cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Kepelatihan Olahraga
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 1 (2010)" : 6 Documents clear
Pengaruh Pelatihan Interval Aplikatif Terhadap Kecepatan dan Kelincahan Petenis lapangan Setijo Hartoto,
Kepelatihan Olahraga Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu metode pelatihan adalah pelatihan interval (interval training). Metode pelatihan interval yang menggabungkan teknik dan fisik secara spesifik serta  sistim energi yang digunakan dan bagaimana olahraga tersebut dimainkan, serta peraturan pertandingannya perlu dikembangkan  sehingga metode tersebut menjadi metode pelatihan aplikaif.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi secara empiris seberapa besar pengaruh pelatihan interval 1:1, 1:2, dan 1:2 progres terhadap kecepatan dan  kelincahan. Penelitian ini menggunakan Randomized Control Group Pretest Postest Design karena adanya kelompok perlakuan, kelompok kontrol dan dilakukan secara randomisasi. Subyek yang dilibatkan adalah mahasiswa putra UKM Tenis Lapangan Fakultas Ilmu Keolahraan Universitas Negeri Surabaya, yang memiliki usia 18 – 20 tahun, sebanyak 30 mahasiswa.  Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa terdapat  perbedaan rata-rata pengaruh pelatihan interval 1:1, pelatihan interval 1:2 dan pelatihan interval 1:2 progres terhadap kecepatan dan kelincahan petenis lapangan.  Simpulan penelitian ini adalah pelatihan interval 1:2 memberikan pengaruh yang berbeda terhadap komponen fisik kecepatan dan kelincahan petenis lapangan dibandingkan dengan pelatihan interval 1:1 dan pelatihan interval 1:2 progres.       
Indikator Pengukuran Antropometrik dan Tes Fisiologis dalam Mengidentifikasi Atlet Berbakat Cabor Bola Voli Nining Widya Kusnanik,
Kepelatihan Olahraga Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan indikator pengukuran antropometrik dan tes fisiologis yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi bibit atlet berbakat cabang olahraga bolavoli. Jenis penelitian ini penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa-siswi SD di Surabaya yang berusia antara 11-13 tahun. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap pertama screening item pool dan tahap kedua preliminary study. Data diperoleh dari hasil 2 kali tes pengukuran talent search yang sudah dimodifikasi Dirjen Olahraga dan sekali tes pengukuran antropometri, tes biomotorik, dan fisiologis dari item tes yang terpilih. Analisis data menggunakan mean, standar deviasi, reliability, dan analisis faktor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tes pengukuran talent search reliabel dengan alpha > 0,6. Indikator  pengukuran antropometrik yang dominan adalah tinggi badan dengan factor loading 0,937, kemudian diikuti tinggi raihan, panjang tungkai, rentang lengan dan tinggi duduk. Indikator tes biomotori yang paling dominan adalah lempar tangkap bola tenis dengan faktor loading 0,781. Indikator tes fisiologis yang paling dominan adalah standing broad jump dengan faktor loading 0,889 kemudian diikuti sit up, vertical jump 1 kaki, lempar bola basket, leg strength, vertical jump 2 kaki, back strength, MFT dan push up. Yang bukan parameter penting untuk menilai aspek antropometrik adalah berat badan, aspek fisiologis adalah shuttle run 5m, sprint 40m, sprint 18m, shuttle run 8m, dan whole body reaction. Kesimpulan dari penelitian ini adalah indikator antropometrik (tinggi badan, tinggi raihan, panjang tungkai, rentang lengan dan tinggi duduk), biomotik (lempar tangkap bola tenis dan flexibility), dan fisiologis (standing broad jump, sit up, vertical jump 1 kaki, lempar bola basket, leg strength, vertical jump 2 kaki, back strength, MFT dan push up) dapat digunakan dalam mengidentifikasi bibit atlet berbakat cabang olahraga bolavoli.   
Strategi Model Pelatihan Bulutangkis Oce Wiryawan,
Kepelatihan Olahraga Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses latihan dilakukan sesuai dengan program yang telah disusun oleh pelatih yang menanganinya. Program pelatihan seharusnya memenuhi prinsip-prinsip dan persyaratan ideal setiap cabang olahraga. Idealnya program latihan disusun dalam waktu satu tahun, kemudian program latihan tersebut dirinci menjadi program-program bulanan, program mingguan dan kemudian dikembangkan menjadi program latihan harian. Dari pengembangan program latihan harian ini tentunya akan muncul kebutuhan waktu dan bentuk kegiatan latihan untuk atlet tersebut setiap harinya. Penyusunan program latihan mencakup latihan fisik, latihan teknik, mental, taktik dan ujicoba dari hasil latihan. Terkait dengan program pelatihan ini, maka di setiap cabang olahraga seharusnya memiliki pelatih yang memiliki kompetensi kepelatihan. Pelatih yang baik adalah orang yang imajinatif juga artistik dalam melaksanakan program olahraga yang berlandaskan ilmu. Di sisi lain lain seorang atlet yang akan mengikuti program pembinaan prestasi melalui program pelatihan harus mempunyai persiapan kondisi awal, sesuai dengan tuntutan cabang olahraga yang akan dikembangkan. Persiapan awal tersebut sesuai dengan kebutuhan pelatihan, antara lain mencakup: a) fisik, b) teknik, c) taktik, dan d) psikologis. Dengan demikian proses pelatihan merupakan suatu proses kompleks dan terpadu. Hal ini mengindikasikan bahwa secara konseptual pembinaan atlet profesional merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen sistem. Oleh karena itu dalam pelaksanaan kepelatihan yang ideal dalam setiap cabang olahraga tidak cukup ditangani oleh seorang pelatih ahli olahraga saja, tetapi harus ditangani secara kolaborasi dengan berbagai ahli dalam bidang terkait (seperti: kesehatan, psikolog, ahli pendidikan, ahli pengetahuan, ahli pengukuran, ahli media, dll). Selama proses pelatihan seorang atlet harus mengikuti uji coba atlet melalui even kejuaraan untuk setiap cabang olahraga. Hasil-hasil latihan maupun hasil pertandingan ataupun ujicoba merupakan data yang sangat autentik, sebagai dasar untuk menilai tingkat kualitas pelatihan dan untuk memperbaiki program-program latihan yang akan datang.  Aspek kekurangan tersebut dapat terletak pada pelatih, sarana, program, dan pada alat sebagai suatu sistem, maka selama proses pelatihan perlu diadakan evaluasi.  
Penggunaan Obat terlarang dalam Olahraga Nurkholis,
Kepelatihan Olahraga Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Obat-obatan dan bahan kimia lainnya adalah suatu hal yang sangat berguna dan sekaligus malapetaka bagi kehidupan manusia. Penggunaan obat dan bahan kimia yang tepat, akan menghindarkan manusia dari resiko kerusakan jaringan dan bahkan resiko kematian. Namun sebaliknya penggunaan obat dan bahan kimia juga bisa menimbulkan kehancuran dan kematian. Olahragawan atau atlet, adalah profesi yang sangat rentan terhadap penggunaan obat-obatan dan bahan kimia.
Influence of Iron, Folic, Acid, Glucose and Physical Exercise on the Increase of Hemoglobin Level Raymond IVano A,
Kepelatihan Olahraga Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was aimed to investigate the influence of Iron, Folic Acid, and Glucose and Physical Exercise on the increase of Hb level.Hb level measurement was done twice, before and after intervention used Cyanmethemoglobin method. Based on the results of Anova test, Hb level before intervention in groups 1, 2, and 3 showed no significant difference (p=0.926) with means was 11.985±0,697 g/dl. Means of Hb level before intervention in group I was 12.043+0.674 g/dl, (2) means of Hb level in group II was 11.971+0.698 g/dl, and (3) means of Hb level in group III was 11.943+0.707 g/dl. Results of Anova tests above indicated that Hb level before intervention in groups 1, 2, and 3 had same values. Two months after intervention, the results showed that all groups had significant increase (p=0.000) with means 13,933±0,842 g/dl. Means of Hb level in group I after intervention was 14.850±0.199 g/dl, an increase of 2,807±0,475 gr/dl; means of Hb level in group II was 13.443+0.651, increased 1,472±0,047 gr/dl and (3) means of Hb level in group III was 13.507 + 0.644, an increase of 1,564±0,063 gr/dl. Results of this study showed that (1) The administration of Iron, Folic Acid, Glucose and Physical Exercise increased more than Hb level ; (2) The administration of Iron, Folic Acid, Glucose without Physical Exercise increased Hb level, (3) the administration of Placebo and Physical Exercise also increased Hb level (p=0,000). The increase of Hb level significantly (p=0.001) on the influence of Iron, Folic Acid, Glucose in Physical Exercise, as indicated by Simple Linear Regression Test, in which B = 0,998996; R2 = 0,77246; and T = 3,433. This study can be concluded that on the influence administration of Iron, Folic Acid, Glucose and Physical Exercise increased Hb level (p=0,000).       
Sistem dan fungsi Muscular Yonny Herdyanto,
Kepelatihan Olahraga Vol 5, No 1 (2010)
Publisher : Kepelatihan Olahraga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Based on morphological shape, and location of work systems in the body, muscles are divided into three, namely striated muscle, smooth muscle, and heart muscle. Also called striated muscle or muscle skeletal muscle fiber cross. These muscles work under consciousness. In striated muscle, fibrils-fibrilnya have transverse lines dark (anisotrop) and light (isotrop) arranged criss-hose. Layer of fibrous connective tissue covering every muscle and into the inside to coat the fasikel. This network channeling of nerve impulses and blood vessels into the muscle and mechanically transmit power from one end of the contraction of muscle to the other end. Smooth muscle is also called involuntary muscle or muscle tool in (visceral muscle). Composed of smooth muscle cells - spindle-shaped cells smooth. Each - each cell has one core that is located in the middle. Smooth muscle contraction is not according to the will, but are supplied by autonomic nerves. Factors that affect visceral smooth muscle contraction is certain hormones, local metabolic intermediate produced in the surrounding muscle, mechanical stretch, and some types of drugs. Cardiac muscle is a combination of skeletal muscle and smooth muscle, arranged in a pattern miofilamen regular pemitaan that berlurik heart muscle. Unlike skeletal muscle, some calcium ions are released and used to trigger a contraction derived from the extracellular fluid, as a result of the heart muscle becomes very sensitive to the imbalance of calcium in body fluids. Skeletal muscles always work in groups and not alone. Some muscles contract in a group while the other group relaxes. The nature of work divided into antagonistic muscle and synergistic. From the results of research and observations with the electron microscope and X-ray diffraction, Hansen and Huxly (l955) put forward the theory of muscle contraction called a model of sliding filaments. This model states that contraction based on the existence of two sets of filaments in the contractile muscle cells that form the actin filament and myosin filament .. Stimulation received by acetylcholine causes shrinking aktomiosin (contraction).

Page 1 of 1 | Total Record : 6