cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts)
ISSN : -     EISSN : 23386770     DOI : https://doi.org/10.24821/resital
Core Subject : Humanities, Art,
Resital : Jurnal Seni Pertunjukan merupakan jurnal ilmiah berkala yang ditujukan untuk mempublikasikan karya ilmiah hasil penelitian, pengembangan, dan studi pustaka di bidang seni pertunjukan. Jurnal Resital pertama kali terbit bulan Juni 2005 sebagai perubahan nama dari Jurnal IDEA yang terbit pertama kali tahun 1999.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018" : 5 Documents clear
H. Sastro sebagai Penggerak Mamaca di Pamekasan Madura Dana, I Wayan; Kusmayati, A. M. Hermien
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v19i2.4133

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami Mamaca dan menjelaskan peran H. Sastro sebagai penggerak Mamaca di Madura. Data diperoleh dengan wawancara dan observasi. Mamaca berarti membaca suatu kisah yang bersumber dari naskah tertentu. Tuntunan dalam Mamaca antara lain mengetengahkan pengetahuan tentang tahapan-tahapan kehidupan manusia sejak lahir, masa kanak- kanak, saat dewasa, hingga akhirnya meninggal dunia. Mamaca sebagai wujud seni pertunjukan, selain memuat aspek-aspek yang bernilai tatanan dan tuntunan, juga menyajikan aspek-aspek estetik yang ditampilkan oleh suatu tontonan. Berdasar penelitian dapat disimpulkan bahwa H. Sastro memiliki peran sebagai penjaga dan penggerak seni pertunjukan Mamaca di Pamekasan Madura yang tergabung dalam kelompok Mamaca “Rukun Sampurna”. Mamaca selalu berkembang dan memiliki peran penting dalam pendidikan nilai-nilai kehidupan masyarakat Pamekasan.ABSTRACTH. Sastro, a Mover of Mamaca in Pamekasan Madura. This study aims to understand Mamaca and explain the role of H. Sastro as a mover of Mamaca in Madura. Data were obtained by carrying out the interview and observation. Mamaca means reading a story that comes from a certain script. The guidance in Mamaca, among others, presents knowledge about the stages of human life from birth, childhood, adulthood, and finally death. Mamaca is as a form of performing arts, besides containing aspects that are of value order and guidance, it also presents the aesthetic aspects displayed by a spectacle. Based on the research, it can be concluded that H. Sastro has a role as the guardian and mover of the Mamaca performing arts in Pamekasan Madura which is a part of the Mamaca group “Rukun Sampurna”. Mamaca is always developing and has an important role in the values education of the Pamekasan community.Keywords: mamaca; pamekasan; the art of recitation
Dangdut dan Kesehatan dalam Masyarakat Alfionita, Elya Nindy
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v19i2.3339

Abstract

Artikel ini membahas wacana tentang dangdut dan kontribusinya bagi kesehatan masyarakat. Dangdut dapat menjadi solusi untuk menstabilkan gelombang otak pada penderita skizofrenia, baik itu skizofrenia paranoid, skizofrenia hebrefenic, skizofrenia residual, dan skizofrenia tidak spesifik. Familiaritas adalah faktor utama pada pasien skizofrenia yang mencapai kondisi gelombang otak yang ideal. Keakraban yang melekat pada pasien skizofrenia terbentuk karena kontribusi (1) pengalaman musik pasien selama hidupnya (2) Pengalaman budaya di mana ruang membentuk karakter psikis seseorang (3) Pengalaman sosial pasien skizofrenia yang berkontribusi penuh terhadap rasa. Keterikatan emosional pasien dengan musik yang akrab membantu mengembalikan bagian pra frontal dari konteks, terutama bagian yang mengendalikan sistem saraf emosional (amigdala). Karena amigdala berkontribusi penuh pada saraf yang berhubungan dengan denyut jantung.Dangdut and Health in Society. The article discusses the discourse about dangdut and its contribution to public health. Dangdut can be a solution to stabilize brain waves again in people with schizophrenia. In the type of paranoid schizophrenia, hebrefenic schizophrenia, residual schizophrenia, and unspecified schizophrenia. Familiarity is a major factor in schizophrenia patients achieving ideal brain wave conditions. Familiarity inherent in schizophrenic patients is formed because of the contribution of (1) the patient's musical experience during his life, (2) cultural experiences in which space forms a person's psychic character, (3) the social experience of schizophrenic patients who contributes fully to taste. Patient's emotional attachment to familiar music helps to restore the pre-frontal part of the context, especially the controlling part of the emotional nervous system (amygdala). Because the amygdala contributes fully to the nerves associated with heart rate.Keywords: Schizophrenia; Familiarity; Brain Waves
Ki Wiryah Sastrowiryono dalam Dunia Karawitan Jawa: Guru, Pengrawit, dan Pencipta Gendhing Pudjasworo, Bambang
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v19i2.4922

Abstract

Tulisan ini bertujuan mengungkap sisi-sisi kehidupan Ki Wiryah Sastrowiryono sebagai salah seorang empu karawitan Jawa yang sepanjang hidupnya telah mengabdikan diri dalam dunia karawitan Jawa, baik sebagai pendidik di SMKI (KONRI) Yogyakarta, ISI Yogyakarta, Taman Kesenian Taman Siswa, Pamulangan Beksa Ngayogyakarta, dan Yayasan Gambirsawit Yogyakarta. Ia berperan sebagai pengrawit, maupun sebagai pencipta gendhing untuk sajian karawitan dan iringan tari. Dedikasinya sebagai seorang pendidik karawitan Jawa antara lain tampak dalam kegiatannya sebagai staf pengajar di materi pelajaran karawitan yang dituangkan ke dalam buku-buku ajar karawitan Jawa yang ditulis tahun enampuluhan sampai delapan puluhan. Tulisannya banyak diterbitkan oleh Majelis Luhur Taman Siswa dan SMKI (KONRI) Yogyakarta. Buku-buku karya Ki Wiryah Sastrowiryono ini telah banyak digunakan sebagai buku pegangan bagi para guru dan siswa/mahasiswa yang mempelajari karawitan Jawa Gaya Yogyakarta.ABSTRACTKi Wiryah Sastrowiryono in the Field of Javanese Karawitan: A Teacher, Player, and Gendhing Composer. This paper aims to reveal the aspects of Ki Wiryah Sastrowiryono’s life as one of the Javanese gamelan masters who throughout his life devoted himself to Javanese gamelan, both as an educator at the Indonesian Karawitan High School Yogyakarta SMKI (KONRI), ISI Yogyakarta, Taman Siswa Arts Community, Pamulangan Beksa Ngayogyakarta, and Yogyakarta Gambirsawit Foundation. He had some essential roles as a gamelan player (pengrawit), as well as a composer of pieces for musical offerings and dance accompaniment. His dedication as a Javanese gamelan educator can be seen, among other things, in his activities as a teaching staff for musical lessons which were translated into Javanese musical textbooks written in the sixties to the eighties. His writings had mostly been published by the Taman Siswa Luhur Council and the Yogyakarta SMKI (KONRI). These books by Ki Wiryah Sastrowiryono have been widely used as handbooks for teachers and students studying Javanese gamelan of Yogyakarta style.Keywords: Wiryah; Sastrowiryono; gendhing 
Pengaruh Posmodernisme terhadap Karya Gitar: Studi Kasus Karya Roland Dyens, Andrew York, dan Leo Brower Koapaha, Royke Bobby
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v19i2.3518

Abstract

Postmodernisme dapat dikatakan sebagai penolakan atau kritik terhadap modernisme Barat yang berorientasi pada kemajuan. Ciri posmodernisme seperti alam tanpa titik pusat atau hilangnya fokus yang mengontrol akan segala sesuatu, tidak ada standar yang berlaku umum atau universal untuk mengukur, menilai dan mengevaluasi suatu konsep atau gaya hidup tertentu. Repertoar musik gitar tidak dapat dipisahkan dari pengaruh posmodernisme. Hingga saat ini relatif belum ada penelitian seputar pengaruh posmodernisme pada repertoar musik gitar.  Penelitian ini bertujuan akan mengkaji pengaruh posmodernisme terhadap karya-karya musik untuk Gitar dari Roland Dyens, Andrew York dan Leo Brouwer. Data-data penelitian ini didapat dari studi literatur mengenai wacana posmodernisme secara umum, wacana posmodernisme dalam musik, serta menganalisis pemikiran-pemikiran posmodernisme pada karya musik untuk Gitar. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa karya-karya musik untuk Gitar yang diciptakan oleh Roland Dynes, Andrew York, dan Leo Brouwer mendapat pengaruh posmodernisme dari musik jazz, rock, musik rakyat dan musik klasik. Ketiga komposer ini menggunakan idiom-idiom musik yang tidak hanya terbatas pada musik klasik, namun menggunakan idiom-idiom dari berbagai macam musik, termasuk musik populer.Postmodernism can be agreed as a rejection or criticism of western modernism which oriented on a progression. Its characteristic like a world without center point or without focus that can control everything, there is no certain standard to measure, assess, and evaluate a particular concept or lifestyle. The guitar music repertoire cannot be separated from the influence of  postmodernism. Until now there has been relatively no research on the influence of postmodernism on the guitar music repertoire. This research aims describing the effect of postmodernism towards guitar’s music composed by Roland Dynes, Andrew York, and Leo Brouwer. The data gathered from literature study on postmodernism discourse, postmodernism in music, and also the analysis of postmodernism thoughts on guitar’s music. The result shown that the effect of postmodernism lies on musical works from Roland Dynes, Andrew York, and Leo Brouwer. Those composers using not only western classical music idioms, but also jazz, rock, folk music, including popular music. Keywords: Postmosernism; guitar; Roland Dynes; Andrew York; Leo Brouwer
Musik Karawitan untuk Lagu Dolanan Anak Siswadi, Siswadi; Budi Prasetya, Hanggar; Wahyu Widodo, Tri
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v19i2.3918

Abstract

Musik Karawitan merupakan permainan musik tradisi yang harus dipelihara agar seni musik karawitan terus berlangsung. Mempertahankan keberlangsungan musik karawitan dengan cara regenerasi sumber daya manusianya. Untuk menumbuhkan kegiatan musik karawitan akan baik bila dimulai dari anak-anak. Proses musik karawaitan untuk anak tentu diperlukan teknik dan kajian tertentu. Aktivitas musik karawitan untuk anak diawali dengan lagu dolanan yang mudah dan menarik bagi anak. Artikel ini hasil dari penelitian yang bertujuan untuk menguji apakah lagu-lagu dolanan anak yang diiringi oleh gamelan sudah sesuai dengan ambitus dan jiwa anak. Penelitian yang dilakukan dengan cara mengamati lima lagu dolanan yang diiringi gamelan. Analisis lagu dolanan dilakukan dengan cara membandingkan lima lagu yang memiliki ambitus anak rata-rata. Hal yang penting dalam pembahasan musik karawitan untuk anak yaitu memberikan pemahaman untuk mencari teknik yang tepat dalam olah vokal untuk karawitan anak. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa lagu lagu dolanan yang berkembang saat ini masih kurang tepat untuk anak.Karawitan Music for Children's Dolanan Songs. Karawitan Music is a traditional music game that must be maintained so that the art of traditional music continues. The continuity to preserve the Karawitan music should be carried out by regenerating its human resources. It is essential to growing musical activities starting with children. The process of karawitan music activities for children certainly requires specific techniques and studies. The activities may begin with easy and exciting dolanan songs for children. This article is the result of research that aims to test whether the children's songs accompanied by gamelan are following the ambitus and soul of the children or not. The study was carried out by observing five Dolanan songs accompanied by the gamelan. The analysis of Dolanan song was done by comparing five songs which had the ambitus of an average child. The important thing in the discussion of karawitan music for children is to provide understanding to find the right techniques in vocal processing for children's music. Based on the results of the study, it is concluded that Dolanan songs which are developing at this time are still not appropriate for children.Keywords: children karawitan music; ambitus; dolanan song

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 3 (2025): Desember 2025 Vol 26, No 2 (2025): Agustus 2025 Vol 26, No 1 (2025): April 2025 Vol 25, No 3 (2024): Desember 2024 Vol 25, No 2 (2024): Agustus 2024 Vol 25, No 1 (2024): April 2024 Vol 24, No 3 (2023): December 2023 Vol 24, No 2 (2023): Agustus 2023 Vol 24, No 1 (2023): April 2023 Vol 23, No 3 (2022): Desember 2022 Vol 23, No 2 (2022): Agustus 2022 Vol 23, No 1 (2022): April 2022 Vol 22, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 22, No 2 (2021): Agustus 2021 Vol 22, No 1 (2021): April 2021 Vol 21, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 21, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 21, No 1 (2020): April 2020 Vol 20, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 20, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 20, No 1 (2019): April 2019 Vol 19, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 19, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 19, No 1 (2018): April 2018 Vol 18, No 3 (2017): Desember 2017 Vol 18, No 2 (2017): Agustus 2017 Vol 18, No 1 (2017): April 2017 Vol 17, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 17, No 2 (2016): Agustus 2016 Vol 17, No 1 (2016): April 2016 Vol 16, No 3 (2015): Desember 2015 Vol 16, No 2 (2015): Agustus 2015 Vol 16, No 1 (2015): April 2015 Vol 15, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 15, No 1 (2014): Juni 2014 Vol 14, No 1 (2013): Juni 2013 Vol 13, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012 Vol 12, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 12, No 1 (2011): Juni 2011 Vol 11, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 11, No 1 (2010): Juni 2010 Vol 11, No 2 (2010): Desember Vol 10, No 2 (2009): Desember 2009 Vol 10, No 1 (2009): Juni 2009 Vol 9, No 2 (2008): Desember 2008 Vol 9, No 1 (2008): Juni 2008 More Issue