cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 28 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 3 (2005): November 2005" : 28 Documents clear
APLIKASI QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT (QFD) DI INDUSTRI TEH HITAM ORTHODOX INDONESIA Suprihatini, Rohayati
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesian tea market share decreased from 10.3 percents of world tea export in 1993 to 6.4% in 2003 due tothe quality of Indonesian tea. The purposes of this study were understanding the quality position of Indonesianorthodox black tea, as well as, identifying the main efforts to increase the satisfaction level of Indonesian tea buyers.Quality Function Deployment (QFD) and Eickenrode weighting method were applied to analyze the evidents. Theresults show that quality position of Indonesian tea is less than the quality of Sri Lanka tea. However, two actionsshould be improved to increase the tea quality (beginning from first priority) namely (1) improvement of quality teashoot; and (2) improvement of rolling process.Key words : tea industry, quality, marketing techniques, processing, Indonesia Pangsa pasar teh Indonesia menurun dari 10,3 persen pada tahun 1993 menjadi hanya 6,4 persen dari totalekspor teh dunia pada tahun 2003 karena masalah mutu. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui posisi mutu teh hitamorthodox Indonesia dan mendapatkan strategi operasional untuk meningkatkan tingkat kepuasan para pembeli tehIndonesia. Metode analisis data yang digunakan adalah Quality Function Deployment (QFD) dan PembobotanEickenrode. Hasil kajian menunjukkan bahwa posisi kualitas teh Indonesia ternyata masih lebih rendah dibandingkandengan kualitas teh Sri Lanka. Dua upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas teh Indonesia mulai dariprioritas utama adalah (1) peningkatkan kualitas pucuk daun teh, dan (2) perbaikan proses penggilingan.Kata kunci : industri teh, kualitas, teknik pemasaran, pengolahan, Indonesia
KERAGAAN BUAH DUKU DAN PEMASARANNYA DI SUMATERA SELATAN , Suparwoto; Hutapea, Yanter
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to know the performance, productivity and duku (Lansium domesticum Corr) marketingfrom South Sumatra to Jakarta. The study conducted from February to Juni 2003 at Tanjung Alai Village, Sirah PulauPadang Sub District, OKI District, Gunung Batu Village, Cempaka Sub District and Rasuan Village, OKU Districtand Ujan Mas Village, Ujan Mas Sub District, Muara Enim District. Each village consisted of 20 duku trees and 30fruits of each location for phisical performance analysis. Marketing survey was implemented to collect informationfrom farmer, local assembler at each location, agents at Kramat Jati Central Market and retailers at Jakarta. The resultshowed that the productivity was highest on duku trees from Rasuan Village (208,6 kg/tree) and the lowest fromTanjung Alai Village (97,25 kg/tree). Number of seed was least on duku fruits from Gunung Batu Village whereas themost from Ujan Mas Village. The local assembler profit in duku marketing from Muara Enim District was higher thanduku marketing from OKI and OKU District with magnitude of Rp 123,2/kg; Rp 104,33/kg and Rp 66,55/kg,respectively. The agents profit at Kramat Jati Central Market in duku marketing from Muara Enim was higher thanfrom OKU and OKI District with magnitude of Rp 1.004,83/kg; Rp 920,94/kg and Rp 919,33/kg, respectively. Theretailers profit in duku marketing from OKI District was higher than from OKU and Muara Enim District withmagnitude of Rp 825,55; Rp 775,55/kg and Rp 675,55/kg, respectivelyKey words: Lansium domesticum Corr, fruits performance, marketing,South SumateraPengkajian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan dan produktivitas serta pemasaran buah duku dariSumatera Selatan ke Jakarta. Dilakukan pada bulan Februari sampai dengan bulan Juni 2003. Observasi dilaksanakandi Desa Tanjung Alai Kecamatan Sirah Pulau Padang, Kabupaten OKI; Desa Gunung Batu dan Rasuan, KabupatenOKU; dan Desa Ujan Mas, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muara Enim masing-masing sebanyak 20 pohonsampel, dan untuk analisis keragaan fisik buah duku masing-masing 30 buah. Survai pemasaran duku mulai daripetani, pemborong dari masing-masing kabupaten dan agen di Pasar Induk Kramat Jati serta pengecer di Jakarta. Hasilkajian menunjukkan bahwa produktivitas duku yang tertinggi diperoleh dari Desa Rasuan sebesar 208,6 kg/pohon danterendah sebesar 97,25 kg/pohon dari Desa Tanjung Alai. Jumlah biji yang paling sedikit adalah dari duku asal DesaGunung Batu sedangkan terbanyak dari Desa Ujan Mas. Keuntungan pemborong yang membawa buah duku ke PasarInduk Kramat Jati Jakarta dari Kabupaten Muara Enim lebih tinggi dibanding dari Kabupaten OKI dan KabupatenOKU, yang masing-masing sebesar Rp 123,2/kg; Rp 104,33/kg dan Rp 66,55/kg. Keuntungan agen di Pasar IndukKramat Jati yang memasarkan duku asal Kabupaten Muara Enim lebih tinggi dibanding duku asal Kabupaten OKUdan Kabupaten OKI, yang masing-masing sebesar Rp 1.004,83/kg; Rp 920,94/kg dan Rp 919,33/kg. Keuntungan yangdiperoleh pengecer di Jakarta yang memasarkan duku asal Kabupaten OKI lebih tinggi dibanding duku asalKabupaten OKU dan Muara Enim yang masing-masing sebesar Rp 825,55; Rp 775,55/kg dan Rp 675,55/kg.Kata kunci: duku, keragaan buah, pemasaran, Sumatera Selatan
KAJIAN USAHATANI KOMODITAS PERKEBUNAN BERBASIS KAKAO DI KABUPATEN PACITAN, JAWA TIMUR Irianto, Bambang; Kartono, Gatot; , Harwanto; Rosmahani, Luki
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cacao is one of the most potential estate crops to be developed since it could improve farmers’ income andsignificantly contribute to the national income. Besides, it could also contribute to solve employment problem muchbetter than other estate commodities such as rubber, coconut and palm do. An assessment on cacao farming systemhas been done in Pacitan, in 2003, to see the present status and role of cacao in farmers’ income structure and in estatecrops farming system in East Java as a whole. In addition to financial and other social-economic analysis, an LQanalysis was also carried out on the production data of several important estate crops in Pacitan, 2001 and 2002. Theresults showed that cacao farming system was commonly carried out in integrated fashion with other estate crops andhorticultural commodities. Financial analysis showed that, in general, estate crops farming system were economicallyfeasible to be developed especially in integrated way, while the LQ analysis showed that coconut was the mostimportant commodity in the area implying that development of cacao should be wisely integrated with development ofcoconut. The survey on the social and economic aspects showed that cacao as well as other estate crops is the mostimportant source of income for farmers. Some improvements are still necessary to increase farmers’ income andhence welfare through technological and social engineering such as empowerment of existing farmers institutions.Key words : theobroma cacao, farm income, estate crops, East JavaKakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki potensi pengembangan yang cukup tinggikarena selain mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dan memberikan sumbangan yang cukupberarti terhadap devisa negara juga bisa menyerap tenaga kerja yang cukup tinggi dibandingkan komoditasperkebunan lainnya seperti karet, kelapa dan kelapa sawit. Pengkajian yang dilakukan di Kabupaten Pacitan tahun2003 ini dimaksudkan untuk mengetahui status dan peranan usahatani kakao dalam struktur pendapatan petani dandalam subsektor perkebunan secara umum di Jawa Timur. Selain analisis finansial dan sosial ekonomi lainnya,analisis LQ juga dilakukan terhadap nilai rata-rata produksi komoditas perkebunan unggulan di Pacitan tahun 2001dan 2002. Hasil pengkajian memperlihatkan bahwa usahatani kakao dilakukan secara terpadu dengan komoditasperkebunan lainnya seperti kelapa, cengkeh dan kopi serta beberapa jenis tanaman hortikultura. Analisis finansialmemperlihatkan bahwa usahatani komoditas perkebunan umumnya layak untuk dikembangkan terutama biladilakukan secara terpadu. Pendapatan petani kakao yang berasal dari kegiatan usahatani ternyata lebih tinggidibandingkan yang berasal dari usaha di luar pertanian, sedangkan analisis LQ memperlihatkan bahwa komoditaskelapa mempunyai arti yang penting bagi perekonomian daerah sehingga pengembangan kakao harus diintegrasikandengan pengembangan kelapa. Hasil survai sosial ekonomi memperlihatkan bahwa komoditas kakao dan komoditasperkebunan lainnya merupakan sumber pendapatan penting bagi petani sehingga perlu dikembangkan melaluiperbaikan teknologi dan rekayasa sosial misalnya melalui pemberdayaan kelembagaan yang ada.Kata kunci : theobroma kakao, pendapatan usahatani, perkebunan, Jawa Timur
KERAGAAN DAN ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN PERIKANAN UMUM BERDASARKAN ZONA AGROEKOLOGI DI KABUPATEN BUOL, SULAWESI TENGAH Rumayar, T.P.; Kairupan, Agustinus N; Hutahaean, Lintje; N.F, Femmi; , Syafruddin
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is giving data of information potency, biophysic condition, and social economy.To specify the pre-eminent commodity of fishery in Buol regency, Central Sulawesi based on agro ecology zone.Verification arrangement of agro ecology zone derived from expert system concept which is developed by Center ofResearch of Land and Agro Climate. The implementation of agro ecology zone is divided into four activities such as :preparation, data interpretation into expert system, overlay between administrating and land resource map, andverification on farm. The analysis result shows agro ecology zone for fishery development is zone VI (covers 25.083ha or 6,32%) from the total of Buol regency spread out in every subdistrict. The pre-eminent commodity of fishery isshrimp pond located in Momunu sub district.Key words : fisheries development, resource management, ponds, Central Sulawesi Tujuan penelitian ini untuk memberikan data dan informasi tentang potensi, kondisi biofisik dan sosialekonomi serta menetapkan komoditas unggulan perikanan Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkanzona agroekologi. Penyusunan keragaaan zona agroekologi mengacu pada konsep Sistem Pakar (Expert System), yangdikembangkan oleh Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pelaksanaan penyusunan peta zona agroekologi terbagiatas empat tahapan kegiatan yaitu : persiapan, interpretasi data ke dalam sistem pakar, tumpang tepat (overlay) antarpeta administrasi dan peta sumberdaya lahan serta verifikasi lapang. Dari hasil analisis terlihat bahwa zonasiagroekologi yang berpotensi untuk pengembangan komoditas perikanan berada pada zona VI dengan luas wilayah25.083 ha (6,32%) dari total luas seluruh wilayah Kabupaten Buol yang tersebar di tiap kecamatan. Komoditasunggulan perikanan yaitu tambak udang, berada di wilayah Kecamatan Momunu.Kata kunci : pembangunan perikanan, manajemen sumberdaya, tambak, Sulawesi Tengah
ANALISIS FINANSIAL BUDIDAYA TOMAT DI DATARAN RENDAH SULAWESI TENGAH Maskar ;; Abdi Negara; Ruslan Boy; IGP. Sarasutha
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

The main problem at tomato farm level is low yield compared to potential production. Objective of theresearch was to find out the appropriate packaged technology of tomatoes farming on low elevation. The research wasconducted at Labuan Toposo village, Sub district of Tawaeli, district of Donggala, from December 2003 to April2004. Randomized Complete Block Design was used with five replications. There are three packaged technology wereused : (A) introduce packaged-1 technology, (B) introduce packaged-2 technology, and (C) farmers packagedtechnology as usual. Results of the research showed that the introduce packaged-2 