cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012" : 8 Documents clear
Pementasan Teater Lingkungan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” Refleksi Konflik Horizontal di Indonesia Wahid Nurcahyono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.496

Abstract

Bentuk teater lingkungan merupakan sebuah karya seni yang bukan saja menghibur tetapi juga memberikan tawaran-tawaran bentuk penyajian lain dari yang lazim dipergunakan. Bentuk semacam ini diharapkan mampu mendekatkan permainan kepada penonton secara langsung karena penonton tidak perlu lagi mendatangi tempat pertunjukan akan tetapi permainanlah yang akan menjemput mereka di ruang-ruang publik di luar panggung. Aksi dan interaksi secara langsung antara penonton dan permainan mengajak peran serta aktif penonton untuk merasakan langsung teks-teks yang disampaikan pemain. Meskipun bentuk-bentuk kesenian yang melibatkan penonton secara aktif telah dimiliki oleh masyarakat, misalnya upacara adat dan seremoni yang lain, akan tetapi hal tersebut jarang dilakukan pembaharuan dan hanya bersifat warisan atau tradisi saja. Maka dalam proses inisutradara mencoba menghadirkan bentuk teater lingkungan dalam sebuah ruang ‘Rumah Makan’ yang mengambilcerita rakyat masa lalu yang diolah dan disesuaikan dengan masyarakat saat ini. Kemampuan sutradara untuk mengarahkan serta memberi ruang dalam berkreasi bagi pemainnya sangatlah penting. Sementara itu pemain yangmemiliki kecakapan di bidangnya harus siap melakukan improvisasi untuk menghadapi aksi dan interaksi secaraspontan dengan penonton.Kata kunci: teater lingkungan, ruang publik, sirna ilang, interteks.ABSTRACTPerforming Environment Theatre “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. A Refl ection on the Horizontal Confl ict in Indonesia.The form of environmental theater is a work of art which is not only entertaining but also providing a way of presenting different forms than that commonly used. This form is expected to bring the theatre to a live audience because the audience does not need to go to the venue but the theatre will meet them in public spaces outside stage. Action and direct interaction between the audience and the theatre invite active participation of the audience to feel directly the texts presented by the actors. Although the art forms involving the audience actively have been owned by the community, such as custom ceremonies and other ceremonies, those are rarely renewed, and they remain as customs and tradition. Therefore, inthis process the director tried to present the form of environment theater in a space of “Restaurant” presenting a folklore which had been processed and adapted to today’s society. The ability of the director in directing and providing room for the players to be creative was very important. While players who have skill in their art, they must be ready to confront improvised acts and spontaneous interaction with the audience.Keywords: environmental theater, public space, sirna ilang, intertex.
Penyutradaraan Teater Bangsawan Dengan Naskah Melayu Peterakna Episode Peri Bunian Karya G.P. Ade Dharmawi Asri Nofriani
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.497

Abstract

Tujuan penyutradaraan ini adalah menghadirkan unsur-unsur atau elemen-elemen pertunjukan Teater Bangsawan Muda dan Teater Bangsawan Tua sehingga tercipta pertunjukan Teater Bangsawan masa kini. Sejarah dan perkembangan teater bangsawan di Riau memiliki hubungan yang erat dengan teater di semenanjung Malaya. Para peneliti mengkategorikan drama Melayu Bangsawan sebagai drama tradisional. Tulisan berikut membahas drama Peterakna episode Peri Bunian karya GP Ade Dharmawi. Karya yang penulis buat ini menggunakan idiompola teater bangsawan. Peterakna adalah takhta kerajaan Melayu kuno. Peri Bunian merupakan episode yangmenggabungkan dua alam manusia, natural dan supranatural Orang Bunian.Kata kunci: Teater bangsawan, peterakna, orang bunian, teater RiauABSTRACTThe Directing of Bangsawan Theater Using Malay Script Peterakna Episode Peri Bunian Created By G.P. Ade Dharmawi. The aim of this directing is presenting the performance elements of young Bangsawan Theater and old Bangsawan Theater so that the performance of modern Bangsawan Theater can be created. The researchers have categorized Malay drama Bangsawan Theatre as a traditional drama. This article discusses about the show of Peterakna, Episode Peri Bunian created by G.P. Ade Dharmawi which has adopted and used the idiomatic pattern of Bangsawan Theater. Peterakna is the throne of the ancient Malay kingdom. In addition, Peri Bunian is an episode that combines two men’s world, the natural and supranatural of Bunian people.Keywords: Teater bangsawan, Peterakna, Peri Bunian, Riau theatre.
Seni Pertunjukan Teater Asera Berdasarkan Mitos To Balo, Suku Bentong Sulawesi Selatan Prusdianto -
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.498

Abstract

Teater tentang absurditas dengan paradoksnya yang aneh merupakan sebuah gejala dari apa yang mungkin paling mendekati pencarian relijius murni, yaitu suatu usaha manusia menyadari realitas mutlak kondisinya, dan mengajarkan kembali kepadanya makna keajaiban kosmis yang hilang dan kegalauan purba. Penciptaan pertunjukan teater Asera mengambil ide tentang kematian yang ditentukan oleh jumlah Sembilan. Ide tersebut terinspirasi dari mitos yang ada pada To Balo, suku Bentong yang berada di Sulawesi Selatan. Hal yang mendasari penciptaan Asera ini adalah keinginan untuk mengangkat sebuah permasalahan yang mengingatkan kita akan kematian. Sebuah proses dalam kehidupan yang sebenarnya mutlak akan dialami oleh manusia, akan tetapi sering dilupakan keberadaanya. Selain menjadikan warisan mitos sebagai sumber ide penciptaan, juga memberikan warna dan corak baru dalam dunia seni, khususnya seni teater. Teater adalah dunia imajinasi dari kehidupan yang sebenarnya.Kata kunci: Teater, Asera, absurd, To Balo, Bentong.ABSTRACTThe Performing Arts of theater Asera based on the myth of To Balo, Bentong tribe South Sulawesi. The absurdity of theatre with its weird paradox is as a phenomenon of what is probably as the closest quest to the purity of religiousity that is a human’s effort to realize the reality of his absolute condition, and to teach him back the meaning of the missing remarkable cosmic and the ancient confusion. The creation of theater performance Asera takes an idea of death which has been decided by number nine. This idea was fi rst inspired from a myth that exists in To Balo, a Bentong tribe lives in South Sulawesi. The basic creating idea of Asera is a willingness to discuss a problem that reminds us to the death. A process in a real life will be absolutely experienced by man, but its existence will often be forgotten. In addition to makinga myth heritage as a source of creating ideas, it also gives the new colours and characteristics in the world of arts, especiallyin the art of theater. However, theater is the real life imagination.Keywords: Theatre, Asera, absurd, To Balo, Bentong.
Ande-Ande Lumut: Adaptasi Folklor ke Teater Epik Brecht Philipus Nugroho Hari Wibowo
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.502

Abstract

Karya ini mengadaptasi folklor “Ande-Ande Lumut” sebagai ide dasar penciptaannya. Folklor ini dituangkan dalam pementasan teater berjudul “Kemuning”. Folklor “Ande-Ande Lumut” merupakan turunan dari cerita Panji yang menceritakan pengembaraan Raden Panji mencari Putri Candrakirana. Cerita Panji tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi dikenal hingga Asia Tenggara dan Jepang. Perkembangan teori adaptasi begitu pesat, apapun kini bisa dijadikan obyek adaptasi, puisi, novel, drama panggung, lukisan, tarian, dan video games. “Kemuning” ini dikemas dengan konsep pemanggungan teater epik Brecht. Hal ini merupakan suatu upaya mencari bentuk baru (pembacaan) dalam cerita “Ande-Ande Lumut”. Teater Epik menolak salah satu unsur utama dari drama Aristotelesyang telah dikembangkan dengan metode Stanislavsky, yaitu harus adanya empati (rasa ikut mengalami) dalam sebuah pementasan. Menurut Brecht proses ini telah menyebabkan suatu akibat yang mestinya dihindari, karena mengakibatkan sikap pasif dalam diri penonton. Maka ia membuat teori tentang menghancurkan ilusi, cara interupsi, dan tetap mengontrol emosi. Brecht identik dengan tema-tema sosial dalam karyanya. khususnya tema yang mengangkat nasib orang kecil yang harus menderita karena kebijakan penguasa. Biasanya kisahnya seputar persoalan buruh dan majikan. Pementasan “Kemuning” ini mengangkat kehidupan para pelacur yang masih identik dengan hal-hal negatif. Padahal mereka dibutuhkan dalam masyarakat. Tapi kadang kala mereka menjadi kambing hitam yang harus selalu disalahkan. Secara tersirat pementasan ini bertujuan memperjuangkan kehidupan para pelacur. Penonton diajak melihat sudut pandang yang lain tentang kehidupan pelacur yang selama ini dianggap buruk oleh masyarakat. Menurut Brecht teater yang baik dan yang dituntut dalam jaman moderen adalah teateryang dapat menggugah aktifi tas berfi kir yang kritis pada diri penonton. Maka pentas ini diharapkan mendorong para penikmat seni untuk melahirkan penafsiran yang penuh dengan kesadaran terhadap lingkungan sosial dan bisamenimbulkan suatu gerakan atau perubahan pada masyarakat.Kata kunci: Folklor, Ande-Ande Lumut, Adaptasi, dan Teater Epik BrechtABSTRACTAnde-Ande Lumut: The Adaptation of Folklore to the Epic Theater of Brecht. This theatrical work is adaptedfrom a popular folklore entitled Ande-Ande Lumut that is as a basic idea of its work. This folklore is performed in theatricalperformance entitled Kemuning. Ande-Ande Lumut is a story derived from the story of Panji which tells us about PrincePanji’s journey to look for Princess Candrakirana. This story is not only popular in Indonesia but also in South East Asiaand Japan. The adaptation theory is developing well; everything can be used as an adaptation object, poems, novels, dramas, paintings, dances, and video games. Kemuning is performed by the performing concept of Brecht’s epic theater. However, this is an effort to fi nd out the new form of reading in Ande-Ande Lumut story. The epic theater against one of the main elements in Aristotle’s drama that has been developed by Stanislavsky’s method; there should be an empathy in every aspect of performance. According to Brecht, this process has caused an effect which should be avoided because it brings audience’s passive attitude. Therefore, he tried to make a theory of destroying the illusion, of interrupting method, and of controlling emotion. Brecht’s identical works focus on the social themes, especially on the themes that show the poor people who are suffering from the authority’s policy. The common problems between the master and its worker are refl ected on hisstory. The Kemuning performance has tried to show the prostitutes’ life that is closed to any negative things. In fact, they are still being needed by the society. Unfortunately, sometimes they become the source of scapegoats to any troubles and are always blamed to. Implicitly, this performance is aimed to fi ght for the prostitutes’ life. The audience is invited to see the other points of view about their life that are often regarded as negative by the people. Moreover, Brecht said that a good and demanded theater in this modern era is a theater that can arouse the audience’s critical thinking activities. Therefore, this performance is supposed to be able to motivate the arts lovers in producing a critical analysis to any social awareness and in creating a new movement to any signifi cant changes in society.Keywords: Folklore, Ande-Ande Lumut, Adaptation, and Brecht’ Epic Theater
Lakon “ Dhanaraja” Andi Wicaksono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.506

Abstract

Karya ini mengajak masyarakat untuk menyikapi kerasnya kehidupan dengan konsep hidup orang jawa, yakni “Urip sadêrma nglakoni“, yang didasari semangat “Wong têmên bakalé kêtêmu”, dan diiringi dengan kesadaran bahwa “Urip manungsa pinasthi ing Pangéran”. Konsep hidup tersebut, selanjutnya ditransformasikan ke dalam lakon wayang dan pertunjukannya. Karya ini mentrasformasikan secara tepat konsep tersebut ke dalam lakon. Lakon yang dipilih adalah lakon “Alap-alapan Sukèsi” dan “Bêdhahing Lokapala” yang diramu menjadi satu lakon utuh dengan memfokuskan tokoh Prabu Dhanaraja. Penggubahan lakon “ Dhanaraja” diaktualisasikan ke dalam pertunjukan yang berdurasi waktu kurang lebih tiga jam. Karya ini memaparkan bagaimana cara meramu dua lakon menjadi satu dalam struktur yang utuh tanpa terlihat sekedar menempel, serta dengan mentranformasikan konsep “Urip sadêrma nglakoni“, yang didasari semangat “Wong têmên bakalé kêtêmu”, dan diiringi dengan kesadaran bahwa “Urip manungsa pinasthi ing Pangéran” ke dalamnya. Hal tersebut dilakukan dengan cara membangun konfl ik dan dramatika dalam rangkaian cerita yang disajikan.Kata kunci: lakon, Dhanaraja, struktur dramatik, dramaturgi wayangABSTRACTThe story of Dhanaraja. This work is aimed to invite people responding the severe life with Javanese’s life concept,that is “Urip sadêrma nglakoni’ (let the life fl ow), and that is based on the spirit of “Wong têmên bakalé kêtêmu” (successcan be achieved by hardworking and being honest), and that is also accompanied by an awareness that “Urip manungsapinasthi ing Pangéran” (people’s life is based on the destiny which has already arranged by God). This Javanese’s lifeconcept, then, is transformed into the wayang story and its performance. This work has truly transformed the conceptinto a performance. The chosen performances are “Alap-Alap Sukesi” and “Bedhading Lokapala” which are managedinto a whole performance focusing on King Dhanuraja character. The composing story of Dhanaraja is actualized into athree-hour-performance. This work describes how to manage two stories into one complete structure without merely seenby attaching the stories, and also by transforming the concept of “Urip sadêrma nglakoni” (let the life fl ow), that is basedon the spirit of “Wong têmên bakalé kêtêmu” (success in life can be achieved by hardworking and being honest ), andaccompanied by an awareness that “Urip manungsa pinasthi ing Pangéran” (people’s life is based on the destiny which hasalready arranged by God) into the performance. These previous things are carried out by developing the confl ict and thedramatic sequence order of play performance.Keywords: story, Dhanaraja, a dramatic structure, a wayang dramaturgy
Bedhaya Sumreg Keraton Yogyakarta Budi Astuti; Anna Retno Wuryastuti
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.513

Abstract

Penemuan jejak masa lalu atas keberadaan suatu bentuk budaya, merupakan suatu fenomena yang sangat bernilai. Hal ini dapat melengkapi upaya menelusuri jejak masa lalu dengan ditemukannya susunan materi gerak untuk visualisasi teks tarinya. Namun demikian tafsir kebudayaan atas penemuan jejak masa lalu tersebut tidak bisa meninggalkan faktor kesejarahannya. Dalam kajian teks bedhaya Sumreg ini diketahui susunan materi gerak Bedhaya Sumreg dan keterkaitan makna sumreg dengan pola lantai dan pola gendhing pengiringnya. Pola-pola gendhing yang ditampilkan secara struktural tetap menggunakan tata aturan baku yang sampai sekarang lazim disebut dengan lampah bedhayan. Bedaya yang dianggap pusaka ini diungkapkan tidak hanya materi tekstualnya saja tetapi juga mencakup materi kontekstualnya.Kata kunci: bedhaya Sumreg, tari Yogyakarta, tari pusaka.ABSTRACTBedhaya Sumreg of Yogyakarta Palace. The discovery of the past existence traces of a culture is trully a valuable phenomenon. This may complete the efforts to trace the past with the discovery of the structure of motion for the textvisualization of a dance. However, the interpretation of culture on the discovery of traces of the past cannot abandon the historical factor. The textual study of Bedhaya (traditional dance) Sumreg has identifi ed the motional structure of Bedhaya Sumreg and the linkage of Sumreg meaning with the fl oor pattern and gendhing (the accompanied music). Thepatterns of gendhing structurally shown remain applying predefi ned set of rules, commonly known as lampah bedhayan (rules in dancing). Bedhaya (traditional dance) is considered a heritage and is revealed not only its textual material but also the contextual one.Keywords: bedhaya Sumreg, Yogyakarta dance, dance heritage.
Komposisi Kala M. Yoga Supeno
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.514

Abstract

Komposisi ini merupakan representasi dari sebuah perubahan pola pikir manusia yang dari zaman ke zaman selalu bergerak maju. Kala yang berarti waktu merupakan refl eksi garis panjang sejarah dari terbentuk dan berkembangnya peradaban pada masa lampau. Perkembangan waktu tersebut kemudian dijadikan tiga bagian waktu (prasejarah, sejarah, modern) untuk menggambarkan perubahan-perubahan yang terjadi pada setiap waktu khususnya di provinsi Lampung. Secara garis besar penyajian Kala adalah memadukan instrumen musik Barat dan etnis yang sebagian besar instrumen terdiri dari instrumen perkusi seperti marimba, vibraphone, xylophone, chime, drumset, bonang Sunda, cetik, rebana serta ditambah dengan instrumen melodis seperti akodion, biola, gambus, dan electric bass. Motif dan teknik permainan merupakan salah satu penggambaran dari ketiga zaman tersebut yang menghasilkan suasana liar, agamis, dan modernisasi dan bernuansa etnis Lampung dan Melayu.Kata kunci: Kala/waktu, sejarah Lampung.ABSTRACTThe Kala Music Composition. This composition is a representation of a human mindset change which is alwaysmoving forward from time to time. Kala which means time is a refl ection of a history starting from when the history andthe civilization were formed and developed in the past. Then, the time development is divided into a three-part time(prehistory, history, modern) to describe the changes that may occur at any time, especially in the province of Lampung.Basically, the presentation of Kala is combining the western and ethnic musical instruments that most of the them consistof percussion instruments such as marimba, vibraphone, xylophone, chime, drum set, bonang Sunda, cetik, tambourines, and melodic instruments such as accordion, violin, harp, and electric bass. The motive and technique of the performance is one of the three depictions of the era that produces the wild and religious atmosphere, modernization, and that is nuanced by Lampung and Malay ethnics.Keywords: Kala /time, history of Lampung
Tumpang Tindih: Sebuah Komposisi Musik Dalam Interpretasi Personal Warsana -
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.515

Abstract

Komposisi musik ini merupakan bagian dari relfeksi pengalaman masa kecil penulis ketika harus menghafalhuruf Jawa Hanacaraka. Sebagai rangsang awal dalam karya ini adalah ide dari legenda Ajisaka tentang menciptakanhuruf Jawa Hanacaraka. Ketidakpastian dalam satu keputusan memunculkan keputusan baru adalah gambaran tatanan kehidupan dewasa ini oleh karena bahasa serta sikap dalam mengambil tindakan yang tumpang tindih. Dalam komposisi ini Hanacaraka yang terdiri dari 20 kata diaktualisasikan ke dalam beberapa instrumen musik dan sumber bunyi dengan karakter yang berbeda. Komposisi ini memadukan instrumen gong, bonang, pralon, othokothok, klonthongan sapi, serta pengolahan huruf Jawa Hanacaraka. Komposisi ini memperhatikan tiga elemen musik yakni ritme, melodi, dan harmoni dengan pola permainan sukat yang berbeda. Penyajian komposisi sebagai sebuah pertunjukan dapat dinikmati secara audio maupun visual. Oleh karena itu, diperlukan penggarapan baik penyajian musikal maupun non musikal. Dengan mengacu pada pertunjukan teater maka diperlukan stage, agar terjadi komunikasi antara penonton dengan pemain dalam satu arah pandang mata.Kata kunci: tumpang tindih, hanacarakaABSTRACTThe Tumpang Tindih: A Music Composition. Observing the current reality of twisted, overlap, and unstructured life becomes the theme of this composition. Music composition entitled “Overlapping” represents the part of the writer’srefl ective experience on his childhood when he must memorize Javanese letters of Hanacaraka. The diffi culty in learningand memorizing the Javanese letters becomes the basic idea of the birth of his composition. The Legend of Ajisaka aboutcreating the Javanese letters of Hanacaraka becomes the stimulus of an early idea in this composition. The uncertainty inone decision which emerges another new decision is a description of life arrangement nowadays because of the overlapping of the language and attitude. In this composition, Hanacaraka with 20 letters is actualized into some musical instruments and sound with different characters. This composition combines the gong instrument, bonang, “pralon”- hard pipe, othokothok – a traditional children’s toy, “klontongan sapi”- the bell horn by the ox, and also the Javanese letters of Hanacaraka arrangement. All the sound mentioned above; then is composed into three music elements, namely the existence of rhythm, melody, and harmony with different “sukat”- measure such as 3/4, 4/4, 5/4, 7/4. This composition is presented as a performance, which can be appreciated through audio and visual. Therefore, a good musical and non- musical arrangement is necessarily used. Referring to the theatre performance, hence a stage is needed in order to be a direct communication media for the audience and players.Keywords: overlapping, hanacaraka

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue