cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 392 Documents
Daya Saing Ekspor Teh Indonesia di Pasar Teh Dunia Rohayati Suprihatini
Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v23n1.2005.1-29

Abstract

EnglishThe purposes of this study was to analyze competitive position of Indonesian tea in the world market using Constant Market Share (CMS) approach. The result show that export growth of Indonesian tea was lower than world tea export growth due to (1) product composition problem; (2) distribution aspect problem; and (3) low competitiveness of Indonesian tea. To increase the growth of Indonesian tea export, exporters should increase tea export in form of down-stream products as well as bulk green tea. Competitive position of Indonesian tea is lower than  that other  tea producing countries, except Bangladesh.       IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi daya saing teh Indonesia di pasar teh dunia dengan menggunakan pendekatan Constant Market Share (CMS).  Data statistik menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor teh Indonesia jauh di bawah pertumbuhan ekspor teh dunia. Masalah tersebut disebabkan karena (1) komposisi produk teh yang diekspor Indonesia kurang mengikuti kebutuhan pasar; (2) negara-negara tujuan ekspor teh Indonesia kurang ditujukan ke negara-negara pengimpor teh yang memiliki pertumbuhan impor teh tinggi; dan (3) daya saing teh Indonesia di pasar teh dunia yang masih lemah. Dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekspor teh Indonesia, diperlukan upaya untuk meningkatkan komposisi produk teh melalui peningkatan ekspor teh Indonesia dalam bentuk produk-produk hilir dan teh hijau curah.  Selain itu, diperlukan upaya untuk meningkatkan pengaruh distribusi pasar. Pada aspek daya saing, posisi daya saing teh Indonesia lebih lemah dibandingkan negara-negara produsen teh lainnya, kecuali Bangladesh.
Pengaruh Belanja Pemerintah Pusat Terhadap Peningkatan Produksi Padi di Provinsi Jawa Barat Atang Trisnanto; Arief Daryanto; Agung Hendriadi
Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v33n1.2015.1-15

Abstract

EnglishWell allocated government budget is a requirement for increasing rice production as well as avoiding underinvestment or disinvestment. This study aims to analyze impacts of government expenditures on rice production increase. Secondary data consisting of 7-year time series data (2007–2013) and 20 cross section data of West Java Province were used in this study. The results of GLS (generalized least square) with a dummy-variables estimation method showed that in the short run the government expenditures on fertilizer subsidy and improved seed assistance had significant impact on rice production in West Java Province at 5 percent level of significance with marginal elasticities each of 0.0056 and 0.038, while tertiary irrigation rehabilitation had significant impact at 15 percent level of significance with marginal elasticity of 0.0206. Fertilizers and seeds were direct inputs in rice farming that had significant impact on rice production. On the other hand, tertiary irrigation rehabilitation needed time lag in influencing rice production. In the short run, capital assistance and field school had no impact on rice production. IndonesianKetepatan dalam alokasi anggaran belanja pemerintah diperlukan untuk meningkatkan produksi padi dan menghindari adanya alokasi yang tidak memadai (underinvestment) atau alokasi yang tidak tepat (disinvestment). Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh belanja pemerintah terhadap peningkatan produksi padi. Penelitian ini menggunakan data sekunder dalam bentuk data panel dengan 7 tahun time series (2007–2013)  dan 20 data cross section di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Metode analisis menggunakan model estimasi data panel statis. Berdasarkan metode estimasi GLS (generalized least square) dengan variabel dummy tahun, dalam jangka pendek subsidi pupuk dan bantuan benih unggul memberikan pengaruh yang signifikan terhadap produksi padi di Provinsi Jawa Barat pada taraf nyata 5% dengan elastisitas marjinal sebesar 0,0056 dan 0,038, sedangkan rehabilitasi irigasi tersier berpengaruh nyata pada taraf 15% dengan  elastisitas marjinal 0,0206. Pupuk dan benih merupakan input langsung dalam budi daya usaha padi sehingga memberikan pengaruh yang signifikan terhadap produksi.  Di sisi lain, rehabilitasi irigasi tersier memerlukan waktu jeda dalam memengaruhi produksi padi. Dalam jangka pendek, bantuan permodalan dan sekolah lapang tidak berpengaruh nyata terhadap produksi padi.
Gejala Perubahan Penguasaan Kebun Plasma dan Berkembangnya Ketidakmerataan Pendapatan pada Komunitas Petani PIR-BUN Undang Fadjar; Bambang Dradjat; Melani A. Sunito
Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v20n2.2002.40-63

Abstract

EnglishOne of the programs for the village development that fulfill the goal for the growth and equality distribution of income is the partnership program for the Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-BUN). The objective of this program, beside to increase the productivity and the efficiency of public plantation effort is also to grant the opportunity for managing a business for the poverty stratum that do not possess plantation and fund but have the human resources capability. Then, all participants of the program are given a plasma plantation with the same width. Therefore, in support of the PIR-BUN program, the plasma plantation is the bridging for a farmer to attain the chance to increase their financial income. This research is done as a study case toward the four locations of PURBUN rubber plants that was chosen by purposive sampling. The four locations are consist of Rimbo Bujang (RB), Jambi, (Talang Jaya) Sumatera Selatan, Monterado-Kinande (MD) Kalimantan Barat, and Danau Salak (DS), Kalimantan Selatan. Data and the information was gathered and analyzed using quantitative analysis (t-test), Gini index, and descriptive statistic). The result of this research shows that in all locations there has been a change of authorized foundation of the plasma plantation, which causes not only the permanent ownership of the foundation but also the temporary ownership of the foundation. Beside that, the changes of the ownership, the width of the foundation, and the changes of the position of the ownership from being the "owner of the foundation" becoming the "owner of the non-foundation" has made a community of the PIR-BUN farmers posses the social layers more than one. Along with that, the result of t-test of the two average values of the income between the layers of the income of the PIR-BUN shows that the average of income between each layers of PIR-BUN farmers are different. The analysis of the "Gini Index" and the analysis of the "Society group income based on the World Bank concept" shows that on the PIR-BUN community in all research location there has been an inequality in the category of "medium" or low.IndonesianSalah satu program pembangunan pedesaan yang berupaya memenuhi tujuan pertumbuhan dan pemerataan diantaranya adalah program kemitraan Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-BUN). Sasaran program ini, selain untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha perkebunan rakyat juga untuk memberikan peluang usaha seluas-luasnya bagi lapisan masyarakat miskin yang tidak memiliki kebun dan modal tetapi memiliki sumberdaya tenaga kerja. Berkaitan dengan itu, penelitian ini dilakukan untuk menjawab apakah setelah 10 tahun lebih terjadi perubahan penguasaan kebun plasma serta ketidakmerataan pendapatan pada petani. Penelitian ini dilaksanakan pada empat lokasi PIR-BUN tanaman karet yang dipilih secara purposif, yaitu Rimbo Bujang (RB) Jambi, Talang Jaya (TJ) Sumatera Selatan, Monterado-Kinande (MD) Kalimantan Barat, dan Danau Salak (DS) Kalimantan Selatan. Analisis data dilakukan secara kuantitatif (uji beda nyata/uji-t, indeks gini, dan statistik deskriptif) dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di seluruh lokasi penelitian telah terjadi perubahan kelembagaan penguasaan kebun plasma, sehingga selain terdapat kelembagaan pemilikan tetap terdapat pula kelembagaan pemilikan sementara terutama melalui kelembagaan bagi hasil. Selain itu, perubahan-perubahan luas pemilikan, luas penggarapan, dan perubahan posisi pemilik tetap dari "pemilik penggarap" menjadi "pemilik bukan penggarap" telah membuat komunitas petani PIR-BUN memiliki lapisan sosial lebih dari satu. Bersamaan dengan itu, hasil uji beda dua nilai rataan pada taraf nyata 20 persen terhadap pendapatan komunitas petani PIR-BUN menunjukkan bahwa rata-rata pendapatan antar lapisan petani PIR-BUN berbeda. Demikian halnya, analisis "lndeks Gini" dan analisis "pendapatan kelompok masyarakat berdasarkan konsep Bank Dunia", bahwa pada komunitas petani PIR-BUN di semua lokasi penelitian telah terjadi ketidakmerataan dengan kategori "sedang" atau rendah.
Analisa Permintaan Waktu Luang Keluarga Petani PIR-Karet NES I Talang Jaya Sumatera Selatan Pantjar Simatupang; Mewa Ariani
Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v6n1-2.1987.83-93

Abstract

EnglishAccording to economic theory, the ultimate objective of consumers is to maximize their utility. The utility is obtained from consumption of goods and leisure. Labor supply then is merely a mean to get income which later will be used to buy goods. Hence, family labor supply should be analyzed with the utility maximizing framework. This study analyzes family labor supply of rubber nuclear estate participants using Stone-Geary utility function. The analysis is emphasized on the roles of the family characteristics. This study shows that labor supply is determined by family income, age of the head of the family, total number of family member, and number of family member under 5 years.IndonesianAnalisa curahan tenaga kerja dapat dilakukan dengan menganalisa permintaan waktu luang keluarga. Secara teoritis yang berguna langsung bagi seseorang adalah waktu luang dan barang yang dikonsumsi. Pencurahan tenaga kerja hanyalah untuk memperoleh pendapatan yang selanjutnya dipergunakan untuk membeli barang-barang konsumsi. Tujuan penelitian ini untuk melihat perilaku permintaan waktu luang keluarga petani PIR, yang analisisnya dititik-beratkan pada peranan karakteristik keluarga berdasarkan teori perilaku konsumen. Metode yang digunakan adalah fungsi kepuasan Stone-Geary. Hasil analisis menunjukkan bahwa seseorang yang berpendapatan tinggi, cenderung menggunakan waktu luang besar (curahan tenaga kerja rendah). Curahan tenaga kerja juga dipengaruhi oleh umur kepala keluarga, jumlah anggota keluarga dan jumlah anak berumur dibawah lima tahun. Salah satu usaha yang dapat ditempuh untuk merangsang petani muda lebih giat bekerja adalah dengan meningkatkan ketrampilan berusahatani melalui pendidikan umum dan penyuluhan usahatani.
Analisis Daya Saing Manggis Indonesia di Pasar Dunia (Studi Kasus di Sumatera Barat) Reni Kustiari; Helena J. Purba; nFN Hermanto
Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v30n1.2012.81-107

Abstract

EnglishThe study aims to analyze Indonesian mangosteen export performance and its competiveness. Primary data were collected from the mangosteen production center in Bukit Barisan District, Limapuluh Kota Regency, West Sumatera Barat Province, on July 2011. The respondents consisted of farmers, traders, exporters and stakeholders. Secondary data were gathered from CBS and UN. A Constant Market Shares (CMS) analysis of period 2000-2009 was utilized to identify Indonesian export performance, while competitiveness was measured using Policy Analysis Matrix (PAM). The results show that the competitiveness of Indonesian mangosteen in the world market tends to decline indicated by the decrease of market share in several export markets. The competitiveness analysis shows that mangosteen farms in West Sumatra have both comparative and competitive advantages. To increase mangostene export performance, Indonesia should find the market with the growth rate higher than that of world demand and improve on-farm technology to produce better quality of mangosteen.   IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja ekspor manggis Indonesia di tatanan pasar internasional dan daya saing komoditas manggis. Data primer untuk studi kasus dikumpulkan dari daerah sentra produksi manggis di Kecamatan Bukit Barisan, Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat, pada bulan Juli 2011. Responden penelitian terdiri dari petani, pedagang, eksportir, dan instansi terkait. Disamping itu, untuk analisis CMS digunakan data sekunder yang bersumber dari BPS dan UN. Untuk menganalisis kinerja manggis Indonesia di pasar dunia digunakan analisis Constant Market Share (CMS) untuk periode 2000-2009. Sementara untuk mengukur daya saing dilakukan dengan Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya saing manggis Indonesia di pasar internasional cenderung menurun. Hal ini diindikasikan oleh penurunan pangsa ekspor Indonesia di beberapa pasar tujuan ekspor. Hasil analisis PAM menunjukkan bahwa usahatani manggis di Sumatera Barat memiliki keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif. Untuk meningkatkan kinerja ekspor manggis Indonesia diperlukan upaya pencarian pasar dengan volume permintaan impor yang besar dengan laju pertumbuhan yang lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan permintaan dunia, serta memperbaiki pengelolaan usahatani manggis agar dapat dihasilkan buah manggis dengan kualitas yang lebih baik.
Efektivitas Penyaluran dan Pengembalian KUT Pola Khusus Sanim, Bunasor
Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v17n1.1998.51-65

Abstract

EnglishThe government of lndonesia has implemented a new credit scheme for farmers, KUT Special Scheme (KUT SS) in order to support food self-sufficiency program. The purpose of this study is to evaluate the effectiveness of KUT SS for farmers. This study employed before and after the KUT SS implemented to farmers. Primary data obtained by interviewing farmers, farmer groups, field extension agencies, cooperative village unit, technical administration staff, and banks involved in KUT SS. The data were analyzed by descriptive method and econometric statistics technique (simple multiple regression analysis). The study shows that farmers preferred to receive KUT SS in cash money, not in a physical form such as fertilizer, seeds, herbicides and pesticides. Farmers also preferred to retum back the KUT SS to their farmer group instead of the bank or cooperative village unit. The KUT SS has successfully increased farmers' production and income. The study find that factors affecting collectability of credit are level of farmer group class, farmer's experience on taking the credit before, savings in KUD or farmer group, participation in making RDKK, kind of credit, time of taking credit, frequency of meeting, commodity, acreage of farmer, and frequency of extension from PPL and KUD.IndonesianDalam rangka mendukung swasembada pangan, pemerintah telah mengeluarkan skim kredit baru yang disebut Kredit Usaha Tani Pola Khusus (KUT PK). Salah satu perbedaan paling menonjol antara KUT PK dengan KUT yang sudah dijalankan adalah dipersingkatnya prosedur peminjaman dari 12 tahap menjadi hanya tiga tahap. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian KUT PK terhadap petani. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengidentifikasi karakteristik petani penerima KUT PK; dan (2) Mengevaluasi efektivitas pemberian KUT PK terhadap peningkatan produksi dan pendapatan petani. Pengukuran penelitian dilakukan dengan metode sebelum dan setelah pemberian kredit. Data primer dikumpulkan dengan metode wawancara dari petani, kelompok tani, penyuluh pertanian lapangan (PPL), Koperasi Unit Desa (KUD), tenaga teknis administratif (TTA), dan bank pemberi KUT PK. Sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling yang didasarkan pada peranan (pangsa) pemberi KUT PK, jumlah bank pemberi KUT, serta cukup mewakili wilayah Indonesia. Khusus penarikan sampel petani penerima KUT PK dilakukan berdasarkan two stages stratified random sampling. Data dianalisis dengan menggunakan metode deskriptif tabulasi dengan metode statistik ekonometrik (regresi ganda sederhana). Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani lebih menyukai pemberian kredit dalam bentuk tunai dan mengembalikan kredit melalui kelompok tani daripada ke bank dan KUD. Selanjutnya KUT PK telah memberikan dampak positif bagi petani dalam peningkatan produksi dan pendapatan.
Integrasi Pasar Kakao Biji Perdesaan Sulawesi Tengah dengan Pasar Dunia Yantu, M. R.; Juanda, Bambang; Siregar, Hermanto; Gonarsyah, Isang; Hadi, Setia
Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v28n2.2010.201-225

Abstract

EnglishThis study aims (i) to estimate transmission elasticity of cocoa bean prices at the world market to the rural markets in Central Sulawesi Province; (ii) to analyze the integration of cocoa beans markets; and (iii) to analyze the degree integration. Data used were time-series data from 1985 to 2008, and primary data from the farmers and the traders. The results showed that the transmission of cocoa beans prices was unstable.  Integration of cocoa bean price at rural markets to those in regency level was very weak and segmented.  Conversely, integration degree of the market at regency level with that of export was highly significant, especially in the long run.IndonesianPenelitian ini ditujukan untuk (i) mengestimasi elastisitas transmisi harga kakao biji dari pasar internasional sampai ke tingkat petani di perdesaan Sulawesi Tengah, (ii) menganalisis integrasi pasar kakao biji, dan (iii) menganalisis derajat integrasi tersebut.  Estimasi parameter ditempuh dengan pendekatan ekonometrik. Data yang digunakan berupa data panel dengan deret waktu 1985 – 2008 dan data primer dari hasil survei sampel rumah tangga petani dan pedagang kakao. Hasil analisis menunjukkan bahwa  transmisi harga kakao biji berlangsung secara fluktuatif. Diperoleh pula temuan bahwa pasar kakao biji tingkat petani hingga ke kabupaten ternyata memiliki integrasi sangat lemah dan cenderung tersegmentasi. Di sisi lain, derajat integrasi pasar kakao biji tingkat kabupaten ke eksportir ternyata  cukup tinggi, terutama untuk integrasi pasar jangka panjang.
Analisa Pilihan Ekonomi dalam Multisolusi Optimum Model "Linear Programming" Yusdja, Yusmichad
Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v13n2.1994.1-20

Abstract

The first consideration of multisolution is laid on an idea that economics is a science subjected to a set of decision alternatives. Existing math models utilized, however, are generally static in nature reflected by only one solution as a result and there are no other alternatives provided. The unique solution gives no possibilities to develop economic decisions. Therefore, a multisolution calculation based on existing economic math models is required to be engineered. The main objective of this paper is to perform optimum multisolution of a Linear Programming Model. The conclusion of this paper show that the multisolution analysis on solution of LP's optimum condition finds several important issues. One of these conclusions shows that the LP's optimum solution is not always economically efficient. Besides the alternative owns similar objectives only different in how resource is allocated so that in the optimum alternatives there are possibility to insert the reality problem of resource into the decision making process.
Analisis Saling-Pengaruh Harga Kopi Indonesia dan Dunia Hutabarat, Budiman
Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v24n1.2006.21-40

Abstract

EnglishMarket destination of Indonesian coffee remains directed into external markets because domestic consumption per capita of coffee is still very low as well as its rate of growth,  while the rate of consumption growth in foreign markets were kept very high and persistently growing. The question is whether or not these coffee markets were integrated and whether or not the prices in the two production centers in Indonesia were also integrated. To formulate policies that could be used to empower coffee farmers and manage their production, information and data pertaining to integration and causal relationship among these markets are badly needed. This paper aims (a) to evaluate the growth and variation of prices in two production locations in Indonesia and a number of consumer markets abroad, namely Japan, the US, Germany, Italy and the Netherlands and estimate the percentage of price received by the coffee producers, and (b) to analyze orientation trend, integration and cointegration and their impacts on the long-term relationship among the prices in the various markets. The research was undertaken during March throughout December 2003, using time series data from 1983 through 2002. The research shows that retail prices in Japan were always higher than those of in US, Germany, Italy and the Netherlands with positive trends until 1995 and negative trend afterwards. Retail price movements in the US and the Netherlands tended to be similar, and retail prices in Germany had almost similar pattern with those of in the Netherlands, while producer prices in Indonesia were hardly fluctuate. Uncertainty, as reflected by coefficient of variations was more significant for prices received by coffee producers in Indonesia than those of prices paid by consumers in the developed countries. Aside from uncertainty factor, the percentage prices received by the coffee farmers in Indonesia (Lampung and Jawa Timur) are diminutive relative to retail prices in major importing countries. Coffee prices in Jawa Timur were only valued between 4.8 to 24.2 percent of retail prices in the importing countries and coffee prices in Lampung are much lower, only about 1.2 to 7.5 percent of retail prices in the importing countries. The coffee industry in Western Europe seemed to have strong relationship with the coffee industry in Lampung and be less strong with that of in Jawa Timur.  In contrary, coffee industry in the US had strong link with that of in Jawa Timur and less strong with that of in Lampung. Despite its large size of coffee import volume from Indonesia, the market relationship between Japan and Indonesia was not that strong as generally perceived. Indonesian government should prescribe export and import policies that are required to enhance agricultural sector and agribusiness development.IndonesianSasaran pasar komoditas kopi Indonesia sampai saat ini masih mengarah ke pasar ekspor yang tersebar di berbagai kota besar di negara maju, karena konsumsi per kapita di dalam negeri sendiri masih sangat rendah dan pertumbuhannya pun juga rendah, sementara di pusat-pusat konsumen di luar negeri pertumbuhan konsumsi tampaknya cukup mantap. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah dua simpul pasar kopi ini terintegrasi dan apakah harga di pusat produksi kopi di Indonesia juga terintegrasi? Untuk merancang langkah-langkah pemberdayaan dan pengelolaan produksi petani kopi, diperlukan informasi dan data hubungan saling pengaruh dan integrasi antara pasar produsen dan konsumen ini. Makalah ini ditujukan untuk mengevaluasi perkembangan dan keragaman harga di dua lokasi produsen di Indonesia dan beberapa lokasi konsumen di luar negeri, menganalisis perubahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS), serta kecenderungan orientasi dan dampaknya dalam menuju hubungan sesamanya dalam jangka panjang. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Desember 2003, menggunakan data sekunder deret waktu tahun 1983 sampai dengan 2002. Penelitian menunjukkan harga eceran di Jepang selalu lebih tinggi daripada harga-harga di negara konsumen seperti AS, Jerman, Italia dan Belanda dan tren perkembangan harga cenderung positif sampai dengan tahun 1995 dan negatif sesudahnya. Harga eceran di AS dan di Belanda cenderung mempunyai pola yang sama, sedangkan harga eceran di Jerman mempunyai pola yang hampir sama dengan di Belanda dan harga produsen di Indonesia terlihat bergerak mendatar. Ketidakpastian, seperti ditunjukkan oleh koefisien keragaman lebih nyata pada harga yang diterima produsen kopi di Indonesia dibanding para konsumen di negara-negara maju. Selain faktor ketidakpastian, harga kopi yang diterima petani kopi Indonesia (Lampung dan Jawa Timur) sangat kecil jika dibandingkan dengan harga eceran di negara-negara pengimpor utama. Harga kopi di Jawa Timur hanya bernilai sekitar 4,8-24,2 persen dari harga eceran di negara konsumen dan bagi petani produsen di Lampung persentase yang diterima jauh lebih rendah, yakni hanya bernilai sekitar 1,2-7,5 persen. Industri kopi di Eropa Barat berhubungan erat dengan industri kopi di Lampung dan kurang erat dengan industri kopi di Jawa Timur. Sebaliknya, industri kopi di Amerika Serikat berhubungan erat dengan industri kopi di Jawa Timur dan kurang dengan industri kopi di  Lampung. Perubahan nilai tukar dolar AS dalam jangka pendek memberikan perubahan pada harga-harga kopi di Jawa Timur lebih rendah daripada harga kopi di Lampung. Meskipun Jepang mengimpor kopi dalam jumlah besar dari Indonesia, hubungan kedua pasar kopi ini tidaklah terlalu kuat seperti diprakirakan. Seperti halnya di negara-negara lain, pemerintah seyogianya mempunyai kebijakan ekspor dan impor yang mendukung pengembangan sektor pertanian dan agribisnis yang tidak merugikan negara.
Demand for Inputs and Supply of Rice Under Risk and Selectivity Bias: A Study of Indonesian Farmers Hermanto, nFN
Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v9n2.1990.1-29

Abstract

IndonesianPengambilan keputusan dalam proses produksi pertanian pada umumnya dilakukan secara beruntut mengingat akan adanya senjang waktu antara saat input dialokasikan dengan saat realisasi produksi. Studi tentang bagaimana prilaku petani dalam membuat keputusan dalam memilih jenis varitas dan jumlah input yang digunakan dalam proses produksi yang penuh dengan resiko, dapat memberikan pengertian yang lebih baik tentang bagaimana petani bereaksi terhadap kebijakan pertanian yang berkaitan dengan harga dan investasi di Indonesia. Dari hasil analisis fungsi logit, dapat diidentifikasikan bahwa peluang petani untuk mendapatkan hasil panen padi yang tidak baik sangat ditentukan oleh besarnya frekuensi kekeringan dan serangan hama disuatu lokasi. Penelitian ini selanjutnya menggunakan peubah frekuensi serangan hama dan kekeringan sebagai peubah yang menggambarkan besarnya resiko berproduksi tanaman padi. Dari hasil analisis fungsi probit dapat ditunjukkan bahwa petani cenderung menjadi enggan resiko ketika mereka memilih varitas padi. Kenyataan ini dapat dipahami mengingat bahwa untuk menanam padi, khususnya dengan varitas unggul, petani harus mengeluarkan biaya yang lebih banyak untuk tenaga kerja dan pembelian pupuk jika dibanding dengan biaya yang harus dikeluarkan jika ia menanam varitas padi lokal. Analisis permintaan "ex-ante menunjukkan bahwa tenaga kerja dapat dipandang sebagai input yang cenderung memperkecil resiko berproduksi padi varitas unggul. Hasil analisa juga menunjukkan bahwa pupuk adalah input yang cenderung meningkatkan resiko berproduksi baik untuk padi unggul maupun padi lokal. Sehubungan dengan analisis fungsi permintaan yang telah memperhitungkan efek bias dalam pemilihan varitas padi dapat ditunjukkan bahwa terjadi korelasi positif antara besarnya jumlah pupuk yang diminta dengan variabel yang menunjukkan efek bias dalam pemilihan varitas (VRSBT) tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa dengan mengabaikan pengaruh efek bias pemilihan varitas dapat mempengaruhi keabsahan dalam pendugaan parameter fungsi permintaan pupuk.

Page 3 of 40 | Total Record : 392


Filter by Year

1981 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 39, No 2 (2021): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 39, No 1 (2021): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 2 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi: IN PRESS Vol 38, No 1 (2020): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 2 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 37, No 1 (2019): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue