cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Intuisi
ISSN : 25412965     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah is the scientific publication media to accommodate ideas and innovation research results of psychology academicians and other experts who are interested in the field of Psychology. Vision intuition is to encourage the development of science-based psychology, indigenous psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 558 Documents
Perceived Stress, Self-Compassion, dan Suicidal Ideation pada Mahasiswa
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 13, No 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v13i1.28912

Abstract

Suicidal ideation pada mahasiswa menjadi salah satu masalah kesehatan mental yang berdampak negatif terhadap fungsi-fungsi kehidupan termasuk meningkatkan resiko perilaku bunuh diri. Akan tetapi penelitian mengenai suicidal ideation belum banyak ditemukan di Indonesia. Berbagai teori suicidality menjelaskan perceived stress sebagai faktor kerentanan individu untuk memiliki ide bunuh diri. Meskipun demikian, tidak semua mahasiswa yang mengalami stress pada akhirnya memikirkan untuk bunuh diri. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara perceived stress dengan suicidal ideation yang dimoderasi self-compassion. Pengambilan data dilakukan kepada 261 mahasiswa aktif di perguruan tinggi dengan menggunakan Perceived Stress Scale, Self-compassion Scale, dan Suicidal Ideation Scale. Analisis statistik digunakan untuk menguji peran moderasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa hipotesis diterima, yakni terdapat efek moderasi self-compassion terhadap hubungan antara perceived stress dengan suicidal ideation (b3= -.019, R2= 0.424, p.05). Self-compassion, khususnya komponen common humanity dan mindfulness dapat melemahkan hubungan antara perceived stress dengan suicidal ideation. Peranan perceived stress terhadap kemunculan suicidal ideation tergantung dari self-compassion yang dimiliki individu. Jika mahasiswa memiliki self-compassion yang tinggi maka kecenderungan persepsi stress berkembang menjadi ide bunuh diri menjadi berkurang.Suicidal ideation among college students was a mental health problem that caused negative impact to various life functions and also increasing suicide risk. Unfortunately, studies regarding suicidal ideation were still scarce in Indonesia. Various suicidality theories explained perceived stress as an individual's vulnerability factor to have suicidal ideation. Even so, not all college students who experience stress would develop suicidal ideation. The purpose of this study was to investigate the relationship between perceived stress and suicidal ideation moderated by self-compassion. Data collection was done on 261 active college students using Perceived Stress Scale, Self-compassion Scale and Suicidal Ideation Scale. Statistical analysis was used to test the moderation effect. The results support the notion that self-compassion act as moderating variable in relationship between perceived stress and suicidal ideation (b3= -.019, R2= 0.424, p.05). One's self-compassion especially common humanity and mindfulness had potential role for weaken the relationship between perceived stress and suicidal ideation. These findings highlighted the importance of self-compassion among college students. If a college student has a high level of self-compassion, the tendency of perceived stress developing into suicidal ideation will be reduced.
EMPATI DAN EFIKASI DIRI GURU TERKAIT KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR BEBAS BULLYING
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i2.17489

Abstract

Abstrak. Bullying adalah permasalahan umum yang terjadi di seluruh negara, pada lingkungan pendidikan di sekolah manapun. Bullying hadir dalam berbagai bentuk, agresi verbal, fisik sampai pada pengucilan dari kelompok. Pelaku bullying tidak hanya terbatas pada siswa, namun juga guru kepada siswa. Penelitian ini merupakan penelitian awal yang diharapkan menjadi dasar untuk menyusun metode pelatihan yang efektif dalam menciptakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bebas bullying. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah ada perbedaan empati dan efikasi diri guru sekolah dasar (SD) laki-laki dan guru perempuan. Subjek penelitian adalah guru laki-laki dan perempuan yang bertugas di kabupaten Kudus. Instrumen penelitian menggunakan skala empati dan efikasi diri dengan teknik analisis data independent sample t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan efikasi diri antara guru laki-laki dan perempuan, dengan nilai t sebesar -0,699 df=18, (p0,05). Pada aspek empati, terdapat perbedaan dengan nilai t sebesar 3,106 df=45,15, (p0,01). Adanya perbedaan empati dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan metode pelatihan KBM bebas bullying khususnya pada pelatihan kemampuan empati pada guru laki-laki dan perempuan.        Abstract. Bullying is a common problem that occurs throughout the country, in an educational environment in any school. Bullying comes in various forms, verbal, physical aggression to the exclusion of the group. Bullying perpetrator are not only limited to students, but also teachers. This research is a preliminary study which is expected to be the basis for formulating effective training methods in creating free bullying teaching activities. This study aims to examine whether there are differences in empathy and self efficacy of primary school teachers (SD) men and female teachers. Research subjects were male and female teachers who served in Kudus. The research instrument used empathy scale and self efficacy with independent data t test. The results showed that there was no difference of self efficacy between male and female teacher, with t value of -0,699 df = 18, (p 0,05). In aspect empathy, there is difference with t value equal to 3,106 df = 45,15, (p 0,01). The difference of empathy can be concluded that there are different methods of training KBM-free bullying, especially on training the ability of empathy in male and female teachers. 
HUBUNGAN ANTARA THE BIG FIVE PERSONALITY TRAITS DENGAN FEAR OF MISSING OUT ABOUT SOCIAL MEDIA PADA MAHASISWA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 3 (2016): November 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i3.8661

Abstract

Abstrak. Keinginan untuk selalu mengetahui update pada media sosial dapat menyebabkan individu memiliki ketakutan untuk selalu ingin melihat update di media sosial. Ketakutan ini dapat terjadi pada siapa saja termasuk pada mahasiswa sebagai pengguna aktif media sosial. Ketakutan yang dirasakan setiap individu dapat berbeda. Perbedaan individu salah satunya dapat diihat dari trait kepribadian. Salah satu teori trait kepribadian adalah the big five personality traits, yakni openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara the big five personality traits dengan fear of missing out about social media. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Sampel penelitian berjumlah 643 mahasiswa dengan menggunakan multistage cluster sampling. Data penelitian the big five personality traits diambil menggunakan skala Big Five Inventory. Variabel kedua diukur dengan skala fear of missing out about social media. Hasil analisis ini menghasilkan koefisien korelasi secara stimultan dengan r= 0,248 dan signifikansi atau p = 0,000, sehingga hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara the big five personality traits dengan fear of missing out about social media diterima. Hasil penelitian menunjukkan trait kepribadian yang memiliki korelasi positif dengan fear of missing out about social media yaitu extraversion dan agreeableness. Sedangkan neuroticism berkorelasi negatif, conscientiousness tidak berkorelasi dan openness dinyatakan tidak liniear sehingga tidak dilakukan uji hipotesis.Abstract. The longing to always knowing the update in social media causes each individual has fear for always knowing their friend’s update in social media. This fear could raise to anyone including students as the active users of social media. The fear that raises each of individual may differ from one another. One of them is individual differencess that can be seen from personality trait. One of the personality trait theory is the big five personality traits, which are openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, neuroticism. The purpose of this research is to know the relationship between the big five personality traits and fear of missing out about social media.This research is quantitative correlation research. The samples of this research are 643 students by using multistage cluster sampling. The data of the big five personality traits is taken using adapted Big Five Inventory scale totaling 44 items. The second variable measure by The fear of missing out about social media scale is modification from previous research which has 19 items. The analysis is resulting r= 0,248 with significance or p = 0,000, so that hypothesis which claims the relationship between the big five personality traits and fear of missing out about social media is accepted. The result shows personality trait that has positif correlation with fear of missing out about social media is extraversion and agreeableness. Meanwhile, neuroticism is negatively correlated, conscientiousness is not correlated and openness personality trait is claimed not linear so no hypothesis test needed. The recommendation which could be given is that we should use social media wisely because the more time spent on surfing, especially in social media could make the user feels the fear of missing the updates in social media and it could grows into internet addiction.
Perancangan Motion Comic sebagai Media Edukasi tentang Kepedulian terhadap Gangguan Kecemasan Sosial pada Remaja
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i1.23503

Abstract

Gangguan kecemasan sosial merupakan kondisi seseorang merasa cemas ketika berada di lingkungan sosial seperti takut menatap orang lain, takut diperhatikan di depan umum, dan takut akan penilaian yang diberikan orang lain. Gangguan ini kurang disadari oleh masyarakat, serta disadari sebagai masalah inheren dari suatu individu. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan media motion comic sebagai edukasi tentang kepedulian terhadap gangguan kecemasan sosial agar dapat disadari oleh penderita dan orang disekitarnya sehingga dapat memperoleh treatment yang tepat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran. Proses penelitian diawali dengan memberikan kuesioner kepada 30 remaja kemudian dilakukan wawancara terhadap ahli psikologi, ahli komik, dan guru seni. Hasil perancangan berupa video komik bergerak mengenai penderita gangguan kecemasan sosial dan gejala yang muncul dengan beberapa tambahan efek suara. Hasil ulasan kepada ahli psikologi, ahli komik, guru seni, dan siswa sekolah menengah, menunjukkan bahwa perancangan motion comic mengenai edukasi tentang kepedulian terhadap gangguan kecemasan sosial untuk remaja ini sudah cukup baik. Media motion comic dapat menyampaikan pesan kepada target sebagai media edukasi tentang kepedulian terhadap seseorang yang mengalami gangguan kecemasan sosial.  Social anxiety disorder is a condition of someone feeling anxious when in a social environment such as fear of staring at others, fear of being watched in public, and fear of judgment given by others. This disorder is less recognized by the community, and recognized as an inherent problem of an individual. This research aims to create a motion comic media as an education about caring for social anxiety disorder so that it can be realized by sufferers and those around them so they can get the right treatment. The research method in this study is mixed methods. Data collection technique started by giving questionnaires to 30 teenagers and conducted interviews with psychologists, a comic experts, and art teacher. The results of the design in the form of a moving comic video about people with social anxiety disorder and symptoms that appear with some additional sound effects. The results of the review to psychologists, comic experts, art teachers, and high school students, showed that the design of motion comics about education about caring for social anxiety disorder for adolescents was good enough. Motion comic as a media can deliver the message to the targeted participants as an educational tool to care for individuals with social anxiety disorder.
ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA PEGAWAI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 4, No 3 (2012): November 2012
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v4i3.13340

Abstract

Abstrak. Permasalahan dalam  penelitian ini adalah bagaimana Organizational Citizenship Behavior peda pegawai Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mengenai tingkat Organizational Citizenship Behavior pegawai Universitas Negeri Semarang. Sampel populasi yang digunakan sebanyah 54 responden dengan analisis data kuantitatif deskriptif.Hasil uji reabilitas diperoleh koefisien reabilitas yang tinggi sebesar 0, 915.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan Organizational Citizenship Behavior pegawai Universitas Negeri Semarang berada pada kategori tinggi. Masing-masing dimensi dalam Organizational Citizenship Behavior meliputi dimensi altruisme, conscientiousness, spotmanship, courtesy, dan civic virtue dapat diketahui bahwa hasilnya adalah tinggi. Artinya, pimpinan unit kerja pusat Universitas Negeri Semarang  melaksanakan pekerjaan dan membantu pegawai lain dalam menyelesaikan tugas-tugas sehingga menjadikan organisasi berjalan dengan efektif dan efisien.Simpulan hasil penelitian bahwa Organizational Citizenship Behavior pimpinan unit kerja pusat Universitas Negeri Semarang adalah tinggi, tinjauan dari masing-masing dimensi juga menunjukkan kategori tinggi. Peneliti menyarankan agar peneliti selanjutnya 1) mengkaji motif yang melandasi tingginya Organizational Citizenship Behavior pimpinan unit kerja pusat Universitas Negeri Semarang. 2) penelitian dengan memadukan Organizational Citizenship Behavior dengan variabel lain. 
Family Resilience pada Keluarga yang Memiliki Anak dengan Spektrum Autistik – Ditinjau dari Perspektif Ibu
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 9, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v9i1.9571

Abstract

Abstrak. Memiliki anak dengan spektrum autistik merupakan tantangan tersendiri bagi sebuah keluarga. Bagaimana respon keluarga dalam menghadapi tantangan tersebut akan menentukan perkembangan keluarga selanjutnya. Dibutuhkan respon yang adaptif dan kemampuan untuk bangkit dari situasi sulit bagi keluarga, atau family resilience agar keluarga tetap dapat berfungsi secara optimal. Penelitian deskriptif ini bertujuan untuk melihat gambaran family resilience dari perspektif  ibu selaku caregiver utama yang paling banyak berinteraksi dengan anak yang memiliki spektrum autistik. Partisipan penelitian ini adalah 148 ibu yang memiliki anak autistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan alat ukur Walsh Family Resilience Questionnaire sebagai instrumen untuk mengukur family resilience pada partisipan. Hasil penelitian ini menunjukkan mayoritas partisipan (75%) mempersepsikan tingkat family resilience yang dimiliki keluarganya berada pada kategori sedang. Selanjutnya, sebanyak 11% partisipan mempersepsi family resilience dalam kategori rendah, dan 14% kategori tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan mempersepsikan keluarganya cukup mampu beradaptasi dan bangkit dari situasi sulit yang dihadapi walaupun belum cukup optimal. Family resilience yang dimiliki keluarga partisipan merupakan modal bagi keluarga untuk dapat memaksimalkan kualitas hidupnya. Dengan reseliensi yang cukup baik, maka tingkat stres keluarga serta dampak negatif lainnya yang mungkin terjadi akan berkurang sehingga secara otomatis akan berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup keluarga.  Abstract. Having an autistic child was quite challenging. It took adaptive responses and the ability to be resilient for the family so that they able to function optimally in their life. This descriptive study aimed to gain information regarding the potrait of family resilience among families with autistic child. Participants of this study were 148 mothers who have autistic child. With quantitative approach used as methodology paradigm, this study applied Walsh Family Resilience Questionnaire to measure the participants' family resilience. The results of this study revealed that most of participants (75%) perceived the level of their family resilience as moderate level; while 11% of participants perceived it as low level, and the remains (14%) as high level. These results indicated that most participants perceived his family as quite able to adapt and quite resilient to overcome difficult situation, although still less optimal. By knowing the level of family resilience among those who have autistic child, we can manage it as a resource to encrease their quality of life.
Apakah Mahasiswa Yang Tidak Resilien Rentan Mengalami Kesepian Selama Masa Pandemi Covid-19?
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 12, No 3 (2020): November 2020
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v12i3.26201

Abstract

Virus Corona (covid-19) saat ini masih menyebar luas sehingga menyebabkan pemerintah menerapkan kebijakan stay at home dan social distancing kepada seluruh masyarakat termasuk para mahasiswa untuk belajar di rumah. Kebijakan tersebut tentu berdampak pada berbagai aspek kehidupan mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga kesejahteraan psikologis masyarakat. Salah satu permasalahan psikologis yang muncul adalah kesepian. Menurut beberapa literatur psikologi, ketahanan yang baik dibutuhkan untuk menghadapi kondisi yang sulit dan mengubahnya menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Inilah yang disebut sebagai resiliensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara resiliensi dan kesepian pada mahasiswa selama masa social distancing pandemi Covid-19. Survei online dilakukan dengan menggunakan dua skala, yaitu skala kesepian dan skala resiliensi. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik convenience sampling. Subjek yang terlibat adalah sebanyak 355 mahasiswa. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan dengan teknik korelasi Rank Spearman, diperoleh koefisien korelasi antar variabel sebesar -0,558 dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 sehingga p0,01. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan negatif yang signifikan antara resiliensi dan kesepian pada mahasiswa selama masa social distancing yang mereka jalani. Maknanya adalah semakin tinggi resiliensi maka akan semakin rendah kesepian pada mahasiswa di masa social distancing pandemi Covid-19, dan begitupun sebaliknya.The corona virus (covid-19) is currently still widespread, its causing the government has implemented to stay at home and social distancing for the entire community including students to study at home. This policy certainly has an impact on various aspect of life from the economy, education, to the psychological well-being of society. One of the psychological problems that emerge is loneliness. According to some psychological literature, good resilience is needed to face difficult conditions and turn them into something that is normal to overcome. This is what known as resilience. This study aimed to determine the relationship between resilience and loneliness in students during the social distancing period of the covid-19 pandemic. The online survey conducted using two scales; they were the loneliness and the resilience scale. The technique used in this study was the convenience sampling technique. The participants were 355 subjects. According to the results of data analysis performed using the Spearman Rank correlation technique, the correlation coefficient of -0.558 with a significance value of 0,000 so that p0.01. The result showed that there was a significant negative relationship between resilience and loneliness in students during the social distancing they live. The negative direction of the relationship means that the higher the resilience, the lower the loneliness of students during the social distancing of the Covid-19 pandemic, and vice versa.
PELATIHAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL PADA ATASAN UNTUK PENINGKATAN KOMITMEN ORGANISASI KARYAWAN DI HOTEL “X” YOGYAKARTA
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 10, No 1 (2018): Maret 2018
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v10i1.17384

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan kepemimpinantransformasional pada atasan untuk peningkatan komitmen organisasi karyawan di hotel XYogyakarta. Subjek penelitian adalah 34 karyawan Hotel X Yogyakarta yang merupakansubordinat atau bawahan. Adapun intervensi yang diberikan berupa pelatihankepemimpinan transformasional kepada para Head of Departement (HOD) yangberjumlah 8 orang. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah skala komitmenorganisasi yang mengacu pada organizational commitment questionnaire (OCQ) yangdikembangkan oleh Allen Meyer (1990), yang terdiri dari tiga komponen yaitu:komponen afektif, komponen kontinuans, dan komponen normatif. Desain eksperimenyang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest-posttest design dengananalisis data uji statistik parametrik, yaitu paired sample t-test. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa t = 7,325, (p0,001) sehingga hipotesis penelitian diterima. Artinya,ada perbedaan yang signifikan antara komitmen organisasi karyawan sebelum diberikanpelatihan kepemimpinan transformasional pada atasan dan setelah diberikan pelatihankepemimpinan transformasional pada atasan. Abstract. This study aims to analyze the effect of transformational leadership training to managersto enhance employee‟s organizational commitment at Hotel “X” Yogyakarta. Subjectswere 34 employees who are subordinates and 8 Head of Department (HOD) who weregiven intervention of transformational leadership training. Data collection that used inthis study is the scale of organizational commitment refers to the organizationalcommitment questionnaire (OCQ) developed by Allen Meyer (1990), which consists ofthree components: affective component, continuans component, and normativecomponent. Experimental design used in this study is one group pretest-posttest designwith parametric statistical analysis of test data using Paired Sample T-Test. The resultsshowed that t = 7.325, (p0.001), therefore the research hypothesis is accepted. Thisstudy concludes that there is a significant difference between the organizationalcommitment of employees before transformational leadership training given to themanagers and after being given the transformational leadership training to theirmanagers.
HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS DZIKIR DENGAN OPTIMISME KESEMBUHAN PADA PECANDU NARKOBA DI PONDOK REHABILITASI
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 8, No 2 (2016): Juli 2016
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v8i2.8620

Abstract

Abstrak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran intensitas dzikir, mengetahui gambaran optimisme kesembuhan dan menguji hubungan antara intensitas dzikir dengan optimisme kesembuhan pada pecandu narkoba di pondok rehabilitasi. Populasi penelitian ini adalah pecandu narkoba di Pondok Remaja Inabah, Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 83 orang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan dua skala, yaitu skala intensitas dzikir dan skala optimisme kesembuhan. Skala intensitas dzikir yang digunakan terdiri dari 29 aitem, dengan koefisien validitas berkisar antara 0,287 sampai dengan 0,708 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,745. Sedangkan skala optimisme kesembuhan yang digunakan terdiri dari 29 aitem, dengan koefisien validitas berkisar 0,298 sampai dengan 0,702 dan reliabilitas berkisar 0,793. Hasil penelitian menunjukan bahwa optimisme kesembuhan pada kategori sangat tinggi dengan aspek yang menonjol yaitu personalization. Intesitas dzikir pada pecandu narkoba berada pada kategori sangat tinggi, dengan aspek yang menonjol yaitu enjoying. Hasil uji korelasi menunjukan bahwa koefisien korelasi (r) intensitas dzikir dan optimisme kesembuhan pada pengguna narkoba sebesar 0,601 dengan taraf signifikansi p = 0,000 (p 0,01). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara intensitas dzikir dan optimisme kesembuhan pada pecandu narkoba”. Disimpulkan bahwa jika intensitas dzikirnya tinggi maka tingkat optimisme kesembuhannya akan tinggi dan sebaliknya jika tingkat optimisme kesembuhannya rendah maka optimisme kesembuhannya akan rendah pula. Bagi peneliti selanjutnya, hendak meneliti maupun mengembangkan penelitian sejenis untuk dapat mengeksplor informasi lebih mendalam tentang intensitas dzikir, dengan metode penelitian kualitatif.Abstract. This study has conducted in order to investigate the depiction of dzikr intensity, the depiction of healing optimism, and examine the relation between them both to the drugs addicts. The population in this study is the drugs addicts in Pondok Remaja Inabah, Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya. Sampling technics that used in conducting the study is the purposive sampling technics. The amount of the samples in this study is 83 participants. The study data gathered using two scale, those are dzikr intensity and healing optimism scales. Dzikr intensity that is used with the 0,708 and reliability coefficient around 0,745. Meanwhile, the healing optimism scale that is used is included 29 items, with the validity coefficient around 0,298 to 0,702 and the reliability around 0,793. The result of the study shows that the healing optimism on the categories above is extemely high rates in line with the major aspect that is personalization. The dzikr intensity through drugs addicts on the extremely high category, on the major aspect that is enjoying. The result of the correlation test shows that the correlation coefficient (r) dzikr intensity and the healing optimism through the drugs addicts in amount of 0,601 and significant degree p value= 0,000 (p 0,01). This result shows that there is a correlation between the dzikr intensity and healing optimism through the narcotics and drugs addicts. It was concluded that when the dzikr intensity comes higher then so does the healing optimism and the reverse, while the dzikr intensity comes lower then so does the healing optimism itself.
Fenomena Cyberslacking pada Mahasiswa
Intuisi : Jurnal Psikologi Ilmiah Vol 11, No 3 (2019): November 2019
Publisher : Jurusan Psikologi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/intuisi.v11i3.23378

Abstract

Pada zaman sekarang ini Internet telah menjadi kebutuhan yang tak terhindarkan dalam kehidupan sehari-hari terutama pada kalangan mahasiswa. Hal ini menimbulkan perilaku cyberslacking pada mahasiswa. Cyberslacking dapat ditemukan ketika mereka mengakses internet untuk hal yang tidak berkaitan dengan kelas yang sedang berlangsung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran perilaku cyberslacking pada mahasiswa jurusan psikologi Universitas Negeri Semarang. Cyberslacking terdiri atas lima aspek yaitu sharing, shopping, real time updating, accessing online content, dan gaming. Data dikumpulkan dari 42 mahasiswa dengan menggunakan skala cyberslacking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat cyberslacking pada mahasiswa psikologi  berada pada kategori sedang atau sebesar 50% (mean=74,67, SD=19,444), sementara 50% sisanya berada pada kategori rendah.Nowadays Internet has become an unavoidable necessity in daily life, especially among students. This raises cyberslacking behavior in students. Cyberslacking can be found when they access the internet for things not related to the ongoing class. The purpose of this study was to determine the description of cyberslacking behavior in psychology students at Semarang State University. Cyberslacking consists of five aspects, namely sharing, shopping, real time updating, accessing online content, and gaming. Data were collected from 42 students using the cyberslacking scale. The results showed that the level of cyberslacking in psychology students was in the moderate category or at 50% (mean = 74.67, SD = 19.444), while the remaining 50% was in the low category.