cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
JEJAK
ISSN : 1979715X     EISSN : 24605123     DOI : -
Core Subject : Economy,
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan p-ISSN 1979-715X | e-ISSN 2460-5123 is a scientific journal that contains the results of research and theoretical studies in the field of economic development, especially on matters of economic policy in Indonesia was published by the Department of Economic Development, Faculty of Economics, Semarang State University and Indonesian Economics Bachelor Society.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2013): September 2013" : 30 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA PERUBAHAN KOMPOSISI PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN DAERAH DI PROVINSI BALI Rahayu, Shabrina Umi; Dewi, Surya
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3884

Abstract

This study aimed to determine the relationship changes in the composition of the population by age, employment status, field of work, gender and type of work in encouraging regional development, especially in the Bali Province. This research is a descriptive study based on an analysis of current phenomena. The results showed that the variables of age, employment status, field of work, gender and type of work to encourage regional development, especially in Bali Province. This results implied that the development policy will be applied must be able to adjust to the conditions of the population or society Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan komposisi penduduk yang dilihat berdasarkan umur, status pekerjaan, lapangan usaha, jenis kelamin dan jenis pekerjaan dalam mendorong pembangunan daerah khususnya di Provinsi Bali. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang didasarkan pada analisis terhadap fenomena terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel umur, status pekerjaan, lapangan usaha, jenis kelamin dan jenis pekerjaan mendorong pembangunan daerah khususnya di Provinsi Bali. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa arah kebijakan pembangunan yang akan diterapkan harus dapat menyesuaikan dengan kondisi penduduk atau masyarakatnya.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERIMAAN PAJAK Putri, Phany Ineke
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3889

Abstract

The purpose of this study was to analyze the influence of population, income per capita, inflation and the number of Trade Permit toward billboard tax revenue in Purbalingga. The results of this study is expected to provide benefit and input to the Local Government of Purbalingga, especially Departement of management of financial income and regional asset. Analysis tool used is multiple linear regression (Multiple Linear Regression Method) by the method of least squares Ordinary Least Square (OLS). Jointly test results showed that overall independent variables (population, income per capita, inflation, and the number of trade permit) together to show their effects on the billboard tax revenue. Adjusted R-Squared value of 0,951, which means 95,1 percent of the four independent variables. While the remaining 4,9 percent is explained by other causes outside the model. The results showed that the per capita income variable and the number of trade permit have a significant positive effect, the inflation variable has a significant negative effect, whereas a number of population variable have a positive effect which is not significant at α = 5 percent of tax revenue in Purbalingga billboard. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh jumlah penduduk, pendapatan per kapita, inflasi dan jumlah surat ijin usaha perdagangan (SIUP) terhadap penerimaan pajak reklame di Kabupaten Purbalingga. Manfaat penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan Pemerintah Kabupaten Purbalingga khususnya Dinas Pengelolaan, Pendapatan, Keuangan dan Aset Daerah. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi berganda dengan metode Ordinary Least Square (OLS). Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh secara bersama-sama variabel jumlah penduduk, pendapatan per kapita, inflasi dan jumlah surat ijin usaha perdagangan terhadap penerimaan pajak reklame. Koefisien determinasi 95,1% dapat dijelaskan oleh variabel independen terhadap variabel dependen, dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain diluar model yang diteliti. Pendapatan per kapita dan jumlah surat ijin usaha berpengaruh signifikan positif, sedangkan inflasi berpengaruh signifikan negatif dan jumlah penduduk tidak berpengaruh terhadap penerimaan pajak reklame.
MODEL INKLUSI KEUANGAN PADA UMKM BERBASIS PEDESAAN Irmawati, Setyani; Damelia, Delu; Puspita, Dita Wahyu
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3885

Abstract

In general, regional economy is supported by micro, small and medium enterprises (SMEs). They have important role in promoting economic growth in Indonesia. In Indonesia, there are various types of SMEs that are spreadout throughout the region, one of which is batik SMEs. Klaten regency has the largest number of Batik SMEs in Central Java province. Commonly, the issue of SMEs in general is the problem of capital. To overcome this issue, there is a model named “Financial Inclusion” to encourage the financial system to be accessible by society. The purpose of this study is to identify the application of financial inclusion in rural-based batik SMEs in Klaten regency and analyze its strengths, weaknesses, opportunities, and obstacles in the implementation of financial inclusion in the SME. Data analysis technique used is descriptive analysis and SWOT analysis. The results revealed that the form of the model of financial inclusion for SMEs Batik in Klaten regency is financial institutions in terms of capital. This is in the form of low interest loans and KUR (Business Credit fo Society). Then, there is a provision of assistance from financial institutions. In terms of marketing, it is necessary for SMEs in having intensive assistance, participating in batik exhibition and advertisement. Having applied this model, it is expected that SMEs Batik Klaten will be well-improved. Perekonomian daerah pada umumnya ditopang oleh Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Perannya sangat vital dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Di Indonesia terdapat berbagai jenis UMKM yang tersebar diseluruh wilayah, salah satunya adalah UMKM batik. Kabupaten Klaten memiki jumlah UMKM batik terbanyak di provinsi Jawa Tengah. Persoalan UMKM pada umumnya adalah masalah permodalan. Untuk mengatasinya terdapat satu model bernama “Inklusi Keuangan” yang dapat mendorong sistem keuangan agar dapat diakses seluruh lapisan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi penerapan inklusi keuangan pada UMKM batik berbasis perdesaan di Kabupaten Klaten serta menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan hambatan dalam penerapan inklusi keuangan pada UMKM tersebut. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis SWOT. Hasil yang diperoleh yaitu model inklusi keuangan untuk UMKM Batik di Kabupaten Klaten yaitu masuknya lembaga keuangan dalam segi permodalan yaitu berbentuk kredit bunga rendah dan KUR, yang selanjutnya dilakukan pendampingan dari lembaga keuangan. Sedangkan dari segi pemasaran, diperlukan adanya pendampingan intensif, pengikutsertaan pameran batik serta advertisement. Dengan model tersebut, diharapkan akan terbentuk UMKM Batik Klaten yang berkualitas.
IDENTIFIKASI KELUARGA MISKINDI SEKTOR PERTANIAN DAN NON PERTANIAN KABUPATEN BANTUL Karsinah, Karsinah
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3890

Abstract

Bantul regency is a one region from five regencies in Jogjakarta Province. There are 17 district in Bantul regency, which is Srandakan district n the south side and sedayu district in the north side and close to the border with Sleman regency. The biggest potential is an agricultural sector, tourism,and manufacturing industry that expected to reduce the poverty level. Therefore, it is neccesary to identified a poor families in agricultural sector and non agricultural sectors. Furthermore, to identified the disparity level between an agricultural sector and non agricultural sectors at Argomulyo village (agriculture village), bangunjiwo village (handicraft industrial village) and parngtritis village (tourism vllage). The data that needed is a primary data with using a sampling method that conducted in argomulyo, bangunjiwo and parangtritis village. The responden is 30 peoples each village. The research result shows that the people in parangtritis village have the highest income per capita which is the lowest income is the people in argomulyo village. In the other side, the residential ratio in bangunjiwo village is higher than in parangtritis village. Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari lima kabupaten yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan jumlah kecamatan sebanyak 17 kecamatan dimulai dari Kecamatan Srandakan letak wilayahnya di selatan dan Kecamatan Sedayu yang letaknya di utara dan berbatasan dengan Kabupaten Sleman. Potensi yang terbesar yang dimiliki yaitu sektor pertanian , sektor pariwisata maupun sektor industri pengolahan yang diharapkan akan mampu mengurangi masyarakat miskin yang ada di Kabupaten Bantul. Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi keluarga miskin di sektor pertanian dan sektor nonpertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan identifikasi keluarga miskin di sektor pertanian dan sektor nonpertanian. Selanjutnya mengidentifikasi tingkat disparitas pendapatan antara sektor pertanian dan sektor non pertanian masyarakat Desa Argomulyo (desa pertanian), Desa Bangunjiwo (desa industri kerajinan), dan Desa Parangtritis (desa wisata). Data yang digunakan adalah data primer dengan mengambil sampel 3 desa yaitu Desa Argomulyo , Desa Bangunjiwo dan Desa Parangtritis dengan masing-masing desa sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan Desa Parangtritis mempunyai pendapatan rata-rata tertinggi sedangkan yang terendah adalah Desa Argomulyo. Sebaliknya untuk kepemilikan rumah masyarakat Desa Parangtritis masih banyak yang belum memiliki rumah sendiri dibandingkan dengan Desa Bangunjiwo yang sudah 90 % memiliki rumah sendiri.
KETAHANAN PANGAN DAN POLA DISTRIBUSI BERAS DI PROPINSI JAWA TIMUR Syaifullah, Yunan
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3881

Abstract

The problem of food security is availability, distribution and consumption. The problem of availability is limited and decreasing production capacity: the distribution’s problem are insfrastructure, institution, safety link of distribution’s and the variation production capacity between region dan season. The problem of consumption is most of energy consumption are grain and rice biased. The policy of food security not only to create the food sufficiency with development economic with rural and agriculture are the basis, but also the sufficiency of food for poor society. In order to create food reserve of society, lumbung desa is important to be improved.Masalah ketahanan pangan meliputi ketersediaan bahan pangan, distribusi dan konsumsi. Masalah ketersediaan bahan pangan dapat menurunkan kapasitas produksi : masalah distribusi ini meliputi infrastruktur, institusi, jaringan distribusi dan kapasitas produksi antara wilayah dan musim. Masalah konsumsi yang paling krusial adalah konsumsi untuk gandum dan beras. Kebijakan ketahanan pangan tidak hanya untuk menciptakan kecukupan pangan dalam hal pembangunan ekonomi, tetapi juga kecukupan pangan bagi masyarakat miskin. Dalam rangka menciptakan cadangan pangan masyarakat, Lumbung Desa penting untuk ditingkatkan.
PENGARUH PERTUMBUHAN EKONOMI, PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI TERHADAP IPM PROVINSI DI INDONESIA 2007-2011 Maulana, Ridwan; Bowo, Prasetyo Ari
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3886

Abstract

The aim of this study is to estimate and analize the characteristics of Indonesian household expenditure on goods and services, for example food, clothes, household utensils, housing, medical care, education, oil and transportation, gas, electricity and communication. Linear Expenditure System (LES) model and seemingly uncorrelated regression (SUR) estimation method were applied. This study has some conclusions. First, if ones have more incomes, they will proportionally allocate them for housing, oil and transportation, education, food, and medical care. Second, medical care, education and communication are categorized as superior or deluxe commodities. Third, the approximation of minimum living expenditure to survive is Rp 147.236 for a household per week. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dan pengaruh pertumbuhanekonomi, pendidikan dan teknologi terhadap indeks pembangunan manusia dengan menggunakan data panel pada 33 provinsi di Indonesia selama 2007-2011. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan alat analisis yang digunakan adalah regresi dengan model fixed effect. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pendidikan berpengaruh signifikan terhadap IPM.Pertumbuhan ekonomi yang baik dapat mendorong terciptanya infrastruktur yang menjadi pemicubanyaknya industri, fasilitas publik seperti pendidikan dan rumah sakit yang akan mendorong tingginya indeks pembangunan manusia. Hubungan antara pendidikan dengan kualitas hidup adalahsemakin tinggitingkatpendidikanseseorangmakasemakintinggiIPM Namun, teknologi tidak berpengaruh signifikan.
PERBANDINGAN SISTEM BAGI HASIL DAN BUNGA DI BANK MUAMALAT INDONESIA DAN CIMB NIAGA Aksin, Nur
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3882

Abstract

This research was conducted to answer academic questions, that is to compare how the profit-sharing system that is applied in syari’ah banking and the interest system applied in conventional banking, the theory of what is used in making a profit, and the advantages and disadvantages of each system. The research is descriptive analytical with juridical normative approach. The result that is gained are most of the activities of the (bank Muamalat Indonesia)BMI distribution of funds have similar pattern with conventional banking. The difference lies in the determination of the interest in Bank Niaga (conventional banking) in percentage (%), while in BMI using the expected profits (expected of profit) in a nominal amount of money. In addition, the loan agreements with Bank Muamalat when compared to the credit agreement with Bank Niaga, reflecting the differences of a substantial nature, which is the legal construction, legal elements, and clauses in the loan contract agreement.Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan akademis, yaitu bagaimana sistem bagi hasil yang diterapkan pada bank syari’ah dan sistem bunga yang diterapkan di bank konvensional, teori apa yang dipakai dalam mengambil keuntungan, serta apa saja keunggulan serta kelemahan masing-masing. Penelitian ini termasuk penelitian yuridis normative yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa sebagian besar kegiatan Bank Muamalat Indonesia (BMI) dari sisi penyaluran dana, polanya hampir sama dengan bank konvensional. Perbedaannya terletak pada penetapan bunga di Bank Niaga (konvensional) dalam prosentase (%) dan pada BMI menggunakan perkiraan keuntungan (expected of profit) dalam jumlah nominal uang. Di samping itu perjanjian-perjanjian kredit di BMI jika dibandingkan dengan perjanjian kredit di Bank Niaga, terlihat adanya perbedaan-perbedaan yang sifatnya substansial, yaitu: pertama, konstruksi hukum kedua, unsur hukum ketiga, klausula-klausula dalam akad kredit perjanjian.
DAMPAK PELAKSANAAN PROGRAM P3KUM TERHADAP KINERJA DAN KELAYAKAN USAHA KOPERASI DI KOTA SEMARANG Nihayah, Dyah Maya
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3887

Abstract

During this time the cooperative performance measurement is done by conventional financial terms based on financial statements, profitability, liquidity and solvency (RLS) as well as the implementation of the budget. This study aims to determine the performance and feasibility of KSP / USP- Cooperative as a recipient of a revolving fund P3KUM and want to know the impact of the implementation of the cooperative program P3KUM dealer. The aspect that is evaluated in terms of organizations and institutions that include; (1) The vision and mission, (2) Legality of business entities, (3) The cooperative structure, (4) Management organization (5) Human Resources Development (HRD), (6) Finance, (7) Infrastructures. The method used is the Cooperative Capacity Assessment (CCA). Respondents in this study is a cooperative that had received funds P3KUM, already incorporated and has implemented the Annual Member Meeting in 2010 and has a complete cooperative (management and members of the cooperative). From the results of this study concluded that of the 25 cooperative respondents, 20% co-operatives have a good performance appraisal at all and 80% are good .. The better the performance of which is owned by a cooperative, the more worthy of him as a funding channel P3KUM program. Feasibility is very important to ensure the success of the program P3KUM. However, the necessary guidance and supervision of the relevant authorities, so that the existence of the program run effectively and efficiently.Selama ini pengukuran kinerja koperasi dilakukan dengan cara konvensional yaitu dari segi keuangan berdasarkan laporan keuangan, rentabilitas, likuiditas dan solvabilitas (RLS) serta pelaksanaan anggaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dan kelayakan usaha KSP/ USP- Koperasi sebagai penerima dana bergulir P3KUM dan ingin mengetahui dampak pelaksanaan program P3KUM terhadap koperasi penyalur. Adapun aspek yang dievaluasi adalah dari sisi organisasi dan kelembagaan yang meliputi; (1) Visi dan misi, (2) Legalitas badan usaha, (3) Struktur koperasi, (4) Manajemen organisasi (5) Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), (6) Keuangan, (7) Sarana dan Prasarana. Metode yang digunakan adalah Cooperative Capacity Assessment (CCA). Responden dalam penelitian ini adalah koperasi yang pernah menerima dana P3KUM, sudah berbadan hukum dan sudah melaksanakan Rapat Anggota Tahunan pada tahun 2010 serta memiliki kelengkapan koperasi (pengurus dan anggota koperasi). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari 25 koperasi yang menjadi responden, 20% koperasi memiliki penilaian kinerja yang baik sekali dan 80% lainnya baik.. Semakin baik kinerja yang dimiliki oleh sebuah koperasi, maka akan semakin layak dia sebagai penyalur dana progam P3KUM. Kelayakan usaha ini sangat penting untuk menjamin keberhasilan dari program P3KUM. Meski demikian, diperlukan pembinaan dan pengawasan dari aparat terkait, supaya keberadaan program berjalan efektif dan efisien.
Crowfunding: A Way to Financing Creative Business in Australia Yudhistira, Bima
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3883

Abstract

AbstractCrowdfunding, a new term in financial industries. It provides fund for a new start-up project. In Australia where it becomes the basis of this study, Pozible as a leading crowdfunding platform has already launched 6.929 projects. The fund of US$22.930.536 was used for financing the projects, and 56 percent of the projects were successful. This research has an objective; it is to measure the degree of significancy using linear regression model. The result shows that among the businesses that has already funded by crowdfunding system, ‘video game’ is one of the most favorite project. It is successful in getting pledges. However, food and drink did not get fund as much as the favorites project. It was based on the percentage of fund that has already got from crowdfunding. In short, crowdfunding can help creative business as a top rank start-up rather than manufacture business.Crowdfunding, istilah baru dalam industri keuangan. Crowdfunding adalah dana untuk proyek rintisan. Pozible sebagai platform crowdfunding terkemuka telah meluncurkan 6,929 proyek di Australia. Negara tersebut menjadi dasar dari penelitian ini. Dana sebesar $ 22.930.536 US digunakan untuk membiayai proyek-proyek dan 56 persen dari proyek tersebut sukses. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat signifikansi dengan menggunakan model regresi linier. Hasilnya menunjukkan bahwa di antara bisnis yang sudah didanai oleh sistem crowdfunding, ‘video game’ adalah salah satu proyek yang paling favorit dan sukses dalam mendapatkan jaminan. Sedangkan makanan dan minuman tidak mendapatkan dana sebanyak proyek favorit. Hal ini didasarkan pada persentase dana yang telah diperoleh dari crowdfunding. Kesimpulannya adalah crowdfunding lebih bisa membantu bisnis kreatif sebagai a top rank start-up daripada bisnis manufaktur
ANALISIS PERUBAHAN KETIMPANGAN PENDAPATAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI ANTAR PROPINSI DI INDONESIA 2006-2011 Mahardiki, Doni; Santoso, Rokhedi Priyo
JEJAK: Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Vol 6, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jejak.v6i2.3888

Abstract

This study is to determine the level of income inequality in Indonesia period for 2006-2011 and to test whether the inequality increased significantly during that period. In addition, the purpose of this study was to map the pattern of regional classification based on economic growth. Technical analysis of inequality used is the Williamson Index and Theil Entropy Index. The Paired Sample T-Test is used to determine the significance of inequality growth from 2006 to 2011. Meanwhile the regional growth pattern was analyzed by Klassen typology. The research data includes the number of Indonesian population and Gross Domestic Product (GDP) per capita per province. According to the index calculation of Williamson, the level of income inequality in Indonesia tends to increase by 0.83 in 2011. Based on the Paired Sample T-Test it is found that the Williamson Index in 2011 increased significantly compared to that of in 2006. In contrast the Theil Index show the decreasing trend of income inequality eventhough there was slight increase at the end of period 2011.The results from the Klassen typology shows that most of region is classified as a higher growth but low income level of development. Penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat ketimpangan pendapatan di Indonesia 2006-2011 dan melihat apakah selama periode tersebut terjadi peningkatan ketimpangan yang signifikan. Selain itu juga, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola/klasifikasi daerah yang didasarkan pada pertumbuhan ekonominya. Metode perhitungan untuk analisis ketimpangan adalah Indeks ketimpangan Williamson dan Indeks ketimpangan Entropi Theil, sedangkan perkembangan distribusi pendapatan dengan Paired Sample T-Test. Analisis pola pertumbuhan menggunakan teknik Tipologi Klassen.Data penelitian meliputi jumlah penduduk Indonesia dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita per provinsi. Menurut hasil perhitungan Indeks Williamson, selama periode penelitian tingkat ketimpangan pendapatan di Indonesia menunjukkan pergerakan yang meningkat dengan nilai pada tahun 2011 sebesar 0,83. Berdasarkan uji paired t-Test ditemukan hasil bahwa terdapat ketimpangan pendapatan yang signifikan pada 2011 dibandingkan dengan 2006. Sedangkan hasil dari Indeks Theil didapatkan tingkat ketimpangan di Indonesia selama periode penelitian cenderung menurun dengan nilai sebesar 0,34 pada tahun 2011 meskipun meningkat pada akhir periode. Hasil dari tipologi Klassen menunjukkan bahwa kecenderungan provinsi berada pada kategori daerah maju tapi tertekan. 

Page 1 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 16, No 2 (2023): September 2023 Vol 16, No 1 (2023): March 2023 Vol 15, No 2 (2022): September 2022 Vol 15, No 1 (2022): March 2022 Vol 14, No 2 (2021): September 2021 Vol 14, No 1 (2021): March 2021 Vol 13, No 2 (2020): September 2020 Vol 13, No 1 (2020): March 2020 Vol 12, No 2 (2019): September 2019 Vol 12, No 1 (2019): March 2019 Vol 12, No 1 (2019): March 2019 Vol 11, No 2 (2018): September 2018 Vol 11, No 1 (2018): March 2018 Vol 10, No 2 (2017): September 2017 Vol 10, No 1 (2017): March 2017 Vol 10, No 1 (2017): March 2017 Vol 9, No 2 (2016): September 2016 Vol 9, No 2 (2016): September 2016 Vol 9, No 1 (2016): March 2016 Vol 9, No 1 (2016): March 2016 Vol 8, No 2 (2015): September 2015 Vol 8, No 2 (2015): September 2015 Vol 8, No 1 (2015): March 2015 Vol 8, No 1 (2015): March 2015 Vol 7, No 2 (2014): September 2014 Vol 7, No 2 (2014): September 2014 Vol 7, No 1 (2014): March 2014 Vol 7, No 1 (2014): March 2014 Vol 6, No 2 (2013): September 2013 Vol 6, No 2 (2013): September 2013 Vol 6, No 1 (2013): March 2013 Vol 6, No 1 (2013): March 2013 Vol 5, No 2 (2012): September 2012 Vol 5, No 2 (2012): September 2012 Vol 5, No 1 (2012): March 2012 Vol 5, No 1 (2012): March 2012 Vol 4, No 2 (2011): September 2011 Vol 4, No 2 (2011): September 2011 Vol 4, No 1 (2011): March 2011 Vol 4, No 1 (2011): March 2011 Vol 3, No 2 (2010): September 2010 Vol 3, No 2 (2010): September 2010 Vol 3, No 1 (2010): March 2010 Vol 3, No 1 (2010): March 2010 Vol 2, No 2 (2009): September 2009 Vol 2, No 2 (2009): September 2009 Vol 2, No 1 (2009): March 2009 Vol 2, No 1 (2009): March 2009 Vol 1, No 1 (2008): March 2008 Vol 1, No 1 (2008): March 2008 Vol 1, No 1 (2008): Jejak More Issue