technology was highest in yield andthen followed by introduce packaged-1 technology, while the farmer packaged technology as the lowest. The cost ofthe production for introduce packaged-2 technology is Rp. 16.022.000,-/ha, with the highest of labour cost (Rp.8.000.000,- or 49,9% from total cost), followed by ather cost such as bambooes for stick, fertilizer, pestiside, landrent and the seed is the lowest cost. On the production level of 55,13 t/ha and range of yield price from Rp. 500 – Rp.1.250/kg will get the net income of tomato farm with packaged-2 technology as Rp. 37.069.250, with packaged-1technology were Rp. 20.292.150 and at farmers level is only Rp. 8.089.750. Furthermore, R/C ratio for packaged-2technology were 3,31; packaged-1 technology were 2,30, and farmers level of 1,54. Efficiency level of packkaged-2technology was high than others.Key words : Lycopersicon esculentum, financial analysis, cultivation systems, Central SulawesiPotensi lahan di Sulawesi Tengah masih cukup luas untuk pengembangan tanaman tomat. Permasalahanusahatani tomat di tingkat petani adalah produksi masih sangat rendah dibandingkan dengan potensi produksi yangada. Kajian ini bertujuan untuk mendapatkan paket teknologi budidaya yang sesuai dan secara ekonomis paling layakdigunakan pada usahatani tomat di dataran rendah. Kajian ini dilaksanakan di Desa Labuan Toposo, KecamatanTawaeli, Kabupaten Donggala, pada bulan Desember 2003 sampai April 2004. Kajian ini menggunakan rancanganacak kelompok dengan lima ulangan. Ada tiga paket teknologi budidaya yang dikaji, yaitu : (A) paket introduksi-1,(B) paket introduksi-2, dan (C) paket teknologi menurut kebiasaan petani (sebagai pembanding). Hasil kajianmenunjukkan bahwa dari tiga paket teknologi budidaya yang dikaji, paket introduksi-2 menghasilkan produksi buahyang paling besar, kemudian diikuti oleh paket introduksi-1, dan yang paling rendah adalah paket petani. Biayaproduksi usahatani tomat dengan menggunakan paket introduksi-2 adalah Rp. 16.022.000,- per hektare, dengan biayaterbesar pada tenaga kerja Rp.8.000.000,- (49,9 %), kemudian diikuti berturut-turut oleh biaya tiang penyangga,pupuk, pestisida, sewa lahan dan biaya paling sedikit adalah biaya bibit. Pada tingkat produksi 55,13 t/ha dan hargaantara Rp.500 – Rp. 1.250,-/kg, pendapatan bersih usahatani tomat dengan menggunakan paket introduksi-2 adalahRp.37.069.250,-, paket introduksi-1 Rp. 20.292.150,- dan paket petani Rp. 8.089.750,-. Pada tingkat produksi danharga tomat tersebut di atas, hasil perhitungan R/C ratio untuk paket introduksi-2 adalah 3,31, paket introduksi-1adalah 2,30 dan paket petani 1,54. Meskipun ketiga paket teknologi budidaya tersebut masih memberikan keuntungan,namun tingkat efisiensi tertinggi dicapai pada paket introduksi-2.Kata kunci : Lycopersicon esculentum, analisis finansial, sistem budidaya, Sulawesi Tengah
KAJIAN USAHATANI KOMODITAS PERKEBUNAN BERBASIS KAKAO DI KABUPATEN PACITAN, JAWA TIMUR Bambang Irianto; Gatot Kartono; Harwanto ;; Luki Rosmahani
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

Cacao is one of the most potential estate crops to be developed since it could improve farmers’ income andsignificantly contribute to the national income. Besides, it could also contribute to solve employment problem muchbetter than other estate commodities such as rubber, coconut and palm do. An assessment on cacao farming systemhas been done in Pacitan, in 2003, to see the present status and role of cacao in farmers’ income structure and in estatecrops farming system in East Java as a whole. In addition to financial and other social-economic analysis, an LQanalysis was also carried out on the production data of several important estate crops in Pacitan, 2001 and 2002. Theresults showed that cacao farming system was commonly carried out in integrated fashion with other estate crops andhorticultural commodities. Financial analysis showed that, in general, estate crops farming