cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang 50229
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan
ISSN : -     EISSN : 25031899     DOI : https://doi.org/10.15294/jtsp
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (JTSP) is a scientific journal which biannualy published in April and October. We firstly published in 1999 as national journal of Department of Civil Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Negeri Semarang. In 2016, JTSP was indexed in DOAJ with Green Tick critera. And in 2018, JTSP expands its range of article quality and publication through publishing English-language articles.
Arjuna Subject : -
Articles 774 Documents
ANALISA PERMINTAAN PARKIR DI STASIUN PONCOL DAN TAWANG SEMARANG Sutarto, Agung
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Activities in a railway station will generate trips which need parking space. This research is aimed  to analyze  the difference demand characteristics between Poncol and Tawang stations. These  characteristics  are  the  effect  of  ticket  price  to  trip  attraction,  trip  attraction  model, transportation mode demand and parking space demand. The economic class and transportation of goods  are  served  in  Poncol.  Bussiness  and  executive  class  is  served  in  Tawang  stastion.  The correlation  between  trip  attraction  and  the  number  of  ticket  can  be  described  in  the  following equation  : Ytrip  attraction  =  120,51  +  1,0602 Xticket      for Poncol  station,  and  : Ytrip  attraction  =  175,21 + 1,3212 Xticket      for Tawang station. Correlation between  trip attraction and  transportation mode can be described  in  the  following equation  : Ytripattr = 7,3063 + 3,271 Xprivate  car + 2,464 Xbecak + 2,406 Xmotor cycle + 2,448 Xpick up   for Poncol,  and : Ytrip attraction   =  4,467 + 3,567 Xprivate car + 2,517 Xmotorcycle,  for Tawang station. It can be concluded that the parking space demand for each passenger is  1,48 m2  in Poncol station and 7,3 m2  in Tawang station. Trips attraction per  ticket    is 1,0602  in Poncol station  and  1,3212  in  Tawang  station.  Transportation mode which  is  dominantly  used  in Poncol station  is   motorcycle, while  in Tawang station  is private car and motorcycle. Private car  is often used because the public transport facility could not support the train passenger’s needs. There are variable  pick-up  vehicles  in Poncol  because Poncol  station  served  passengers  and  goods. SRP which are used in Poncol station for passenger car  65 SRP, motorcycle 282 SRP, pick-up 52 SRP, and  tricycle (becak) 64 SRP.   SRP which are used  in Tawang station for passenger car 235 SRP, motor cycle 350 SRP and tricycle (becak) 13 SRP. Keywords:  trips attraction,  parking demand,  poncol station,  tawang station .   Abstrak: Kegiatan di stasiun kereta api akan menghasilkan perjalanan yang membutuhkan  ruang parkir. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  menganalisis  karakteristik  permintaan  perbedaan  antara stasiun  Poncol  dan  Tawang. Ciri  ini  pengaruh  harga  tiket  ke  atraksi  perjalanan,  model  tarikan perjalanan,  kebutuhan  transportasi  mode  dan  kebutuhan  ruang  parkir. Kelas  ekonomi  dan transportasi  barang  disajikan  di  Poncol.Bisnis  dan  kelas  eksekutif  disajikan  di  Tawang stastion. Korelasi  antara  daya  tarik  perjalanan  dan  jumlah  tiket  dapat  digambarkan  dalam persamaan  berikut: Ytrip  atraksi =  120,51  +  1,0602 Xticket  untuk  stasiun Poncol, dan: Ytrip  atraksi = 175,21  +  1,3212  Xticket  untuk  stasiun  Tawang. Korelasi  antara  daya  tarik  dan moda  transportasi dapat digambarkan dalam persamaan berikut: Ytarikan = 7,3063 + 3271 Xmobil pribadi + 2.464 Xbecak + 2.406 Xsepeda  motor  +  2.448 Xpick-up  untuk  stasiun Poncol,  dan: Ytarikan  =  4467  +  3567 Xmobil  pribadi  + 2.517 Xsepeda  motor,  untuk  stasiun  Tawang. Dapat  disimpulkan  bahwa  ruang  parkir  permintaan penumpang masing-masing 1,48 m² di stasiun Poncol dan 7,3 m² di stasiun Tawang. Perjalanan atraksi per  tiket di stasiun Poncol 1,0602 dan 1,3212 di stasiun Tawang.Transportasi modus yang dominan digunakan di stasiun Poncol adalah sepeda motor, sedangkan di stasiun Tawang adalah mobil pribadi dan sepeda motor. mobil pribadi sering digunakan karena fasilitas transportasi publik tidak dapat mendukung kebutuhan penumpang kereta. Ada variabel kendaraan pick-up di stasiun Poncol  Poncol  karena  melayani  penumpang  dan  barang. SRP  yang  digunakan  dalam  stasiun Poncol untuk penumpang mobil 65 SRP, sepeda motor 282 SRP, pick-up 52 SRP, dan  roda  tiga (becak) 64 SRP. SRP yang digunakan dalam stasiun Tawang untuk mobil penumpang 235 SRP, sepeda motor 350 SRP dan roda tiga (becak) 13 SRP Kata kunci: bangkitan perjalanan, kebutuhan parkir, stasiun poncol, stasiun tawang
TINGKAT KEBISINGAN PADA PERUMAHAN DI PERKOTAAN Fathoni Setiawan, Moch
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Permasalahan  yang  saat  ini menjadi  isu di  lingkungan perumahan adalah peningkatan pencemaran  udara  dan  kebisingan. Sumber  kebisingan  yang  dominan  di  lingkungan  perumahan adalah  berasal  dari  lalu-lintas  kendaraan  bermotor.  Jumlah  kendaraan  bermotor  di  Indonesia semakin tahun semakin meningkat, akibatnya lingkungan perumahan di Perkotaan menjadi bising. Kebisingan  sendiri  terkait  dengan  kepadatan  lalulintas. Kondisi  ini  ditambah  dengan  penyediaan sarana jalan yang tidak  memadai menjadikan lingkungan perumahan menjadi jalan pintas dari dan ke jalan umum. Hal ini semakin menimbulkan kebisingan di lingkungan perumahan. Penelitian yang dilakukan  di  Kota  Yogyakarta  dan  DKI  Jakarta  memperlihatkan  bahwa  tingkat  kebisingan  yang terjadi  di  lingkungan  perumahan  telah  berada  diatas  ambang  baku  mutu  yang  disyaratkan. Kebisingan  yang  terjadi di  lingkungan perumahan sudah  saatnya memerlukan penanganan  yang serius,  mengingat  pengaruh  buruk  dari  kebisingan  terhadap  kesehatan manusia  pada  akhirnya akan mempengaruhi  kualitas  hidup masyarakat.  Berbagai  penanganan  kebisingan  telah  banyak dilakukan terutama terkait pada 3 (tiga) hal, yaitu pada sumber suara, media suara dan penerima. Penanganan secara arsitektural  lebih  tepat ditujukan pada penanganan media perambatan suara. Pengolahan  ‘jalan’ bunyi yang dalam hal ini bertujuan untuk mengurangi kebisingan yang diterima oleh  penerima  dapat  dilakukan  dengan  cara:  Pertama,  memperpanjang  jalannya  media perambatan  dengan  cara    menjauhkan  antara  sumber  suara  dengan  penerimanya.  Kedua, memberi  penghalang  antara  sumber  dengan  penerima,  penghalang  dapat  berupa  dinding penghalang,  barier  tanaman,  maupun  fasade  bangunan  itu  sendiri.  Penanganan  secara  non Arsitektural  dapat  dilakukan  dengan  cara membuat  kendaraan  bermotor  yang  lewat  lingkungan perumahan menurunkan kecepatannya sampai kurang lebih 20 km/jam. Kata kunci: kebisingan, perumahan, lalu-lintas
KEPADATAN KOTA DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN (TRANSPORTASI) BERKELANJUTAN Haryadi, Bambang; Riyanto, Bambang
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The development of a city usually is accompanied by traffic congestion and air pollution problems. The appropriate strategy to solve these problems has been debated for long time. The proponents of new urbanism believe that the problem can be improved by forcing more people and more cars into smaller areas . They assume that by forcing densities higher, public transit can be provided better and more efficient, so that people will be more inclined to abandon their automobiles and use public transit, bicycles or walking as an alternative. On the contrary, anti-urban traditions believe that densifying urban areas will only worsen traffic congestion, and in turn will worsen air pollution. So that the best approach to solving the problem would to let urban sprawl, to dispersetraffic and to make it move faster. This paper describes both approaches and the impacts, and discuses which one is the best from Indonesian perspective.Keywords: urban density, urban sprawl, new urbanism, smart growthPerkembangan kota biasanya dibarengi dengan masalah kemacetan lalu-lintas dan polusi udara. Strategi apa yang harus ditempuh untuk mengatasi hal tersebut merupakan perdebatan yang panjang. Para pendukung new urbanism percaya bahwa kemacetan dan polusi bisa ditanggulangi dengan memaksakan lebih banyak orang dan kendaraan dalam kawasan yang sempit. Dengan lebih terkonsentrasi, penyediaan angkutan umum bisa lebih baik dan efisien, sehingga orang akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi  dan cenderung menggunakan angkuatan umum, bersepeda atau berjalan kaki. Sebaliknya budaya suburban dengan gagasan urban sprawl menganggap bahwa kemacetan disebabkan karena terlalu banyaknya kendaraan di wilayah yang sempit, dan pada gilirannya kemacetan memperparah polusi. Oleh karena itu kota harus dibiarkan berkembang menyebar, untuk menyebar lalu-lintas. Tulisan ini membahas kedua pandangan tentang kepadatan kota, dampaknya, serta mengkajinya dalam perperktif geografis dandemografis, yang manakah yang terbaik untuk Indonesia.Kata Kunci: kepadatan kota, pemekaran kota, new urbanism, pertumbuhan cerdas
TIPOLOGI POLA SPASIAL DAN SEGREGASI SOSIAL LINGKUNGAN PERMUKIMAN CANDI BARU Setyohadi K., Bambang
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Settlement environment asthe receptacle of essence societies life is a produce of people culture materialism. Result of tectonies between culture aspect and built environment thats running as comprehensivly. Candi Baru settlement as receptacle of tectonies above full of people culture element in assuming natural condition. Space structure thats unique with social segregation division (elite, neutral, bottom) to be valuable its era. Space gradation in concept where in the rear of under line settlement in the pattern of Kampung Kota" urban city by structured as organic growth. Squares and street, and mass scattered create special built as strongly in the naturalist. Special patterns mention above forming organizational element and structurals in the typology. The meaning of typology is classifications discription of the availability of type. In the element scope thats discripted for classification are two element; special of environmental communal and special of social segregation. Approaching is done by similarity in special visual in the classification of social segregation.Keywords: typology, special pattern, social segregationLingkungan pemukiman sebagai pewadahan harkat kehidupan masyarakat pada essensinya merupakan produk hasil materialisasi budaya masyarakatnya. Hasil olah tektonika antara aspek budaya (culture) dan lingkungan fisik (built enfirontment) yang berjalan secara komprehensif. Pemukiman Candi Baru sebagai hasil olah tektonika tersebut sarat akan pemaknaan unsur budaya masyarakat dalam menyikapi kondisi naturalnya. Pola struktur ruang kawasan yang spesifik (unique) dengan pembagian segregasi sosial (elit, menengah, bawah) menjadi nilai lebih pada jamannya. Konsepsi gradasi ruang, dimana pada bagian belakang pemukiman kelas menengah ini hidup pemukiman kelas bawah dalam bentuk “kampung kota” dengan struktur yang tumbuh secara organis. Ruang-ruang  terbuka dan jalan (street and square). Serta sebaran tatanan masa membentuk pola spasial yang kuat dalam sosok bentang alamnya. Pola-pola spasial tersebut membentuk elemen organisasional dan struktural ke dalam tipologi. Yang dimaksud dengan tipologi dalam hal ini adalah deskripsi klasifikasi dari tipe yang ada. Adapun lingkup unsur yang di deskripsikan klasifikasinya adalah dua unsur pokok yaitu pola spasial komunal lingkungan dan pola spasial segregasi sosial. Pendekatan dilakukan melalui kesamaan atau ketunggalrupaan visual spasial dalam satu klasifikasi segregasi sosial.Kata Kunci: tipologi, pola spasial, segregasi sosia
TINJAUAN ASPEK TATA RUANG PERKEMBANGAN KAWASAN TAWANG MAS KOTA SEMARANG Sutarto, Agung
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

For the efficiency of urban land use of the area where the economical and social-cultural activities take place, the urban area needs to be managed optimally through the urban planning. The development of Tawang Mas area is enabled by the development of  Semarang city, in consideration of land use. In 1980, Tawang Mas was a fish pond and swamp area suffering from environmental degradation, due to the shifting and moving forward of the coastal line, causing the increase of river slope and the increase of high   sediment level resulting in floods. It is important for the Government to prepare Detailed Urban Planology (RDTRK = Rencana Detil Tata Ruang Kota) year 2000 – 2010 to control the urban planning of Semarang as the developing area. Tawang Mas area is included   in Urban Area Part III. The objective of this research is to evaluated the development of Tawang Mas area in view of the Semarang urban planning aspect. It is shown from the research which is based on the inhabitants’ opinion, that the land use in      Tawang Mas is in overall had already been effective. This is because Dinas Tata Kota Semarang has been working in cooperation with the private sector to develop the Tawang Mas area. The inhabitants of Tawang Mas have also been eager to support the land use  development of their area. Besides developing the area, it is also expected that the problems of land use change and the increase of high seawater level causing frequent floods in Tawang Mas area, can be solved.Keywords: area development, land use, aspect of planologyEfisiensi pemanfaatan tata ruang sebagai tempat berlangsungnya kegiatan-kegiatan ekonomi dan sosial budaya, maka kawasan perkotaan perlu dikelola secara optimal melalui penataan ruang. Pengembangan kawasan Tawang Mas terjadi karena adanya  pembangunan kota Semarang yang mempertimbangkan rencana tata guna lahan. Tawang Mas pada tahun 1980 an merupakan daerah tambak dan rawa-rawa yang semakin lama mengalami penurunan lingkungan akibat bergeser dan majunya garis pantai sehingga  semakin landainya kemiringan sungai dan semakin tingginya tingkat sedimentasi yang sering mengakibatkan banjir. Sebagai kawasan yang berkembang, untuk mengendalikan Tata Ruang Kota maka Pemerintah perlu membuat RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang  Kota) Semarang tahun 2000 – 2010. Adapun Kawasan Tawang Mas masuk dalam Bagian Wilayah Kota (BWK) III. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi perkembangan kawasan Tawang Mas ditinjau dari aspek tata ruang perkotaan Semarang. Dari hasil  penelitian yang telah dilakukan mengenai penggunaan lahan di kawasan Tawang Mas secara keseluruhan yang diperoleh dari beberapa pendapat penduduk setempat yang berada di kawasan Tawang Mas sudah efektif. Hal ini dikarenakan Dinas Tata Kota Semarang  telah bekerjasama dengan pihak swasta untuk mengembangkan lokasi kawasan Tawang Mas dalam hal pengembangan lahan tersebut. Penduduk sekitar yang merespon pengembangan lahan kawasan Tawang Mas sangat mendukung agar kawasan Tawang Mas  menjadi lokasi strategis dalam pemanfaatan lahan di kawasan tersebut. Selain itu pengembangan lahan di kawasan tersebut diharapkan juga dapat mengatasi masalah tentang perubahan tata guna lahan dan meningkatnya tinggi muka air laut yang sering  mengakibatkan terjadinya banjir di kawasan Tawang MasKata Kunci: perkembangan kawasan, pemanfaatan lahan, aspek tata ruang
IDENTIFIKASI KAWASAN PENDUKUNG PERKEMBANGAN KOTA KALINYAMATAN KABUPATEN JEPARA Pigawati, Bitta; Permana, Saldy Ekasila
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The increasing function of Kalinyamatan from a sub ordinate district to a definite district growth significantly whereas land supply in the area are limited. Therefore, it is necessarily to be identified which area are available to support the definite function of the   district (Kalinyamatan). The main objective of the reseach is to identify which area are suitable to support the district function based on physical factors determinant. Quantitative method is used, there are factor analysis and AHP. Based on Dirjen OTDA criteria, it   can be identified 3 alternatives area to support Kalinyamatan function, Bamyuputih Village (I), Pendosowalan Village (II) and Manyar Gading Village. Differently, by using AHP it is identified that Manyar Gading Village is the most suitable area instead of 3   villages as Dirjen OTDA has proposed.Keywords: identification, support area, district growthPeningkatan fungsi dan peran Kalinyamatan dari Kecamatan Pembantu menjadi Kecamatan Kota secara definitif berkembang dengan cepat. sementara ketersediaan lahan kota sangat terbatas maka perlu diketahui kawasan mana yang nantinya akan mampu  mendukung perkembangan kota tsb. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kawasan yang diperkirakan mampu mendukung perkembangan fungsi kota berdasarkan faktor penentu perkembangannya secara fisik. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan analisis faktor dan AHP. Berdasarkan kajian kriteria wilayah pengembangan (dirjen Otonomi Daerah) dapat diidentifikasi adanya tiga alternatif kawasan yang mampu mendukung perkembangan fungsi Kota Kalinyamatan yaitu Desa Banyuputih (I) Desa  Pendosowalan (II) dan Desa Manyar Gading (III) setelah dilakukan analisis lebih lanjut dengan metode AHP dapat diketahui kawasan yang mampu mendukung perkembangan fisik Kota Kalinyamatan adalah Desa Manyar Gading.Kata Kunci: identifikasi, kawasan pendukung, perkembangan kecamatan
MEKANISME PERILAKU GERUSAN LOKAL PADA PILAR TUNGGAL DENGAN VARIASI DIAMETER Qudus, Nur
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang (UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

River has a dynamical characteristic which can change in time and place dimension. Inbalance condition, the bridge pillar would disturb the flow, and the flow reaches a balance conditionagain after bed scouring. The scouring around bridge pillar is caused by vortex system. Theseresearch would study the depth of scouring around the bridge single pilar. The depth of scouringaround the bridge pillar has been observed for 3.5 hours by using a set of recirculating sedimentflum with 6 m long; 0.21 m width and 0.30 m height in quasi-steady uniform low. The model of pillarused was circular type having dimention diameter 21.95 mm; 26.25 mm; 32.95 mm; 4175 mm and47.50 mm. The depth of scouring was measured for every running, consist of diameter variation.Flow velocity around pillar was measured for every variation that caused a minimum scour. Thepillar diameter that caused the minimum scouring was at the ground, with the diameter 21.95 mm,and the pillar diameter that caused the maximum scouring at diameter 47.50 mm.Keywords: local scouring, single pillar, diameter variation Sungai mempunyai sifat yang dinamis yang dapat berubah dalam dimensi ruang danwaktu. Pada saat kondisi seimbang, aliran akan terganggu dengan adanya pilar jembatan dan akanmembentuk kondisi seimbang lagi yang menyebabkan gerusan dasar. Gerusan di sekitar pilarjembatan yang disebabkan oleh adanya sistem vortex. Penelitian ini akan mempelajari kedalamangerusan lokal pada pilar tunggal jembatan. Kedalaman gerusan di sekitar pilar jembatan diamatiselama 3,5 jam dilakukan pada satu set recirculating sediment flume dengan panjang 6 meter, lebar0,21 meter dan tinggi 0,30 meter dengan kondisi aliran permanen seragam. Model pilar yangdigunakan adalah tipe circular dengan dimensi diameter 21,95 mm; 26,25 mm; 32,95 mm; 41,75mm dan 47,50 mm. Kedalaman gerusan diukur setiap running yang terdiri dari variasi diameter.Kecepatan aliran disekitar pilar diukur pada setiap variasi yang menyebabkan gerusan minimalterjadi. Diameter pilar yang menyebabkan gerusan minimal adalah pada dasar saluran dengandiameter 21,95 mm, dan diameter pilar yang menyebabkan gerusan maksimum pada diameter47,50 mm.Kata Kunci: gerusan lokal, pilar tunggal, variasi diameter
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT ROVING TERHADAP KAPASITAS LENTUR BALOK BETON BERTULANG Apriyatno, Henry
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Concrete is enervating the strength of pull and it is brittle in nature (it is tragile) that in aconstruction design the capacity of longitudinal concrete tension area is not computered. Theenervating concrete can be fixed by adding some fibres with the purpose to erect the concreteframe uniformly. Roving fibers are used at the composition of 1.9; 3.8; 5.7; and 7. 6% of theconcrete volume. The concrete mechanical change is determined by a concrete cylinder andconcrete block measuring 15cm x 20cm x 120cm put to experiment with their respective 15experimental objects. Refracted capacity experiment is gained from a chaste refracted block. Theresearch result shows that the fibre accretion to concrete causes the pressure capacity of concretecylinder to decrease significantly, whereas the strong pull of concrete increases. The concreteductility significantly increases, whereas the modular concrete elasticity significantly decreases, thecapacity of refracted block at the fibre compositions of 1.9 and 3.8% with the spread of 0.25h and0.5h gains a very good result.Keywords: roving fibre concrete Beton memiliki kelemahan pada kuat tarik dan sifat getasnya rendah (mudah putus)sehingga dalam perencanaan kapasitas tampang beton daerah tarik tidak diperhitungkan.Kelemahan beton dapat diperbaiki dengan menambah serat yang memiliki tujuan menulangi betondengan serat secara uniform. Serat yang dipakai adalah serat roving pada komposisi 1,9; 3,8; 5,7;dan 7,6% dari volume beton. Perubahan mekanis beton diperoleh dari uji silinder beton dan balokbeton berukuran 15 cm x 20 cm x 120 cm masing-masing 15 benda uji. Pengujian kapasitas lenturdiperoleh dari balok lentur murni. Hasil penelitian menunjukkan dengan penambahan seratmenyebabkan kapasitas tekan silinder beton secara signifikan turun, sedangkan kuat tarik betonnaik. Sifat daktilitas beton meningkat secara signifikan sedangkan modulus elastisitas beton secarasignifikan turun, kapasitas lentur balok pada komposisi serat 1.9 % dan 3.8 % dengan penyebaran0.25 h dan 0.5 h diperoleh hasil yang paling baik.Kata Kunci: beton serat roving
PERENCANAAN KOTA BERBASIS MANAJEMEN BENCANA Wilonoyudho, Saratri
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims at offering an approach in conceptualizing the regional and city planningbased on management of disaster. Change in urban land use is a phenomenon that often occursalong with the development of urban area. Urban environment as a system could be separated intosocial and ecological system. So, to avoid environment degradation as well as disaster,management of environment and social economic activities regulations are needed through theformulation of the city plan based on management disaster.Keywords: disaster, management environment, city planning, information system, sustainabledevelopment Tulisan ini menawarkan sebuah pendekatan konseptual dalam perencanaan regional danperencanaan kota yang berbasis manajemen bencana. Perubahan penggunaan lahan merupakanfenomena yang menyertai setiap pembangunan daerah urban. Lingkungan daerah urbanmerupakan sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan antara sistem sosial dan sistem lingkungan.Oleh karena itu untuk mencegah kemerosotan mutu lingkungan dan juga mencegah bencana,manajemen lingkungan dan pengaturan aktivitas sosial ekonomi sangatlah diperlukan melaluiperencanaan kota yang berbasis manajemen bencana.Kata Kunci: bencana, manajemen lingkungan, perencanaan kota, sistem informasi, pembangunanberkelanjutan
STABILISASI TANAH EKSPANSIF DENGAN PENAMBAHAN KAPUR (LIME): APLIKASI PADA PEKERJAAN TIMBUNAN Sutikno, Sutikno
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Behavior of soil influence by water rate which was containing, one the soil type havingmany internal issues development of construction in general and construction specially is ekspansifsoil. Soil this having the nature of very expaned, this research of ekspansif soil will be added somecalcify as minerals the core important, that is montmorilonite. As hoard material, form test stabilitythe used is CBR and direct shear test. Method the used is test-drive in laboratory according tosome standards of ASTM. Conclusion the got is : Level of stability soil CBR of ekspansif which notyet been added lime stone but have process condensation of Standard of Compaction have valueof CBR to 2,316 %. Level of value of CBR as stability form of ekspansif soil added by lime stonefrom 3%, 6%, 9%, and 12% as hoard mateial, getting maximum CBR to 12,5 % at the (time) ofoptimum chalk rate between 4% up to 6%. Difference of stability (CBR) between ekspansif soil ofwith addition of chalk to 10,184%. Influence of addition of lime soil of ekspansif compacted tostability (CBR) assign value very his influence, especially until addition of lime stone rate to 4% to6%.Perilaku tanah sangat dipengaruhi oleh kadar air yang dikandungnya, salah satu jenistanah yang mempunyai banyak masalah dalam pembangunan konstruksi pada umumnya dankonstruksi jalan khususnya adalah tanah ekspansif. Tanah jenis ini mempunyai sifat kembangsusutsangat tinggi, pada penelitian ini tanah ekspansif akan ditambahkan beberapa prosen kapursebagai pengikat mineral pembentuk utamanya, yaitu montmorilonite. Sebagai material timbunan,bentuk uji stabilitas yang digunakan adalah CBR dan uji geser langsung (Direct shear). Metodeyang digunakan adalah uji coba di laboratorium menurut beberapa standar ASTM. Kesimpulanyang didapat adalah : Besarnya stabilitas (CBR) tanah ekspansif yang belum ditambahkan kapurpadam namun telah melaui proses pemadatan Standard Compaction mempunyai nilai CBRsebesar 2,316 %. Besarnya nilai CBR sebagai bentuk stabilitas dari tanah ekspansif yangditambahkan kapur padam dari 3%, 6%, 9%, dan 12% sebagai mateial timbunan, mendapatkanCBR maksimum sebesar 12,5 % pada saat kadar kapur optimum antara 4% sampai dengan 6%.Perbedaan stabilitas (CBR) antara tanah ekspansif dengan tanah ekspansif dengan penambahankapur sebesar 10,184%. Pengaruh penambahan kapur pada tanah ekspansif yang dipadatkanterhadap stabilitas (CBR) memberikan nilai sangat signifikan pengaruhnya, terutama sampaipenambahan kadar kapur padam sebesar 4% s/d 6%. 

Page 3 of 78 | Total Record : 774


Filter by Year

2006 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021): Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 2 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 22, No 1 (2020) Vol 22, No 1 (2020): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019): Jurnal Teknik SIpil & Perencanaan Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 2 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017) Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 19, No 1 (2017): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 2 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 17, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 16, No 1 (2014): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 15, No 1 (2013): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 2 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 14, No 1 (2012): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 2 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 13, No 1 (2011): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 2 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 12, No 1 (2010): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 2 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 11, No 1 (2009): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 2 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 10, No 1 (2008): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 2 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 9, No 1 (2007): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan Vol 8, No 2 (2006) More Issue