cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014" : 11 Documents clear
Sikap Petani Terhadap Pilihan Atribut Benih dan Varietas Kentang Witono Adiyoga; Suwandi Suwandi; A. Kartasih
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p76-84

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk menghimpun informasi menyangkut sikap petani dalam mengoptimalkan utilitas/ kegunaan atribut produk benih dan/atau varietas kentang. Kegiatan penelitian dilaksanakan pada Bulan Juni-September 2011. Lokasi penelitian ialah tiga sentra produksi kentang di Jawa Barat, Sumatera Barat, dan Sulawesi Utara. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara individual 46 orang responden dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan dengan metode statistika deskriptif dan metode urutan kepentingan menggunakan analisis skor bobot berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Granola merupakan varietas yang paling banyak ditanam petani pada musim tanam 2011 dan benih G3 merupakan generasi benih yang paling banyak digunakan. Lebih dari separuh responden menggunakan benih hasil sendiri (saved seed) dengan ukuran benih 20–25 umbi/kg. Semua petani menyatakan pernah menanam varietas Granola, kemudian diikuti oleh Atlantik dan Marhagayu. Atribut benih kentang yang paling disukai ialah benih yang memiliki potensi daya hasil > 30 t, umur panen 86–95 hari, ketahanan terhadap penyakit busuk daun, ketahanan terhadap penyakit layu, kedalaman mata < 0,5 cm, jumlah mata < 10, dan ukuran benih 30–40 g. Atribut benih kentang yang dipersepsi responden paling penting yaitu potensi daya hasil, sedangkan yang paling tidak penting ialah jumlah mata. Faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan untuk membeli benih kentang ialah kemurnian dan bebas penyakit. Sementara itu, faktor yang paling berpengaruh terhadap keputusan untuk memilih varietas kentang ialah ketahanan terhadap hama penyakit. Preferensi petani terhadap atribut benih atau varietas pada dasarnya juga menentukan peluang keberhasilan petani pada saat menggunakan benih/varietas bersangkutan. Oleh karena itu, program pemuliaan harus dapat memuaskan permintaan berbagai rumah tangga tani berbeda yang diklasifikasikan berdasarkan kepemilikan sumberdaya, preferensi, dan kendala. Dengan demikian, penyusunan prioritas program penelitian harus diarahkan untuk menjawab pertanyaan bagi siapa penelitian pemuliaan ditujukan dan bukan untuk jenis lingkungan agroekosistem yang mana.
Deteksi Mutan Kentang Hitam Hasil Radiasi Sinar γ Menggunakan Marka ISSR dan RAPD Kusuma Dewi Sri Yulita; Diyah Martanti; Yuyu Suryasari Poerba; Herlina Herlina
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p1-9

Abstract

Umbi kentang hitam [Plectranthus rotundifolius (Poir.) Spreng.] merupakan salah satu sumber pangan alternatif bagi sebagian masyarakat Indonesia. Namun, rendahnya keragaman genetik kentang hitam menjadi kendala dalam perakitan varietas unggul. Pemuliaan tanaman dengan cara mutasi antara lain dengan iradiasi sinar γ diharapkan dapat meningkatkan keragaman genetik kentang hitam. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Januari - November 2010 di Laboratorium Genetika Tumbuhan, PusatPenelitian Biologi LIPI. Penelitian ini bertujuan mendeteksi mutan kentang hitam hasil radiasi sinar γ pada dosis 6, 25, dan 35 gray dengan menggunakan marka ISSR dan RAPD. Lima belas primer ISSR dan RAPD digunakan untuk mengamplifikasi genom DNA total. Di antara ke-15 primer tersebut, hanya empat primer yang menghasilkan pita-pita polimorfik untuk mendeteksi mutan hasil mutasi pada konsentrasi 25 gray yaitu (OPA 13, OPA 18, OPB 18, dan UBC 834) pada aksesi 1#10; 11.3#4; 11.3#5, dan 2.10#8 dan hanya tiga primer yang mampu mendeteksi mutan pada konsentrasi 35 gray (OPA 13, OPB 18, dan UBC 807) pada aksesi 4.10#2, 4.10#1, 4.10#4, 4.10#3, 4.10#5, dan 33d.1#3. Hal ini menunjukkan bahwa marka ISSR dan RAPD dapat digunakan untuk mendeteksi mutan pada kentang hitam.
Pengelolaan Polen untuk Produksi Benih Melon Hibrida Sunrise Meta dan Orange Meta Agustin Heni; Palupi E.R.; Suhartanto M.R.
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p32-41

Abstract

Pengelolaan polen merupakan salah satu faktor penting dalam sistem produksi benih hibrida. Penelitian bertujuan mempelajari pengelolaan polen untuk produksi benih hibrida melon Sunrise Meta dan Orange Meta. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Tajur II, Bogor dan Laboratorium Biologi dan Biofisik Benih, Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2012 hingga Februari 2013. Penelitian terdiri atas dua percobaan dengan dua tetua jantan M13 dan M21 yang diuji terpisah. Percobaan pertama bertujuan meningkatkan produksi dan viabilitas polen, dilakukan dengan rancangan acak lengkap satu faktor dengan empat perlakuan, yaitu kontrol (tanpa penambahan unsur mikro), boraks 10 kg/ha, aplikasi 200 ppm  AgNO3+1.000 ppm Na2SO4 dan kombinasi perlakuan keduanya. Pengamatan dilakukan terhadap semua bunga jantan saat P1: 22-27 HST, P2: 28-33 HST, P3: 34-39 HST, P4: 40–45 HST, dan P5: 46-51 HST. Peubah yang diamati ialah jumlah polen per antera, viabilitas polen dan jumlah bunga jantan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa aplikasi boraks 10 kg/h dapat meningkatkan jumlah polen per antera M13 dan M21 namun tidak dapat meningkatkan viabilitas polen dan jumlah bunga jantannya. Jumlah polen tertinggi M13 ditemukan pada fase P4, sementara pada M21 terjadi pada fase P4 dan P5. Percobaan kedua dilakukan untuk mempelajari viabilitas polen pada bunga sehari sebelum antesis (A-1) dan saat antesis (A) serta perubahan viabilitas polen selama penyimpanan dalam ultra freezer (-80±2OC) selama 30 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa daya kecambah polen segar dari bunga antesis lebih tinggi dibandingkan dengan polen yang dipanen sehari sebelum antesis. Polen dari bunga antesis yang telah disimpan selama 30 hari memiliki daya kecambah lebih tinggi 30,34% (M13) dan 24,86% (M21) dibandingkan dengan polen yang dipanen dari bunga sehari sebelum antesis 2,4% (M13) dan 7,35% (M21). Seluruh polen yang disimpan dapat digunakan untuk produksi benih hibrida di lapangan. Polen yang disimpan tidak berkorelasi dengan seed set di lapangan.
Strategi Peningkatan Pemasaran Mangga di Pasar Internasional I.N. Purnama; M. Sarma; M. Najib
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p85-93

Abstract

Mangga merupakan salah satu buah tropis unggulan Indonesia dengan produksi sebesar 2,1 juta ton pada tahun 2011, menempati posisi ketujuh tertinggi di dunia. Namun demikian volume ekspornya masih rendah, yaitu 1,485 ton pada 2011, dengan tujuan utama Timur Tengah dan Singapura. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pemasaran mangga Indonesia, khususnya gedong Gincu dan Arumanis ke pasar internasional dan menyusun strategi rekomendasi bagi peningkatan pemasaran mangga di pasar internasional. Mangga gedong Gincu dan Arumanis dipilih karena keduanya merupakan varietas utama ekspor. Pengumpulan data dilakukan pada Bulan Mei sampai Agustus 2013 melalui observasi dan wawancara menggunakan kuesioner dengan pendekatan SWOT dan AHP kepada responden, masing-masing berjumlah sembilan orang untuk matriks SWOT (strengths, weakness, opportunities, and threats) dan lima orang untuk AHP (analytical hierarchy process). Alat analisis yang digunakan ialah analisis SWOT dan AHP. Hasil perhitungan matriks IFE (internal factor evaluation matrix) diperoleh total skor internal sebesar 2,103 dan matriks EFE (external factor evaluation matrix) dengan total skor sebesar 2,893. Penggabungan hasil dari kedua matriks menempatkan posisi persaingan mangga Indonesia di sel II, yaitu sel tumbuh dan membangun. Rekomendasi prioritas strategi utama untuk peningkatan pemasaran mangga berdasarkan hasil AHP ialah  melakukan standardisasi kebun mangga, peningkatan kerjasama antara eksportir dengan petani, dan pembangunan one stop service untuk  menghasilkan dan menjamin ketersediaan buah berkualitas yang sesuai dengan standar internasional.
Peningkatan Potensi Hasil Varietas Galur Murni Cabai Dengan Memanfaatkan Fenomena Heterosis di Dataran Tinggi Pada Musim Kemarau Rinda Kirana; Carsono N; Y Kusandriani; Liferdi Liferdi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p10-15

Abstract

Perakitan varietas hibrida telah terbukti mampu meningkatkan potensi hasil, sehingga dapat menjadi salah satu strategi peningkatan produktivitas untuk menjaga stok pangan sebagai antisipasi peningkatan jumlah penduduk. Penelitian bertujuan menguji daya hasil dan karakter penting lainnya dari cabai hibrida dengan tetua dan beberapa varietas galur murni sebagai pembanding. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) Lembang, Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat pada Bulan Mei sampai dengan Oktober 2013. Tata letak penelitian disusun menggunakan rancangan acak kelompok terdiri atas 10 perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas tiga tetua (Tanjung-2, Lembang-1, dan GI), empat hibrida (H1=Tanjung-2 x GI, H2=GI x Tanjung-2,  H3=Lembang-1 x GI, dan H4=GI x Lembang-1), serta tiga varietas galur murni sebagai pembanding (Ciko, Tit Super, dan Kencana). Hasil per hektar cabai hibrida lebih baik dibandingkan tetua dan pembanding. H1 dan H2 merupakan hibrida yang memiliki nilai heterosis lebih dari 70% dengan hasil per hektar mencapai lebih dari 30 t/ha. Selain memiliki karakter hasil per hektar yang tinggi, keunggulan hibrida H1 dan H2 ialah berumur genjah serta memiliki ukuran buah yang sesuai dengan preferensi konsumen rumah tangga.
Penentuan Metode Ekstraksi P Tanah Inceptisols untuk Tanaman Cabai (Capsicum annuum L.) Amisnaipa Amisnaipa; Susila A.D.; S. Susanto; Dedi Nursyamsi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p42-48

Abstract

Penyusunan rekomendasi pemupukan P untuk budidaya cabai pada jenis tanah Inceptisols diawali dengan uji hara P tanah. Data uji tanah merupakan indikator kemampuan tanah menyediakan hara yang dapat dimanfaatkan tanaman. Penelitian uji korelasi P tanah Inceptisols terhadap respons tanaman cabai dilakukan di lahan petani SP I Prafi dan dilanjutkan di Rumah Kasa BPTP Papua Barat, Manokwari, pelaksanaan dari Bulan Agustus 2012 sampai April 2013. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk menetapkan metode ekstraksi P tanah yang terbaik bagi tanaman cabai pada tanah Inceptisols. Penelitian menggunakan  rancangan acak kelompok dengan perlakuan tingkat status hara P tanah yang diperoleh dari pemberian larutan H3PO4 pada berbagai dosis, yaitu:0X, ¼X, ½X, ¾X, dan 1X, dimana X = 1730,16 l H3PO4 per hektar. Larutan H3PO4 disiramkan merata dipermukaan bedengan dan diinkubasi selama 4 bulan untuk mendapatkan tingkat status hara P tanah yang berbeda. Tanah tersebut digunakan dalam penelitian uji korelasi hara P tanah di Rumah Kasa. Analisis P tanah menggunakan delapan metode ekstraksi, yaitu : HCl 25%, Olsen, Bray I, Morgan Wolf, Mechlich, NH4OAc, Morgan Vanema, dan EDTA. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respons tinggi tanaman, bobot kering biomassa, kandungan P tanaman, jumlah buah, dan bobot buah panen terhadap tingkat status hara P tanah.Pola respons kuadratik ditunjukkan pada tinggi tanaman umur 7 MST, bobot kering biomassa, jumlah buah, dan bobot buah panen. Metode ekstraksi P tanah Inceptisols yang terbaik untuk cabai adalah : Bray I, Olsen, dan Mechlich dengan nilai koefisien korelasi berturut-turut 0,631, 0,571, dan 0,561.
Pengembangan Marka Molekuler yang Berasosiasi Dengan Kekuatan Dinding Sel Penyusun Saluran Getah Kuning Pada Manggis Risa Aryantri; Miftahudin Miftahudin; Sobir Sobir
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p16-22

Abstract

Salah satu masalah utama dalam peningkatan kualitas buah manggis ialah pencemaran buah oleh getah kuning akibat pecahnya sel penyusun saluran getah kuning. Seleksi buah manggis untuk mendapatkan buah bebas getah kuning dapat dibantu dengan memanfaatkan marka molekuler terpaut karakter kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pusat Kajian Hortikultura Tropik (PKHT), Institut Pertanian Bogor Jawa Barat, pada Bulan Mei 2012 sampai dengan April 2013. Penelitian ini bertujuan mengembangkan marka molekuler yang berasosiasi dengan sifat kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning pada manggis. Sebanyak 39 aksesi Garcinia mangostana L. koleksi Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Sumatera Barat dan hasil koleksi dari Desa Leuwiliang, Jawa Barat digunakan dalam penelitian ini. Dua pasang primerdikembangkan dari sekuen gen kekuatan dinding sel manggis dengan teknik tersarang (nested PCR). Amplifikasi DNA dilakukan dengan teknik PCR standar. Hasil amplifikasi DNA menunjukkan satu pita DNA berukuran ± 260 pb yang polimorf antara tanaman dengan buah tercemar getah kuning dan tidak tercemar getah kuning. Pita tersebut berasosiasi dengan sifat kekuatan dinding sel penyusun saluran getah kuning.
Koleksi dan Karakterisasi Mikoparasit Asal Karat Putih Pada Krisan E. Silvia Yusuf; Ika Djatnika; Suhardi Suhardi
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p56-64

Abstract

Penyakit karat yang disebabkan oleh Puccinia horiana merupakan penyakit yang paling penting pada tanaman krisan. Pengendalian penyakit menggunakan fungisida terbentur masalah timbulnya  pencemaran lingkungan dan resistensi terhadap fungisida. Penggunaan varietas resisten terkendala dengan timbulnya ras fisiologi baru yang dapat mematahkan sifat resistensi tanaman. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian terpadu. Salah satu komponen pengendalian terpadu ialah pemanfaatan mikoparasit. Penelitian bertujuan mengumpulkan dan mengidentifikasi mikoparasit serta menyaring isolat yang efektif dalam menekan penyakit karat pada tanaman krisan. Percobaan dilakukan dari Bulan Januari sampai Desember 2011. Kegiatan penelitian meliputi : (a) survei dan (b) percobaan. Survei dilakukan di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung Barat, sedangkan percobaan dilakukan di Laboratorium dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias. Hasil penelitian menunjukkan: (1) ditemukan empat genus cendawan sebagai mikoparasit penyakit karat (P. horiana) pada tanaman krisan di Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Bandung, (2) dari 55 isolat mikoparasit, 92,7% merupakan genus Cladosporium. Selebihnya terdiri atas genus Fusarium, Trichoderma, dan Penicillium, dan (3) dari 20 isolat yang diuji efektivitasnya sebagai mikoparasit, hanya 11 isolat  Cladosporium sp. yang mempunyai efektivitas > 50% dan sebagai pengendali hayati karat potensial. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan untuk mendapatkan biofungisida potensial untuk mengendalikan penyakit karat putih pada krisan.
Pemanfaatan Pupuk Organik Cair dan Teknik Penanaman Dalam Peningkatan Pertumbuhan dan Hasil Kentang A.E. Marpaung; B. Karo; R. Tarigan
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p49-55

Abstract

Kentang merupakan salah satu komoditi hortikultura yang kebutuhannya sangat tinggi di pasaran. Namun saat ini produktivitas kentang masih kurang bagus dan masih dibutuhkan suatu tindakan, sehingga produktivitasnya tinggi. Rendahnya produktivitas di antaranya disebabkan pengelolaan budidaya yang belum optimal. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk organik cair dan teknik penanaman yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman kentang. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl., jenis tanah Andisol yang dilaksanakan dari Bulan Agustus sampai Nopember 2012. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Perlakuan terdiri atas dua faktor, faktor I ialah dosis pupuk organik cair (C0 = tanpa pupuk organik cair, C1 = pupuk organik cair 3 ml/l air, C2 = pupuk organik cair 6 ml/l air, dan C3 = pupuk organik cair 9 ml/l air) dan faktor 2 ialah teknik penanaman (T1 = tanpa mulsa, T2 = memakai mulsa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk organik cair dengan dosis 6 ml/l air dan teknik penanaman dengan mulsa dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman kentang sebesar 84,48 dan 98,68% pada umur 1bulan setelah tanam dan 2 bulan setelah tanam. Teknik penanaman kentang menggunakan mulsa dapat menekan serangan penyakit Phytophthora infestans sebesar 32,25% dibandingkan penanaman tanpa mulsa. Pemberian pupuk organik cair dengan dosis 6 ml/l air dan penanaman menggunakan mulsa dapat meningkatkan produksi per plot (95,27%) dan persentase kelas umbi besar (44,27 – 128,77%), serta mengurangi kelas umbi kecil (60,93 – 119,04%).
Distribusi dan Kelimpahan Populasi Orong - orong (Gryllotalpa hirsuta Burmeister.), Uret (Phyllophaga javana Brenske.), dan Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufnagel.) di Sentra Produksi Kentang di Jawa Barat dan Jawa Tengah Wiwin Setyawati; A. Hudayya; H. Jayanti
Jurnal Hortikultura Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014
Publisher : Indonesian Center for Horticulture Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jhort.v24n1.2014.p65-75

Abstract

Dalam usaha agribisnis tanaman kentang (Solanum tuberosum L.), para petani kentang di negara - negara berkembang sering dihadapkan pada berbagai masalah, salah satunya ialah serangan OPT kentang yang dapat mencapai 20 jenis. Di antara ke-20 jenis OPT tersebut, orong - orong, uret, dan ulat tanah merupakan OPT penting yang hidup di dalam tanah yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai dengan 50%. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis - jenis OPT yang terdapat dalam tanah, distribusi dan kelimpahannya di beberapa biotop yang berbeda serta faktor - faktor lingkungan yang memengaruhi keberadaannya. Penelitian dilakukan sejak Juni sampai dengan Agustus 2012 di dua provinsi sentra produksi kentang yaitu di Jawa Barat (Kabupaten Garut dan Bandung) dan Jawa Tengah (Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo). Metode penelitian yang digunakan ialah metode survai, penarikan contoh dilakukan dengan metode stratified multistage sampling. Stratum yang digunakan ialah luas areal kentang. Biotop yang diambil berupa lahan pertanaman kentang, lahan bekas kentang, dan lahan penyimpanan pupuk kandang. Pencuplikan dilakukan dengan metode kuadrat (1 m2, sedalam 20 cm) dengan pengambilan lima cuplikan per biotop per lokasi tinjau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OPT tanah yang ditemukan di lokasi tinjau ialah orong-orong (G. hirsuta), uret (P. javana), dan ulat tanah (A. ipsilon). Kepadatan populasi ketiga OPT tersebut berbeda tergantung pada jenis biotop dan lokasi tinjau. Untuk G. hirsuta kepadatan populasi berkisar antara 1,0 – 32,0 ekor/m2, P. javana 1,0–33,0 ekor/m2 dan A.ipsilon 1,0 – 6,0 ekor/m2. Biotop padang rumput (43,05%) ternyata paling disukai oleh OPT tanah untuk kelulushidupannya, diikuti berturut-turut oleh bekas kentang (21,83%), pupuk kandang (21,53%), dan biotop kentang  (13,59%). Persentase keberadaan OPT tanah tertinggi yaitu P. javana sebesar 70,23% diikuti G. hirsuta sebesar 26,26% dan A. ipsilon sebesar 3,51%. Faktor fisik tanah yang memengaruhi kelulushidupan OPT tanah ialah pH tanah dan kadar air tanah. Informasi mengenai distribusi dan kelimpahan OPT tanah dapat digunakan sebagai landasan untuk merakit dan mengembangkan teknologi PHT untuk OPT tanah yang lebih akurat terutama untuk mengatasi perubahan iklim.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol 32, No 1 (2022): Juni 2022 Vol 31, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 31, No 1 (2021): Juni 2021 Vol 30, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 30, No 1 (2020): Juni 2020 Vol 29, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue