cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Indonesian Journal of Conservation
ISSN : 22529195     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
The Indonesian Journal of Conservation [p-ISSN 2252-9195] is a journal that publishes research articles and conservation-themed conservation studies, including biodiversity conservation, waste management, green architecture and internal transportation, clean energy, art conservation, ethics, and culture, and conservation cadres
Arjuna Subject : -
Articles 319 Documents
Pengolahan Air Sumur yang Mengandung Kadar Besi dan Berwarna Keruh dengan Metode Koagulasi Filtrasi untuk Memenuhi Kebutuhan Cairan Tubuh
Indonesian Journal of Conservation Vol 10, No 1 (2021): June
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v10i1.30588

Abstract

Air sumur merupakan salah satu air baku untuk dikonsumsi dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di samping air leding. Bahkan ketika musim sudah memasuki masa kemarau, air sumur adalah satu-satunya sumber mata air. Hal itu disebabkan oleh pengairan air leding yang dilakukan secara bergilir, sehingga tidak setiap saat warga mendapatkan air leding tersebut. Studi kasus penelitian ini dilakukan pada sumur berkedalaman 16 Meter yang dimiliki oleh salah satu warga yang tinggal di Desa Krandon Lor, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Kondisi air sumur yang mengandung kadar besi dan berwarna kuning keruh membuat air sumur tersebut tidak dapat dikonsumsi dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengolahan pada air sumur tersebut agar dapat dikonsumsi dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode alternatif pengolahan dengan cara mengombinasikan metode koagulasi dan filtrasi. Hasil dari penelitian ini yaitu air sumur yang sebelumnya mengandung kadar besi dan berwarna kuning keruh menjadi air sumur yang tidak berbau, berwarna jernih dan mengandung pH sesuai standar yang dikeluarkan Permenkes sehingga aman untuk dikonsumsi dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Dalam penelitian ini memberikan hasil dan manfaat bagi pemilik sumur dan masyarakat sekitar karena mereka dapat menggunakan air sumur tersebut sebagai air minum dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehingga dengan tersedianya air bersih ini, kebutuhan cairan tubuh akan terpenuhi mengingat pentingnya air bagi tubuh karena mengandung berbagai nutrisi dan mineral yang tidak dapat tergantikan.
PERKEMBANGAN KELOMPOK WAYANG ORANG NGESTI PANDOWO DI SEMARANG TAHUN 1996 – 2001
Indonesian Journal of Conservation Vol 8, No 1 (2019): June
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v8i1.22683

Abstract

Kesenian wayang orang Ngesti Pandowo mengalami kejayaan tahun 1950-an hingga 1970-an. Setelah periode tersebut kejayaan kelompok ini memudar perlahan. Kemunduran Ngesti Pandowo mencapai puncaknya ketika terjadi pemutusan kerjasama yang dikeluarkan oleh yayasan GRIS yang menaungi gedung pementasannya di tahun 1990. Permasalahan yang muncul adalah, bagaimana nasib Ngesti Pandowo dalam mempertahankan gedung pementasan mereka di kompleks GRIS? Lalu bagaimana nasib kelompok wayang orang ini setelah resmi keluar dari GRIS?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di tahun 1996 kompleks GRIS resmi terjual ke BPD Jawa Tengah, Ngesti Pandowo mendapatkan hak sebesar Rp500 juta. Kelompok ini kemudian menempati gedhong ndhuwur di kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) namun tidak bertahan lama karena gedung tidak representatif. Selanjutnya Ngesti Pandowo menyewa gedung pementasan di Istana Majapahit Pedurungan dari tahun 1997–2000, yang mana sewa gedung dihentikan karena ketidakmampuan membayarnya. Untuk mempertahankan pementasan, kelompok ini kemudian dipinjami gedung Ki Narto Sabdo oleh Pemerintah Kota Semarang di kompleks TBRS tanpa membayar sewa pada tahun 2001.
PENGEMBANGAN NILAI DAN TRADISI GOTONG ROYONG DALAM BINGKAI KONSERVASI NILAI BUDAYA
Indonesian Journal of Conservation Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v1i1.2065

Abstract

The existence of a tradition of gotong royong in the life of the nation of Indonesia as a legacy of the past are transformed generational (Traditional Heritage) is an indigenous (local wisdom) that need to be developed in the lives of today's generation. The value of gotong royong can be used positively in the lives of social solidarity in order to drive up to the challenge of Indonesia times change, globalization, and various things that threaten the lives of people such as natural disasters, social conflicts and political. Gotong royong become institutions to mobilize solidarity with the people and create social cohesion in the life of the nation of Indonesia. Conservation of cultural values of gotong royong in the life of today will remain relevant, because the spirit of mutual cooperation, solidarity, community and national unity will be maintained. Unnes as the university's very worthy of  conservation to raise and develop the values and traditionsof gotong royong as part of its commitment to the  conservation of cultural values..Keberadaan tradisi gotong royong dalam kehidupan bangsa Indonesia sebagai warisan masa lalu yang ditransformasikan secara generasional (traditional heritage) merupakan sebuah kearifan lokal (local wisdom) yang perlu dikembangkan dalam kehidupan generasi masa kini. Nilai gotong royong dapat dimanfaatkan secara positif dalam kehidupan untuk menggerakkan solidaritas sosial agar bangsa Indonesia mampu menghadapi tantangan perubahan jaman, globalisasi, maupun berbagai hal yang mengancam kehidupan masyarakat seperti bencana alam, konflik sosial maupun politik. Gotong royong menjadi pranata untuk menggerakkan solidaritas masyarakat dan menciptakan kohesi sosial dalam kehidupan bangsa Indonesia. Konservasi nilai budaya gotong royong dalam kehidupan masa kini akan tetap relevan, karena dengan semangat gotong royong, solidaritas masyarakat serta persatuan dan kesatuan bangsa akan  terpelihara. Unnes sebagai universitas konservasi sangat layak untuk mengangkat dan mengembangkan nilai dan  tradisi gotong royong tersebut sebagai bagian dari komitmennya terhadap konservasi nilai budaya.
Komposisi dan Kerapatan Mangrove Kawasan Konservasi Taman Wisata Perairan Gugusan Pulau- Pulau Momparang
Indonesian Journal of Conservation Vol 9, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v9i2.26547

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komposisi jenis dan kerapatan vegetasi mangrove di Pulau Karang Raya, Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.  Metode penelitian exploratif yaitu ex post facto sesuai dengan kondisi lapang. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode transek kuadran 10 x 10 m dengan 3 transek dan line transek sepanjang 50 m.  Analisis data dilakukan secara deskriptif untuk mengetahui struktur komunitas meliputi komposisi, nilai Indeks Nilai Penting (INP), dan kerapatan jenis vegetasi mangrove.  Hasil yang didapatkan komposisi jenis vegetasi mangrove terdiri dari lima jenis yaitu Bruguiera clyndrica, Bruguiera gymnorhiza, Rhizopora apiculate, Rhizopora mucronata, dan Sonneratia alba. Rhizopora mucronata memiliki nilai INP tertinggi pada tiga stasiun pengamatan. Kerapatan dan persentase penutupan vegetasi mangrove pada stasiun I dan II termasuk kategori sangat padat dan baik.  Sedangkan pada stasiun III menunjukan kategori nilai kerapatan yang bervariasi yaitu jarang, sedang, dan padat, serta kategori persentase penutupan rusak dan baik.
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM MENGEMBANGKAN EKONOMI LOKAL BERWAWASAN LINGKUNGAN DI DESA NGRANCAH KECAMATAN GRABAG KABUPATEN MAGELANG
Indonesian Journal of Conservation Vol 7, No 2 (2018): IJC
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v7i2.19009

Abstract

The purposes of the research, 1) to know the impact of the community empowerment activities toward the local economic development using environment insight, 2) to analize the impacts of local economic development using environmental insight. The population are the village farmers who are the members of farmer groups consisted of 252 people. 20% or 50 samples were taken using proportional random sampling. The data collection techniques used were questionnaires, observations, interviews and documentations. The technique analysis used were descriptive analysis and multiple regression analysis. The result of research showed that there is simultaneously contribution between community empowerment to local economic development with environment insight that is equal to 58,3%. The impact of local economic development on the environment to the community, increasing income, expanding of employment opportunities, reducing landslides and increasing the number of water springs. It can be concluded that there is a positive correlation between the empowerment of the community towards the local economic development using environment insight business in Ngrancah Village.
ANALISIS PRIORITAS KEBIJAKAN PEMANFAATAN BURUNG HANTU (Tyto alba) SEBAGAI PENGENDALIAN HAMA TIKUS SAWAH YANG RAMAH LINGKUNGAN DI KABUPATEN SEMARANG
Indonesian Journal of Conservation Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v4i1.5160

Abstract

The purpose of this study was to obtain a priority choice as decision making recommendations regarding the development of the use of owls as pest control field mouse so that the decision could provide more optimal results. Locations in District Banyubiru research that is currently being actively promoted by the District Government of Semarang. The method used is using AHP (Analytical Hierarchy Process). Retrieving data using questionnaires to various parties including BAPPEDA, BLH, Bakorluh, Academics, District, Department of Agriculture and Forestry Plantations and the breeding owls. The results of the analysis has been carried obtained as follows: 1) Among the factors that the criteria in determining policy directions obtained that technical factors are considered most important in assessing the development of the use of the owl in the pest control field mice, 2) Among the factors that need to be taken of policy recommendations found that the manufacture of quarantine owl is considered a most important choice in the development of future utilization of owls, 3) Results of the analysis of the final technical factors that are considered important because with the proper manufacture in accordance with the plan will produce output that is more efficient, effective and targeted. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh prioritas pilihan sebagai rekomendasi pengambilan keputusan mengenai pengembangan pemanfaatan burung hantu sebagai pengendali hama tikus sawah sehingga keputusan tersebut dapat memberi hasil yang lebih optimal. Lokasi penelitian di Kecamatan Banyubiru yang saat ini sedang aktif digalakkan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang. Metode yang digunakan adalah menggunakan AHP (Analytical Hierarchy Process). Pengambilan data dengan menggunakan kuisioner ke berbagai pihak antara lain Bappeda, BLH, Bakorluh, Akademisi, Kecamatan, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan serta pihak penangkaran burung hantu. Hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan sebagai berikut: 1) Diantara faktor-faktor yang menjadi kriteria dalam penentuan arah kebijakan diperoleh bahwa faktor teknis dianggap paling penting dalam menilai pengembangan pemanfaatan burung hantu dalam pengendalian hama tikus sawah, 2) Diantara faktor rekomendasi kebijakan yang perlu diambil diperoleh bahwa pembuatan karantina burung hantu  dianggap merupakan pilihan paling penting dalam pengembangan pemanfaatan burung hantu ke depan, 3) Hasil analisis akhir tersebut faktor teknis yang dianggap penting karena dengan pembuatan yang tepat sesuai dengan perencanaan akan menghasilkan output yang lebih efisien, efektif dan tepat sasaran.  
PEMETAAN KONFLIK MONYET EKOR PANJANG (MACACA FASCICULARIS RAFFLES) DI DESA SEPAKUNG KECAMATAN BANYUBIRU KABUPATEN SEMARANG
Indonesian Journal of Conservation Vol 8, No 2 (2019): December
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v8i2.22997

Abstract

Telah dilakukan survey di Desa Sepakung Kecamatan Banyubiru Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah, untuk memetakan konflik satwa liar monyet Ekor Panjang. Survey dilakukan dengan mengidentifikasi kelompok monyet ekor panjang, menganalisa habitat monyet ekor panjang dan melakukan pendataan sosial pada masyarakat Desa Sepakung.  Hasil survey menunjukkan bahwa jumlah kelompok monyet ekor panjang di Desa Sepakung ± 10 Kelompok dengan estimasi populasi antara 200-500 ekor,  kelimpahan vegetasi pada habitat monyet ekor panjang di Desa Sepakung masingmasing  Pinus Sp. (50,00), Tooina sureni (46,43), Arenga pinnata, Hibiscus sp dan Swietenia sp masing-masing 21,43. Sementara itu pendapat masyarakat menunjukkan bahwa sejumlah 10% masyarakat merasa sangat terganggu dengan kehadiran MEP, sementara itu 35%, 10% dan 45% masyarakat lainnya merasa terganggu, tidak terganggu dan merasa biasa saja dengan kehadiran MEP. Untuk meredakan konflik satwa disarankan beberapa hal antara lain pengayaan vegetasi, pengurangan populasi, pengusiran dan peningkatan kapasitas masyarakat.
UPAYA RESTRUKTURISASI KAWASAN HUTAN GUNUNG LIO KABUPATEN BREBES PASCA BENCANA TANAH LONGSOR BERBASIS KEARIFAN LOKAL MELALUI COMMUNITY DEVELOPMENT
Indonesian Journal of Conservation Vol 7, No 1 (2018): IJC
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v7i1.19000

Abstract

The role of social institutions is very important as local wisdom because it can facilitate the community when planning, coordinating, and controlling activities to rehabilitate the environment. Local customary institutions also play a role in the development of rural areas, especially highland communities that function to build social capital: social, cultural, economic and environmental values, which are a wealth of local wisdom. By using social capital based on local wisdom, the community can rehabilitate forests with an effective local leadership system
SURVEI AWAL KEANEKARAGAMAN ORDO ANURA DI DESA KETENGER, BATU RADEN, JAWA TENGAH
Indonesian Journal of Conservation Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v2i1.5151

Abstract

Ketenger, Batu Raden is located on the southern slope of Mount Slamet, Central Java. The Anuran’s biodiversity in this area is assumed to be high since Ketenger is relatively undisturbed and has many locations that suitable as Anuran’s habitast.The aim of this research was to study kind of anurans in Ketenger, Batu Raden, as the preliminary data for the further research. The survey was conducted on June – July 2013, using Visual Encounter Survey (VES) method. Thirtheen anurans, from five families, were recorded during the survey. They were Leptobrachium hasseltii, Microhyla achatina, Limnonectes kuhlii, Limnonectes microdiscus, Fejervarya limnocharis, Rana chalconota, Rana hosii, Huia masonii, Rhacoporus reinwardtii, Polypedates leucomystax, Philautus aurifasciatus, Phrynoidis aspera dan Duttaphrynus melanosticus. Three species, Huia masonii, Limnonectes kuhlii and Microhyla achatina,were known as endemic species of Java. Desa Ketenger, Batu Raden terletak di sebelah selatan kaki Gunung Slamet, Jawa Tengah. Daerah ini memiliki wilayah hutan yang relatif masih alami dan beberapa wilayah yang sesuai dengan habitat Anura, sehingga diduga keanekaragaman Anura di daerah ini tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis Anura di Desa Ketenger, Batu Raden, sebagai data awal untuk penelitian selanjutnya. Survei dilakukan pada bulan Juni – Juli 2013 dengan menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES). Total ditemukan 13 spesies anggota ordo Anura, yang termasuk dalam 5 famili. Jenis-jenis Anura tersebut antara lain: Leptobrachium hasseltii, Microhyla achatina, Limnonectes kuhlii, Limnonectes microdiscus, Fejervarya limnocharis, Rana chalconota, Rana hosii, Huia masonii, Rhacoporus reinwardtii, Polypedates leucomystax, Philautus aurifasciatus, Phrynoidis aspera dan Duttaphrynus melanosticus. Tiga jenis Anura, yaitu Huia masonii, Limnonectes kuhlii dan Microhyla achatina merupakan spesies endemik Jawa. 
ANALISIS HASIL BELAJAR DAN SIKAP TERHADAP PENYALAHGUNAAN PSIKOTROPIKA DAN ZAT ADIKTIF PADA PEMBELAJARAN SISTEM SARAF DENGAN BIOEDUTAINMENT ROLE PLAY PADA SISWA SMA
Indonesian Journal of Conservation Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v6i1.12525

Abstract

This study would analyze students’ learning outcomes and attitudes on psychotropic and addictive substances abuse after learning the nervous system concept with bio edutainment strategy by roleplaying. This was a pre-experimental study with one group pretest-posttest design. The population in this study was all students of class XI of Sciences program in SMA Negeri 7 Semarang. Two classes as the sample which was defined by purposive sampling. The independent variable was bio edutainment strategy with role-playing. The dependent variables were students’ learning outcomes and attitudes. The controls variables included teacher, lesson hours, curriculum, and face-to-face time. Learning outcomes were analyzed quantitatively by N-gain. Students’ attitudes were analyzed descriptively. The learning outcomes had met the classroom learning mastery (86.5%). The means of N-gain in both classes were in moderate criteria (0.44 and 0.40). Student attitudes toward psychotropic and addictive substances abuse were in tremendous criteria (92% and 86%). Students’ learning outcomes were strongly correlated with their attitudes toward psychotropic and addictive substances abuse (0.705 and 0.610). This study concluded that bio edutainment strategy with roleplaying gave a positive effect on students’ learning outcomes and attitudes and a positive relationship between high school students’ learning outcomes and their attitudes on psychotropic and addictive substances abuse.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hasil belajar dan sikap terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat adiktif pada siswa setelah pembelajaran system saraf dengan strategi bioedutainment dengan role playing. Penelitian ini menggunakan rancangan pre-eksperimental design dengan one group pretest-posttest. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI IPA SMA Negeri 7 Semarang dengan dua kelas sebagai sampel yang ditentukan secara purposive sampling. Variabel bebas berupa strategi bioedutainment dengan role playing. Variabel terikat berupa hasil belajar, dan sikap. Variabel kontrol berupa guru, jam pelajaran, kurikulum, dan waktu tatap muka. Hasil belajar dianalisis dengan N-gain dan kuantitatif. Sikap dianalisis secara deskriptif persentase. Hasil belajar mencapai ketuntasan klasikal (86,5%). Rata- rata N-gain siswa pada kedua kelas termasuk kriteria sedang (0,44 dan 0,40). Sikap siswa terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat adiktif menunjukkan kriteria sangat tinggi (92% dan 86%). Hasil belajar dengan sikap terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat adiktif memiliki korelasi kuat (0,705 dan 0,610). Simpulan strategi bioedutainment dengan role playing berpengaruh positif terhadap hasil belajar dan sikap siswa serta terdapat hubungan yang positif antara hasil belajar dengan sikap siswa terhadap penyalahgunaan psikotropika dan zat adiktif pada siswa SMA.