system were economicallyfeasible to be developed especially in integrated way, while the LQ analysis showed that coconut was the mostimportant commodity in the area implying that development of cacao should be wisely integrated with development ofcoconut. The survey on the social and economic aspects showed that cacao as well as other estate crops is the mostimportant source of income for farmers. Some improvements are still necessary to increase farmers’ income andhence welfare through technological and social engineering such as empowerment of existing farmers institutions.Key words : theobroma cacao, farm income, estate crops, East JavaKakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki potensi pengembangan yang cukup tinggikarena selain mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani dan memberikan sumbangan yang cukupberarti terhadap devisa negara juga bisa menyerap tenaga kerja yang cukup tinggi dibandingkan komoditasperkebunan lainnya seperti karet, kelapa dan kelapa sawit. Pengkajian yang dilakukan di Kabupaten Pacitan tahun2003 ini dimaksudkan untuk mengetahui status dan peranan usahatani kakao dalam struktur pendapatan petani dandalam subsektor perkebunan secara umum di Jawa Timur. Selain analisis finansial dan sosial ekonomi lainnya,analisis LQ juga dilakukan terhadap nilai rata-rata produksi komoditas perkebunan unggulan di Pacitan tahun 2001dan 2002. Hasil pengkajian memperlihatkan bahwa usahatani kakao dilakukan secara terpadu dengan komoditasperkebunan lainnya seperti kelapa, cengkeh dan kopi serta beberapa jenis tanaman hortikultura. Analisis finansialmemperlihatkan bahwa usahatani komoditas perkebunan umumnya layak untuk dikembangkan terutama biladilakukan secara terpadu. Pendapatan petani kakao yang berasal dari kegiatan usahatani ternyata lebih tinggidibandingkan yang berasal dari usaha di luar pertanian, sedangkan analisis LQ memperlihatkan bahwa komoditaskelapa mempunyai arti yang penting bagi perekonomian daerah sehingga pengembangan kakao harus diintegrasikandengan pengembangan kelapa. Hasil survai sosial ekonomi memperlihatkan bahwa komoditas kakao dan komoditasperkebunan lainnya merupakan sumber pendapatan penting bagi petani sehingga perlu dikembangkan melaluiperbaikan teknologi dan rekayasa sosial misalnya melalui pemberdayaan kelembagaan yang ada.Kata kunci : theobroma kakao, pendapatan usahatani, perkebunan, Jawa Timur
ANALISIS FINANSIAL TEKNOLOGI PEMUPUKAN ABU JANJANG SAWIT SEBAGAI SUMBER K PADA PADI SAWAH Ida Nur Istina; Amiruddin Syam
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

One of the effort to increase rice production and the farmer income is the usage of K source that available infield. The assesment of palm oil ash fertilizer as K resource on lowland rice financial analysis was done at PulauJambu Village, West Bangkinang sub district, Kampar regency on dry season 2003 used the farmer land and followsthe farmers as cooperator due to know the financial eligibility of the palm oil ash fertilizer technology on rice farm.This research used Randomized Block Design devided into three treatment and five replications. The agronomicperformance analized by statistical with Irristat version 3.1; the social performance data analyzed by descriptiveanalysis and the economic data analized by the Balanced Revenue (BC ratio), critical Break Event Point and thesensitivity analysis. The result showed that palm oil ash fertilizer give the increasing rice production about 36 percentand 42 percent and the farmer income about 47 percent and 52,29 percent. Base on economic performance the palmoil ash fertilizer performance be able to used with BC ratio more than one and base on sensitivity analyzing theintroduction technology applicable although the input increasing about 50 percent.Key words : financial analysis, fertilizers, ashes wastes, wetland ricey words : financial analisys, fertilizer technology, palm oil ash, K resources, lowland riceSalah satu upaya untuk peningkatan produksi dan pendapatan petani padi di lahan marginal adalah denganpemanfaatan sumber pupuk K yang tersedia di lapangan. Kajian analisis finansial teknologi pemupukan abu janjangsawit sebagai sumber K pada padi sawah yang bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial pemupukan abujanjang sawit sebagai sumber K pada usahatani padi sawah telah dilaksanakan di Desa Pulau Jambu, KecamatanBangkinang Barat, Kabupaten Kampar pada MK 2003 dengan menggunakan lahan petani dan mengikutsertakanpetani sebagai koperator, disebabkan untuk mengetahui yang memenuhi syarat finansial dari teknologi pupuk abujanjang sawit pada tanaman padi. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga perlakuan danlima kali ulangan. Keragaan agronomi dianalisis secara statistika dengan menggunakan perangkat Irristat, versi 3.1,data sosial dianalisis secara deskriptif, sedangkan data ekonomi dianalisis dengan analisis Imbangan penerimaan (BCratio), titik impas dan analisis sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi pemupukan dengan abujanjang sawit memberikan peningkatan produksi sebesar 36 persen dan 42 persen serta peningkatan pendapatansebesar 47 persen dan 52,29 persen. Berdasarkan keragaan ekonomi teknologi pemupukan abu janjang sawit layakdengan nilai BC ratio lebih besar dari satu dan berdasarkan hasil analisis sensitifitas teknologi introduksi tetap layakditerapkan meskipun terjadi kenaikan harga sarana produksi sampai 50 persen.Kata kunci : analisis finansial, pemupukan, abu sawit, padi sawah
PENGGUNAAN BIOPESTISIDA PERSADA DAN PESTISIDA NABATI DALAM UJI ADAPTASI PENGENDALIAN PENYAKIT LAYU PISANG DI PROVINSI BALI I.B.K. Suastika; A.A.N.B. Kamandalu
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

The purpose of this adaptive research was to study the effect of combination treatments of “persada”biopesticide and botanical pesticide (plants extract) to the increase attack of wilt disease and its effect on bananasgrowth and yield. The research was conducted at Delod Berawah and Penyaringan village, Mendoyo sub-district,Jembrana district, Bali on Januari 2000 to December 2001. Randomized block design was applied with fivereplications during research at 2000 and four replications at 2001. Banana “kepok”seed age 2-3 months was plantedwith its planting holed size and distance 50 cm x 50 cm x 50 cm and 2 m x 2 m respectively. In 2000, dosages offertilizer per plant per year were 1,2 kg NPK and 2 kg of casting, followed by treatment of 0,50 kg “persada”biopesticide/plant/year. The treatment of 1 lt/plant of botanical pesticide with 5 percent (w/v) concentration was givenat one and two months after initial planting. In 2001, dosages of fertilizer per plant per year were 1,2 kg ZA, 0,45 kgTSP, 0,50 kg KCl and 2 kg casting, followed by treatment of 0,50 kg “persada”biopesticide/plant/year. The treatmentof 1 lt/plant of botanical pesticide with 5 percen (w/v) concentration was given at the age of 0 month, 2 months, 4months, 6 months and 8 months after initial planting respectively. The result showed that application of 0,50 kg/plantof “persada”biopesticide with or without botanical pesticide was able to control bananas wilt disease developmentabout 26-50 percent. It is suggested that when farmers planted susceptible bananas like “kepok”variety at endemicwilt disease area, they should apply biopesticide such as “persada”biopesticide and botanical pesticide followed byother treatments, i.e. application of good fertilizer, sanitation and good watering. Average net return received byfarmers from “kepok”banana planting at endemic wilt disease area through application of “persada”biopesticide andbotanical pesticide within 0,05 ha was Rp. 1.249.600. The farmer will loss about Rp. 501.280 when planted banana“kepok”at endemic wilt disease area without “persada”biopesticide and botanical pesticide treatment.Key words : plant diseases, “persada” biopesticide, botanical pesticidePenelitian adaptasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi perlakuan biopestisida persada danpestisida nabati terhadap perkembangan intensitas serangan penyakit layu serta pengaruhnya terhadap pertumbuhandan hasil tanaman pisang. Penelitian dilaksanakan di Desa Delod Berawah dan Desa Penyaringan, kecamatanMendoyo, kabupaten Jembrana Propinsi Bali dari bulan Januari sampai Desember pada tahun 2000 dan 2001.Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dengan lima kali ulangan pada pengujian 2000 danempat kali ulangan pada pengujian tahun 2001. Bibit pisang “kepok”berumur 2-3 bulan ditanam dalam lubang tanamberukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan jarak tanam 2 m x 2 m. Pada pengujian 2000, pemupukan dengan dosis 1,2kg NPK dan 2 kg kascing/pohon/ tahun, diikuti dengan pemberian perlakuan biopestisida persada 0,5 kg/pohon/tahun.Perlakuan pestisida nabati 1 lt/pohon dengan konsentrasi 5 persen diberikan pada 1 bulan setelah tanam (BST) dan 2BST. Pada pengujian tahun 2001 pemupukan dengan dosis 1,2 kg ZA, 0,45 TSP, 0,50 KCL dan 2 kgkascing/pohon/tahun, diikuti dengan pemberian perlakuan biopestisida persada 0,5 kg/pohon/tahun. Perlakuanpestisida nabati 1 lt/pohon dengan konsentrasi 5 persen diberikan pada 0 BST, 2 BST, 4 BST, 6 BST, dan 8 BST.Hasil pengujian menunjukkan bahwa penggunaan biopestisida persada sebanyak 0,50 kg/pohon/tahun dengan atautanpa perlakuan pestisida nabati cukup efektif mengendalikan penyakit layu pisang dengan penekanan penurunanpenyakit hingga 26-50 persen. Bila harus menanam pisang peka seperti kepok di daerah endemis penyakit layu,406Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 8, No.3, Nopember 2005 : 405-416penggunaan biopestisida persada dan pestisida nabati dalam usahatani pisang sebaiknya diikuti dengan perlakuanlainnya yaitu budidaya tanaman sehat seperti pemupukan, pengendalian gulma dan pengairan yang baik. Keuntunganbersih yang diperoleh petani dari usahatani pisang kepok di daerah endemis penyakit layu dengan perlakuanbiopestisida persada dan pestisida nabati dalam areal seluas 5 are sebesar Rp 1.249.600,-. Petani akan mengalamikerugian sekitar Rp 501.280,- bila mengusahakan pisang kepok di daerah endemis penyakit layu tanpa perlakuanbiopestisida persada dan pestisida nabati.Kata kunci : penyakit tanaman, biopestisida persada, pestisida nabati
PENGUJIAN PROTOTIPE ALAT PENGADUK DALAM PEMBUATAN SIRUP MARKISA SKALA RUMAH TANGGA Wanti Dewayani; Darniaty Danial; Warda ;; Hatta Muhammad
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

The aim of this experiment wad to find out a simple prototype of churn appliance which easy to operate andalso improve the efficiency of passion fruit syrup processing. This activity was conducted at Cikoro Village, GowaRegency in May up to December 2001. Three type of churn appliances were determined namely wood spoon(manual), hand mixer (semi manual), and submersible pump (automatic). Activity of passion fruit syrup making fromeach the churn appliance was carried out by two groups of farmer woman. Financial analysis of B/C was comparedthe advantage of each churn appliance prototype. Passion fruit syrup was also tested chemically and organoleptically.The result showed that the used of submersible pump more efficient and profit than mixer and wood spoon. Usingsubmersible pump was pumped at high pressure of 250 l syrup until homogen through 30 minutes and the highestquality as vitamin C 0.20 percent and sugar level 18.53 percent. The submersible pump was able to process 6,000fruits per day with good profit of Rp. 2,878,750, - and net B/C 1.36.Key words: churn appliance, marquise, profit, prototype, syrup Pengkajian ini bertujuan untuk mendapatkan prototipe alat pengaduk sederhana dan mudah dioperasikanserta meningkatkan efisiensi pengolahan markisa menjadi sirup. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Cikoro,Kabupaten Gowa pada bulan Mei hingga Desember 2001. Tiga tipe alat pengaduk yang diuji adalah sendok kayu(manual), mikser (semi manual), dan pompa celup (otomatis). Kegiatan pembuatan sirup markisa dari masing-masingalat pengaduk tersebut dilakukan oleh dua kelompok wanita tani. Sirup markisa dari kedua kelompok tersebut diujisecara kimia dan organoleptik. Analisis finansial dengan B/C ratio untuk mengetahui keuntungan dari masing-masingprototipe alat pengaduk yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pengaduk pompa celup(submersible pump) jauh lebih efisien dan menguntungkan dibandingkan dengan mikser dan sendok kayu.Penggunaan pompa celup mampu mengaduk 250 l sirup markisa hingga homogen dengan tekanan tinggi dalam waktu30 menit dengan mutu sirup yang terbaik yaitu vitamin C dan kadar gula masing-masing 0,20 persen dan 18,53persen. Dengan pengaduk pompa celup dapat memproses 6000 buah per hari dan diperoleh keuntungan Rp.2.878.750,- (net B/C ratio 1,36).Kata kunci : alat pengaduk, keuntungan, markisa, prototipe, sirup
PEMETAAN DAN PENGELOLAAN STATUS KESUBURAN TANAH DI DATARAN WAI APU, PULAU BURU Andriko Noto Susanto
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

Research was aim to make map of soil fertility status and its management on farmland in Plain of Wai Apu,Buru Island have been conducted at 25.400 ha area, in year 2000. Evaluate of soil fertility status conducted in eachsoil-mapping unit and delineated with landscape mapping approach. Result of research that soil fertility status in Plainof Wai Apu is very low, low, middle and high, with wide respectively 17.145, 5.182, 1.549 and 1.542 ha. Limitingfactor to soil fertility is lowering of cation exchange capacities (CEC), C-Organic, K2O, P2O5 and base saturation.Alternative of land management suggested is improving C-organic and CEC which at the same time also can improvesoil nutrient content by giving organic materials like manure, straw compost (rich of K), chicken waste and guano(rich of P), accompanied with giving of inorganic manure like N, P, and K pursuant to soil chemical analysis. At areawith landform undulating to hilly needed conservation act, while mangrove forest, river border forest and sago whichis damage to be rehabilitated, while which still natural to be defended.Key words : mapping, soil fertility, Buru islandPemetaan status tanah dapat digunakan untuk mengetahui faktor pembatas kesuburan tanah pada suatu areasehingga dapat dilakukan pengelolaan tanah berdasarkan faktor pembatas yang ditemukan. Penelitian ini bertujuanuntuk memetakan status kesuburan tanah dan alternatif pengelolaannya pada tanah-tanah pertanian di Dataran WaiApu, Pulau Buru telah dilakukan pada areal seluas 25.400 ha. Evaluasi status kesuburan tanah dilakukan pada tahun2000, terhadap setiap satuan unit tanah yang didelineasi berdasarkan pendekatan landscape mapping. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa status kesuburan tanah di Dataran Wai Apu adalah sangat rendah, rendah, sedang dan tinggidengan luasan berturut-turut 17.145, 5.182, 1.549 dan 1.542 ha. Faktor pembatas kesuburan tanah yang ditemukanadalah rendahnya nilai kapasitas tukar kation (KTK), C-organik, K2O, P2O5 dan kejenuhan basa. Alternatifpengelolaan tanah yang disarankan adalah meningkatkan C-organik dan KTK yang sekaligus juga dapat meningkatkankandungan hara dalam tanah, dengan cara memberikan bahan organik seperti pupuk kandang, kompos jerami(kaya K), kotoran ayam dan guano (kaya P), yang disertai dengan pemberian pupuk anorganik N, P, dan Kberdasarkan analisis kimia tanah. Pada areal dengan bentuk wilayah berombak sampai berbukit diperlukan tindakanpengawetan tanah dengan menanggulangi erosi, sedangkan daerah hutan mangrove, sagu dan hutan sempadan sungaiyang rusak dianjurkan untuk direhabilitasi sedangkan yang masih utuh untuk dipertahankan.Kata kunci : pemetaan, kesuburan tanah, Pulau Buru

Page 2 of 3 | Total Record : 28


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue