cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007" : 18 Documents clear
KAJIAN TEKNOLOGI USAHATANI PADI DI LAHAN KERING KALIMANTAN TENGAH Krismawati, Amik
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Central Kalimantan is an Indonesian province that very potential to create paddy production due to its huge area (it has 14.63 million ha up land). BPTP Central Kalimantan has conducted a technological study based on paddy farming during rainy season. The study was conducted on a dry land at Rodok Village, Dusun Tengah District, Barito Timur Residency from September 2003 until January 2004. The purpose of this study was: 1). to find out the information on characteristic location, 2). to identify the right paddy variety which has a high yield and adaptive on dry land, 3). to find out the technological component of paddy system in dry land. The model used on this study is an `on farm research activity. The preliminary activity was to identify the characteristics of the specific location by using Participatory Rural Appraisal (PRA). The assessment was set in Randomized Block Design with twelve treatments and four replications. The treatments were: adaptive technology test of paddy VI = Towuti, V2 = Situbagendit, V3 = Situpatenggang. The dosages of fertilizing patterns were P1 = 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCI + 2.000 kg compost, P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP- 36 + 50 kg KC1 + 1.000 compost, P3 = 250 kg Urea + 150 kg SP-36 + 100 kg KCI. The results showed that the best paddy variety and adaptive one was Situpatenggang and the best fertilizer pattern was P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP 36 + 50 kg KCI + 1.000 kg compost. The data were analyzed using ANOVA and BNJ 5%. The results showed that those combination mentioned above, produced paddy seed yields as many as 4.65 ton/ha with R/C 2.12, providing a net income of Rp.3.180.000,-. Key words: variety, fertilizer, paddy, dry land farming, Central Kalimantan   Kalimantan Tengah merupakan salah satu provinsi yang berpotensi cukup besar dalam upaya peningkatan produksi padi nasional, karena memiliki lahan kering seluas 14,63 juta hektar. Salah satu upaya yang ditempuh oleh BPTP Kalimantan Tengah dalam peningkatan produksi padi adalah melaksanakan Pengkajian Sistem Usahatani Padi di Lahan Kering. Pengkajian dilaksanakan pada musim hujan dengan luas hamparan 5,3 hektar yang melibatkan 12 petani kooperator. Tujuan kegiatan adalah (1) mendapatkan informasi karakteristik lokasi pengkajian, (2) mengetahui varietas padi yang unggul dan adaptif untuk lahan kering dan (3) mendapatkan komponen teknologi usahatani padi di lahan kering. Kegiatan dilakukan secara on farm research dan diawali dengan karakterisasi lokasi pengkajian dengan metode Participatory Rural Appraisal (PRA). Pengkajian dilaksanakan di Desa Rodok, Kecamatan Dusun Tengah, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah. Pengkajian berlangsung mulai bulan September 2003 sampai dengan Januari 2004. Pengkajian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan dua betas perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan berupa varietas unggul padi yaitu VI = Towuti, V2 = Situbagendit, dan V3 = Situpatenggang. Perlakuan pemupukan terdiri dari PI = 100 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KC1 + 2.000 kg kompos, P2 = 200 kg Urea + 50 kg SP-36 + 50 kg KCI + 1.000 kg kompos, P3 = 250 kg Urea + 150 kg SP-36 + 100 kg KCI. Data dianalisis dengan menggunakan ANOVA dilanjutkan uji BNJ 5 %. Hasil pengkajian menunjukkan varietas padi yang adaptif adalah Situpatenggang dengan dosis P2 = 200 kg urea + 50 kg SP 36 + 50 kg KCI + 1.000 kg kompos. Kombinasi perlakuan tersebut memberikan hasil 4,65 ton/ha gabah kering dengan R/C 2,12 dengan keuntungan sebesar Rp.3.180.000,-. Kata kunci: varietas, pupuk, padi, usahatani lahan kering„ Kalimantan Tengah
ANALISIS KUALITAS RELATIF PROTEIN JAGUNG SECARA IN VIVO DENGAN METODE PDCAAS Wylis Arief, Ratna
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The protein content in each maize varies depends on its quantity and quality. The quality of protein in food materials is determined by its protein rate and amino acid pattern, because every type of Cereal has different composition and amino acid pattern. The protein is needed to grow and produce and to keep a normal health, so that the ideal protein must have amino acid formation that matches with the requirement of human and animal. PDCAAS represents a way of newly introduced by FAO to compare the quality of all kinds of protein pursuant to requirement of amino acid at human being. The research was executed by using in vivo method on white mice (Sparague Dawley) as an attempted animal, and applies 4 maize varieties as main feed to know the quality of protein. The four maize varieties used are QPM Srikandi Kuning (A); QPM Srikandi Putih (B); Bisi 2 (C); Lamuru (D), and group of metabolite (E) which only perceived its protein rate of digestion. The parameters observed are amino acid score, protein consumed, protein in fesses, digestion power, real digestion power and PDCAAS. The results showed that Lamuru variety has the best quality of protein with PDCAAS value is 46.02 and statistically not different with Srikandi Kuning variety that has PDCAAS value is 42.92. To conclude, the varieties are acceptable as a primary food for developed countries such as Indonesia, because they contain good protein quality. Key words: maize, quality, protein, PDCAAS   Protein yang terdapat di dalam setiap varietas jagung sangat bervariasi baik jumlah maupun kualitasnya. Kualitas protein bahan pangan ditentukan oleh kadar protein dan pola asam amino penyusunnya dan setiap jenis serealia mempunyai komposisi dan pola asam amino yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas protein beberapa varietas jagung dengan menggunakan metode PDCAAS dan dilakukan secara in vivo. Sasaran dari penelitian ini adalah sebagai bahan pangan bagi manusia, karena itu digunakan tikus putih jenis Sparague Dawley sebagai hewan percobaan karena sistim pencernaan pada tikus putih mirip dengan sistim pencernaan pada manusia dan 4 varietas jagung yang akan diketahui kualitas proteinnya, masing-masing adalah: QPM Srikandi kuning (A); QPM Srikandi putih (B); Bisi 2 (C); Lamuru (D), dan kelompok metabolit (E) yang hanya diamati kadar protein fesesnya untuk penghitungan daya cerna sejati. Perlakuan disusun dalam RAK, dengan 8 ulangan. Parameter pengamatan meliputi skor asam amino, jumlah protein yang dikonsumsi, jumlah protein dalam feses, daya cerna, daya cerna sejati, dan PDCAAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan penentuan nilai PDCAAS, jagung varietas Lamuru mempunyai kualitas protein yang terbaik dengan nilai PDCAAS sebesar 46,02 dan secara statistik tidak berbeda nyata dengan jagung QPM Srikandi Kuning dengan nilai PDCAAS sebesar 42,92, sehingga dapat menjadi salah satu makanan pokok dengan kualitas protein yang baik, terutama untuk negara berkembang seperti Indonesia. Kata kunci:jagung, kualitas, protein, PDCAAS
KERAGAAN DAN ANALISIS FINANSIAL USAHATANI PADI (Kasus Desa Primatani, Kabupaten Karawang, Jawa Barat) , Andriati; Sudana, Wayan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Indonesian average growth rate of low land rice harvested area during 2000-2005 was only 0.20% with the production rate about 0.83% per year. This condition was estimated has a correlation to the low growth rate of productivity and quality of innovation technology on rice farming system. Based on the issue, field assessment of low land rice farming system was conducted to analyze the labor and productivity performance and its financial analysis at Parakan and Karangjaya Villages, Tirtamulya Sub District, Karawang District, West Java Province. The assessment was done in two seasons, in wet season of 2004/2005 and in dry season of 2005 by interviewing some 60 randomized selected farmers, using structured questionnaires. The results of the assessment showed that men both for family labor and hired labors dominated the labor allocation on low land rice farming system. On wet season, the contribution of men to a family labor was 57 - 66% and hired labor was 58 - 72%, while on dry season the contribution were 60 - 75% and 58 - 73%. Type of fertilizer as an important variable in determining the ,low land rice productivity both on wet season (R2 = 0.9581) and dry season (R2 = 0.9542). On wet season, the farming system productivity used lfertilizer type yielded 3.5 ton harvesting dry grain/ha with an income about Rp.1.796.270,- (R/C = 1.54) and 4 fertilizers type produced 5.8 ton harvesting dry grain/ha with an income about Rp.3.485.530,- (R/C = 1.70). On dry season, productivity of each fertilizer applied were 3.2 ton harvesting dry grain/ha. with an income about Rp.1.287.177 (R/C = 1.41) and 5.4 dry grain/ha with an income around Rp.2.729.277,- (R/C = 1.58) respectively. Key words: rice farming system, productivity, income Laju perkembangan luas panen padi sawah kurun waktu 2000-2005 di Indonesia rata-rata per tahunnya hanya 0,20% dengan pertumbuhan produksi 0,83%. Melambatnya laju produksi padi ini diduga berkaitan dengan lambatnya laju pertumbuhan produktivitas per satuan luas lahan dan laju peningkatan mutu inovasi teknologi usahatani padi. Berdasarkan hal tersebut, telah dilakukan kajian yang bertujuan untuk menganalisis keragaan tingkat produktivitas dan tenaga kerja serta analisis finansial usahatani padi sawah di Desa Parakan dan Karangjaya, Kecamatan Tirtamulya, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat. Pengkajian dilakukan dengan melakukan wawancara terhadap 60 petani yang dipilih secara acak dengan kuesioner terstruktur pada musim hujan 2004/2005 dan musim kemarau 2005. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa alokasi tenaga kerja pada usahatani padi sawah didominasi laki-laki, baik tenaga kerja dalam keluarga maupun upahan. Pada musim hujan, kontribusi tenaga kerja laki-laki dalam keluarga antara 57 - 66% dan upahan 58 - 72% sedangkan pada musim kemarau antara 60 - 75% dan 58 - 73%. Jenis pupuk merupakan variabel yang sangat menentukan produktivitas padi sawah balk pada musim hujan (R2 = 0,9581) maupun musim kemarau (R2 = 0,9542). Pada musim hujan, produktivitas usahatani padi dengan menggunakan 1 jenis pupuk sebesar 3,5 ton gabah kering panen/ha dengan pendapatan Rp.1.796.270 (R/C = 1,54) dan yang menggunakan 4 jenis pupuk sebesar 5,8 ton gabah kering panen/ha dengan pendapatan Rp.3.485.530 (R/C = 1,70). Pada musim kemarau, produktivitas usahatani padi dengan menggunakan 1 jenis pupuk sebesar 3,2 ton gabah kering panen/ha dengan pendapatan Rp.1.287.177 (R/C=1,41) dan yang menggunakan 4 jenis pupuk sebesar 5,4 ton gabah kering panen/ha dengan pendapatan Rp.2.729.277 (R/C=1,583). Kata kunci: usahatani padi, produktivitas, pendapatan
ANALISIS TITIK IMPAS DAN SENSITIVITAS TERHADAP KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI PADI SAWAH Sahara, Dewi; Alam, Nur; , Idris
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research had been conducted in Langgomea Village, Konawe District, from June to December 2005. This research used a survey method and aimed to know the technology performance, expense structures and farming system income of upland rice farming system. The data, technology application, productivity, and farming system income were collected from filled questionnaires from 35 respondents. The results showed that the variety of technology application had been close to recommended technology as shown by a production of 4.68 ton/ha. On the basis of yield price Rp.1.350,-/kg, the farmers income can reached Rp.3.519.000,- with RCR 2.28 which means that the farming system was financially feasible. However, rice farming system is not sensitive to the change of production input price and decreasing price of paddy up to 15% though the farmers profitability obtained by farmers declines. Key words: upland rice, break event point, sensitivity, irrigation land   Penelitian bertujuan untuk melihat keragaan teknologi, struktur biaya dan penerimaan usahatani padi sawah di lahan irigasi telah dilakukan di Desa Langgomea, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe, dari bulan Juni sampai Desember 2005 dengan menggunakan metode survei. Pengumpulan data dilakukan dengan panduan kuisioner terhadap 35 responden yang meliputi penerapan teknologi, produktivitas dan pendapatan usahatani. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaan penerapan teknologi di tingkat petani sudah mendekati teknologi yang dianjurkan sehingga produksi diperoleh sebanyak 4,68 ton/ha. Proporsi biaya tertinggi pada tenaga kerja luar keluarga yang mencapai 54,10% dari total biaya. Dengan harga gabah kering panen (GKP) sebesar Rp.1.350/kg maka pendapatan yang diterima petani sebesar Rp.3.519.000 dengan RCR 2,28 sehingga usahatani layak secara finansial. Usahatani padi sawah tidak peka terhadap perubahan kenaikan harga sarana produksi dan penurunan harga gabah hingga 15%, namun tingkat keuntungan yang diperoleh semakin menurun.Kata kunci: padi sawah, titik impas, sensitivitas, lahan irigasi
PENGARUH SL-PHT TERHADAP KINERJA USAHATANI KOPI RAKYAT (Study Kasus di Kabupaten Malang dan Jombang, Jawa Timur) Supriatna, Ade
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In facing the globalization era, Indonesia as a coffee producer country took effort to increase the performance of coffee farm through the program of Integrated Pest Management-Farmer Field School (IPM-FFS). This study was conducted for five months from July throughout November 2004 in Tirtoyudo, Malang District and Wonosalam, Jombang District, East Java. The objectives of research were to evaluate the impact of IPM-Farmer Field School for coffee farms performance in aspects: of (a) the adoption of 1PM technology by farmers, (b) the farms economic visibility and (c) the farms technical efficiency. This research used the survey method and the data were analyzed by using before and after project. Primary data where collected from 80 farmers consisting of 40 IPM-Farmer Field School (alumni) and 40 non-alumni while secondary data were collected from the Office of Estate Crops, the Office of IPM Project, the Central Agency of Statistics and the Research Institutions. The results showed that after IPM-FFS, the percentage of farmers adopting IPM technology has increased as shown by the alumni (78%) and non-alumni (23%). Regular practiced field observations were able to distinguish the predators and did those who did not harm them. Most farmers applied a preventive method in controlling pest while the an-organic pesticide applied when the pests attack reached the economic threshold. The productivity of alumni increased by 46% (1.128 to 1.641) kg/ha/year compared to that of non-alumni increased by 25% (872 to 1.087) kg/ha/year. The net income of alumni increased by 41% i.e. Rp.3.700.000,- to Rp5.200.000,- /hectare/year. Through the application of IPM technology, the farms technical efficiencies of alumni increased by 29% (0.63 to 0.81) and that of non-alumni increased by 5% (0.63 to 0.66). The program of IPM-FFS increased the performance of coffee farm, both in adoption of IPM technology, economical visibility and technical efficiency. The success of IPM-FFS program should be disseminated to other locations with some adjustments according to condition of new area. Key words: IPM-FFS, farmer, performance, coffee. Dalam menyongsong pasar bebas, Indonesia sebagai negara produsen kopi berusaha meningkatkan kinerja usahatani kopi agar mampu bersaing dengan kopi negara lain, yaitu melalui program sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SL-PHT). Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan mulai bulan Juli sampai dengan Nopember 2004 di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang dan Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi pengaruh program SL-PHT terhadap kinerja usahatani kopi dalam aspek: (a) penerapan teknologi PHT oleh petani, (b) kelayakan ekonomi usahatani dan (c) efisiensi teknis usahatani Penelitian menggunakan metoda survei, data dianalisis secara deskriptif (sebelum dan sesudah projek). Data primer dikumpulkan dari 80 petani terdiri atas 40 petani alumni SL-PHT dan 40 petani non-alumni, sedangkan data sekunder diperoleh dari Dinas Perkebunan, Kantor Projek PHT, Badan Pusat Statistik, dan Lembaga Penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa setelah SL-PHT, persentase petani yang mengadopsi teknologi PHT meningkat, petani alumni (78%) dan non-alumni (23%) sudah menerapkan pengamatan agro-ekosistem kebun secara berkala, memahami keberadaan musuh alami dan melestarikannya. Dalam mengendalikan hama, sebagian besar petani menerapkan cara pencegahan (preventive controls), Pestisida an-organik akan diaplikasikan apabila gangguan hama sudah mencapai tingkat ambang ekonomi. Produktivitas kopi petani alumni meningkat 46% (1.128 menjadi 1.641) dan non-alumni meningkat 25% (872 menjadi 1.087) kg/ha/tahun. Pendapatan bersih petani alumni meningkat 41% (Rp.3,7 menjadi Rp.5,2) juta/ha/tahun. Efisiensi teknis usahatani petani alumni meningkat 29% (0,63 menjadi 0,81) dan non-alumni meningkat 5% (0,63 menjadi 0,66). Program SL-PHT dapat meningkatkan kinerja usahatani kopi, baik aspek penerapan teknologi PHT, kelayakan usahatani maupun efisiensi teknis. Keberhasilan program SL-PHT dapat didesiminasikan ke lokasi-lokasi lain dengan penyesuaian berdasarkan kondisi lokasi baru.Kata kunci: SL-PHT, petani, kinerja, kopi.
KAJIAN STRUKTUR BIAYA DAN ALOKASI CURAHAN TENAGA KERJA PADA SISTEM USAHATANI PADI SAWAH (Studi Kasus di Kabupaten Konawe) Sahara, Dewi; , Idris
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research was to know the cost structure and labor distribution on rice farming system between farmers technology and repaired technology, and was carried out in Langgomea Village, Uepai Sub District, Konawe District, South east Sulawesi from January to July 2006. The repaired technology included the use of fertilizers, qualified seed, and planting time at once. The results showed that farmers technology produced 4.650 kg/ha yield which equivalent to an income of Rp.3.684.500,- while the repaired technology produced 5.500 kg/ha yield with an income of Rp.4.479.300.- The extra cost needed on repaired technology was Rp.395.200,- which in turn gives the farmer an extra income of Rp.794.800 with MBCR 2.01. The result regression analysis of labor distribution on both technologies was significant on 99%. Labor distribution on repaired technology was greater 15.51 manpower than farmers technology. The farmer will of course need extra labors if they widen the area use more seeds fertilizers and pesticides. Key words: rice farming system, cost structure, labor distribution   Pengkajian struktur biaya dan alokasi curahan tenaga kerja pada sistem usahatani padi sawah dilakukan dengan memperbaiki teknologi petani yang mencakup teknologi pemupukan dan penggunaan benih bermutu telah dilaksanakan di lahan petani di Desa Langgomea, Kecamatan Uepai, Kabupaten Konawe dari bulan Januari — Juli 2006 (MH 2006). Pengkajian bertujuan untuk mengetahui struktur pembiayaan dan alokasi curahan tenaga kerja pada usahatani padi sawah antara pola teknologi petani dengan pola perbaikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa teknologi pola petani memberikan produksi gabah kering panen (GKP) sebanyak 4.650 kg/ha dengan pendapatan Rp.3.684.500 dan produksi pada pola perbaikan sebanyak 5.500 kg/ha dengan pendapatan Rp.4.479.300. Perubahan teknologi dari teknologi petani ke teknologi perbaikan memerlukan tambahan biaya sebesar Rp.395.200, namun dengan tambahan biaya tersebut petani memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp.794.800 sehingga nilai MBCR yang diperoleh 2,01 artinya setiap penambahan biaya sebesar Rp.1.000 petani akan memperoleh tambahan pendapatan sebesar Rp.2.010. Hasil analisis regresi curahan tenaga pada kedua teknologi berbeda sangat nyata pada tingkat kepercayaan 99% dimana alokasi curahan tenaga kerja pola perbaikan lebih banyak 15,51 HKP daripada teknologi petani. Petani akan memerlukan tambahan tenaga kerja apabila memperluas lahan garapan, meningkatkan jumlah benih, pupuk dan pestisida. Kata kunci: usahatani padi sawah, struktur biaya, curahan tenaga kerja
PENGARUH POLA KREDIT PENGADAAN BIBIT TERHADAP KINERJA PENGEMBANGAN SAPI POTONG PADA PETERNAK KECIL DI PROVINSI JAMBI Jamul, Husni
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A research aiming at determining the influence of credit scheme for breeding stock on the performance of beef cattle development for smallholder farmers was conducted in the middle of 2006. The research was held through a survey on 183 respondents divided into two groups of credit recipients, who received credit with Full Inkind and Cash Credit schemes. The location of the survey was three development areas of beef cattle in Jambi Province: Singkut, Regency of Sarolangun; Pamenang, Regency of Merangin; and Kuamang Kuning, Regency of Bungo. The aspects of cattle development observed were performance of breeding activities, feed supply, and cattle management. The results of the research showed that there were more heifers obtained from Cash Credit scheme (50%) to become acceptors of Artificial Insemination program than heifers were obtained from Full Inkind scheme (7%). Birth Rate of the heifers from Full Inkind scheme (0.51 + 0.02 heads/year) was significantly lower than it was from Cash Credit scheme (0.84+0.08 heads/year). Mortality Rate of calves from Cash Credit scheme (1.7%) was lower than it was from Full Inkind scheme (6.5%). There number of respondents from Cash Credit scheme who planted grasses (71%) and gave concentrate to their animals (46%) was higher than they were from Full Inkind, respectively 28% and 16%. Respondents received Cash Credit Scheme had more positive attitude toward Beef Cattle Development than those who received Full Inkind scheme. The conclusion was that Cash Credit scheme in providing breeding stocks for smallholder farmers in Jambi Province had a better influence on the performance of beef cattle development than Full Inkind scheme did. Therefore, the researcher recommended to the government to reevaluate the existence of Full Inkind scheme. Key words: credit scheme, beef cattle development Suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola kredit pengadaan bibit terhadap kinerja pengembangan ternak sapi potong pada peternak kecil telah dilaksanakan pada pertengahan tahun 2006. Penelitian ini dilaksanakan melalui suatu survey terhadap 183 responden, yang dibagi dalam dua kelompok yaitu peternak yang menerima kredit dengan pola Gaduhan Murni dan Kredit Tunai. Survey dilakukan di tiga kawasan pengembangan ternak sapi potong di Provinsi Jambi yaitu: Kawasan Singkut, Kabupaten Sarolangun; Kawasan Pamenang, Kabupaten Merangin; dan Kawasan Kuamang Kuning, Kabupaten Bungo. Aspek yang diamati meliputi kinerja pengembangan bibit ternak, penyediaan pakan dan manajemen pengelolaan ternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk yang diperoleh dari pola Kredit Tunai lebih banyak (50%) yang menjadi akseptor program Inseminasi Buatan dibandingkan dengan penerima kredit pola Gaduhan Murni (7%). Angka kelahiran induk yang diperoleh dari kredit pola Gaduhan Murni (0,51+0,02 ekor/ tahun) sangat nyata lebih rendah dibandingkan dengan induk yang diperoleh dari kredit pola Kredit Tunai (0,84 + 0,08 ekor/ tahun). Angka kematian anak pada penerima Kredit Tunai (1,7%) lebih rendah daripada kematian anak pada penerima Gaduhan Murni (6,5%). Jumlah peternak yang menerima Kredit Tunai yang menanam rumput unggul (71%) dan memberikan konsentrat kepada ternaknya (46%) lebih banyak dibandingkan pada peternak yang menerima Gaduhan Murni yaitu masing-masing 28% dan 16%. Peternak penerima Kredit Tunai memiliki Sikap terhadap Pengembangan Sapi Potong yang lebih baik daripada penerima Gaduhan Murni. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pola Kredit Tunai untuk pengadaan bibit ternak pada peternak kecil di Provins Jambi mempunyai pengaruh yang lebih baik terhadap kinerja pengembangan sapi potong dibandingkan dengan poly Gaduhan Murni. Oleh karena itu direkomendasikan kepada pemerintah untuk meninjau kembali penerapan kredi pengadaan ternak dengan pola Gaduhan Murni.Kata kunci: pola kredit, pengembangan sapi potong
PENGARUH PENYULUHAN DAN DUKUNGAN SARANA PRASARANA TERHADAP KINERJA AGRIBISNIS PADI DI JAWA BARAT Subarna, Trisna
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The effect of service extension and supporting facilities on the performance of rice agribusiness in West Java Province. The service extension and farming support facilities in agricultural farming play an important role in agribusiness activities. This activity aimed to increase the productivity of integrated rice farming in West Java, reported by these two variables mentioned above have given good contribution to the performance of farmers group in increasing their productivities. However, both variables have not yet performed optimally in terms of the agribusiness performance. To develop agribusiness in West Java there are three approaches to be chosen includes increasing extension activity, improving supported facilities or both. The aim of this assessment is to investigate the effect of extension service on facilities an infrastructure supported for agricultural farming to the performance of farmers group in conducting their agribusiness. The assessment was conducted using a survey method in districts of Kuningan, Subang, and Karawang West Java Province from August — October 2006. The parameters that being watched are the performance of agribusiness, extension service activity and facilities support performance, the data were analyzed by path analysis. The results of this study showed:. (1) the activity of farmers guiding through extension service and providing production facilities could improve farmers productivity, farming efficiency, and their income. (2) the extension service and facilities supports have positive effect on the agribusiness performance. (3) the extension service gave a higher contribution compared to facilities support, this means that farmers guiding plays a better role than the provision of facilities. Key words: agribusiness, exstention service, facilities Penyuluhan dan sarana prasarana usahatani memegang peranan penting dalam pelaksanaan agribisnis padi di Jawa Barat. Pada kegiatan Proyek Peningkatan Produktuvitas Padi Terpadu (P3T) di Jawa Barat dilaporkan kegiatan kedua aspek tersebut dapat meningkatkan produktivitas padi, tetapi belum meningkatkan kinerja kelompok tani dalam agribisnis padi. Untuk pelaksanaan agribisnis di Jawa Barat terdapat tiga pilihan yang perlu ditingkatkan apakah pembinaan petani melalui penyuluhan atau dukungan sarana prasarana kepada petani atau keduanya. Pengkajian ditujukan untuk mengetahui pengaruh penyuluhan dan dukungan sarana dalam pelaksanaan agribisnis. Pengkajian dilaksanakan di kabupaten Kuningan, Subang dan Karawang, pada bulan Agustus sampai Oktober 2006 dengan menggunakan metoda survey. Parameter yang diuji adalah kinerja kelompok tani dalam pelaksanaan agribisnis, aktivitas penyuluhan dan kesesuaian sarana dan prasarana yang diberikan pemerintah bagi petani, analisis data dilakukan dengan analisis jalur (Path Analysis). Hasil pengkajian menunjukkan; (1) Kegiatan penyuluhan dan dukungan sarana prasarana telah meningkatkan produktivitas padi. (2) Penyuluhan dan dukungan sarana prasarana secara bersama-sama berpenganth terhadap kinerja agribisnis. (3) Pengaruh penyuluhan memberikan kontribusi yang lebih besar dibanding dengan dukungan sarana prasarana. Keadaan ini menunjukkan bahwa pembinaan kepada petani lebih berperan dibanding dengan dukungan pemerintah berupa sarana produksi. Kata kunci: agribisnis, penyuluhan, sarana
KAJIAN KELAYAKAN USAHATANI DAN MARJIN TATANIAGA MANGGA (Mangifera indica) (Studi kasus di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat) Supriatna, Ade
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study was conducted in 2005 and took place in Majalengka District, West Java. The objectives of study were (a) to identify the characteristics of farmers and mango cultivation, (b) to analyze the economical visibility of mango farm, (c) to describe the marketing channels and marketing margin. The study used a survey method. Primary data were collected from 25 mango farmers selected by random sampling and some traders selected by snowball method with the farmers as the entry point, consist of 6 collecting traders, 3 whole trader (agents), 2 central markets, 2 supplier and 4 retail traders spread in traditional markets, fruits shops and super markets. Secondary data were collected from the Agriculture Office, the Central Agency of Statistics and the Research Institutions. The results showed that mango farm was economically suitable with benefit of Rp.23.641.230,-/ha/year and R/C of 4.64. In marketing, mango fruits were classified into two groups, namely grade A/B as main grade that was marketed in four marketing channels and grade C (non grade) that was marketed in one marketing channel to local traditional market. In the marketing grade AB, the third channel gave a highest value of marketing margin because some marketing actors implemented post-harvest handling to increase the quality of mango according to supermarkets class. The agents reached a highest margin (Rp.2.500,-/kg) because they spent a highest cost of marketing and took a highest risk caused by price fluctuation. For developing mango production, a pattern of cooperative with agribusiness actors, especially exporter is needed. The farmers are helped in capital formation and guided in good farming practices while the exporter should get a mango fruits with higher quality, looking for a new marketing channel and building the unit of mango processing industry to bridge the problem in case the mango is in peak season. Keywords: mango, farms, marketing Penelitian ini dilaksanakan tahun 2005 di Kabupaten Majalengka, Propinsi Jawa Barat dengan tujuan; (a) mengidentifikasi karakteristik petani dan budidaya mangga, (b) menganalisis kelayakan usahatani, dan (c) mempelajari saluran pemasaran serta marjin pemasaran. Penelitian menggunakan metoda survey. Data primer dikumpulkan dari 25 petani yang diambil secara acak (random sampling) dan beberaa pedagang yang diambil dengan metode snowball, yaitu mengikuti aliran penjualan mangga dengan petani sebagai titik awal, terdiri atas 6 pedagang pengumpul, 3 pedagang pengepul (agen), 2 pedagang pasar induk, 2 suplayer dan 4 pedagang pengecer di pasar tradisional, toko/kios buah dan super market. Data sekunder dikumpulkan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Badan Pusat Statistik (BPS) dan Lembaga Penelitian. Hasil penelitian menunjukan bahwa usahatani mangga termasuk layak secara ekonomi dengan nilai pendapatan bersih Rp.23.641.230,-/ha/tahun dan nilai R/C 4,64. Dalam pemasaran, buah mangga dikelompokan kedalam dua grade, yaitu grade AB merupakan grade utama, dipasarkan secara luas melalui empat saluran dan grade C (non grade) disalurkan ke pasar-pasar tradisional lokal melalui satu saluran pemasaran. Margin pemasaran paling besar terjadi pada saluran pemasaran yang pelaku-pelaku pasarnya melakukan penanganan hasil lebih intensif seperti suplayer dan supermarket dengan sasaran konsumen kelas ekonomi menengah ke atas. Pada seluruh saluran pemasaran grade AB, pedagang agen selalu mendapatkan marjin keuntungan paling besar, yaitu Rp.2.500,-/kg karena mereka merupakan pihak yang paling besar dalam pengeluaran biaya pemasaran dan juga resiko diakibatkan oleh fluktuasi harga jual mangga. Pengembangan produksi mangga masih perlu kerjasama dengan pelaku agribisnis, petani mendapatkan bantuan permodalan dan bimbingan praktek budidaya yang benai sementara pelaku agribisnis dapat memperoleh hasil mangga yang berkualitas, menciptakan peluang pasar baru dar mendirikan industri pengolah mangga segar untuk menjembatani kelebihan produksi pada waktu panen raya.Kata kunci: inangga, usahatani, pemasaran
ANALISIS KUALITAS RELATIF PROTEIN JAGUNG SECARA IN VIVO DENGAN METODE PDCAAS Ratna Wylis Arief
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v10n2.2007.p%p

Abstract

The protein content in each maize varies depends on its quantity and quality. The quality of protein in food materials is determined by its protein rate and amino acid pattern, because every type of Cereal has different composition and amino acid pattern. The protein is needed to grow and produce and to keep a normal health, so that the ideal protein must have amino acid formation that matches with the requirement of human and animal. PDCAAS represents a way of newly introduced by FAO to compare the quality of all kinds of protein pursuant to requirement of amino acid at human being. The research was executed by using in vivo method on white mice (Sparague Dawley) as an attempted animal, and applies 4 maize varieties as main feed to know the quality of protein. The four maize varieties used are QPM Srikandi Kuning (A); QPM Srikandi Putih (B); Bisi 2 (C); Lamuru (D), and group of metabolite (E) which only perceived its protein rate of digestion. The parameters observed are amino acid score, protein consumed, protein in fesses, digestion power, real digestion power and PDCAAS. The results showed that Lamuru variety has the best quality of protein with PDCAAS value is 46.02 and statistically not different with Srikandi Kuning variety that has PDCAAS value is 42.92. To conclude, the varieties are acceptable as a primary food for developed countries such as Indonesia, because they contain good protein quality. Key words: maize, quality, protein, PDCAAS   Protein yang terdapat di dalam setiap varietas jagung sangat bervariasi baik jumlah maupun kualitasnya. Kualitas protein bahan pangan ditentukan oleh kadar protein dan pola asam amino penyusunnya dan setiap jenis serealia mempunyai komposisi dan pola asam amino yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas protein beberapa varietas jagung dengan menggunakan metode PDCAAS dan dilakukan secara in vivo. Sasaran dari penelitian ini adalah sebagai bahan pangan bagi manusia, karena itu digunakan tikus putih jenis Sparague Dawley sebagai hewan percobaan karena sistim pencernaan pada tikus putih mirip dengan sistim pencernaan pada manusia dan 4 varietas jagung yang akan diketahui kualitas proteinnya, masing-masing adalah: QPM Srikandi kuning (A); QPM Srikandi putih (B); Bisi 2 (C); Lamuru (D), dan kelompok metabolit (E) yang hanya diamati kadar protein fesesnya untuk penghitungan daya cerna sejati. Perlakuan disusun dalam RAK, dengan 8 ulangan. Parameter pengamatan meliputi skor asam amino, jumlah protein yang dikonsumsi, jumlah protein dalam feses, daya cerna, daya cerna sejati, dan PDCAAS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan penentuan nilai PDCAAS, jagung varietas Lamuru mempunyai kualitas protein yang terbaik dengan nilai PDCAAS sebesar 46,02 dan secara statistik tidak berbeda nyata dengan jagung QPM Srikandi Kuning dengan nilai PDCAAS sebesar 42,92, sehingga dapat menjadi salah satu makanan pokok dengan kualitas protein yang baik, terutama untuk negara berkembang seperti Indonesia. Kata kunci:jagung, kualitas, protein, PDCAAS

Page 1 of 2 | Total Record : 18


Filter by Year

2007 2007


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue