cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
PERBEDAAN ACADEMIC SELF EFFICACY DITINJAU DARI JENIS GOAL ORIENTATION
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i2.8626

Abstract

Abstrak. Parameter prestasi belajar yang mengutamakan perolehan nilai akademis dan tingginya nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) diduga akan mempengaruhi siswa untuk memilih cara- cara negatif sebagai manifestasi dari ketidakyakinannya terhadap kemampuannya sendiri. Padahal dalam menghadapi persaingan dan tantangan di dunia pendidikan sangat diperlukan academic self efficacy, khususnya untuk kelas XII yang akan menghadapi Ujian Nasional (UN) dan persiapan ke perguruan tinggi. Tinggi rendahnya academic self efficacy sangat erat kaitannya dengan jenis goal orientation yang dimiliki siswa, yaitu mastery goal dan performance goal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan academic self efficacy antara siswa yang memiliki mastery goal dan siswa yang memiliki performance goal pada siswa kelas XII SMA Negeri 1 Godong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain komparasional. Subjek penelitiannya adalah siswa kelas XII SMA Negeri 1 Godong. Teknik sampling yang digunakan adalah quota sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan academic self efficacy yang signifikan antara siswa dengan mastery goal dan siswa dengan performance goal di SMA Negeri 1 Godong, dimana tingkat academic self efficacy siswa yang memiliki mastery goal lebih tinggi daripada siswa yang memiliki performance goal dengan koefisien perbedaan sebesar 3,592 dan nilai signifikansi p = 0,000 (p 0.01).Abstract. Learning achievement parameter prioritizes the acquisition of academic value and the high value of the minimum criteria (KKM) expected student affect to choose negative ways as manifestation of the uncomfortable student ability. However, to face competition and challenges in the education world needed academic self efficacy, specially for 12 grade students who will face the national examinition and to prepare to college. Low and high level of the academic self efficacy closely associated with the student type of goal orientation. The purpose of this research was to determine the differences of the academic self efficacy between student who have mastery goal and student who have performance goal in 12 grade students of SMAN 1 Godong. The method used in this research was quantitative with comparasional design. Subject of this research was 12 grade students of SMAN 1 Godong. The sampling technique used  was quota sampling. The result of this research showed that there were significant differences academic self efficacy between student with mastery goal and student with performance goal at SMAN 1 Godong, where academic self efficacy student with mastery goal is higher then student with performance goal with coefficient differences 3,592 and significant value p = 0,000 (p 0,01).
Perlukah Perencanaan Karier pada Siswa SMA? Studi Korelasi Konsep Diri dan Perencanaan Karier Siswa SMA Negeri 1 Sulang
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i3.21738

