cover
Contact Name
Haris Murwadi
Contact Email
editor.j@ubl.ac.id
Phone
+6281977948802
Journal Mail Official
editor.j@ubl.ac.id
Editorial Address
Universitas Bandar Lampung Jl. Zainal Abidin Pagar Alam No.26 Labuhanratu Bandar Lampung 35142 Indonesia
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Arsitektur
Core Subject : Social, Engineering,
arsitektur dan lingkungan binaan, serta bidang ilmu lain yang sangat erat kaitannya seperti perencanaan kota dan daerah, desain interior, perancangan lansekap, dan sebagainya.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2012): Juni" : 6 Documents clear
Analisis Rancangan Norman Foster Pada Bangunan Chek Lap Kok Airport (Hong Kong) Dalam Konteks Arsitektur High-Tech . Ardiansyah
JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 2 (2012): Juni
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.473 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v2i2.304

Abstract

Teknologi sering kali diartikan sebagai perwujudan dari imajinasi manusia, dimana hal yang tidak mungkin  dapat menjadi sebuah kenyataan. Hal ini dapat dibuktikan melalui penemuan-penemuan manusia yang memberikan dalam penggunaannya. Teknologi bagi seorang arsitek  sangat berarti, hal ini dikarenakan teknologi dapat menjadi salah satu pemecahan dalam perwujudan imajinasinya yang akan diterapkan pada hasil karyanya, berarti dengan teknologi seorang  arsitek dapat leluasa dan lebih berkembang dalam menciptakan sebuah hasil karya arsitektur yang spektakuler.Karya-karya besar seorang arsitek dapat terwujud dikarenakan adanya pendukung dan pengaruh dari kemajuan teknologi yang saat sekarang ini semakin canggih. Hal inilah yang menjadi motivasi sekelompok orang untuk mengembangkan pola pikir dan penggunaan teknologi.Norman Foster dalam mendesain unsur yang muncul dalam setiap karyanya yang identik dengan perkembangan teknologi, disamping itu kedua unsur tersebut dalam penggunaanya sangat tepat untuk efisiensi waktu dan biaya. Bagaimana ia dapat memanfaatkan kedua unsur material tersebut, yang berupa logam dan kaca menjadi suatu hasil karya yang berteknologi tinggi, karena kedua unsur tersebut tidak hanya di pakai pada desain-desainya tetapi juga banyak digunakan pada karya-karya arsitek yang lain.Walaupun logam dan kaca merupakan bahan-bahan bangunan yang biasa digunakan dalam karya arsitektur, namun ia mampu memamfaatkannya menjadi suatu tampilan yang mempunyai nilai tinggi karena ia sendiri juga mendesain pengolahan dari bahan-bahan tersebut hingga menjadi komponen-komponen bangunan yang nantinya akan menghasilkan suatu bangunan yang berteknologi tinggi.
Akulturasi Budaya Pada Masyarakat Muslim Desa Pegayaman Buleleng Bali L. Edhi Prasetya
JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 2 (2012): Juni
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1123.623 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v2i2.305

Abstract

Desa Pegayaman di Kecamatan Sukasada, Buleleng, Singaraja, Bali, adalah sebuah desa muslim di Bali. Desa dengan penduduk ± 5000 jiwa, 90% dari mereka adalah muslim, hidup dalam harmoni di kalangan penduduk Hindu. Akulturasi Islam-Hindu terjadi dilihat dari beberapa aspek, terutama dalam arsitektur, yang berbeda dari bangunan pada umumnya di Bali, integrasi unsur-unsur Hindu-Muslim dipertahankan sampai saat ini di Desa Pegayaman. Berbeda dengan umumnya desa-desa di Bali masih berlandaskan falsafah tradisional Hindu, poros agama, poros bumi, dll. Pola desa di Pegayaman tampak seperti sebuah labirin, pola yang memiliki karakteristik persimpangan dari gang ke jalur, sebagai strategi perang untuk melakukan gerilya dan sebagai bagian untuk mempertahankan kerajaan. Desa Pegayaman dipengaruhi oleh budaya Bugis, Jawa dan Bali, ditunjukkan oleh aspek-aspek arsitektur seperti atap, pintu, pilar, dan jendela. Mayoritas muslim di Pegayaman memberikan karakteristik unik yang berbeda dari bangunan umum Bali yang kuat dipengaruhi filosofi Hindu. Dengan demikian orang-orang Pegayaman menerapkan pemikiran yang lebih rasional untuk mendapatkan ukuran elemen bangunan, struktur bangunan dan konstruksi.
Preferensi anak terhadap ruang bermain pada rusunawa di Bandung (Studi kasus : Rusunawa Cigugur dan Cingised) Hartanto Budiyuwono; Raisa Monica Romauli
JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 2 (2012): Juni
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2001.988 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v2i2.306

Abstract

Rumah susun sewa umumnya dihuni oleh keluarga kecil, terdiri dari orang tua dan 1 (satu) orang anak berumur hingga 12 tahun yang membutuhkan ruang bermain sebagai bagian dari pertumbuhan mereka. Anak juga mempunyai preferensi mengenai ruang bermain yang baik bagi perkembangannya, berdasarkan lokasi, dimensi, pencahayaan dan penghawaan, dan peralatan pengisi ruang. Untuk itu, dilakukan penelitian kualitatif pada beberapa penghuni di Rusunawa Cigugur dan Cingised di kota Bandung, guna mengetahui preferensi dari anak  terhadap kebutuhan ruang bermain. Preferensi ini bermanfaat bagi masukan desain, mengingat masih banyak dibutuhkannya rusunawa di Indonesia.Rental flats are generally inhabited by small family, consisting of parents and 1 (one) children aged up to 12 years old who need space to play as part of their growth. Children also have preferences about space to play which is essential for their development, based on location, dimension, lighting and air circulation, and furniture. Therefore, qualitative research were conducted on some occupants in rusunawa Cigugur and Cingised in Bandung city, in order to understand the preferences of the children for  the needs of space to play. These preferences is beneficial for design criteria, considering that there are much rusunawa needs in Indonesia.
Perancangan Fasilitas Publik di Wana Wisata Kawah Putih Menggunakan Teori POETIC ARCHITECTURE di Bentang Alam Shofia Islamia Ishar
JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 2 (2012): Juni
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1076.442 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v2i2.302

Abstract

Arsitektur merupakan salah satu bentuk interpretasi manusia terhadap keindahan alam. Interpretasi yang menyatakan bahwa manusia adalah pembentuk lingkungan binaan dan bagian dari alam itu sendiri, sehingga mewujudkan interpretasi tersebut ke dalam arsitektur merupakan suatu kebutuhan. Salah satu cara untuk menginterpretasi alam ke dalam wujud arsitektur, adalah dengan berpuisi. Arsitek "membaca" unsur-unsur alam layaknya puisi karena keindahannya. Interpretasi alam dengan cara berpuisi ini, terkandung dalam teori Poetic Architecture yang ditulis oleh Antonie C. Antoniades.Wana Wisata Kawah Putih merupakan salah satu area wisata yang terletak di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Area wisata ini merupakan suatu kesatuan unsur alam yang berpuisi dengan keindahannya. Area wisata ini juga dikenal dengan nilai mitologis dan historis yang turut memperkuat karakternya. Sayangnya nilai-nilai puitis dari keindahan alam tersebut belum diapresiasi dengan baik melalui desain fasilitas publik yang tersedia, oleh karena itu dibutuhkan suatu perancangan fasilitas publik yang lebih menggali potensi dan menyampaikan nilai-nilai puitis alam tersebut. Dalam perancangan ini, fasilitas publik diwujudkan melalui respon terhadap nilai puitis alam yang dibagi ke dalam tiga spot perancangan yaitu, area pengenalan dengan transisi lahan datar ke curam (spot 1), area hutan dan tebing (spot 2) dan area kawah (spot 3).
Pertimbangan Iklim Tropis Lembab Dalam Konsep Arsitektur Bangunan Modern Gagoek Hardiman
JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 2 (2012): Juni
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.929 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v2i2.307

Abstract

Pemahaman terhadap prinsip arsitektur tropis lembab di Indonesia, sangat perlu untuk menciptakan bangunan dengan ruang-ruang yang nyaman dan sehat. Selain itu dengan mengantisipasi permasalahan dan memanfaatkan potensi iklim tropis lembab, akan didapatkan hal yang sangat penting, yakni penghematan energi, pelestarian lingkungan dan penghematan sumberdaya alam. Nenek moyang bangsa Indonesia terbukti telah berhasil merencanakan banguan yang sesuai dengan iklim tropis lembab secara trial and error dalam kurun waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu untuk mewujudkan arsitektur yang berkelanjutan dan sesuai dengan alam serta budaya Indonesia. Perlu dipelajari local wisdom atau kearifan lokal pada arsitektur Nusantara yang dapat dipadukan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan modern yang bersifat global untuk mewujudkan arsitektur masadepan yang berkelanjutan.
Kajian Estetika Yang Beda Relief Candi Jawa Timur R. Bambang Gatot Soebroto
JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 2 (2012): Juni
Publisher : Universitas Bandar Lampung (UBL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.266 KB) | DOI: 10.36448/jaubl.v2i2.303

Abstract

Penelitian ini disusun untuk mendalami bidang estetika Arsitektur pada relief candi. Untuk mengkaji danmenguji estetika relief candi dipakai teori Komposisi Polykleitos dan Prasejarah (Dick Hartoko).Diambil sepuluh sampel dari masing-masing daerah (Jawa Tengah-Jawa Timur), lalu dibuatkan matrik, untuk mudah pembacaan. Menjelaskan kedua kasus dipakai metode kritik Deskriptif dari Wayne Attoe. Hasil penelitian menunjukkan, relief candi Jawa Tengah masuk kategori indah menurut teori barat Polykleitos, tidak indah menurut teori Prasejarah - Dick Hartoko dan sebaliknya.The research was designed to explore the field of aesthetic architecture in temple reliefs. To examine and test the theory of aesthetic composition of the reliefs used Polykleitos and Prehistory (Dick Hartoko). Ten samples taken from each region (Central Java, East Java), then made ?the matrix, for easy reading. Explain both cases the methods used descriptive criticism of Wayne Attoe. The results showed that the relief of the temple in Central Java is categorized according to the theory of western Polykleitos beautiful, not beautiful according to the theory of Prehistory - Dick Hartoko and vice versa.

Page 1 of 1 | Total Record : 6