cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. purworejo,
Jawa tengah
INDONESIA
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa
ISSN : 23030631     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ADITYA adalah jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa FKIP Universitas Muhammadiyah Purworejo sebagai media publikasi hasil karya ilmiah. Terbit dua kali setahun tiap bulan November dan Mei. Redaksi menerima artikel dari kalangan mahasiswa, budayawan, ahli sastra maupun praktisi pendidikan.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2014): ADITYA" : 15 Documents clear
Analisis Wacana Iklan Layanan Masyarakat Berbahasa Jawa Kabupaten Kebumen Galuh Windyasmara Brillyanti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.984 KB)

Abstract

  Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) tindak tutur pengungkap implikatur yang terdapat dalam wacana iklan layanan masyarakat berbahasa jawa kabupaten Kebumen; (2) implikatur yang terdapat dalam wacana iklan layanan masyarakat berbahasa Jawa kabupaten Kebumen. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data berupa wacana iklan layanan masyarakat berbahasa Jawa kabupaten Kebumen. Data penelitian ini meliputi kata atau kalimat yang terdapat dalam wacana iklan layanan masyarakat kabupaten Kebumen. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, teknik dokumentasi, teknik pustaka dan teknik simak catat. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument) dibantu dengan kartu data. Teknik keabsahan data menggunakan teknik triangulasi. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif. Teknik penyajian hasil analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tindak tutur yang merupakan pengungkap implikatur yaitu terdiri atas; (1) tindak tutur lokusi; (2) tindak tutur ilokusi; (3) tindak tutur perlokusi. Tindak lokusi merupakan tindak yang menyatakan sesuatu. Tindak ilokusi ditemukan tindak tutur memesan, melarang, menyemangati, menghimbau. Tindak perlokusi ditemukan tindak tutur meyakinkan menganjurkan, memerintahkan, mempengaruhi dan mengajak. Pemakaian implikatur digunakan sebagai dasar kritikan, sindiran yang disampaikan secara tidak langsung.   Kata kunci: pragmatik, iklan layanan masyarakat
Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Bahasa Jawa Pokok Bahasan Menulis Kalimat Berhuruf Jawa dengan Metode Make A Match Berbantuan Permainan Bisik Berantai pada Siswa Kelas VIII.1 di MTs N Klirong Tahun Pelajaran 2013/2014 Sri Winarti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.558 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap: (1) proses pembelajaran menulis kalimat berhuruf Jawa dengan metode make a match berbantuan permainan bisik berantai pada siswa kelas VIII.I MTs N Klirong; (2)  peningkatan aktivitas belajar menulis kalimat berhuruf Jawa dengan metode make a match berbantuan permainan bisik berantai pada siswa kelas VIII.I MTs N Klirong; dan (3) peningkatan hasil belajar menulis kalimat berhuruf Jawa dengan metode make a match berbantuan permainan bisik berantai pada siswa kelas VIII.I MTs N Klirong. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII.I MTs N Klirong dan objek penelitian ini ialah aktivitas dan hasil belajar bahasa Jawa siswa pokok bahasan menulis kalimat berhuruf Jawa. jenis penelitian ini merupakan PTK. Pengumpulan data digunakan teknik nontes dan teknik tes. Teknik nontes berupa observasi, angket dan dokumentasi, sedangkan teknik tes berupa instrumen tes yang berupa soal tes. Teknik analisis data berupa analisis deskripsi persentase. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa Proses pembelajaran menulis kalimat berhuruf Jawa dengan metode make a match berbantuan permainan bisik berantai dilakukan dalam tiga tahap  yaitu: prasiklus, siklus I, dan siklus II. Hasil observasi tahap prasiklus sampai siklus II menunjukkan bahwa pada siklus I siswa  mulai aktif , tetapi belum bisa bekerjasama dengan kelompoknya, siklus II siswa aktif dan berkerjasama dengan kelompoknya, sehingga diketegorikan baik. Hasil belajar menulis kalimat berhuruf Jawa diketahui bahwa nilai rerata dari prasiklus 53,75, siklus I 73,12, dan siklus II 83,19, sedangkan ketuntasan belajar siswa pada prasiklus 5,55%, siklus I 52,78%, dan siklus II 100%.   Kata kunci: menulis huruf Jawa, metode make a match, permainan bisik berantai
Watak dan Nilai Moral Tokoh Utama novel Ngulandara dalam Kumpulan Novel Emas Sumawur ing Baluarti Karya Partini B Emy Setiyowati
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.939 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) unsur intrinsik novel Ngulandara dalam kumpulan novel Emas Sumawur ing Baluarti karya Partini B; (2) watak tokoh utama novel Ngulandara dalam kumpulan novel Emas Sumawur ing Baluarti karya Partini B; (3) nilai moral tokoh utama novel Ngulandara dalam kumpulan novel Emas Sumawur ing Baluarti karya Partini B. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah novel Ngulandara dalam kumpulan novel Emas Sumawur ing Baluarti karya Partini B. Data penelitian ini adalah teks novel Ngulandara dalam kumpulan novel Emas Sumawur ing Baluarti karya Partini B. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik pustaka. Instrumen penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah kertas-kertas pencatat data yang digunakan untuk mencatat data watak tokoh utama dan nilai moral tokoh utama. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi. Teknik penyajian hasil analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik informal. Dari hasil penelitian ini disajikan (1) unsur intrinsik dalam novel Ngulandara sebagai berikut: (a) tema novel ini adalah petualangan hidup Rapingun/Raden Mas Susanto, (b) tokoh utama adalah Rapingun (RM Sutanta), tokoh tambahan adalah Raden Ajeng Tien Supartinah, Raden Bei Asisten, Raden Ayu Asisten, Nyi. Oie Wat Hien, Kreta, Iyem, Harjana, Raden Bei Mantri, RM Ajeng Gandaatmadja (c) alur yang digunakan alur maju, (d) latar dalam novel ini terdiri dari latar tempat: di tengah-tengah bulak, rumah Den Bei Asisten, kandang kuda, rumah Den Bei Mantri, pasar malam, restoran, daerah secang, rumah sakit, dan kamar Rapingun. Latar waktu: di pagi hari, sore hari, dan malam hari, sedangkan latar sosial dalam novel ini ditunjukan oleh perbedaan sosial, (e) sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang persona ketiga “dia” dan sudut pandang persona pertama “Aku”, (f) gaya bahasa yang terdapat dalam novel ini: metonimia, personifikasi, litotes. (2) watak tokoh utama meliputi suka menolong, pekerja keras, bertanggung jawab, mandiri, pemberani, dan berbakti kepada orang tua (3) nilai moral dalam novel Ngulandara ada empat yaitu nilai moral hubungan manusia dengan Tuhannya meliputi bersyukur, nilai moral hubungan manusia dengan manusia lain meliputi keakraban, rela berkorban, menghormati majikan, nilai moral hubungan manusia dengan alam sekitar menyayangi binatang, dan nilai moral hubungan manusia dengan dirinya sendiri meliputi pantang menyerah, kasih sayang, dan sikap bijak.   Kata kunci: struktur intrinsik, watak tokoh utama, nilai moral
Analisis Semiotik Tembang Macapat pada Serat Sana Sunu Karya Raden Ngabehi Yasadipura II dan Relevansi Pembelajarannya di SMA Mus liman
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.023 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan makna tembang macapat dalam Serat Sana Sunu melalui analisis semiotik yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik, (2) mendeskripsikan relevansi pembelajarannya tembang macapat Serat Sana Sunu di SMA. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulankan: (1) makna tembang macapat pada Serat Sana Sunu dengan analisis semiotik yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik (retroaktif). Pembacaan heuristik yaitu pembacaan sastra berdasarkan struktur kebahasaan (memperjelas arti kata-kata). Peneliti dibantu dengan kamus untuk penentuan arti (tanda). Penentuan arti tembang macapat pada Serat Sana Sunu karya Raden Ngabehi Yasadipura II yaitu dengan memberikan kosakata, pemberian kosakata dengan cara memberikan tanda kurung agar jelas, dan mengganti kata-kata yang tidak baku agar baku. Pembacaan hermeneutik yaitu pembacaan karya sastra berdasarkan konvensi sastra (penafsiran peneliti). Peneliti memberikan deskripsi-deskripsi makna tembang macapat pada Serat Sana Sunu agar pemaknaan teks menjadi lengkap dan mudah dimengerti. Makna tembang macapat pada Serat Sana Sunu yaitu penyair memberikan nasihat atau piwulang terhadap anak-anak yaitu dilarang berpergian ke hutan, mengetahui adap sopan santun dalam bertamu, mengetahui waktu ketika akan tidur, dan kepercayaan terhadap Allah Swt, (2) tembang macapat pada Serat Sana Sunu relevan sebagai pembelajaran di SMA. Selain mempelajari bahasanya yang berbahasa Jawa, teori tentang tembang macapat juga terdapat nilai-nilai moral untuk pembelajaran di SMA sesuai perkembangan anak.   Kata Kunci: Semiotik, Tembang Macapat, Pembelajarannya di SMA
Cerita Rakyat Goa Menganti di Desa Karangduwur Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen (Kajian Folklor) Rini Widiyanti
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.145 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap: (1) asal mula cerita rakyat Goa Menganti dan upacara tradisi Goa Menganti di Desa Karangduwur Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen, (2) unsur-unsur mitos yang berkembang di Goa Menganti di Desa Karangduwur Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen, dan (3) persepsi masyarakat Desa Karangduwur Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen tentang cerita rakyat Goa Menganti. Tempat penelitian dilakukan di Desa Karangduwur kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen, waktu penelitian mulai bulan Januari 2014 sampai Juli 2014. Metode yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif, datanya dikumpulkan, dideskrisipkan, kemudian dianalisis asal mula dan upacara tradisi, unsur-unsur mitos dan persepsi masyarakat terhadap cerita rakyat Goa Menganti di Desa Karangduwur Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Sumber data pada penelitian ini adalah dokumentasi (foto), buku, dan rekaman. Teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi metode. Hasil dari penelitian ini adalah, (1) asal mula cerita rakyat Goa Menganti yang terbentuk karena proses alami kemudian dijadikan sebagai tempat pertemuan makhluk halus di pantai selatan khususnya Nyi Roro Kidul, Nyi Blorong dan para pengikutnya dan akhirnya ditemukan oleh Syekh Maulana Maghribi, karena hal tersebut, akhirnya masyarakat Desa Karangduwur membuat tiga panembahan yang diberi nama panembahan Nyi Roro Kidul, panembahan Syekh Maulana Maghribi dan panembahan Nyi Blorong. Upacara tradisi Goa Menganti meliputi ritual membakar kemenyan dan memberikan sesaji di panembahan dan diakhiri dengan nyepi, sesaji yang digunakan antara lain kembang telon, rokok menyan lan rokok plenik rong ler, galong lempung, minyak duyung, teh, parem gading, gula batu, gedang raja lan gedang ambon sejodo, degan ijo siji, lan kemenyan, makna simbolik sesaji bertujuan memberikan berkah dan menghilangkan marabahaya, (2) unsur-unsur mitos yang terkandung meliputi Goa Menganti mengandung kekuatan gaib, Goa Menganti memberikan jaminan kehidupan manusia modern, Goa Menganti sebagai pemberlakuan norma-norma , dan Goa Menganti memberikan tuah, (3) persepsi masyarakat Desa Karangduwur responden dibagi dari kelompok usia yang meliputi golongan tua dan muda, pelapisan sosial diantaranya wong cilik, santri atau tokoh agama, ningrat dan priyayi. Kata kunci: cerita rakyat, Goa Menganti , kajian folklor.
Kajian Kohesi dan Koherensi dalam Novel Lintang Karya Ardini Pangastuti, Bn Rina Suryaningsih
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (549.732 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) wujud penanda kohesi gramatikal antarkalimat yang terdapat pada novel Lintang karya Ardini Pangastuti, Bn; (2) wujud penanda koherensi antarkalimat yang terdapat pada novel Lintang karya Ardini Pangastuti, Bn.Dari hasil analisis kohesi dan koherensi pada Novel Lintang Karya Ardini Pangastuti, Bn terdapat: (1) wujud penanda kohesi aspek gramatikal meliputi: (a) reference (pengacuan) persona aku, sliramu ‘kamu’, kowe ‘kamu’ dheweke ‘ia’, kita; (b) pengacuan demonstratif sawijining dina ‘pada suatu hari’, sesuke ‘besoknya’, meh saben minggu ‘hampir setiap minggu’, ing kamar kose ‘di kamar kosnya’, ing Temanggung ‘di Temanggung’; pengacuan komparatif kaya ‘seperti’; (c) subtitusi (penyulihan) wong loro ‘dua orang’; (d) elipsis (pelesapan) aku, tanpa kowe ‘tanpa kamu’, novele ‘novelnya’, sanajan ‘walaupun; (e) konjungsi (kata penghubung) nanging ‘tetapi’, sanajan ‘meskipun’, merga ‘karena’, yen ‘kalau’ muga-muga ‘mudah-mudahan’, nalika ‘ketika’, lan ‘dan’, utawa ‘atau’; (2) wujud penanda aspek koherensi meliputi: (a) hubungan sebab-akibat, (b) hubungan alasan-sebab, (c) hubungan sarana-tujuan, (d) hubungan kelonggaran-hasil, (e) hubungan syarat-hasil, (f) hubungan ibarat dan (g) hubungan aditif waktu (simultan dan beruntun). Kata kunci: kohesi, koherensi, novel Lintang
Analisis Tindak Tutur Bahasa Jawa di Pasar Sampang Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap Agus Setiaji
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.736 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi yang terdapat pada tuturan para pedagang dan pembeli di pasar Sampang Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap; (2) fungsi penggunaan tindak tutur bahasa Jawa di Pasar Sampang Kecamatan Sampang Kabupaten Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah berupa tuturan lisan. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik dasar dan teknik lanjutan. Teknik dasar yang digunakan adalah teknik sadap, sedangkan teknik lanjutan yang digunakan adalah teknik rekam dan teknik catat. Instrumen penelitian ini meliputi peneliti, alat perekam (handphone), alat tulis, nota pencatat serta buku-buku yang relevan dengan penelitian.  Dari hasil penelitian, peneliti memperoleh data sebanyak 45 rekaman. Peneliti menemukan tindak tutur berdasarkan daya tutur meliputi; tindak tutur lokusi, ilokusi dan perlokusi. Tindak tutur ilokusi yang digunakan dalam percakapan pedagang dan pembeli di pasar sampang meliputi: tindak tutur melapor, tindak tutur mendesak, tindak tutur menyarankan, tindak tutur mengumumkan. Tindak tutur perlokusi meliputi:  tindak tutur membujuk, tindak tutur menjengkelkan tindak tutur menarik perhatian. Fungsi ilokusi yang digunakan dalam percakapan pedagang dan pembeli di pasar sampang meliputi; tindak tutur asertif, tindak tutur komisif, tindak tutur direktif, dan tindak tutur ekspresif (evaluatif).   Kata kunci: tindak tutur, pasar Sampang
Pola Perilaku Spiritual dalam Kelompok Kebatinan Santri Garing di Desa Kajoran Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen Riana Anggraeni
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.972 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap: (1) proses pelaksanaan ritual yang dilakukan oleh kelompok kebatinan Santri Garing di Desa Kajoran, (2) makna simbolik yang terkandung dalam ubarampe yang digunakan dalam ritual yang dilakukan oleh kelompok kebatinan Santri Garing di Desa Kajoran, (3) pola perilaku spiritual dalam kelompok kebatinan Santri Garing di Desa Kajoran. Jenis penelitian ini yaitu deskriptif kualitatif. Tempat penelitian dilakukan di Desa Kajoran kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen, waktu penelitian mulai bulan Januari 2014 sampai Juli 2014. Sumber data dibagi menjadi sumber data primer yaitu ketua dan anggota kelompok kebatinan Santri Garing, sumber data sekunder berwujud buku-buku, rekaman, foto-foto, data monografi, serta referensi yang relevan dengan penelitian ini Data dibagi menjadi data primer berupa hasil wawancara dengan narasumber, data sekunder berupa keterangan-keterangan dari buku-buku, rekaman, foto-foto, data monografi, serta referensi yang relevan dengan penelitian ini. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik wawancara tak terstruktur, dan teknik dokumentasi. Instrumen penelitian yaitu peneliti sendiri dan dibantu dengan Handphone untuk menyimpan data berupa foto-foto dan rekaman hasil wawancara dengan narasumber. Hasil dari penelitian ini adalah, (1) proses ritual yang dilakukan oleh kelompok kebatinan Santri Garing ada 3 yaitu, (a) ritual kenduren, (b) ritual mandi di kalitempur dan (c) ritual mandi di tujuh sumur, (2) makna simbolik sesaji yang digunakan dalam ritual yang dilakukan kelompok kebatinan Santri Garing meliputi makna simbolik sesaji (a) jenang abang dan jenang putih, (b) kemenyan, (c) kembang telon, (d) tumpeng rasul, (e) ingkung, (f) ayam liringgalih, (g) ayam putih, (h) pisang raja, (i) pisang ambon, (j) pisang mas, (k) wedang jembawuk, (l) wedang kopi, putih dan teh, (m) wedang arang-arang kambang,  (n) pala pendhem dan pala kesimpar, (o) rakan atau jajanan pasar, (p) sisir dan cermin, dan (q) banyu tawa, (3) perilaku-perilaku spiritual yang dianut oleh anggota kelompok kebatinan Santri Garing adalah (a) pesucen, (b) semedi, (c) wetonan, (d) unggah-unggahan, dan (e) megeng.   Kata kunci: pola perilaku spiritual, kebatinan, santri garing
Etika dan Penggunaan Unggah-ungguh Bahasa Jawa dalam Roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata dan Skenario Pembelajarannya di SMA Kelas X Hana Pebri Ristiadi
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.971 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) nilai-nilai etika yang terkandung dalam roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata; (2) penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa dalam roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata; (3) skenario pembelajaran roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata di SMA kelas X. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif . Subjek penelitian ini adalah roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata. Objek penelitian ini adalah etika dan penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa dalam roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata dan skenario pembelajarannya di SMA kelas X. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik pustaka. Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrumen utama dibantu dengan alat pencatat data dan dokumen. Analisis data menggunakan teknik analisis isi. Teknik penyajian hasil analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik informal. Hasil analisis menunjukkan bahwa (1) etika yang terdapat dalam roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata berjumlah 19 tuturan terdiri dari; (a) etika keselarasan sosial berjumlah 10 tuturan dan (b) etika kebijaksanaan berjumlah 9 tuturan; (2) penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa yang terdapat dalam roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata berjumlah 23 tuturan terdiri dari; (a) ragam ngoko lugu berjumlah 12 tuturan, (b) ragam ngoko alus berjumlah 3 tuturan, (c) ragam krama lugu berjumlah 3 tuturan, dan (d) ragam krama alus berjumlah 5 tuturan; (3) etika dan penggunaan unggah-ungguh bahasa Jawa dalam roman Nona Sekretaris karya Suparto Brata dapat dijadikan sebagai bahan ajar pembelajaran bahasa Jawa SMA kelas X semester 2 dimasukkan dalam kompetensi dasar mendiskusikan isi roman.   Kata kunci: etika, unggah-ungguh, roman
Analisis Gaya Bahasa dan Ajaran Moral dalam Antologi Geguritan ‘’Sapu’’ (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel Bahasa dan Sastra Jawa 2012) Suci Alfiatun
ADITYA - Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Vol 5, No 2 (2014): ADITYA
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.379 KB)

Abstract

Abstrak: Tujuan penelitian  terhadap Analisis Gaya Bahasa dan Ajaran Moral dalam Antologi  Geguritan ‘’Sapu’’ (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel Bahasa dan Sastra Jawa 2012) meliputi: 1) mendeskripsikan gaya bahasa, 2) ajaran moral dalam Antologi Geguritan ‘’Sapu’’ (Antologi  Geguritan lan Esai Bengkel Bahasa dan Sastra Jawa 2012). Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data  dalam penelitian ini adalah Antologi Geguritan ‘’Sapu’’ (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel Bahasa dan Sastra Jawa 2012) yang diterbitkan oleh Balai Bahasa Yogyakarta tahun 2012, sedangkan data dalam penelitian ini adalah gaya bahasa dan ajaran moral yang ada dalam Antologi Geguritan ‘’Sapu’’ (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel Bahasa dan Sastra Jawa 2012). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dan teknik catat. Instrumen yang digunakan adalah peneliti itu sendiri (Human instrument) dibantu dengan kartu pencatat data. Teknik keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber, metode, penyidik dan teori. Teknik analisis data yang digunakan adalah content analysis  serta teknik penyajian hasil analisis data yang digunakan adalah teknik penyajian hasil analisis informal. Hasil analisis data dan pembahasan data menunjukkan gaya bahasa dalam Antologi Geguritan ‘’Sapu’’ (Antologi Geguritan lan Esai Bengkel Bahasa dan Sastra Jawa 2012) terdiri dari gaya bahasa berdasarkan struktur kalimat yaitu: repetisi anafora. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna yaitu gaya bahasa retoris hiperbola, gaya bahasa kiasan  meliputi: simile, metafora, personifikasi,  sinekdoke, metonimia, sinisme dan sarkasme. Ajaran moral ada  tiga yaitu (a) ajaran moral yang menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan yang meliputi: berdoa kepada Tuhan, percaya pada kekuasaan Tuhan, pasrah, beriman, (b) ajaran moral yang menyangkut hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam meliputi: cinta, kesetiaan, tidak berjanji palsu, taat dan patuh anak kepada orang tua, tidak bertindak korupsi, menjaga kelestarian lingkungan alam, kedekatan manusia dengan alam. (c) ajaran moral yang mencakup hubungan manusia dengan diri sendiri yang meliputi: mau mengakui kesalahan, tidak mudah mengeluh. Kata kunci: gaya bahasa, ajaran moral, geguritan

Page 1 of 2 | Total Record : 15