cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Plasma - Jurnal Kesehatan
ISSN : 23548908     EISSN : 23552344     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 4 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 2 Jun (2015)" : 4 Documents clear
Dampak Perpaduan Obat ARV pada Pasien HIV/AIDS ditinjau dari Kenaikan Jumlah Limfosit CD4+ di RSUD Dok II Kota Jayapura Widiyanti, Mirna
JURNAL PLASMA Vol 1, No 2 Jun (2015)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.06 KB)

Abstract

The purpose of ARV is reducing the rate of transmission, reducing morbidity and mortalityassociated with HIV, restoring and maintaining the immune system and suppressing the viralreplication maximal. Dok II Hospital is one of the hospitals that provide care and ARV therapy forpatients HIV. The number of patients increasing each year, it is necessary to evaluate the success ofARV drugs on a regular basis in order to achieve optimal outcomes. One way of monitoring is tolook at the efficacy of a combination of ARV drugs on the immune response of the increase is theincrease in Lymphocyte CD4+ cell count. To determine the efficacy of ARV combination based onthe increase in CD4 cell counts of patients after 6-12 months of ARV treatment in Dok II Hospital in2011-2012. The study was an observational. Data were collected retrospectively on secondary datafrom medical records of patients who met the inclusion criteria. Data were analyzed by ANOVA. Sixobtained the drug combination gave good efficacy based on a significant increase in LymphocyteCD4+ cell counts in patients with HIV/AIDS who receive ARV drugs in combination II and V (pvalue = 0.002) and the combination of III and V (p value = 0.033) while for other combinationsbetween no significant difference. The sixth best combination ARV efficacy there are 2 that thecombination II and V combination.
Teknik Long Polymerase Chain Reaction (LPCR) Untuk Perbanyakan Kerangka Baca Terbuka Gen Pengkode Polimerase Virus Hepatitis B Hutapea, Hotma; Retnoningrum, Debbie; Rahman, Ernawati Giri; Rostinawati, Tina
JURNAL PLASMA Vol 1, No 2 Jun (2015)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.775 KB)

Abstract

Teknik PCR dapat dikembangkan untuk mengamplifikasi potongan DNA dengan ukuran panjang. Salah satu teknik yang digunakan adalah Long PCR (LPCR). Teknik LPCR sering digunakan untuk mengamplifikasi gen atau potongan DNA yang berukuran lebih panjang ketika PCR standar tidak dapat diaplikasikan untuk amplifikasi tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kerangka baca terbuka gen pengkode polimerase virus hepatitis B (PolHBV) menggunakan metode LPCR, dan menentukan urutan nukleotida potongan DNA tersebut. Amplifikasi dilakukan menggunakan Taq polimerase. Kerangka baca terbuka gen pengkode PolHBV telah berhasil diamplifikasi dengan LPCR yang telah dimodifikasi. Hal tersebut diindikasikan dengan keberadaan pita DNA berukuran  pasangan basa (bp) pada elektroforesis gel agarosa yang mendekati ukuran teoritisnya yaitu 2532 bp. Hasil penentuan urutan nukleotida parsial menunjukkan bahwa potongan DNA yang diperoleh memiliki homologi 98% dengan gen PolHBV yang dideposit di GenBank.Technique of PCR can be improved to permit the amplification of longer DNA fragment. One of this technique is Long PCR (LPCR). LPCR is often used to amplify larger genes or large segment of DNA which standard PCR is not applicable. The objective of this study is to obtain the open reading frame of gene encoding polymerase of HBV (polHBV) using LPCR method, and to determine the nucleotide sequence of DNA fragment encoding polHBV. The amplification was conducted using Taq polymerase. The open reading frame of gene encoding polHBV was successfully amplified using modified LPCR method. It  was  identified by  a  band  between  2000 dan  3000  base  pairs  (bp) DNA marker.  The determination of nucleotide sequence informed that DNA fragment obtained was 98% homologue to the gene encoding PolHBV deposited on GenBank. .
Efektivitas Kecap Kedelai Dalam Menghambat Pertumbuhan Candida albicans Tanjung, Ratna
JURNAL PLASMA Vol 1, No 2 Jun (2015)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.654 KB)

Abstract

Candida albicans adalah fungi dimorfik yang secara normal ada dalam saluran pencernaan, saluran pernafasan bagian atas, dan mukosa genital. C. albicans merupakan spesies terpatogen dari spesies Candida lainnya, dan merupakan fungi oportunistik yang menyebabkan sariawan. Masyarakat pedesaan yang jauh dari fasilitas kesehatan menggunakan kecap kedelai sebagai obat alternatif untuk mencegah lesi di rongga mulut menjadi sariawan, dikerenakan kecap kedelai mudah ditemukan, tersedia di rumah, bau dan rasa enak, serta tidak memberi rasa nyeri ketika digunakan. Kecap kedelai merupakan ekstrak dari hasil fermentasi kedelai yang dicampur dengan bahan-bahan lain seperti gula aren (sukrosa) lebih dari 40%, garam 18% – 20%, dan bumbu, yang dibuat untuk tujuan meningkatkan cita rasa makanan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas kecap kedelai dalam menghambat pertumbuhan C. albicans. Penelitian dilakukan secara ekperimen dengan variabel konsentrasi kecap kedelai 100%, 75%, 50%, dan waktu kontak 5, 10, dan 15 menit untuk melihat pertumbuhan C. albicans dengan metode tuang. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan: pemberian kecap kedelai dengan konsentrasi 100%, rata-rata pertumbuhan koloni dari lima merek kecap kedelai dengan waktu kontak 5 menit tumbuh 217 koloni, 10 menit 237 koloni, dan 15 menit 297 koloni. Pada konsentrasi 75% waktu kontak 5 menit tumbuh 125 koloni, 10 menit 158 koloni, 15 menit 185 koloni. Pada konsentrasi 50% waktu kontak 5 menit tumbuh 110 koloni, 10 menit 130 koloni, dan 15 menit 156 koloni. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecap kedelai tidak mampu menghambat pertumbuhan C. albicans.Candida albicans is a dimorphic fungus that is normally present in the digestive tract, upper respiratory tract, and genital mucosa. Candida albicans is the most pathogenic species from the other Candida species, and an opportunistic fungus that causes thrush. The rural communities that far from the drug store, clinic, or other health facilities, soy sauce used as an alternative medicine for thrush, because it is easy to find, always available especially at home, smells and tastes good, and do not give pain when used. Soy sauce is an extract from fermented soybeans mixed with other ingredients such as 40% palm sugar (sucrose) 18% - 20% salt, and some other spices to enhance the flavor. The aim of this research is to determine the effectiveness of soy sauce in inhibiting the growth of C. albicans. This experimental study using a concentrations of 100%, 75%, 50% soy sauce, and the contact time of 5, 10, 15 minutes as the variables to see the growth of C. albicans using pour method. This study showed that adding 100% soy sauce of different mark with 5, 10, and 15 minutes contact time gave the colonies growth of 217, 237, and 297 respectively. In addition, the adding of 75% soy sauce growth 125, 158, and 185 colonies. Fifty percent soy sauce growth 110, 130, and 156 colonies. The study indicate that soy sauce is not able to inhibit the growth of C. albicans.
Hubungan Higiene Perorangan dengan Kejadian Kecacingan pada Murid SD Negeri Abe Pantai Jayapura Martila, Martila; Sandy, Semuel; Paembonan, Nopita
JURNAL PLASMA Vol 1, No 2 Jun (2015)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Biomedis Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.59 KB)

Abstract

Kecacingan merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan yang menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat. Kecacingan dapat disebabkan oleh sejumlah cacing perut yang ditularkan melalui tanah disebutSoil Transmitted Helminths (STH) seperti cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) dan cacingcambuk (Trichuris trichiura). Higiene perorangan dan sanitasi lingkungan yang kurang baik pada anak- anak merupakan faktor yang memudahkan penularan kecacingan.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan higiene perorangan dengan kejadian kecacingan pada murid SD Negeri Abe Pantai Jayapura. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik, dengan rancanganpotong lintang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid SD Negeri AbePantai Jayapura yang berjumlah 384 orang. Sampel yang terkumpul sebanyak 70 orang yang diambil secara stratified random sampling. Cara pemeriksaan tinja secara kualitatif dengan metode langsung (direct) menggunakan larutan lugol. Analisa data menggunakan uji statistik chi - square.Hasil penelitian diperoleh murid yang positif kecacingan sebanyak 50%, infeksi kecacingan terbanyak adalah Ascaris lumbricoides 48,5%, Trichuris trichiura 28,6%, Cacing Tambang 14,3%, dan infeksi campuran yang disebabkan oleh dua spesies atau lebih sebanyak 8,6%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan higiene perorangan dengan kejadian kecacingan pada murid SD Negeri Abe Pantai Jayapura (P Value= 0,47 dengan RP = 1,26, CI 95% 0,79-2,01).Kata Kunci :Kecacingan, Higiene PeroranganHelmints infection is an environmental based diasease and become a public health problem. and caused by Soil Transmitted Helminthes (STH) such as Ascaris lumbricoides, Ancylostoma duodenale, Necator americanus andTrishuris trichiura. Personal hygiene and environmental sanitation are factors that contributed in worm infection.The aim of the research is to identify the relation between personal hygiene and worm infection among students of SD Negeri Abe Pantai Jayapura. An analytic and cross sectional study was conducted. Seventy stool samples were collected randomly and examine direct methode. Data was analyzed using ch-square. Results: 50% samples have worm infection, 48,5%,Ascaris lumbricoides,28,6%Trichuris trichiura, 14,3%hook worm and 8,6% samples have mixed infection. No relation between personal hygiene and worm infection amon students of SD Negeri Abe Pantai Jayapura (p>0,05).Keywords:Soil Transmitted Helminthes, Personal Hygiene

Page 1 of 1 | Total Record : 4