cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011" : 8 Documents clear
Penciptaan Drama Musikal Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street (Sweeney Todd:Tukang Cukur Haus Darah) Husni Wardhana; Suharyoso Suharyoso
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i2.474

Abstract

Proses kreatif penyutradaraan Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street memberi banyak pelajarantentang drama musikal. Drama musikal memiliki keunikan tersendiri dalam proses maupun bentuk penyajiannya.Jenis drama ini sangat populer di Amerika, dan merupakan satu-satunya sumbangan Amerika dalam memperkayajenis teater dunia. Cerita ini merupakan kisah legendaris Inggris. Berkali-kali naskah karya Christopher Bond inidimainkan di berbagai benua di dunia, namun bila dilihat dari sejarah penciptaannya, kisah balas dendam seorangtukang cukur ini telah melalui proses adaptasi yang panjang. Beberapa penulis besar di jamannya sebelum melewatitangan kreatif Christopher Bond telah mengkreasi ulang naskah ini. Drama musikal ini berawal dari komedi musikaldan sejak tahun 1920 mengangkat tema-tema serius yang biasa disebut musik Broadway atau musik Amerika. Biasadisajikan dalam panggung besar West End dan Broadway di London, New York, Australia dan Asia. Beberapa kalidipanggungkan oleh kelompok teater sekolah atau kelompok teater amatir. Hampir seluruh pertunjukan drama musikal Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street diiringi dengan musik dan dinyanyikan. Dialog diubahmenjadi nyanyian. Para aktor di tuntut untuk dapat menyanyi, akting, dan menari. Drama musikal merupakanpertunjukan yang menggunakan tiga ciri utama, yakni menyanyi, menari, dan berakting yang mendominasi hampirseluruh pertunjukan.Kata kunci: penyutradaraan, drama musikal, kisah legendaris, Sweeney Todd, teater sekolah.ABSTRACTThe musical drama Sweeney Todd: Th e Demon Barber of Fleet Street. The creative directing process of this drama has given many good lessons to the art work of performing arts, especially to musical drama performance. The musical drama has its own unique characteristics in its process and performance. This type of drama is very popular in the USA, and has been the only contribution from the USA to enrich the typical of world theater. Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street is as an English legend, especially in England. This script created by Christopher Bond has been performed for several times in all around the globe. Having seen from its creating history, the story of a barber who takes revenge has been through long adaptation process. Some big authors in this era, before proceeded by Christopher Bond’s creative touch, had creatively recreated this script. The musical drama Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street was fi rstly created from the musical comedy drama and since 1920 has shown serious themes that are well known as Broadway music or American music. This drama has commonly been shown on a big stage West End and Broadway in London and New York, also in Australia and Asia. Moreover, it has also been performed by groups of school-theater and amateur theater. Most of the musical drama performances Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street are accompanied by music and are sung as well. The dialog is changed into songs. The actors are supposed to be able to sing, to act, and to dance. The musical drama is a performance that uses three main characteristics, namely: singing (solo, ensemble, and choir), dancing (individual and group), and acting, that dominates in most parts of the performance.Key words: directing, musical drama, legend story, Sweeney Todd, theater.
Eksistensi Legong Keraton: Tradisi dan Kreasi Ni Nyoman Sudewi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i2.477

Abstract

Legong Keraton atau Legong tradisi sebagai produk budaya masa lalu telah memberi kontribusi yang cukupsignifikan bagi pertumbuhan tari di Bali. Kehadirannya yang mengusung prinsip estetik berbeda dari genre tariperiode sebelumnya. Tari Gambuh telah menempatkan Legong Keraton sebagai sumber penciptaan tari. Legongtradisi menjadi sumber penciptaan Legong kreasi. Legong kreasi berarti Legong tradisi yang disajikan dengan carabaru, juga menunjuk pada garap tari palegongan, yaitu tarian yang dalam penciptaannya memanfaatkan elemenelementertentu dari konsep estetika Legong Keraton yang terakumulasi dalam konsep palegongan. Legong tradisiberkembang dan tetap eksis berdampingan dengan variannya yang baru. Pembahasan tentang Legong Keratonini dimaksudkan untuk memahami karakteristik Legong Keraton yang ada dalam cakupan Legong tradisi danperkembangannya menjadi Legong kreasi. Legong Keraton merupakan perpaduan berbagai aspek seperti tema,struktur tari, pola tabuh, dan rias busana, yang diekspresikan penarinya. Masing-masing aspek saling berkaitansehingga Legong dapat diidentifi kasikan sebagai sebuah bentuk tari yang memiliki muatan isi tertentu, mencerminkankeindahan sebuah ekspresi budaya Bali.Kata kunci: Legong tradisi, Legong kreasi, tari Bali.ABSTRACTThe Tradition and Existence of Legong Keraton. Legong Keraton or traditional Legong as a cultural productof the past has undoubtedly contributed signifi cantly to the development of other dances in Bali. Legong Keraton with itsdifferent aesthetic principles is different from the previous dance genre, such as Gambuh. Traditional Legong has become the basis of new creations of Legong. Creations of Legong are also called as creations of Palegongan because those creations use certain elements of the aesthetic concepts of Legong Keraton accumulated in the palegongan concepts. Traditional Legong develops and continues to exist with new variants of Legong. The examination of Legong Keraton aims to understand the characteristics of Legong Keraton that exists within the scope of traditional Legong and its development into the creations of Legong. Legong makes use of various dance elements such as theme, structure of the dance, percussion patterns, and fashionable make-up applied by the dancers. These elements are so intertwined that Legong can be identifi ed as a form of dance that has a specifi c content and refl ects the beauty of Balinese culture.Keywords: Legong dance, Balinese dance, palegongan
Gaya Pedalangan Sunda Cahya Cahya; Timbul Haryono; Soetarno Soetarno
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i2.479

Abstract

Memahami gaya pedalangan Sunda pada dasarnya adalah sebuah upaya penjelajahan dan pemetaan jagatpedalangan Sunda yang kaya dengan nilai-nilai tradisi dan permasalahan-permasalahan uniknya. Salah satunyaadalah permasalahan gaya pedalangan yang identik dengan keberadaan paguron-paguron dalang dengan tokohtokohdalang yang mencirikan warna paguronnya masing-masing. Berkaitan dengan gaya pedalangan itulah, maka pada akhirnya mucul bentuk gaya mendalang perseorangan yang lazim disebut gaya mandiri. Penelitian ini membahas berbagai gaya mandiri yang berkembang di wilayah Jawa Barat.Kata Kunci: wayang golek, gaya pedalangan, paguron dalangABSTRACTSundanese Puppetry Style. Understanding Sundanese puppetry style is basically venturing and mapping Sundanesepuppetry world which is rich of traditional values and distinctive problems. One of the problems is related to puppetrystyle in which the puppet masters are characterized by their mainstream or school. Such style has later developed intoindependent styles of Sundanese puppetry. This research discusses various independent styles of Sundanese puppetry.Key words: Sundanese wayang, wodden puppet
Kehidupan Wayang Orang Sriwedari dalam Perspektif Determinasi Penari Rol Hersapandi Hersapandi
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i2.482

Abstract

Penari rol atau penari bintang dalam Wayang Orang memiliki kualifi kasi sangat baik dalam menjalankan perannya, penguasaan keterampilan dan pengetahuan yang tinggi, dan kemampuan mengembangkan karakter peran yang dilakukan. Keterampilan kompetitif unggul tentu menjadi ikon untuk menyerap perhatian audien. Ikon peran terletak pada penonton. Oleh karena itu, seorang penari bintang perlu memiliki semangat tersebut untuk memotivasi kehidupan kelompok Wayang Orang. Kemampuan aktingnya mencerminkan suatu totalitas kesenian aktor dalam kehidupan pribadinya, yaitu untuk menjaga kualitas seorang penari profesional kuat sebagai agen. Aktor ini sering tampak melindungi karismanya. Dia selalu mencoba untuk melakukan sebanyak mungkin, sehingga ia tidak perlu membuat penari baru lainnya untuk menggantikannya. Alasannya adalah penari baru dianggap sebagai pesaing yang dapat menggantikan posisi potensi ekonomi. Semangat kinerja Wayang Orang adalah kualitas artistik penari bintang yang menyatakan simbol dan nilai artistik yang diperlukan oleh para penonton.Kata kunci: Wayang Orang, bintang penari, manajemen seni.ABSTRACTSriwedari Wayang Orang Performance. The term “rol” dancer or star dancer refers to the main dancer who becomes the star in wayang orang. It has an excellent qualifi cation in performing his/her role, an excellent mastery of knowledge and skills, and capability of developing the characters of the role that s/he performs. His/her superior competitive skills certainly become an icon for absorbing the audiens’ attention. Since the icon role lies on the audience, a star dancer needs to have such skills to motivate the life of the wayang orang group. As an agent, his/her acting skills have refl ected a totality of the actor’s artistry in his/her private life, i.e. to keep professional dancer’s quality stronger as a whole.The agent has as individudal and inttelectual integrity as a professional actor. The actor often seems to protect his charisma. S/he always tries to perform as many times as possible, so s/he does not need other new dancers to replace him/her. The reason is that the new dancers are considered as competitors who may replace his/her position and certainly his/her economic potentials as well. The spirit of wayang orang performance is the star dancer’s artistic quality expressing the symbols and artistic values needed by the audience.Key words: wayang orang, art management, star dancer.
Pertunjukan Wayang Topeng Pedalangan Yogyakarta Sumaryono Sumaryono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i2.487

Abstract

Wayang topeng pedhalangan Yogyakarta pada tulisan ini dikaji dari berbagai unsur seni, serta tata hubungan antarunsur seni di dalamnya. Unsur-unsur seni tersebut meliputi seni gaya, topeng karawitan, lakon, dalang, tata busanatari, gaya tari dan tempat pementasan. Dalam seni pertunjukan, wayang topeng pedhalangan merupakan perwujudan aspek-aspek yang saling terpadu dan menghasilkan suatu seni pertunjukan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang khas yang menyangkut bentuk dan gaya pementasan. Suasana keakraban dengan penonton merupakan ciri khas dari pertunjukan sebagai representasi seni pertunjukan rakyat. Seni pertunjukan topeng pedhalangan Yogyakarta dianalisis berdasarkan teks dan konteksnya sehingga dapat dipahami makna yang tersirat dari pertunjukan tersebut sekaligus dapat dipahami konteks sosial budaya dari lingkungan seni pertunjukan ini. Diharapkan melalui kajiansecara multilapis ini didapat pemahaman yang lebih mendalam mengenai seni tradisional kerakyatan di wilayah Yogyakarta ini.Kata kunci: Wayang topeng pedhalangan, gaya pementasan, analisis tekstualABSTRACTYogyakarta Mask Puppetry Dance Performance. The paper examines Yogyakarta mask puppetry in various art elements, and the relationship among those elements. The elements include style, karawitan mask, play, puppet master, costume, dance style and stage. In performances, mask puppetry represents the intertwined elements producing an artperformance with typical characteristics. The typical characteristics concern with the performance form and style. Intimacy with the audience is the hallmark of the performance and the representation of folk performing arts. Yogyakarta mask puppetry performing arts was analyzed based on its text and context so as to understand the implied meaning of theperformance as well as to understand the sociocultural context of the performing arts. It is expected that this multi-layeredstudy of Yogyakarta mask puppetry gives a deeper understanding on the topic discussed.Key words: mask puppetry, staging style, textual analysis
Rim-ba: Karya Tari Hasil Refleksi Kehidupan Suku Anak Dalam Sarjiwo Sarjiwo; Widyanarto Widyanarto
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i2.489

Abstract

Karya tari “Rim-ba” merupakan hasil dari refl eksi penata tari terhadap kehidupan Suku Anak Dalam (Orang Rimba) di Bukit Duabelas Propinsi Jambi. Hutan yang menjadi habitat dan tempat bernaung Suku Anak Dalam semakin sempit areanya. Hal tersebut disebabkan oleh adanya penebangan liar (illegal logging) maupun perluasan lahan perkebunan sawit. Tema yang diangkat dalam garapan karya tari ini adalah perjuangan hidup orang rimba. Bentuk penyajiannya simbolis representasional yang terbagi dalam empat adegan, yaitu adegan satu (introduksi) tentang keterbelakangan, adegan dua tentang ritus orang rimba, adegan tiga tentang aktivitas mata pencaharian orang rimba, dan adegan empat tentang perusakan rimba. Karya tari ini didukung oleh empat orang penari. Gerak tari berorientasi pada perilaku kehidupan sehari-hari orang rimba. Musik pengiring merupakan musik hasil editing secara digital dengan software nuendo dengan memasukkan unsur suara vocal. Tata rupa pentas berdasarpada atmosfi r suasana hutan, meliputi property instalasi kayu, akar sulur gantungan dan dedaunan. Busana yangdikenakan menyerupai busana asli Suku Anak Dalam yang sudah dimodifi kasi. Sedangkan tata cahaya yangdigunakan berorientasi pada nuansa cahaya alam.Kata kunci: rimba, suku anak dalam, bukit duabelasABSTRACT“Rim-ba”: A Dance refl ecting the Life of Anak Dalam Tribe. Rimba dance is the result of the choreographer’srefl ection on the life of Anak Dalam tribe (forest people / Orang Rimba) in Bukit Duabelas, Jambi province. The forestwhich is the habitat of the tribe is shrinking. This is due to the illegal logging and palm oil agriculture expansion. Thetheme of the dance is about the struggle of forest people in their life. The symbolic, choreographic representation is dividedinto four acts; the fi rst act introduces the underdeveloped condition of the people; the second act shows the rituals practiced by the forest people; the third act shows how the forest people earn their living; and the fi nal act visualizes the forest destruction. The dance is performed by four dancers. The dance movement orientates on the daily behaviors of the forestpeople. The accompanying music is composed and edited digitally by applying nuendo software and inserting vocal element in the software. The stage decoration shows a forest setting which includes wooden property, hanging roots and leaves. The dancers’ costumes resemble the original clothes of Anak Dalam tribe along with some modifi cations, whereas the lighting arrangement is based on natural lighting nuance.Key words: anak dalam dance, bukit duabelas
Koreografi Jayarati dalam Kreasi Tari Kakebyaran Ni Kadek Rai Dewi Astini
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i2.491

Abstract

Karya tari Jayarati merupakan satu bentuk koreografi kelompok yang menggunakan tujuh orang penari putri.Visualisasi tujuh orang penari putri yang secara kelompok menghadirkan perubahan dua karakter yang berbeda yaitukarakter Putri menjadi karakter Putra. Karya tari ini bersumber dari cerita Panji, penyamaran Galuh Candrakiranasebagai seorang laki-laki untuk mencari kekasihnya Raden Panji Inu Kertapati. Karya tari Jayarati hadir dari sebuahproses pengolahan prinsip-prinsip dasar keindahan gerak, teknik dan bentuk penggarapan kreasi tari kakebyaran.Garapan ini terdiri dari lima bagian pokok yaitu pangawit, pangawak, panyalit, pangecet, pakaed, yang diiringi olehgamelan gong kebyar, dan disajikan dalam durasi waktu relatif pendek.Kata kunci: kakebyaran, koreografi , jayaratiABSTRACTA Choreographic Analysis of “Jayarati” in Kakebyaran Dance. Jayarati dance is a group choreography of seven dancers. The dance visualizes the seven dancers in group presenting changes in two different characters - the female character changes into male character. The dance is adapted from the story of Panji - Galuh Candrakirana who undercovers as a young man looking for her fi ancé, Prince Panji Inu Kertapati. Jayarati dance has been created from the process ofdeveloping basic principles of beauty movements, techniques and styles of kakebyaran dance. The piece of creation consistsof fi ve main parts, namely pangawit, pangawak, panyalit, pangecet, and pakaed, which are accompanied by gong kebyargamelan instrument, and are performed in a relatively short duration of performance.Keywords: kebyar, Jayarati, balinese dance
Laku Gunung Sagara: Perubahan Sosial dengan Pendekatan Koreografi Lingkungan Hendro Martono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v12i2.494

Abstract

Fenomena perubahan sosial telah terjadi di Dusun Suru Kumadang Tanjungsari Gunungkidul. Sejak sepuluh tahun terakhir banyak warga yang semula petani menjadi pedagang di sektor kelautan, dipelopori oleh kaum perempuan sebagai pekerja sampingan berubah menjadi pekerjaan pokok. Tujuan dari penulisan ini untuk mentransformasikan gejolak batin dengan perubahan sosial masyarakat Gunungkidul menjadi sebuah karya seni. Pendekatan koreografi lingkungan untuk membedah reportoar bumi langit, gayuh bumi dan segara gunung digunakan dalam karya ini. Berdasarkan analisis koreografi dan semiotike teater. Laku Gunung Segara adalah manifestasi Labuhan dalam ruang kehidupan keseharian masyarakat Suru. Sintesis selanjutnya, menurut pandangan orang desa, Ratu Kidul merupakan jelmaan Dewi Sri sehingga orang desa tidak takut lagi bekerja di kelautan. Kesimpulannyakoreografi - Lingkungan berhasil menerjemahkan dan mengembangkan konseptual secara tuntas. Temuan kultural,bahwa masyarakat desa yang mempunyai kesenian yang maju, memiliki persepsi pentingnya latihan dan mudah diajak kerjasama kreatif.Key words: laku, gunung- segara, koreografi -lingkunganABSTRACTLaku Gunung Sagara Dance. A social phenomenon has occurred in Suru Kumadang village, Tanjungsari Gunungkidul. For the past ten years, many villagers who were originally farmers have switched their professions into merchants in marine sector, pioneered by women who previously work as part-timers but now work as full-timers. The purpose aims at transforming the inner turmoil of Gunungkidul villagers’ social phenomenon into a work of art. The work of art uses environmental choreography approach to dissect the earth and sky repertoires, gayuh bumi and segara gunung. Based on the choreography analysis and theater semiotics, Laku Gunung Segara is the manifestation of Labuhan in the daily lives of villagers in Suru. Furthermore, in the view of the villagers, the South Queen is an incarnation of Goddess Sri so that the villagers are no longer afraid to work at sea. In conclusion, the environmental choreography has managed to interpret and develop the entire phenomenon. The cultural fi nding is that the villagers, who have advanced their arts, consider the importance of training and support active collaboration.Keywords: gunung- segara dance, environmental choreography

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue