cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Geografi Indonesia
ISSN : 02151790     EISSN : 2540945X     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 421 Documents
Evaluasi Sumberdaya Lahan untuk Perencanaan Penggunaan Lahan Pertanian Berkelanjutan di Kecamatan Pulau Ternate Kota Ternate Provinsi Maluku Utara Rusdin Saleh; Suratman Suratman; Tukidal Tukidal
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3094.934 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13077

Abstract

ABSTRAK Evaluasi sumberdaya lahan sangat penting dalam perencanaan penggunaan lahan karena perencanaan penggunaan lahan yang baik harus didasarkan pada tingkat kesesuaian lahan dan kemampuan lahan. Penelitian ini bertujuan (1) mengevaluasi potensi penggunaan lahan pertanian berdasarkan analisis kemampuan lahan dan kesesuaian lahan, (2) menganalisis rencana penggunaan lahan pertanian berkelanjutan dan (3) menyusun pola spasial penggunaan lahan pertanian berkelanjutan di Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, Provinsi Maluku Utara. Penelitian ini menggunakan pendekatan keruangan dengan bentuklahan sebagai satuan unit analisis yang disusun berdasarkan interpretasi Citra Landsat TM band 457, Peta RBI dan peta geologi dengan skala peta 1 : 50.000. Analisis klasifikasi kemampuan lahan menggunakan sistem matching dan software LCLP (Land Classification and Land Use Planning). Hasil penelitian menunjukkan : Kecamatan Pulau Ternate  memiliki kelas kemampuan lahan III, VI, VII dan VIII. Kelas kemampuan lahan VI mendominasi wilayah penelitian dengan luas lahan 3000.42 Ha (57,04%).Tanaman cengkeh dan pala dapat dikembangkan pada satuan bentuklahan lereng kaki gunungapi (V5) seluas 1699.27 Ha (32,30 %). Pola spasial pengembangan lahan pertanian berkelanjutan untuk penggembalaan terbatas, hutan lindung dan hutan kayu diusahakan pada lahan kelas kemampuan VI,sedangkan lahan kelas kemampuan VII dan VIII untuk hutan lindung dan cagar alam. Lahan kelas kemampuan III yang dapat digarapuntuk pertanian ekstensif dikembangkan tanaman cengkeh dan pala dengan teknologi konservasi sedang.Untuk memperbaiki kesuburan tanah dan menekan terjadinya degradasi lahan, maka penelitian ini merekomendasikan perlu dilakukan tindakan pemupukan serta penggunaan lahan dengan mempertimbangkan kemampuan lahan dan kesesuaian lahan di daerah penelitian. ABSTRACT Land resources evaluation of are very important in landuse planning because landuse planning must be based on the land suitability and land capabilityclasses. Theresearch aimed to :(1) evaluate the potential landuse of agricultural based on land capability and suitability analysis of land, (2) landuse planning analyzing the sustainable agricultural and (3) compile of the spatial patterns sustainable agriculture landuse in the Subdistrict Ternate Island, of Ternate City, of the North Maluku Province. This research applied spatial approach where the landform asanalysis unit which is based on interpretation of Landsat TM band 457, Map RBI and geological maps with map scale 1: 50.000. Land capability classification analysis using matching system and software LCLP (Land Classification and Land Use Planning). The results showedthat :the Subdistrict Ternate Island hadseveral classes of land capability ranged from class III, VI, VII and VIII. The land capability class of VI dominated the research regions with a land area 3000.42 ha (57,04%).Plant cloves and nutmeg can be developed on the foot slopes of volcanic landform units (V5) of area 1699.27 ha (32,30%). The spatial pattern of sustainable agricultural development of land for grazing is limited, protected forests and woods cultivated on land capability classes VI, while land capability class VII and VIII for protected forest and nature reserves.Land capability class III could becultivatedfor the extensive agriculture can be developedfor cloves and nutmeg with moderate conservation technologies.To improve soil fertility and pressing land degradation, this study recommending fertilization necessary action and landuse by considering land capability and suitability of land ini the research area.
Dampak Perubahan Penggunaan Lahan terhadap Perubahan Runoff di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bedog Yogyakarta Sanggara Yudha; Sudibyakto Sudibyakto; Suprapto Dibyosaputro
Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1723.972 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13426

Abstract

ABSTRAK DAS Bedog merupakan salah satu DAS di Yogyakarta yang daerah aliran sungainya mengalami proses pengembangan wilayah perkotaan. Proses perkembangan wilayah perkotaan di DAS Bedog ini terjadi dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Parameter dari adanya proses pengembangan wilayah perkotaan di DAS Bedog adalah terjadinya peningkatan peningkatan tipe penggunaan lahan “permukiman”, yang semula sebesar 15,29% di tahun 2004 menjadi 16,94% tahun 2008 dan 17,72% pada tahun 2010 atau meningkat sebesar 0,4% per tahun.Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan terhadap perubahan runoff dan merumuskan simulasi/skenario penggunaan lahan dalam menurunkan runoff di DAS Bedog menggunakan metode Curve Number-USSCS (CN-USSCS). Berdasarkan perhitungan metode CN-USSCS pada tahun 2004, 2008 dan 2010, akibat dampak dari perubahan penggunaan lahan menghasilkan ketebalan runoff sebesar 1.353,0 mm (66% dari jumlah hujan/tahun), 1.277,2 mm (55,5% dari jumlah hujan/tahun), dan 1.536,4 mm (57,6% dari jumlah hujan/tahun). Penggunaan lahan “permukiman” dan “lahan kosong” berkontribusi terbesar dalam peningkatan ketebalan runoff di DAS Bedog, dikarenakan memiliki nilai CN yang tinggi dan berarea luas.Validasi terhadap metode CN-USSCS menggunakan uji statistik, T-test dihasilkan nilai T-test sebesar 0,00 dan 0,092 dibawah nilai T-tabel sebesar 1,67 dan 1,71 serta nilai koefisien determinasi (R2) diatas 0,5 yang berarti metode CN-USSCS dapat diterapkan di DAS Bedog untuk memprediksi ketebalan runoff.Hasil rumusan skenario perubahan penggunaan lahan di DAS Bedog bahwa perubahan penggunaan lahan untuk 6 tahun ke depan (tahun 2016) mengalami perubahan ketebalan runoff sebesar 4% dari tahun 2010 (skenario 1). Penurunan ketebalan runoff di DAS Bedog dapat dilakukan dengan peningkatan luasan hutan berupa kebun campuran dan tumbuhan perdu (semak belukar) di daerah Bantul sebesar > 50% dari luas DAS Bedog (skenario 4). ABSTRACT Bedog watershed is one of the watersheds in the area of Yogyakarta through the process of urban development. The process of urban development in the Bedog watershed this happened in the past 10 years. The parameters of the process of urban development in the Bedog watershed is the increase in land use "settlement" from 15,29% (2004) to  16,94% (2008) and 17,72% in 2010 or an increase of 0.4% per year.The main objective of this research is is to analyze the impact of land use change on runoff and formulate of the simulation / scenarios of land use in reducing runoff in the Bedog watershed using the Curve Number -USSCS (CN-USSCS). Based on the calculation of CN-USSCS in 2004, 2008 and 2010, due to the impact of changes in land use resulted runoff of 1353.0 mm (66% of the amount of rain / year), 1277.2 mm (55.5% of the amount of rain / year), and 1536, 4 mm (57.6% of the amount of rain / year). Settlement and Bareland contributed to the greatest increase in runoff in the Bedog watershed, due to having a high value of CN and has a large area.Validation of the methods of CN-USSCS using statistical test, T-test produced values of 0.00 and 0.092 below the T-table values of 1.67 and 1.71, and the coefficient of determination (R2) above 0.5, which means CN-USSCS method can be applied in the Bedog watershed to predict the runoff.The results of the formulation of land use change scenarios in Bedog watershed that the change in land use for the next 6 years ( 2016) to change the runoff by 4% from the 2010 (scenario 1). Decrease runoff in the Bedog watershed to do with the increase in forest area in the form of mixed garden and herba plants (shrubs) in Bantul for >50% of the total Bedog watershed (scenario 4).
LONGSORLAHAN DI DAERAH KECAMATAN SAMIGALUH, KABUPATEN KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Suprapto Dibyosaputro
Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mgi.13232

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini dilakukan di daerah Kecamatan Samigaluh dan sekitarnya, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan tujuan untuk mempelajari, mengklasifikasi, dan memetakan daerah penelitin ke dalam peta geomorfologi dan peta unit medan, mempelajari daerah-daerah potensial terjadi longsor lahan dan menyusun peta bahaya longsor lahan, serta mengevaluasi longsor lahan setiap unit medan. Berbagai data yang dikumpulkan meliputi curah hujan, kemiringan lereng, jenis batuan, kedalaman pelapukan batuan, banyaknya dinding terjal, tebal solum tanah, tekstur dan permeabilitas tanah, penggunaan lahan dan kerapatan vegetasi penutup. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan teknik pengambilan sampel secara berstrata, dengan unit medan sebagai unit analisisnya. Unit medan diperoleh dengan menumpang-susunkan peta-peta geomorfologi, lereng, dan penggunaan lahan. Penentuan kelas bahaya longsor lahan menggunakan teknik pengharkatan terhadap masing-masing parameter medan, dan kemudian menjumlahkannya untuk masing-masing parameter medan tersebut. Selanjutnya dari jumlah harkat tersebut digunakan sebagai dasar untuk penentuan tingkat bahaya longsorlahan pada setiap unit medan, yang akhirnya disusun peta bahaya longsorlahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian dapat dikelompokkan ke dalam 32 unit medan. Hasil analisis tingkat bahaya longsorlahan yaitu kelas II (tingkat bahaya rendah) sebanyak 5 unit medan yang didominasi oleh kompleks dataran alluvial dan teras sungai dan perbukitan solusional berbatu gamping koral; kelas III (tingkat bahaya longsorlahan sedang) sebanyak 6 unit medan pada sebagian unit medan kompleks dataran alluvial dan teras sungai dan unit medan dari bentuklahan perbukitan solusional berbatugamping. Kelas IV (tingkat bahaya longsorlahan tinggi) terdiri dari 14 unit medan pada pegunungan denudasional dan berbatuan breksi dan perbukitan denudasional berbatuan tuff. Tingkat bahaya longsorlahan sangat tinggi (Kelas V) sejumlah 5 unit medan yaitu pada pegunungan denudasional berbatuan breksi, dan perbukiyan denudasional berbatuan tuff. Unit-unit medan yang mempunyai klas bahaya longsorlahan tinggi (Kelas IV) dan sangat tinggi (Kelas V) terjadi pada unit medan dengan kemiringan lereng (8-25%), terjal (20-40%) dan sangat terjal (<40%), kedalaman pelapukan batuan/tanah dalam hingga sangat dalam (>100cm). Penggunaan lahan tegalan, kebun campuran, dan permukiman, serta sebagian kecil sawah yang pengolahannya dilakukan dengan cara penterasan.
STUDI AKUIFER PADA BENTANGLAHAN KEPESISIRAN KABUPATEN KULONPROGO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Langgeng Wahyu Santosa
Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.007 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13271

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari tipe dan karakteristik akuifer pada bentanglahan kepesisiran di Kabupaten Kulonprogo. Metode yang dipakai untuk mempelajari tipe dan karakteristik akuifer •dalam penelitian ini adalah penyusunan model hidrostratigrafi yang didasarkan pada hasil survei geolistrik dengan metode Schlumberger. Titik pengukuran ditentukan secara purposive sampling pada setiap satuan geomorfologi kepesisiran, meliputi: gumuk pasir, beting gisik, clan dataran fluviomarin. Penampang hidrostratigrafi disusun dengan cara merekonstruksi perlapisan batuan berdasarkan nilai resistivity semu material hasil pendugaan geolistrik. Rekonstruksi dilakukan untuk beberapa titik pendugaan secara memanjang pada setiap satuan geomorfologi yang ada, juga secara cross section yang melintasi variasi satuan geomorfologi kepesisiran yang ada di daerah penelitian. Sistem dan tipe akuifer dianalisis dengan mendasarkan pada model hidrostratigrafi yang telah disusun.Vasil penelitian menunjukkan bahwa sistem akuifer di daerah penelitian terdiri atas akuifer bebas (unconfined aquifer) berupa lapisan pasir jenuh airtanah tawar, yang dibatasi oleh aquitard berupa lapisan lempung, napal dan pasir halus yang mengandung airtanah payau. Berdasarkan penampang hidrostratigrafinya, ternyata satuan geomorfologi gumuk pasir dan beting gisik merupakan suatu akuifer yang baik den potensial, tetapi bersfat setempat menyerupai kantong airtanah. Akuifer ini merupakan suatu sistem yang terpisah dari sistem akuifer dataran fluviomarin (bekas laguna) di bagian utaranya. Pada sistem akuifer gumuk pasir dan beting gisik, lapisan pasir mengandung airtanah tawar dijumpai hingga kedalaman ±40 meter dari permukaan tanah, dengan tahanan jenis antara 75 hingga 170 ohm-meter. Bagian bawahnya didasari oleh akuitard yang jenuh airtanah payau. Sementara pada satuan dataran fluviomarin bagian barat (di sebelah timur Sungai Serang), sistem akuifer didominasi oleh lapisan lempung, napal dan pasir halus yang jenuh airtanah payau dengan tahanan jenis antara 1.4 hingga 3.3 ohm-meter. Pada satuan dataran fluviomarin bagian timur (di sebelah barat Sungai Progo), lapisan atas tersusun oleh material pasir dengan sedikit lanau dan lempung jenuh airtanah tawar hingga kedalaman ±40 meter, dengan tahanan jenis 22 hingga 50 ohm-meter. Bagian bawahnya tersusun oleh lapisan lempung napal jenuh airtanah payau dengan tahanan jenis antara 2.1 hingga 4.2 ohm-meter.
Menyoroti Kepincangan Pengajaran Geografi Di SMA N. Daldjoeni; Daru Purnomo
Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.795 KB) | DOI: 10.22146/mgi.5275

Abstract

..
KONTRIBUSI PENGINDERAAN JAUH UNTUK PENGEMBANGAN SISTEM PEMANTAUAN PEMANFAATAN RUANG PADA RENCANA TATA RUANG WILAYAH Panji Agung; Mohammad Pramono Hadi; Sigit Heru Mukti
Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.374 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13328

Abstract

ABSTRAK Dampak nyata dari gema Undang-Undang otonomi daerah adalah meningkatnya aktifitas ekonomi di sektor konstruksi yang turut mendorong terjadinya pelanggaran terhadap rencana pemanfaatan ruang pada rencana umum tata ruang di daerah, untuk itu sudah saatnya dilakukan upaya pengendalian dan pengawasan secara terus menerus dan terintegrasi terhadap pelaksanaan rencana pemanfaatan ruang pada RTRW Kabupaten, agar tidak terjadinya dampak-dampak yang tidak diinginkan. Langkah kongkrit mewujudkan hal tersebut perlu dibangun suatu sistem pemantauan yang sederhana cepat dan murah yang merupakan bagian upaya pengendalian dan pengawasan sehingga dapat digunakan oleh pihak yang berkecimpung dalam perencanaan dan pengendalian RTRW setiap saat. Pelaksanaan pengembangan sistem pemantauan pemanfaatan ruang ini menjadikan Kabupaten Sleman sebagai lokasi penelitian. Penelitian dilakukan dengan menggunakan citra TERRA/ASTER rekaman tahun 2007 untuk memperoleh data primer  penggunaan lahan hasil interpretasi langsung dari citra satelit. Sedangkan data sekunder berupa peta pemanfaatan ruang diperoleh dari hasil digitasi peta pemanfaatan ruang RTRW Kabup aten Sleman. Kedua data tersebut selanjutnya dioverlay yaitu proses yang merupakan perwujudan dari proses pemantauan pemanfaat ruang dalam suatu RTRW kabupaten, dalam proses tersebut peta penggunaan lahan hasil dari interpretasi citra Aster berfungsi sebagai parameter pemantau dan peta pemanfaatan ruang berfungsi sebagai obyek yang dipantau. Sistem yang terbangun dalam penelitian ini terdiri dari beberapa subsistem langkah­langkah pengelolaan data citra ASTER dan peta rencana pemanfaatan ruang pada RTRW Kabupaten. Sistem tersebut terdiri dari subsistem persiapan, input, proses, analisis, dan output. Hasil pemantauan pemanfaatan ruang pada lokasi dengan menggunakan sistem pemantauan pemanfaatan ruang, memberi gambaran bahwa di Kabupaten Sleman terjadi pelanggaran terhadap rencana pemanfaatan ruang untuk kawasan pertanian lahan basah sebesar 34%, untuk pertanian lahan kering sebesar 17%, untuk hutan perkebunan sebesar 12%. Kontribusi dari penginderaan jauh adalah memberikan kelebihan pada sistem pemantauan yang dikembangkan berupa dapat digunakan oleh aparat pemerintah setiap saat baik terjadi ataupun tidak terjadi pelanggaran pemanfaatan ruang, disamping peghematan waktu, keakuratan data dan jalur birokrasi yang tidak panjang serta biaya yang relatif murah. ABSTRACT The real effect from sound of regional autonomy is the increasing of economic activities, especially in contruction sector in which follow pushing infringement space utilization plan on Local Spatial Arrangement Plans. For the reason, it is necessary required a continous and integrated development control to the plan implementation at local level, in order to prevent of undesirable impacts. A concrete effort to realize aforementioned purpose is to develop a simple and  cost-effective controlling and monitoring system as part of control and observation effort to Local Spatial Arrangement Plans enforcement, so that it can be used at any time by institution with planning and controlling authority. Execution the development of controlling and monitoring space utilization plan system became the Regency Sleman as research location. This research was conducted by using TERRA/ASTER imagery which recorded at 2007 to obtain primary data of land use as a result form satelite imagery interpretation. While secondary data is space utilization plan  map which obtained from Sleman space utilization plan map digitations. Both of data were  compiled with others through overlay procces as an implementation from development control of space utilization plan on local  spatial plans. On that process, existing land use map as a result from satelite imagery interpretation owning function as a monitoring parameter, while the land use map was stipulated as a watched object. As a result, this research  have yielded a controlling and monitoring system that consist of some subsystems which is step by step on ASTER imagery data management and space utilization plan map. Such subsystem are including preparation, input, processes, analysis and output. The observation result  of implementation in Regency Sleman by using the controlling and monitoring space utilization plan system which have been made by compiling of ASTER imagery processes and Space Utilization Plan map, prove that in Regency Sleman was happened infringement on space utilization plan for agriculture areas are equal to 34%, for dry agriculture areas equal 17%, and equal 12% for plantation areas. Contribution of remote sensing can be used at any time by implementation, beside another benefit like : cost-effective, time economizing, and cutting off bureaucracy path.
Strategi Peningkatan Pendapatan Petani Kopi Menggunakan Analisis Rantai Nilai dan Sumber Penghidupan Abdur Rofi
Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1116.937 KB) | DOI: 10.22146/mgi.33424

Abstract

Kopi merupakan komoditas global yang dengan nilai tambah dan potensi ekspor untuk negara-negara penghasil kopi. Sektor kopi Indonesia didominasi oleh produsen kecil. Pulau Flores- Propinsi Nusa Tengga Timur termasuk di Desa Baofeo, dikenal sebagai penghasil kopi berkualitas tinggi namun produksinya rendah. Studi ini bertujuan untuk mengkaji strategi peningkatan pendapatan petani kopi di Desa Baofeo.  Analis rantai nilai dan sumber penghidupan digunakan dalam studi ini. Data-data dikumpulkan melalui wawancara dengan pelaku budi daya di dalam rantai nilai, FGD, dan workshop validasi dengan stakholder terkait.  Penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan petani Boafeo dari kopi masih tergolong rendah. Rendahnya penghasilan ini disebabkan oleh produktivitas yang rendah rendah (300kg/ha) dibandingkan dengan potensi yang dapat dicapai (1.000 kg/ha) dan rendahnya harga jual kopi. Industri pengolahan yang ada di desa belum memberikan kontribusi terhadap perbaikan harga biji kopi petani, dan keberadaan pasar kopi spesial dengan harga yang baik di Flores belum dapat diakses oleh petani.
Pendugaan Cadangan Karbon pada Perkebunan Tanaman Teh (Ca-Mellia Sinensis) melalui Citra Penginderaan Jauh Alos Avnir-2 Karen Slamet Hardjo; Projo Danoedoro; Zuharnen Zuharnen
Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1465.937 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13066

Abstract

ABSTRAK Pemanasan global menjadi isu terkini dalam perubahan iklim, salah satu penyebabnya adalah pelepasan gas karbondioksida (CO2) ke atmosfer. Tanaman teh menyerap CO2, sehinggga mampu berperan untuk mengurangi emisi karbon. Program clean development mechanism dalam piagam Kyoto, membutuhkan perhitungan cadangan karbon yang akurat dan terkini beserta agihan secara spasial. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan respon spektral citra ALOS AVNIR-2 dan nilai indeks vegetasi dengan cadangan karbon tanaman teh dan Pendugaan cadangan karbon tanaman teh beserta agihannya pada perkebunan teh PT Pagilaran. Metodenya adalah pengolahan citra digital ALOS AVNIR-2 menggunakan algoritma indeks vegetasi (NDVI, RVI, SAVI, MSAVI-2, ARVI, GEMI), pengukuran sampel cadangan karbon tanaman teh dilapangan menggunakan rumus allometrik, analisis statistik hubungan respon spektral citra dan nilai indeks vegetasi dengan nilai cadangan karbon. Nilai korelasi tertinggi digunakan menghitung dan memetakan agihan cadangan karbon tanaman teh. Hasil penelitian tidak menunjukkan hubungan korelasi yang kuat antara saluran tunggal pada citra ALOS AVNIR-2 dengan cadangan karbon, yaitu nilai korelasi (r) < 0,21. Hasil korelasi nilai indeks vegetasi dengan cadangan karbon tertinggi adalah r = 0,44, diperoleh pada indeks vegetasi RVI (koefisien determinasi/R² = 0,196). Pendugaan cadangan karbon pada perkebunan teh pagilaran sebesar 30.974,5 Ton, dengan agihan urutan terbesar dari afdeling Pagilaran, afdeling Kayulandak dan afdeling Andongsili. ABSTRACT Global warming is an issue of current climate change, one reason is the release of carbon dioxide (CO2) into the atmosphere. Tea plants absorb CO2, so can contribute to reducing carbon emissions. Programs clean development mechanism under the Kyoto charter, requiring the calculation of carbon stocks and their recent and accurate spatial. The aim of research to determine the relationship spectral response AVNIR ALOS-2 and the index vegetation with carbon stocks of tea plants and then estimated of carbon stocks of tea plant and it distributions in PT Pagilaran plantations. The method is digital image processing ALOS AVNIR-2 uses an algorithm vegetation index (NDVI, RVI, SAVI, MSAVI-2, ARVI, GEMI), sample measurements of carbon stocks of tea plants in the field using a formula allometric, statistical analysis-response relationship spectral image and index vegetation with the value of carbon stocks. The highest correlation value is used calculate and mapping the carbon stocks tea plant. Results of the study did not show a strong correlation between a single channel on AVNIR ALOS-2 with carbon stocks, ie the value of the correlation (r) <0.21. The correlation value of index vegetation with the highest carbon stocks are r = 0.44, obtained in the vegetation index RVI (coefficient of determination / R ² = 0.196). Estimation of carbon stocks in the tea plantations Pagilaran of 30,974.5 tons, the largest spread of the sequence is Afdeling Pagilaran, Afdeling Kayulandak, and Afdeling Andongsili. 
DESA ADAT TENGANAN PEGRINGSINGAN DALAM PENGELOLAAN HUTAN DI DESA TENGANAN, KECAMATAN MANGGIS, KARANGASEM, BALI Karidewi Made Putri; Su Rito Hardoyo; Langgeng Wahyu Santosa
Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.676 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13402

Abstract

ABSTRAK Bagi masyarakat adat di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, keberadaan sebuah kearifan lokal yang berupa aturan adat atau “awig-awig” memiliki peranan yang begitu besar dalam melakukan pengelolaan hutan setempat. Hal ini terbukti dengan masih terjaganya kelestarian hutan hingga saat ini. Masalah yang muncul adalah bahwa eksistensi “awig-awig” yang telah diwariskan sejak abad ke-11 tidak hanya ditentukan oleh adanya pengakuan dari masyarakat adatnya sendiri namun juga oleh faktor-faktor internal dan eksternal yang melingkupi “awig-awig” dalam melaksanakan fungsinya.Tujuan penelitian adalah mengkaji sejauhmana efektivitas pelaksanaan kearifan lokal serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat efektivitas pelaksanaannya dalam pengelolaan hutan di wilayah penelitian. Lebih lanjut penelitian bertujuan menemukan konsep persepsi masyarakat terhadap efektivitas kearifan lokal. Konsep tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi pengelolaan hutan berbasis kearifan lokal.Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan metode pengumpulan data sebagian besar dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi, disamping interpretasi data sekunder sebagai pelengkap. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data secara induktif dengan metode kategorisasi. Pemeriksaan derajat kepercayaan data menggunakan teknik triangulasi sumber.Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pelaksanaan kearifan lokal dalam prakteknya secara umum masih berjalan cukup efektif meskipun substansi tiap-tiap pasal memiliki kelemahan masing-masing. Ketaatan masyarakat adat mematuhi aturan masih cukup tinggi dan pelanggaran yang terjadi tidak berpengaruh signifikan terhadap kondisi hutan. Persepsi masyarakat menghasilkan hubungan interelasi antar tiap konsep yang terdiri dari fleksibilitas “awig-awig”, mekanisme pelaksanaan “awig-awig”, partisipasi masyarakat, dan keberlangsungan fungsi hutan. Faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi tingkat efektivitas pelaksanaan kearifan lokal menghasilkan empat kriteria efektivitas yaitu substansi “awig-awig”, pola pengelolaan hutan, pelaku yang terlibat, dan mekanisme pelaksanaan “awig-awig”. Penyusunan strategi pengelolaan hutan yang berbasis pada kearifan lokal ditujukan untuk membenahi sistem pengelolaan tradisional sehingga dapat membantu masyarakat adat dalam melakukan pengelolaan hutan secara lebih efektif. ABSTRACT For the customary community at the customary village of Tenganan Pegringsingan, the existence of local wisdom in form of customary law or “awig-awig” is playing an important role in local forest management. It’s been proved by a well-maintained forest condition which has successfully preserved until these days. Problems are arise when the existence of “awig-awig” which was inherited since 11th century is not only determine by an acknowledgement from the customary community itself but also by some internal and external factors surround “awig-awig” in doing its functions.The aims of this research are to study how far the effectiveness of local wisdom has been carried out as well as several factors which had an effect on the level of effectiveness of local wisdom implementation in forest management over a site. Further, the aim is to discover some concepts of community perception toward the effectiveness of local wisdom. Those concepts become a basis to develop a local wisdom-based forest management strategy.This research was used a qualitative method with data collection mostly through in-depth interview and observation, in addition to secondary data interpretation as a complement.  Samples were selected using a purposive sampling technique. Data were analyzed inductively using a categorization method. Review of data credibility or data trustworthiness using a triangulation-source technique.The result of this research shows that the effectiveness of local wisdom implementation in general is still going fairly effective although the substance of each clause has its own weaknesses. The devotion of customary community to the customary law is still fairly high and the violation of the law has not signified affected the forest condition. The community perception is resulting four concepts of perception which interrelate one another. Those concepts are “awig-awig” flexibility, “awig-awig” implementation mechanism, community participation, and the sustainability of forest functions. All internal and external factors that had an effect on the level of effectiveness of local wisdom implementation were resulting four effectiveness criteria which are “awig-awig” substance, forest management method, people involved, and “awig-awig” implementation mechanism. The development of forest management strategies based on the existing local wisdom are addressed to improve the traditional management system in order to assist the customary community to carry out all tasks related to forest management effectively.
DAMPAK SOSIAL EKONOMI DINAMIKA MOBILITAS PENDUDUK PROPINSI BALI (SEBELUM DAN SESUDAH KRISIS MONETER) Ida Ayu Arini
Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia
Publisher : Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.681 KB) | DOI: 10.22146/mgi.13222

Abstract

ABSTRAK Arus migran ke Bali makin lama makin meningkat, lebih-lebih ketika terjadinya gangguan keamana di kota-kota besar di Indonesia pada waktu lengsernya penguasa orde baru pada tahun 1998. Pada waktu itu terjadi eksodus migran (terutama Warga Negara Indonesia Keturunan atau WNIK) menuju ke Bali. Memperhatikan hal tersebut perlu diteliti dampak mobilitas penduduk terhadap keadaan sosial-ekonomi masyarakat Bali. Data yang digunakan adalah data sekunder bersumber pada Sensus Penduduk SUPAS, dan dari dinas-dinas terkait. Dari hasil analisis didapatkan bahwa kepadatan dan laju pertumbuhan penduduk meningkat terutama pada daerah-daerah obyek wisata. Makin meningkatnya arus migran makin meningkat pula keheteroginan etnik di Bali. Kekhawatiran akan terjadinya dominasi ekonomi oleh migran WNIK tidak terjadi karena bidang usaha ekonomi yang strategis sebagian besar dikuasai oleh pengusaha pribumi lokal.

Filter by Year

1988 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2026): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 2 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 39, No 1 (2025): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 2 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 38, No 1 (2024): Majalah Geografi Indonesia Vol 37, No 2 (2023): Majalah Geografi Indoenesia Vol 37, No 1 (2023): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 2 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 36, No 1 (2022): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 2 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 35, No 1 (2021): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 2 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 34, No 1 (2020): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 2 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 33, No 1 (2019): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 2 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 32, No 1 (2018): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 2 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 31, No 1 (2017): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 2 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 30, No 1 (2016): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 2 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 29, No 1 (2015): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 2 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 28, No 1 (2014): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 2 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 27, No 1 (2013): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 2 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 26, No 1 (2012): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 2 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 25, No 1 (2011): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 2 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 24, No 1 (2010): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 2 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 23, No 1 (2009): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 2 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 22, No 1 (2008): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 2 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 20, No 1 (2006): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 2 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 19, No 1 (2005): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 2 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 18, No 1 (2004): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 2 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 17, No 1 (2003): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 2 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 16, No 1 (2002): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 2 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 15, No 1 (2001): Majalah Geografi Indonesia Vol 14, No 1 (2000) Vol 14, No 1 (2000): Majalah Geografi Indonesia Vol 10, No 17 (1996): Majalah Geografi Indonesia Vol 6, No 9 (1992) Vol 6, No 9 (1992): Majalah Geografi Indonesia Vol 2, No 3 (1989) Vol 2, No 3 (1989): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 2 (1988) Vol 1, No 2 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 1 (1988): Majalah Geografi Indonesia Vol 1, No 1 (1988) More Issue