cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009" : 25 Documents clear
Daya Hasil Tomat Hibrida (F1) di Dataran Medium Purwti, Ety
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai November 2006, di dataran medium Banyuresmi,Kabupaten Garut pada jenis tanah Latosol dengan ketinggian 550 m dpl. Tujuan penelitian ialah mengevaluasi 16genotip tomat hibrida (F1). Materi terdiri atas 16 genotip hibrida, 11 genotip di antaranya berasal dari Balai PenelitianTanaman Sayuran. Rancangan penelitian menggunakan acak kelompok dengan 2 ulangan dan 20 tanaman/plot. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa genotip IVEGRI 06-05 mencapai hasil tertinggi (56,6 t/ha) tetapi tidak berbeda nyatajika dibandingkan dengan varietas Marta (49,25 t/ha) sebagai kontrol, yang merupakan varietas tomat terbanyakditanam oleh petani di daerah Garut. Produksi terendah dicapai oleh genotip IVEGRI 06-01 (40,10 t/ha) dan Blts05-08 (40,0 t/ha) berbeda nyata jika dibandingkan dengan genotip IVEGRI 06-02, 06-03, 06-05, varietas Idola, danSpirit. Kekerasan buah berkisar dari sangat keras (nilai 3,3) sampai agak lunak (nilai 4,5), meskipun demikian buahyang paling keras (nilai 3,3) ialah genotip IVEGRI 06-01 dan varietas Marta. Demikian juga daya tahan simpanbuah kedua genotip ini adalah yang paling lama (24 hari).ABSTRACT. Purwati, E. 2009. Yield Potential of Tomato F1 Hybrid in Medium Land. Sixteen hybrids of tomatogenotypes (F1) were tested, and 11 out of them were hybrid genotypes from Indonesian Vegetable Research Institute(IVEGRI). The research was conducted in Banyuresmi, Garut District, West Java, at Latosol soil type with an altitudeof 550 m asl., from July to November 2006. Randomized complete block design with 2 replications and 20 plants perplot were used for field evaluation. The results indicated that IVEGRI 06-05 genotype gave the highest yield (56.60t/ha) but it was not significantly different to Marta variety (49.25 t/ha) as control. The lowest yields were shown byboth IVEGRI 06-01 (40.10 t/ha) and Blts 05-08 (40.0 t/ha), which were significantly different with IVEGRI 06-02,06-03, 06-05, Idola, and Spirit. In general fruit firmness ranges from hard to soft (value 3.3 – 4.5). However IVEGRI06-01 genotype and Marta’s variety indicated the highest hardness (value 3.3) and the longest selflife (24 days).
Uji Daya Gabung dan Tipe Aksi Gen pada Buah Pepaya Sukartini, -; Budiyanti, Tri
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui daya gabung umum dan daya gabung khusus, efek dayagabung umum, dan tipe aksi gen pada karakter berat buah, rasio panjang/diameter buah, tebal daging buah, dan nilaipadatan total terlarut (PTT) buah pepaya. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Sumani Balai Penelitian TanamanBuah Tropika Solok pada bulan Januari sampai Desember 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acakkelompok, dengan 2 hibrida F1 sebagai perlakuan dan ulangan sebanyak 7 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwapada karakter berat buah, tebal daging buah, dan nilai PTT, penampilan hibrida pepaya dapat diramalkan berdasarkandaya gabung umum. Tipe aksi gen yang mempengaruhi karakter berat buah adalah aditif dan dominan lebih. Sedangkanpada karakter tebal daging buah dan nilai PTT dipengaruhi oleh aksi gen dominan. Varietas Wonosobo dapat digunakanuntuk perakitan hibrida pepaya dengan buah yang lebih berat dan daging buah tebal. Selain itu, untuk memperolehhibrida pepaya yang mempunyai rasa manis dapat digunakan varietas Meksiko.ABSTRACT. Sukartini and T. Budiyanti. 2009. Combining Capacity Test and Gene Action Type of PapayaFruit. The aims of this research was to know the general and specific combining capacity, the effect of generalcombining capacity, and gene action type of fruit weight, length/diameter fruits ratio, flesh thickness, and totalsolube solid (TSS) value. The research was done at Sumani Research Station of Indonesian Tropical Fruit ResearchInstitute from January until December 2002. Randomized block design was used which 2 F1 hybrids as treatmentand 7 replications. The results showed that characters of fruit weight, flesh thickness, TSS value, and appearance ofpapaya hybrid could be forecasted base on general combining capacity. Gene action type which influence fruit weightwere additive and over dominant. However, flesh thickness and TSS value characters were influenced by dominantgene action. Wonosobo variety could be used to develop new variety with more fruit weight and flesh thickness onpapaya hybrid. Whereas Mexico variety could be used to obtain sweet taste papaya hybrid.
Regenerasi Beberapa Kultivar Kentang dan Transformasi Kentang dengan Gen RB melalui Agrobacterium tumefaciens Listanto, E; Watimena, G A; Armini, N M; Sinaga, M S; Sofiari, Eri; Herman, M
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans (Mont.) de Barymerupakan salah satu penyakit yang merusak tanaman dan memengaruhi hasil umbi kentang. Salah satu usahauntuk mengendalikan penyakit ini, yaitu dengan menggunakan kultivar tahan yang dapat dirakit melalui rekayasagenetik. Penelitian ini terdiri atas 3 kegiatan, yaitu studi regenerasi, transformasi gen RB ke dalam Agrobacteriumtumefaciens, dan transformasi kentang dengan gen RB. Penelitian dilakukan untuk mengetahui regenerasi beberapakultivar kentang, keberhasilan transfer gen RB ke dalam A. tumefaciens, dan melakukan transformasi kentang dengangen RB melalui A. tumefaciens. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kultivar Merbabu dan Atlantik memilikikemampuan regenerasi yang tinggi dan menghasilkan tunas sebanyak 30,6 dan 22,8. Dari semua kultivar yang diuji,Granola paling sensitif terhadap kanamisin pada konsentrasi 50 mg/l dan dipilih sebagai bahan transformasi. PlasmidpCLD04541 berhasil ditransfer ke dalam A. tumefaciens. Koloni A. tumefaciens yang tumbuh pada media LB yangdiberi antibiotik tetrasiklin dan rifampisin menunjukkan keberadaan plasmid pCLD04541 yang mengandung genRB. Hasil transformasi terhadap 5.347 eksplan ruas batang Granola diperoleh 50 transforman yang positif terdeteksioleh polymerase chain reaction (PCR) mengandung gen RB. Keberadaan gen RB ditunjukkan dari hasil amplifikasiujung-N dengan ukuran fragmen sebesar 619 bp dan ujung-C dengan ukuran fragmen sebesar 840 bp.ABSTRACT. Listanto, E., G. A. Wattimena, N. M. Armini, M. S. Sinaga, E. Sofiari, and M. Herman. 2009.Regeneration on Some Potato Cultivars and Potato Transformation with RB Gene Through Agrobacteriumtumefaciens. Late Blight on Potato, Incited by Phytophthora infestans (Mont.) de Bary is a devastating disease affectingtuber yield. One of the efforts to control this disease is by using resistance cultivar that can be bred through geneticengineering. This experiment consisted of 3 activities those were to study the regeneration of several potato cultivarsand to transform RB gene into A. tumefaciens and to do Agrobacterium-mediated transformation on potato using RBgene. The results showed that Merbabu and Atlantic cultivars had the highest regeneration capacity which produced30.6 and 22.8 shoots. Granola has the most sensitive variety to kanamycine on 50 mg/l concentration, therefore thiscultivar had been chosen for transformation material. Colonies of A. tumefaciens that grew on LB media containingtetracycline and rifampicine antibiotics indicated bearing pCLD04541 plasmid carrying RB gene. The results oftransformation on 5,347 internode explants of Granola produced 50 transformants that were positively detected byPCR for RB gene. Polymerase chain reaction product of RB gene were detected by the occurrence of 2 amplificationproducts, 619 bp for N-term and 840 bp for C-term.
Daya Hasil Beberapa Klon Kentang di Garut dan Banjarnegara Sofiari, Eri
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini merupakan suatu rangkaian kegiatan untuk memenuhi syarat kecukupan lokasi untukpengajuan pelepasan varietas baru. Penelitian dilaksanakan di Cikajang-Garut dan Batur-Banjarnegara. Jumlahklon yang diuji sebanyak 11 ditambah 4 varietas pembanding yaitu Granola, Atlantik, Repita, dan Balsa. Rancanganpercobaan yang digunakan ádalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Populasi tanaman per plot 30 tanaman. Penelitianbertujuan mendapatkan klon kentang unggul di Garut dan Banjarnegara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klonyang adaptif untuk Garut adalah KS-9, KS-10, dan KS-11, sedangkan Banjarnegara adalah KS-4, KS-6, KS-9, danKS-11 dengan potensi hasil masing-masing klon lebih dari 18 t/ha. Untuk hasil gorengan terbaik ditampilkan olehklon KS-1, KS-3, KS-6, KS-8, dan KS-11.ABSTRACT. Sofiari, E. 2009. Yield Trial of Potato Clones at Garut and Banjarnegara. This experiment was aseries of activities to fulfil numbers of locations of field trial for variety released. The experiment was conducted inCikajang-Garut and Batur-Banjarnegara. A total of 11 clones and 4 varieties of potato were used. The experiment waslaid in a randomized complete block design with 3 replications and consisted of 30 hills per plot. The objective of theresearch was to determine the highest productivity clones suited in Garut and Banjarnegara. The results indicated thathigh productivity clones suited in Garut were obtained from clones KS-9, KS-10, and KS-11, while in Banjarnegarawere KS-4, KS-6, KS-9, and KS-11 which had productivity more than 18 t/ha. The best potato chip quality wereobtained from clones KS-1, KS-3, KS-6, KS-8, and KS-11.
Pendekatan Fenetik Taksonomi dalam Identifikasi Kekerabatan Spesies Anthurium Martasari, C; Sugiyatno, Agus; Yusuf, H M; Rahayu, D L
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Identifikasi kekerabatan Anthurium koleksi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropikadilakukan menggunakan pendekatan fenetik. Hasil identifikasi kekerabatan ini akan sangat bermanfaat dalam kegiatanpemuliaan Anthurium untuk menghasilkan varietas baru. Sumber data yang digunakan adalah parameter morfologi,organ vegetatif, organ reproduksi, dan polen. Penentuan hubungan kekerabatan Anthurium dilakukan mengikutipetunjuk Sokal dan Michener (1958). Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pemuliaan Balai Penelitian TanamanJeruk dan Buah Subtropika, Tlekung Batu dan Laboratorium Biologi Universitas Negeri Malang dari bulan Juni2005 hingga Januari 2006. Dari hasil penelitian diperoleh ciri-ciri umum dan khusus dari masing-masing spesiesAnthurium yang selanjutnya ciri-ciri tersebut dianalisis dan disusun dalam bentuk matriks jumlah pasangan satuantaxonomi operasional (STO). Fenogram dibentuk dari perhitungan koefisien asosiasi matriks. Berdasarkan fenogramdiperoleh 5 kelompok kekerabatan berturut-turut dari yang terdekat sampai yang terjauh. Spesies yang tergabungdalam kelompok pertama (A. ferriense dan A.macrolobim) dan kedua (A. amnicola Dressler. dan A. andraeanumLinden) termasuk berkerabat dekat di mana indeks kesamaannya masing-masing 65 dan 57,1%. Kelompok 3 (A.halmoreii Croat. dan A. jenmanii Engl.), dan kelompok 4 (A. crystallinum Linden & Andre dan A. andicola Liebm.)merupakan pasangan-pasangan yang berkerabat jauh, yaitu dengan indeks kesamaan 53,7 dan 47,8%. Kelompokkelima (A. superbum Madison dan A. correa Croat) merupakan pasangan yang berkerabat paling jauh dengan indekskesamaan 32,8%. Indeks kesamaan antara kelompok 1 dan kelompok 2 sebesar 29%, kelompok 3 dan kelompok 4sebesar 26%, dan indeks kesamaan kelompok 5 terhadap keempat lainnya adalah sebesar 25,3%.ABSTRACT. Martasari, C., A. Sugiyatno, H.M.Yusuf, and D. L. Rahayu. 2009. The Phenetic TaxonomyApproach to Identify Relationship of Anthurium Species. Identification of relationship of Anthurium species,collection from Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute (ICISFRI) was conducted using phenetictaxonomy approach method. The study was very useful to developed new superior variety of Anthurium. The data usedin the study were morphological, vegetative organ, reproductive organ, and pollen parameters. Anthurium relationshipwas defined based on Sokal and Michener method (1958). The research was carried out at both Indonesian Citrusand Subtropical Fruits Research Institute (ICISFRI) Breeding Laboratory and the Biology Laboratory, Malang StateUniversity from June 2005 to January 2006. The general and specific descriptors obtained from the experiment wereanalyzed and arranged in a matrices of STO pair number. Phenogram was created from the calculation of matricescoefficient association. According to the phenogram it was shown that 5 related groups of Anthurium species laid fromnear to far distance based on their relationship. The first group consist of A. ferrience and A. macrolobin, it had a neardistance with group 2 (A. amnicola Dressler. and A. andraeanum Linden) with their similarity index 65 and 57.1%respectively. Group 3 (A. halmoreii Croat and A. jenmanii Engl.), and group 4 (A. crystallinum Linden & Andre andA. andicola Liebm.) had a far distance with similarity index 53.7 and 47.8%. The last group (A. superboom Madisonand A. correa Croat.) was the furthest distance with similarity index 32.8%. The similarity index between first andsecond group, third and fourth group, and the fifth group to others was 29, 26, and 25.3%, respectively.
Kultivar dan Formula Pupuk pada Pertumbuhan Bunga Potong Anthurium Tedjasarwana, Rahayu; Wuryaningsih, Sri
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Bunga potong Anthurium (Anthurium andraeanum Lind.) mempunyai bentuk bunga yang khas sepertitopi, terdiri dari spathe dan spadix dengan warna spathenya yang sangat beragam, dikenal mempunyai kesegaran bungadalam vas yang lama. Penelitian bertujuan untuk memperoleh formula pupuk yang tepat dan kultivar yang baik untukpertumbuhan dan produksi bunga potong Anthurium. Penelitian dilakukan di Rumah Sere Balai Penelitian TanamanHias (Balithi) dengan ketinggian 1.100 m dpl dari bulan Januari sampai Desember 2006. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok pola faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama 2 kultivar, yaitu kultivar Tropical danAvo Orange, sedangkan faktor kedua formula pupuk, yaitu (1) formula anthura sebagai kontrol, (2) formula Balithi1, (3). formula Balithi 2, (4) formula Balithi 3, dan (5) formula Balithi 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwajumlah klorofil, panjang dan diameter spadik, serta diameter tangkai bunga kultivar Tropical nilainya lebih besardibandingkan kultivar Avo Orange, yaitu berturut-turut 63,96 unit; 5,81; 6,77 cm; dan 4,86 mm. Sedangkan kultivarAvo Orange lebih cepat inisiasi bunganya, tangkai bunga lebih panjang dengan produksi bunga lebih tinggi, yaitumasing-masing 45,19 hari, 46,27 cm, dan 19,13 tangkai/petak. Formula pupuk 4 menghasilkan tanaman dengan inisiasibunga tercepat, yaitu 49,36 hari, sedangkan formula pupuk 3 menghasilkan bunga tinggi sebesar 18,0 tangkai/petak.Hasil penelitian memberikan informasi tentang adanya kultivar Anthurium yang produktif dan bermutu baik sertaformula nutrisi yang mudah diperoleh.ABSTRACT. Tedjasarwana, R. and S. Wuryaningsih. 2009. Cultivars and Fertilizer Formulae on the Growthof Anthurium Cut Flower. Anthurium cut flower (Anthurium andraeanum Lind.) has spesific flower form like hatconsist of spathe and spadix with variation on spathe color, and has long vaselife. The objectives of this researchwere to find out fertilizer formula and cultivars of Anthurium to increase the productivity of Anthurium cut flower.The experiment was carried out in a Screenhouse of Segunung Field Trial at Indonesian Ornamental Crops ResearchInstitute (IOCRI) from January to December 2006 at 1,100 m asl. Factorial design with 3 replications was used.The first factor was 2 cultivars of Anthurium cut flower consist of Tropical and Avo Orange. The second factor wasfertilizer formula: (1) Anthura as a control, (2) IOCRI 1, (3) IOCRI 2, (4) IOCRI 3, and (5) IOCRI 4. The resultsshowed that chlorophyl number, length and diameter of spadix, also flower stalk diameter of Tropical variety washigher than Avo Orange, i.e. 63.96 unit; 5.81; 6.77 cm, and 4.86 mm, respectively. On the other hand, Avo Orangeshowed faster flower initiation with flower stalk length and flower production higher than Tropical, i.e. 45.19 days;46.27 cm, and 19.13 flower stalk/plot respectively. Fertilizer IOCRI 4 showed fastest flower initiation (49.36 days)and fertilizer IOCRI 3 indicated the highest on flower production (18.0 flower stalk/plot).
Kalium Sulfat dan Kalium Klorida Sebagai Sumber Pupuk Kalium pada Tanaman Bawang Merah Gunadi, Nikardi
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Percobaan untuk mengetahui pengaruh 2 sumber pupuk kalium, yaitu kalium sulfat (K2SO4) dan kaliumklorida (KCl) serta dosis pupuk kalium terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah. Penelitian dilaksanakan dilahan petani di Desa Ciledug (12 m dpl.), Cirebon, Jawa Barat dari bulan Juni sampai dengan Agustus 2003. Duasumber pupuk kalium, yaitu kalium sulfat dan kalium klorida ditempatkan sebagai petak utama dan dosis pupuk kalium,yaitu 50, 100, 150, 200, dan 250 kg K2O/ha sebagai anak petak dalam rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh sumber pupuk kalium tidak nyata terhadap parameter pertumbuhan,seperti tinggi tanaman, jumlah tunas, dan bobot kering komponen tanaman. Namun pada saat panen pupuk kaliumberpengaruh nyata. Tanaman yang mendapat pupuk K2SO4 mempunyai hasil umbi kering per tanaman, hasil umbisegar per petak, dan hasil umbi kering per petak yang lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan tanamanyang diberi pupuk KCl. Penggunaan pupuk kalium sulfat tidak nyata meningkatkan kualitas umbi bawang merahpada saat panen dibandingkan dengan penggunaan pupuk kalium klorida. Pengaruh dosis pupuk kalium terhadapbeberapa parameter pertumbuhan tanaman bawang merah, seperti tinggi tanaman, jumlah tunas per tanaman, jumlahdaun per tanaman, dan juga bobot kering komponen tanaman serta pada saat panen, hasil umbi segar dan umbi keringbaik per tanaman maupun per petak (15 m2) tidak nyata.ABSTRACT. Gunadi, N. 2009. Potassium Sulphate and Potassium Chloride as Sources of Potassium Fertilizeron Shallots. An experiment to determine the effect of 2 sources of potassium fertilizer i.e. potassium sulphate (K2SO4)and potassium chloride (KCl) and the rate of potassium fertilizer on the growth and yield of shallots was conductedat farmer’s field in Ciledug Village (12 m asl.), Cirebon, West Jawa from June until August 2003. Two sources ofpotassium fertilizers i.e. potassium sulphate and potassium chloride were assigned as main plots and the rates ofpotassium fertilizers i.e. 50, 100, 150, 200, and 250 kg/ha were assigned as subplots. The experiment was arrangedin a split plot design with 3 replications. The results indicated that the effect of source of potassium fertilizer was notsignificantly affect the growth parameters such as plant height, shoot number, leaf number, and dry weight of plant.While at harvest, however, the effect was significant. The application of potassium sulphate gave higher dry yieldper plant, fresh yield per plot, and dry yield per plot (15 m2) compared to potassium chloride. The use of potassiumsulphate did not significantly increase the quality of shallot bulb at harvest compared to the use of potassium chloride.The effect of potassium fertilizer rate was not pronounced on some growth parameters and yield of shallots such asplant height, shoot number per plant, and leaf number per plant, total plant dry matter, fresh and dry yield either perplant or per plot (15 m2).
Efikasi Isolat Cendawan Mikoriza Arbuskula Indigenous Pisang terhadap Nematoda Radopholus similis pada Pisang Ambon Hijau Jumjunidang, =
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Serangan nematoda parasit akar Radopholus similis Cobb merupakan salah satu kendala dalammeningkatkan produksi pisang. Cendawan mikoriza arbuskula (CMA) adalah simbion obligat yang dapat meningkatkanserapan hara dan ketahanan tanaman terhadap nematoda parasit. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh inokulasibeberapa isolat CMA indigenous terhadap serangan nematoda parasit R. similis pada pisang Ambon Hijau. Penelitiandilakukan di Laboratorium Penyakit dan Rumah Kasa Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika Solok, pada bulanFebruari sampai Desember 2004. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 7 perlakuan dan 4 ulangan,masing-masing ulangan terdiri dari 2 tanaman. Perlakuan adalah 5 isolat CMA indigenous pisang yang berasal daribeberapa daerah dan 1 CMA campuran koleksi Balitbu, yaitu: CMA asal Batu Sangkar (var.Buai), CMA asal 50 Kota(var. Raja Serai), CMA asal Sawahlunto Sijunjung (var. Udang), CMA asal Padang (var. Kepok), CMA asal PadangPariaman (var. Manis), CMA campuran koleksi Balitbu (Biorhiza 02 G), dan kontrol (tanpa CMA). Varietas pisangyang digunakan adalah Ambon Hijau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua isolat CMA yang diuji mampumenekan reproduksi R. similis pada tanaman pisang dan dapat mengurangi kerusakan tanaman yang ditimbulkannyadibanding dengan kontrol. Isolat CMA terbaik untuk mengendalikan nematoda R. similis adalah isolat yang berasaldari Padang dan Biorhiza 02 G, karena mampu menekan reproduksi nematoda dan mengurangi kerusakan tanamanpada tingkat yang paling rendah. Isolat CMA yang berasal dari 50 Kota dan Batu Sangkar mampu meningkatkantoleransi tanaman dengan mengurangi kerusakan yang ditimbulkan nematoda pada tingkat yang sama dengan isolatCMA dari Padang dan Biorhiza 02 G. Cendawan mikoriza arbuskula berpotensi digunakan sebagai agensia hayatiuntuk mengendalikan nematoda R. similis pada tanaman pisang.ABSTRACT. Jumjunidang. 2009. Efficacy of Indigenous Arbuscular Mycorrhizae (AM) Isolates of BananasAgainst the Damage Caused by Nematode Radopholus similis. on Banana cv. Ambon Hijau. The incidence of rootparasitic nematode Radopholus similis Cobb is one of the constraints on banana production. Arbuscular mycorrhizaeis obligate symbiont which can increase nutrient uptake and the resistance of plant against parasitic nematodes. Theobjective of this experiment was to determine the effects of inoculation of various indigenous AM isolates to controlR. similis on banana cv. Ambon Hijau. The experiment was conducted at Disease Laboratory and Screenhouse ofIndonesian Tropical Fruit Research Institute at Solok, from February to December 2004. The experiment was arrangedin a randomized block design with 7 treatments and 4 replications. Each treatment consisted of 2 plants. The treatmentscomprised of 5 indigenous AM isolates from several areas of bananas plantation, i.e.; AM from Batu Sangkar (var.Buai), AM from 50 Kota (var. Raja Serai), AM from Sawahlunto Sijunjung (var. Udang), AM from Padang (var.Kepok), AM from Padang Pariaman (var. Manis), one mixed AM of Indonesian Tropical Fruit Research Institutecollection (Biorhiza 02 G), and control. The results showed that all of AM isolates were significantly suppress thereproductive of R. similis on banana and also significantly decrease plant damages caused by that nematode. Thebest AM isolates in controlling R. similis were isolates from Padang and Biorhiza 02 G because they were not onlyable to suppress reproductiveness of nematode, but also decrease plant damages to lowest level. Isolates from 50Kota and Batu Sangkar were able to increase plant tolerance by showing lower damages comparable to AM isolatesfrom Padang and Biorhiza 02 G. Arbuscular mycorrhizae had the potency as biocontrol agent in controlling parasiticnematode R. similis on banana.
Aktivitas Antijamur Minyak Atsiri terhadap Penyakit Antraknos Buah Pisang di Penyimpanan pada Kondisi Laboratorium Istianto, Mizu; Eliza, -
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK. Antraknos yang disebabkan oleh Colletotrichum sp. merupakan penyakit penting yang menyerangbuah pisang pada penyimpanan. Teknologi yang direkomendasikan untuk mengendalikan penyakit ini adalah denganpenerapan perlakuan panas dan penggunaan fungisida. Teknologi alternatif yang mempertimbangkan keamanankonsumen dan lingkungan sangat diperlukan untuk menggantikan penggunaan fungisida. Tujuan penelitian adalahmengevaluasi aktivitas antijamur beberapa minyak atsiri yang diekstrak dari daun kayu manis, sereh wangi, dankulit jeruk besar terhadap penyakit antraknos. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Perlindungan Tanaman BalaiPenelitian Tanaman Buah Tropika pada suhu ruang mulai dari bulan Januari sampai Mei 2007. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa minyak atsiri mampu menekan perkembangan miselium jamur Colletotrichum sp.. Minyakatsiri yang diekstrak dari daun kayu manis mempunyai nilai penghambatan tertinggi (65-72%) terhadap pertumbuhanmiselium Colletotrichum sp., diikuti oleh nilai penghambatan minyak atsiri sereh wangi (62-64%), dan kulit jerukbesar (14-19%). Hasil ini menunjukkan bahwa minyak atsiri mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkansebagai teknologi alternatif yang mempertimbangkan keamanan konsumen dan lingkunganABSTRACT. Istianto, M. and Eliza. 2009. Antifungal Activity of Essential Oils Against Anthracnose Disease onBanana Fruit During Storage at Laboratory Conditions. Anthracnose, caused by Colletotrichum sp., is importantdisease attacking banana fruit during storage. The technologies recommended to control anthracnose were fungicideand heat treatment application. Alternative technologies that considered safe to consumer and environment areneeded to replace the use of fungicides. The aim of this experiment was to evaluate antifungal activity of essentialoils extracted from Cinnamomum burmanni, Cymbopogon nardus, and Citrus grandis against anthracnose disease.The experiment was conducted in the Plant Protection Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute atroom temperature from January to May 2007. The results showed that essential oils was able to suppress the growthof Colletotrichum sp’s mycelial. Essential oil extracted from C. burmanni had highest inhibition value (65-72%) tothe mycelial growth of Colletotrichum sp., followed by C. nardus (62-64%), and C. grandis (14-19%). This resultsindicated that essential oils had good potential to be developed as alternative technology to control anthracnose diseaseconsidering the consumer and environment safety.
Penekanan Hayati Penyakit Layu Fusarium pada Subang Gladiol Wardhana, Dian Wisnu; Soetnto, Loekas; Utami, D S
Jurnal Hortikultura Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan mendapatkan agensia hayati terbaik dalam menekan intensitasserangan Fusarium oxysporum f.sp. gladioli in planta melalui perlakuan subang gladiol. Penelitian dilakukan diRumah Kasa Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, dari bulan Agustus 2005 sampaiJanuari 2006. Antibiotika 2,4-diasetilfloroglusinol (Phl), Bacillus subtilis, serta Trichoderma harzianum isolat jahe danginseng digunakan dalam penelitian ini, dengan kontrol fungisida benomil dan air hangat. Percobaan menggunakanrancangan acak kelompok dengan 8 perlakuan dan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antagonis yangpaling baik dalam menekan penyakit layu Fusarium in planta adalah T. harzianum isolat jahe dengan masa inkubasi,intensitas penyakit, dan jumlah populasi, masing-masing sebesar 64,13 HSI, 15,55%, dan 20 upk/g tanah atauberpotensi menurunkan intensitas penyakit 83,34%. Selain itu, T. harzianum isolat jahe paling baik memengaruhitinggi tanaman, jumlah daun, bobot basah subang dan akar, bobot basah batang dan daun, bobot kering batang dandaun, masing-masing 111,950 cm, 6,625 helai, 31,963 g, 39,338g, dan 6,075g. Panjang tangkai bunga dan jumlahfloret per tangkai bunga paling baik ditunjukkan oleh perlakuan antibiotika Phl, yaitu masing-masing 83,33 cm dan6,13 floret per tangkai bunga.ABSTRACT. Wardhana, D.W., L. Soesanto, and D.S. Utami. 2009. Biological Suppression of Fusarial Wilt onGladiolus Corms. The research was aimed to find out the best biological agent in suppressing Fusarium oxysporum f.sp.gladioli in planta on gladiolus corms. This research was carried out at the Screenhouse of Agricultural Faculty, JenderalSoedirman University, Purwokerto from August 2005 up to January 2006. Antibiotic of 2,4-diacetylphloroglucinol(Phl), Bacillus subtilis, Trichoderma harzianum isolated from ginger and ginseng were used with benomyl and warmwater as control. Randomized block design was used with 8 treatments and 4 replications. Results of the researchshowed that the best antagonist in suppressing the disease was T. harzianum ginger isolate with incubation period,disease intensity, and number of late population of 64.13 days after inoculation, 15.55%, and 20 cfu/g soil, respectively,or potentially decrease the disease up to 83.34%. The ginger isolate was the best isolate to improve crop height, leafnumber, corm and root fresh weight, leaves and stalk fresh weight, and leaves and stalk dry weight of 111.950 cm,6.625 sheet, 31.963 g, 39.338 g, and 6.075 g, respectively. The best flower stalk length (83.33 cm) and floret numberper stalk (6.13) were obtained from the use of antibiotic Phl treatment.

Page 1 of 3 | Total Record : 25


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue