cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015" : 5 Documents clear
Keunikan Gaya Lieder Franz Scubert A. Gathut Bintarto
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.552 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1508

Abstract

Franz Peter Schubert adalah seorang komponis terkenal kelahiran Vienna karena karya lagu seni (art song) berbahasa Jerman yaitu lieder. Pembawaan karya lieder-nya sering disalah interpretasikan selain karena masa hidupnya yang singkat dan berada pada era transisi Klasik menuju Romantik, juga karena minimnya informasi mengenai pembawaan lagu karyanya sendiri. Pendekatan historis dan musikologis digunakan untuk menemukan gaya pembawaan lieder berdasarkan semangat yang dibangun saat pengkomposisiannya. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa keunikan lieder Schubert merupakan hasil dari pengaruh komponis sebelumnya yaitu Beethoven, Mozart, dan Haydn. Kondisi ekonomi membuatnya dekat dengan lingkaran temannya dan mengembangkan gaya yang intim dalam karya lagunya. Gayanya tercermin dalam penggunaan melodi yang bergaya folksong yang sederhana, perpaduan yang seimbang antara piano dan vocal, serta beberapa ciri pemilihan sukat yang variatif, tempo yang cenderung sedang, penggunaan caesura, modulasi, dan harmonisasi serta pola ritmis iringan yang menyesuaikan dengan gambaran puisinya. Berdasarkan ciri khas tersebut ia lebih tepat disebut sebagai komponis Era Klasik daripada anggapan yang beredar luas sebagai komponis Era Romantik. The Unique Style of Franz Schubert’s Lieder. Franz Peter Schubert, one of the well-known Vienna’s composer, is recognized by his greatest number and melodious Germany art songs called lieder. His short life-span (from 1797 until 1828) was expanded in the transition era from Classic to Romantic and by then his lieder is frequently being misinterpreted by the reason of the transition of that musical era and because of the lack of performance information from him. Based on historical and musicological approach, this research tried to figure out the former style of Schubertlieder. The characteristic of Schubert’s lieder is the result of many influences from the well-known composer such as Beethoven, Mozart and Haydn. The economic situation made him closed to his circle of friend and formed his intimate style of composing. He used the simple melodious folksong style, perfect balance between piano and voice, the medium tempo and various meter, caesura, modulation,simple harmonization and particular rhythmical pattern to build his lieder style. His composition is actually closer to Classical style than the Romantic one and he is more precisely known as the Classical composer.
Musik Hip-Hop sebagai Bentuk Hybrid Culture dalam Tinjauan Estetika Kardi Laksono Laksono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.714 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1507

Abstract

Berbicara mengenai seni mempunyai tendensi berbicara mengenai kehidupan itu sendiri. Dalam kehidupan ini maka proses penciptaan tidak akan pernah stagnan. Dinamisasi dalam kehidupan ini akan menjadikan seni senantiasa untuk mengupayakan dirinya selalu kreatif dalam menciptakan suatu karya seni. Seni yang terlibat dalam kehidupan akan dihasilkan oleh suatu masyarakat yang mampu menangkap esensi seni dalam kehidupan itu sendiri. Seni pada akhirnya merupakan produk masyarakat sebab bagaimanapun juga seni tidak dapat melepaskan dirinya dari suatu masyarakat. Produksi seni yang bersifat kolektif, atau dirasa dan dicipta oleh masyarakat, akan mengutamakan nilai-nilai yang menubuh, mengedepankan etnisitas lokal, dan penuh dengan intepretasi.Proses penciptaan seni dalam kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan pada proses penciptaan kemurniaan dan hibriditas yang merupakan unsur yang mendasar. Proses penciptaan ini secara aktif terlibat dalam akulturasi atau asimilasi kebudayaan. Dilematis menjadi persoalan utama dalam terjadinya proses penciptaan tersebut, “Kemurnian” dan “hibriditas” menjadi gesekan persoalan. Hibriditas, merupakan telaah yang pas dalam melihat pembauran tersebut. Proses hibriditas menjadi semakin menarik terlebih seni yang tercipta dibentuk di masyarakat urban. Seni yang dicipta masyarakat urban menuju pada seni popular, tetapi tidak menutup kemungkinan itu semua berangkat dari masyarakat rural. Habitus, penubuhan, intepretasi individu yang tergabung dalam masyarakat menjadi proses pembentukan yang menarik.Padatataran ini, estetika hybrid culture menjadi studi mendalam dalam melihat persoalan kemajemukan nilai-nilai pada proses pembentukan seni itu sendiri. Pengarahan penelitian ini akan ditujukan kepada pemahaman atas pembentukan estetika seni pertunjukan, dan melihat korelasi yang terjadi antara nilai-nilai hibriditas pada estetika seni pertunjukan. Hip hop merupakan jenis musik yang mengalami percampuran, pembauran, dan intepretasi ulang atas sebuah kebudayaan. Hibriditas hip hop menjadi hakiki, terlebih bila melihat esksistensi dan konsistensinya kini. Hip-Hop Music as a Form of Hybrid Culture in the Aesthetics Reviews. Talking about art, it has a tendency to talk about life itself. The process of creation will never be stagnant in life. The dynamism in life will make art as an effort of seeking itself to be actively creative in creating a work of art. The art involving in life will be produced by a society that is able to capture the essence of art in life itself. Art is then ultimately a product of society because art cannot keep itself away from the society. The collective art production, or perceived and created by the community, will give more priority to the increasing values , prioritize the local ethnicity, and be full of interpretation.The process of creating art in human life cannot be released from the process of creating purity and hybridity which are parts of a fundamental element. The process of creation is actively involved in the acculturation or assimilation of culture. Dilemma becomes the main issue in the process of creation, “purity” and “hybridity” then are the friction of problems. Hybridity, is a suitable study in reviewing such assimilation. The process of hybridity becomes increasingly attractive especially when the created art is formed in the urban society. Art that is created by the urban society leads to the popular art, but it does not rule out the possibility that all arts may derive from the rural community. Habitus, embodiment, and the individual interpretation that belong to the society become theinteresting process of formation.
”Ruteng is da City”: Representasi Lokalitas dalam Musik Rap Manggarai Ans. Prawati Yuliantarii
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.21 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1511

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena musik rap di Manggarai dan representasi lokalitas yang ada di dalam lagu-lagunya. Untuk melihat hal itu dipergunakan teks lagu sebagai obyek kajiannya. Lagu “Ruteng is da City” karangan Lipooz dipilih sebagai bahan kajian untuk melihat elemen-elemen lokal di dalam teksnya itu direpresentasikan dalam lagu sebagai pembentuk identitas rap Manggarai. Untuk membahas elemen lokalitasnya dipergunakan konsep cultural-melding-and-mediation oleh Lull. Sementara untuk mempertajam analisis representasi lokalitas dipergunakan teori Collective Representation dari Durkheim. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa melalui teks lagu “Ruteng is de City” dapat dilihat pengalaman kolektif masyarakat, kebiasaan khas, kode yang merupakan simbol kota Ruteng, dan barang yang menjadi produk lokal wilayah itu. Elemen-elemen lokal itu merepresentasikan budaya Manggarai yang berisi kepercayaan, norma-norma, nilai dan pandangan filosofis masyarakat yang membentuk identitas masyarakat Manggarai. “Ruteng is da City”: Representation of Locality in Manggarai Rap Music. This research discusses the phenomenon of rap in Manggarai and the representation of locality of the songs. To figure out this phenomenon, the textual examination on the song lyrics of “Ruteng is da City” composed by Lipooz is particularly selected as the object of study to identify the local elements of the text (lyric) which are represented in the song as the form of the identity of Manggarai rap. The identification of local elements is based on cultural-melding-and-mediation concept proposed by Lull. Meanwhile, in analyzing the representation of locality in the text, Durkheim’s theory of Collective Representation is adopted. According to the research result, it is concluded that the song text of “Ruteng is d City” contains the collective experience of the community, norms, the symbolic code of the town (Ruteng), and the local commodities of the town. The local elements found in the song represent Manggarai traditional culture that includes beliefs, norms, values and philosophical views of Manggarai society which essentially form the identity of Manggarai people.
Adaptasi Konserto pada Ensambel Gitar sebagai Upaya Pengayaan Bahan Ajar Matakuliah Ensambel Andre Indrawan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.971 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1509

Abstract

Penelitian ini membahas sebuah upaya pengembangan formasi ensambel gitar dalam rangka pencapaian suatu kesetaraan artistik terhadap penyajian sebuah konseto untuk orkestra dan solois instrumen tiup. Proses penelitian ini diterapkan dalam konteks pembelajaran dan pengajaran paket mata kuliah Koor/ Orkes/ Ensambel (KOE) pada kurikulum pendidikan tinggi musik di Indonesia. Permasalahan utama yang dibahas dalam studi ini ialah bagaimana menerapkan repertoar orkestra pada sebuah ensambel gitar? Tujuan dari pemecahan masalah tersebut ialah untuk memperkaya materi pengajaran ensambel gitar yang termasuk salah satu kelompok studi dari paket kelas-kelas KOE. Kontribusi hasil penelitian ini adalah rekonstruksi model pembelajaran ensambel gitar dari tingkat menengah hingga tinggi. Guna mencapai target yang telah ditetapkan, penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kombinasi metodologis di antara metode transkripsi musikologis dengan metode tindakan kelas yang diadopsi pada studi material dan proses belajar ensambel gitar. Permasalahan yang teridentifikasi disimpulkan dengan pembuatan prototipe aransemen baru sebagai alternatif materi pengajaran melalui proses pengolahan editorial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterbatasan gitar dalam menghasilkan kesetaraan terhadap kulalitas artistik orkestra dapat diatasi tidak hanya dengan mentranskrip reduksi pianonya tapi langsung dari skor orkestranya. Oleh karena itu, ensambel gitar dapat menjadi alternatif yang lebih baik dari versi pengiring piano dalam menyajikan sebuah konsert The Adaptation of Concerto on a Guitar Ensemble as the Enrichment Effort of the Ensamble Teaching Materials. This study discusses an effort in developing guitar ensemble formation in order to achieve an artistic equality to the performance of a concerto for orchestra and wind soloist. This is applied in the context of Indonesian higher music education’s curriculum for the class room teaching and learning of the choir/ orchestra/ ensemble (COE) subject package. The main problem discussed in this study is how to apply an orchestral repertoireire to an ensemble guitar? The purpose of this study is to enrich the teaching material of guitar ensemble, which is one among the COE classes. The result of this study is contributed to the reconstruction of guitar ensemble teaching model from middle to higher grades. To achieve the target that have formerly been set, this study has combined musicological transcription method and the class room action research which are adopted to research material study as well as guitar ensemble learning process. Problems that had identified was concluded by prototyping the new arrangement through transcription process from the concerto repertoire as the teaching material alternative, by editorial treatment. This study concludes that the guitar limitedness to result the equality with the orchestral artistic quality could be overcome not by transcribing from its piano reduction but directly from orchestral score. Because of that reason, guitar ensemble could be a better alternative to the piano accompaniment in performing a concerto for a wind solist, and at the same time it enriches guitar ensemble repertoire.
Aluang Bunian Karawitan Minangkabau dalam Pamenan Anak Nagari dari Penyajian Bagurau ke Presentasi Estetik sri rustiyan
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607.392 KB) | DOI: 10.24821/resital.v16i2.1510

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami peristiwa musik dalam masyarakat Minangkabau dari perspektif budaya. Dalam kajian budaya, semiotika dan estetika tidak dapat dipisahkan. Kekuatan menafsir, memahami, menginterpretasi, dan menganalisis merupakan hal utama dalam penelitian budaya. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa kesenian tradisi di Minangkabau disebut pamenan anak nagari karena merupakan kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan rakyat dan dimainkan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, sedangkan karawitan Minang disebut sebagai aluang bunian karena berbentuk musik (bunyi-bunyian). Peran dan fungsi aluang bunian sebagai hiburan masyarakat Minang dikenal dengan istilah bagurau yaitu acara kesenian yang diadakan semalam suntuk, dimulai dari setelah sholat isya’ hingga menjelang subuh. Bagurau adalah bentuk seni pertunjukan tradisi lisan yang merupakan salah satu ciri khas budaya Minangkabau. Dengan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan, teknologi, dan konsep estetik aluang bunian (karawitan Minang) tidak hanya sekedar hiburan pamenan anak nagari tetapi mengalami perkembangan dengan mempertimbangkan kaidah-kaidah sebagai presentasi estetik. The Minangkabau Karawitan of Aluang Bunian in Pamenan Anak Nagari from the Performance of the Aesthetic Presentation Bagurau. Traditional arts in Minangkabau in general are called pamenan anak nagari. The phrase implies the fact that it originated in Minangkabau or Minang folk culture, grew as one of traditional aspects of Minangkabau folk group, and performed by and for the group. Karawitan or traditional musical arts in Minangkabau is called aluang bunian that means musical sounds. An aluang bunian which is presented as an entertainment for Minang people is called bagurau. Bagurau is performed as a cultural event that goes on from dusk (after the evening prayer) till dawn (before the fajr prayer). It is a kind of performing arts—among many other kinds of arts in Minang oral tradition—that exemplifies Minangkabau tradition. Throughout periods of development in science and technology, aluang bunian (Minang karawitan) has underwent an enhancement in its aesthetic values in that it is no longer considered a mere entertainment of pamenan anak nagari but a richer aesthetic presentation with its guiding principles. This article presents cultural, semiotic, and aesthetic studies in which the three contributory aspects (culture, semiotics, and aesthetics) are inseparable since cultural studies involve comprehensions of significations and aesthetic values derived from meaning and sensibility. The abilities in interpreting, inferring, understanding, and analyzing play important role in qualitative research where descriptive analysis method is employed.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue