cover
Contact Name
Akhmad Farid
Contact Email
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkelautan@trunojoyo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. bangkalan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Kelautan : Indonesian Journal of Marine Science and Technology
ISSN : 19079931     EISSN : 24769991     DOI : -
Core Subject :
This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Marine and fisheries ecology and biology, Marine fisheries, Marine technology, biotechnology, Mariculture, Marine processes and dynamics, Marine conservation, Marine pollution, Marine and coastal resource management, Marine and fisheries processing technology, Salt technology, Marine geology, physical and chemical oceanography.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1: April (2009)" : 13 Documents clear
KUALITAS MUTU BAHAN MENTAH DAN PRODUK AKHIR PADA UNIT PENGALENGAN IKAN SARDINE DI PT. KARYA MANUNGGAL PRIMA SUKSES MUNCAR BANYUWANGI Dyah Agustin Wulandari; Indah Wahyuni Abida; Akhmad Farid
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.901

Abstract

Mutu ikan kaleng tergantung pada kesegaran bahan mentah, cara pengalengan, peralatan dan kecakapan serta pengetahuan pelaksana-pelaksana teknis, sanitasi dan higiene pabrik dan lingkungan.  Kesegaran bahan mentah sangat penting dalam industri perikanan.  Kesegaran adalah tolak ukur untuk membedakan ikan jelek dan bagus kualitasnya.  Bila kualitas bahan mentah bagus, maka produk yang dihasilkan juga bagus.  Untuk mengendalikan mutu produk yang dihasilkan perusahaan diperlukan suatu sistem yang terkendali dan dapat mengendalikan seluruh aktifitas yang mempengaruhi mutu produk. Khusus untuk produk perikanan lahirnya konsep HACCP mendorong negara-negara maju menerapkan sistem pengawasan mutu ini kepada produsen sebagai jaminan mutu produknya. Dari hasi studi pustaka dan penelitian serta pengamatan langsung pada PT. Karya Manunggal Prima Sukses Muncar,  ternyata diketahui bahwa mutu bahan baku dan produk akhir berupa ikan kaleng sardine saus tomat yang dihasilkan sesuai dengan standart mutu SNI 01-3548-1994.  Sedangkan penerapan konsepsi HACCP belum terlaksana dengan baik sehingga diperlukan perbaikan, baik GMP dan SSOP pada unit pengolahan.Kata kunci : Mutu ikan kaleng, HACCP.  The quality of a certain tinned-fish depends on several things; those are the freshness of raw materials, tinning technique, devices, knowledge, and capability of the technicians, sanitation and hygienist of the factory. The freshness of raw materials is important in fishery industries.  Freshness is one of indicators in determining fish quality. If raw materials are in good quality so that the product will be. To maintain quality of a product in certain factory, system that are able to control all of the elements affecting product quality, is absolutely needed. In fishery product, availability of HACCP, encourage the advanced-countries to apply a monitoring system of product quality to the producer as a kind of quality guarantee. From the study of certain literature, research, and also direct observation in PT Karya Manunggal Prima Sukses, Muncar, it is known that the quality of raw materials and the final product in a form tinned-sardine with tomato sauce, produced by this factory, is in accordance with quality standard of SNI 01-3548-1994, even though the application of HACCP concept still needs several corrections. This is also available for GMP and SSOP in the processing unit. Keywords : Quality of Tinned-fish, HACCP 
PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR SECARA TERPADU: SOLUSI PEMANFAATAN RUANG, PEMANFAATAN SUMBERDAYA DAN PEMANFAATAN KAPASITAS ASIMILASI WILAYAH PESISIR YANG OPTIMAL DAN BERKELANJUTAN Makhfud Efendy
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.906

Abstract

Peranan sumberdaya pesisir diperkirakan akan semakin meningkat dimasa-masa mendatang dalam menunjang pembangunan ekonomi nasional, regional, maupun lokal. Sehingga, untuk dapat memanfaatkan ruang dan sumberdaya wilayah pesisir secara optimal dan berkelanjutan, perlu pemahaman yang mendalam tentang pengertian dan karakeristik dari kawasan ini serta masyarakat yang mendiaminya. Pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu memiliki pengertian bahwa pengelolaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan pesisir dilakukan melalui penilaian menyeluruh (comprehensive assesment), menentukan tujuan dan sasaran pemanfaatan, dan kemudian merencanakan serta mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya. Tulisan ini berupaya memberikan pemahaman secara komprehensif dan berisi tinjauan akademik tentang potensi wilayah pesisir, permasalahan yang terjadi dan peluang pemanfaatannya. Kata Kunci : wilayah pesisir, pengelolaan terpadu, potensi
CONFLICT OF AQUATIC RESOURCES AND ITS UNDERLYING CAUSES: A CASE STUDY FROM DONAN RIVER AREA, SEGARA ANAKAN REGION, CILACAP, CENTRAL JAVA Taufik Budhi Pramono
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.897

Abstract

This research aimed to know internally conflict on the use of aquatic  resources at around Donan River, Segara Anakan region Cilacap.  Using on fisheries resources was not free against potential conflict among the user or with its interest’s one related to that resources.  The lack on capability of identified conflict would be a limiting factor for the implementation on the fisheries resources management program.  The research was hold in the region of Segara Anakan, Donan River from August until October 2005.  The data collection techniques applied in this survey included questionnaire; observation; in-depth interview with leaders of fisherman organizations; and focus group discussion. Quantitative data was analyzed by descriptive statistics.  The research showed that fisherman’s community along Donan River line were not out of inside potentially conflict among inter micro-micro, intra micro-micro and intra micro-macro.  This potential conflict were appeared because of presence on the different perception belong to its authority access against Donan River and their open system on the fisheries resources management.Keywords : Conflict, Donan River, Aquatic Resources, Fisherman Community
EFEKTIVITAS ALAT TANGKAP MINI PURSE SEINE MENGGUNAKAN SUMBER CAHAYA BERBEDA TERHADAP HASIL TANGKAP IKAN KEMBUNG (Rastrelliger sp.) Ifa Nur Rosyidah; Akhmad Farid; Apri Arisandi
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.902

Abstract

In fish catching activity, the fishermen in Banyuanyar district use mini tools for catching fish (purse seine) and use light assist tools for an operation in the night day. The light, that is used, is kerosene pressure lantern and mercury lights or lamp that is used on water surface (surface lamp). This kind of light is used to collect “pelagic” fish that has positive phototaxis characteristic. Puffer fish’s response towards different sourse of light, that’s kerosene pressure lantern and mercury light is needed to be known. Therefore, we can know the source of light that is more effective in order to collect the fish. It is hoped that the productivity of puffer fish will be developed for the fishermen. During the research with ten times repeating, the total account of puffer fish’s haul that is resulted with two different treatment  by using kerosene pressure lantern and mercury light is that 810 kg and 1.460 kg. The data of puffer fish’s haul that is gotten after using Mann-Whitney test shows that the kerosene pressure lantern and mercury light not to really different, especially in the haul of puffer fish in significant standart (0,05) is 2,262, while in Mann-Whitney test account is 0,171. That means the fishermans in Banyuanyar can use kerosene pressure lantern and mercury light for catching fish as the light assist tools for an operation in the night day. Keywords     :   Purse Seine, Mercury Light and Kerosene Pressure Lantern, Puffer Fish (Rastrellinger sp.).
LIMBAH IKAN SEBAGAI ALTERNATIF UMPAN BUATAN UNTUK ALAT TANGKAP PANCING TONDA Indah Wahyuni Abida; Firman Farid Muhsoni; Aries Dwi Siswanto
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.907

Abstract

Masalah yang dihadapi alat tangkap pancing adalah ketersediaan umpan yang tidak kontinyu. Tujuan penelitian ini untuk memanfaatkan limbah ikan agar mempunyai nilai tambah, mengetahui kemampuan dan kemanfaatan teknologi umpan buatan. Metode yang digunakan eksperimen, dengan uji anova dan analisa usaha. Daerah uji di perairan desa Pangeranan Kabupaten Bangkalan perairan Laut Jawa. dengan koordinat   060.59’.734” LS dan 1120.42’.827” BT. Hasil dari uji coba lapangan mendapatkan ikan Karapu Lumpur, Kerapu Toke, Pari, Keting. Rata-rata penangkapan 38 ekor dengan berat 11,4 kg tiap trip, dengan rata-rata hasil umpan alami sebanyak 51,5%, limbah rajungan  19,9%, limbah pemindangan 17,3% dan limbah udang 11,3%. Perlakuan terbaik menggunakan umpan alami (ikan belanak). Sedangkan perbandingan antara umpan buatan  menunjukkan hasil yang sama (tidak berbeda nyata). Perhitungan analisis ekonomi mendapatkan hasil nilai NPV0 (Rp. 30.655.975), Gros B/C rasio1 (1,57), nilai Net B/C1 (5,2). Nilai pay back period 3,69 tahun, Sedangkan  rentabilitas 27,07%. Kata Kunci : Pancing Tonda, Umpan Buatan, Bangkalan
KEGIATAN SURVEY LAPANGAN UNTUK INVENTARISASI PERMASALAHAN KERUSAKAN PESISIR PANTAI DI KABUPATEN TEGAL, JAWA TENGAH Muhammad Zikra
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.898

Abstract

This paper addresses engineering coastal problems in estuarine and coastal environments based on the results of field measurements. The field survey was conducted on the beach of District of Tegal, Middle East of Java. The practical solutions for these problem are: (1) try to understand the physical system based on available field data; perform new field measurements if the existing field data set is not sufficient; and (2) try to estimate the morphological effects of engineering works based on simple methods (rules of thumb, simplified models, analogy models, i.e. comparison with similar cases elsewhere). The result indicated that engineering coastal works should be designed and constructed along the coastline of District of Tegal, especially at two fisheries ports located at Surodadi village and Kramat village to support and to maintenance economy activity at both areas. Key Words : Coastal problems, Tegal District,
EFEKTIVITAS HORMON 17 α-METILTESTOSTERON UNTUK MEMANIPULASI KELAMIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) PADA PEMELIHARAAN SALINITAS YANG BERBEDA Wayan Jajhang Bustaman; Apri Arisandi; Indah Wahyuni Abida
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.903

Abstract

Secara alami produksi benih ikan nila sebagian besar merupakan individu betina, dengan perbandingan 1 jantan : 3 – 6 betina. Hal tersebut dapat menyebabkan biomass yang dihasilkan lebih kecil, sehingga produksi budidaya tidak maksimal, maka budidaya monoseks jantan merupakan salah satu cara untuk memaksimalkan produksi dengan menggunakan hormon 17 α-Metiltestosteron. Desain Penelitian ini menggunakan 3 perlakuan dengan 3 kali ulangan melalui dua tahap. Tahap yang pertama dilakukan dengan metode perendaman selama 6 jam, tahap yang kedua pada perlakuan A setelah perendaman secara terkontrol selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 0 0/00, perlakuan B setelah perendaman dengan hormon MT 5 mg/l selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 5 0/00, perlakuan C setelah perendaman dengan hormon MT 10 mg/l selanjutnya dipelihara dalam air dengan salinitas 10 0/00. Data yang diambil dengan mengukur jumlah persentase jantan, ADG, SR, Efek pemberian hormon dan kualitas air. Sehingga dapat diketahui persentase kelamin jantan ikan nila pada perlakuan A (62 %), perlakuan B (78 %), perlakuan C (85 %). Persentase ADG pada perlakuan A (66,1 %), perlakuan B (50,2 %), perlakuan C (47,1 %) dan pertumbuhan berat ikan nila pada perlakuan A lebih cepat dari perlakuan B dan C dan pertumbuhan panjang ikan nila pada perlakuan C lebih cepat dari perlakuan A dan B. Laju kelangsungan hidup ikan nila pada perlakuan A menghasilkan 92,5 %, perlakuan B menghasilkan 93 % dan perlakuan C menghasilkan 95 %. Efek negatif akibat pemberian hormon pada perlakuan B dan C dapat diketahui dengan kelainan pada tubuh ikan diantaranya kelainan rongga tanpa bola mata, kelainan tubuh terlipat, kelainan tubuh tidak berekor, kelainan ekor terlipat, sedangkan pada perlakuan A tidak terdapat adanya kelainan pada tubuh ikan.Kata Kunci : Hormon 17 α-Metiltestosteron, manipulasi kelamin dan salinitas
REPRODUCTIVE PERFORMANCE OF Anodontia philippiana I Insafitri
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.915

Abstract

Objective of this study was to determine reproductive performance of A. philippiana. Samples were collected from the oil affected mangrove mudflat in Pototan, Guimaras, Philippine on September 2007. A. philippiana were induced to spawn using the serotonin method. Only A. philippiana with shell length of approximately 4.0-5.5 cm were induced to spawn. Three pairs of one ripe female and one ripe male were chosen and placed in aquaria with 3 replicates. A 0.3 ml of 4 rnM serotonin solution (Gros et al., 1997) was injected into 1-2 mm of the gonad of both male and female clams using 0.65 x 25-mm bore hypodermic needle attached to a 5 ml plastic syringe during mid until late afternoon. Number of spawned eggs was calculated, and fertilization was conducted. At 47 h, the percentage of normal (D-larvae) veliger relative to the initial number of eggs was calculated (Massapina et aL, 1999). Larvae from each spawner were reared separately in aquaria for several days without feeding in order to estimate survival rates. The number of larvae we re-estimated every 24-h intervals until total mortality. The decrease in the number of larvae per container we re-calculated as the proportion of live larvae from the initial number of larvae (extinction rate) (Narvarte and Pascual, 2003). Result of this study are total Total spawned eggs (x10 (g m) is 86.11±3.80, Fertilization rate (%) is 83.01±3.13, and harching rate is 36.51+8.64, Length of newly hatched larvae (gm) is 135.73±1.96, Number of days to total mortality (after hatching) without feeding is 9-10 days.Keywords: reproductive, Anodotia philippiana
KAJIAN UJI HAYATI AIR LIMBAH HASIL INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT DR. RAMELAN SURABAYA Candra Putra Prakoso; Agus Romadhon; Apri Arisandi
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.899

Abstract

Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui kualitas air limbah hasil pengolahan dan mengkaji respon ikan uji yang digunakan sebagai parameter pengolahan buangan air limbah dengan berbagai konsentrasi yang berbeda. Analisa kualitas air saat percobaan dilakukan pada awal dan akhir percobaan. Parameter kualitas air yang diukur adalah suhu, pH, oksigen terlarut (DO). Metode analisa data dilakukan dengan metode deskriptif dan korelasi statistik. Dari hasil perhitungan statistik dapat disimpulkan bahwa Kualitas air hasil IPAL dari sifat fisika menunjukkan masih dalam taraf dapat ditoleransi, sedangkan untuk sifat kimia khususnya NH3- melebihi baku mutu yang ditetapkan (0,1 mg/L). Batas toleransi spesies uji terhadap konsentrasi air hasil IPAL yang diujikan menunjukkan bahwa konsentrasi 50%  merupakan batas tertinggi yang dapat ditolerir oleh spesies uji. Diatas konsentrasi 50% (75% sampai 100%), spesies uji sudah tidak mampu untuk mentolerir keberadaan unsur yang terkandung dalam air hasil IPAL, utamanya NH3. Kata Kunci : Air limbah, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), Uji Hayati
TINGKAT KETAHANAN KESEGARAN IKAN MAS (Cyprinus carpio) MENGGUNAKAN ASAP CAIR R Riyantono; Indah Wahyuni Abida; Akhmad Farid
Jurnal Kelautan Vol 2, No 1: April (2009)
Publisher : Department of Marine Sciences, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/jk.v2i1.904

Abstract

Salah satu potensi hayati sumber perikanan yang ada di wilayah perairan Indonesia adalah ikan mas. Permasalahan yang sering dihadapi pada saat pasca panen ikan mas adalah banyaknya tingkat kerusakan (pembusukan ikan) karena kurangnya tingkat pemahaman tentang kualitas ikan. Asap cair (Bio-Awet) merupakan produk penemuan yang digunakan sebagai pengganti formalin, borak, H2O2 Antisept, dan lain sebagainya yang selama ini masih banyak digunakan  masyarakat. Dari hasil pengamatan dengan uji organoleptik dapat dilihat bahwa ikan mas menggunakan asap cair bertahan hingga jam ke-28, Sedangkan ikan mas tanpa menggunakan asap cair hanya bertahan sampai jam ke-20. Lama waktu berlangsungnya proses prorigor motis adalah kurang dari 1jam. Fase rigor motis ikan mas tanpa menggunakan asap cair hanya jam ke-8, sedangkan ikan mas menggunakan asap cair bertahan hingga ke-16. Untuk ikan mas tanpa menggunakan asap cair fase autolisis dimulai jam ke-12, sedangkan fase autolisis pada ikan mas dengan menggunakan asap cair dimulai diatas jam ke 16. Perbedaan lamanya waktu fase penurunan mutu ikan mas tanpa menggunakan  asap cair dengan ikan mas menggunakan asap cair, karena adannya kandungan karbonil, fenol, asam pada kandungan asap cair yang berperan sebagai antioksidan sehingga dapat memperpanjang masa simpan produk asapan atau pun ikan. Kata Kunci  : Asap cair, Ikan Mas dan Tingkat Kesegaran ikan.

Page 1 of 2 | Total Record : 13