cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Pelatihan Self-Esteem Pada Remaja di Panti Asuhan “X” Surabaya
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i1.20112

Abstract

Abstrak. Sebagian besar anak yang tinggal di panti asuhan memiliki dinamika psikologis yang berbeda dengan anak lain pada umumnya. Permasalahan, pergesekan antara teman di dalam panti, dan ketiadaan peran orang tua lengkap dalam hidup anak akan menimbulkan perasaan inkompeten jika dibandingkan dengan anak lain dan muncul pula perasaan tidak berharga. Dua aspek ini akan mempengaruhi self-esteemyang dimiliki anak.Self-esteem sangat dibutuhkan oleh anak.Self-esteem yang baik dikaitkan dengan regulasi diri yang baik, kesehatan mental dan tingginya psychology wellbeing. Sebaliknya, anak yang memiliki self-esteem rendah dikaitkan dengan rendahnya prestasi akademik, rendahnya motivasi belajar bahkan kecenderungan depresi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan self-esteem untuk meningkatkan self-esteem pada remaja di panti asuhan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif eksperimen dengan desain one group pretestposttest design dengan 1 kalipretestdan 1 kali posttest. Teknik sampling menggunakanpurposive sampling. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian Pelatihan Self-esteem. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) dari Rosenberg. Analisis uji hipotesis menggunakan wilcoxon signed rank test dengan bantuan softwarepengolah data. Berdasarkan hasil dari perhitungan Wilcoxon Signed Rank Test didapatkan hasil positive ranks 14 dengan nilai z didapat -3.277 dengan p value (asymp sig 2 tailed) 0,001( 0,05). Hal ini menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara skor self-esteem sebelum dan setelah adanya treatment. Positive ranks menunjukkan sampel nilai kelompok kedua (posttest) lebih tinggi dibandingkan nilai kelompok pertama (pretest). Dapat disimpulkan bahwa pelatihan self-esteem dapat meningkatkan self-esteem pada remaja di Panti Asuhan “X” Surabaya. Kata Kunci : Self-esteem, Remaja, Panti asuhan Abstract.Most children who live in orphanages have psychological dynamics that are different from other children in general. Problems, friction between friends in the orphanage, and the absence of a complete parent role in a child's life will lead to feelings of incompetence when compared with other children and feelings of worthlessness arise. These two aspects will affect children's self-esteem. Self-esteem is needed by children. Good self-esteem is associated with good self regulation, mental health and high psychology wellbeing. Conversely, children who have low self-esteem are associated with low academic achievement, low motivation to learn and even a tendency to depression. This study aims to determine the effectiveness of self-esteem training to improve self-esteem in adolescents in orphanages. This study uses a type of quantitative research experiment with the design of one group pretest posttest design with 1 pretest and 1 posttest. The sampling technique uses purposive sampling. The treatment given is the provision of Self-esteem Training. The research data was collected using Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) from Rosenberg. Hypothesis analysis uses the Wilcoxon-marked rank test with the help of data processing software. Based on the results of the calculation of the Wilcoxon Signed Rank Test obtained a positive ranking of 14 results with z values obtained -3,277 with p values (asymp sig 2 tailed) 0.001 (0.05). This shows a significant difference between self-esteem scores before and after treatment. Positive rating shows the sample value of the second group (posttest) is higher than the value of the first group (pretest). Can increase the contribution of self-esteem can increase self-esteem in adolescents at the "X" Orphanage in Surabaya Keywords : Self-esteem, Adolescence, Orphanage
RESPON MAHASISWA TERHADAP PRAKTIK PEER COUNSELING PADA MATA KULIAH KETRAMPILAN DASAR KONSELING
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i1.8552

Abstract

Pemberian pengalaman praktik merupakan komponen penting dari program pendidikan konselorPengalaman praktik konseling dalam pendidikan konselor diharapkan bisa membantu mahasiswa untuk bisa lebih menguasai materi yang dipelajarinya dalam mata kuliah Ketrampilan Dasar Konseling (KDK). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon mahasiswa terhadap praktik peer counseling pada mata kuliah Ketrampilan Dasar Konseling. Penelitian ini merupakan jenis pre-eksperimental design dengan menggunakan one shoot case study design dan teknik one stage cluster random sampling. Analisis data yang digunakan yaitu analisis deskriptif prosentase. Hasil analisis data menunjukkan respon positif sebesar 91.76%; baik dari indikator persepsi 95.12%, sikap penerimaan 89.02%, sikap persetujuan 93.90%, sikap kecocokan 94.20%, minat 86.88% dan motivasi 91.46%. Berdasarkan data tersebut bisa disimpulkan bahwa mahasiswa memberi respon yang baik atas aktivitas praktik peer counseling sebagai media pengalaman praktik konseling dalam mata kuliah Ketrampilan Dasar Konseling. Atas dasar simpulan penelitian ini bisa disarankan kepada pengajar atau dosen mata kuliah Ketrampilan Dasar Konseling sebaiknya mempertahankan model peer counseling sebagai media pengalaman praktik konseling pada mata kuliah Ketrampilan Dasar Konseling.Giving practical experience is an important component of counselor education program. Counseling practice experience in counselors education are expected to help students to be more competent in basic counseling skills subject. The aim of this research are evaluating the effectiveness of peer counseling practice. This study is a pre-experimental design using shoot one case study design and the sampling technique used is one stage cluster random sampling. Descriptive analysis percentage used as data analysis methode. Results of percentage data analysis student to the peer counseling model showed a positive response at 91.76%, from indicators of perception 95.12%, acceptance 89.02%, approval attitude 93.90%, suitability attitude 94.20%, interest 86.88%, and motivation 91.46%. Thus, it means that the hypothesis is accepted that students respond positively to peer counseling practices and effective as media experience counseling practice . Suggestions from this research that peer counseling model should be applied as a model of peer counseling media experience counseling practice in the subject of KDK .
Hubungan Antara Adult Attachment Style dan Kesiapan Menjadi Orang Tua pada Masa Dewasa Awal
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 2 (2019): Juli 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i2.7354

Abstract

Kesiapan menjadi orang tua pada individu dewasa awal dipengaruhi oleh berbagai hal. Salah satu faktor yang diprediksi mempengaruhi kesiapan individu menjadi orang tua adalah adult attachment style. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara adult attachment style dan kesiapan menjadi orang tua pada individu dewasa awal. Menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, penelitian ini melibatkan 150 wanita dewasa awal di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah yang terpilih melalui teknik pengambilan sampel purposive sampling. Data penelitian diambil dengan skala adult attachment style, yang terdiri dari tiga tipe yaitu secure, avoidant, ambivalent dan skala kesiapan menjadi orang tua. Selanjutmya, data dianalisis dengan teknik korelasi spearman non parametric. Penelitian menemukan bahwa hasil uji korelasi secure attachment style dan kesiapan menjadi orangtuamenghasilkan nilai rs 0,089 dengan taraf signifikansi p=0,279 dimana p0,05. Hasil inimenunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara secure attachment style dan kesiapan menjadi orang tua pada individu dewasa awal. Namun demikian, hasil uji korelasi avoidant attachment style dan kesiapan menjadi orangtua menghasilkan nilai rs -0,225 dengan taraf signifikansi p=0,006 dimana p0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara avoidant attachment style dan kesiapan menjadi orangtua pada individu dewasa awal. Sama halnya dengan hasil uji korelasi ambivalent attachment style dankesiapan menjadi orangtua diperoleh rs -0,248 dengan taraf signifikansi p=0,002 dimana p0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara ambivalent attachment style dan kesiapan menjadi orangtua pada individu dewasa awal.Readiness for parenting in early adulthood is affected by several factors. One of the factors probably affecting the readiness for parenting is adult attachment style. This reserach is aimed to investigate the correlation between adult attachment style and readiness for parenting in early adulthood. Used descriptive quantitative approach, 150 early adulthood women on Brebes Regency, Central Java ilvolved as the subjects of this research. The subjects were selected by using purposive sampling technique. The data were obtained by using adult attachment style scale which consist of three types these are: secure, avoidant, ambivalent; and readiness for parenting scale. The data were analyzed by using spearman non parametric correlation technique. The result of correlation between secure and readinessfor parenting reveals rs 0,089 with significance level of p=0,279 in which p0,05. It suggests that there is no correlation between secure with readiness for parenting. Avoidant andreadiness for parenting correlation test reveals rs -0,225 with significance level of p= 0,006 in which p0,05. That result suggests that there is a negative relation between avoidant with readiness for parenting. The result of correlation between ambivalent and readiness forparenting reveals rs -0,248 with significance level of p=0,002 in which p0,05. That result indicates that there is a negative relation between ambivalent and readiness for parenting.
Perbedaan Successful Aging pada Lansia Ditinjau dari Jenis Kelamin
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 6, No 2 (2014): Juli 2014
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v6i2.13317

Abstract

Abstrak. Peningkatan pertumbuhan lansia secara kuantitas belum diikuti dengan peningkatan kualitas hidup. Menurunnya produktivitas menyebabkan buruknya kondisi sosial, ekonomi, derajat kesehatan dan kemandirian. Successful aging atau menjadi tua dengan sukses merupakan tujuan dari perkembangan tahap akhir pada lansia. Lansia yang telah memiliki pencapaian successful aging yang tinggi tentunya akan merasa bahagia dengan kehidupannya di masa sekarang di dalam successful aging ini terdapat empat aspek meliputi : functional well, selection optimimatization compensation, psychological well-being, primary and secondary control. Perbedaan pencapaian successful aging dipengaruhi oleh perbedaan perubahan salah satunya adalah pada lansia pria tidak semuanya mengalami andropause sedangkan pada lansia wanita kebanyakan telah terjadi menopause, salah satu perubahan pada aspek functional wellmerupakan salah satu indikator terjadinya perbedaan pencapaian successful aging  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan successful aging pada lansia pria dan lansia wanita. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif komparatifsubjek pada penelitian ini adalah sebanyak 90 orang anggota PWRI ranting Kecamatan Tambakromo Kabupaten Pati. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling atau penelitian populasi, skala yang diberikan adalah skala successful aging. Hasil dari uji normalitas lansia pria yaitu K-Sz = 0,976 dan signifikansinya sebesar 0,296 sedangkan pada lansia wanita K-Sz = 0,857 dan signifikansinya 0,454 dan karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,087 (a = 0,05), maka dapat dikatakan bahwa sebaran data berdistribusi normal. Uji homogenitas menghasilkan angka signifikasi di atas 0,05 (0,550 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa data hasil penelitian ini homogen.Hasil dari perhitungan uji hipotesis menunjukkan terdapat perbedaan successful aging pada lansia pria dan wanita, dengan taraf signifikansi p = 0,001. Hasil nilai p 0,05, berarti bahwa Ha diterima yang artinya ada perbedaan successful aging antara lansia pria dan wanita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum terdapat perbedaan pencapaian successful aging antara lansia pria dan lansia wanita, hal ini diakibatkan oleh perbedaan perubahan yang terjadi seperti perubahan fisik, mental, kondisi sosial dan ekonomi. Terdapat perbedaan hasil hitung dari meanlansia pria dan wanita. Kata Kunci: Successful Aging, Lansia, Jenis Kelamin Abstract. Elderly growth in quantity has not been accompanied by improved quality of life . Decreased productivity resulted in poor social conditions , economic , health status and self-reliance . Successful aging or getting old with success is the goal of the development of the final stages in the elderly . Seniors who already have a high achieving successful aging will certainly feel happy with life in the present in the successful aging , there are four aspects include : functional well , optimimatization compensation selection , psychological well -being , primary and secondary control. Differences in the achievement of successful aging is influenced by differences in change one of them is not all the elderly men experiencing andropause whereas in older postmenopausal women mostly have occurred , one of the changes in the functional aspects of the well is one of the indicators of successful aging achievement discrepancy purpose of this study was to determine the difference successful aging in elderly men and elderly women .  This study is a comparative quantitative research subjects in this study were as many as 90 members of the district branch PWRI Tambakromo Pati . The sampling technique used in this study is the total sampling or study population , given the scale is the scale of successful aging . Results of tests of normality elderly men 's K - Sz = 0.976 and 0.296 , while the significance of elderly women K - Sz = 0.857 and 0.454 significance and because of greater significance value of 0.087 (  = 0.05 ) , it can be said that the distribution of normal distribution of data . Homogeneity test gives the figure of significance above 0.05 ( 0.550 0.05 ) , it can be concluded that the data from this study homogeneous . Results of the hypothesis test calculations show there is a difference successful aging in older men and women , with a significance level of p = 0.001 . Results of p 0.05 , means that Ha is accepted that successful aging means that there is a difference between elderly men and women. The results showed that in general there are differences in the achievement of successful aging among elderly men and elderly women , it is caused by differences in the changes that occur as changes in physical , mental , social and economic conditions . There are differences in the results of the mean count of elderly men and women.
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP METODE MENGAJAR GURU MATEMATIKA DENGAN MINAT BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 03 KERYATASA BANJARNEGARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 7, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v7i1.11612

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mengetahui hubungan antara persepsi dengan minat siswa. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Subjek pada penelitian ini berjumlah 53 siswa. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Persepsi siswa diukur dengan skala persepsi siswa. Skala minat siswa mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,881. Skala persepsi siswa terdiri dari 28 item yang valid dengan rentang koefisien validitas dari 0,301 sampai dengan 0,706. Sedangkan minat siswa diukur dengan skala minat. Skala minat  mempunyai koefisien reliabilitas sebesar 0,858. Skala minat terdiri dari 25 item yang valid dengan rentang koefisien validitas dari 0,395 sampai dengan 0,634. Uji korelasi menggunakan teknik korelasi product moment. Hasil penelitian menunjukkan variabel persepsi siswa tergolong dalam kriteria tinggi. Demikian juga dengan variabel minat tergolong dalam kriteria tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara persepsi dengan minat siswa. Korelasi antara persepsi dengan minat   siswa diperoleh koefisien r = 0,768 dengan signifikansi atau p = 0,000. Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara persepsi  dengan minat siswa pada kelas V SD Negeri 03 Kertayasa Banjarnegara. Kata kunci: persepsi, minat siswa.  Abstract. This research to investigate and determine the relationship between perception and interests of students. This study is a quantitative correlation. Subjects in this study is 53 students. The sampling technique used is total sampling. Measured by students 'perceptions of students' perception scale. The scale of interest students have reliability coefficient of 0.881. The scale consists of 28 students' perceptions of valid items with validity coefficients range from 0.301 to 0.706. While student interest measured by the scale of interest. The scale has a reliability coefficient of interest of 0.858. The scale consists of 25 items of interest are valid with validity coefficients range from 0.395 to 0.634. Test correlation product moment correlation technique. The results showed variable perceptions of students belonging to the high criteria. Likewise, the variable interest belonging to the high criteria. The results showed that there is a positive relationship between the perception of the student's interest. The correlation between students' perceptions of the interest earned coefficient r = 0.768 with significance or p = 0.000 . It shows that there is a significant positive relationship between students' perceptions of the interest on the class V SD Negeri 03 Kertayasa Banjarnegara. Keywords : perception , interests of students
Peran Mediasi Psychological Capital dalam Hubungan antara Harmonious Passion dengan Subjective Well-Being
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 3 (2018): November 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i3.18864

Abstract

Abstrak. Persaingan antar perusahaan dengan fokus industri yang sama semakin ketat saat ini, sehingga idealnya perusahaan membutuhkan karyawan yang memiliki produktivitas kerja yang tinggi dan kesehatan mental yang baik. Tujuan dari penelitian ini berfokus pada peran mediasi dari pscychological capital dalam hubungan harmonious passion dan subjective well-being pada karyawan. Penelitian ini menggunakan conservation of resource theory (COR) sebagai teori yang menjelaskan bagaimana autonomi dan cognitive resource dari karyawan yang memiliki keinginan dan target untuk sukses merupakan suatu sumber daya individu yang dapat membantu karyawan dalam mengembangkan dan meningkatkan subjective well-being (kepuasaan hidup yang tinggi, positif afek yang tinggi dan negatif afek yang rendah) pada karyawan. Responden dari penelitian ini adalah 240 karyawan dari BPD X (Bank Pembangunan Daerah) dan peneliti menggunakan SPSS 23.0 dan Process Macro 2.16 untuk menguji hubungan korelasi dan peran mediasi. Penelitian ini menggunakan alat ukur yang telah diadaptasi dari alat ukur aslinya, yaitu Passion Scale (2003), Psychological Capital Questionnaire (2007) dan Satisfaction with Life Scale (1985). Hasil penelitian ini mendukung model penelitian dan memberikan saran atas pentingnya peran mediasi dari psychological capital dalam hubungan antara harmonious passion dan subjective well-being pada karyawan bank.Kata kunci : Harmonious passion, Psychological capital, Subjective well-being, conservation of resource theory.       Abstract. Competition between companies with the same industry focus is getting tighter now, so ideally companies need employees who have high work productivity and good mental health. The purpose of this paper is to extend knowledge about the role of psychological capital on relationship between harmonious passion and subjective well-being on employees at work. The research model, grounded in conservation resource of theory on how autonomy and cognitive resources of employee with harmonious passion for reaching success can be associated with psychological capital and how psychological capital on employee may help them develop resources which may be associated with greater subjective well-being (higher life satisfaction, higher positive affect and lower negative affect). The sample of the study is 240 BPD X (Bank Pembangunan Daerah) employees and the author test the model with SPSS 23.0 and Process Macro 2.16. This study using an adaptation scale of Passion Scale (2003), Psychological Capital Questionnaire (2007) and Satisfaction with Life Scale (1985). Result supported the full research model, suggesting that psychological capital is an important mediator between harmonious passion and subjective well-being.
Studi Deskriptif Resistensi Individu Terhadap Perubahan Peraturan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Candisari Semarang
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 1, No 1 (2009): Maret 2009
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v1i1.8892

Abstract

According to the Financial Minister Decree No. 132/PMK.01/2006   Organization and Work Order of Vertical Instance of Tax General Directorate, the Semarang Pratama Tax Service Office had changed. Despite of the universal and inevitable nature of a change, it rarely took place smoothly, readily and proportionately. A resistance toward a change was a behavioral or emotional respond to the real work or desired change. The sample at this research were 50 employees of Semarang Pratama Tax Service Office of Candisari. The instrument used was psychology scale. For the validity test, the writer employed the formula of product moment correlation. Meanwhile, for the reliability test, used the Alpha Cronbach technique. The data were analyzed, used descriptive statistics. The overall data was processed using the assistance of program computer of SPSS version 12.0 for Windows. The resistance rate of the employees of the office experienced was bipolarization. The research, result shows that the logical resistance rate was of 40%, sociological of 38%, and psychological of 24% on the highest criteria. It suggested that in general, the reaction or attitude displayed by the employees tended to be based on the logical or rational aspect in facing the change. And it was caused by the lack of information and knowledge about the change. Based on the research result, it was proposed for the Semarang Pratama Tax Service Office of Candisari to socialize further more to its employees the whole information about Pratama Tax Service Office, since the unwillingness to support the regulation change of Pratama Tax Service Ojfice was due to the lack of understanding of it wholly in most of them.  
Saat Prestasi Menipu Diri: Peran Harga Diri dan Ketangguhan Akademik terhadap Impostor Phenomenon
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i2.20614

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara self-esteem dan academic hardiness terhadap impostor phenomenon mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif korelasional, Penelitian melibatkan  291 orang subjek. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data penelitian menggukana tiga skala yaitu Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), Copersmith Self-esteem Inventory (CSEI), dan Academic Hardiness Scale (AHS). Data penelitian dianalisis dengan menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh negatif self-esteem dan academic hardiness terhadap impostor phenomenon. Secara simultan self-esteem dan academic hardiness memberikan pengaruh 32.7% terhadap terjadi impostor phenomenon di kalangan mahasiswa.This study aims to determine the effect of sel-esteem and academic hardiness on student impostor phenomena. The method used in this study is a correlational  quantitative method. The research involved 291 subject — data collection techniques using purposive sampling techniques. Retrieval of research data uses three scales, namely Clance Impostor Phenomenon Scale (CIPS), Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI), and Academic Hardiness Scale (AHS). This study used multiple linear regression analysis. The results showed that self-esteem and academic hardiness have positive significant effect on the impostor phenomenon. Self-esteem and academic hardiness contributed 32.7% to the students impostor phenomenon.
TERAPI KOGNITIF PERILAKU PADA REMAJA DENGAN GANGGUAN KOMORBID PERILAKU MENENTANG DAN DEPRESI YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 3 (2017): November 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i3.14110

Abstract

Abstrak.Pengasuhan dan kondisi panti asuhan seringkali dianggap kurang kondusif untuk perkembangan anak serta remaja yang ada di dalamnya. Hal ini kemudian dibuktikan oleh banyaknya penelitian yang menyebutkan banyaknya permasalahan anak dan remaja di panti asuhan. Salah satu gangguan yang paling banyak terjadi adalah Gangguan Perilaku (GP), terutama yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah Gangguan Perilaku Menentang (GPM). Subjek dalam penelitian ini adalah seorang remaja laki-laki usia 15 tahun yang dirujuk kepada psikolog karena menunjukkan gejala GPM. Penelitian ini menggunakan studi kasus di mana proses pengumpulan data menggunakan multi sumber yaitu wawancara kepada orang di sekitar subjek, observasi, dan asesmen psikologi. Hasilnya menunjukkan bahwa selain gejala GPM subjek juga menunjukkan depresi yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa subjek mengalami gangguan komorbid. Penanganan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kognitif perilaku sebanyak delapan pertemuan, yang terdiri atas penanganan komponen kognitif, emosi, dan perilaku. Hasilnya, subjek mengalami peningkatan dalam berpikir secara seimbang tentang dirinya yang berpengaruh terhadap kondisi emosi dan perilakunya. Di dalam artikel ini juga didiskusikan tentang dimensi gejala dalam GPM yang memprediksi terjadinya komorbiditas dengan gangguan afektif.Kata kunci: gangguan perilaku menentang, remaja, terapi kognitif perilaku, panti asuhan Abstract. Parenting and orphanage are often considered less conducive to the development of children and adolescents. This is evidenced by many studies that mention many problems of children and adolescentsot orphanages. One of the most common disruptions is Behavioral Disorder (GP), those discussed in this study are Behavioral Disorder (GPM). Subjects in this study were a 15-year-old male teenager who is showing symptoms of GPM. This study uses case studies and the process of collecting data using multiple sources of interviews to people around the subject, observation, and psychological assessment. The results showed that in addition to symptoms GPM subjects also showed high depression. This indicates that the subject has comorbid disorders. Handling is done through the cognitive approach to the behavior of eight meetings, which consists of handling cognitive, emotional, and behavioral components. To sum up, the subject has increased in thinking in a balanced about himself that affects his emotional state and behavior. In this article is also discussed about the dimensions of symptoms in GPM that predict the occurrence of comorbidities with affective disorders.
ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI DAN RELIABILITAS KOMPOSIT PADA “WARWICK-EDINBURG MENTAL WELL-BEING SCALE”
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 2 (2017): Juli 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i2.11603

Abstract

Abstrak. Tujuan penelitian ini melakukan uji validasi dan uji reliabilitas mengenai konsep kesejahteraan mental melalui skala well being Warwick-Edinburg. Mental well being adalah gambaran kenyamanan terkait kondisi mental pada mind set individu. Kondisi mental well-being bersifat fluktuatif dan relatif. Metode penelitian menggunakan tehnik standar CFA untuk melakukan penyelidikan mengenai konstruk laten dalam kesejahteraan mental dan uji reliabilitas menggunakan composite reliability dari Raykov. Subjek penelitian berjumlah 200 orang dengan latar belakang pendidikan mahasiswa dan pelajar, yang berusia remaja. Piranti lunak yang digunakan adalah R dan Lisrel 8.8 (student version). Hasil penelitian menjelaskan bahwa ada beberapa indikator mental well-beling yang tidak memenuhi standar. Model dalam menjelaskan antara matriks kovarian data dengan teori juga bisa dikatakan kurang fit. Meskipun demikian uji reliabilitas tercapai koefisien yang signifikan dan bisa dikatakan layak.Kata kunci : kesejahteraan mental, validitas, reliabilitas Abstract. This study was to test the validation and reliability testing of the concept of mental wellbeing through Edinburg Warwick well being scale. Mental well being is the condition of an individual who feels comfort in his mind set about his mental state. Therefore, the condition of mental wellbeing is relative and flutuatif in nature. Research method using standard CFA to conduct an investigation regarding the latent constructs in mental wellbeing and reliability testing using the composite reliability of Raykov. Subjects range from 200 people with an educational background of students and students, aged teenagers. The software used is R and LISREL 8.8 (student version). The results of the study explained that there are several indicators of mental well-being that does not meet the standard fit. The model in explaining covariance matrix of data with theory also somewhat less fit. Nonetheless reliability test achieved significant coefficients.Keyword: mental wellbeing, validity, reliability