Harmonia: Journal of Research and Education
Harmonia: Journal of Arts Research and Education is published by Departement of Drama, Dance, and Music, Faculty of Language and Arts, Universitas Negeri Semarang in cooperation with Asosiasi Profesi Pendidik Sendratasik Indonesia (AP2SENI)/The Association of Profession for Indonesian Sendratasik Educators, two times a years. The journal has focus: Research, comprises scholarly reports that enhance knowledge regarding art in general, performing art, and art education. This may include articles that report results of quantitative or qualitative research studies.
Articles
21 Documents
Search results for
, issue
"Vol 1, No 2 (2000)"
:
21 Documents
clear
FILSAFAT SENI : ANTARA PERTANYAAN DAN TANTNAGAN (Philosophy of Art : Between Question and Challenge)
Susanti, Suaktmi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.840
Pemikiran filsafat hanya akan berhenti apabila pemikiran non filsafat jugaberhenti. Filsafat selalu bersifat terus-menerus (perenial). Kehidupan segidalam dan lingkungan intelektualnya menghadapkan seorang filsuf kepadabentuk persoalan-persoalan yang selalu berubah dan tidak akanmembebaskannya dari tugas berfikir lagi.(Kata kunci : filsafat seni, filsuf, simbolisasi ekspresif)
LOMBA MUSIK DALAM KONTEKSTUAL APRESIASI UMUM (Music Contest in General Appreciation Context)
Josept, Wagiman
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.841
Musik hidup dalam komunikasi pencipta dan penikmatnya, ia hadirsebagai sebuah bentuk seni dengan medium audio (pendengaran).Keberdayaannya di masyarakat tidak lepas dari suasanakeuniversalannya. Upaya-upaya memahami musik dengan lebih seriuskadang-kadang kurang begitu diperhatikan. Bentuk apresiasi musik yanglebih serius kurang mendapat tempat. Salah satu bentuk apresiasi musiksebenarnya sudah menggejala di masyarakat sejak tahun 70-an ialahlomba musik. Dengan adanya lomba musik diharapkan masyarakat dapatmemahami musik dengan lebih baik. Apresiasi musik denganmenggunakan metode lomba musik bersifat sederhana namun berdayajangkauluas, serta ekonomis.Kata kunci: apresiasi, musik, komponis, pemain, pendengar, media
PERAN LOKAL GENIUS DALAM KESENIAN LOKAL (The Role of Local Genius in The Local Art)
Lestari, Wahyu
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.842
Lokal genius yang sangat beragam dan dimiliki oleh suku-suku yang adadi setiap kawasan Nusantara merupakan tolok ukur peradaban diIndonesia. Lokal genius menjadi berarti jika dapat dipahami dan dihargaioleh orang-orang yang menggelutinya, sehingga menjadi suatukebanggaan masyarakat pendukung maupun pelestarinya. Jika LokalGenius masyarakat kuat, tak perlu ada yang dikhawatirkan akanmasuknya unsur budaya luar yang tidak sesuai dengan kepribadianbangsa Indonesia. Bahkan, lokal genius dari budaya luar dapatdimanfaatkan sebagai pengendali ataupun pemacu kualitas lokal geniusyang ada di Indonesia.Kata kunci : lokal genius, kebudayaan, kesenian, masyarakat
PROGRAMATISME DALAM MUSIK INSTRUMENTAL ERA ROMANTIK (Programatism of Romantic Era in Instrumental Music)
Martopo, Hari
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.843
Programatisme diartikan sebagai aliran atau faham yang berkembangsebagai kekuatan baru akibat dari sikap para komposer, seperti : Ludwigvon Beethoven (1770-1827) dan Franz Peter Schubert (1797-1828), yangmencipta musik program pada awal era Romantik abad ke-19. Sikapeksploratif Richard Wagner (1813-1883), Giussepe Verdi (1813-1901),maupun Franz Liszt (1811-1886), yang memberikan makna baru padakomposisi seakan mengoreksi dan bahkan menentang keterbatasan aliranmusik ââ¬Åabsolutââ¬Â yang tetap menekankan pada penggunaan bentuk-bentukmusik sebagai platform komposisi. Kandungan makna atau isi, maupunmuatan lain dipadukan dengan ide musikalnya sehingga terwujud musikyang lebih ekspresif bahkan sangat dramatis sesuai dengan ââ¬Åsemanagtjamanââ¬Â Romantik.Kata Kunci: musik, programatisme, era Romantik, komposer
SENI TARI DALAM PERSEPSI MASYARAKAT JAWA (Dance Art In Java Society Perception)
Hartono, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.844
Tari tradisional dalam budaya rakyat didukung oleh masyarakat petaniatau masyarakat pedesaan. Sebagaimana budaya tradisi istana, budayatradisi rakyat muncul dalam perkembangan kebudayaan Indonesia setelahadanya pembeda sosial antara kelas kerajaan dengan kelas rakyat atauantara negara dengan pemerintahan desa. Konsep peisahan itu tidakdapat dielakkan mengingat akan kekuasaan absolut par apenguasa padajaman Hindia Belanda, di mana kedudukan yang kuat pada puncaktatanan kemasyarakatan dan kekuasaan magis politis yang diwariskandalam kerajaan begitu kuat berakar dalam kebudayaan Jawa. Dalamkonsentris kerajaan Jawa, dapat dilihat konsep-konsep yang menegaskankekuasaan tradisional Sultan sebagai sumber satu-satunya dari segenapkekuatan dan kekuasaan (Soemarjan, 1986). Lingkaran terakhir dalamkonsentris kerajaan Jawa, disebutkan daerah manca negara. Daerahtersebuh walaupun secara formal diakui sebagian dari kerajaan, tetapisistem yang berlaku serbab berbeda yang diberlakukan di daerahtersebut.Kata Kunci: persepsi, masyarakat, tari Jawa, kebudayaan
LATAR BELAKANG PENCIPTAAN SENI (Background of Creative Art)
Aesijah, Siti
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.845
Seni adalah sebagian dari kehidupan manusia sejak berabad-abad yanglalu. Menjadi persoalan sehari-hari dan berkembang sejarah denganperkembangan hidup manusia itu sendiri. Bahkan hasil-hasil karya senidapat dikatakan merupakan sebagian indikator dari fitrah kemanusiaan.Dalam masyarakat modern sekarang ini seni mempunyai peranan hampirdi segala sektor kehidupan, dan menyangkut berbagai kebutuhanmanusia. Berbagai faktor pendorong kelahiran seni adalah merupakangejala kejiwaan yang menimbulkan hidup manusiawi. Jiwa manusia yangdikatakan sebagai rahasia agama, dari padanya timbul berbagai doronganhidup. Dorongan hidup itu antara lain adalah dorongan untuk melahirkanseni, yang bersumber pada rasa keindahan (Read, 1973).Kata Kunci : manusia, kebudayaan, penciptaan, seni
TARI BALI : SEBUAH TELAAH HISTORIS (Bali Dance : A Historical Reasearch))
Iryanto, V Eny
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance, and Musik (Sendratasik), Semarang State University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.846
Tari Bali sangat erat hubungannya dengan kehidupan masyarakatnya.Sejak jaman primitif, pra-Hindu, feodal hingga kini tari Bali terusdikembangkan dengan kurangnya ide-ide para sneiman penciptanya,tetapi ia betul-betul hadir dan menjadi suatu kebutuhan di dalam rodakehidupan. Ia hadir dalam lintasan sejarah dan membentuk komunitasyang khas. Corak tari Bali memang unik. Perpaduan antara kepercayaanmasyarakatnya, Hinduisme, Budhisme, dan unsur-unsur kebudayaan luar,membuat tari Bali mempunyai corak khas dan mengundang parasejarawan untuk meneliti, dan menawarkan panorama estetis bagiwisatawan.Kata Kunci: Sejarah, kebudayaan, tari Bali, ritual, sekuler
FILSAFAT SENI: ANTARA PERTANYAAN DAN TANTANGAN (Philosophy of Art : Between Question and Challenge)
Susanti, Sukatmi
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.840
Pemikiran filsafat hanya akan berhenti apabila pemikiran non filsafat jugaberhenti. Filsafat selalu bersifat terus-menerus (perenial). Kehidupan segidalam dan lingkungan intelektualnya menghadapkan seorang filsuf kepadabentuk persoalan-persoalan yang selalu berubah dan tidak akanmembebaskannya dari tugas berfikir lagi.(Kata kunci : filsafat seni, filsuf, simbolisasi ekspresif)
SENI TARI DALAM PERSEPSI MASYARAKAT JAWA (Dance Art In Java Society Perception)
Hartono, -
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.844
Tari tradisional dalam budaya rakyat didukung oleh masyarakat petaniatau masyarakat pedesaan. Sebagaimana budaya tradisi istana, budayatradisi rakyat muncul dalam perkembangan kebudayaan Indonesia setelahadanya pembeda sosial antara kelas kerajaan dengan kelas rakyat atauantara negara dengan pemerintahan desa. Konsep peisahan itu tidakdapat dielakkan mengingat akan kekuasaan absolut par apenguasa padajaman Hindia Belanda, di mana kedudukan yang kuat pada puncaktatanan kemasyarakatan dan kekuasaan magis politis yang diwariskandalam kerajaan begitu kuat berakar dalam kebudayaan Jawa. Dalamkonsentris kerajaan Jawa, dapat dilihat konsep-konsep yang menegaskankekuasaan tradisional Sultan sebagai sumber satu-satunya dari segenapkekuatan dan kekuasaan (Soemarjan, 1986). Lingkaran terakhir dalamkonsentris kerajaan Jawa, disebutkan daerah manca negara. Daerahtersebuh walaupun secara formal diakui sebagian dari kerajaan, tetapisistem yang berlaku serbab berbeda yang diberlakukan di daerahtersebut.Kata Kunci: persepsi, masyarakat, tari Jawa, kebudayaan
PROGRAMATISME DALAM MUSIK INSTRUMENTAL ERA ROMANTIK (Programatism of Romantic Era in Instrumental Music)
Martopo, Hari
Harmonia: Journal of Arts Research and Education Vol 1, No 2 (2000)
Publisher : Department of Drama, Dance and Music, FBS, Universitas Negeri Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.15294/harmonia.v1i2.843
Programatisme diartikan sebagai aliran atau faham yang berkembangsebagai kekuatan baru akibat dari sikap para komposer, seperti : Ludwigvon Beethoven (1770-1827) dan Franz Peter Schubert (1797-1828), yangmencipta musik program pada awal era Romantik abad ke-19. Sikapeksploratif Richard Wagner (1813-1883), Giussepe Verdi (1813-1901),maupun Franz Liszt (1811-1886), yang memberikan makna baru padakomposisi seakan mengoreksi dan bahkan menentang keterbatasan aliranmusik “absolut†yang tetap menekankan pada penggunaan bentuk-bentukmusik sebagai platform komposisi. Kandungan makna atau isi, maupunmuatan lain dipadukan dengan ide musikalnya sehingga terwujud musikyang lebih ekspresif bahkan sangat dramatis sesuai dengan “semanagtjaman†Romantik.Kata Kunci: musik, programatisme, era Romantik, komposer