cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PEDIOPHOBIA (Studi Kasus pada Penderita Pediophobia)
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 2 (2012): Juli 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i2.13331

Abstract

Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah yang melatarbelakangi munculnya pediophobia yang dialami seorang mahasiswi. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukan akumulasi kecemasan yang sudah tidak mampu direpresi sebagai latar belakang munculnya pediophobia. Kecemasan pada intinya terkait dengan keinginan untuk diperhatikan oleh keluarga. Interaksi anak yang kurang dengan ibu kandung, perlakuan yang berbeda dari saudara kandung dari keluarga besar dan adanya pembedaan tuntutan antar saudara kandung dari kedua orang tua membuat anak yang merasa dirugikan menjadi cemburu terhadap saudara yang lain. Sibling rivalry kemudian menjadi sebab utama karena pada setiap peristiwa yang membuat anak cemas berkaitan dengan saudaranya. Boneka barbie dijadikan pelampiasan oleh anak karena mempunyai kenangan tidak menyenangkan yang berhubungan dengan anak dan objek yang dibencinya juga mempunyai kemiripan dengan objek yang dibencinya yaitu saudaranya. Boneka barbie menjadi proyeksi dan pengalihan kebencian kepada adiknya. Timbullah ketakutan terhadap boneka barbie. Ketakutan tersebut menetap hingga dewasa. Hal ini karena latar belakang munculnya fobia yaitu rasa terbuang dan tidak diperhatikan oleh keluarga tidak segera disembuhkan. Di saat dewasa, sang anak masih menyimpan perasaannya itu akan membuat fobianya semakin kuat.Kata kunci: pediophobia Abstract. The objective of this research is to identify factors that cause the emerging of pediophobia experienced by a female college student. The research implemented qualitative method using case study approach. The result of this research showed the accumulation of anxiety of which no longer able to be repressived as factors of the emerging of pediophobia. Basically, anxiety is related to willingness to receive parents’ attention. Anxiety may emerge caused by relation gap in the family. The lack of interraction between birth child and her mother, the different treatment among siblings in the big family and the different demand among siblings from both of parents causing jealously feeling to the children who feel neglected. Then, sibling rivalry comes up as the main cause based on each occurance that emerging anxiety often related to her sibling. Barbie dolls become solution to expense her emotion for having unpleasant memory related to her and the dislike objects also have similarity to the dislike objects which are her sibling. Barbie dolls play as projection and distraction of her hatred to her younger sibling. Then, fearfullness feeling stay until she is adult. This would happen because of the factors that emerging this kind phobia are feeling neglected and less of affection from the family are not treated all of sudden. When adult, the feeling that stay will sthrengthen her phobia.
EKSPLORASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i1.8557

Abstract

Penanaman nilai-nilai luhur pendidikan karakter akan efektif jika ada konsistensi antara nilai-nilai yang ditanamkan pada masa usia dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, sampai dengan Perguruan Tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (melalui eksplorasi), nilai-nilai karakter yang dipahami guru dan upaya untuk menanmkannya kepada siswa. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Subjek penelitian ini adalah guru Sekolah Dasar negeri dan swasta yayasan agama di wilayah Gunungpati Semarang. Pengambilan data dilakukan melalui dua tahap, yaitu melaui focused group discussion (FGD) kemudian dilanjutkan dengan wawancara mendalam. Hasilnya adalah, nilai-nilai karakter yang dipahami oleh subjek mencakup kesesuaian dengan visi misi sekolah (membentuk pribadi yang cerdas dan beriman), pentingnya menggunakan bahasa lokal (Jawa) untuk menanamkan nilai-nilai menghargai (yang lebih muda dan setara) dan menghormati (yang lebih tua), pentingnya menanamkan nilai kejujuran (ada beberapa temuan tentang ketidakjujuran), nilai kepedulian terhadap sesama, dan untuk menanamkan nilai-nilai tersebut diperlukan contoh konkret (teladan) dari guru, dan secara makro perlu kontrol (hierarkis) dari dinas pendidikanThe values of character education will be effective if there is consistency between the values instilled in early childhood, primary school, high school, to the university. This study aims to determine the values of the characters that are understood by teachers to students. This type of research is qualitative with phenomenological approach. The subjects were elementary school teachers of public and private school Gunungpati Semarang. Data were collected through two stages, first collected by focused group discussion (FGD), then by in depth interviews.The result are,the values of characters must be connected with the vision and mission of the school (forming personal intelligent and faithful),the importance of using local languages (Java) to instill the values of respect,the importance of instilling the values of honesty (there are several findings of dishonesty), the value of caring for others,and to instill the values of the required concrete examples (example)of the teachers, and all of them need to control by department of education.
Studi Kasus Regulasi Diri Guru Sekolah Dasar Alam Muhammadyah Banjarbaru dalam Mempersiapkan Pengelolaan Kelas
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i2.17798

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui regulasi diri guru sekolah alam Muhammadyah dalam mempersiapkan pengelolaan kelas. Terdapat 3 subjek dalam penelitian ini. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dan observasi. Analisis data yang dilakukan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mendeskripsikan hasil yang diperoleh di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terpenuhinya segala aspek regulasi diri guru Sekolah Dasar Alam Muhammadyah Banjarbaru yang dapat meningkatkan persiapan pengelolaan kelas sehingga tercapainya tujuan dari proses belajar mengajar di kelas. 
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN DEMOKRATIS ATASAN TERHADAP DISIPLIN KERJA PEGAWAI
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i1.13322

Abstract

Penelitian yang dilakukan adalah penelitian korelasional. Hipotesis yang diajukan adalah terdapat pengaruh positif yang signifikan gaya kepemimpinan demokratis atasan terhadap disiplin kerja pegawai Kantor Dinas Kelautan Dan Pertanian Kota Tegal. Subjek penelitian berjumlah 50 orang yang ditentukan menggunakan teknik total sampling. Gaya kepemimpinan demokratis atasan diukur dengan menggunakan skala gaya kepemimpinan demokratis atasan. Skala gaya kepemimpinan demokratis atasan berjumlah 23 item dengan nilai reliabilitas sebesar 0,949. Disiplin kerja pegawai diukur dengan menggunakan skala disiplin kerja pegawai dengan 42 item dan nilai reliabilitas sebesar 0,955. Hasil penelitian menunjukkan variabel gaya kepemimpinan demokratis atasan pada subjek penelitian berada pada kategori tinggi, yang berarti bahwa gaya kepemimpinan demokratis atasan yang dimiliki pimpinan tinggi. Variabel disiplin kerja pegawai pada subjek penelitian berada pada kriteria tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara gaya kepemimpinan demokratis atasan dengan disiplin kerja pegawai dengan nilai r = 0,914 dengan nilai signifikansi atau p = 0,00. Saran bagi pegawai, agar dapat mempertahankan disiplin kerja baik dalam hal kualitas dan kuantitas kerja yang lebih baik sebagai upaya tercapai tujuan organisasi. Kemudian diharapkan pimpinan dapat mendukung adanya peningkatan disiplin kerja pegawai dengan menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh para pegawainya, serta melakukan pembinaan terhadap karyawan secara berkala sehingga dapat melakukan disiplin kerja yang stabil. The research conducted is correlational research. The hypothesis advanced is that there is a significant positife effect of democratic leadership style work tops to discipline an employee of Dinas Kelautan Dan Pertanian Kota Tegal. Subjects numbered 50 people who were determined using total sampling technique. Democratic leadership style of superiors was measured using a scale of democratic leadership style of superiors. The scale of the democratic leadership style tops totaling 23 items with a reliabitity value of 0.949. Labor discipline employees is measured using a scale of labor discipline an employee with 42 items and the reliability value of 0.955. The results showed superior democratic leadership style variables on the subject of research is in the high category, which means that the democratic leadership style of superiors who held high leadership. variable labor discipline an employee on the subject of research is on higher criteria. The results showed that there is a positive relalionship between democratic leaderships style tops with work discipline an employee with a value of r = 0.914 with a significance value or p = 0.00. Advice for employees, in order to maintain labor discipline in terms of qualitv and quantity of work as an effort to better achieve organizational goals. Then the leaders are expected to support an increase in labor discipline employees by providing facilities and infrastructure needed by its employees, and to provide guidance to employees on a regular basis so as to make discipline a stable job.
BENARKAH KEBERADAAN TAKHAYUL MENJADIKAN RUMAH YANG SAMA MEMILIKI NILAI (HARGA) YANG BERBEDA?
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i1.11908

Abstract

Abstrak. Sedikitnya kajian psikologis mengenai dampak takhayul mendorong munculnya kajian ini. Pada beberapa latar belakang budaya, takhayul terbukti mempengaruhi likelyhood dalam consumer choice untuk produk-produk low-involvement. Takhayul juga menjadikan konsumen bersedia membayar lebih mahal produk dengan atribut takhayul positif, yang ditunjukkan dengan pemberian nilai willingness to pay (WTP) lebih tinggi dibandingkan nilai produk tanpa atribut takhayul. Kajian eksperimental mengenai dampak takhayul pada nilai barang high involvement (dalam hal ini pada rumah) belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui ada tidaknya perbedaan willingness to pay (WTP) sebagai gambaran nilai (harga) beli rumah ditinjau dari tipe takhayul (positif, netral, dan negatif) yang melekat pada rumah. Hipotesis yang diangkat dalam penelitian ini adalah: ada perbedaan nilai (harga) rumah ditinjau dari tipe takhayul. Pendekatan kuantitatif dengan alat pengumpul data berupa contingent valuation yang disusun berdasar desain treatment by subject digunakan untuk mengungkap WTP. Data dianalisis dengan analysis of varians (anova). Subjek yang dilibatkan dalam kajian ini sebanyak 113 individu berlatar belakang budaya Jawa, usia 28 tahun ke atas dan telah bekerja. Berdasarkan hasil uji hipotesis didapati: tidak ada perbedaan WTP antara rumah dengan atribut takhayul positif dan rumah tanpa atribut takhayul (netral). Ada perbedaan WTP antara rumah dengan atribut takhayul positif dan rumah dengan atribut takhayul negatif. Ada perbedaan WTP antara rumah tanpa atribut takhayul (netral) dan rumah dengan atribut takhayul negatif. Temuan lain juga dibahas dalam penelitian ini. Kata kunci: willingness to pay, nilai (harga) rumah, desain treatment by subject, tipe takhayul Abstract. There is a little number of psychological study about the effects of superstition. In some cultural background, superstition give an affect on the likelyhood of low involvement product in consumer choice behavior context. Superstitions also makes consumers willingness to pay (product value) became more expensive, particularly on product with positive superstition attributes, than value of the product without superstition attributes. There is no experimental studies on the superstition effects on the value of high involvement goods (in this case: home) until now. This study aimed to determine the willingness to pay (WTP) as an illustration of house value (price) predicted by superstition types (positive, neutral, and negative) are attached to the house. Hypotheses raised in this study is: there is a difference value (price) of the house predicted by superstition type. Contingent valuations as data collecting used, and treatment by subject design arranged as experimental design. The datas were analyzed by analysis of variance (ANOVA). Subjects were included in this study was 113 responden wich Javanese cultural background, 28 years old or oder, and have been working for some years. Based on the results of hypothesis testing found: there is no difference between the house WTP with positive superstition attributes and the house WTP without superstition attributes (neutral). There is a difference between the house WTP with positive superstition attributes and the house with negative superstition attributes. There is a difference between the house WTP without superstition attributes (neutral) and the house WTP with negative superstition attribute. Another findings are also discussed.                Keywords: willingness to pay, the house value (price), treatment by subject design, superstition types
Violence Awareness dan Partisipasi Guru dalam Pengembangan Sekolah Ramah Anak
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 3 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i3.18869

Abstract

Abstrak. Rentetan kasus kekerasan terhadap anak silih berganti menjadi berita di berbagai media massa. Kekerasan tersebut dapat terjadi di berbagai tempat, termasuk di sekolah.Sekolah sebagai lembaga pendidikan idealnya menjadi tempat yang aman untuk mengembangan berbagai ketrampilan dan nilai, serta bebas dari bermacam kekerasan. Oleh karenanya lembaga pendidikan dituntut untuk memberiperhatian terhadap pengembangan nilai-nilai ideal dalam kehidupan. Lembaga pendidikan juga diharapkan mampu memberi kontribusi nyata dan bermakna dalam mendukung strategi pencegahan kekerasan.Dalam hal ini, salah satu upaya pemerintah terkait dengan optimalisasi fungsi lembaga pendidikan dalam mencegah kekerasan terhadap anak adalah melalui pengembangan Sekolah Ramah Anak (SRA). Pengembangan SRA ini membutuhkan kesadaran dan partisipasi guru sebagai agen pengembangan SRA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran violence awareness dan partisipasi guru terhadap pengembangan SRA pada guru sekolah dasar di Kota Semarang, serta untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara violence awareness dan partisipasi guru terhadap pengembangan SRA pada guru sekolah dasar di Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional melibatkan 184 guru Sekolah Dasar di Kota Semarang sebagai respondennya.  Alat ukur yang digunakan adalah skala violence awareness dan skala partisipasi guru terhadap pengembangan SRA. Dalam penelitian ini, data dianalisis menggunakan prinsip-prinsip statistic deskriptif dan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat violence awarenessberada pada kategori tinggi, partisipasi guru berada pada kategori tinggi serta ada hubungan positif yang signifikan antara violence awareness dengan partisipasi guru dalam pengembangan sekolah ramah anak, Violence awareness memberikan kontribusi sebesar 7,8% pada partisipasi guru dalam pengembangan sekolah ramah anak. Kata Kunci :violence awareness, partisipasi guru terhadap pengembangan SRA, guru, sekolah dasar.  Abstract. A series of cases of violence against children alternately became news in various mass media. Violence can occur in various places, including at school. Schools as educational institutions should ideally be a safe place to develop a variety of skills and values, and free from various violence. Therefore educational institutions are required to pay attention to the development of ideal values in life. Educational institutions are also expected to be able to make real and meaningful contributions in supporting violence prevention strategies. In this case, one of the government's efforts related to the optimization of the function of educational institutions in preventing violence against children is through the development of Child-Friendly Schools (CFS). The development of CFS requires teacher awareness and participation as agents of CFS development. This study aims to describe violence awareness and teacher participation in the development of CFS on elementary school teachers in the city of Semarang, and to determine whether there is a relationship between violence awareness and teacher participation in the development of CFS on elementary school teachers in Semarang City. This research is a correlational study involving 184 elementary school teachers in Semarang City as the respondents. The measuring instrument used was the scale of violence awareness and the scale of teacher participation in the development of CFS. In this study, data were analyzed using descriptive statistical principles and regression analysis. The results showed that the level of violence awareness was in the high category, teacher participation was in the high category and there was a significant positive relationship between violence awareness and teacher participation in the development of CFS. Violence awareness contributed 7.8% to teacher participation in school development of CFS.
ORIENTASI DASAR NILAI HIDUP PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNNES
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 1, No 2 (2009): Juli 2009
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v1i2.8897

Abstract

Value is a basic endorsement of attitude or a disposition that directs behavior: Value as a concrete consideration or existential also a preference that motivate indvidual behavior. This research aims to find out value orientation of unnes psychology department’s students. The research done in psychology state university o semarang with 156 students as the subjects, 44 males and 112 females. The data were taken incidentally. The research results show that there is no dominant value followed by the students of psychology department semarang state university. The highest orientation value if esthetical value, then religious value, theoretical value, social value, economical value, and the last is political value. There is no different economical value between male and female. There is no diferent esthetical value between male and female. There is no different social value between male and female. There is no different political value between male and female. There is different religious value between male and female.
Gangguan Kepribadian Skizotipal pada Perempuan di Bali
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.22913

Abstract

Kepribadian skizotipal dipandang sebagai sebuah kontinum dari kondisi sehat menuju patologis, dengan ciri kepribadian skizotipal di titik akhir sehat dan gangguan kepribadian skizotipal pada titik akhir patologis. Prevalensi menunjukkan pada populasi klinis yang mengalami gangguan kepribadian skizotipal adalah 0-2% sedangkan pada populasi umum adalah 4%. Gangguan kepribadian skizotipal adalah defisit pada sosial dan interpersonal yang ditandai dengan rasa ketidaknyamanan, berkurangnya kemampuan untuk menjalani hubungan yang dekat dan adanya distorsi kognitif, serta perilaku yang eksentrik. Ketika gangguan kepribadian skizotipal tidak mendapatkan penanganan yang tepat, maka penderita akan memiliki dampak yang serius pada perilaku dan motivasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dinamika kepribadian pada perempuan yang memiliki gangguan kepribadian skizotipal dan penyebab gangguan tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitiatif dengan pendekatan studi kasus. Penggalian data dalam penelitian ini menggunakan wawancara, observasi, dan tes psikologis (WAIS, DAP, HTP, BAUM, SSCT, dan TAT). Adapun uji kredibilitas yang digunakan adalah dengan teknik triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Subjek dalam penelitian ini adalah satu perempuan berusia 46 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa NR memiliki defisit pada hubungan sosial dan interpersonal yang disebabkan rasa tidak nyaman dan pikiran paranoid yang dimiliki terhadap lingkungannya. NR yang merasa tertekan dan memiliki pengalaman traumatis membuat NR menggunakan mekanisme pertahanan diri dengan mengosongkan pikiran dan terhanyut dalam ‘dunia lain’ untuk memutuskan diri dari hubungan sosial. Hal ini memengaruhi pekerjaan dan aspek sosialnya.Schizotypal personality is seen as a continuum from healthy to pathological, with schizotypal personality traits at the healthy endpoint and schizotypal personality disorder at the pathological endpoint. The prevalence rate of schizotypal personality disorder in the clinical population is 0-2% while the general population is 4%. Schizotypal Personality Disorder is an interpersonal and social deficit marked by discomfort with, and reduced capacity for close relationships as well as by cognitive distortions and eccentrics of behavior. When a schizotypal personal disorder is not treated properly, it can have a serious impact on behavior and motivation. This research aims to describe the dynamics of personality in women and the cause of schizotypal personality disorder. This research was conducted using a qualitative approach with a case study method. The data collected from interviews, observation, and psychological tests (WAIS, DAP, HTP, BAUM, SSCT, and TAT). The credibility test used in this research is the triangulation technique, triangulation of sources, techniques, and time. The subject of this study was a woman aged 46 years old. The result of the study showed that deficits in social and interpersonal are caused by discomfort and paranoid thought while interacting with other people. NR who feels stressed and has a traumatic experience with significant other, made NR use the mechanism defense by blanking out or seeming to drift off into another world to disconnect socially. This affected her work life and social aspect
HUBUNGAN KUALITAS MANAJEMEN WAKTU DAN WORK FAMILY BALANCE PADA PEKERJA WANITA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14115

Abstract

Abstrak. Terlepas dari hal apa yang melatar belakangi wanita bekerja, ada konsekuensi yang sering kali muncul. Konsekuensi tersebut adalah adanya second shift yang berpotensi menimbulkan role-overload pada wanita. Padahal jika role-overload ini muncul akan berpotensi mengganggu work family balance yang dimiliki. Berdasar studi awal dijumpai pandangan bahwa kualitas manajemen waktu berpotensi memainkan peran pentingnya dalam mempengaruhi work family balance. Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui gambaran kualitas manajemen waktu pekerja wanita, 2) mengetahui gambaran work family balance pekerja wanita, 3) mengetahui hubungan kualitas manajemen waktu dan work family balance pada pekerja wanita; yang sudah menikah di PT. Sai Apparel Industries Semarang. Penelitian ini dilakukan pada 183 orang pekerja wanita PT. Sai Apparel Industries bagian produksi. Sampel dimbil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan dua buah skala psikologi, yaitu skala work family balance (30 aitem) dan skala kualitas manajemen waktu (26 aitem). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gambaran kualitas manajemen waktu dan work family balance pekerja wanita berada pada kategori sedang. Koefisien korelasi rxy = -0,109 dengan p = 0,140 (p0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ditolak. Ditolaknya hipotesis penelitian ini diduga disebabkan besarnya alokasi waktu yang digunakan untuk bekerja di luar rumah dan waktu pelaksanaan kerja yang berkesinambungan menjadikan sebagian besar waktu (selain digunakan untuk tidur) digunakan untuk bekerja di luar rumah . Sebaik apapun kualitas manajemen waktu apabila sebagian besar waktu telah tersita untuk pekerjaan maka tetap akan sulit untuk mengatur waktu guna menjalankan tugas lainnya di dalam setting rumah tangga. Kata kunci: kualitas manajemen waktu, work family balance, pekerja wanitaAbstract. Being a housewife who also works is a phenomenon commonly encountered today. This is done to help the family economy and as a means of self-actualization. Regardless of what the background of working women, there are consequences that must be lived. The consequence is the existence of secondshift that potentially lead to role overload. It takes a strategy to allow every activity to get all work done. Work family balance is the degree or level of achievement of balance in the role of work and family. This study aims to: 1) find out the description of the quality of time management of women workers, 2) description of work family balance of female workers, 3) to know the relation between time management quality and work family balance on married women workers at PT. Sai Apparel Industries Semarang. This research was conducted on 183 female workers of PT. Sai Apparel Industries parts production. Samples were taken by using purposive sampling technique. Data collection used two psychological scales, namely work family balance scale (30 valid aitem) and time quality management scale (26 valid items). The results of this study indicate that the description of quality management time and work family balance of female workers are in the medium category. Coefficient of correlation rxy = -0.109 with p = 0,140 (p 0,05). These results indicate that the hypothesis proposed by the researcher is rejected. The rejection of the hypothesis of this study is suspected to be due to the dense working hours and sustainable working system. No matter how good the quality of time management is when most of the time has been consumed for the job it will still be difficult to manage the time for other tasks.
FENOMENA SCHOOL BULLYING YANG TAK BERUJUNG
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i2.11608

Abstract

Abstrak. Televisi menjadi media yang mudah mencontohkan perilaku negatif kepada anak sekolah dasar. Contohnya seperti, lebih mudah ditiru oleh anak-anak usia SD. Misalnya, adegan perkelahian yang berujung pada bullying. Dalam dunia pendidikan kasus bullying sering terjadi, hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, seperti orang tua yang terlalu memanjakan anaknya, keadaan keluarga yang berantakan sehingga diri anak tersisihkan, atau hanya karena anak tersebut meniru perilaku “bullying” dari kelompok pergaulannya serta tayangan bernuansa kekerasan di internet atau televisi. Tujuan penelitian ini adalah memberikan gambaran tentang tingkat bullying yang terjadi di 2 SDN di Kabupaten Semarang.  Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian yaitu dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam kegiatan wawancara yaitu kepala sekolah, guru kelas, pelaku bullying dan korban bullying serta orang tua. Hasil penelitian menjelaskan bahwa kasus bullying yang terjadi memiliki tingkatan yaitu ringan, sedang dan berat. Tingkatan ringan dari kasus bullying  bisa menjadi berat ketika pelaku bullying merasakan rasa sakit hati yang berkepanjangan dan memendam rasa dendam terhadap seseorang yang berujung kematianKata kunci : bullying, anak, pendidikan, SD. Abstract. Television impressions are more easily imitated by elementary school children, especially behavior that is considered unfavorable. For example, a fight scene that culminates in bullying. In the world of bullying cases, it is caused by various factors, such as parents who spoil their children, disheveled family situations so that children are excluded, or simply because the child imitates the bullying behavior of the social group and the nuances of violence in Internet or television.The aim of this research are to describe Bullying that happend at student in two school (SDN) in Kabupaten. This research use descpritive-cualiative approach. Interview, observation and documentation use as a tehnique to collect the data. The Informan of this research are the headmaster, teachers class, the prepetrator and the victim of bullying.  The result shows that bullying cases that occur have levels that are mild, moderate and severe. The mild degree of bullying can be severe when bullying feels a prolonged pain and a grudge against a person who leads to death.Keywords :bullying, child, education, primary school.