cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003" : 18 Documents clear
Mortalitas Stadia Pradewasa Hama Penggulung Daun Pisang, Erionota tharax (L.) yang Disebabkan Oleh Parasitoid Hasyim, Ashol; -, Kamisar; Nakamura, K
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mortalitas stadia pradewasa hama penggulung daun pisang   yang disebabkan oleh parasitoid dan fase awal penyerangan parasitoid terhadap inang. Untuk mengetahui parasitoid hama penggulung daun pisang Erionota thrax, telur, larva, dan pupa hama penggulung daun pisang diambil dari pertanaman pisang petani, kemudian dipelihara di laboratorium Kebun Percobaan Bandar Buat, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Setiap kelompok telur, larva, dan pupa dimasukkan ke dalam kotak plastik berukuran dengan garis tengah 13 cm dan tinggi 5 cm, serta diberi makan daun pisang. Pengamatan terhadap stadia telur diamati dengan menghitung telur yang menetas, diserang parasitoid, tidak menetas, dan diserang jamur. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hama penggulung daun pisang mempunyai dua jenis parsitoid telur, dua jenis parasitoid larva, dan empat jenis parasitoid pupa.  Kedua jenis parasitoid telur    Pediobius erionotae dan Ooncyrtus erionotae dapat menyebabkan kematian tertinggi dan membunuh 55,6% stadia telur. Parasitoid larva mulai menyerang stadia larva instar kedua. Indeks parasitisme tertinggi disebabkan oleh parasitoid larva Casinaria sp. Adalah 15,7% dan yang pal- ing rendah disebabkan oleh   parasitoid pupa, Theronia zebra-zebra mencapai 0,8%. Hasil penelitian tentang parasitoid hama penggulung daun pisang ini merupakan informasi dasar dalam rangka pengembangan pengendalian hama secara terpadu. Kata kunci: Musa paradisiacal; Erionata thrax; Hama penggulung daun; Parasitoid; Mortalitas; Stadia pradewasa ABSTRACT. This study aims to contribute to the knowledge of immature mortality of ba- nana leaf roller Erionota thrax (L.) and early susceptible stage of parasitoid attacking the host. To obtain parasitoid, the eggs, larvae, and pupae of banana leaf roller, Erionota thrax (L.) were collected from farmer banana field and reared in the laboratory under room temperature at Bandar Buat, West Sumatera Assessment Institute for Agriculture Technology. Each egg mass, larvae, and pupae were isolated in plastic container dimensions of 13 cm in diameter and 5 cm in dept feeding, with leaf of banana. The following categories were recognized of egg stage, hatched, parasitic by wasps, hatching failure, and fungus diseased. The result indicated that E. thrax had two species of egg parasitoid, two species of parasitoid emerged from larvae, and four species of parasitoid emerged from pupae stages. Both of egg parasitoid species, Pediobius erionotae and Ooncyrtus erionotae, caused the highest mortality and kiled 55,6% of the eggs. The earliest parasitized stage of larva was the second instar. Index of parasitism rate by larval and pupae parasitoid which mostly caused by  Casinaria erionotae was at 15.7% and the lowest caused by  pupae parasitoid, Theronia zebra-zebra was at 0.8. The results of banana leaf roller parasitoid research were to provide basic information for the development of integrated pest managemen.
Perlakuan Biji Pepaya dalam Larutan 3-Indolebutyric Acid, Absicic Acid dan Ukuran Polibag terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhannya Triatminingsih, Rahayu; Handayani, Sri; Subakti, Hary; Purnomo, Sudarmani
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil persilangan antartanaman berdasarkan tipe seks menghasilkan segregasi dengan proporsi yang berbeda-beda. Teknik identifikasi seks sejak fase benih sangat dibutuhkan dalam upaya mempercepat siklus generasi dan efisiensi ruang uji dalam uji persilangan. Penelitian ini merupakan tahap awal untuk mengidentifikasi bibit sejak dini yaitu dengan memperlakukan biji dalam larutan auksin dan ABA.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data daya pertumbuhan bibit pepaya yang diperlakukan dengan indole butyric acid (IBA) dan absicic acid (ABA). Penelitian ini dilaksanakan di Sumatera Barat mulai bulan Agustus 1999 sampai dengan Maret 2000. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok sebanyak tiga ulangan yang disusun secara faktorial. Untuk mendapatkan teknik identifikasi tersebut dapat didekati dengan mendiskripsikan benih semaian sampai dengan tanaman di polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan IBA dan ABA berpengaruh terhadap pertumbuhan daun dan tinggi tanaman. IBA dan ABA tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang. Pada awal pertumbuhan, diameter batang dipengaruhi oleh tempat. Pengaruh IBA dan ABA nyata pada perkecambahan biji terutama untuk dampit, lokal kuning dan lokal jingga. Kata kunci : Carica papaya; Biji pepaya; IBA; ABA ABSTRACT. This experiment has been done at Solok Re- search Institute for Fruit Crops. Outpolynation the plant according to sex type produced highly segregation. The pro- portion of segregate was not the same. Identity of variety is the main key in papaya crossing. Sex identification technique at seedling was demanded. This technique can be used to accelarate regeneration cycle and efficiency on testing the new clones. The aims of this experiment was to find out the seed germination and seedling growth. The re- search was conducted at West Sumatera from August 1999 until March 2000. The experiment was using a Random- ized Block Design with three replication. The technique can be worked out by morphology description from seedling up to the plant that was grown in a polybag. The results indicated that ABA and IBA was significant by affect the leaf growth and hight of stem. There was no significantly different on stem diameters. At early growth polybag sizes was significantly affect the stem diameter. IBA and ABA was affected to the germination of papaya seed variety, dampit, local kuning and local jingga.
Analisis Pengelompokan dan Hubungan Kekerabatan Spesies Anggrek Phalaenopsis Berdasarkan Kunci Determinasi Fenotipik dan Marka Molekuler RAPD Dwiatmini, Kristina; Mattjik, N.A; Aswidinnor, H; Touran-Matius, N.L
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hubungan kekerabatan antara 19 anggrek phalaenopsis dianalisis menggunakan random amplified polymorphic DNA   pada tingkat molekuler dan secara fenotipik menggunakan kunci determinasi dari Sweet. Dendrogram kekerabatan anggrek phalaenopsis tersebut diperoleh dari 300 pola pita DNA dan 27 karakter fenotipik. Hubungan kekerabatan secara genetik dianalisis menggunakan koefisien kemiripan Dice dan jarak genetik secara fenotipik menggunakan koefisien Dist. Korelasi antara keduanya dianalisis menggunakan statistik Mantel dengan prosedur MXCOMP pada program NTSYS. Hasil penelitian menunjukkan hubungan kekerabatan berdasarkan koefisien kemiripan Dice adalah 0,24-0,66 (jarak genetik antara 0,34-0,76), sedangkan jarak taksonomi berdasarkan koefisien Dist adalah 1,42-0,08. Nilai korelasi antara matriks kemiripan dan matriks jarak adalah kecil yaitu -0,38, dengan nilai koefisien determinasi R2  = 0,15. Nilai koefisien determinasi yang kecil menunjukkan bahwa hanya 15% data morfologi dapat digunakan untuk mengestimasi kemiripan genetiknya. Hasil analisis komponen utama menunjukkan terdapat 231 pita yang berperan dalam pengelompokan secara terpisah 19 spesies anggrek phalaenopsis, namun tidak dapat mengidentifikasi pita spesifik untuk karakter atau genotip tertentu. Kata kunci : Kunci determinasi; Kekerabatan genetic; Phalaenopsis; Penanda molekuler RAPD; Analisis pengelompokan. ABSTRACT. Genetic relationships among 19 genotypes of phalaenopsis orchid were investigated us- ing random amplified polymorphic DNA technique at the DNA level and using the determination key introduced by sweet at the phenotypical level. Orchid dendrogram was obtained from banding patterns of DNA and from 27 phenotypic traits scored, using Dice similarity and average taxonomic distances respectively. Correlation between a pair of proximity matrices was tested with the Mantel statistic generated by the MXCOMP procedure in NTSYS-pc software. The results showed that constant similarity coefficient and relative order were obtained with 16 primers (300 DNA bands). Genetic relationships among 19 species of phalaenopsis orchids based on Dice similarity coefficient var- ied from 0.24 – 0.66 (genetic distance 0.34 – 0.76). Cluster analysis based on the determination key indicated that the genetic distance (Dist coefficient) varied from 1.42 – 0.08. Grouping of phalaenopsis species using RAPD technique was different from the one using phenotypic characters as used by Sweet with correlation value -0.38 and coefficient determination value 0.15. A small correlation coefficient indicated that the relationship between variables is weak, meaning that average taxonomic distance could not be used to estimate the genetic similarity. The principal compo- nent analysis showed the relative position of 19 genotypes of phalaenopsis in two and three dimensions (principal component). The same procedure also identified the most important DNA bands (231 bands) having very important roles in the grouping, but failed to identify any specific band for any particular character or genotype.
Peranan Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Peningkatan Serapan Hara Oleh Bibit Pepaya Muas, Irwan
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran lima jenis isolat cendawan mikoriza arbuskula dalam meningkatkan serapan hara dan biomassa dua kultivar bibit pepaya. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari bulan Agustus 2001 hingga Januari 2002. Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis isolat cendawan mikoriza terdiri dari kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata dan Scutellospora heterogama, dan faktor ke dua adalah kultivar pepaya Dampit dan Sari Rona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat infeksi akar bibit pepaya pada umur dua bulan setelah inokulasi dipengaruhi oleh efek interaksi antara isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Isolat A. tuberculata, G. etunicatum, dan Gi. margarita menunjukkan derajat infeksi akar yang sangat tinggi, yaitu lebih  dari 76% untuk kedua kultivar pepaya, sedangkan dua jenis isolat lainnya menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah (21,33%-59,67%). Serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus, secara mandiri dipengaruhi oleh jenis isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering total bibit berturut-turut 1.028% dan 1.632% lebih tinggi dibanding kontrol. Kultivar Sari Rona menunjukkan serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus lebih tinggi dibanding kultivar Dampit. Prospek aplikasi cendawan mikoriza untuk tanaman pepaya cukup baik, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan dalam efisiensi penggunaan pupuk. Katakunci:  Carica papaya; Bibit; Mikoriza arbuskula; Serapan hara; Pertumbuhan. ABSTRACT. An experiment was aimed to find out the role of five arbuscular mycorrhizal fungus isolates in increasing nutrient uptake and biomass production on two cultivars of papaya seedling. The research was conducted at a screen house of Agricul- ture Faculty, Padjadjaran University, from August 2001 until January 2002. This experiment was laid in Randomized Blocks Design in factorial pattern with three replications. The first factor was the kind of mycorrhizaes isolates, con- trol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata and Scutellospora heterogama, and the second factor was papaya cultivars of Dampit and Sari Rona. The results showed that root infec- tion level of papaya seedlings on two months after inoculation influenced by interactions between mycorrhizaes iso- late and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata, G. etunicatum, and Gi. margarita isolates showed very high root infection level which was higher than 76% from both papaya cultivars, whereas two other mycorrhizaes isolate showed the lower infection 21.33-59.67%. Nutrient uptake on N,P,K, and shoot dry weight, in autonomous caused by kinds of mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata and G. etunicatum isolates increased to- tal dry weight 1.028% and 1.632% respectively higher than control. Sari Rona cultivar showed higher nutrient uptake on N, P, K, and shoot dry weight than Dampit cultivar. The mycorrhizaes application for papaya have good prospect, but there needs further studies to know the effectiveness in fertilizer efficiency.
Tanggapan Tiga Kultivar Mawar terhadap Media Tumbuh Tanpa Tanah Wuryaningsih, Sri; Muharram, Agus; Rusyadi, Iyus
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media tanpa tanah mempunyai peluang untuk dikembangkan karena lebih bersih, ramah lingkungan, dan bahan – bahannya banyak terdapat di alam Indonesia. Percobaan dilakukan di rumah plastik  pada bulan Juni 1999 sampai dengan Februari 2000 dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan tiga kultivar mawar terhadap media tumbuh yang mengandung zeolit + serbuk sabut kelapa dan zeolit + serbuk gergaji. Rancangan percobaan adalah acak kelompok dengan pola faktorial, dua buah faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tiga kultivar mawar (Selabintana, maribaya, dan cipanas dwiwarna). Sedangkan faktor kedua adalah delapan komposisi serbuk sabut kelapa/serbuk gergaji + zeolit dan tanah sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa tunas yang terbentuk pada media serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit kultivar selabintana mencapai 2,42 kali, Maribaya 2,59 kali, dan cipanas dwiwarna 3,4 kali lebih tinggi dibandingkan pada media serbuk gergaji. Pertumbuhan vegetatif dan generatif mawar pada media  serbuk sabut kelapa, serbuk sabut kelapa + zeolit, dan tanah lebih baik dibandingkan pada serbuk gergaji. Rataan tinggi tanaman pada penggunaan serbuk sabut kelapa + 100 g zeolit adalah tertinggi yaitu 39,4 cm. Bobot total tanaman dan waktu inisiasi bunga pada penggunaan media serbuk sabut kelapa mencapai 1,8 kali lebih besar dan 29 hari lebih pendek dibandingkan pada media serbuk gergaji. Tanaman mawar yang ditumbuhkan pada media serbuk sabut kelapa + zeolit menghasilkan daun lebih hijau dan tanaman lebih tegar dibandingkan pada media serbuk gergaji + zeolit. Komposisi media serbuk sabut kelapa + zeolit 100 dan 200 g memenuhi syarat sebagai media tanam bagi budidaya mawar dan dapat digunakan sebagai media pengganti tanah. Kata kunci : Rosa hybrida L.; Mawar taman; Media tumbuh tanpa tanah; Pertumbuhan; Serbuk sabut kelapa; Zeolit; Serbuk gergaji. ABSTRACT. Soilless media has opportunity for development because of clean, environmentally sound, and the material could be found in Indonesia. Research on the response of rose cultivars to soilless media (coirdust + zeolite and saw- dust + zeolite) was conducted at plastic house from June 1999 to February 2000. Randomized complete block design with factorial pattern consists of two factors and three replications were used in this experiment. The first factor was three cultivars of rose and the second factor was eight combination compositions of sawdust/sawdust + zeolite and soil as control. The results showed that cultivars of Selabintana grown bud on sawdust or sawdust + zeolite media 2.4 times, maribaya 2.6 times, and cipanas dwiwarna 3.4 times higher than those on sawdust media. The vegetative and generative development of such cultivars on the coirdust, coirdust + zeolite, and soil were better than those on sawdust media. Coirdust + 100 g zeolite produced the highest plant high of 39.4 cm. The use coirdust media yielded plant total weight of 1.8 times, higher, fastened flower initiation time of 29 days and improved flower numbers of 3,84 times than those of sawdust media. The rose cultivars planted on zeolite + coirdust had leaf more greenery and heavier compared to those on zeolite + sawdust. The composition of 100 g coirdust and 200 g zeolite could be recommended as alterna- tive media for growing of rose.
Peranan Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Peningkatan Serapan Hara Bibit Pepaya Muas, Irwan
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran lima jenis isolat cendawan mikoriza arbuskula dalam meningkatkan serapan hara dan biomassa dua kultivar bibit pepaya. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari bulan Agustus 2001 hingga Januari 2002. Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis isolat cendawan mikoriza terdiri dari kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata dan Scutellospora heterogama, dan faktor ke dua adalah kultivar pepaya Dampit dan Sari Rona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat infeksi akar bibit pepaya pada umur dua bulan setelah inokulasi dipengaruhi oleh efek interaksiantara isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Isolat A. tuberculata, G. etunicatum dan Gi. margarita menunjukkan derajat infeksi akar yang sangat tinggi, yaitu lebih  dari 76% untuk kedua kultivar pepaya, sedangkan dua jenis isolat  lainnya menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah (21,33%-59,67%). Serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus, secara mandiri dipengaruhi oleh jenis isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering total bibit berturut-turut 1.028% dan 1.632% lebih tinggi dibanding kontrol. Kultivar Sari Rona menunjukkan serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus lebih tinggi dibanding kultivar Dampit. Prospek aplikasi cendawan mikoriza untuk tanaman pepaya cukup baik, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan dalam efisiensi penggunaan pupuk. Katakunci:  Carica papaya; Bibit; Mikoriza arbuskula; Serapan hara; Pertumbuhan. ABSTRACT. Muas, I. 2003. Role of arbuscular mycorrhizal fungus on nutrient uptake of papaya seedlings. An experiment was aimed to find out the role of five arbuscular mycorrhizal fungus isolates in increasing nutrient uptake and biomass production on two cultivars of papaya seedling. The research was conducted at a screen house of Agriculture Faculty, Padjadjaran University, from August 2001 until January 2002. This experiment was laid in Randomized Blocks Design in factorial pattern with three replications. The first factor was the kind of mycorrhizaes isolates, control, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata and Scutellospora heterogama, and the second factor was papaya cultivars Dampit and Sari Rona. The results  showed that root infection level of papaya seedlings on two months after inoculation influenced by interactions between mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata, G. etunicatum, and Gi. margarita isolates showed very high root infection level which was higher than 76% from both papaya cultivars, whereas two other mycorrhizaes isolate showed the lower infection 21.33-59.67%. Nutrient uptake on N,P,K, and shoot dry weight, in autonomous caused by kinds of mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata and G.etunicatum isolates  increased total dry weight 1,028% and 1,632% respectively higher than control. Sari Rona cultivar showed higher nutrient uptake on N, P, K, and shoot dry weight than Dampit cultivar. The mycorrhizaes application for papaya have good prospect, but there needs further studies to know the effectiveness in fertilizer efficiency.
Uji Kelayakan Teknis dan Finansial Penggunaan Pupuk NPK Anorganik pada Tanaman Kentang Dataran Tinggi di Jawa Barat Sutrisna, Nana; Suwalan, S; Ishaq, I
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung pada musim kemarau 2001. Lokasi penelitian termasuk lahan dataran tinggi dengan ketinggian 1.400 m dari permukaan laut dengan jenis tanah andosol. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan unsur hara beberapa jenis pupuk alternatif NPK anorganik dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produksi, dan pendapatan usahatani kentang sebagai dasar penyusunan  rekomendasi teknologi penggunaan  pupuk  alternatif. Percobaan  menggunakan  rancangan  acak kelompok dengan delapan perlakuan dan empat ulangan. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian memiliki ketersediaan unsur N rendah, namun P2O5 dan K2O tinggi, serta pH tanah agak rendah (5,2). Hasil analisis hara dari beberapa jenis pupuk alternatif NPK anorganik menunjukkan bahwa kandungan unsur N, P2O5, dan K2O yang tertera pada label/kemasan tidak sesuai dengan hasil analisis di laboratorium. Dari 10 jenis pupuk yang diuji hanya 30% yang unsur N-nya sesuai, 40% unsur P2O5  sesuai,  dan 50% unsur K2O-nya yang sesuai. Pengaruh penggunaan pupuk NPK anorganik terhadap tinggi tanaman dan jumlah tunas tidak berbeda nyata dengan kontrol, namun pupuk NPK 20-9-9 dapat meningkatkan produksi  umbi sebesar 13,34% dari rata-rata produksi di tingkat petani. Pupuk NPK 20-9-9 pada tanaman kentang memberikan tingkat pengembalian marginal tertinggi, yaitu 1,74 (174%), sehingga paling menguntungkan dibandingkan perlakuan lainnya dan layak untuk direkomendasikan. Kata kunci : Solanum tuberosum; Pupuk anorganik; Kentang; Lahan dataran tinggi; Pertumbuhan; Hasil. ABSTRACT. The research of NPK fertilizers usage was carried out on dry season of 2001 in Alamendah village, Rancabali, Bandung. The experimental location was 1,400 meters above sea level and of andosol soils. The objective of the study was to investigate the composition of several NPK anorganic fer- tilizers and the effects on growth, yield, and profit for potato farming as the basis for technical recommendations re- garding the usage. The experimental was randomized block design with eight treatments and four replications. The soil analysis results showed that the plots were low in nitrogen availability while P2O5 and K2O levels were quite high. The investigation revealed that the stated compositions of nitrogen, phosphorus, and potassium on the respective la- bels were not in accordance with the results of laboratory analysis. Among ten fertilizers tested, the number actually containing the stated levels of nitrogen, phosphorus, and potassium were 30, 20, and 40% respectively. Plant height and number of shoots/plant were not significantly different from the control for any of the alternative fertilizers NPK anorganic used. The use of fertilizer NPK 20-9-9 showed an average yield increase of 13.34% over typical farmer pro- duction methods. The increase in yield was one of the main factors resulting in a marginal return of 174% for fertilizer NPK 20-9-9 as well. Form these results it appears the fertilizer NPK 20-9-9 may be recommended for potato farming in West Java.
Kekerabatan 13 Genotip Anggrek Subtribe Sarcanthinae Berdasarkan Karakter Morfologi dan Pola Pita DNA Kartiningrum, Suskandari; Hermiati, N; Baihaki, A; Karmana, M. H; Toruan-Mathius, N
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abnormalitas meiosis dan rendahnya fertilitas sering terjadi pada persilangan interspesifik maupun intergenerik pada beberapa  tanaman anggrek  subtribe  sarcanthinae.  Kendala  tersebut  mungkin  berkaitan  dengan  jauh-dekatnya hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan antara dua individu atau populasi dapat diukur berdasarkan kemiripan dari sejumlah karakter, dengan asumsi karakter-karakter berbeda menggambarkan perbedaan susunan genetiknya. Penelitian dilakukan mulai Januari-Desember 2001. Tujuan penelitian adalah mengetahui kekerabatan antar-13 genotip anggrek subtribe sarcanthinae serta korelasi antara jarak taksonomi berdasarkan karakter morfologi dan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Pengelompokan 13 genotip anggrek dianalisis berdasarkan 22 data morfologi dan 185 pita DNA yang diperoleh dari hasil amplifikasi 14 primer dekamer acak random amplified poly- morphic DNA berbasis polymerase chain reaction. Analisis gerombol  13 genotip anggrek subtribe sarcanthinae dilakukan berdasarkan karakter morfologi menggunakan rumus rataan jarak taksonomi dan berdasarkan pola  pita DNA menggunakan  rumus Nei & Li atau koefisien Dice. Dari hasil analisis  diperoleh matriks kemiripan yang digunakan untuk menentukan nilai korelasi antara hasil pengelompokan dengan data fenotipik dan data pola pita DNA. Hasil pengelompokan tanaman anggrek subtribe sarcanthinae berdasarkan karakter morfologi tidak konsisten dengan hasil yang diperoleh dari analisis pola pita DNA. Jarak genetik yang berasal dari data fenotip tidak dapat digunakan untuk menduga kemiripan genetik. Rataan jarak taksonomi 13 genotip anggrek berdasarkan karakter morfologi berkorelasi negatif (r = -0,586, P < 0,01) dengan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Kata kunci : Anggrek; Kekerabatan; Jarak genetik; Subtribe sarcanthinae; Karakter morfologi; Pola pita DNA; Random amplified polymorphic DNA ABSTRACT. Several interspesific and intergeneric hybrid of subtribe sarcanthinae showed meiotic abnor- mality and poor fertility. This condition was caused by the distant genetic relationship. Genetic relationships between individuals and populations can be measured based on similarity of traits, assuming that the different traits describe the genetic composition. This experiment was begun in January-December 2001. The objective of this study was to esti- mate the correlation between taxonomic distance based on phenotypic performance and genetic similarity based on DNA banding pattern among 13 different genotype of orchid member of subtribe sarcanthinae. The genetic relation- ship analysis among those genotypes was based on 22 morphological traits and 185 DNA bands generated from 14 random amplified polymorphic DNA primers by polymerase chain reaction procedure. Cluster analysis of the geno- types based on phenotypic performance was computed by average taxonomic distance and the DNA banding pattern was calculated by the Dice coefficient of Nei & Li. The analysis resulted in a distance and similarity matrix which was used to determine correlation value between phenotype and DNA. Subtribe sarcanthinae clusters were not consistent with DNA banding pattern. Genetic distance from phenotypic data cant be used to estimate genetic similarity distance based on phenotypic performance which was negatively correlated (r = -0.586, P < 0.01) with that of similarity based on DNA banding pattern.
Pengaruh Bubur Ubikayu dan Ubijalar terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek Dendrobium Widiastoety, Diah; -, Purbadi
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian bubur ubikayu dan ubijalar terhadap pertumbuhan plantlet anggrek dendrobium.  Percobaan dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2001, menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bubur ubikayu putih memberikan hasil yang sama baik dengan pisang ambon terhadap pertumbuhan tinggi plantlet, jumlah, dan luas daun. Akar plantlet pada media mengandung bubur ubikayu kuning lebih banyak dan lebih panjang dibandingkan akar plantlet pada me- dia lainnya, sedangkan pemberian ubijalar merah menghambat pertumbuhan tinggi, luas daun, jumlah, dan panjang akar. Kata kunci : Anggrek  dendrobium ; Pisang; Ubikayu; Ubijalar; Media; Bubur; Pertumbuhan plantlet. ABSTRACT. The aim of this experiment was to investigate the effect of cassava and sweet potatoes pastes incorporated in the growth medium on the growth of plantlets of dendrobium orchid. The result of research showed that addition of white cassava or banana pastes in the media, significantly increased plantlet height, leaf num- ber, and leaf size. The highest number of roots and length of root were found on the media suplemented with yellow cassava paste. Inversely, addition of red sweet potatoe paste inhibited plantlet height, leaf size, and number and length of roots.
Mortalitas Stadia Pradewasa Hama Penggulung Daun Pisang, Erionota tharax (L.) yang Disebabkan Oleh Parasitoid Ashol Hasyim; Kamisar -; K Nakamura
Jurnal Hortikultura Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v13n1.2003.p1-5

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mortalitas stadia pradewasa hama penggulung daun pisang   yang disebabkan oleh parasitoid dan fase awal penyerangan parasitoid terhadap inang. Untuk mengetahui parasitoid hama penggulung daun pisang Erionota thrax, telur, larva, dan pupa hama penggulung daun pisang diambil dari pertanaman pisang petani, kemudian dipelihara di laboratorium Kebun Percobaan Bandar Buat, Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat. Setiap kelompok telur, larva, dan pupa dimasukkan ke dalam kotak plastik berukuran dengan garis tengah 13 cm dan tinggi 5 cm, serta diberi makan daun pisang. Pengamatan terhadap stadia telur diamati dengan menghitung telur yang menetas, diserang parasitoid, tidak menetas, dan diserang jamur. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa hama penggulung daun pisang mempunyai dua jenis parsitoid telur, dua jenis parasitoid larva, dan empat jenis parasitoid pupa.  Kedua jenis parasitoid telur    Pediobius erionotae dan Ooncyrtus erionotae dapat menyebabkan kematian tertinggi dan membunuh 55,6% stadia telur. Parasitoid larva mulai menyerang stadia larva instar kedua. Indeks parasitisme tertinggi disebabkan oleh parasitoid larva Casinaria sp. Adalah 15,7% dan yang pal- ing rendah disebabkan oleh   parasitoid pupa, Theronia zebra-zebra mencapai 0,8%. Hasil penelitian tentang parasitoid hama penggulung daun pisang ini merupakan informasi dasar dalam rangka pengembangan pengendalian hama secara terpadu. Kata kunci: Musa paradisiacal; Erionata thrax; Hama penggulung daun; Parasitoid; Mortalitas; Stadia pradewasa ABSTRACT. This study aims to contribute to the knowledge of immature mortality of ba- nana leaf roller Erionota thrax (L.) and early susceptible stage of parasitoid attacking the host. To obtain parasitoid, the eggs, larvae, and pupae of banana leaf roller, Erionota thrax (L.) were collected from farmer banana field and reared in the laboratory under room temperature at Bandar Buat, West Sumatera Assessment Institute for Agriculture Technology. Each egg mass, larvae, and pupae were isolated in plastic container dimensions of 13 cm in diameter and 5 cm in dept feeding, with leaf of banana. The following categories were recognized of egg stage, hatched, parasitic by wasps, hatching failure, and fungus diseased. The result indicated that E. thrax had two species of egg parasitoid, two species of parasitoid emerged from larvae, and four species of parasitoid emerged from pupae stages. Both of egg parasitoid species, Pediobius erionotae and Ooncyrtus erionotae, caused the highest mortality and kiled 55,6% of the eggs. The earliest parasitized stage of larva was the second instar. Index of parasitism rate by larval and pupae parasitoid which mostly caused by  Casinaria erionotae was at 15.7% and the lowest caused by  pupae parasitoid, Theronia zebra-zebra was at 0.8. The results of banana leaf roller parasitoid research were to provide basic information for the development of integrated pest managemen.

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2003 2003


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue