cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Pengembangan Inovasi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Majalah Pengembangan Inovasi Pertanian diterbitkan empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Majalah ini merupakan majalah ilmiah yang memuat naskah ringkas orasi dankebijakan pertanian dalam arti luas. Tulisan dan gambar dapat dikutip dengan menyebutkan sumbernya.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 3 (2013): September 2013" : 5 Documents clear
PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN SEBAGAI BAHAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA: STRATEGI DAN IMPLEMENTASI Sudaryanto, Bambang
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 3 (2013): September 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n3.2013.130-138

Abstract

Pakan merupakan komponen terbesar dari biaya produksi ternak. Untuk menekan biaya pakan, bahan pakan dari limbah pertanian dan industri pengolahan hasil tanaman pangan dan perkebunan perlu dieksplorasi. Limbah tanaman pangan yang berpotensi sebagai bahan pakan adalah: (1) jerami padi, poten-sinya 6-8 t/ha yang dapat menghidupi sapi dewasa 2-3 ekor/tahun, dedak padi, dan bekatul; (2) jerami, kulit, dan janggel jagung; (3) daun, kulit, dan onggok ubi kayu; (4) brangkasan, kulit, dan bungkil kacang tanah; dan (5) brangkasan, kulit, dan bungkil kedelai serta ampas tahu. Sementara limbah dari tanaman perkebunan meliputi: (1) daun tebu kering dan pucuk, tetes (molases), ampas tebu, blotong, dan abu; (2) daun, bungkil, dan lumpur sawit; (3) bungkil kelapa; (4) kulit kakao; (5) kulit kopi; dan (6) kulit nenas. Namun, limbah pertanian tersebut nilai gizinya rendah, serat kasarnya tinggi, kandungan protein rendah (kecuali bungkil kelapa, kelapa sawit, bungkil kedelai, ampas tahu, jerami kacang tanah, jerami kedelai, jerami kacang panjang, dan daun ubi kayu), mengandung zat antinutrisi (sianida pada limbah ubi kayu), konsumsi dan nilai kecernaannya rendah, dan protein mudah terdegradasi dalam rumen (daun ubi kayu dan ampas tahu). Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan teknologi tepat guna, antara lain: (1) fermentasi bahan pakan berserat tinggi, (2) mencegah degradasi protein dalam rumen dengan pemanasan, penambahan formaldehida, pemberian pakan berulang, dan pemberian garam dan asam amino sintetis, dan (3) pencacahan untuk menghilangkan zat antinutrisi.
TEKNOLOGI VAKSIN MUTAN MGTS-11: SOLUSI TEPAT UNTUK PEMBERANTASAN PENYAKIT PERNAPASAN MENAHUN PADA AYAM Soeripto, Soeripto
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 3 (2013): September 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n3.2013.139-147

Abstract

Industri perunggasan di Indonesia dihadapkan pada masalah penyakit infeksius patogen yang sulit ditanggulangi, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi baik dari segi populasi maupun produktivitas. Pengendalian virus patogen seperti avian influ-enza (AI), newcastle disease (ND), infectious bronchitis (IB), dan infectious bursal disease (IBD) umumnya dilakukan melalui vaksinasi, biosekuriti, dan sanitasi, sedangkan pengendalian pe-nyakit bakterial umumnya menggunakan antibiotik. Penggunaan antibiotik secara terus-menerus tanpa terkendali menyebabkan resistensi dan residu antibiotik dalam produk unggas. Penyakit bakterial yang sangat merugikan pada unggas antara lain chronic respiratory disease (CRD) atau penyakit pernapasan menahun (PPM), kolera unggas, salmonelosis, kolibasilosis, dan snot. PPM merusak sistem pernapasan dan reproduksi. Penyakit ini menye-bar di seluruh dunia dan sangat merugikan industri perunggasan. Kerugian ekonomi akibat PPM di Indonesia pada tahun 2001 mencapai Rp305 miliar, sementara di Amerika Serikat Rp140 juta dolar per tahun. Penanggulangan PPM dengan antibiotik dan vaksin mati atau vaksin yang dilemahkan sudah sering dilakukan, tetapi kasus PPM masih sering terjadi di seluruh dunia. Di Indonesia, kasus PPM pada unggas lebih tinggi dibanding kasus penyakit bakterial patogen lainnya. Tulisan ini membahas pengembangan teknologi vaksin Mycoplasma gallisepticum temperature sensitive mutant-11 (MGTS-11) sebagai vaksin generasi ketiga dan efektivitasnya untuk mencegah kasus PPM pada unggas. Lebih dari 50 negara di dunia telah menggunakan vaksin TS-11 ini, termasuk Indonesia, untuk mencegah PPM.
INOVASI TEKNOLOGI PASCAPANEN DAN PENERAPAN HAZARD ANALYSIS CRITICAL CONTROL POINT DALAM PENINGKATAN MUTU DAN KEAMANAN PANGAN KARKAS AYAM Abubakar, Abubakar
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 3 (2013): September 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n3.2013.148-155

Abstract

Di Indonesia, proses penyediaan karkas ayam segar mulai dari pemotongan di rumah potong ayam hingga distribusinya belum mengikuti norma dan kaidah-kaidah kesehatan. Akibatnya, mutu dan keamanan pangan karkas ayam menjadi rendah, bahkan tingkat kehalalannya masih diragukan sehingga menurunkan harga dan peluang pasar. Ketersediaan karkas ayam yang aman dan bebas dari bahan berbahaya merupakan salah satu kunci untuk memperoleh produk yang halal dan thayib. Peningkatan mutu dan keamanan karkas ayam dapat diupayakan melalui penerapan inovasi teknologi pascapanen dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) mulai dari pemotongan hingga distribusi. Hal ini dapat ditempuh melalui penerapan secara luas sistem produksi karkas ayam yang baik dan HACCP melalui sosialisasi dan advokasi, pemantauan dan pengawasan, pene-rapan peraturan perundangan, dan standardisasi karkas ayam.
PEMBERDAYAAN PETERNAK UNTUK MENINGKATKAN POPULASI DAN PRODUKTIVITAS SAPI POTONG BERBASIS SUMBER DAYA LOKAL Diwyanto, Kusuma; Rusastra, I Wayan
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 3 (2013): September 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n3.2013.105-118

Abstract

Pengembangan sapi potong pada dasarnya sejalan dengan eksis-tensi potensi dan diversifikasi sumber daya alam dan sumber pangan lokal untuk kedaulatan dan kemandirian pangan. Ma-kalah ini membahas secara komprehensif pemberdayaan peter-nak sapi potong sesuai dengan UU No. 18 tahun 2009 dan PP No. 6 tahun 2013 tentang Pemberdayaan Peternak. Dimensi utama pemberdayaan peternak mencakup inovasi teknologi dan inovasi kelembagaan dalam bentuk model pengembangan sapi potong. Model pemberdayaan peternak yang prospektif untuk meningkatkan populasi dan produktivitas adalah pengem-bangan sapi potong sistem integrasi, yang mencakup integrasi sapi-tanaman pangan dan integrasi sapi-kelapa sawit. Inovasi pakan, pengelolaan kompos, dan aplikasi inseminasi buatan (IB) merupakan komponen teknologi penting dalam mencapai sasaran peningkatan populasi, produktivitas, dan pendapatan peternak. Syarat kecukupan pengembangan dan pemberdayaan yang perlu dipertimbangkan adalah: (1) impor ternak dan daging sapi merupakan kebijakan jangka pendek dan harus sejalan dengan prinsip kedaulatan dan kemandirian pangan; (2) dibu-tuhkan optimalisasi instrumen kebijakan impor dan harus dalam satu paket kebijakan dengan pengembangan sistem logistik daging sapi; dan (3) mencegah marketing inefficiency by law dengan melakukan deregulasi sistem distribusi dan sistem tata niaga ternak dan daging sapi.
PERAN RUMPUN DOMBA LOKAL SEBAGAI SUMBER DAYA GENETIK DALAM MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL Subandriyo, Subandriyo
Pengembangan Inovasi Pertanian Vol 6, No 3 (2013): September 2013
Publisher : +622518321746

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/pip.v6n3.2013.119-129

Abstract

Populasi domba mencapai 10,2 juta ekor, dan 92,3% terdapat di Pulau Jawa dan Madura. Populasi domba terbanyak terdapat di Jawa Barat, yaitu sekitar 57% dari populasi domba nasional. Domba di Indonesia terdiri atas domba ekor tipis (DET) dan domba ekor gemuk (DEG), dengan subpopulasi terbanyak adalah DET yakni 67%. Di antara DET, domba garut mempunyai karakteristik inklusif untuk tipe ekor dan telinganya dan telah ditetapkan menjadi rumpun lokal berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 2914/2011. Populasinya diperkirakan sekitar 9% dari populasi domba di Jawa Barat. Peran domba lokal dalam produksi daging di Indonesia menempati urutan kelima setelah unggas, sapi dan kerbau, babi, dan kambing. Pangsa daging domba secara nasional adalah 2,5%. Jawa Barat mempunyai pangsa tertinggi di antara provinsi lainnya. Pangsa daging domba di Jawa Barat menempati urutan ketiga setelah daging unggas serta daging sapi dan kerbau. Berdasarkan hasil penelitian dan pengkajian, peran daging domba dalam ketahanan pangan nasional dalam hal jumlah, mutu, keamanan, keterjangkauan, dan pemerataan tidak diragukan lagi.

Page 1 of 1 | Total Record : 5