cover
Contact Name
Indri Seta Septadina
Contact Email
indri.andriansyah@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
rulanadnindya.md@fk.unsri.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. ogan ilir,
Sumatera selatan
INDONESIA
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : 24067431     EISSN : 26140411     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya with registered number ISSN 2406-7431 (Print) and ISSN 2614-0411 (Online), is a scientific journal managed by Faculty of Medicine Universitas Sriwijaya, Indonesia. It publishes original research articles and reviews in Biomedical Sciences, Medicine (Neurology, Cardiovascular, Respiratory, Gastrointestinal, Urogenital, Endocrine and Metabolism, Integument, Mental Health, Obstetry and Gynecology, Ophtalmology, ENT, Musculusceletal) and Public Health Medicine.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2021)" : 10 Documents clear
TATALAKSANA DISINFEKSI BANDAR UDARA SAAT PANDEMIK COVID-19 Ferdi Alfian; Radistrya S Brahmanti; Dasti Anditiarina
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.13619

Abstract

Adanya bandar udara internasional maka transmisi penyakit COVID-19 dengan mudah dapat terjadi di negara-negara lain sehingga dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization. Mempertimbangkan bahwa bandar udara dapat menjadi port of entry suatu penyakit infeksius, maka penting bagi stakeholder bandar udara untuk memiliki tatalaksana disinfeksi yang tepat dan efektif dalam rangka mencegah transmisi Covid-19. Setiap bandar udara, terutama yang internasional, penting untuk menerapkan prosedur dan panduan cara disinfeksi yang baik dan benar, disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing, guna mencegah penyebaran Covid-19 lebih lanjut dinegara asal maupun dinegara tujuan
IMPACT OF SOCIAL DISTANCING IN CURBING COVID-19 PANDEMIC: A SYSTEMATIC REVIEW M. Ammar Luthfi Kurniawan; Litania Leona Hidayat; Jihan Natra Shafira; Iche Andriyani Liberty
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.13733

Abstract

Social distancing includes strategies to ban public gatherings and advise individuals to stay at their home or maintain distance to one another by at least 1-2 meters. This study aims to intend to assess all the available evidence of social distancing in decreasing COVID-19 transmission in the general population. We conducted an electronic search of published literature using MEDLINE/Pubmed, Science direct, PMC, Wiley, and Google Scholar and we use Joanna Briggs Institute (JBI) critical appraisal checklist to assess methodological qualities. A total of 7 articles were decided to be included in this study. Social distancing has curb down the number and saved approximately 10 thousand Brazilian lives. A study by VoPham et al on the association of social distancing and COVID-19 incidence found higher social distancing was associated with a 29% reduction of COVID-19 incidence (adjusted IRR 0.71;95% CI (0,57-0,87) and 35% reduction of COVID-19 mortality (adjusted IRR 0,65; 95% CI 0,55-0,76). Social distancing is one of the major policies implemented for long-term behavioral adjustment in managing the COVID-19 pandemic. Passive social distancing is not enough to drag down the number, there needs to be large scale testing, isolation, and contact tracing. However, we believe we have illuminated the impact of social distancing on the COVID-19 pandemic and add to the available literature the basis of social distancing in reducing transmission of COVID-19.
PELUANG TERJADINYA IMMUNIZATION STRESS-RELATED RESPONSE (ISRR) SELAMA PROGRAM VAKSINASI COVID-19 Hafizzanovian Hafizzanovian; Desi Oktariana; Muhammad Ali Apriansyah; Yuniza Yuniza
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.13807

Abstract

Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) telah menjadi bencana katasropik dalam berbagai bidang, terutama bidang kesehatan. Mengingat mortalitas yang tinggi dan penyebaran yang cepat dari penyakit ini, vaksin menjadi salah satu harapan terbesar untuk dapat mengendalikan pandemi ini. Immunization stress-related response (ISRR) merupakan salah satu Kejadian Ikutan Pasca imunisasi (KIPI) yang bermanifestasi sebagai respons stres akut, reaksi vasovagal, atau reaksi gejala neurologis disosiatif (dissociative neurological symptom reactions atau DNSR) yang dapat muncul tepat sebelum, selama, atau segera setelah imunisasi. Fenomena kluster ISSR seringkali disebut juga dengan penyakit psikogenik massal. Adanya stigma negatif terhadap efektifitas dan keamanan vaksin Covid-19 dapat membuka peluang terjadinya kluster ISRR yang dapat membuat masyarakat semakin sungkan untuk menerima imunisasi sehingga menyebabkan gagalnya program imunisasi. Langkah preventif dapat meminimalkan risiko ISRR, dan jika ISRR terjadi, maka identifikasi yang cepat, diagnosis, dan manajemen yang tepat dapat mengurangi dampaknya.
A CASE REPORT OF MODERATE COVID-19 AND MALARIA FALCIPARUM CO-INFECTION WITH THROMBOCYTOPENIA Nelda Aprilia Salim; Harun Hudari; Mega Permata; Yenny Dian Andayani; Zen Ahmad; Verdiansah Verdiansah
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.13814

Abstract

The COVID-19 pandemic that attacks the world has made the attention of all medical personnel focused on this disease. The clinical picture is similar to other infectious diseases such as malaria, dengue, influenza, etc., which often leads to misdiagnosis. We report the case of a man, 31 years old, with a history of travel and complaints of high fever persisting for more than 7 days. On physical examination, the temperature was 39-40 C, others were within normal limits. Initial platelet count was 69 x 103/µL, leukocytes was 15.52 x 109/L, CRP was 96 mg/L. The blood smear found Plasmodium falciparum, and PCR SARS-CoV-2 was positive. Chest X-ray showed pneumonia. Dihydroartemisinin-piperaquine and primaquine therapies were administered for malaria, as well as favipiravir, azithromycin, and other symptomatic therapy for COVID-19. Platelets decreased to 38 x 103/µL while D-dimer level increased (> 20 mg/L). Anticoagulant was delayed. On monitoring after therapy, the platelets returned to normal, the D-dimer level decreased, and there was no bleeding. The co-infectious conditions of malaria and COVID-19 should be suspected in patients with suggestive symptoms and travel history from endemic areas, therefore both examinations should be performed. This co-infection has the potential to cause hyper inflammation and hypercoagulation and this is associated with a poor prognosis. Appropriate treatment is needed.
LITERATURE REVIEW: IMUNITAS PASIEN ASIMTOMATIS SEBAGAI SUPER-SPREADER COVID-19 Putu Oky Ari Tania
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.13599

Abstract

Indonesia sebagai negara dengan penduduk berusia 15-44 tahun sebanyak 46,87% dari total penduduk, terdapat lonjakan kasus positif COVID-19 yang mencapai 797.723 kasus per 7 Januari 2021. Kelompok usia muda diduga menjadi kelompok penyumbang kasus infeksi tanpa gejala atau asimtomatis. Pasien asimtomatis umumnya tidak menyadari bahwa mereka berpotensi untuk menularkan infeksi dari SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Penulisan literatur review ini menggunakan metode pencarian literatur dari Pubmed dengan kata kunci asymptomatic, COVID-19, cytokine, inflammation. Studi ini bertujuan untuk menelaah sistem imun dari pasien asimomatis dan mengapa pasien tersebut menunjukkan gejala yang lebih ringan.
PERILAKU MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK MAHASISWA PENDIDIKAN DOKTER DI MASA PANDEMI COVID-19 Alisha Milenia Utami; Ardesy Melizah Kurniati; Dewi Rosariah Ayu; Syarif Husin; Iche Andriyani Liberty
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.13829

Abstract

Indonesia berada pada peringkat ke-2 kasus konfirmasi tertinggi COVID-19 di ASEAN pada Agustus 2020. Obesitas merupakan salah satu risiko penyebab komplikasi akibat COVID-19. Perilaku makan yang tidak sehat dan tidak aktif berolahraga dapat menyebabkan obesitas. Pada masa pandemi, perkuliahan dilakukan secara daring untuk melindungi mahasiswa dari penularan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku makan dan aktivitas fisik pada mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran di Palembang selama pandemi COVID-19. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan desain studi cross-sectional. Data didapatkan dari hasil pengisian kuisioner secara mandiri yang dibagikan kepada responden melalui Google Form. Sebanyak 276 orang mengisi kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mengalami penurunan aktivitas fisik (85,1%) dan duduk selama ?8 jam saat kuliah online (62,0%). Sebagian besar mengonsumsi karbohidrat <3 porsi/hari (63,0%), sayur <3 porsi/hari (84,1%) dan buah <2 porsi/hari (59,8%). Sebanyak 44,9% mahasiswa memiliki frekuensi makan utama 2 kali sehari dan frekuensi makan kudapan 3 kali sehari. Masih terdapat mahasiswa yang mengalami penurunan aktivitas fisik dan memiliki perilaku makan yang tidak sesuai anjuran Pedoman Gizi Seimbang selama masa pandemi COVID-19.
HUBUNGAN POLIMORFISME GEN KLOTHO C1818T DENGAN KEJADIAN PREEKLAMSIA Efrieni Yusuf; Legiran Legiran; Mgs Irsan Saleh; Kms Yusuf Effendi
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.12778

Abstract

Angka Kematian Ibu akibat preeklamsia baik di dunia maupun di Indonesia masih tinggi. Preeklamsia merupakan penyakit multifaktorial yang memiliki berbagai faktor risiko, diantaranya usia ibu, jumlah anak (paritas) dan riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya. Polimorfisme Gen Klotho C1818T dapat menyebabkan terjadi kelainan vaskularisasi plasenta yang akan mengakibatkan disfungsi endotel sehingga terjadi preeklamsia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan polimorfisme gen Klotho C1818T dengan kejadian preeklamsia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan pendekatan  studi case control, yaitu dengan cara membandingkan antara kelompok kasus yaitu ibu hamil dengan preeklamsia sebanyak 55 subjek dan kelompok kontrol yaitu ibu hamil normal sebanyak 55 subjek. Total sampel pada penelitian ini sebanyak 110 subjek. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi-Square didapatkan hasil pada variabel usia nilai p value 0,022 ; OR = 2,667 ; CI 95% = 1,136-6,258, variabel paritas dengan nilai p value 0,179 ; OR = 0,596 ; CI 95% = 0,279-1,272, variabel riwayat preeklamsia dengan nilai p value 0,000 ; OR = 10,494 ; CI 95% = 4,345-25,345. Pada genotif CT dan TT terhadap kejadian preeklamsia didapatkan nilai p value 0,003 ; OR = 4,310 ; CI 95% = 1,564-11,878. Pada Alel T didapat nilai p value 0,000 ; OR = 3,973 ; CI 95% = 1,934-8,160. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada hubungan yang bermakna antara polimorfisme gen Klotho C1818T dengan kejadian preeklamsia. Kata kunci: Polimorfisme, Klotho C1818T, Preeklamsia
KOLKISIN SEBAGAI TERAPI ADJUVAN PADA CORONAVIRUS DISEASE Dian Indriani Hidayat; Sofyan Budi Raharjo
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.13708

Abstract

Manifestasi klinis Coronavirus Disease (COVID-19) beragam. Patogenesis COVID-19 yang masih belum pasti, serta belum ditemukannya obat yang efektif untuk COVID-19 mendorong penggunaan berbagai obat off-label sebagai upaya penyembuhan pasien. Obat antiperadangan dan imunomodulator banyak dipakai dalam terapi terutama untuk kasus berat dan kritis. Kolkisin yang dikenal sebagai obat gout diuji coba sebagai alternatif pengobatan COVID-19. Namun penggunaan obat ini sebagai pilihan terapi pada COVID-19 masih jarang. Tinjauan literatur dilakukan untuk mengetahui penggunaan kolkisin sebagai terapi adjuvan COVID-19. Kolkisin memiliki dampak positif terhadap pengobatan COVID-19 namun data penelitian mengenai hal tersebut masih terbatas. Penggunaan kolkisin pada pasien COVID-19 menjadi alternatif terapi potensial karena relatif aman, murah, tersedia banyak, dan penggunaan secara peroral. Sifat immunomodulator, anti inflamasi dan antiviral menjadi dasar penggunaan kolkisin sebagai terapi adjuvan COVID-19. Kolkisin memiliki efek anti inflamasi multipel yang tidak spesifik pada target tunggal tertentu dan tidak bersifat imunosupresif.  Kolkisin terbukti dapat mempercepat waktu perbaikan klinis pasien, menurunkan angka kematian, kebutuhan rawat inap, dan lama rawat pasien COVID-19. Kolkisin juga dapat meminimalisir kerusakan paru dan memiliki sifat antifibrotic. Namun kolkisin tidak menurunkan kejadian emboli paru pada kasus COVID-19. Penggunaan kolkisin pada pasien rawat jalan terbukti mencegah perburukan kasus COVID-19 dan mengurangi kebutuhan rawat inap pasien. Efek kardioproteksi dan antipiretik kolkisin pada COVID-19 masih memerlukan penelitian lebih lanjut.  Kehati-hatian penggunaan kolkisin terkait efek gastrointestinal dan penyesuaiannya pada gangguan ginjal. Masih dibutuhkan penelitian skala besar dan penelitian mengenai pemberian kolkisin pada COVID-19 di Indonesia.
HUBUNGAN TINGKAT EKSPRESI P15 TERHADAP NEVUS MELANOSITIK DAN MELANOMA MALIGNA Renny Apliza Nasution; Ika Kartika; Theodorus Theodorus
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.12582

Abstract

 Lesi melanositik memiliki gambaran morfologi dan sitomorfologi yang luas mencakup lesi jinak yaitu nevus melanositik dan lesi ganas yaitu melanoma maligna. Beberapa gambaran nevus melanositik menyerupai melanoma. p15 merupakan gen penekan tumor dan biomarker yang kuat sehingga dapat digunakan untuk membedakan antara nevus dan melanoma. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat ekspresi p15 pada nevus dan melanoma.  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain serial kasus sejak 1 Januari 2015 sampai 30 Desember 2019. Sebanyak 60 sampel dilakukan pemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi p15. Ekspresi p15 dinilai berdasarkan proporsi sel tumor yang terpulas dan intensitas pulasan. Analisis statistik menggunakan SPSS versi 23.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nevus melanositik paling bnayk dijumpai pada perempuan (76,7%), pada kelompok usia <55 tahun (90%), lokasi tumor pada kepala dan leher (83,3) dan pada tipe histopatologi dermal naevus (53,3%). Melanoma maligna paling banyak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki (53,6%), pada kelompok usia <55 tahun (57,1%), lokasi tumor pada kepala dan leher (35,7%) dan pada tipe histopatologi nodular melanoma (42,9%). Terdapat hubungan bermakna antara tingkat ekspresi p15 dengan lesi melanositik (nevus melanositik dan melanoma maligna) (r=0,9666; p=0,000). Ekspresi p15 tinggi dijumpai pada nevus melanositik dan rendah pada melanoma maligna. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat ekspresi p15 dengan lesi melanositik (nevus melanositik dan melanoma maligna). Semakin rendah ekspresi p15 maka semakin besar kemungkinan terjadi melanoma maligna. Background. Melanocytic lesions have a broad morphological and cytomorphological picture including benign conditions or melanocytic naevus and malignant melanoma. Some features of a melanocytic nevus mimicking melanoma. p15 is a tumor suppressor gene and is a robust biomarker that can be used to differentiate between nevus and melanoma. This study aims to determine the correlation between p15 expression in melanocytic naevus and malignant melanoma. Methods. This research is an observational descriptive study with a case series design, conducted from January 1st, 2015 to December 30th 2019. A total of 60 samples were subjected to immunohistochemical examinations using antibody p15. The expression p15 is based on tumor cell proportion and intensity. Statistical analysis using SPSS version 23. Result. Melanocytic nevus was predominantly female (76.7%), age group <55 years (90%), location of tumors on the head and neck (83.3), histopathological type of dermal naevus (53.3%). Malignant melanoma was mostly found in men (15, 53.6%), age group <55 years (57.1%), the location of tumors on the head and neck (35.7%), type histopathology of nodular melanoma (42.9%). The correlation between p15 level expression and melanocytic lesions (melanocytic nevus and malignant melanoma) (r = 0.9666; p = 0.000). Conclusion. High expression of p15 was found in melanocytic nevus and low in malignant melanoma. There was correlation between p15 level expression and melanocytic lesions (melanocytic nevus and malignant melanoma). The lower the p15 expression, the more likely malignant melanoma will occur.
THE CORRELATION OF MOBILITY TREND AND SITUATION OF COVID-19 BY COUNTRY, TERRITORY, AND AREA Adrina Esther Liaw; Jihan Natra Shafira; Muhammad Aziz; Iche Andriyani Liberty
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 8, No 3 (2021)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32539/JKK.V8I3.13732

Abstract

Each country around the world has taken several approaches in order to stop the spreading of the virus. This study was conducted to correlate the mobility trend and the situation of COVID-19 by country, territory, and area. This research paper adopts an observational analytic study with a cross-sectional approach for 115 countries from February 17th to August 27th, 2020. Tajikistan (r=0,956) and Italy (r=0,931) has the highest positive correlation for retail and recreations. For grocery,the highest degree of positive correlation is Mongolia (r=0,945) and Tajikistan (r=0,933). Bostwana and Italy showed highest significant positive correlation among countries (r=0,985 and r=0,902, respectively) for transit stations and residential  (r=0,994 and r=0,984). Bostwana also has the highest significant positive correlation for the park (r=0.980). Meanwhile, for the workplace, Mauritius (r=0,863) and Dominica (r=0,785) are countries with the highest degree of positive correlation with a cumulative case of COVID-19. Society's behavior plays an important role by following the government policy in order to slow down the spread of the virus. Retail and recreations, groceries and pharmacy stores, transit stations, parks, and workplaces found to have a significant positive correlation while residential have a significant negative correlation with cumulative cases of COVID-19 in most countries.   

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 3 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 12 No. 1 (2025): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 3 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 3 (2023) Vol. 10 No. 3 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol. 10 No. 2 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 2 (2023) Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Univers Vol 10, No 1 (2023) Vol. 9 No. 3 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 9, No 3 (2022) Vol. 9 No. 2 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 9, No 2 (2022) Vol 9, No 1 (2022) Vol. 9 No. 1 (2022): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 8, No 3 (2021) Vol. 8 No. 3 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 8 No. 2 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 8, No 2 (2021) Vol 8, No 1 (2021) Vol. 8 No. 1 (2021): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 7 No. 3 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 7, No 3 (2020) Vol. 7 No. 2 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 7, No 2 (2020) Vol 7, No 1 (2020) Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 6 No. 3 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 6, No 3 (2019) Vol 6, No 2 (2019) Vol. 6 No. 2 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 6, No 1 (2019) Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 3 (2018): Oktober 2018 Vol. 5 No. 3 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 3 (2018) Vol 5, No 2 (2018) Vol. 5 No. 2 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 5, No 1 (2018) Vol. 4 No. 3 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 4, No 3 (2017) Vol 4, No 2 (2017) Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 4, No 1 (2017) Vol 3, No 1 (2016): Januari 2016 Vol 3, No 3 (2016) Vol. 3 No. 3 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 3, No 2 (2016) Vol. 3 No. 2 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 3 (2015): OKTOBER 2015 Vol 2, No 3 (2015) Vol. 2 No. 3 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol. 2 No. 2 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol. 2 No. 1 (2015): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi Vol 1, No 1 (2014): Oktober 2014 Vol 1, No 1 (2014) Vol. 1 No. 1 (2014): Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universi More Issue