cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Conservation
ISSN : 22529195     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
The Indonesian Journal of Conservation [p-ISSN 2252-9195] is a journal that publishes research articles and conservation-themed conservation studies, including biodiversity conservation, waste management, green architecture and internal transportation, clean energy, art conservation, ethics, and culture, and conservation cadres
Arjuna Subject : -
Articles 319 Documents
RAWA PENING DALAM PERSPEKTIF POLITIK LINGKUNGAN: SEBUAH KAJIAN AWAL
Indonesian Journal of Conservation Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v3i1.3084

Abstract

Rawa Pening is one of the swamp ecosystem which are important for not only the local residents of Ambarawa, Semarang, but also the communities in northern parts of Central Java. Rawa Pening as ecological systems has ability to allow water demarcation, so flood can be avoided during the heavy rain and a severe drought can be prevented when the dry season comes. Rawa Pening in the context of the natural sciences, is only limited to the physical existence of a 'puddle'. However, when it is observed further, then its existence is a part of a more complex system, which involves social-political actors. In this framework, the construction which is planned for Rawa Pening consequently involves values believed by local people. They are in relation to either culture, economy or politics. This study aims to reveal how Rawa Pening is seen from the point of view of environmental politics briefly. Rawa Pening is no longer viewed only as a water border, but also discourse space of public policy which involves the community, the state, and certainly, the ecosystem itself. Therefore, this study will describe Rawa Pening in the viewpoint of natural science, social science, and political economy, as well as political environment as a multidisciplinary study.Keywords: Rawa Pening, Local Communities, Environmental Politics Rawa Pening merupakan salah satu ekosistem yang penting bagi masyarakat, bukan saja bagi warga yang ada di daerah Ambarawa, Kabupaten Semarang, bahkan juga sebagian wilayah utara Jawa tengah. Rawa Pening menjadi sistem ekologi yang memungkinkan adanya sempadan air sehingga tidak menyebabkan banjir manakala datang hujan besar dan juga tidak ada musibah kekeringan yang parah manakala ada musim kemarau panjang. Rawa Pening dalam konteks ilmu alam, memang hanya sebatas pada keberadaan fisikal dari sebuah ‘genangan air’. Namun demikian, ketika dibaca lebih jauh, maka keberadaannya merupakan bagian dari sistem yang lebih kompleks, yang melibatkan aktor-aktor sosial-politik. Dalam kerangka ini, pembangunan yang ditujukan pada Rawa Pening mau tidak mau harus melibatkan nilai yang diyakini masyarakat lokal. Baik dalam kaitannya dengan nilai-nilai budaya, ekonomi maupun politik. Tulisan ini hendak membaca secara ringkas bagaimana Rawa Pening dilihat dari kaca mata politik lingkungan. Rawa Pening tidak lagi dilihat hanya sebagai sempadan air, melainkan juga ruang diskurus kebijakan publik yang melibatkan masyarakat, negara dan juga tentunya ekosistem itu sendiri. Oleh karenanya, tulisan ini akan mendeskripsikan Rawa Pening dalam sudut pandang sains, ilmu sosial, politik ekonomi, hingga politik lingkungan itu sendiri sebagai kajian yang multidisiplin.Kata Kunci: Rawa Pening, Masyarakat Lokal, Politik Lingkungan 
ANALISIS PERAN PETANI DALAM KONSERVASI LAHAN PERTANIAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL (A Literature Review)
Indonesian Journal of Conservation Vol 10, No 1 (2021): June
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v10i1.31056

Abstract

Sustainable Development Goals (SDGs) implies a direct relationship between biodiversity and human well-being. The agricultural sector has a major contribution in supplying food needs and increasing the economy of a region.In addition, the agricultural sector is also known to contribute to soil degradation. The purpose of writing this literature review is to analyze the role of farmers in land conservation based on local wisdom and their contribution to the return of land functions. This research uses literature study method by analyzing several articles. The stages of the literature review method include; 1) Manuscript Selection. The articles analyzed were obtained using the Harzing's Publish or Perish application with restrictions from 2010 to 2021 by entering the keywords “the role of farmers”, “land conservation”, and “local wisdom”. The search results found as many as 53 articles in Indonesian and English, then 26 articles were obtained that met the review standards for analysis, 2) Analysis of articles that meet the criteria using qualitative content analysis methods, namely thematic analysis that focuses on the relationship between content and context. The results of the literature review show that: 1). There are several concepts of local wisdom that have been successfully applied in Indonesia in order to maintain potential land, namely: Baduy farmers in Banten, farmers in Hutan Gurgur Village, Silaen sub-district, Toba Samosir district, farmers in Kemiren Banyuwangi, farmers in Solo and Farmers in the village of Malaris, Maratus Mountains, South Kalimantan. Traditional farmers in Indonesia to maintain the productivity of agricultural land and prevent land degradation, have carried out good soil management, including planting terrace strengthening plants that are tolerant to the local climate, and returning  fertilizing.
OPTIMALISASI DIGITAL LIBRARY DALAM PELATIHAN PENYUSUNAN SOAL HIGH ORDER THINKING SKILLS (HOTS) BERMUATAN NILAI KONSERVASI
Indonesian Journal of Conservation Vol 8, No 1 (2019): June
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v8i1.22684

Abstract

Rumusan masalah dalam Program Pengabdian Kepada Masyarakat Dosen ini meliputi : 1) Bagaimana analisis strategi optimalisasi Digital Library  dalam Pelatihan Penyusunan Soal High Order Thinking Skills (HOTS) Bermuatan Nilai Karakter bagi Guru Bahasa Indonesia SMA/SMK di Kota Salatiga? 2) Bagaimana optimalisasi Digital Library  dalam Pelatihan Penyusunan Soal High Order Thinking Skills (HOTS) Bermuatan Nilai karakter bagi Guru Bahasa Indonesia SMA/SMK di Kota Salatiga? Berdasarkan rumusan masalah tersebut, pemecahan masalah yang dapat dilakukan melalui Program Pengabdian Kepada Masyarakat adalah dengan cara: 1) melakukan pelatihan terstruktur mengenai optimalisasi Digital Library; 2) melakukan pelatihan terstruktur mengenai Penyusunan Soal High Order Thinking Skills (HOTS); 3) melakukan penyusunan soal High Order Thinking Skills (HOTS) yang bermuatan nilai karakter; dan 4) uji validitas dan reliabilitas Soal High Order Thinking Skills (HOTS).
PROFIL HABITAT JULANG EMAS (Aceros Undulatus) SEBAGAI STRATEGI KONSERVASI DI GUNUNG UNGARAN, JAWA TENGAH
Indonesian Journal of Conservation Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v2i1.2690

Abstract

Whreathead hornbill (Aceros undulatus) found at Mount Ungaran that the Important Birds Areas (IBA) in Indonesia-set by Birdlife International. The purpose of this research is to examine the ecology of Wreathed Hornbill (Aceros undulatus) in Mount Ungaran, especially to analyze the vegetation and habitat profile as an effort to support their habitat conservation at Mount Ungaran.  Vegetation profile made from the vertical structure of vegetation canopy closure, by making use of plot size measuring 60 x 20 m. Measurements were taken to the standing of vegetation, canopy closure, direction of the canopy, height canopy, a former branch of the vegetation height, and stem diameter. The results show the diversity of vegetation in 4 (four) research station, Banyuwindu, Mount Gentong, Gadjah Mungkur and Watuondo found 46 species categories of tree , 17 species categories of tiang, 27 species  category of pancang, 19 species of seedlings and 27 species of undergrowth vegetation, most commonly tree found in Mount Ungaran is Ficus sp, Litsea sp (Wuru Kembang) and salam klontong. Based on the observations the tree used as nest of Wreathed Hornbill  is Salam Klontong and Litsea sp. While Ficus sp is a source of food for the hornbill, including Wreathed Hornbill. Keywods : Habitat profile, Wreathed Hornbill (Aceros undulatus), consevation  Julang emas (aceros undulatus) ditemukan di Gunung Ungaran yang merupakan Daerah Penting Burung (DPB) di Indonesia oleh Birdlife International. Tujuan penelitian adalah menguji ekologi julang emas (aceros undulates) di Gunung Ungaran, khususnya untuk menganalisis vegetasi dan profil habitat sebagai upaya untuk menunjang konservasi habitat di Gunung Ungaran. Profil vegetasi dibuat dengan struktur tutupan vertikal, dengan ukuran 60 X 20 m. Pengujian dilakukan dengan meneliti vegetasi tegakan, tutupan, penutupan kanopi, arah kanopi, kanopi tinggi, mantan cabang ketinggian vegetasi, dan diameter batang. Hasil penelitian menunjukkan keragaman vegetasi di 4 (empat) stasiun penelitian, yakni Banyuwindu, Gunung Gentong, Gadjah Mungkur dan Watuondo menemukan 46 spesies kategori pohon, 17 jenis kategri tiang, 27 jenis kategori pancang, 19 jenis semai dan 27 spesies vegetasi lapis bawah. Pohon paling sering ditemukan di Gunung Ungaran adalah Ficus sp, Litsea sp (Wuru Kembang) dan salam klontong. Berdasarkan pengamatan pohon yang digunakan sebagai sarang julang adalah Salam klontong dan Litsea sp. Sementara Ficus sp merupakan sumber makanan bagi burung enggang, termasuk julang emas. Kata kunci: Profil habitat, julang emas, konservasi.  
Analisis Pendayagunaan Limbah Plastik Menjadi Ecopaving Sebagai Upaya Pengurangan Sampah
Indonesian Journal of Conservation Vol 9, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v9i2.27549

Abstract

Plastik merupakan salah satu jenis sampah dengan jumlah paling banyak di dunia. Komposisi sampah plastik di Indonesia setiap tahun mengalami pertambahan sekitar 5-6% sejak tahun 2000. Data ini semakin diperjelas dengan posisi Indonesia pada nomor dua teratas setelah China sebagai pembuang sampah plastik tertinggi sebanyak 8,96 ton per tahunnya. Inovasi lingkungan berupa pendayagunaan limbah plastik menjadi ecopaving atau dikenal dengan paving block plastik disinyalir mampu menjadi sebuah terobosan untuk mengurangi jumlah plastik di Indonesia. Namun yang masih belum terlalu banyak ditinjau yaitu dari segi kesehatan lingkungan, asap pembakaran plastik yang dinilai berbahaya masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menganalisis dan memberikan informasi tambahan mengenai pendayagunaan limbah pastik menjadi ecopaving. Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis library research dan menggunakan jurnal serta artikel sebagai daya dukung penelitian
KADERISASI NILAI KONSERVASI MELALUI PEMBERDAYAAN WALI MURID TK AS SHOLIHAH BAWEN KABUATEN SEMARANG
Indonesian Journal of Conservation Vol 8, No 1 (2019): June
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v8i1.22679

Abstract

Pemberdayaan kelompok wali murid pada sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) bisa dijadikan sebagai kegiatan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan karakter. Terjadinya permasalahan sosial dan permasalahakan kerusakan lingkungan mengharuskan pemerintah hingga orang tua harus berperan serta dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui pembangunan karakter bagi warga negara mulai sejak dini. Keluarga merupakan lingkungan belajar utama yang diperoleh anak dan akan menjadi fondasi yang kuat untuk membentuk karakter setelah dewasa. Pembangunan karakter sesuai dengan program pemerintah atau yang di kenal dengan NAWACITA yaitu untuk melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankan aspek pendidikan kewarganegaraan yang menempatkan secara proporsional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia. Pendidikan karakter juga sesuai dengan Visi UNNES sebagai kampus konservasi baik konservasi sosial budaya dan lingkungan. Nilai-nilai konservasi meliputi inspiratif, humanis, peduli, innovatif, kreatif, sportif, jujur dan adil juga relevan juga diimplementasikan pada sekolah mitra atau pada masyarakat umum. Untuk mendukung upaya pemerintah sekaligus mendukung Visi UNNES sebagai kampus konservasi baik konservasi lingkungan maupun konservasi sosial budaya, pengabdi mendorong sekolah mitra untuk mengembangkan pelaksanaan pendidikan karakter. Mengingat sekolah mitra merupakan sekolah yang tergolong baru, maka masih membutuhkan masukan dan perbaikan khususnya dari perguruan tinggi. Solusi yang ditawarkan untuk mitra diantaranya: 1) membentuk  sentra karakter; 2) melaksanakan kegiatan parenting berfokus pada pendidikan karakter; 3) melaksanakan kegiatan pemilahan sampah; serta 4) melaksanakan kegiatan menghijaukan sekolah dengan gerakan menanam pohon.
MODEL CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DAN PENGUATAN KONSERVASI BUDAYA BAGI MAHASISWA
Indonesian Journal of Conservation Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v5i1.11761

Abstract

The course Introduction to Cultural Studies at the Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Semarang also should be one of the steps to prepare as best generation aspired Education Law. Semarang Universitas Negeri Semarang as a university conservation where one of the goals of conservation is the conservation of cultural pre-requisites to make very interesting if we (researchers) as an integral part of the university made its contribution. Innovation introductory science teaching material culture with contextual teaching and learning method is expected to be the answer to all the questions and confusion students about cultural sciences introductory books that are too difficult to understand because many theoretical. In fundamental teaching material Introduction to Cultural Studies is divided into five parts, among others; (1) Culture , (2) Modernism, (3) Postmodernism, (4) Feminism, and (5) Orientalism. Mata kuliah Pengantar Ilmu Budaya di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang juga hendaknya menjadi salah satu langkah mempersiapkan generasi terbaik sebagaimana yang dicita-citakan UU Sisdiknas. Universitas Negeri Semarang sebagai universitas konservasi di mana salah satu tujuan konservasi adalah konservasi budaya menjadikan pra-syarat yang sangat menarik apabila kita (peneliti) sebagai bagian integral dari universitas memberikan sumbangsihnya. Inovasi bahan ajar pengantar ilmu budaya dengan metode contextual teaching and learning ini diharapkan menjadi jawaban atas segala pertanyaan dan kebingunan mahasiswa mengenai buku pengantar ilmu budaya yang terlalu sulit untuk dipahami karena banyak yang bersifat teoritis. Secara mendasar materi ajar Pengantar Ilmu Budaya terbagi menjadi lima bagian, antara lain ; (1) Budaya dan Kebudayaan, (2) Modernisme, (3) Posmodernisme, (4) Feminisme, dan (5) Orientalisme. 
KEEFEKTIFAN MODEL THINK PAIR SHARE DALAM PEMBELAJARAN IPA MATERI SIFAT-SIFAT CAHAYA
Indonesian Journal of Conservation Vol 9, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v9i1.25180

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keefektifan pembelajaran IPA yang menggunakan model Think Pair Share dibandingkan dengan model konvensional pada materi Sifat-Sifat Cahaya. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 40 siswa, yang terdiri dari 19 siswa kelas VA dan 21 siswa kelas VB SD Negeri 1 Srowot Kabupaten Banyumas. Kelas VA dijadikan sebagai kelas eksperimen, sedangkan kelas VB dijadikan sebagai kelas kontrol. Desain penelitian menggunakan Quasi Experimental Design dengan bentuk Nonequivalent Control Group Design. Berdasarkan hasil uji hipotesis pertama, dengan menggunakan Independent Sample T Test, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan aktivitas belajar siswa antara siswa yang memperoleh pembelajaran model Think Pair Share dengan siswa yang memperoleh pembelajaran model konvensional. Selanjutnya, uji hipotesis kedua dengan menggunakan polled varian, dapat disimpulkan aktivitas belajar siswa yang memperoleh pembelajaran Think Pair Share lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran model konvensional. Uji hipotesis yang ketiga dilakukan dengan menggunakan Independent Sample T Test, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar IPA antara siswa yang memperoleh pembelajaran model Think Pair Share dengan siswa yang memperoleh pembelajaran model konvensional. Berikutnya, uji hipotesis keempat dilakukan dengan separated varian, disimpulkan bahwa hasil belajar siswa yang memperoleh pembelajaran Think Pair Share lebih baik daripada siswa yang memperoleh pembelajaran model konvensional. Berdasarkan keempat hasil pengujian hipotesis tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan menggunakan model Think Pair Share lebih efektif dibandingkan dengan model konvensional
EKSPRESI SENI BERBASIS LINGKUNGAN PESISIRAN (KAJIAN EKSPLORATIF PENGEMBANGAN DESAIN BATIK MANGROVE SEMARANG SEBAGAI WUJUD KONSERVASI)
Indonesian Journal of Conservation Vol 7, No 2 (2018): IJC
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v7i2.19005

Abstract

Semarang mangrove batik is the results of development and exploration of batik based on coastal environment especially mangrove forests. This has become a potential development of coastal batik, both as a coloring medium and as an idea to develop batik motifs. The study using qualitative method resulted in findings (1) mangrove waste, especially fruit, leaves, and stems producing different colors, can be used as eco-friendly batik coloring material which has soft, and classic monochromatic color characteristics. (2) Mangroves are also a source of ideas for developing motives with various variants of motifs, as well as motifs of trees and mangrove roots. (3) Utilization of mangrove waste as a dye for environmentally friendly batik is a manifestation of nature conservation which has an impact on the cultivation and maintenance of mangrove plants.
STUDI KARAKTERISTIK BENTUK PADA PERUMAHAN KOLONIAL SAGAN YOGYAKARTA
Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v4i1.5156

Abstract

Sagan is a residential estate ambtenaar (government officials) Dutch working in the governor's office (resident wooningen) and has a high historical value for the Indonesian people because during the United Republic of Indonesia became the area housing the home office ministers and high state officials. The purpose of this study is to assess aspects of form (form) as part of the overall aspects of the existing architecture in colonial housing in Sagan, so the idea of the architecture of the colonial housing in Sagan can be more complete to support the preservation of residential buildings of the colonial. This research uses the interpretative approach to historical research in which researchers used to reconstruct the shape of the initial interpretation of residential buildings colonial. Results researchers found that the principle of form in residential buildings in the colonial housing Sagan did not differ with the principle of spatial residential buildings in Sagan colonial and colonial residential buildings in general. It was seen from the separation of the owner with a housekeeper who is realized by division of residential buildings into the building core (hoofdgebouw), service building (bijgebouw) and breezeway that connects the two. Besides the principles of different structures on each part of the colonial residential buildings in Sagan believed to be the most essential thing to know the characteristics of the colonial forms of residential buildings in Sagan. Sagan merupakan kawasan rumah tinggal amtenaar (pegawai pemerintahan) Belanda yang bekerja di kantor gubernur (residenwooningen) dan memiliki nilai historis yang tinggi bagi Bangsa Indonesia karena pada masa Republik Indonesia Serikat perumahan ini menjadi kawasan rumah dinas menteri dan pejabat tinggi negara. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek bentuk (form) sebagai bagian dari keseluruhan aspek arsitektur yang ada pada perumahan kolonial di Sagan, sehingga ide arsitektur dari perumahan kolonial di Sagan dapat semakin lengkap guna mendukung pelestarian bangunan rumah tinggal kolonial. Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretativehistoricalresearch dimana peneliti menggunakan interpretasinya untuk merekonstruksi bentuk awal bangunan rumah tinggal kolonial. Hasil peneliti menemukan bahwa prinsip bentuk pada bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan tidak berbeda dengan prinsip tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan maupun bangunan rumah tinggal kolonial pada umumnya. Hal itu terlihat dari pemisahan pemilik dengan pembantu rumah tangga yang diwujudkan dengan pembagian bangunan rumah tinggal menjadi bangunan inti (hoofdgebouw), bangunan servis (bijgebouw) dan selasar yang menghubungkan keduanya. Selain itu prinsip-prinsip struktur yang berbeda pada tiap-tiap bagian bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan diduga menjadi hal yang paling pokok untuk mengetahui karakteristik bentuk bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan. Sagan merupakan kawasan rumah tinggal amtenaar (pegawai pemerintahan) Belanda yang bekerja di kantor gubernur (residenwooningen) dan memiliki nilai historis yang tinggi bagi Bangsa Indonesia karena pada masa Republik Indonesia Serikat perumahan ini menjadi kawasan rumah dinas menteri dan pejabat tinggi negara. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji aspek bentuk (form) sebagai bagian dari keseluruhan aspek arsitektur yang ada pada perumahan kolonial di Sagan, sehingga ide arsitektur dari perumahan kolonial di Sagan dapat semakin lengkap guna mendukung pelestarian bangunan rumah tinggal kolonial. Penelitian ini menggunakan pendekatan interpretativehistoricalresearch dimana peneliti menggunakan interpretasinya untuk merekonstruksi bentuk awal bangunan rumah tinggal kolonial. Hasil peneliti menemukan bahwa prinsip bentuk pada bangunan rumah tinggal di perumahan kolonial Sagan tidak berbeda dengan prinsip tata ruang bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan maupun bangunan rumah tinggal kolonial pada umumnya. Hal itu terlihat dari pemisahan pemilik dengan pembantu rumah tangga yang diwujudkan dengan pembagian bangunan rumah tinggal menjadi bangunan inti (hoofdgebouw), bangunan servis (bijgebouw) dan selasar yang menghubungkan keduanya. Selain itu prinsip-prinsip struktur yang berbeda pada tiap-tiap bagian bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan diduga menjadi hal yang paling pokok untuk mengetahui karakteristik bentuk bangunan rumah tinggal kolonial di Sagan.