Abstract

Perencanaan karir merupakan tindakan yang dilakukan individu dalam menyusun langkah yang akan diambil dalam bidang karir dengan memanfaatkan peluang, kesempatan dan mengkorelasikan antara kemampuan diri yang meliputi keterampilan pribadi, kemampuan intelektual, potensi, bakat dan minat serta pengetahuan dalam menetapkan rencana guna mencapai tujuan karir yang diinginkan.  Siswa SMA Negeri 1 Sulang,  memiliki perencanaan karir yang tergolong kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan perencanaan karir siswa SMA Negeri 1 Sulang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Populasi pada penelitian ini adalah siswa kelas XII. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitusimple random sampling. Teknik ini dilakukan melalui undian pada 238 subjek penelitian. Jumlah sampel yang dijadikan subjek dalam penelitian ini yaitu 70% atau 168 siswa. Data penelitian ini diambil dengan menggunakan skala perencanaan karir dengan jumlah item valid 52 item dengan reliabilitas 0,925 dan skala konsep diri dengan jumlah item valid sebanyak 42 item dengan reliabilitas 0,894 dengan teknik analisis data yaitu product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perencanaan karir siswa SMA Negeri 1 Sulang berada pada kategori tinggi. Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan bahwa F hitung sebesar 135,793 dengan taraf signifikansi (p 0,05), sehingga hipotesis diterima. Maka dapat disimpulkan bahwa konsep diri siswa memiliki hubungan yang positif dengan perencanaan karir siswa, artinya semakin tinggi konsep diri siswa maka semakin baik pula perencanaan karirnya.      Career planning is an action taken by an individual in preparing the steps to be taken in the career field by utilizing opportunities, opportunities and correlating between personal abilities including personal skills, intellectual abilities, potential, talents and interests as well as knowledge in setting plans to achieve desired career goals . Student Senior high school in Sulang 1 where career planning is classified as lacking. This study aims to determine the relationship of self-concept with the career planning of students of SMA Negeri 1 Sulang. This research uses a correlational quantitative approach. The population in this study were students of class XII. The sampling technique used is simple random sampling. This technique was carried out by lottery on 238 research subjects. The number of samples used as subjects in this study were 70% or 168 students. The data of this study were taken using a career planning scale with a total of 52 items with a reliability of 0.925 and a self-concept scale with a total of 42 items with a reliability of 0.894 with data analysis of product moment. The results of this study indicate that the career planning of SMA Negeri 1 Sulang students is in the high category. The results of data analysis in this study indicate that the F count of 135.793 with a significance level (p 0.05), so the hypothesis is accepted. So it can be concluded that the students' self-concept has a positive relationship with student career planning, meaning that the higher the student's self-concept, the better the career planning. 
PENGARUH MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN TINGKAT STRES KERJA KARYAWAN PT. OTO MULTIARTHA ACCOUNTING
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 2 (2012): Juli 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i2.13335

Abstract

Abstrak. Stres kerja merupakan reaksi negatif dalam diri seseorang dari adanya kondisi disekitar lingkungan kerja yang dapat dilihat secara biopsikososial. Stres kerja yang dialami oleh karyawan dapat mengganggu baik secara psikologis, fisiologis, maupun perilaku. Salah satu cara agar stres kerja yang dialami karyawan dapat menurun adalah dengan menggunakan musik klasik. Musik klasik adalah musik yang sebagian besar dimainkan dengan menggunakan alat musik senar, memiliki lebih dari satu tempo pada satu lagu yang ditransfomnasikan secara neurologis sehingga dinilai dapat berfluktuasi dalam susana hati dan memberikan perasaan damai, terhibur serta dapat menyembuhkan. Diharapkan musik klasik dapat menurunkan stres kerja yang dimiliki karyawan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian musik klasik terhadap tingkat stres kerja karyawan. Subjek penelitian ini adalah karyawan PT. Oto Multiartha bagian Accounting yang berjumlah 20 orang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain eksperimen non-randomized pretest-posttest control group design. Subjek dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, dengan jumlah masing-masing kelompok yaitu 10 subjek tanpa randomisasi. Pengambilan data menngunakan skala stress kerja dengan tingkat reliabilitas sebesar 0,949 dan jumlah aitem yang valid sebanyak 40 aitem. Analisis data menggunakan uji Non Parametric Wilcoxon dan Mann-Whitney.Hasil analisis data yang diperoleh yaitu t= 0,000 artinya terdapat perbedaan tingkat stres kerja karyawan PT Oo Muliartha bagian Accounting pada kedua kelompok tersebut. Tingkat stres kerja karyawan kelompok eksperimen menurun setelah mendengarkan musik klasik dengan rata-rata gain value sebesar 15,50 sedangkan pada kelompok kontrol yang tidak diberikan musik klasik mendapatkan nilai rata-rata gain value sebesar 5,5.Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa pemberian musik klasik berpengaruh terhadap penurunan tingkat stres kerja karyawan PT Oto Multiartha bagian Accounting. Oelh karena itu, pemberian musik klasik dapat diadakan secara rutin sebagai pengiring karyawan dalam bekerja. Hal ini dilakukan sebagai sarana untuk mengurangi gejala-gejala stres kerja baik secara psikis, fisiologis, dan perilaku, yang dapat menghambat kinerja karyawan.Kata Kunci: musik klasik; stres kerja Abstract. Job stress is a negative reaction in the one of the condition surrounding the work environment can be viewed in a biopsychosocial. Work stress experienced by employees can impair both the psychological, physiological, and behavioral. One way to work stress experienced b employees can be reduced is to use classical music. Classical music is music that is played mostly with the use of stringed instruments, have more than song at a tempo that transformed neurological so assessed may fluctuate in mood and give a sense of peace, comfort and cure. Classical music is expected to reduce job stress that employees have.            This study aims to determine the effect of giving classical music on employee stress levels. The subject of this study were employees of PT. Oto Multiartha Accounting section numbering 20 people. The research was carried out using non-randomized experimental design pretest-posttest control group design. Subjects were divided into two groups namely experimental group and control group, with each group of 10 subjects without randomization. Retrieval of data using a scale of job stress with the reliability level of 0,949 and a valid number as many as 40 item. Analysis of data using non-parametric Wilcoxon test Mann-Whitney.            The analysis of data obtained by the t= 0.000 means that there are different levels of employee stress PT Oto Multiartha Accounting section in both groups. Employee stress levels decreased after the experimental group listened to classical music with an average gain value of 15.50, while in the control group not given classical music to get the average value of the gain value of 5.5.            Based on the research results can be concluded that administration of classical music influence on employees’ stress levels decrease in PT Oto Multiartha Accounting section. Therefore, the provision of classical music can be held on regular basis as staff accompanist in the works. This is done as a means to reduce the symptoms of job stress, both psychological, physiological, and behavioral, that may hinder the performance of the employee.
HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN TANGGUH DAN RELIGIUSITAS DENGAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA KORBAN BENCANA ALAM DI YOGYAKARTA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 1, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v1i2.8901

Abstract

The purpose of this study is to know the correlation between hardiness and religious with psychological well-being of the survivor of natural disaster at DIY. There are hypothesis of this study : 1- there are positive correlation between hardiness and religious with psychological well being of the survivor of natural disaster at DIY. 2- the are positive correlation between hardiness and psychological well-being of survivor of natural disaster at DIY. 3- there are positive ceorrelation between religious with psychological well-being of survivor of natural disaster at DIY. The subject of the research were 108 persons whom are being in Segoroyoso village, Pleret of Bantul. The survivor of natural disaster in Bantul include male an female, whom are about 25-65 years old and were Moslem. Every subject was given three scales ; the hardiness scale, religious scale, and psychological well being scale. This study use quantitative methode and regression analysis was used as a statistical data. The result show that : 1-there is a correlation and highly significant between harviness anv religious with psychological well-being of the survivor of natural disaster at Diy (r= 0,308 and p0,001) and hardiness and religious contributes 9,5%. 2-there is a positive correlation and higly signifant between hardiness with psychological well-being (r=3,307 and p0,01). 3-there is no correlation between religious with psychological well-being of survivor of natural disaster at DIY (r=0,09 and p0,01). It turns out that the quantitative data analyzing enriched of this research. Trough the various description, it could be valuable contribution for the study of psychological well being of the survivor of natural disaster at DIY. 
Pelatihan Pancacara Temuan Makna dalam Menurunkan Depresi Lansia
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.24887

Abstract

Aspek kehidupan yang dialami lansia mengalami beberapa penurunan di beberapa aspek. Kondisi yang semakin menurun ini semakin parah ketika para lanjut usia tinggal di lingkungan yang jauh dari keluarganya, kemudian muncul tanda-tanda depresi. Logoterapi adalah salah satu psikoterapi untuk menangani penderita depresi, khususnya pada lansia yang mengalami penurunan fungsi intelektual yang menyebabkan terapi perilaku kognitif berjalan lebih lambat dari yang diharapkan. Logoterapi berbentuk pelatihan yang disesuaikan dengan kebudayaan Indonesia yang menganut kepercayaan kepada Tuhan YME yaitu Pelatihan Pancacara Temuan Makna. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efek Pelatihan Pancacara Temuan Makna berkonsep Logoterapi dalam menurunkan depresi lansia di Panti Werdha Dharma Bhakti Surakarta. Desain penelitian ini adalah penelitian eksperimental semu dengan quota pusposive sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur berupa skala depresi geriatri 15 (GDS15). Subjek penelitian memiliki karakteristik berupa lansia usia 60-85 tahun, berpendidikan SD hingga SLTP, skor GDS15 termasuk dalam kategori depresi. Pelatihan dilakukan oleh para pelatih yang merupakan psikolog, dibantu oleh 8 orang asisten yang saat ini sedang menempuh pendidikan magister di bidang psikologi. Sesi pelatihan meliputi sesi pemahaman diri, bertindak positif, mempererat keintiman, memperdalam catur nilai, dan menyembah Tuhan. Analisis data menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann Whitney U. Hasil dari penelitian ini adalah ada efek Pelatihan Pancacara Temuan Makna Berdasarkan Konsep Logoterapi pada depresi lansia.The elders are already experiencing a decline in some aspects of their life. these conditions get worse when they are separated from families, then depression might be happened. logotherapy as one approach to psychotherapy to depression, especially for elderly who are decreased of intellectual function which causes cognitive behavioral therapy to go slower than expected. Elders are given training with logotherapy themed that has been adapted to the indonesian cultures who adhere to belief in god, namely Pelatihan Pancacara Temuan Makna based on logotherapy methods. The research aims was to know the effect of depression in the elderly at social residential of Dharma Bhakti Surakarta. design research is experimentral research with purposive quota sampling. Measuring instrument used in this research is the Geriatric Depression Scale 15 (GDS15). The characteristics of the subject aged 60-85 years old, educated elementary school up to high school, GDS15 score in the category of depression. The training is carried out by trainers who are psychologists, assisted by 8 assistants who are currently undergoing professional psychology masters education. training sessions include self-understanding sessions, acting positively, familiarity of aaaazzxxrelationships, deepening the four values, and worship of God. Data analysis using wilcoxon signed rank test and Mann Whitney U. The conclusion from this study is Pelatihan Pancacara Temuan Makna Logotherapy Themed can reduce the degree of depresion in elderly.
OPERANT CONDITIONING: SHAPING DANPOSITIVE REINFORCEMENT CONTINGENCIES “DARI PERILAKU OFF-TASK MENJADI ON-TASK”
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14119

Abstract

Abstrak. Pendidikan informal pada jenjang taman kanak-kanak menjadi latihan bagi anak untuk belajar berbagai hal melalui kegiatan bermain. Perilaku off-task kerap muncul pada anak-anak tertentu pada proses tersebut. Perbedaan individu yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal masing-masing anak menjadi penyebab perilaku off-task.Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas metode Operant Conditioning dengan teknik Shaping dan Positive Reinforcement Contingenciesdalam meningkatkan perilaku On-task pada anak TK.Subjek penelitian adalah seorang anak laki-laki berusia 4 tahun 7 bulan dengan ditentukan secara purposif berdasarkan hasil observasi awal pada kegiatan inti di TK. Subjek adalah siswa di kelas TK A dan belum pernah mengikuti kelompok bermain sebelum TK. Rancangan penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan subjek tunggal (single case experiment).Pengukuran menggunakan observasi dengan menghitung jumlah tugas yang berhasil diselesaikan pada kegiatan inti. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan rata-rata jumlah ketuntasan tugas yang dilakukan subjek pada kegiata inti. Rata-rata fase baseline 2 tugas terselesaikan, dua minggu pertama pelaksanaan intervensi rata-rata  4 tugas terselesaikan, dua minggu terakhir pelaksanaan intervensi 4 tugas terselesaikan, dan mampu bertahan pada rata-rata 4 tugas terselesaikan pada saat follow up. Kata kunci: operant conditioning, shaping, positive reinforcement contingencies, off-task, on-task Abstract.Informal education at the kindergarten level becomes an exercise for children to learn various things through play activities. Off-task behavior often appears in certain children in the process. The individual differences that are influenced by the internal and external factors of each child become the cause of the off-task behavior. The purpose of this research is to test the effectiveness of Operant Conditioning method with Shaping technique and Positive Reinforcement Contingencies in improving On-task behavior in kindergarten children. The subject of the study was a boy aged 4 years and 7 months determined purposively based on preliminary observations on core activities in kindergarten. Subjects are students in kindergarten class A and have never attended play group before kindergarten. The research design used was experiment with single subject (single case experiment). Measurement used was observation by counting the number of tasks completed successfully in the core activities. The results showed an increase in the average number of tasks done by subjects on the core activities. Two On-task behaviour showed by subjek in baseline phase, Four on-task behaviour was completed in the first two weeks intervention phase, Four on-task behaviour was completed in the last two weeks intervention phase, and able to withstand an average of 4 on-taskbehaviour completed during follow-up.
KECENDERUNGAN PERILAKU DISRUPTIF PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DITINJAU DARI STRES PENGASUHAN IBU
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i2.8597

Abstract

Perilaku disruptif biasa muncul pada anak-anak. Namun demikian, hal itu bisa berdampak pada masa depan bila tidak segera diatasi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara stres pengasuhan ibu dan perilaku disruptif anak-anak prasekolah. Subyek penelitian ini 70 ibu dari anak-anak prasekolah. Instrumen yang digunakan adalah Eyberg Child Behavior Inventory (ECBI) dengan skor alpha Cronbach sebesar 0,906 dan Skala Stres Parental (PSS) dengan alpha Cronbach skor 0,851. Formula analisis data yang digunakan adalah uji korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai r = 0,258 (p = 0,031, p 0,05). Hasil lain yang didapatkan dari penelitian ini adalah adanya perbedaan stres pengasuhan ibu berdasarkan usia anak-anak. Hasil penelitian ini akan dibahas kemudian.Disruptive behavior is commong among young children. Nevertheless, it could be challenging and has implication for the future if it did not resolved. This research was intended to examine the correlation between maternal parenting stress and disruptive behavior in preschool children. The subjects of this research were consisted of 70 mothers of preschoolers. The instruments were consisted of Eyberg Child Behavior Inventory (ECBI) with alpha Cronbach score 0.906 and Parental Stress Scale (PSS) with alpha Cronbach score 0.851. The data analysis used Spearman Rho correlation test, and the result was r = 0.258 (p = 0.031, p 0.05). the result of this research also shown the differences of maternal parenting stress based on children’s age. The result of this research will be discussed later.
Terapi Kesurupan “Tepak Sirih” untuk Menurunkan Tingkat Depresi
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i2.22572

Abstract

Kesurupan sering dikaitkan dengan spiritual individu maupun hal-hal gaib yang masih dipercaya oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Biasanya, orang yang mengalami kesurupan menjadi lain dalam bertindak, berbicara, dan dapat mempengaruhi sifatnya. Dalam perspektif psikologi, kesurupan digolongkan dalam gangguan identitas yang dipaparkan dalam DSM-5. Gangguan ini disebut dengan Dissociative Identity Disorder(DID). Psikologi menganggap kesurupan sebagai reaksi kejiwaan yang mneyebabkan individu kehilangan kendali atau kesadaran atas dirinya sendiri. Hal tersebut dikarenakan oleh indikasi periode depresi yang dialami individu. Terapi pasca kesurupan TEPAK SIRIH menjadi salah satu upaya yang digunakan untuk mengurangi tingkat depresi, sehingga diharapkan mampu mengurangi intensitas kesurupan. Penelitian ini menggunakan teknik kuasi-eksperimen dengan desain single group pretest – posttest. Subjek penelitian ini berjumlah 5 orang mahasiswa yang berada pada populasi Universitas di Semarang. Penerapan terapi ini menggunakan dasar teknik terapi psikoanalisis yang dikombinasikan dengan teknik relaksasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat penurunan tingkat depresi secara signifikan yang ditunjukkan oleh nilai t = 2,841 dengan signifikansi sebesar 0,047 (p 0,05). Trance is often associated with individual spiritualism because majority people’sbelieve in Indonesia culture. Someone whose experiencing this phenomenon often capturing different behaviour, talking, or maybe affect their personalities. On psychological perspective, trance usually described in DSM-5 as identity disorder. This disorder clasifically described as Dissociative Identity Disorder (DID). Psychologyconsiders possession as a psychological reaction that causes by individual’s losecontrol or self-consciousness. This is due to indications of depression period. Post- theraphy named TEPAK SIRIH is one of the efforts to reduce depression leve, so as to reduce the intensity of trance. This research used quasi-experimental research with single group pretest – posttest design. The subject of this research are 5 college students whose in the range of population on University in Semarang. This theraphy uses basic psychoanalytical theraphy techniques combined with relaxations. The result shows a depression level decrease significally which proved by t score = 2,841 with sig. score was 0,047 (p 0,05).
PENERAPAN PENDEKATAN KONSELING REALITA UNTUK MENGATASI LEARNED HELPLESSNESS (SUATU STUDI EMBEDDED EXPERIMENTAL MODEL PADA MAHASISWA)
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i1.13326

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penurunan tingkat learned helplessness sebagai hasil dari penerapan pendekatan konseling Realita pada mahasiswa. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan desain Embedded Experimental. Desain ini dapat diwujudkan melalui pemerolehan data yang bersifat kualitatif yang disertakan dalam desain eksperimental. Penelitian ini menggunakan 2 mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling UNNES sebagai subjek Penelitian yang didasarkan pada hasil seleksi subjek dengan teknik sampling purposif. Hasil penelitian ini dilihat dari hasil secara kuantitatif ditemukan bahwa konseling realita dapat menurunkan tingkat learned helplessness tidak signifikan (Z = -1,342, p (one tail) = 0,09). Meskipun rerata setelah dan sebelum konseling menunjukkan adanya penurunan tingkat learned helplessness, tetapi penurunan tersebut tidak signifikan. Pada uji hipotesa kualitatif menggunakan analisis percakapan dapat ditemukan juga bahwa perubahan terjadi pada sisi tuturan atau wicara konseli dan keinginan konseli maupun tindakan konseli untuk berusaha membuat penyelesaian (solusi) atas masalah learned helplessness. Meski ada perubahan namum perubahan yang dilakukan belum direncanakan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan masing-masing konseli
KONSEP KEBAHAGIAAN PADA REMAJA YANG TINGGAL DI JALANAN, PANTI ASUHAN DAN PESANTREN
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i1.11912

Abstract

Abstrak. penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan konsep kebahagiaan remaja yang tinggal dijalanan, dipantiasuhan dan dipondok pesantren. Metode yang digunakan adalah kualitatif, sehingga wawancara dan observasi adalah alat utama dalam pengumpulan data. Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsep kebahagiaan pada remaja berpusat pada adanya rasa  kebebasan dalam berpikir dan bertindak. Perbedaan kebahagiaan remaja jalanan, panti asuhan dan pesantren sebagai berikut: pada remaja Jalanan, tidak mendapatkan kebebasan dirumah sehingga melarikan diri untuk mencari kebahagiaan diluar rumah. Pada remaja Panti asuhan: kebebasan yang sangat luas namun tidak terarah sehingga merasa kurang percaya diri dalam menghadapi masa depan dan sosialisasi juga terbatas. Pada remaja pesantren: kebebasan yang diatur secara ketat, namun dapat memenuhi kebutuhannya dalam pengasuhan orangtua dan pesantren. Hal ini menjadikannya lebih mandiri dan bersosialisasi secara luas meski pada komunitas yang terbatas.Kata kunci: Kebahagiaan, Remaja di panti asuhan, pesantren dan jalanan. Abstract. This research aimed to describes adolescent’s concept reviewed by the place setting, which is  adolescents who live on the street, orphanage, and Islamic boarding school. This research uses qualitative approach, which is interview and observation are the main tools to collect data in this research. The conclusion of this research is about the concept of happiness of adolescent that focus on the existence of sense of freedom to think and to act.The differences among the street adolescent, orphanage adolescent, and Islamic boarding school adolescent are: street adolescent, their Islamic oppresed freedom make them escape from that situation to find broader freedom. Orphanage adolescent: lots of freedom but undirected, so it makes them less confident to face their future and their social life is also terminated. Islamic boarding school: freedom is controlled strictly, but they still can fulfill their needs under parents and Islamic boarding school nurture. These things make them more independent to socialize even in a bounded community.Keywords: Happiness, Adolescent at Orphanage, Islamic Boarding School Adolescent and  Street.