Articles
12 Documents
Search results for
, issue
" Vol 5, No 1 (2009)"
:
12 Documents
clear
PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES SAINS UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP SUHU DAN PEMUAIAN
Subagyo, Y.;
Wiyanto, -;
Marwoto, P.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa SMP dengan pendekatan keterampilan proses padapokok bahasan suhu dan pemuaian. Penelitian dilaksanakan dengan metode pre-post eksperimen tanpa kendali. Pre dan pos tesdilakukan untuk melihat peningkatan pemahaman konsep siswa. Pengamatan keterampilan dan sikap ilmiah dilakukan pada awaldan akhir kegiatan laboratorium berbasis inkuiri. Data penelitian diambil sebelum percobaan, selama percobaan, dan setelahpercobaan. Hasil belajar pretes pemahaman konsep diperoleh rata-rata 51%, postes 61,73%, dan gain sebesar 0,219 (low-gain).Hasil belajar keterampilan proses, pengamatan awal diperoleh rata-rata 54%, pengamatan akhir 76%, dan gain sebesar 0,478(medium-gain). Hasil pengamatan sikap ilmiah awal siswa rata-rata 55%, pengamatan akhir 67%, dan gain sebesar 0,267 (lowgain).Jadi hasil belajar siswa pada penelitian ini mengalami peningkatan.ÃÂ The research aimed to observe the improvement of junior high Scholl students in learning on temperature and expansion byprocess skill approach. Uncontrolled pre-post experiment method was used in this study. Pre and post test was used to obtain thestudents understanding. The observation of skills and scientific attitudes was done on the beginning and at the end of each inquirybased laboratory activity. The data extracted from beginning, during and after labs activity. The achievements in conceptunderstanding yield the value of 51 % for pre test and 61.73% for post test thus gain the gain is 0.219 (low gain). Theachievements in process skills end up with the value of 54 % for initials and 76% for the finals observations give the gain of 0.478(medium-gain). The observations in scientific attitude give the average value 55% at the beginning and 67% at the end, so the gainis 0,267. Overall conclusion, the students achievement is improved.Keywords: science; process skills; learning achievements
PENINGKATAN HASIL BELAJAR ELEKTRONIKA DASAR II MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING LABORATORY
Sujarwata, -
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa SMP dengan pendekatan keterampilan proses pada pokok bahasan suhu dan pemuaian. Penelitian dilaksanakan dengan metode pre-post eksperimen tanpa kendali. Pre dan pos tes dilakukan untuk melihat peningkatan pemahaman konsep siswa. Pengamatan keterampilan dan sikap ilmiah dilakukan pada awal dan akhir kegiatan laboratorium berbasis inkuiri. Data penelitian diambil sebelum percobaan, selama percobaan, dan setelah percobaan. Hasil belajar pretes pemahaman konsep diperoleh rata-rata 51%, postes 61,73%, dan gain sebesar 0,219 (low-gain). Hasil belajar keterampilan proses, pengamatan awal diperoleh rata-rata 54%, pengamatan akhir 76%, dan gain sebesar 0,478 (medium-gain). Hasil pengamatan sikap ilmiah awal siswa rata-rata 55%, pengamatan akhir 67%, dan gain sebesar 0,267 (low-gain). Jadi hasil belajar siswa pada penelitian ini mengalami peningkatan.ÃÂ The research aimed to observe the improvement of junior high Scholl students in learning on temperature and expansion by process skill approach. Uncontrolled pre-post experiment method was used in this study. Pre and post test was used to obtain the students understanding. The observation of skills and scientific attitudes was done on the beginning and at the end of each inquiry based laboratory activity. The data extracted from beginning, during and after labs activity. The achievements in concept understanding yield the value of 51 % for pre testÃÂ andÃÂ 61.73%ÃÂ for post testÃÂ thus gain the gain is 0.219 (low gain). The achievements in process skills end up with the value of 54 % for initials and 76% for the finals observations give the gain of 0.478 (medium-gain). The observations in scientific attitude give the average value 55% at the beginning and 67% at the end, so the gain is 0,267. Overall conclusion, the students achievement is improved.Keywords: science; process skills; learning achievements
PENGGUNAAN ALAT PERAGA PAPAN OPTIK UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PEMANTULAN CAHAYA PADA SISWA KELAS VIII
Sambudi, A.;
Mosik, -
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Papan optik merupakan alat peraga yang dapat digunakan guru sebagai alat bantu dalam mengajarkan materi pemantulancahaya. Penggunaan papan optik dapat memberikan visualisasi jalannya sinar-sinar istimewa hingga membentuk suatu bayangandan menggambarkan letak serta ukuran bayangan. Penelitian ini bertujuan memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajarandi kelas pokok bahasan pemantulan cahaya dengan menggunakan alat peraga papan optik, serta mendeskripsikan tingkatkeberhasilan penggunaan alat peraga papan optik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan dua sikluspembelajaran. Pada siklus I, materi yang disampaikan adalah sifat-sifat cahaya dan pemantulan cahaya pada cermin datar.Metode pembelajaran yang digunakan pada siklus I adalah diskusi dan demonstrasi. Pada siklus II, materi yang disampaikanadalah pemantulan cahaya pada cermin cekung dan cermin cembung. Metode pembelajaran yang digunakan pada siklus II adalahdiskusi dan eksperimen dengan panduan LKS. Hasil penelitian menunjukkan hasil belajar siswa yang diajar menggunakan metodediskusi dan eksperimen dengan panduan LKS lebih baik dibandingkan dengan menggunakan metode diskusi dan demonstrasi.Penggunaan alat peraga papan optik pada pokok bahasan pemantulan cahaya meningkatkan hasil belajar kognitif.àOptical board can be used as a teaching aid when teachers teach a topic of reflection in geometrical optic. This usage can give avisualization of prime lightââ¬â¢s track in constructing an image, showing the place and the size. This research aimed to improve andregain the practical work in geometric optical teaching by using an optical board as a teaching aid, try to describe itââ¬â¢s effectiveness.This study was done through a two cycles class action research in the first cycle, topics in light characteristics and reflection onplane mirror was taught, through demonstrations and discussion. In the second cycle, the topics are reflection on curvature mirrors.The methods used in this cycle were discussed, and worksheet guided experimental works. The study proves that the studentââ¬â¢slearning achievement which is taught using the discussion method and worksheet guided experimental works is better thandiscussion and demonstration merely. The usage of optical board on geometrical optic increases the student cognitiveachievements.Keywords: optical board; learning achievement; light reflection
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BAKULIKAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERSIKAP ILMIAH PADA KONSEP PEMANTULAN CAHAYA KELAS VIII
Shofiah, N. A.;
Hendratto, S.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bersikap ilmiah, telah dilakukan di kelas VIII semester IIpada sub pokok bahasan pemantulan cahaya. Untuk meningkatkan kemampuan bersikap ilmiah diterapkan model pembelajaranbakulikan. Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari tiga sikus, dengan masing-masing siklus terdiri dari empat tahapan yaituperencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data sikap ilmiah siswa diambil dari lembar angket dan lembar observasi. Datahasil belajar kognitif diambil dari evaluasi yang ada di LKS tiap akhir siklus dan data hasil belajar psikomotorik diambil dari lembarobservasi tiap akhir siklus. Hasil penelitian menyatakan bahwa sikap ilmiah siswa mengalami peningkatan walaupun tidaksignifikan. Hasil belajar kognitif dan keterampilan psikomotorik siswa mengalami peningkatan tiap siklus dan mencapai ketuntasanpada siklus III.ÃÂ A classroom action research aimed to improve scientific attitude skill had been done in second semester of grade VIII MTs on thesubtopic light reflection. The bakulikan learning model was chosen for improving the scientific attitude skills of the students. Thisaction research consisted of three cycles, and each cycle has four stages, namely, planning, conducting, observation andreflection. The data obtained through questionnaire and observation sheets. The cognitive achievement drawn from the evaluationon each worksheet at the end of each cycle, and the psychometrics recorded from observation sheet. The study concludes that thescientific attitude skill improved significantly. The achievement on cognitive and psychometrics increase gradually on each cycleand get mastery at the end of the last cycle.Keywords: bakulikan; classroom action research; scientific attitude
PEMBIASAAN BEKERJA ILMIAH PADA PEMBELAJARAN SAINS FISIKA UNTUK SISWA SMP
Sopiah, S;
Wiyanto, -;
Sugianto, -
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan bekerja ilmiah pada siswa SMPN 24 Kota Semarang melalui kegiatanlaboratorium berbasis inkuiri. Desain penelitian ini dibagi menjadi dua bagian yaitu pra penelitian dan pelaksanaan penelitian.Pelaksanaan penelitian dilakukan dalam dua siklus. Instrumen penelitian berupa Lembar Kerja (LK) dan lembar observasi.Tumbuhnya kebiasaan bekerja ilmiah diukur berda-sarkan persentase ketercapaian tiap indikator kerja ilmiah. Persentaseketercapaian kerja ilmiah hasil analisis siklus I yaitu: LKI mencapai 73%, LK II 65%, Laporan 55% dan hasil observasi 70%.Setelah melalui siklus II, LK I mencapai 92%, LK II 76%, laporan 84% dan hasil observasi 71%. Hasil analisis kerja ilmiah siswasecara individual belum menunjukkan adanya ketercapaian kerja ilmiah siswa yang relatif tetap dengan ketercapaian 75%.Pengetahuan awal siswa tentang kerja ilmiah yang diukur dengan pre-test secara keseluruhan mencapai 58% setelah menempuhsiklus I dan siklus II siswa diberikan post-test dan hasilnya naik 12% menjadi 70%, hasil tersebut dianalisis menggunakan gaindengan kriteria medium-gain (0.3%). Hasil angket refleksi menunjukkan 46% siswa merespon pelaksanaan percobaan sangatmenyenangkan dan 51% menyenangkan.ÃÂ The aim of this study is to foster a scientific working habit on students of SMPN 24 Semarang, through an inquiry based laboratoryactivity. The research design consisted of the stages: pre-research and conducting research. The conducting research was done intwo cycles. The research instruments are working and observation sheets. The growth of scientific working habit is measuredbased on compliances percentage of scientific working habit indicators. The analysed results after the first cycle: WS1 yielded 73%,WS2 65%, report 55%, and observation 70%. After the second cycle: WS1 ends up with 92%, WS2 76%, report 84%, andobservation 71%.The analysed result of individual scientific working habit in general have not show a relatively constantimprovement yet with a compliance > 75%. Student understands on scientific working habit measured in pre test, the overall valueis 58%, after treatment increase 12 points on the post test, and ends up with 70%. Based on the reflection questionnaire, 46%students respond very enjoy with the research, and 51% fell enjoy.Keywords: inquiry; scientific working habit; science learningÃÂ
PENGAJARAN GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK MENGGUNAKAN PENDEKATAN TEORI INTELEGENSI GANDA UNTUK SISWA KELAS X SMA
Setiyowati, T.;
Sukisno, M.;
Mindyarto, B. N.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian tentang metode pengajaran dengan menghargai delapan kecerdasan yang ada pada siswa telah dilakukan. Padaumumnya pengajaran fisika hanya menerapkan kecerdasan matematis-logis dan kecerdasan linguistik, Pengajaran fisikamenggunakan pendekatan teori intelegensi ganda menggunakan kecerdasan matematis-logis, linguistik, musikal, naturalis,interpersonal, intrapersonal, kinestetik-badani dan spasial. Pelaksanaan pengajaran menggunakan pendekatan teori intelegensiganda dapat memotivasi siswa untuk melakukan aktivitas belajar sesuai dengan kecerdasan masing-masing. Penelitian dilakukandengan desain kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen dengan perlakuan pengajaran gelombangelektromagnetik menggunakan pendekatan teori intelegensi ganda sedangkan pada kelompok kontrol menggunkan pengajarankonvensional. Berdasarkan hasil analisis diperoleh rata-rata hasil belajar pada kelompok eksperimen lebih tinggi dari kelompokkontrol tetapi setelah dilakukan analisis secara statistik tidak ada perbedaan yang signifikan. Hal ini karena waktu yang relatifkurang dan materi yang dipelajari tidak terlalu sulit dengan jumlah pokok bahasannya sedikit.ÃÂ A research on instruction method with endorsing students eight intelligent has been done. Usually, physics instructionsimplementing mathematic-logic and linguistic intelligent approach only, instead of multiple intelligent: mathematic, logic, linguistic,musical, natural, interpersonal, kinaesthetic, and spatial. The implementation of multiple intelligent in instruction able to drive thestudents to do a learning activity in line with their intelligent. Experiment-control groups design was used in this work. Theexperiment group is taught using multiple intelligent models and the control group was conventionally. Based on the analyzedachievement, the experiment group has higher score than that of control group, but is not statistically significant. The lack of timeand limited material course may affect this phenomenon.Keywords: electromagnetic wave; experiment-control group; multiple intelligent approach instruction
PENGEMBANGAN KETERAMPILAN PROSES DAN PEMAHAMAN SISWA KELAS X MELALUI KIT OPTIK
Widayanto, -
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Keterampilan proses sains sangat diperlukan sebagai dasar agar siswa mampu memecahkan masalah. Ketrampilan proses sainsàdapat dilatihkan melalui kegiatan laboratorium. Dengan memanfaatkan kit optik peneliti bertujuan meningkatkan keterampilanàproses sains dan pemahaman materi fisika bagi siswa SMA. Subyek penelitian adalah siswa kelas X-C SMA 3 Sragen tahun ajaranà2006/2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan kit optik dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahamanàdan keterampilan proses sains siswa. Skor rata-rata pemahaman siswa pada siklus I sebesar 73,27 dengan ketuntasan belajaràsecara àklasikal àsebesar à80,49%, àsedangkan àsiklus II àskor àrata-rata àadalah à84,20 àdengan àketuntasan klasikal àsebesar à100%.àSedangkan prosentase rata-rata keterampilan proses sains siswa pada siklus I sebesar 77,37% dan siklus II sebesar 87,36%.The science process skills play an important role as basic for students in solving their problems and can be developed throughàlaboratory activities. By using optical kit, we aim increasing science process skill and understanding physics matter for students.àThe research subject is X-C Class Senior High School 3 Sragen academic year 2006/2007. The research result show that the use ofàoptical àkit àin àthe àlearning àcan increase àunderstanding àand àscience àprocess àskill àof students. àThe àaverage àscore àof àstudentsàunderstanding at cycle I equals to 73,27 with mastery of learning as much as 80,49%, while that of the cycle II equals to 84,20% withàthe classically mastery of learning 100%. In addition, the average percentages of students science process skill at cycle I and II areà77,37% and 87,36% respectivelyé 2009 Jurusan Fisika FMIPA UNNES SemarangKeywords: mastery of learning; optical kit; learning process
PENGAJARAN POKOK BAHASAN PESAWAT SEDERHANA DENGAN METODE EKSPERIMEN PADA SISWA SEKOLAH DASAR
Muna, Z.;
Sukisno, M.;
Yulianto, A.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan metode eksperimen pada pengajaran pokok bahasan pesawatsederhana dapat meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar. Penerapan metode ini dilakukan pada siswa kelas V semester 2SD Negeri Tayu Wetan 02. Penelitian dilaksanakan dalam bentuk tindakan kelas yang dilaksanakan dalam tiga siklus denganmateri yang berbeda. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data hasil belajarkognitif diperoleh melalui postest pada akhir siklus, hasil belajar afektif dan psikomotorik diperoleh melalui lembar observasi,sedangkan tanggapan siswa diperoleh malalui angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran pokok bahasan pesawatsederhana dengan metode eksperimen yang dilakukan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. ÃÂ The research aimed to investigate whether the implementation of an experimental method on the topic of simple mechanic toolsable to improve primary school students achievement. The method implemented on grade V second semester student of StatePrimary School 02 Tayu Wetan. The study is conducted through classroom action research in three cycles with different lessonmaterials. Each cycle consisted of four states, namely: planning, conducting, observation, and reflection. The cognitive dataobtained by the post test at the end of each cycle, the affective and psychomotorics from the observation sheets, and the studentsresponses through questionnaire. The study proves that implementing the experiment method of the instructions on simplemechanic tools topic is proven able to improve student learning achievement.Keywords: instructions; experiment method; simple mechanic tools
PERCOBAAN OSILASI BANDUL FISIS BENTUK SEDERHANA SEBAGAI TUGAS PROYEK PENELITIAN PADA MATERI MOMEN INERSIA DI SMA
Khanafiyah, S.
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Percobaan ayunan bandul fisis bertujuan untuk menentukan suatu besaran fisis, misalnya percepatan gravitasi bumi atau momeninersia pusat massa suatu benda. Dasar dari percobaan ini adalah terjadinya getaran harmonis pada benda yang berosilasidengan amplitudo kecil, sehingga mempunyai periode yang nilainya tergantung pada besarnya momen inersia. Tiga macampercobaan osilasi bandul fisis dengan bentuk sederhana telah dilakukan, yaitu dengan bentuk sembarang, batang tipis dancakram. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pada percobaan ayunan bandul fisis, grafik antara kuadrat perioda dengan variabelbebas adalah linier. Dengan demikian dapat dibuktikan adanya faktor momen inersia pusat massa yang besarnya tertentu.Dengan demikian percobaan ini dapat memperdalam pemahaman tentang momen inersia benda, dan dapat dijadikan sebagaimateri pengayaan.ÃÂ Physical oscillation experiments aimed to determine a physical quantity such as gravity acceleration or centre of mass inertia. Theexperiment based on harmonic vibration caused by a small amplitude particle oscillation, such that the period depends on its inertiamoment. The experiment was done using three kinds of pendulums, such as arbitrary shape, thin rod and disc. The results showthat in physical oscillation experiment, the graph of free variables of squared period is linear. This proves the existence of a centremass inertia moment factor. This experiment can be used to deepen the understanding on moment inertia.Keywords: physical oscillation; inertia moment; centre mass; inertia moment
STUDI GAYA BERAT RELATIF DI SEMARANG
Supriyadi, -
Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Gaya berat relatif adalah gaya berat yang diperoleh dari hasil pengukuran gaya berat di suatu tempat. Untuk memperoleh nilaigayaberat absolut dilakukan pengukuran gayaberat yang diikatkan dengan sistem yang sudah ada yang dikenal sebagai SistemPostdam. Sistem ini merupakan jaringan stasiun gayaberat yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pengkuran gayaberat relatifdi suatu tempat di permukaan bumi ini. Studi kasus pengukuran gayaberat relatif telah dilakukan di kota Semarang khususnya kotabawah dengan menggunakan alat gravimeter. Sebagai titik ikat atau titik referensi digunakan titik Kop. A. Yani 15 yang terletakTaman Diponegoro depan rumah sakit Elizabeth. Besar gayaberat di titik referensi ini adalah 978099,311 mGal. Gayaberat relatifdihitung dari selisih antara gayaberat absolut dengan gayaberat hasil pengukuran yang sudah dikoreksi. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa gayaberat di bagian utara kota Semarang lebih besar dibandingkan dengan bagian selatan. Hal ini sesuaidengan topografi kota Semarang, dimana bagian utara lebih rendah dibandingkan dengan bagian selatan.ÃÂ A relative gravity obtained through a measurement activity of gravity in a certain place. The absolute value of gravity could be drawnby conducting a measurement based on called the existing Postdam system. This system consists of gravitys station network thatcan be used to calculate a relative gravity in a certain place on the earths surface. A case study on relative gravity was conducted inSemarang, especially downtown area, using a gravimeter. The point Kop. A Yani 15 in Diponegoro Park in front of St ElizabethHospital is used as the reference point. The gravity value in this point is 978099.311mGal. The relative gravity was calculated bydiscrepancy between the absolute value and corrected measured gravity. The study showes that the northern part of Semarangarea has a higher value than that of southern part. This result in line with the fact of Semarangs topography, where the northern areais lower than the southern area.Keywords:ÃÂ relative gravity; absolute gravity; gravimeter