cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015" : 5 Documents clear
PERAN THIDIAZURON DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN PROLIFERASI TANAMAN SECARAIN VITRO Endang Gati Lestari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n2.2015.p87-93

Abstract

Kultur jaringan tanaman merupakan teknik menumbuhkan organjaringan ataupun sel tanaman pada media kultur dalam kondisiaseptik. Keberhasilan pembentukan tunas dalam kultur jaringanbergantung pada berbagai faktor, antara lain media tumbuh, jenisdan kondisi fisiologis eksplan, serta zat pengatur tumbuh yangdigunakan. Proliferasi tunas pada tanaman berkayu biasanya sangatlambat, sedangkan aplikasi zat pengatur tumbuh sitokinin darigolongan benzil adenin dan kinetin belum dapat memacupembentukan tunas secara optimal. Penemuan senyawa baruthidiazuron pada tahun 1976 dapat mengatasi proliferasi tunas padaberbagai tanaman, khususnya tanaman berkayu. Thidiazuronmerupakan senyawa kimia yang mempunyai aktivitas hampir samadengan sitokinin, yaitu dapat meningkatkan proliferasi tunas danpembentukan embrio somatik. Thidiazuron mempunyai aktivitastinggi pada konsentrasi rendah, yaitu sekitar 0,1-0,5 mg/l.Pemanfaatan thidiazuron dalam penelitian kultur jaringan terusmeningkat yang dapat dilihat dari jumlah publikasi yangditerbitkan. Data ISI Web Science menunjukkan bahwa pada tahun1992 terdapat 45 hasil penelitian tentang thidiazuron, tahun 2005sebanyak 80 publikasi, dan tahun 2009 meningkat menjadi 100publikasi.
PENGELOLAAN HAMATHRIPS PADA KACANG HIJAU MELALUI PENDEKATAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU S.W. Indiati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n2.2015.p51-60

Abstract

Thrips Megalurothrips usitatus (Bagnall) merupakan salah satuhama utama pada kacang hijau, terutama pada musim kemarau.Kehilangan hasil kacang hijau akibat thrips mencapai 67%sehingga pengendalian thrips sangat diperlukan. Pengelolaan hamathrips secara terpadu perlu digalakkan untuk mengurangi dampaknegatif penggunaan insektisida kimia. Strategi pengendalian thripsmelalui pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT) dapatdilakukan melalui sanitasi lingkungan sebelum tanam, pengaturanwaktu tanam, dan budi daya tanaman sehat. Varietas Vima 2 yangtoleran thrips saat berbunga dan penggunaan mulsa dapatdikembangkan di beberapa daerah endemis thrips. Kombinasipenyemprotan insektisida fipronil 2 ml/l pada 10 hari setelah tanam(HST) dilanjutkan dengan insektisida nabati pada 17, 24, dan 31HST efektif mengendalikan thrips selama fase vegetatif dan dapatdipadukan dengan varietas Vima 2. Efektivitas pengendalian dapatditingkatkan bila insektisida nabati disemprotkan pada 24 dan 31HST dipadukan dengan insektisida fipronil 2 ml/l dua kali pada 10dan 17 HST. Kedua paket pengendalian tersebut efektif menekanintensitas serangan thrips, meningkatkan hasil 47-77%, serta menghematpenggunaan insektisida 50-75%. Perpaduan penggunaanvarietas Vima 2 dan aplikasi insektisida kimia berbahan aktif fipronilatau imidakloprid 2 ml/l pada 10, 17, 24, dan 31 HST konsistenefektif menekan serangan thrips dan meningkatkan hasil antara150-175%.
POTENSI PENGEMBANGAN TANAMAN PANGAN PADA KAWASAN HUTAN TANAMAN RAKYAT Zainal Abidin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n2.2015.p71-78

Abstract

Peningkatan produksi pangan menjadi salah satu target pemerintahdalam RPJM 2015-2019. Selama ini lahan sumber produksi panganutama ialah lahan kering dan lahan sawah yang luasnya terusmengalami penurunan. Hutan Tanaman Rakyat (HTR) yangdicanangkan oleh pemerintah sebagai bagian dari upaya peningkatanproduksi kayu dapat menjadi sumber baru produksi pangannasional. Tanaman pangan dapat ditanam sebagai tanaman sela diantara tanaman kehutanan. Pada kawasan HTR terdapat berbagaifaktor pembatas pertumbuhan dan produksi tanaman di antaranyacahaya matahari, ketersediaan air, dan kesuburan tanah. Berkaitandengan hal tersebut, strategi pengembangannya ialah 1) pengembanganvarietas toleran naungan, misalnya untuk padi gogo varietasSitu Bagendit, Batu Tegi, Situ Patenggang, dan Limboto yang mampuberproduksi antara 2,41-4,37 t/ha; kedelai varietas Dena 1 danDena 2 dengan rata-rata hasil 1,69 dan 1,35 t/ha, serta beberapavarietas jagung yang mampu menghasilkan jagung kering pipil 3,9t/ha pada kondisi naungan 60%, 2) pengembangan berbasiskonservasi dengan menerapkan beberapa prinsip di antaranyapembuatan teras, guludan, rorak, pemanfaatan mulsa danpenanaman rumput, 3) pemanfaatan teknologi embung untukmenyimpan air hujan, dan 4) pengembangan terintegrasi denganternak dengan memanfaatkan serasah tanaman pangan untukpakan. Pemanfaatan lahan HTR sekitar satu juta ha (20% dari totalluas HTR saat ini) dapat memberikan tambahan produksi padi 1,5juta ton beras atau 3,9 juta ton jagung pipil atau 1,35 juta ton kedelai.
BIOLOGI, GEJALA SERANGAN, DAN PENGENDALIAN HAMA BUBUK JAGUNG Sitophilus zeamais MOTSCHULSKY (COLEOPTERA: CURCULIONIDAE) Nonci, Nurnina; Muis, Amran
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n2.2015.p61-70

Abstract

Salah satu kendala dalam penyimpanan jagung adalah serangan hamagudang. Salah satu hama gudang jagung adalah Sitophilus zeamaisMotschulsky (Coleoptera: Curculionidae). Hama ini ditemukan didaerah panas maupun lembap. Hama ini bersifat polifag, dapatmerusak serealia seperti beras/gabah, jagung, gandum, dan sorgum,namun dilaporkan sebagai hama penting pada jagung. Kehilanganhasil jagung di wilayah tropis akibat S. zeamais berkisar antara 30-100%. Biji jagung yang disimpan selama 6 bulan menunjukkankerusakan 85% dan bobot biji menyusut 17%. Telur hama tersebutdiletakkan di dalam biji dan dalam beberapa hari akan menetasmenjadi larva. Larva menyelesaikan siklus hidupnya di dalam biji.Telur berwarna putih bening, berbentuk lonjong, lunak dan licin,berukuran 0,7 mm x 0,3 mm. Larva berwarna putih kekuningan,tidak bertungkai, kepala berwarna cokelat, terdiri atas empat instar,panjang 1,5–4 mm. Periode larva berlangsung 25 hari. Imago S.zeamais berukuran 3-4,5 mm. Hama S. zeamais dapat dikendalikandengan cara: 1) menyimpan jagung dalam wadah maupun gudangsecara higienis, 2) menanam varietas tahan, 3) menggunakanmusuh alami yaitu parasit, predator, dan patogen, seperti parasitoidLariophagus distinguendus dan Anisopteromalus calandrae, sertapatogen Beauveria bassiana, 4) memanfaatkan insektisida nabatiyang memiliki toksisitas tinggi terhadap S. zeamais, yaitu Ageratumconnyzoides (bandotan), Andropogon nardus (serai), Allium sativum(bawang merah), Nicotiana tabacum (tembakau), Zingiber officinale(jahe), dan Azadirachta indica (mimba), serta 5) menyemprotkaninsektisida sintetis metil pirimifos.
KUALITAS DAN PRODUKTIVITAS SUSU KAMBING PERAH PERSILANGAN DI INDONESIA S. Rusdiana; L. Praharani; Sumanto Sumanto
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v34n2.2015.p79-86

Abstract

Susu kambing perah disukai masyarakat karena bergizi tinggi danberkhasiat sebagai obat penyakit tertentu. Produksi susu kambingIndonesia berasal dari induk kambing luar negeri, dan kambing perahperanakan yang sudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan tropisdi Indonesia. Kambing yang dibudidayakan untuk produksi susu dandaging adalah kambing peranakan etawa (PE), saanen, anglo nubian,dan sapera. Kambing PE paling banyak dipelihara peternak, tetapiproduksi susunya belum optimal. Produksi susu kambing PE ratarata857,3 ml/ekor/hari, kambing sapera 1.470 ml/ekor/hari, dankambing anglo nubian 1.190 ml/ekor/hari. Produksi susu kambingsapera lebih tinggi dibandingkan dengan kambing PE dan anglonubian, namun komposisi kimiawi (protein, laktosa) susu kambingsapera lebih rendah dibandingkan dengan kambing PE dan anglonubian. Demikian pula puncak produksi susu kambing induk sapera(2.190 ml/ekor/hari) lebih tinggi dibandingkan dengan kambinganglo nubian (1.980 ml/ekor/hari), dan PE (1.217 ml/ekor/hari).Kualitas dan komposisi susu kambing mirip dengan air susu ibu (ASI)dan susu kambing dapat digunakan sebagai pengganti ASI. Adanyapeluang bisnis dari meningkatnya permintaan susu kambing danharga susu kambing yang cukup tinggi telah menarik banyak oranguntuk membudidayakan kambing perah.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue