cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013" : 10 Documents clear
APLIKASI TEKNIK MOLEKULER UNTUK ANALISIS GENETIK TOMATO LEAF CURL VIRUS Santoso, Tri Joko
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tomato leaf curl virus (ToLCV) merupakan salah satu virus dalamgenus Begomovirus, famili Geminiviridae, yang menyebabkanpenyakit keriting daun pada tomat. Informasi tentang keragamangenetik ToLCV bermanfaat dalam perakitan tanaman tahan. Kemajuandi bidang biologi molekuler telah menghasilkan beberapa teknikyang dapat digunakan untuk analisis genetik Begomovirus. Teknikmolekuler yang banyak diaplikasikan ialah polymerase chainreaction (PCR). Teknik ini sangat sensitif dan spesifik untukmendeteksi Begomovirus pada tingkat DNA. PCR juga dapatdigunakan untuk mengidentifikasi tingkat keragaman genetik virus.Teknik PCR telah digunakan untuk mendeteksi Begomovirus padatomat (ToLCV) dari sentra produksi di Jawa Timur, Jawa Tengah,Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Sumatera. Kombinasi teknik PCRdengan restriction fragment length polymorphism (RFLP) jugadapat digunakan untuk mengidentifikasi keragaman genetik Begomovirus.Selain itu, teknik sekuensing DNA dapat diaplikasikanuntuk mempelajari identitas dan keragaman genetik isolat-isolatToLCV atau anggota Begomovirus lainnya. Analisis sekuen asamamino menunjukkan adanya keragaman genetik dari isolat-isolatToLCV Indonesia. Isolat-isolat tersebut homolog dengan Ageratumyellow vein virus (AYVV). Dengan teknik modifikasi gen (rekayasagenetik) telah berhasil memanfaatkan gen AV1 (coat protein) dariToLCV untuk menghasilkan tanaman tembakau tahan terhadapToLCV. Teknik modifikasi gen memberikan peluang yang besaruntuk mengembangkan tanaman tomat tahan ToLCV dan berperanpenting dalam pembangunan pertanian modern di masa mendatang.
PERKEMBANGAN PENELITIAN, FORMULASI, DAN PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI ., Wiratno; ., Siswanto; Trisawa, Iwa M.
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan produk pertanianyang bebas residu pestisida mendorong para ahli mempelajarikemungkinan substitusi penggunaan pestisida sintetis denganpestisida nabati. Penggunaan pestisida sintetis selain meninggalkanresidu yang berbahaya bagi kesehatan manusia maupun hewan, jugamenyebabkan resistensi dan resurgensi hama, terbunuhnya musuhalami baik serangga parasit maupun predator, dan mengakibatkanpencemaran air, tanah, dan udara yang pada akhirnya dapatmengganggu keseimbangan ekosistem. Penggunaan rodentisida,moluskisida, akarisida, dan nematisida sintetis yang kurang bijaksanadisinyalir mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan bagilingkungan. Oleh karena itu, sudah saatnya dicari bahan pengendalihama yang efektivitasnya setara dengan pestisida sintetis namunlebih aman bagi organisme hidup maupun lingkungan. Pemanfaatanpestisida nabati diyakini mampu menjawab permasalahan tersebutkarena tersusun dari senyawa tanaman yang mudah terurai. Hasilpenelitian mengindikasikan spesies-spesies tanaman yang tumbuhdi Indonesia seperti cengkih, mimba, serai wangi, jeringo, tembakau,pyrethrum, kunyit, dan jarak pagar dapat dimanfaatkan untukmengendalikan hama dan penyakit tanaman. Untuk meningkatkanefektivitas pengendalian dan mempermudah penggunaan, bahantanaman tersebut diformulasi menjadi pestisida yang siap pakai.Untuk memperoleh manfaat yang optimal, penggunaan pestisidanabati sebaiknya ditujukan untuk mencegah terjadinya serangan,bukan untuk tindakan pengendalian.
PROSPEK PENGEMBANGAN KARET DI WILAYAH DAERAH ALIRAN SUNGAI Boerhendhy, Island; Agustina, Dwi Shinta
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Harga karet alam yang terus meningkat telah menarik minat petanimaupun investor untuk membangun kebun karet dengan menggunakanbibit unggul. Perkebunan karet tidak hanya dibangun di areakaret tradisional, tetapi juga di area bekas hutan tanaman industri(HTI) maupun daerah aliran sungai (DAS). Tulisan ini bertujuanuntuk memberikan informasi tentang prospek pengembanganperkebunan karet di kawasan DAS, khususnya DAS Musi SumateraSelatan. Pengelolaan kawasan DAS bertujuan untuk mengatur tataguna lahan agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan pendudukdengan lingkungan di kawasan DAS. Salah satu strategi untukmencapai keseimbangan tersebut adalah dengan memanfaatkanlahan di kawasan DAS secara optimal untuk usaha tani yangmencakup beberapa komoditas tanaman, baik tanaman tahunanmaupun tanaman semusim. Pengembangan tanaman karet yangdikombinasikan dengan tanaman semusim, selain dapat meningkatkanpendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, danmenambah devisa negara, diharapkan pula dapat berfungsi sebagaisalah satu alternatif konservasi lahan untuk pelestarian lingkungansecara berkelanjutan di kawasan DAS.
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI SAMBUNG PUCUK SEBAGAI ALTERNATIF PILIHAN PERBANYAKAN BIBIT KAKAO Limbongan, Jermia
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan area kakao di Indonesia terus meningkat dari tahunke tahun. Produktivitas rata-rata mencapai 625 kg/ha/tahun,meskipun potensinya lebih dari 2.000 kg/ha/tahun. Salah satukendala dalam program revitalisasi perkebunan kakao adalahkekurangan bibit sebanyak 18 juta bibit per tahun. Bibit tanamankakao dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif.Perbanyakan bibit kakao secara vegetatif bertujuan untuk memperolehbibit yang bermutu tinggi, baik kuantitas maupunkualitasnya. Pemilihan teknologi perbanyakan bibit kakao secaravegetatif perlu mempertimbangkan ketersediaan entres, kemampuansumber daya manusia, tingkat keberhasilan sambungan, jumlahkebutuhan bibit, dan ketersediaan fasilitas penunjang. Beberapaalternatif pilihan yang tersedia antara lain teknologi setek, okulasi,sambung pucuk, sambung samping, dan somatik embriogenesis.Teknologi perbanyakan vegetatif yang paling banyak diterapkanpetani kakao adalah sambung pucuk. Teknologi ini mudahdilakukan, bahan-bahan yang digunakan mudah didapat, danbiayanya murah. Keuntungan yang diperoleh dari usaha perbenihankakao mencapai Rp26.250.500 per 10.000 bibit dengan tingkatkelayakan usaha (B/C) 1,4.
PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA HAYATI TANAH MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN G., Subowo; Purwani, Jati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberdayaan sumber daya biotik maupun abiotik tanah dapatmeningkatkan efisiensi sistem produksi pertanian. Sumber dayabiotik tanah meliputi flora dan fauna tanah. Pengelolaan sumberdaya biotik tanah dengan mengurangi asupan dari luar dapatmencegah perubahan ekosistem yang ekstrem. Dalam rangkamelestarikan sistem produksi yang mandiri dan ramah lingkungan,penetapan parameter lingkungan harus jelas dan terukur denganmemerhatikan produktivitas yang akan dicapai dan konservasisumber daya. Penggunaan lahan harus sesuai daya dukungnya,neraca hara seimbang, mencegah erosi tanah pada level di bawahtolerable soil loss, dan menekan emisi CO2 di bawah ambang batastoleransi. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara hayatisehingga mencegah cemaran polutan pada produk maupun hasilsamping di bawah ambang batas. Selain itu, pelaku daur ekosistemtanah lengkap (produsen, konsumen, dan pengurai) dan tidak terjadigangguan lingkungan. Populasi fauna tanah yang terancam akibatsistem pertanian intensif perlu dipulihkan dengan memberikanbahan organik sebagai sumber hara dan energi, sehingga dapatberperan dalam konservasi bahan organik tanah dan memperbaikisifat fisik tanah. Penggunaan pupuk anorganik, organik, dan hayatisecara terpadu, menghindari pestisida sintetis, dan adanya cacing tanahendogaesis merupakan indikator pertanian ramah lingkungan.
PROSPEK PENGEMBANGAN KARET DI WILAYAH DAERAH ALIRAN SUNGAI Island Boerhendhy; Dwi Shinta Agustina
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n4.2013.p156-165

Abstract

Harga karet alam yang terus meningkat telah menarik minat petanimaupun investor untuk membangun kebun karet dengan menggunakanbibit unggul. Perkebunan karet tidak hanya dibangun di areakaret tradisional, tetapi juga di area bekas hutan tanaman industri(HTI) maupun daerah aliran sungai (DAS). Tulisan ini bertujuanuntuk memberikan informasi tentang prospek pengembanganperkebunan karet di kawasan DAS, khususnya DAS Musi SumateraSelatan. Pengelolaan kawasan DAS bertujuan untuk mengatur tataguna lahan agar terjadi keseimbangan antara kebutuhan pendudukdengan lingkungan di kawasan DAS. Salah satu strategi untukmencapai keseimbangan tersebut adalah dengan memanfaatkanlahan di kawasan DAS secara optimal untuk usaha tani yangmencakup beberapa komoditas tanaman, baik tanaman tahunanmaupun tanaman semusim. Pengembangan tanaman karet yangdikombinasikan dengan tanaman semusim, selain dapat meningkatkanpendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, danmenambah devisa negara, diharapkan pula dapat berfungsi sebagaisalah satu alternatif konservasi lahan untuk pelestarian lingkungansecara berkelanjutan di kawasan DAS.
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI SAMBUNG PUCUK SEBAGAI ALTERNATIF PILIHAN PERBANYAKAN BIBIT KAKAO Jermia Limbongan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n4.2013.p166-172

Abstract

Perkembangan area kakao di Indonesia terus meningkat dari tahunke tahun. Produktivitas rata-rata mencapai 625 kg/ha/tahun,meskipun potensinya lebih dari 2.000 kg/ha/tahun. Salah satukendala dalam program revitalisasi perkebunan kakao adalahkekurangan bibit sebanyak 18 juta bibit per tahun. Bibit tanamankakao dapat diperbanyak secara generatif maupun vegetatif.Perbanyakan bibit kakao secara vegetatif bertujuan untuk memperolehbibit yang bermutu tinggi, baik kuantitas maupunkualitasnya. Pemilihan teknologi perbanyakan bibit kakao secaravegetatif perlu mempertimbangkan ketersediaan entres, kemampuansumber daya manusia, tingkat keberhasilan sambungan, jumlahkebutuhan bibit, dan ketersediaan fasilitas penunjang. Beberapaalternatif pilihan yang tersedia antara lain teknologi setek, okulasi,sambung pucuk, sambung samping, dan somatik embriogenesis.Teknologi perbanyakan vegetatif yang paling banyak diterapkanpetani kakao adalah sambung pucuk. Teknologi ini mudahdilakukan, bahan-bahan yang digunakan mudah didapat, danbiayanya murah. Keuntungan yang diperoleh dari usaha perbenihankakao mencapai Rp26.250.500 per 10.000 bibit dengan tingkatkelayakan usaha (B/C) 1,4.
PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA HAYATI TANAH MENDUKUNG PENGEMBANGAN PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN G., Subowo; Purwani, Jati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n4.2013.p173-179

Abstract

Pemberdayaan sumber daya biotik maupun abiotik tanah dapatmeningkatkan efisiensi sistem produksi pertanian. Sumber dayabiotik tanah meliputi flora dan fauna tanah. Pengelolaan sumberdaya biotik tanah dengan mengurangi asupan dari luar dapatmencegah perubahan ekosistem yang ekstrem. Dalam rangkamelestarikan sistem produksi yang mandiri dan ramah lingkungan,penetapan parameter lingkungan harus jelas dan terukur denganmemerhatikan produktivitas yang akan dicapai dan konservasisumber daya. Penggunaan lahan harus sesuai daya dukungnya,neraca hara seimbang, mencegah erosi tanah pada level di bawahtolerable soil loss, dan menekan emisi CO2 di bawah ambang batastoleransi. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara hayatisehingga mencegah cemaran polutan pada produk maupun hasilsamping di bawah ambang batas. Selain itu, pelaku daur ekosistemtanah lengkap (produsen, konsumen, dan pengurai) dan tidak terjadigangguan lingkungan. Populasi fauna tanah yang terancam akibatsistem pertanian intensif perlu dipulihkan dengan memberikanbahan organik sebagai sumber hara dan energi, sehingga dapatberperan dalam konservasi bahan organik tanah dan memperbaikisifat fisik tanah. Penggunaan pupuk anorganik, organik, dan hayatisecara terpadu, menghindari pestisida sintetis, dan adanya cacing tanahendogaesis merupakan indikator pertanian ramah lingkungan.
APLIKASI TEKNIK MOLEKULER UNTUK ANALISIS GENETIK TOMATO LEAF CURL VIRUS Tri Joko Santoso
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n4.2013.p141-149

Abstract

Tomato leaf curl virus (ToLCV) merupakan salah satu virus dalamgenus Begomovirus, famili Geminiviridae, yang menyebabkanpenyakit keriting daun pada tomat. Informasi tentang keragamangenetik ToLCV bermanfaat dalam perakitan tanaman tahan. Kemajuandi bidang biologi molekuler telah menghasilkan beberapa teknikyang dapat digunakan untuk analisis genetik Begomovirus. Teknikmolekuler yang banyak diaplikasikan ialah polymerase chainreaction (PCR). Teknik ini sangat sensitif dan spesifik untukmendeteksi Begomovirus pada tingkat DNA. PCR juga dapatdigunakan untuk mengidentifikasi tingkat keragaman genetik virus.Teknik PCR telah digunakan untuk mendeteksi Begomovirus padatomat (ToLCV) dari sentra produksi di Jawa Timur, Jawa Tengah,Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Sumatera. Kombinasi teknik PCRdengan restriction fragment length polymorphism (RFLP) jugadapat digunakan untuk mengidentifikasi keragaman genetik Begomovirus.Selain itu, teknik sekuensing DNA dapat diaplikasikanuntuk mempelajari identitas dan keragaman genetik isolat-isolatToLCV atau anggota Begomovirus lainnya. Analisis sekuen asamamino menunjukkan adanya keragaman genetik dari isolat-isolatToLCV Indonesia. Isolat-isolat tersebut homolog dengan Ageratumyellow vein virus (AYVV). Dengan teknik modifikasi gen (rekayasagenetik) telah berhasil memanfaatkan gen AV1 (coat protein) dariToLCV untuk menghasilkan tanaman tembakau tahan terhadapToLCV. Teknik modifikasi gen memberikan peluang yang besaruntuk mengembangkan tanaman tomat tahan ToLCV dan berperanpenting dalam pembangunan pertanian modern di masa mendatang.
PERKEMBANGAN PENELITIAN, FORMULASI, DAN PEMANFAATAN PESTISIDA NABATI Wiratno .; Siswanto .; Iwa M. Trisawa
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n4.2013.p150-155

Abstract

Meningkatnya kesadaran masyarakat dunia akan produk pertanianyang bebas residu pestisida mendorong para ahli mempelajarikemungkinan substitusi penggunaan pestisida sintetis denganpestisida nabati. Penggunaan pestisida sintetis selain meninggalkanresidu yang berbahaya bagi kesehatan manusia maupun hewan, jugamenyebabkan resistensi dan resurgensi hama, terbunuhnya musuhalami baik serangga parasit maupun predator, dan mengakibatkanpencemaran air, tanah, dan udara yang pada akhirnya dapatmengganggu keseimbangan ekosistem. Penggunaan rodentisida,moluskisida, akarisida, dan nematisida sintetis yang kurang bijaksanadisinyalir mengakibatkan berbagai dampak yang merugikan bagilingkungan. Oleh karena itu, sudah saatnya dicari bahan pengendalihama yang efektivitasnya setara dengan pestisida sintetis namunlebih aman bagi organisme hidup maupun lingkungan. Pemanfaatanpestisida nabati diyakini mampu menjawab permasalahan tersebutkarena tersusun dari senyawa tanaman yang mudah terurai. Hasilpenelitian mengindikasikan spesies-spesies tanaman yang tumbuhdi Indonesia seperti cengkih, mimba, serai wangi, jeringo, tembakau,pyrethrum, kunyit, dan jarak pagar dapat dimanfaatkan untukmengendalikan hama dan penyakit tanaman. Untuk meningkatkanefektivitas pengendalian dan mempermudah penggunaan, bahantanaman tersebut diformulasi menjadi pestisida yang siap pakai.Untuk memperoleh manfaat yang optimal, penggunaan pestisidanabati sebaiknya ditujukan untuk mencegah terjadinya serangan,bukan untuk tindakan pengendalian.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2013 2013


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue