cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
STUDI KORELASI ANTARA HARGA DIRI AKADEMIK DENGAN MINAT MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE PERGURUAN TINGGI PADA SISWA SMA KELAS XII
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i1.13330

Abstract

AbstrakData diperoleh, 39 dari murid kelas XII yang berjumlah 263 siswa T.A 2010 yang berminat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang kurang tersebut diduga karena masalah harga diri akademik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri akademik dengan minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Penelitian ini merupakan kuantitatif korelasional.Subjek berjumlah 158 siswa. Teknik sampling yang digunakan cluster random sampling. Harga diri akademik diukur dengan skala mempunyai koefisien reliabilitas 0,842. Sedangkan minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi diukur dengan skala mempunyai koefisien reliabilitas 0,930. Hasil penelitian menunjukkan variabel harga diri akademik tergolong tinggi. Sedangkan variabel minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tergolong sedang cenderung tinggi. Uji hipotesis diperoleh koefisien (r) harga diri akademik dengan minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sebesar 0,304 dengan (p) 0,000. Menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara harga diri akademik dengan minat melanjutkan pendidikan ke pergururan tinggi di SMA N 1 Ambarawa, sehingga hipotesis yang diajukan peneliti dapat diterima.AbstractThe data obtained, 39 of grade XII, amounting to 263 students of the school year 2010 who are interested incontinuing education to college. Interest incontinuing education to higher education is still lacking, presumably because of academicself-esteem issues. This study aims to determine the correlation between academic self-esteem with an interest to continue their education into college. This study is a correlational quantitative research. Subjects in this study amounted to 158 students. The sampling technique used was cluster random sampling. Academic self-esteem was measured with a scale has a reliability coefficient to 0.842. While interest incontinuing their education to higher education was measured using a scale has a reliability coefficient 0.930. The results showed a variable of academic self-esteem is high. While a variable interest in continuing their education to higher education tend to be classified as being high. Hypothesis test caIcuIation coefficient (r) self-interest in continuing academic education to the college of 0.304 to (p) 0.000. Showed significant positive correlation between academic self-esteem rates continuing higher education at SMAN 1 Ambarawa, so the researchers put forward the hypothesis can be accepted.
SELF ESTEEM PADA ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH INKLUSI
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i1.8556

Abstract

Sebagaimana pada anak normal se-usia, ABK memiliki tugas perkembangan untuk berusaha mendapatkan jawaban mengenai siapa dirinya, dengan cara membandingkan dirinya dengan anak lain. Sayangnya, ABK memiliki berbagai kekurangan dibanding anak normal, perbandingan yang dilakukan terkadang membuat self-esteem nya menjadi negatif (Mulholand, 2008). Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kemampuan akademik berhubungan dengan self- esteem (Black, 1974; Rogers, Smith, Coleman, 1978). Self-esteem menjadi salah satu faktor penting bagi keberhasilan perkembangan anak. Sehingga penting untuk melihat faktor yang dapat mempengaruhi self-esteem pada ABK. Penelitian ini akan dilakukan pada Sekolah Dasar (SD) Inklusi dan Sekolah Menengah (SMP) Inklusi yang ditunjuk oleh dinas pendidikan Kota Metro. Terdapat 5 SD dan 3 SMP yang ditetapkan sebagai sekolah inklusi. Subyek penelitian adalah siswa SD inklusi dan SMP inklusi yang dideteksi sebagai ABK oleh guru, serta memiliki kemampuan untuk memahami pertanyaan dengan baik. Hasil analisis menunjukkan bahwa stigma negatif (diskriminasi dan penolakan) tidak memberikan pengaruh langsung terhadap self-esteem ABK (estimate = 0,063, C.R = 0,280, p 0,05). Stigma negatif baru memberikan pengaruh terhadap self-esteem ABK, jika setelah ABK mendapatkan stigma negatif dari temannya, direspon dengan afek negatif/ perasaan negatif oleh ABK (Stigma -- Afek, estimate = 0,725, C.R = 5,351, p 0,001, dan Afek -- Self Esteem, estimate = 0,596, C.R = 3,018, p 0,01), atau ABK percaya (belief) terhadap stigma negatif yang ditujukan pada nya (Stigma -- Belief, estimate = 0,558, C.R = 5,430, p Self Esteem, estimate = 0,285, C.R = 2,755, p 0,01).As in normal children suit, child with special need (ABK) has a developmental task for trying to get an answer as to who he was, by comparing himself with other children. Unfortunately, ABK has various drawbacks compared to normal children, sometimes make self-esteem becomes negative (Mulholand, 2008). Results of previous studies show that the academic skills related to self-esteem (Black, 1974; Rogers, Smith, Coleman, 1978). Self-esteem is becoming an important factor for the success of a child’s development. So it is important to look at the factors that can affect self-esteem at ABK. The research will be conducted on elementary school (SD) Inclusion and Junior oHigh School (SMP) Inclusion appointed by the education department of Metro City. There are five elementary schools and 3 junior high schools are designated as inclusion. Subjects were students of elementary and junior inclusion are detected as ABK by teachers, as well as having the ability to understand the questions properly. The results showed that the negative stigma (discrimination and rejection) does not give a direct influence on self-esteem ABK (estimate = 0.063, CR = 0.280, p 0.05). Stigma give negative influence on self-esteem ABK, if after ABK get negative stigma of his friend, responded with negative affective / negative feelings by ABK (stigma - Afek, estimate = 0.725, CR = 5.351, p Self Esteem, estimate = 0.596, CR = 3.018, p Belief, estimate = 0.558, CR = 5.430, p Self Esteem, estimate = 0.285, CR = 2.755, p 0.01).
Representasi Diri Gelandangan di Kota Semarang
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i2.22570

Abstract

Keberadaan lingkungan di jalanan yang bebas dan kurang normatif turut memengaruhi sudut pandang kaum gelandangan mengenai kehidupan mereka. Dengan hadirnya lingkungan yang berbeda tersebut membuat kaum gelandangan mengalami perubahan mengenai perspektif hidupnya, termasuk cara mereka dalam merepresentasikan diri dengan lingkungan barunya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana gambaran gelandangan merepresentasikan diri di Kota Semarang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Sumber data dalam penelitian ini adalah gelandangan yang telah hidup menggelandang di jalanan lebih dari 2 tahun. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pengecekan keabsahan menggunakan triangulasi sumber, teknik pengumpul data, serta triangulasi waktu. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data melalui pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian ini adalahgelandangan merepresentasikan diri di jalanan dengan cara terlibat pergaulan bebas dengan anak jalanan, menjalin hubungan relasi pertemanan, merasa malu hidup di jalanan, dan mengalami gangguan kesehatan. Ditemukan tema terkait hubungan dengan anak yaitu gelandangan merefleksikan hidupnya dijalanan dengan rasa frustrasi karena sikap anak yang sulit dikontrol dan adanya perasaan bersalah terhadap anak. The existence of a free and less normative environment on the streets also influences the vantage point of view of their lives. With the presence of a different environment makes homeless people experience changes regarding their life perspective, including the way they represent themselves with their new environment.The purpose of this study is to find out how the vagrant image represents itself in the city of Semarang. The type of research used is qualitative research using the phenomenology approach. The data sources in this study were homeless people who had been living on the streets for more than 2 years. Data collection techniques used were interviews, observation, and documentation. Validity checking techniques use source triangulation, data collection techniques, and time triangulation. The data analysis technique used is data analysis techniques through the phenomenology approach. The results of this study were that homeless people represented themselves on the streets by engaging in promiscuity with street children, establishing friendship relations, feeling ashamed to live on the streets, and experiencing health problems. Found a theme related to the relationship with children, namely homeless, reflecting his life on the streets with frustration because of the child's attitude that is difficult to control and the feeling of guilt towards children.
Pengaruh Informasi Aktivitas Corporate Social Responsibility Terhadap Keputusan Membeli Konsumen
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i2.13321

Abstract

Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh informasi aktivitas corporate sosial responsibility terhadap keputusan membeli pada konsumen. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Negeri Semarang, dengan mengambil sampel sebanyak 70 orang. Tekhnik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive dan random, yaitu pengambilan sampel dengan cara mengambil responden sesuai dengan kriteria yang ditentukan oleh peneliti kemudian di random dengan menggunakan skala sebagai alat ukur. Tekhnik analasis data yang digunakan adalah uji t dan anova. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai F = 1,051 dengan hasil signifikansi sebesar 0,398 (0,398 0,05), hal ini menunjukkan bahwa  informasi tentang aktivitas corporate social responsibility tidak memberikan pengaruh terhadap keputusan membeli. Melalui uji t= 0.483 dengan p= 0,631 (0,631 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh dalam keputusan membeli ditinjau dari aspek rasional dan emosi. Kata Kunci : Corporate Social Responsibility dan Keputusan Membeli pada konsumen  Abstract. The purpose of this study was to examine an influence of corporate social responsibility on consumer purchase decision. This study is a quasi experiment. The population in this study is the Semarang State University students, with a sample of 70 people. The sampling technique used is purposive and random sampling, in which subjects or respondents are taken according to the required criteria researchers then drawn at random. Measuring instruments used in this study was a questionnaire. The data analysis technique used are the T test and anova.The results shows that F= 1,051, p=0,398 (0,398 0,05) means that the activity of corporate social responsibility information doesnt have any influence to the decision to buy. From the T test, t= 0.483 dengan p= 0,631 (0,631 0,05 , it means that there is no influence buying decisions in terms of aspects rational and emotional aspects.
SELF DISCLOSURE: DEFINISI, OPERASIONALISASI, DAN SKEMA PROSES
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i1.11617

Abstract

Abstrak. Self Disclosure merupakan salah satu tekhnik atau keterampilan yang lazim dilakukan oleh terapis dalam proses konseling maupun psikoterapi. Self disclosure mencerminkan usaha dari terapis untuk bersikap lebih terbuka dengan menceritakan pengalaman maupun pengetahuan secara proaktif melaui perasaan, pikiran dan fisik terhadap klien sehingga diharapkan klien dapat menceritakan pengalaman, persepsi atau pengetahuannya. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran sederhana tentang skema proses dan manfaat dari tekhnik self disclosure dalam proses konseling. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan 1 subjek penelitian. Berdasarkan hasil skema proses dan proses evaluasi menunjukkan bahwa tekhnik self disclosure efektif untuk menggali informasi tentang yang sedang dialami  subjek. Subjek menjadi lebih terbuka dan mudah mengungkapkan perasaan setelah teknik self disclosure diberikan, proses tersebut dapat dilihat melalui skema proses dan evaluasi. Kata Kunci: Self Disclosure dan Skema Proses Abstrack. Self disclosure is one of the techniques or skills commonly used by the therapist in counseling or psychotherapy process. Self disclosure reflects the effort from the therapist to disclose, to share his/her expericence or knowledge in a proactive way through feeling, mind and physical that make client can easily open their experience or their story. This research aimed to describe the process scheme and the benefit of self disclosure in counseling process. Qualitative methode with single subject is used to describe more clearly about the process.  The result shows that self disclosure is an effective way to explore subjects experience, feeling and perception.  Subject becomes easily share their experience after the interviewer self disclosure is given. Keyword: Self Disclosure and Process Scheme  
Stress Management Trainin untuk Menurunkan Stres Pengasuhan Pada Ibu Yang Memiliki Anak Difabel
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 3 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i3.18868

Abstract

Abstrak. Ketidakberfungsian peran orangtua sebagai pengasuh (family functioning) dalam literatur psikologi dikenal sebagai stres pengasuhan.Stres pengasuhan yang muncul pada orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus atau difabel, dapat menurun dengan strategi coping stress. Sumber-sumber yang dapat berperan menjadi fasilitator sebagai coping stress terbagi menjadi dua tipe, yaitu sumber coping internal dan sumber coping eksternal.Kemampuan coping internal inilah yang belum dikuasai oleh orangtua dan menjadi permasalahan yang harus segera ditangani.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas stress management training untuk menurunkan stres pengasuhan ibu yang memiliki anak difabel. Mengunakan pendekatan eksperimental One Group Pre Test Post Test Design,pelatihan manajemen stres pengasuhan meliputi empat hal :(1). Mengatur Gaya Hidup dan Pikiran Sehat; (2). Strategi Modifikasi Perilaku; dan (3). Teknik Relaksasi. Hasil yang diperoleh melalui perbandingan mean sebelum dan sesudah perlakuan, terdapat perbedaan mean, dimana mean saat pre test sebesar 70,4667 sedangkan mean post test sebesar 43,1333. Hal tersebut menunjukkan ada penurunan tingkat stres pengasuhan paska diberi pelatihan manajemen stres. Kata Kunci : stress-management training, stres pengasuhan, difabel Abstract. Parenting stress that appears to parents who have children with special needs or disabilities, can decrease with stress coping strategies. Sources that can act as facilitators as stress coping are divided into two types, namely internal coping sources and external coping sources. This internal coping ability is not yet mastered by parents and becomes a problem that must be addressed immediately. This study aims to determine the effectiveness of stress management training to reduce the stress of parenting mothers who have children with disabilities. Using the experimental approach of the One Test Pre Test Post Design, stress management parenting training covers four things: (1). Manage Healthy Lifestyle and Mind; (2). Behavior Modification Strategy; and (3). Relaxation Technique. The results obtained through comparison of mean before and after treatment, there are mean differences, where the mean at pre test is 70.4667 while the mean post test is 43.13. This shows that there is a decrease in the stress level of post-care given stress management training.
KORELASI GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL DAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOUR (OCB)
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 1, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v1i2.8896

Abstract

The research focused on finding correlation between transformational leadership style and organizational citizenship behaviour (OCB). The subject were 100 employees of PD. Pasar Surya Surabaya. Data was collected by MLQ (Multifactor Leadership Questioner) and organizational citizenship behaviour (OCB) scale. Hypothesis is tested by product moment correlation technique. The result shown that there was a significant correlation between transformational leadership style and organizational citizenship behaviour (OCB) with rxy = 0,504, p 0,001. TransformationaI leadership style has influencing 25,5% for organizational citizenship behaviour (OCB). It means that 75% was influenced by others.
Tumbuh dari Luka: Gambaran Post-Traumatic Growth pada Dewasa Awal Pasca Perceraian Orang Tua
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.24697

Abstract

Perceraian orang tua menjadi salah satu peristiwa traumatis yang dapat dialami oleh individu. Seringkali perceraian membawa berbagai dampak negatif dan mengguncang psikis anak. Meskipun demikian, beberapa individu mampu melewatinya dengan membentuk kembali pandangannya tentang kehidupan dan menuju perubahan yang lebih positif yang disebut dengan Post Traumatic Growth (PTG). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran PTG pada dewasa awal pasca perceraian orang tua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan tes grafis. Partisipan penelitian ini terdiri dari 3 orang dewasa awal yang memiliki orang tua bercerai sebagai narasumber primer dan 5 orang sebagai narasumber sekunder. Dalam penelitian ini pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data yang meliputi triangulasi sumber, metode, dan waktu. Dampak ini membuat ketiga narasumber merasa terpuruk pada masa pertumbuhan anak-anak dan memuncak saat remaja. Ketiga narasumber mampu mencapai PTG ketika memasuki masa dewasa awal. Munculnya PTG pada ketiga narasumber dipengaruhi oleh faktor internal (keinginan/dorongan dalam diri, peran spiritual, dan motivasi akan masa depan) dan faktor eksternal (dukungan sosial). Adanya temuan baru yang tidak ditemukan pada penelitian sebelumnya yaitu faktor keinginan atau dorongan dalam diri yang menjadi salah satu faktor paling memengaruhi munculnya PTG pada ketiga narasumber dan faktor motivasi akan masa depan.The recurrent crime committed by some prisoners is an issue that deserves attention. These include Parental divorce is one of the traumatic events that can be experienced by individuals. Divorce often brings negative and psychological shocks to children. However, some individuals are able to get through it by reshaping their views on life and towards a more positive change called Post Traumatic Growth (PTG). This study aims to determine the description of PTG in early adulthood after parental divorce. This study uses a qualitative method with a case study approach. The data was collected by means of interviews, observation, documentation, and graphic tests. Participants in this study consisted of 3 early adults whose parents divorced as primary sources and 5 people as secondary sources. In this study, checking the validity of the data used data triangulation techniques which include triangulation of sources, methods, and time. This impact made the three informants feel depressed during their children's growth period and peaked during adolescence. The three speakers were able to reach PTG when they entered early adulthood. The emergence of PTG in the three sources was influenced by internal factors (desire / drive within, spiritual role, and motivation for the future) and external factors (social support). There are new findings that were not found in previous studies, namely the desire or drive factor in oneself which is one of the most influencing factors for the emergence of PTG in the three sources and the motivational factor for the future
PENERIMAAN DIRI DAN KECEMASAN TERHADAP STATUS NARAPIDANA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14114

Abstract

Abstrak. Permasalahan dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara penerimaan diri dan kecemasan terhadap status narapidana. Tujuannya adalah untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dengan kecmasan terhadap status Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan yang negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan terhadap status narapidana. Populasinya adalah seluruh narapidana di Lapas Brebes dengan teknik pengambilan sampel yaitu Simple Random Sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 50 orang untuk try out dan 57 orang untuk penelitian. Pengujian hipotesis dilakukan dengan teknik Korelasi Product Moment setelah sebelumnya dilakukan uji normalitas dan linieritas. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa diperoleh harga rxy = -0,433 dengan p 0,05 menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecemasan terhadap status sebagai narapidana. Artinya, semakin tinggi penerimaan diri, maka makin rendah kecemasan terhadap status sebagai narapidana, dan sebaliknya. Kata Kunci : Penerimaan Diri, Kecemasan, Narapidana  Abstract. The Problem of this research is there is correlation between self acceptance with anxiety of the prisoner status. The purpose is to understanding the corelation between self acceptance with anxiety of the prisoner status. The hypothesis in this research is there is a negative relationship between self-acceptance with anxiety about the prisoner status. Its population is all prisoners in Lapas Brebes with sampling technique that is Simple Random Sampling. The number of samples in this study as many as 50 people to try out and 57 people for research. Hypothesis testing is analysis by Product Moment Correlation technique after previously tested normality and linearity. The result of the calculation shows that the obtained price of rxy = -0.433 with p0,05 indicates that there is negative relation between self-acceptance with status as prisoner anxiety. That is, the higher of the self-acceptance, can make the status as the prisoner anxiety lower, and vice versa.
EFEKTIVITAS MEDITASI TRANSENDENTAL UNTUK MENURUNKAN STRES PADA PENDERITA HIPERTENSI
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i2.11607

Abstract

Abstrak. Penyakit hipertensi dan stres saling berkaitan. Stres akan membuat penderita hipertensi berpikir telalu berat dan memiliki emosi tidak stabil yang dapat memperburuk kondisi penderita hipertensi. Karena itu perlu treatment yang dapat menurunkan stres dan tekanan darah, mengingat jumlah penderita hipertensi tinggi. Meditasi transendental merupakan salah satu terapi dalam menurunkan stres, yang digunakan untuk perawatan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pemberian meditasi transendental dapat menurunkan stres pada penderita hipertensi. Penelitian eksperimen ini menggunakan desain One Group Pretest-Postest yang dilakukan terhadap 9 subjek. Perlakuan yang diberikan berupa meditasi transendental dan selama perlakuan subjek tidak diperbolehkan mengonsumsi obat medis. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala stres dengan validitas antara 0,001 sampai 0,41 dan reliabilitas sebesar 0,893, juga sphygnomanometer untuk mengukur tekanan darah pada subjek yang dilakukan sebelum perlakuan dan setelah perlakuan. Analisis data penelitian ini menggunakan teknik mann-whitney yang dibantu oleh software analisis data statistik. Hasil penelitian menunjukan ada perbedaan mean antara sebelum dan setelah diberikan perlakuan. Mean sebelum diberi perlakuan sebesar 14,00 dan mean setelah diberi perlakuan sebesar 5,00, dan diperoleh nilai Z sebesar -3,591 dengan taraf signifikansi 0,000. Maka hipótesis meditasi transendental efektif untuk menurunkan stres pada penderita hipertensi diterima. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan meditasi transendental dapat menurunkan stres sehingga disarankan penderita hipertensi untuk melakukan meditasi transendental dalam membantu penurunan stres. Kata kunci : Hipertensi, Stres dan Meditasi Transendental  Abstract. Hypertension disease and stress related to each other. Stress will make the hypertension sufferers are thinking too much and have unstable emotions which can aggravate the condition of hypertension sufferers. Therefore need treatment that can reduce stress and blood pressure, considering the high number of the hypertension sufferers. Transcendental meditation is one of the therapies to reducing stress, which is used for the treatment of hypertension. This research aims to find out whether the granting of transcendental meditation can reduce stress in hypertension sufferers. This experimental research design using One Group Pretest-Postest committed against 9 subjects. The treatment is given in the form of transcendental meditation and during treatment, the subject is not allowed to consume medical drugs. Measuring instrument used in this research is the stress scale with validity between 0.001 to 0.41 and reliability of 0.893, also sphygnomanometer to measure the blood pressure in subjects which performed before treatment and after treatment. The analysis of the data research is using the mann-whitney techniques which is assisted by statistical data analysis software. The research results showed there is a difference in the mean between before and after being given the treatment. The mean before being given treatment equal to 14,00 and the mean after being given the treatment equal 5,00, Obtained the Z value of -3,591 with a significance level 0.000. Which means, the hypothesis of transcendental meditation is effective to reduce stress in hypertension sufferers accepted. Based on the results of the research, it can be concluded that the transcendental meditation can reduce stress, so that the hypertension sufferers are advised to do transcendental meditation to help reduce stress. Keywords: Hypertension, Stress and Transcendental Meditation