cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 12, No 1 (2019)" : 10 Documents clear
FITOFARMAKA DAUN SAMBUNG NYAWA (Gynura procumbens) UNTUK MENINGKATKAN IMUNITAS IKAN KERAPU MACAN (Epinephelus fuscoguttatus Forsskal 1775) TERHADAP SERANGAN BAKTERI Vibrio alginolyticus Etika Oktaviani; Esti Harpeni; W Wardiyanto
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.4997

Abstract

BSTRAKFitofarmaka di Indonesia sudah tidak asing lagi dan banyak dimanfaatkan untuk pengobatan-pengobatan tradisional. Tanaman sambung nyawa merupakan salah satu tanaman yang sudah banyak dimanfaatkan untuk pengobatan manusia karena memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berkhasiat obat. Kandungan-kandungan tersebut seperti flavonoid, tannin, dan saponin. Selain untuk pengobatan manusia, daun sambung nyawa juga berpotensi untuk digunakan sebagai obat ikan dalam rangka pencegahan penyakit. Vibriosis merupakan salah satu penyakit bakterial yang disebabkan oleh Vibrio alginolyticus dan rentan menyerang ikan kerapu macan. Penggunaan antibiotik sintetik telah banyak digunakan tetapi menimbulkan banyak dampak buruk, sehingga perlu alternatif baru untuk pencegahan vibriosis. Salah satunya yaitu dengan penggunaan ekstrak daun sambung nyawa, hal ini didukung karena potensinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh ekstrak daun sambung nyawa untuk meningkatkan ketahanan tubuh ikan kerapu macan sehingga dapat mencegah serangan bakteri Vibrio alginolyticus. Metode yang dilakukan meliputi ekstraksi bahan, uji fitofarmaka, uji in vitro, uji in vivo, uji hematologi, dan uji histopatologi. Dosis ekstrak daun sambung nyawa yang paling efektif untuk meningkatkan ketahanan tubuh ikan kerapu macan dan mencegah serangan Vibrio alginolyticus adalah dosis 700 ppm.Kata kunci : daun sambung nyawa, pencegahan, vibriosi
KOROSI BAJA DI MUARA BARU JAKARTA DAN INDRAMAYU DENGAN SIMULASI PASANG SURUT UJI WET-DRY Gadang Priyotomo; Siska Prifiharni; Lutviasari Nuraini; S Sundjono; Ibrahim Purawiardi
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.4800

Abstract

Kerusakan akibat korosi baja sebagai material Infrastruktur maritim diinvestigasi menggunakan uji simulasi Wet-Dry, kehilangan berat, energy dispersive X-Ray spectroscopy (EDS) dan X-ray diffraction (XRD) dalam media air laut Muara Baru Jakarta, Karangsong dan Eretan, Indramayu. Larutan kontrol digunakan sebagai perbandingan air laut alami yaitu 3,5% NaCl dan 5% NaCl. Hasil penelitian menyatakan bahwa kerusakan merata korosi terjadi pada Baja setelah ekspos. Ketahanan korosi meningkat cepat pada 7 hari pertama kemudian menurun seiring dengan meningkatnya waktu ekspos. Pengaruh nilai konduktivitas, salinitas dan total dissolved solid (TDS) terhadap proses korosi baja hampir sama di setiap waktu ekspos. Penurunan oksigen terlarut meningkatkan laju korosi pada 7 hari pertama, mengindikasikan pembentukan lapisan oksida sebagai penahan laju korosi lebih lanjut. Peran ion klorida yang tinggi, meningkatkan laju korosi setelah 7 hari waktu ekspos, mengganggu terbentuknya lapisan stabil oksida di permukaan logam. Gangguan tersebut menyebabkan laju korosi cenderung akan meningkat kembali. SenyawaγFeO(OH) (Lepidrococite) terbentuk sebagai senyawa utama produk korosi.Kata kunci : Korosi, Infrastruktur, baja, Air laut,Salinitas, Oksigen terlarut .ABSTRACT The corrosive destruction of steel as material of maritime infrastructure had been investigated using simulated wet-dry test, loss weight, energy dispersive X-Ray spectroscopy (EDS) and X-ray diffraction (XRD) in seawater solutions of Muara Baru,Jakarta; Karangsong and Eretan regions, Indramayu. Controlled solution used as the comparison of natural seawater are 3,5% NaCl and 5% NaCl. The results shows that uniform corrosion took place on carbon steel after the exposure. The resistance of corrosion increases rapidly on the first 7 days, then decreases with increasing exposure time. The effect of conductivity, salinity and total dissolve solids (TDS) of test solutions for steel corrosion process was almost same at each interval of exposure time. The decrease of dissolved oxygen (DO) enhances corrosion rate on the first 7 days, which indicated the formation of oxide layer as the further barrier of corrosion process. The role of high concentration for chloride ion increases corrosion rate after 7 days of exposure time, which interfere the forming of stable oxide layer on the metal surface. That interference induces corrosion rate tends to increase again. The compound ofγFeO(OH) (Lepidrococite) formed as predominant corrosion product.         Keywords : Corrosion, Infrastructure, steel, seawater, salinity, dissolved oxygen
PENGARUH PERBEDAAN RENTANG SUHU TERHADAP KEBERHASILAN PEMIJAHAN DAN DAYA TETAS TELUR KERANG BULU (Anadara antiquata) Lalu Jaye Warse; Nanda Diniarti; Dewi Putri Lestari
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.5031

Abstract

Kerang bulu merupakan komuditas laut yang bernilai ekonomis tinggi, karena dagingnya memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi, bahkan cangkangnya dimanfaatkan untuk berbagai  kerajinan. Kerang bulu memiliki pertumbuhan yang cukup lambat.Sementara,keberadaannya di alam semakin menurun akibat penangkapan yang berlebihan. Salah satu cara untuk mempertahankan populasinya yaitu melakukan penanganan di sektor pembenihan. Keberhasilan pemijahan, hatching rate dan survival rate kerang bulu sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah suhu.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kejut suhu(penurunan dan penaikkan suhu) terhadap keberhasilan pemijahan, hatching rate dan survival ratekerang bulu (Anadara antiquata).Metode yang digunakan adalah metode eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan yaitu, P1 (28°C), P2 (30°C), P3 (32°C) dan P4 (34°C).Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejut memberikan pengaruh yang nyata terhadap keberhasilan pemijahan, perkembangan embrio dan hatching rate(P0.05).Tingkat penetasan telur tertingi diperoleh pada perlakuan P2 (30°C) dengan nilai sebesar 83%, sedangkan nilai terendah didapatkan pada perlakuan P3 (32°C) dengan nilai sebesar 62.33%. Namun, tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadapat survival ratelarva dengan nilai masing-masing sebesar P1 (62,33%), P2 (69%), P3 (65,33%) dan P4 (63,33%).Kata kunci: Kerang bulu, kejut suhu, perkembangan telur, hatching rate dan survival rate ABSTRACT Shellfish is a marine commodity that has high economic value, because the meat has a high nutrient content, even the shell is used for various handicrafts. Fur shells have fairly slow growth. Meanwhile, its presence in nature has declined due to overfishing. One way to maintain the population is to take care in the hatchery sector. The success of spawning, hatching rate and survival rate of fur shellfish are strongly influenced by many factors, one of which is temperature. This study aims to determine the effect of temperature shock (decrease and increase in temperature) on the success of spawning, hatching rate and fur shellfish survival rate (Anadara antiquata). The method used is the experimental method using Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments and three replications namely, P1 (28°C), P2 (30°C), P3 (32°C) and P4 (34°C). The results showed that shock gave a significant effect on the success of spawning, embryo development and hatching rate (P 0.05). The highest level of egg hatching was obtained at P2 (30 °C) treatment with a value of 83%, while the lowest value was obtained at treatment P3 (32°C) with a value of 62.33%. However, it did not have a significant effect on larval survival rates with values of P1 (62.33%), P2 (69%), P3 (65.33%) and P4 (63.33%), respectively. Keywords: Shellfish, temperature shock, egg development, hatching rate and survival rate
SEASONAL AND INTRA-SEASONAL VARIABILITY OF SEA SURFACE TEMPERATURE IN PARI ISLAND-JAKARTA, INDONESIA Corry Corvianawatie
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.5092

Abstract

Sea Surface Temperatures (SSTs) is one of the most important oceanographic parameter that could affect the marine life, especially coastal ecosystem. SSTs data varies in hourly, daily, seasonal, annual, inter-annual, and even in longer time scales. This condition makes any studies using instantaneous measurement could turn into misleading report due to the lack of time series SSTs data. Thus, the aim of this study is to understand the seasonal and intra-seasonal SSTs dynamics in Pari Island using continuous measurement from temperature logger. This study found that the double peaks of SSTs in May and November are correspond to the period of transitional monsoon. Conversely, the two minimum SSTs in February and August were correspond to the peak of northwest monsoon and southeast monsoon respectively. In addition to seasonal pattern, the slightly dominant intra-seasonal variability of SSTs was found in the period of 57 and 86 days. Those predominant signals suggested represent the Madden-Julian Oscillation phenomena.
BIOAKTIVITAS ANTIBAKTERI DARI EKSTRAK DAUN MANGROVE Avicennia sp. Zakinah A Alhaddad; Wendy Alexander Tanod; Deddy Wahyudi
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.4752

Abstract

Mangrove Avicennia sp. merupakan spesies mangrove yang penting, karena telah digunakan sebagai obat tradisional. Tujuan penelitian ini, yaitu mendapatkan fraksi ekstrak daun mangrove Avicennia sp. yang memiliki bioaktivitas antibakteri terhadap S. aureus dan E. coli. Sampel daun mangrove dikoleksi dari pesisir pantai di Kelurahan Kabonga Besar Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Metode Pengujian antibakteri menggunakan difusi sumur agar. Hasil penelitian menunjukkan kehadiran senyawa steroid, triterpenoid, flavonoid, alkaloid dan polifenol. Aktivitas antibakteri ditunjukkan fraksi etil asetat (S. aureus 16.97 ± 1.15 mm dan E. coli 14.40 ± 0.46 mm) dan etanol (S. aureus 12.20 ± 2.12 mm dan E. coli 8.13 ± 0.42 mm) pada 1,000 mg/mL. Penelitian ini telah mengeksplorasi kemampuan antibakteri ekstrak daun Avicennia sp. dalam pelarut n-heksan, etil asetat dan etanol. Analisis fitokimia dari berbagai ekstrak pelarut menunjukkan bahwa flavonoid dan tanin adalah umum dalam semua ekstrak tanaman dengan sifat antibakteri. Ekstrak daun Avicennia sp. dapat digunakan untuk menemukan produk alami bioaktif baru dan dapat digunakan sebagai sumber potensial yang dapat mengendalikan bakteri patogen.Kata Kunci : Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Bioaktif, Donggala, Sulawesi Tengah ABSTRACTMangrove Avicennia sp. an important mangrove species, because it used as traditional medicine. This research aimed to obtain a fraction of mangrove leaves extract Avicennia sp. which has antibacterial bioactivity against S. aureus and E. coli. Mangrove leaves collected from the coast in the village of Kabonga Besar, Donggala District, Central Sulawesi. Antibacterial activity assayed using the agar diffusion well method. The results showed the presence of steroid, triterpenoids, flavonoids, alkaloids and polyphenols compounds. Antibacterial activity showed by ethyl acetate fraction (S. aureus 16.97 ± 1.15 mm and E. coli 14.40 ± 0.46 mm) and ethanol (S. aureus 12.20 ± 2.12 mm and E. coli 8.13 ± 0.42 mm) at 1,000 mg/mL. This study has explored the antibacterial ability of Avicennia sp. leaves extract in n-hexane, ethyl acetate, and ethanol. Phytochemical analysis of various solvent extracts shows that flavonoids and tannins are common in all plant extracts with antibacterial properties. Avicennia sp. leaves extract can be used to find new bioactive natural products and can use as a potential source that can control pathogenic bacteria.Key Words : Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Bioactive, Donggala, Central Sulawesi 
LAJU PERTUMBUHAN Chaetoceros sp. PADA PEMELIHARAAN DENGAN PENGARUH WARNA CAHAYA LAMPU YANG BERBEDA Topan Sopian; Muhammad Junaidi; Fariq Azhar
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.4873

Abstract

Chaetoceros sp. merupakan pakan alami yang banyak digunakan pada unit-unit pembenihan ikan dan udang karena memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Salah satu masalah yang sering terjadi akhir-akhir ini adalah sulitnya memproduksi Chaetoceros sp. dalam jumlah besar karena ketidakstabilan produksi yang disebabkan oleh kualitas dan kuantitas Chaetoceros sp. yang tidak sama untuk setiap periode kultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui warna cahaya yang paling baik terhadap laju pertumbuhan Chaetoceros sp. Penelitian dilakukan dengan empat perlakuan cahaya lampu warna putih, warna hijau, warna merah, warna biru dan warna kuning yang setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya warna putih menghasilkan kepadatan populasi tertinggi sebesar 9,17 × sel/ml. selanjutnya perlakuan cahaya warna kuning sebesar 8,5 × sel/ml, kemudian perlakuan cahaya warna biru sebesar 5,33 × sel/ml, perlakuan cahaya warna merah sebesar 5 × sel/ml, dan terakhir perlakuan cahaya warna hijau yaitu sebesar 4,67 × sel/ml. Berdasarkan hasil penelitian ini, dianjurkan pada budidaya Chaetoceros sp. untuk meningkatkan laju pertumbuhan optimum adalah cahaya lampu warna putih.ABSTRACTChaetoceros sp. is a natural food that is widely used in fish and shrimp hatchery units because it has a fairly high protein content. One of the problems that often occurs lately is the difficulty of producing Chaetoceros sp. in large quantities due to production instability caused by the quality and quantity of Chaetoceros sp. which is not the same for each culture period. This study aims to determine the best color of light on the growth rate of Chaetoceros sp. The study was conducted with four white light, green, red, blue and yellow light treatments, each of which was repeated three times. The results showed that white light treatment produced the highest population density of 9,17 × cells / ml. then the yellow light treatment is 8,5 ×   cells / ml, then the blue light treatment is 5,33 × cells / ml, the red light treatment is 5 × cell / ml, and finally the light treatment of green is 4,67 × cells / ml. Based on the results of this study, it is recommended for the cultivation of Chaetoceros sp. to increase the optimum growth rate is white light. Keywords: Chaetoceros sp., Growth rate, natural feed, color of light
STUDI ETNOTEKNOLOGI DAN PEMANFAATAN SIA-SIA (Sipunculus nudus) OLEH MAYARAKAT DI PULAU NUSALAUT, KABUPATEN MALUKU TENGAH Rosita Silaban
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.5082

Abstract

Sia-sia memiliki bentuk menyerupai cacing, merupakan organisme yang hidup meliang di daerah pesisir terutama di sekitar area padang lamun, mangrove dan terumbu karang serta cenderung mendiami dasar perairan terlebih khusus di dalam substrat sehingga dikategorikan sebagai organisme bentik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk 1) menganalisis teknik dan pola penangkapan sia-sia, 2) mengkaji cara pemanfaatan sia-sia, dan 3) menganalisis kandungan nutrisi sia-sia. Metode penelitian terbagi dua yaitu: pengambilan sampel lapangan berupa : penyebaran kuisioner, wawancara dan pengamatan sedangkan kegiatan non lapangan yaitu pengujian laboratorium berupa analisa : kadar air, protein, lemak, abu, karbohidrat, mineral Calsium (Ca), Phosfor (P) dan Iodium (I2).Hasil penelitian menunjukan teknik penangkapan sia-sia tergolong unik dan memerlukan ketrampilan tersendiri. Penangkapan yang dilakukan oleh masyarakat setempat terhadap sia-sia masih sangat terkendali sehingga jumlah sia-sia cukup melimpah dan habitatnya juga terlihat dalam keadaan baik. Namun disisi lain, masyarakat belum mampu memanfaatkannya untuk diproduksi untuk bernilai ekonomis. Kandungan nutrisi Sipuncula di Pulau Nusalaut, berbeda menurut lokasi, tetapi  memiliki komposisi yang lengkap dengan kisaran kadar air berkisar antara 74,96-79,12%, protein 16,88-17,23%, lemak 0,22-0,28%, karbohidrat 1,03-3,86%, abu 2,41-3,06%, Calsium 6,16-12,42%, Fosfor 0,98-1,09%, Iodium 5,93-6,65%. Berdasarkan analisa kandungan nutrisi, sia-sia terbukti merupakan salah satu bahan pangan yang lezat dan bergizi.
PENGARUH KONSENTRASI PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN POPULASI SEL Nannochloropsis sp. Yuyun Arfah; Nunik Cokrowati; Alis Mukhlis
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.4925

Abstract

Nannochloropsis sp. merupakan mikroalga yang dibudidayakan sebagai pakan alami serta memiliki peranan penting dalam usaha pembenihan ikan, udang, kepiting dan biota laut lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pupuk urea terhadap pertumbuhan populasi sel Nannochloropsis sp dan konsentrasi pupuk terbaik untuk pertumbuhan populasi sel Nannochloropsis sp. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode ekseprimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan 6 perlakuan yaitu pemberian pupuk KW21 sebnyak 1 ml/L sebagai kontrol, 0 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L, 45 mg/L dan 60 mg/L yang diulang sebanyak 4 kali. Pengamatan kepadatan dilakukan selama 24 jam. Parameter yang diamati meliputi kepadatan populasi sel Nannochlorpsis sp., pertumbuhan relatif, waktu penggandaan diri dan pertumbuhan spesifik. Hasil penelitian menunjukan, bahwa kepadatan tertinggi populasi sel Nannochlorpsis sp. didapatkan pada konsentrasi pupuk urea 45 mg/L dengan kepadatan populasi sel sebesar 2,2625 juta sel/mL yang dicapai pada jam ke-24 setelah fase adaptasi. Dan pertumbuhan relatif tertinggi  50,83 %  dari kepadatan populasi awal, serta waktu penggandaan diri tersingkat yaitu 40,8 jam dengan pertumbuhan spesifik 0,8625 % per jam. Berdasarkan hasil penelitian ini, dianjurkan pada budidaya Nannochloropsis sp. untuk meningkatkan pertumbuhan populasi sel adalah pupuk urea dengan konsentrasi 45 mg/L.Kata kunci : pakan alami, budidaya, kepadatan, waktu penggandaan, pembenihan.ABSTRACKNannochloropsis sp. is a microalgae that is cultivated as natural food and has an important role in the effort of hatching fish, shrimp, crabs and other marine biota. This study aims to determine the effect of urea concentration on the growth of Nannochloropsis sp cell population and the best concentration of fertilizers for the growth of Nannochloropsis sp. Cell populations. The method used in this study is the experimental method using a Completely Randomized Design (CRD), with 6 treatments namely giving KW21 fertilizer as much as 1 ml / L as a control, 0 mg / L, 15 mg / L, 30 mg / L, 45 mg / L and 60 mg / L were repeated 4 times. Observation of density is carried out for 24 hours. The parameters observed included population density of Nannochlorpsis sp. Cells, relative growth, self doubling time and specific growth. The results showed that the highest density of cell populations was Nannochlorpsis sp. obtained at the concentration of urea fertilizer 45 mg / L with a cell population density of 2.2625 million cells / mL which was reached at 24 hours after the adaptation phase. And the highest relative growth was 50.83% from the initial population density, and the shortest self doubling time was 40.8 hours with a specific growth of 0.8625% per hour. Based on the results of this study, it is recommended to cultivate Nannochloropsis sp. to increase the growth of cell populations is urea with a concentration of 45 mg / L.Keywords: natural feed, cultivation, density, doubling time, seeding.
PEMANFAATAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI UNTUK IDENTIFIKASI PERUBAHAN GARIS PANTAI PESISIR UTARA SURABAYA Okol Sri Suharyo; Zainul Hidayah
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.5084

Abstract

Garis pantai dikenal pula sebagai garis pertemuan antara air laut dengan daratan yang kedudukannya berubah - ubah sesuai dengan kedudukan pada saat pasang surut. Berubahnya garis pantai secara fisik ditunjukkan dengan terjadinya abrasi dan akresi.  Garis pantai ketika mengalami kemunduran disebut erosi dan garis pantai mengalami kemajuan disebut akresi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengidentifikasi perubahan garis pantai yang terjadi di wilayah pesisir Surabaya Utara dengan menggunakan citra satelit resolusi tinggi. Metode yang digunakan adalah dengan membandingkan hasil digitasi foto udara tahun 2012 dengan citra satelit World-View 2 tahun 2017. Hasil penelitian menjelaskan perubahan garis pantai yang terjadi hampir di sepanjang pesisir Surabaya Utara dengan luas total akresi sebesar 143,06 Ha yang disebabkan adanya penambahan pemukiman, vegetasi mangrove maupun non mangrove dan luas total abrasi sebesar 44,9 Ha yang disebakan oleh aktivitas pelabuhan dan pabrik. Sehingga perubahan garis pantai di wilayah pesisir Surabaya Utara jika dilihat berdasarkan tiap kecamatan dari tahun 2002 sampai 2017 cenderung mengalami abrasi dibandingkan dengan akresi. Kata Kunci : Garis Pantai, Foto Udara, Citra Satelit, Pesisir Utara Surabaya
STUDI KAPAL KECIL DENGAN TENAGA PENGGERAK LISTRIK UNTUK PENGAWASAN KAWASAN KONSERVASI SUNGAI DAN MUARA S Sunardi; R Sapto Pamungkas
Jurnal Kelautan Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v12i1.4716

Abstract

Penelitian ini berawal dari permintaan penggiat konservasi sungai di Sidoarjo untuk dibuatkan desain kapal kecil yang cukup dua orang. Permintaan khusus yang diinginkan adalah kapal tidak menimbulkan suara bising yang bisa menyebabkan burung-burung dan satwa lainnya terganggu dan kabur ketika kapal yang sedang melakukan pengawasan melewati suangai. Sebagai solusinya, kapal kecil di desain dengan tenaga penggerak listrik yang dihasilkan oleh cell baterai. Permasalahan utama yang akan di kaji adalah seberapa besar baterai dan kapal sehingga kapal dapat melaju dengan kecepatan yang mencukupi dan baterai cukup untuk melakukan operasi pengawasan berangkat sampai pulang ke dermaga. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah kapal pembanding dan spiral design, suatu metode desain kapal yang diawali dari penentuan ukuran utama kapal, pembentukan lambung, perhitungan berat, stabilitas, tahanan, sistem permesinan, perhitungan biaya dan seterusnya sampai di dapatkan desain yang optimum, jika salah satu tahap mengalami kegagalan, maka akan diulang dari tahap awal lagi. Desain kapal yang dihasilkan adalah kapal kecil dengan panjang 3 meter, lebar 1 meter, tinggi 50 cm dengan kapasitas penumpang 2 orang. Tenaga penggerak utama adalah baterai 1,2 kW untuk mencapai kecepatan minimal kapal 5 knot. Perhitungan stabilitas menunjukkan hasil yang cukup baik dengan titik hilang stabilitas kapal sekitar 35o .AbstractThis research originated from the request of river activists in Sidoarjo to design a small boat with two people. Special requests suggested by the ship do not cause noise that can cause disturbed birds and wildlife and escape from the ship carrying surveillance over the river. As a solution, small vessels are designed with electric propulsion generated by battery cells. The main problem that will be examined is the large battery and the ship needed by a ship that can drive at sufficient speed and enough battery to carry out surveillance operations until it returns to the dock. The method used in this studio is a comparison vessel and spiral design, a ship design method that starts from the main ship size, hull formation, weight calculation, toughness, resistance, machining system, cost calculation and completion to achieve an optimal design, if wrong one failed to be repaired, it will be repeated from the beginning again. The design of the ship produced is a small boat with a length of 3 meters, a width of 1 meter, a height of 50 cm with a capacity of 2 people. The main driving force is a 1.2 kW battery to reach a minimum speed of 5 knots. Generate 35% of the remaining amount. Keywords: ships, electricity, batteries, troling

Page 1 of 1 | Total Record : 10