Seni Kriya
ISSN : 23016027     EISSN : 26854708     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
CORAK adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Jurusan Kriya, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta dengan nomor p-ISSN: 2301-6027 dan nomor e-ISSN: 2685-4708. Jurnal ini berisikan tentang artikel hasil penelitan, gagasan konseptual (hasil pemikiran), penciptaan, resensi buku bidang seni kriya dan hasil pengabdian masyarakat dalam bidang kriya.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018" : 9 Documents clear
PERUBAHAN DAN PERKEMBANGAN PANAKAWAN DALAM PEWAYANGAN Nurhadi Siswanto
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.481 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2638

Abstract

The Panakawan figure in puppet is the original creativity of Indonesian people. Its existence is recognized as having existed before Islam emerged as the political power in the archipelago (Demak). Since the 12th century the figure of Panakawan has been mentioned in Javanese literature and developed in the walls of the temple's reliefs. Even the presence of Panakawan still exists today, with Semar, Gareng, Petruk and Bagong as the characters. Of course there were many different things between Panakawan pre-Islamic times when compared to the Islamic period. These differences were certainly very interesting to study, so they can show the influence of Islam in the world of Wayang. This paper tries to examine the history, changes and development of Panakawan figures in pre-Islamic times and the Islamic period. Using Alvin Boskoff's theory of change, and the theory of the principle of acculturation to Koentjaraningrat's culture, the author tries to examine various changes, and the development of Panakawan figures in wayang. The results of the study show that changes in the pre-Islamic Panamanian era and the Islamic period were changes due to external factors, namely the domination factor of Islamic teachings in Puppet. The strong influence of Islam has caused many changes to occur in the naming, number, form and function of the Panakawan figures.KeyWord: Punakawan, Puppet, changes and Development  Tokoh Panakawan dalam pewayangan adalah asli kreatifitas manusia Indonesia. Keberadaanya diakui telah ada sebelum Islam muncul sebagai kekuatan politik di bumi Nusantara (Demak). Sejak abad 12 tokoh Panakawan telah disebutkan dalam kesusastraan Jawa dan berkembang pada relief dinding-dingding Candi. Panakawanpun keberadaannya masih eksis sampai saat ini, dengan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong sebagai tokohnya. Tentunya banyak hal yang berbeda antara Panakawan masa pra Islam bila dibandingkan dengan masa Islam. Berbagai perbedaan tersebut tentulah sangat menarik untuk dikaji, sehingga bisa menunjukkan pengaruh Islam dalam dunia Wayang. Tulisan ini mencoba mengkaji sejarah, perubahan dan perkembangan tokoh Panakawan pada masa pra Islam dan masa Islam. Menggunakan teori Perubahan Alvin Boskoff, dan teori prinsip akulturasi budaya Koentjaraningrat, penulis mencoba mengkaji berbagai perubahan, dan perkembangan tokoh Panakawan dalam pewayangan. Hasil kajian menunjukkan bahwa perubahan Panakawan masa pra Islam dan masa Islam merupakan perubahan karena faktor eksternal, yaitu faktor dominasi ajaran Islam dalam Pewayangan. Kuatnya pengaruh Islam ini telah menyebabkab banyak terjadi perubahan baik pada penamaan, jumlah, bentuk dan fungsi tokoh Panakawan. Kata Kunci: Punakawan, Wayang, Peruabahan dan Perkembangan
STUDI EKSPERIMEN FINISHING PERHIASAN KUNINGAN DENGAN PERPADUAN ELEKTROPLATING DAN PATINASI Febrian Wisnu Adi
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.828 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2662

Abstract

Finishing Research The combination of Patina and electroplating has been carried out according to the research target, which has been able to identify metal materials, especially brass and copper. Bronze and copper Patenting techniques with various jewelry forms. The form of jewelry created amongst other things: bracelets, pendants, jewelry earrings are made with solder technique, tatah, and saws. Before the author experiment and apply patina and electroplating as the main finishing on jewelry on the work of creation. The author first conducted patina and electroplating tests to brass and copper plates with size 2 x 3 cm. The process and results of this research experiment is the answer and the first step which has successfully conducted various scientific experiments with found patina finishing formula with the ideal chemical mixing composition. Research on patina and electroplating experiments can be a contribution to the progress of finishing. Patina finishing research is preferred in brass and copper.Finishing is the finishing touch of a product with a better purpose, such as increasing the quality of the ingredients, increasing the decorative value, increasing the aesthetic value of a product, following the latest design trends, and can increase the selling value of a product. This research is a new research that has not been there before with the method of merging patina and electroplating techniques will be a trend finishing and as a pioneer finishing on jewelry with brass and copper. Keywords: jewelry finishing experiment, patination finishing, finishing electroplating  Percobaah finishing kombinasi patina dan electroplating telah dilakukan sesuai dengan target penelitian, yang telah mampu mengidentifikasi bahan logam, khususnya kuningan dan tembaga. Teknik Paten Perunggu dan Tembaga dengan berbagai bentuk perhiasan. Bentuk perhiasan yang dibuat antara lain: gelang, liontin, anting perhiasan dibuat dengan teknik solder, tatah, dan gergaji. Sebelum penulis bereksperimen dan menerapkan patina dan pelapisan sebagai finishing utama pada perhiasan pada karya penciptaan. Penulis pertama kali melakukan tes patina dan elektroplating untuk pelat kuningan dan tembaga dengan ukuran 2 x 3 cm. Proses dan hasil percobaan penelitian ini adalah jawaban dan langkah pertama yang berhasil melakukan berbagai percobaan ilmiah dengan menemukan formula finishing patina dengan komposisi pencampuran kimia yang ideal. Penelitian tentang percobaan patina dan elektroplating dapat menjadi kontribusi bagi kemajuan penyelesaian. Penelitian finishing Patina lebih disukai di kuningan dan tembaga. Finishing adalah sentuhan akhir dari produk dengan tujuan yang lebih baik, seperti meningkatkan kualitas bahan, meningkatkan nilai dekoratif, meningkatkan nilai estetika suatu produk, mengikuti tren desain terbaru, dan dapat meningkatkan nilai jual suatu produk. Penelitian ini adalah penelitian baru yang belum pernah ada sebelumnya dengan metode penggabungan patina dan teknik elektroplating akan menjadi tren finishing dan sebagai pelopor finishing pada perhiasan dengan kuningan dan tembaga. Kata kunci: percobaan finishing perhiasan, finishing patinasi, finishing electroplating
KOMPOSISI EFEK SPONTAN CAT AIR DENGAN SULUR TRADISIONAL YOGYAKARTA PADA PENCIPTAAN LUKISAN Deni Junaedi; Adnan Aditya K
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1172.096 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2640

Abstract

Penelitian “Komposisi Efek Spontan Cat Air dengan Sulur Tradisional Yogyakarta pada Penciptaan Lukisan” ini paling tidak memiliki tiga urgensi untuk pendidikan seni lukis maupun dunia seni lukis pada umumnya. Pertama, perpaduan efek spontan cat air yang terjadi dengan sendirinya dengan sulur tradisional Yogyakarta yang memiliki pakem akan menghasilkan dinamika bentuk yang diperlukan untuk penciptaan seni lukis. Kedua, sulur biasanya menjadi penghias barang fungsional, dan dalam penelitian ini ia diangkat sebagai pembangkit pengalaman estetis itu sendiri; dengan kata lain ‘sulur dihadirkan sebagai sulur itu sendiri’, bukan sekedar penghias yang menempatkannya sebagai aspek kedua setelah barang yang dihiasi. Ketiga, penelitian ini menerapkan kaidah langgam seni postmodern shock of the old, bukan shock of the new. Rumusan penciptaan dalam penelitian ini adalah bagaimana mengomposisi efek spontan cat air di kertas dengan bentuk sulur tradisional Yogyakarta untuk penciptaan lukisan. Data sulur diperoleh dengan kajian pustaka maupun observasi, yaitu di Keraton Kasultanan Yogyakarta, Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Makam Raja-Raja Imogiri, Museum Sonobudoyo, Taman Sari, Museum Kereta Keraton, dan Benteng Vredeburg. Hasil penciptaan lukisan kombinasi efek spontan cat air dengan sulur tradisional ini dikerjakan dengan dua cara yang berbeda. Cara pertama adalah menentukan bentuk sulur lalu diberi efek spontan cat air. Sebaliknya, cara kedua adalah membuat efek spontan cat air terlebih dahulu kemudian direspon dengan sulur. Kata Kunci: lukisan, sulur, efek spontan cat air, Yogyakarta This research, “Compositions between Watercolor Effects and Yogyakarta Traditional Sulurs for Painting Creations”, has at least three urgencies for painting educations and art worlds generally. First, on the one hand, watercolor effects give spontaneous forms; on the other hand, Yogyakarta traditional Sulurs (spiral forms of floral ornamens) have certain patterns. Combinations of both of them produce dynamic compositions needed for creating paintings. Second, the function of sulurs usually are for decorating things, such as ornamens on buidings, furniture, or book illuminations; in this case, sulur is as the second thing. Meanwhile, in this research, sulurs are used for arousing aesthetic experiences; it is as itself. Third, this study applies the postmodern art value ‘shock of the old’, not ‘shock of the new’. The research question is how to compose the spontaneous watercolor effects with Yogyakarta traditional sulurs for painting creations. Sulur data is obtained by literature review and observations at Yogyakarta Sultanate Palace, Tomb of the Kings of Mataram Kotagede, Tomb of the Kings of Imogiri, Sonobudoyo Museum, Taman Sari, Keraton Carriage Museum, and Vredeburg Fort. The result of this research is, the combinations of watercolor effects and sulur can be created in two different ways. The first way is determining the shape of the sulurs then given with watercolor effects. Instead, the second way is creating watercolor effects first then responded with sulurs. Keywords: painting, sulur, spontaneous watercolor effect, Yogyakarta
STRATEGI PENGEMBANGAN INDUSTRI KRIYA LOGAM DI DESA TUMANG CEPOGO BOYOLALI Aan Sudarwanto; Kuntadi Wasi Darmojo
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.796 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2647

Abstract

This article is the result of community service, taking the theme of the Development of Metal Craft Industry. The aim is to increase the competitiveness of the metal craft industry in the village of Tumang Cepogo Boyolali. With a focus on handling product quality and production speed so that they can compete as export products. The method or approach used in the development of the metal craft industry includes training education with lecture, interactive, guidance and mentoring techniques. Then the design and application supervision was carried out as well as the provision of appropriate technology equipment stimulation to solve production problems. The main problem of SMEs especially metal craft in Tumang village is the use of simple tools, which is one of the reasons why handicraft products cannot meet market demand in a short time. So we need a strategy on how to solve these problems. Besides that, there are many other problems that need handling as a form of development strategy. Among them are handling raw material problems, design, production tools, promotion strategies, marketing and management of human resources. The focus of this empowerment activity is more directed at aspects of improving the quality of metal handicraft production which includes strengthening production systems, strengthening human resources, utilizing appropriate technology use, design, design and product branding which ultimately lead to the export of metal craft products. Keywords: Empowerment, metal crafts, quality  Artikel yang merupakan hasil pengabdian pada masyarakat ini, mengambil tema Pengembangan Industri Kriya Logam. Adapun tujuannya untuk meningkatkan daya saing industri kriya logam yang berada di desa Tumang Cepogo Boyolali. Dengan menitikberatkan pada penanganan kualitas produk dan kecepatan produksi sehingga mampu bersaing sebagai produk ekspor.  Metode atau pendekatan yang digunakan di dalam pengembangan industri kriya logam ini  antara lain menggunakan pendidikan pelatihan dengan teknik  ceramah,  interaktif, bimbingan dan  pendampingan. Kemudian dilakukan supervisi  desain dan aplikasinya serta pemberian stimulasi  peralatan teknologi tepat guna untuk memecahkan persoalan produksi. Problem utama UKM khususnya kriya logam di desa Tumang adalah penggunaan alat yang sederhana, merupakan salah satu sebab mengapa produk kriya tidak bisa memenuhi permintaan pasar dalam waktu yang singkat. Sehingga diperlukan strategi bagaimana memecahkan permasalahan tersebut. Disamping itu banyak permasalahan-permasalahan lain yang diperlukan penanganan sebagai bentuk strategi pengembangan. Diantaranya penanganan permasalahan bahan baku, desain, alat produksi, strategi promosi, pemasaran dan pengelolaan sumber daya  manusia.Fokus dari kegiatan pemberdayaan ini lebih diarahkan pada pada aspek peningkatan kualitas produksi Kerajinan logam  yang meliputi penguatan sistem produksi, penguatan sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi tepat guna, perancangan desain, dan branding produk yang akhirnya bermuara pada eksport hasil produk kerajinan logam. Kata kunci : Pemberdayaan, kriya logam, kualitas
KEKUATAN TRIPLE HELIX DALAM USAHA PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI PERAJIN BAMBU DI KERTAYASA, MANDIRAJA, BANJARNEGARA, JAWA TENGAH Retno Purwandari
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (859.822 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2664

Abstract

Triple helix is the power of a synergy between academics, business people, and the government. These powers seeded as one way to maximize have been potential fields regions throughout Indonesia. One program that describes force triple helix is Program Kemitraan Masyarakat (PKM) of ristekdikti. PKM have done 2017 from the volunteers of Art Institute Indonesia Yogyakarta is ”IbM Usaha Kerajinan Bambu ”D’Bantar Bamboo Craft” dan ”Ali’s Bamboo Craft” di Desa Kertayasa, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara”. PKM done it has various program aimed to improve the quality and the production of bamboo. This program has been implemented because bamboo in this village is one of the pillars of the government in improving the welfare of the village community Kertayasa, Banjarnegara. These programs are to be given priority to: a). The development of design product, b). Diversified products, c). The procurement of production machine, and d). Provisions for management.Training and participation partner who directly involved is right methods and profitable for the government and partner, as by means of like this partner felt responsible for himself and the government in managing local potential. Hence, as broad outline focused training to: a). Training design making, b). Training deversified products, c). Task of procuring, and d). Training in management. A whole these activites having the main target, among others in the form of: expertise make a design, products craft bamboo, efficient technology to, and energy skilled. Thus, problems partner would gradually handled well. Keywords: Triple Helix, PKM (Program Kemitraan Masyarakat), bamboo craft, Banjarnegara Triple Helix merupakan kekuatan sinergi antara akademisi, pebisnis, dan pemerintah. Kekuatan ini sangat diunggulkan sebagai salah satu cara untuk memaksimalkan potensi-potensi daerah di seluruh Indonesia. Salah satu program yang menggambarkan kekuatan triple helix ini ialah Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dari Ristekdikti. PKM yang telah terlaksana tahun 2017 ini dari para pengabdi ISI Yogyakarta ialah ”IbM Usaha Kerajinan Bambu ”D’Bantar Bamboo Craft” dan ”Ali’s Bamboo Craft” di Desa Kertayasa, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara”. PKM yang telah terlaksana ini melakukan berbagai program kegiatan yang bertujuan meningkatkan kualitas dan percepatan produksi bambu. Program ini dilaksanakan karena bambu di desa ini merupakan salah satu pilar pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Kertayasa, Kabupaten Banjarnegara. Program-program tersebut diprioritaskan pada: a). Pengembangan Desain Produk, b). Diversifikasi Produk, c). Pengadaan Mesin Produksi, serta d). Pembekalan Manajemen.Pelatihan dan Partisipasi mitra yang terlibat langsung merupakan metode yang tepat dan menguntungkan bagi pemerintah dan mitra, karena dengan cara seperti ini mitra merasa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri dan pemerintah dalam mengelola potensi lokal. Pelatihan difokuskan pada: a). Pelatihan Pembuatan Desain, b). Pelatihan Diversifikasi Produk, c). Pengadaan Alat, dan d). Pelatihan Manajemen. Keseluruhan kegiatan tersebut memiliki target utama, antara lain berupa: keahlian membuat desain, produk kerajinan bambu, teknologi tepat guna, dan tenaga terampil. Dengan demikian, persoalan mitra secara perlahan akan teratasi dengan baik.  Kata Kunci : Triple Helix, PKM (Program Kemitraan Masyarakat)), kerajinan bambu, Banjarnegara
TRIBAWANA DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI BATIK Ernawati Ernawati
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.29 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2648

Abstract

The purpose of this research is to find out the meaning and function of the Tribawana concept in the process of creating batik art and the creative process of creating batik art. The method used in this research is descriptive qualitative method with a Case Study approach at the Babaran Segaragunung Cultural House. The results of this study indicate that Tribawana is three dimensions of nature, namely microcosm, macrocosm and creative sources. The creative process with the Tribawana concept is a process of reviving Javanese cultural traditions. The implementation of the Tribawana concept in the creative process at the Babaran Segaragunung Cultural House consists of an understanding process in the form of shared knowledge and practice or practice. Visualization of Semen batik as an example of batik image which contains elements of the universe. Keywords: Tribawana, Creative Process, Cement Batik Image  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui makna dan fungsi konsep Tribawana dalam proses berkarya seni batik dan kegitan proses kreatif penciptaan karya seni batik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan Studi Kasus di Rumah Budaya Babaran Segaragunung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tribawana merupakan tiga dimensi alam, yaitu Mikrokosmos, Makrokosmos dan sumber kreatif. Proses kreatif dengan konsep Tribawana merupakan proses penyadaran kembali kepada tradisi budaya Jawa. Pelaksanaan Konsep Tribawana dalam proses kreatif di Rumah Budaya Babaran Segaragunung terdiri atas proses pemahaman dalam bentuk pengetahuan dan latihan bersama atau praktik. Visualisasi batik Semen sebagai contoh citra batik yang di dalamnya mengandung unsur tiga jagad. Kata kunci:  Tribawana, Proses Kreatif, Citra Batik Semen
PERANCANGAN PERHIASAN BERBAHAN PEWTER Budi Hartono
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.519 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2666

Abstract

The use of tin as natural wealth in Indonesia for jewelry is not well known. White tin mixed with copper and antimony metal turns out to be a material that is visually appealing. In general, the materials used as jewelery in Yogyakarta, especially Kotagede are silver, brass and copper. White tin which is widely available in Indonesia can actually be used as an art product. Craftsmen prefer to use metals, such as silver, copper and brass. Generally, tin is used as a metal connecting material, whereas the white tin can be used as jewelry if mixed with antimony and copper in certain quantities. With a more affordable price, if it has become a well-worked art product, it will open up employment opportunities for the wider community. Direct observation and experimentation are the right methods in designing this product, through stages: a) Surveying, b) Synthesis, c) Design development, d) Evaluation will get comprehensive and near perfect data. Because in that way the community is no longer awkward to use quality pewter. The main reason pewter is attractive is that although the metal is not considered a precious metal, it is mixed with copper and antimony when it is almost the same color as silver. As a jewelry material, pewter has an attractive appearance. With a touch of contemporary design, it will add value to the material. Key Word : design, pewter, jewelry  Pemanfaatan timah putih sebagai kekayaan alam di Indonesia untuk bahan perhiasan belum cukup dikenal. Timah putih yang dicampur dengan logam tembaga dan antimonium ternyata bisa menjadi bahan perhiasan yang menarik secara visual. Secara umum, material yang dipakai sebagai bahan perhiasan di Yogyakarta, khususnya Kotagede adalah perak, kuningan, dan tembaga. Timah putih yang banyak terdapat di Indonesia sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi produk seni. Perajin lebih suka memanfaatkan logam, seperti perak, tembaga, dan kuningan. Umumnya, timah dijadikan bahan penyambung logam, padahal timah putih tersebut bisa dimanfaatkan menjadi bahan perhiasan apabila dicampur antimonium dan tembaga dalam takaran tertentu. Dengan harga yang lebih terjangkau, apabila sudah menjadi produk seni yang digarap dengan baik, akan membuka peluang kerja bagi masyarakat luas. Pengamatan langsung dan eksperimen merupakan metode yang tepat dalam perancangan produk ini, melalui tahapan: a) Survei, b) Sintesis, c) Pengembangan desain, d) Evaluasi akan diperoleh data yang komprehensif dan mendekati sempurna. Sebab dengan cara seperti itu masyarakat tidak canggung lagi untuk menggunakan pewter yang berkualitas. Alasan utama pewter menarik adalah jenis logam tersebut meskipun dianggap bukan jenis logam mulia, namun logam ini apabila dicampur dengan tembaga dan antimon akan memiliki warna yang hampir sama dengan perak. Sebagai material perhiasan, pewter memiliki penampilan yang menarik. Dengan sentuhan desain yang kekinian, akan menambah nilai material tersebut. Kata Kunci: perancangan, pewter, perhiasan
PAKAIAN SERAGAM PERAWAT: SEBUAH RANCANGAN PENELITIAN Deni Arifiana; G.R. Lono Lastoro Simatupang; SP. Gustami
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.987 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2649

Abstract

The nurse's uniform is the main supporter of the nurse in performing her professional roles at the hospital.Therefore, the nurse's uniform is designed to meet the needs of her professional role in the hospital, although in practice the nurse's uniform is not always able to function properly. This article aims to identify the variables that need to be considered in the study of professional uniform design, especially nurses. The hope, this paper can contribute to the design of similar studies. Assessment of the design of nurse uniforms is done through literature and document studies, with the scope of the in-patient nurses' uniforms. This article shows that the variables that need to be considered in the study of professional uniform design, especially the nurse, cover the professional needs and criteria for the design requirements of professional uniform. The stages that need to be done in analyzing the functional design of professional uniform are grouped into 4 stages, including: stage identifying the needs of the profession; determine the functional requirements of the profession; establishing criteria for the design of professional uniforms; and the stage reflects the functional needs of the profession into the clothing design. Key words: uniforms, nurses, design-research  Pakaian seragam perawat merupakan pendukung utama perawat dalam menjalankan aktifitas peran profesinya di rumah sakit. Maka dari itu, pakaian seragam perawat dirancang untuk memenuhi kebutuhan profesinya di rumah sakit, kendati pada praktiknya pakaian seragam perawat tidak selalu dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian desain pakaian seragam profesi, khususnya perawat. Harapannya, tulisan ini dapat berkontribusi bagi perancangan penelitian-penelitian sejenis. Pengkajian terhadap desain pakaian seragam perawat dilakukan melalui studi literatur dan dokumen, dengan ruang lingkup pada pakaian seragam perawat rawat inap. Tulisan ini menunjukkan bahwa variabel-variabel yang perlu dipertimbangkan dalam penelitian desain pakaian seragam profesi (perawat), mencakup kebutuhan-kebutuhan profesi dan kriteria persyaratan desain pakaian seragam profesi. Adapun tahapan yang perlu dilakukan dalam menganalisis fungsional desain pakaian seragam profesi dikelompokkan ke dalam 4 tahap, meliputi: tahap mengidentifikasi kebutuhan profesi; menetapkan kebutuhan fungsional profesi; menetapkan kriteria desain pakaian seragam profesi; dan tahap merefleksikan kebutuhan fungsional profesi ke dalam desain pakaian. Kata kunci: pakaian-seragam, perawat, rancangan-penelitian
TOPENG KLASIK GAYA YOGYAKARTA DAN KREATIF MODERN KARYA SUPANA PONOWIGUNA KAJIAN FUNGSI, GAYA, DAN STRUKTUR Arif Suharson
Corak : Jurnal Seni Kriya Vol 7, No 1 (2018): MEI 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1032.134 KB) | DOI: 10.24821/corak.v7i1.2667

Abstract

The culture of mask has been in existence for a very long time ago. A number of archeological studies have found various types of mask since the prehistoric era thousand years ago. The historical data have revealed some important information on the usage of masks in human life in their interaction with the nature. These findings will be beneficial for the improvement of contemporary moment. They will also serve as the scientific reference to identify the materials, process, and development. When we observe carefully, Indonesia is rich of various kinds of traditional culture such as the mask art. Masks have unique characteristics depending on their origin.  Masks are created intentionally to represent magical or ritual purposes. They also serve as the decorative or social symbols in the societies. Therefore, the existence of mask art has become a part of social culture. The creative creation of masks has represented the intellectual establishment of the artisans to comply with the ongoing social development. Therefore, we have classic, modern, and contemporary masks as the manifestation of the developing era and the satisfaction of transformative artistic artisans in visual arts. Keywords: mask, culture, creative, creation  Budaya topeng telah ada sejak dahulu kala. Sejumlah penelitian arkeologi telah menemukan berbagai jenis topeng sejak zaman prasejarah seribu tahun yang lalu. Data historis telah mengungkapkan beberapa informasi penting tentang penggunaan topeng dalam kehidupan manusia dalam interaksinya dengan alam. Temuan ini akan bermanfaat untuk peningkatan momen kontemporer. Mereka juga akan berfungsi sebagai referensi ilmiah untuk mengidentifikasi bahan, proses, dan pengembangan. Ketika kita amati dengan cermat, Indonesia kaya akan berbagai jenis budaya tradisional seperti seni topeng. Masker memiliki karakteristik unik tergantung pada asalnya. Topeng diciptakan dengan sengaja untuk mewakili tujuan magis atau ritual. Mereka juga berfungsi sebagai simbol dekoratif atau sosial dalam masyarakat. Karena itu, keberadaan seni topeng telah menjadi bagian dari budaya sosial. Pembuatan topeng yang kreatif telah merepresentasikan pembentukan intelektual para pengrajin untuk mematuhi perkembangan sosial yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, kami memiliki topeng klasik, modern, dan kontemporer sebagai perwujudan dari era yang sedang berkembang dan kepuasan para pengrajin artistik transformatif dalam seni visual. Kata kunci : topeng, budaya, kreatif, kreasi

Page 1 of 1 | Total Record : 9