cover
Contact Name
Dr. Achmad Amzeri, SP. MP.
Contact Email
-
Phone
+6285231168649
Journal Mail Official
agrovigor@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture University of Trunojoyo Madura Jl. Raya Telang PO BOX 2, Kamal - Bangkalan 69162
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi
ISSN : 1979577     EISSN : 24770353     DOI : https://doi.org/10.21107/agrovigor
Core Subject : Agriculture,
Agrovigor: Jurnal Agroekoteknologi is a scientific paper in the field of science Agroecotechnology which include: plant science, soil science, plant breeding, pest and plant diseases.
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2017): September" : 12 Documents clear
Perbaikan Komposisi Limbah Debu Tembakau sebagai Kompos Roni Syaputra; Subiyakto .
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.575 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.2977

Abstract

ABSTRAKPupuk organik penting karena sebagian besar lahan pertanian di Indonesia saat ini kekurangan bahan organik. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas produk pupuk alternatif (kompos berbasis debu tembakau)  Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengurangi pencemaran lingkungan dan mendukung keberlanjutan sistem produksi pertanian. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Ekofisologi dan KP. Karangploso pada Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat mulai bulan Maret sampai November 2012. Larutan aktivator yang digunakan EM-4 200 mL + Molase 200 mL yang dilarutkan dalam  40 L air untuk 100 Kg bahan. Perlakuan berupa:  (1) debu tembakau 50% +  kapur 1.5% + kotoran sapi 41% + penggembur 2.5% + arang sekam 5%, (2) debu tembakau 25% +  biomassa Tithonia 25%+  kapur 1,5% + kotoran sapi 41% + penggembur 2,5% + arang sekam 5%,  (3) biomassa Tithonia 50% +  kapur 1.5% + kotoran sapi 41% + penggembur 2.5% + arang sekam 5%. Pengamatan temperatur, setiap hari (pagi dan sore), pH seminggu sekali dan  analisis hara makro dan mikro produk kompos.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan komposisi kompos debu tembakau dengan penambahan biomassa Tithonia dapat meningkatkan kadar hara P, Na, Ca, meningkatkan pH dan KTK serta menurunkan rasio C/N kompos disamping itu juga mempercepat proses pengomposan.Kata kunci :  debu tembakau, kompos, limbah,  perbaikan komposisi  ABSTRACTOrganic fertilizer is important because most of the agricultural land in Indonesia is low of organic matter. This research aims to improve the quality of alternative fertilizer (compost-based tobacco dust). The results of this research are expected to reduce the pollution of the environment and support the sustainability of agricultural production systems. The experiment was conducted in the Ecophysiology Laboratory and Karangploso research station on Indonesian Sweeteners and Fiber Crops Research  Institute from March to November 2012. Activator used EM-4 solution: 200 mL EM-4 + 200 mL molasses dissolved in 40 L of water to 100 kg of material. Treatment were: (1) 50% tobacco dust  + 1.5% lime + 41% cow dung + 2.5% bulking + 5% charcoal,  (2) 25% tobacco dust  + 25% Tithonia biomass + 1.5% lime + 41% cow dung + 2.5% bulking + 5% charcoal, (3) 50% Tithonia biomass  + 1.5% lime + 41% cow dung + 2.5% bulking + 5% charcoal. Observations: temperature, every day (morning and afternoon), pH once a week and analyzes of macro and micro nutrients of compost product. The results of this research were recomposition of compost of tobacco dust with the addition of Tithonia biomass can increase nutrient levels of P, Na, Ca, increase pH value and CEC and decrease the C/N ratio of compost, besides that it also speeds up the composting process.Keywords: tobacco dust, compost, waste, recomposition 
Evaluasi Potensi Lahan Pengembangan Komoditas Strategis Perkebunan Kabupaten Sumba Tengah Provinsi Nusa Tenggara Timur Uska Peku Jawang; Bistok Hasiholan Simanjuntak; Tinjung Mary Prihtanti
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (857.916 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3308

Abstract

Abstrak : Terdapat empat komoditi strategis perkebunan yang dikembangkan di wilayah Kabupaten Sumba Tengah yaitu kopi, kakao, jambu mete dan kemiri. Informasi potensi lahan pengembangan komoditi strategis masih terbatas. Tujuan penelitian: 1)  Menentukan keunggulan komoditi terpilih, 2) Kesesuaian lahan, dan 3) Arahan wilayah pengembangan. Metode penelitian: Studi literature, Komoditas unggulan dengan metode LQ, Kelas kesesuaian lahan secara spasial dengan metode matching krakteristik lahan dan persyaratan tumbuh tanaman, dan arahan wilayah potensi pengembangan. Komoditas terpilih dengan wilayah basis. Kakao di Kecamatan: Katiku Tana, Katiku Tana Selatan, dan Mamboro. Kopi di Kecamatan:  Katiku Tana dan Katiku Tana Selatan. Jambu Mete di Kecamatan Mamboro dan Umbu Ratu Nggay. Kemiri di Kecamatan : Mamboro dan Umbu Ratu Nggay Barat.  Tingkat luas wilayah kelas kesesuaian lahan komoditas,  Kakao dengan luas kelas  S1: 103.327,5 ha, S2: 83.365,4 ha dan  N: 225 ha. Kopi dengan luas kelas  S1 123.664 ha, S2: 63.027,7 ha dan  N: 226. Jambu mete dengan luas kelas  S1: 5.716 ha, S2: 126.661,3 ha, S3: 54.313,1 ha dan N: 228 ha. Kemiri dengan luas kesesuian kelas S1: 165.567 ha, S2: 21.128,3 ha dan N: 223 ha. Arah wilayah pengembangan komoditas berdasarkan potensi lahan. Kakao di Kecamatan Katiku Tana, Katiku Tana Selatan dan Mamboro. Kopi di kecamatan Katiku Tana dan Katiku Tana Selatan. Jambu Mete wilayah pengembangan cukup potensi di kecamatan Mamboro, Umbu Ratu Nggay dan Umbu Ratu Nggay Barat. Kemiri wilayah pengembangan di kecamatan Katiku Tana Selatan, Mamboro dan Umbu Ratu Nggay Barat.Kata Kunci: Evaluasi Potensi Lahan, Komoditas Unggulan Perkebunan, Kelas Kesesuaian, Arahan Pengembangan Wilayah.
Karakterisasi Bakteri Penambat N Asal Bayam Liar (Amaranthus spinosus L.) Sebagai Pemacu Perkecambahan Benih Bayam Hijau (Amaranthus spp. L.) Fadjar Rianto; Mutiara -; Wasian -
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (487.791 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.2850

Abstract

Kebutuhan hara N pada bayam cukup tinggi, terutama jika ingin mengembangkannya di lahan yang kurang subur. Penggunaan bakteri penambat N yang hidup bebas diharapkan dapat membantu penyediaan N untuk tanaman. Penelitian bertujuan untuk melakukan karakterisasi isolat bakteri penambat N dan melihat peranannya dalam perkecambahan bayam cabut. Eksplorasi isolat bakteri dilakukan dari perakaran bayam liar menggunakan media LG dan Ashby. Isolat bakteri yang diperoleh dikarakterisasi berdarkan kemampuan melarutkan P dan menghasilkan senyawa indol, masing-masing pada media Picovskaya dan TSB yang diberi triptofan. Isolat yang unggul digunakan dalam uji perkecambahan bayam. Uji kecambah menggunakan metoda UDK pada kertas merang. Variabel yang diamati kecambah normal, vigor kecambah, panjang akar dan tinggi kecambah normal. Hasil isolasi diperoleh 16 isolat bakteri yang dapat menambat N, 3 isolat (12BH3, 13BH4 dan 1BH4) diantaranya unggul dalam melarutkan P dan dapat memproduksi senyawa indol. Pada pengujian daya kecambah digunakan isolat 12BH3, 13BH3 dan isolat komersial. Pengujian menunjukan bahwa isolat bakteri penambat N dapat meningkatkan kecambah normal dan tinggi kecambah
Pertumbuhan dan Hasil Kedelai, Respon terhadap Pupuk Hayati di Lahan Sawah Kabupaten Pandeglang, Banten Yati Astuti; Resmayeti Purba
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3054

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mempelajari efektifitas pupuk hayati terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan di lahan sawah desa Mekarsari Kec. Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten dari bulan Agutus hingga Oktober 2016.  Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan lima perlakuan dan enam ulangan.  Perlakuan adalah  (A). Tanpa pemupukan (kontrol); (B). Pupuk rekomendasi: 25 kg ha-1 Urea + 100 kg ha-1 SP-36 + 100 kg ha-1 NPK Phonska, (C) pupuk hayati Agrimeth 200 gram ha-1 + pupuk rekomendasi (D). pupuk hayati Agrimeth 200 gram ha-1 + Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi (E) pupuk hayati Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi. Parameter pengamatan adalah tinggi tanaman, jumlah daun, panjang akar, jumlah bintil akar, jumlah bunga, jumlah polong isi, dan hasil biji kedelai. Data pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Varians (ANOVA) 0,05.  Uji lanjut menggunakan Duncan Multiple Range Test (DMRT) 0,05 jika antar perlakuan berbeda nyata.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk hayati Agrimeth 200 g ha-1 + pupuk hayati Gliocompost 20 kg ha-1 + pupuk rekomendasi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman, yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bintil akar, jumlah bunga, jumlah polong isi, dan hasil kedelai.  Pupuk tersebut sebagai rekomendasi karena meningkatkan hasil kedelai dari  0,89 t ha-1 (kontrol) menjadi 2,01 t ha-1.Kata Kunci:  Agrimeth, Gliocompost, kedelai, lahan sawah, pupuk hayati
Perbanyakan Tanaman Panili (Vanilla planifolia Andrews) Secara Setek dan Upaya untuk Mendukung Keberhasilan Serta Pertumbuhannya Nur Holis
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.26 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.4242

Abstract

Salah satu faktor penentu keberhasilan pengembangan dan pengusahaan tanaman panili antara lain bibit yang baik. Tingkat pertumbuhan dan keberhasilan perbanyakan tanaman panili di pembibitan menjadi faktor pendukung dalam menghasilkan dan penyediaan bibit. Makalah ini bertujuan untuk mendapatkan informasi baik mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan maupun informasi pendukung lainnya mengenai perbanyakan tanaman panili secara setek dan upaya untuk mendukung keberhasilan serta pertumbuhannya. Tingkat pertumbuhan dan keberhasilan perbanyakan tanaman panili secara setek di pembibitan di antaranya dipengaruhi oleh teknologi budidaya dan kondisi lingkungan, sehingga harus mengadopsi teknologi budidaya yang tepat serta memperhatikan kesesuaian lingkungan yang memenuhi persyaratan tumbuh tanaman panili. Upaya untuk mendukung keberhasilan serta pertumbuhan setek panili, telah dilakukan berbagai penelitian untuk mengurangi kendala-kendala yang ada dalam praktek budidaya khususnya pembibitan dengan menggunakan bahan setek. Misalnya dalam upaya menanggulangi keterbatasan bahan setek dengan penggunaan setek pendek, meningkatkan pertumbuhan dengan penggunaan zat pengatur tumbuh, mengatasi ketersediaan unsur hara dengan pemupukan baik lewat tanah maupun daun, dan efisiensi dalam penyerapan hara dengan menggunakan mikoriza.
Penggunaan Kapur dan Varietas Adaptif untuk Meningkatkan Hasil Kedelai (Glycine max (L.) Merill) Sebagai Tanaman Sela Karet Sahuri Sahuri
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.26 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.2916

Abstract

Lahan di antara tanaman karet belum menghasilkan (TBM) memiliki potensi untuk peningkatan produksi kedelai. Namun, jenis tanah ini memiliki keracunan aluminium (Al) dan kemasaman tanah yang tinggi. Perbaikan kualitas lahan melalui penggunaan kapur dan penanaman varietas adaptif merupakan upaya untuk meningkatkan hasil kedelai sebagai tanaman sela karet. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tumpang sari karet+kedelai terhadap pertumbuhan lilit batang karet dan mengetahui pengaruh pengapuran dan varietas kedelai terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai sebagai tanaman sela karet. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Sembawa dari bulan Januari sampai Maret 2016. Percobaan menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama adalah pengapuran, yaitu 0 ton/ha dan 2 ton/ha, sedangkan anak petak adalah varietas kedelai yaitu Tanggamus dan Wilis. Pengamatan terhadap tanaman karet menggunakan metode Simple Random Sampling yaitu membandingkan antara tanaman karet pola tumpang sari kedelai dengan tanaman karet pola monokultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya tanaman sela kedelai dan pemberian kapur memperbaiki kualitas tanah di antara tanaman karet klon IRR 118. Lilit batang karet pola tumpangsari kedelai nyata lebih baik dibandingkan dengan lilit batang karet pola monokultur. Pengapuran nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil kedelai kedua varietas yang diuji serta nyata meningkatkan pH tanah dan menurunkan kejenuhan Al. Varietas kedelai Tanggamus lebih adaptif dibandingkan dengan varietas Wilis pada tanah masam.
Pengaruh Jarak Tanam dan Jumlah Bibit terhadap Pertumbuhan dan Hasil Padi Di Lahan Sawah Tadah Hujan Danuri .; Radian .; Nurjani .
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.206 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3056

Abstract

Tujuan penelitian ini   mengetahui pengaruh jarak tanam, jumlah bibit perlubang tanam serta interaksinya terhadap pertumbuhan dan hasil padi di sawah tadah hujan. Penelitian dilaksanakan pada sawah tadah hujan di  Kelurahan Sungai Rasau Kecamatan Singkawang Utara Kota Singkawang. Penelitian dilaksanakan dari tanggal 1 Desember 2015 sampai dengan bulan 30 April 2016. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAK Faktorial). Faktor jarak tanam dibagi dalam empat kelompok yaitu 15×15 cm, 20×20 cm, 25×25 cm dan 30×30 cm. Faktor jumlah bibit dibagi menjadi lima kelompok yaitu 5, 10, 15, 20 dan 25 batang perlubang tanam. Setiap faktor perlakuan dilaksanakan sebanyak tiga ulangan. Perlakuan jarak tanam berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah batang, jumlah anakan produktif, dan bobot gabah per rumpun. Perlakuan jumlah bibit berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan jumlah batang.Kata Kunci : anakan produktif, bobot gabah, padi, Singkawang.
Studi Distribusi Aktif dan Penularan Nematoda Entomopathogen Heterorhabditis spp Isolat Lokal dibawah Tanah Gita Pawana; Achmad Amzeri; Ahmad Djunaidy
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.4316

Abstract

Sehubungan dengan terbatasnya informasi dasar dari aktivitas nematoda entomopatogen (NEP) isolat lokal (Bangkalan Madura) sebagai entomopathogen bagi serangga tanah yang sebenernya merupakan inang dan habitat aslinya, selanjutnya tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa distribusi aktif Heterorhabditis spp isolat lokal pada kondisi tanah dengan struktur lepas terkait dengan keberadaan bahan organik dan mikrob, serta potensi penularannya. Pemdekatan metode yang digunakan adalah dengan meletakkan inang NEP pada berbagai kedalaman  dan jarak horizontal, serta menambahkan berbagai kandungan bahan organik dan mikrob pada media terdistribusi dan analisa mono siklus penyakit dan populasi inang. Selanjutnya mortalitas inang dianalisa 4 hari setelah suspensi NEP diberikan pada media. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa distribusi vertikal keatas atau kebawah juga horizontal dari Heterorhabditis spp isolat lokal dalam waktu 4 hari optimum sampai pada kedalaman 24 – 26 cm dari permukaan tanah. Kandungan bahan organik dan mikrob pendekomposer tanah tidak mempengaruhi kemampuan distribusi. Kedua isolat juga dapat bertindak sebagai sumber inokulum untuk penularan dalam populasi inangnya dengan jumlah invidu lebih dari 7 – 8  ekor, dengan periode letalnya 13 hari.
Uji Efektivitas Beauvaria bassiana dengan Perbandingan Waktu dan Dosis Aplikasi Pada Penggerek Buah Kakao (Conopomorpha cramerella Snellen) di Perkebunan Kakao Yusnita Herawati; Soeharto .; Abdul Majid
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.2956

Abstract

Produksi kakao yang menurun dapat disebabkan oleh adanya serangan hama penggerek buah kakao (Conopomorpha cramerella). Upaya pencegah yang dapat dilakukan selain menggunakan pestisida ialah dengan memanfaatkan agen hayati Beauvaria bassiana. Aplikasi menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari faktor konsentrasi: Kontrol/perlakuan kebun (K0), Beauvaria bassiana 2 gram/10 L (K1), Beauvaria bassiana 4 gram/10 L (K2), dan Beauvaria bassiana 6 gram/10 L (K3). Faktor interval waktu: Kontrol/Perlakuan Kebun (T0), Penyemprotan interval 5 hari (T1), Penyemprotan interval 10 hari (T2), Penyemprotan interval 15 hari (T3) kemudian diulang sebanyak 3 kali ulangan dan diambil 5 buah sampel tiap pohon sehingga diperlukan 48 pohon percobaan. Berdasarkan hasil penelitian kombinasi perlakuan konsentrasi agens hayati Beauvaria bassiana mampu menurunkan presentase buah terserang penggerek buah kakao, intensitas serangan penggerek buah kakao serta menurunkan penyusutan berat biji akibat serangan penggerek buah kakao. Konsentrasi Beauvaria bassiana terbaik ialah sebanyak 6 gram/10 L air (K3).Kata Kunci: Kakao, Conopomorpha cramerella , Beauvaria bassiana
Pengaruh Panjang Setek dan Konsentrasi Rootone F Terhadap Pertumbuhan Setek Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Siti Wahyuni; Dukat .; Meilina Prasetyo
Agrovigor Vol 10, No 2 (2017): September
Publisher : Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.947 KB) | DOI: 10.21107/agrovigor.v10i2.3148

Abstract

The purpose of this study is to determine the influence of the length of cuttings and concentration Rootone F to growth cuttings jatropha (Jatropha curcas L.). Research methodology used to the experimental method experimental design completely randomized design pattern combination, which consists of 12 factors and repeated three times. A (Length cuttings of 20 cm and a concentration of 0 ppm Rootone F), B (length of cuttings 20 cm and a concentration of 50 ppm Rootone F), C (Length cuttings 20 cm and a concentration of 100 ppm Rootone F), D (Long cuttings 20 cm and concentration 150 ppm Rootone F), E (Long cuttings of 25 cm and a concentration of 0 ppm Rootone F), F (Long cuttings of 25 cm and a concentration of 50 ppm Rootone F), G (Long cuttings of 25 cm and a concentration of 100 ppm Rootone F), H ( long cuttings of 25 cm and a concentration of 150 ppm Rootone F), I (long cuttings of 30 cm and a concentration of 0 ppm Rootone F), J (long cuttings of 30 cm and a concentration of 50 ppm Rootone F), K (length of cuttings 30 cm and a concentration of 100 ppm Rootone F) and L (length 30 cm cuttings and concentration of 150 ppm Rootone F). Variables observed that the number of shoots, number of leaves, fresh weight and root volume.The results showed occurred the length use of cuttings and concentration Rootone F real impact on the number of shoots, number of leaves and root volume. The treatment of length cuttings and concentration Rootone F the number of shoots are significantly at age 7 HST, age 28 HST numbers of leaves and root volume age 56 HST. The results are the best effect on the treatment of cuttings 20 cm and F Rootone concentration of 100 ppm.

Page 1 of 2 | Total Record : 12