cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia
ISSN : 23015810     EISSN : 23548800     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia published 2 times a year. This journal is a medium of information and research results and development areas for non-communicable diseases and public health program managers, as well as a means of communication the researchers /enthusiasts in the field of non-communicable diseases and infectious.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2014)" : 6 Documents clear
Kajian Penyakit Kecacingan Hymenolepis Nana -, Anorital
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.619 KB)

Abstract

Hymenolepiasis is the most common cestode parasite in the human body. Infections are seen more often among children. Hymenolepiasis found at children in the tropical and subtropical area. Cause of hymenolepiasis is Hymenolepis nana that is dwarf tapeworm live in the intestines of rats and human. Prevalence of the disease range from less than 1%--25 %. In Indonesia from various result of survey and epidemiology study, prevalence hymenolepiasis range from 0,3%--5,4%. Generally the patient are children of age 2-15 year. Diagnosis for hymenolepiasis is done by examining stool for eggs. Drug given is niklosamide or praziquantel.Control effort helminth infection enforceable if supported by existing policy and addressed for protection and prevention of school age children. Medication given pursuant to examining stool for eggs H. nana will be effective and efficient. Personal hygiene and environmental sanitation (safe drinking water, good sewage and refuse disposal, and rodent control) are important factor in preventing disease. Others behavior of clean life and make healthy especially for children represent important factor in the effort disease prevention.Keywords: Hymenolepiasis, Hymenolepis nana, Helminth diseases. AbstrakHymenolepiasis adalah parasit cacing cestoda yang umumnya ada di tubuh manusia. Infeksi lebih sering terjadi pada anak-anak. Hymenolepiasis ditemukan pada anak-anak di daerah tropis dan sub tropis. Penyebab hymenolepiasis adalah Hymenolepis nana yang disebut juga cacing pita kerdil berada dalam saluran pencernaan tikus dan manusia. Prevalens hymenolepiasis antara kurang dari 1% sampai dengan 25%. Di Indonesia dari berbagai hasil survei dan studi epidemiologi, prevalens hymenolepiasis antara 0,3%--5,4%. Umumnya penderita adalah anak-anak usia 2-15 tahun. Diagnosis hymenolepiasis ditegakkan dengan pemeriksaan tinja guna mendapatkan telur cacing. Obat yang diberikan adalah niklosamide atau praziquantel.Upaya pengendalian penyakit kecacingan dapat dilaksanakan jika didukung oleh kebijakan dan pencegahan serta perlindungan pada anak-anak usia sekolah. Pengobatan yang efektif dan efisien dapat diberikan jika dalam pemeriksaan ditemukan telur cacing Hymenolepis nana. Personal higiene dan upaya sanitasi lingkungan (penyediaan air minum yang aman, pengelolaan limbah dan pembuangan sampah yang baik, dan pengendalian tikus) adalah faktor penting dalam pencegahan penyakit. Perilaku hidup bersih dan sehat terutama bagi anak-anak merupakan faktor penting dalam upaya pencegahan penyakit.Kata Kunci : Hymenolepiasis, Hymenolepis nana, Helminth diseases
Identifikasi Single Nucleotide Polymorphism (SNP) Gen pvmdr1 pada Penderita Malaria Vivaks di Minahasa Tenggara (Sulawesi Utara) Salwati, Ervi; Handayani, Sarwo; Jekti, Rabea Pangerti
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.862 KB)

Abstract

Parasite resistance to antimalarial drugs is an obstacle to malaria elimination. In Plasmodium vivax, up to now, a marker to distinguish between resistant and susceptible is no available yet. Identify Single Nucleotide Polymorphisms (SNP) in P. vivax for multidrug resistance (pvmdr1)is potential approach due to pvmdr1 gene is orthologous to the pfmdr1 of P.falciparum, have been related to multidrug resistance. The purpose of this study was to identify SNPs/mutations on pvmdr1 gene of malaria vivax patients who came to the Primary Healthe Centers, Touluaan and Tombatu Minahasa Tenggara (North Sulawesi).Blood samples and slide of blood smears were collected from patients who infected with P.vivax or mixed infection of P.vivax and P.falciparum. After the species were cross checked by certified microscopist then confirmed by PCR, SNP identification were performed by sequencing technique. Only 83 of 99 recruited subjects were included inclution criteria. Sequensing result showed that 59 of 83 subjects were analysed to identify the SNP. We found 5 nonsynonymous SNPs, namely at the point G698S, M908L, Y976F, L1076F, and K1261E.Key words: Plasmodium vivax, Single Nucletide Polymorphism, Gen pvmdr1, Mutation AbstrakResistensi parasit terhadap obat anti malaria merupakan salah satu kendala untuk eliminasi malaria. Pada Plasmodium vivax, sampai saat ini penanda parasit yang resisten dengan yang masih sensitif belum tersedia. Identifikasi Single Nucleotide (SNP) gen pvmdr1 P.vivax multidrug resistance (pvmdr1) merupakan pendekatan yang potensial, karena gen pvmdr1 ortolog dengan gen pfmdr1 P. falciparum yang telah terbukti berkaitan dengan multidrug resisten. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi SNP/mutasi pada gen pvmdr1 dari pasien malaria vivax yang berobat ke Puskesmas Touluaan dan Tombatu di Minahasa Tenggara (Sulut). Sampel darah dan sediaan apusan darah tebal dan tipis dikumpulkan dari pasien yang terinfeksi P.vivax atau infeksi campuran P.vivax dan P.falciparum. Setelah spesies dicek ulang oleh mikroskopis pusat dan dikonfirmasi dengan teknik PCR, dilanjutkan dengan identifikasi SNP dengan teknik sekuensing Dari 99 subjek yang dikumpulkan hanya 83 subjek yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil sekuensing memperlihatkan bahwa 59 dari 83 sampel dianalisa untuk identifikasi SNP. Kami menemukan 5 SNP nonsynonymous yaitu pada titik G698S, M908L,Y976F, L1076F, dan K1261E.Kata kunci: Plasmodium vivax, Single Nucletide Polymorphism, Gen pvmdr1, Mutasi
Peran Antioksidan Bagi Kesehatan Werdhasari, Asri
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (862.704 KB)

Abstract

Antioxidants are needed to prevent the occurrence of oxidative stress, which plays an important role in the etiology of various degenerative diseases. This paper discusses the benefits of antioxidant. This article was made with prior search of references using search engine Schoolar Google with key words antioxidant, oxidative stress, Alleaceae, N-acetyl cystein, vitamin C and degenerative disease. Mechanisms of resistance of the body to fights oxidative stress is through endogenous antioxidants. If the amount of free radicals and reactive species in the body exceeds the ability of endogenous antioxidants, the body requires the intake of antioxidants obtained from foods or drugs. Antioxidants are commonly consumed daily as a spice in cooking is onions. Synthetic drug commonly used as antioxidants include N-acetyl cysteine and vitamin C. Alleaceae and N-acetyl cysteine containing thiol groups / sulfur that act as antioxidant. Organosulfur role in cancer cells is through the mechanism of apoptosis. Both N-acetyl cysteine and vitamin C in animals induced oxidative stress using carbon tetrachloride, showed they play a role in the prevention of oxidative stress. Alleaceae, N-acetyl cysteine and vitamin C plays a role in the prevention of degenerative diseases due to its antioxidant properties.Key word: Antioxidant, Oxidative stress, Alleaceae, N-acetyl cystein, Vitamin C. AbstrakAntioksidan diperlukan untuk mencegah terjadinya stres oksidatif, yang berperan penting dalam etiologi terjadinya berbagai penyakit degeneratif. Tulisan ini membahas peran antioksidan bagi kesehatan. Artikel ini dibuat dengan mencari referensi menggunakan mesin pencari Google Schoolar dengan kata kunci antioksidan, stres oksidatif, allium, N-asetil sistein, vit C dan penyakit degeneratif. Mekanisme perlawanan tubuh terhadap stres oksidatif adalah melalui antioksidan endogen. Apabila jumlah radikal bebas dan spesies reaktif dalam tubuh melebihi kemampuan antioksidan endogen, maka tubuh memerlukan asupan antioksidan yang didapat dari makanan atau obat-obatan. Antioksidan yang lazim dikonsumsi setiap hari sebagai bumbu dalam masakan adalah bawang-bawangan. Obat sintetis yang biasa digunakan sebagai antioksidan antara lain N-asetil sistein dan vit C. Bawang-bawangan (Alleaceae) dan N-asetil sistein mengandung gugus thiol/sulfur yang bersifat sebagai antioksidan. Peran antioksidan organosulfur selain sebagai antikanker melalui mekanisme apoptosis, juga sebagai antitrombosis. Baik N-asetil sistein maupun vit C pada hewan coba yang diinduksi stres oksidatif menggunakan karbon tetraklorida, menunjukkan kedua komponen tersebut berperan dalam pencegahan stres oksidatif. Bawang-bawangan, N-asetil sistein dan vitamin C berperan dalam pencegahan penyakit degeneratif karena sifat antioksidan yang dimilikinya.Kata kunci: Antioksidan, Stres oksidatif, Bawang-bawangan, N-asetil sistein, Vit C.
Uji Sensitivitas Sel Punca Mesenkimal dari Sumsum Tulang Mencit (Mus Musculus) Terhadap Poliovirus Tipe-1 Noviantari, Ariyani; Febriyani, Asri
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.916 KB)

Abstract

A diagnostic technique of Polioviruses based on WHO guidelines still utilized RD and L20B cell lines, yet has limitations regarding simultaneous use of both cell line. Previous studies showed that Mesenchymal Stem Cells (MSCs) from chicken lungs and bone marrow from chicken, pig and human were prone to viral replication. Research was conducted atStem Cell Laboratory and Polio Laboratory, Center for Biomedical and Basic Technology of Health, NIHRD, MoH, from March to October 2013. This research was a preliminary study of developing MSCs line from bone marrow of femur and tibia of mice as a cellular model for diagnosing poliovirus.Tissue Culture Infective Dose50%(TCID50) was used to measure titration ofpoliovirus serotype 1 performed on MSCs, RD and L20B cell line. The result showed, on day 7, CPEs was observed in RD and L20B cell, but not in mice MSCs. TCID50in 6thpassageon RD cell line was8,19 ± 0,19 and on L20B was 7,44 ± 0,09TCID50/ml. Mice MSCs were not susceptible to polioviruses since they do not have the same poliovirus receptors as humans have (hPVR, CD155). Need further testing to determine the ability of susceptibility MSC derived from primates or humans.Keywords : Mice mesenchymal stem cell, Succeptibility, Poliovirus AbstrakMetode diagnostik Poliovirus rekomendasi WHO menggunakan selRD dan L20B. Namun, teknik ini masih memiliki keterbatasan karena harus menggunakan 2 cell line secara bersamaan. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa Sel Punca Mesenkimal (SPM) dari paru-paru ayam dan sumsum tulang dari ayam, babi serta manusia memiliki potensi untuk replikasi virus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Sel Punca dan Laboratorium Polio PBTDK dari bulan Maret – Oktober 2013 sebagai studi awal pengembanganSPM dari sumsum tulang mencit sebagai alternatif untuk diagnosis Poliovirus. Uji sensitivitas dilakukan pada 3 cell line (RD, L20B dan SPM mencit) terhadap Poliovirus tipe 1. Nilai 50% Tissue Culture Infectious Disease (TCID50) diperolehberdasarkan kerusakan sel akibat infeksi virus (cytophatic effects– CPE).Pada hari ketujuh, sel RD dan L20B menunjukkan CPE sedangkanSPM mencit belum menunjukkan CPE. TCID50 pada sel RD adalah 8,19 ± 0,19 dan sel L20B adalah 7,44 ± 0,09 TCID50/ml. SPM dari sumsum tulang mencit tidak susceptible terhadap Poliovirus karena tidak memiliki reseptorPoliovirusmanusia(hPVR, CD155). Perlu dilakukan uji sensitivitas SPM yang bersumber dari primata atau manusia terhadap Poliovirus.Kata Kunci : Sel Punca Mesenkimal (SPM) mencit, Succeptibility, Poliovirus
Deteksi Penyebab dan Sebaran Kasus Kejadian Luar Biasa Hand Foot and Mouth Diseases (HFMD) Tahun 2008-2012 Susanti, Nike; -, Herna; Purnamawati, Sinta; Setiawaty, Vivi
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.207 KB)

Abstract

Hand, foot, and mouth disease (HFMD) is a common disease caused by human enterovirus (HEV). The symptoms and signs of infection among children typically present with vesicular exanthema on the soles of their feet, the palms of their hands and in their mouths, causing discomfort and feeding difficulties. The disease is caused by mainly Coxsackie virus A16 (CVA16) serotype. It has recently been associated with EV-71 serotype which can also cause outbreak and mortality. Currently the data of HFMD cases in Indonesia is not available yet therefore this study aims to identify and determine the distribution of HFMD cases in Indonesia from the outbreak. HFMD can be identified by RT-PCR that recognize PAN-EV gene in the first place and has to be continued to EV-71 in VP1 area. Besides using PCR, we use isolation method using tissue cultures which are RD and 293 cell linesrom. From 48 suspected cases were received in virology lab CBBTH, NIHRD. 26 out of 48 cases (54%) were caused by enterovirus and 3 out of 26 were EV-71 (6,25%). The HFMD cases distribute in all group of ages and sex but children under five is the most susceptible.Key words: HFMD, Enterovirus, Outbreak, EV71 AbstrakHand Foot and Mouth Diseases (HFMD) atau dalam bahasa Indonesianya dikenal sebagai penyakit Kaki Tangan Kuku dan Mulut. Penyakit ini umumnya menyerang anak-anak dan menimbulkan gejala yang khas seperti terbentuknya vesikula di telapak tangan, kaki dan di rongga mulut sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman dan susah menelan. Penyebab Utama penyakit ini adalah enterovirus teruma Coxsackie A16. Belakangan ini penyakit HFMD juga berkaitan dengan EV-71 yang bisa menimbulkan Kejadian Luar Biasa dan kematian. Saat ini belum tersedia data penyebab kasus HFMD di Indonesia, oleh karna itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengidentifikasi penyebab kasus HFMD di Indonesia dari kasus kejadian luar biasa. Identifikasi penyebab penyakit HFMD bisa dilakukan dengan menggunakan methode PCR dengan mengidentifikasi adanya gen Pan EV terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan EV-71 spesifik di area VP1. Isolasi virus juga dilakukan dengan mengkultur virus di sel RD dan 293 untuk tujuan identifikasi dan memperbanyak serta memurnikan virus dari spesimen asli. Dari 48 kasus yang diterima laboratorium Virologi Pusat BTDK, Badan Litbang Jakarta, diketahui 26 kasus (54%) disebabkan oleh enterovirus dan 3 diantaranya adalah EV-71 (6.25%). Kasus HFMD dapat terjadi pada semua golongan umur dan jenis kelamin, akan tetapi anak-anak yang berumur antara 1-5 tahun sangat rentan menderita penyakit ini.Kata kunci : HFMD, Enterovirus, KLB, EV71
Analisis Hubungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Gigi dan Kegiatan Penambalan dan Pencabutan Gigi di Puskesmas Andayasari, Lely
Jurnal Biotek Medisiana Indonesia Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Central Basic Biomedical and Health Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.274 KB)

Abstract

Dental disease is widespread in Indonesian society. In Riskesdas 2013 reported 25.9% of Indonesias population of dental problems. The unmet dental health care facilities are among the factors that contribute to high oral and dental problems. Objective: to analyze the relationship between the availability of health care facilities with activities oral dental care (fillings and extractions) at the health center. The study was cross-sectional. The unit of analysis is all health centers in Indonesia, which has been registered in the Directorate General of Health Services Ministry of Health of Indonesia and operates before February 2011.Results of the analysis showed an association between the availability of dental health equipment with fillings and extractions activities OR 0.62; (0.41 to 094) and the p value of 0.024. There is a significant correlation between the activity of patched and tooth extraction services with medical supplies and drugs for completeness poly teeth in health centers and there is a significant relationship between service activities patched and extraction with the presence or absence UKGMD program at the health center. Provincial and district health authorities to improve the availability and completeness of medical equipment and dental filling material for dental poly in PHC.Keywords: Dental health facilities, Riskesdas AbstrakPenyakit gigi dan mulut merupakan penyakit yang tersebar luas di masyarakat Indonesia. Pada Riskesdas 2013 dilaporkan 25,9% penduduk Indonesia bermasalah gigi. Belum terpenuhinya fasilitas pelayanan kesehatan gigi merupakan salah satu faktor yang berkontribusi pada tingginya masalah gigi dan mulut. untuk menganalisis hubungan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut dengan kegiatan pelayanan kesehatan gigi (penambalan dan pencabutan gigi) di Puskesmas. Metode: Jenis penelitian adalah cross sectional. Unit analisis adalah seluruh Puskesmas di Indonesia yang telah terdaftar di Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI dan beroperasi sebelum Februari 2011. Analisis menunjukan adanya hubungan antara ketersediaan peralatan kesehatan gigi dan mulut dengan kegiatan penambalan dan pencabutan gigi OR 0,62; (0,41-094) dan p value 0,024. Adanya hubungan yang bermakna antara adanya kegiatan pelayanan tambal dan cabut gigi dengan kelengkapan alkes dan obat untuk poli gigi di Puskesmas serta terdapat hubungan yang bermakna antara kegiatan pelayanan tambal dan cabut gigi dengan ada-tidaknya program UKGMD di Puskesmas. Saran: Dinas kesehatan provinsi dan kabupaten untuk meningkatkan ketersediaan dan kelengkapan alat kesehatan dan bahan tambal gigi untuk poli gigi di Puskesmas.Kata kunci: Fasilitas kesehatan gigi, Riskesdas

Page 1 of 1 | Total Record : 6