cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
Penggunaan Varietas unggul Tahan Hama dan Penyakit Mendukung Peningkatan Produksi Padi Nasional Syahri .; Renny Utami Somantri
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n1.2016.p25-36

Abstract

Varietas unggul memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan produksi padi. Sumbangan penggunaan varietas unggul terhadap peningkatan produksi padi nasional mencapai 56%, sementara interaksi antara air irigasi, varietas unggul, dan pemupukan terhadap laju kenaikan produksi padi memberikan kontribusi hingga 75%. Penggunaan varietas unggul juga berkontribusi terhadap penurunan penggunaan pestisida. Namun, penggunaan varietas unggul di tingkat petani masih rendah. Beberapa faktor yang menghambat pengembangan varietas unggul ialah anggapan bahwa keunggulan varietas baru tidak sebanding dengan varietas yang ada, industri benih belum berminat mengembangkan varietas unggul, dan terbatasnya benih sumber untuk perbanyakan benih secara komersial. Tingkat komersialisasi varietas unggul dipengaruhi oleh produktivitas, kesesuaian mutu produk dengan selera konsumen, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta harga jual. Untuk mendukung percepatan adopsi varietas unggul padi, perlu kebijakan dalam bentuk peraturan daerah peningkatan produksi padi, jaminan sumber permodalan, penyediaan input terutama benih sumber, jaminan pemasaran dan harga jual gabah, kemitraan yang harmonis antarpemangku kepentingan, penguatan yang menarik hubungan dengan sumber informasi teknologi dan pasar output, reformasi, reorientasi dan revitalisasi kelembagaan petani, penguatan kelembagaan penyuluhan, serta pendekatan kepada tokohmasyarakat.
GREENHOUSE GAS EMISSIONS AND LAND USE ISSUES RELATED TO THE USE OF BIOENERGY IN INDONESIA Muhrizal Sarwani; Neneng Laela Nurida; Fahmuddin Agus
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v32n2.2013.p56-66

Abstract

Biofuel use is intended to address the ever-increasing demand for and scarcer supply of fossil fuels. The recent Indonesia government policy of imposing 10% mixing of biodiesel into petroleum-based diesel affirms the more important biofuel role in the near future. Palm oil, methane from palm oil mill effluent (POME) and animal wastes are the most prospective agricultural-based biofuels. The production and use of palm oil is interlinked with land use and land use change (LULUC), while the use of methane from POME and animal wastes can contribute in reducing emissions. The current European Union (EU) and the potential United States (US) markets are imposing biodiesels’ green house gas (GHG) emission reduction standards (ERS) of 35% and 20%, respectively relative to the emissions of petroleum-based diesel based on using the lifecycle analysis (LCA). EU market will increase the ERS to 50% starting1 January 2017, which make it more challenging to reach. Despite controversies in the methods and assumptions of GHG emission reduction assessment using LCA, the probability of passing ERS increases as the development of oil palm plantation avoid as much as possible the use of peatland and natural forests. At present, there is no national ERS for bioenergy, but Indonesia should be cautious with the rapid expansion of oil palm plantation on existing agricultural lands, as it threatens food security. Focusing more on increasing palm oil yield, reducing pressure on existing agricultural lands for oil palm expansion and prioritizing the development on low carbon stock lands such as grass- and shrublands on mineral soils will be the way forward in addressing land scarcity, food security, GHG emissions and other environmental problems. Other forms of bioenergy source, such as biochar, promise to a lesser extent GHGemission reduction, and its versatility also requires consideration of its use as a soil ameliorant.
Kesiapan Penerapan Teknologi Sambung Samping untuk Mendukung Program Rehabilitasi Tanaman Kakao Jermia Limbongan
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v30n4.2011.p156-163

Abstract

Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu komoditas unggulan sebagai sumber pendapatan, devisa, danpenyedia lapangan kerja. Program rehabilitasi tanaman kakao sebagai bagian dari Gernas Kakao bertujuan untukmeningkatkan produksi dan kualitas kakao. Untuk mendukung program rehabilitasi tanaman kakao, Badan Penelitiandan Pengembangan Pertanian telah menyediakan teknologi somatic embryogenesis (SE) yang dapat menyediakanbibit dalam jumlah banyak dalam waktu relatif singkat. Selain itu, juga telah tersedia teknologi sambung samping(side-cleft-grafting) yang dapat digunakan untuk merehabilitasi tanaman kakao tua yang tidak produktif. Teknologisambung samping mudah diterapkan, murah, dan dapat meningkatkan pendapatan petani. Untuk menerapkanteknologi sambung samping telah tersedia berbagai klon unggul yang memiliki produktivitas tinggi serta tahanterhadap hama penyakit sebagai sumber entres di setiap daerah pengembangan, seperti klon ICS 13, ICS 60,Hibrida, Sulawesi 1, Sulawesi 2, RCC 70, ICCRI 03, ICCRI 04, Polman, M 01, dan Luwu Utara. Tingkat keberhasilanpenerapan teknologi sambung samping sangat bergantung pada jenis entres yang digunakan, umur entres, ketersediaanentres dalam jumlah yang memadai dan dekat lokasi pengembangan, kemampuan dan keterampilan petani dalammelakukan penyambungan, serta kondisi cuaca pada saat penyambungan. Petani diharapkan tertarik untukmelakukan rehabilitasi tanaman kakao dengan teknik sambung samping karena tanaman kakao lebih cepatberproduksi dan pendapatan pada tahun kelima mencapai 1,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan yang diperolehmelalui penanaman biasa.
Upaya Mempertahankan Eksistensi Cengkeh di Provinsi Maluku Melalui Rehabilitasi dan Peningkatan Produktivitas Agung Budi Santoso
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n1.2018.p26-32

Abstract

ABSTRACTClove is one of the commodities that continually contributes to both income national and local levels, as export commodities or fulfills domestic demand. Clove developed at moluccas first in Indonesia, namely; Bacan, Makian, Moti, Ternate, and Tidore. Moluccas have cultivated clove for generations and have high diversity of clove genetic resources. Several famous indigenous cloves are AFO, Tibobo, Tauro, Sibela, Indari, Air mata, Dokiri, Daun Buntal, and others. In addition, there are clove cultivation, namely; Zanzibar, Siputih, Sikotok, and Ambon. Diversity of varieties and agro- ecological conditions makes Moluccas be largest production of clove after South Sulawesi. Due to various constraints, clove production  is  estimated  decreased.  This  is  due  to  lack  of rehabilitation of plants as the impact of low prices or lack of technology  introduction.  This  paper  describes  about  clove production in Maluku with and without rehabilitation. Based on the results of dynamic systems  model, clove production  was projected decline until 15 to 30 years. Efforts to maintain clove existence as clove producer and increase of productivity should be done  immediately  by  plant  rehabilitation  in  the  long  term. Rehabilitation efforts by replacing old plant and replacement 10% of degraded land per year will fulfill the cloves of demand whichincreased 1.5% per year. Plant rehabilitation must be accompanied with increasing productivity in the short term through fertilization to repair the damage crops after harvest.Keywords:  Cloves, crop area, rehabilitation, productivit ABSTRAKCengkeh  merupakan  salah  satu  komoditas  perkebunan  yang memberikan kontribusi terhadap pendapatan nasional maupun daerah secara berkelanjutan, baik sebagai komoditas ekspor maupun untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Cengkeh berkembang pertama kali di lima pulau kecil di Maluku, yakni  Bacan, Makian, Moti,  ternate,  dan  Tidore.  Masyarakat  maluku  telah  mem- budidayakan cengkeh secara turun temurun dan Maluku memiliki keragaman sumber daya genetik cengkeh yang tinggi. Cengkeh asli Maluku yang banyak dikenal adalah  cengkeh AFO, Tibobo, Tauro, Sibela, Indari, Air mata, Dokiri, dan Daun Buntal, sedangkan cengkeh budi daya yaitu Zanzibar, Siputih, Sikotok, dan Ambon. Keanekaragaman  varietas  dan  kondisi  agroekologi  yang mendukung menjadikan Maluku sebagai produsen cengkeh terbesar di Indonesia setelah Sulawesi Selatan. Produksi cengkeh di Maluku pada masa mendatang diperkirakan akan terus menurun karena berbagai kendala, terutama akibat minimnya peremajaan atau rehabilitasi tanaman rusak karena ditinggalkan petani sebagai dampak  rendahnya harga atau minimnya  introduksi teknologi sehingga produktivitas tanaman rendah. Tulisan ini menjelaskan proyeksi produksi cengkeh Maluku dengan dan tanpa rehabilitasi. Berdasarkan hasil analisis model sistem dinamis diproyeksikan penurunan produksi cengkeh terus berlanjut hingga 15 sampai 30 tahun  mendatang.  Upaya  mempertahankan  eksistensi  Maluku sebagai penghasil cengkeh dan peningkatan produksi harus segera dilakukan terutama dengan cara rehabilitasi tanaman dalam jangka panjang. Upaya rehabilitasi dengan cara mengganti tanaman tua danmempebaiki 10% lahan rusak per tahun akan memenuhi permintaan cengkeh yang meningkat 1,5% per tahun. Rehabilitasi tanaman harus diiringi dengan upaya peningkatan produktivitas melalui pemupukan guna memperbaiki kerusakan tanaman setelah panen dan dilakukan dalam jangka pendek.Kata  kunci: Cengkeh,  areal  pertanaman,  rehabilitasi, produktivita
PELUANG DAN KENDALA PENGEMBANGAN ITIK SERATI SEBAGAI PENGHASIL DAGING Suryana Suryana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v27n1.2008.p24-30

Abstract

Probability and constraint of mule duck development for meat production The demand for meat in South Kalimantan increases in line with the increasing of population, income, and people awareness on the role of animal protein for health. Meat supply is mainly originated from cattle and poultry. The alternative source of meat is mule duck, that is a crossing between muscovy and common duck. Mule duck has a potential to produce high quality meat and could be adapted with environment, resistant to disease, and could utilize low quality feed to become high quality meat. Mule duck farming in South Kalimantan is still conducted traditionally. This paper reviewed probability and constraint of mule duck development as meat source. The main constraints in mule duck development are supply of day old duck ( DOD ) , formulated feed supply, and postharvest handling. The increasing supply of DOD could be conducted by using artificial insemination and feed quality improvement with utilizating local feedstuffs by considerating nutrient value balances. Mule duck development should considerate farming location, the model of agribusiness development, marketing, farm scale, and continuity of feed supply.Keywords: Mule duck, productivity, meat production
Tungau Puru (Eryophyes Gastroticus Nalepa) Pada Ubijalar Dan Teknologi Pengendaliannya S. W. Indiati
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v36n1.2017.p39-46

Abstract

Gall mites Eryophyes gastroticus is a pest of sweet potato in dry season and has spread in some production centers in Indonesia. The symptoms of the attack is characterized by galls on leaf, petiole and stem, with a narrow hole at the top of the galls. Estimated yield loss caused by the pest was accounted 11%. On the other hand, the gall mite attacks decrease the quality of stem cuttings as a planting material. The use of gall-free cuttings, sanitation, setting planting time; mechanical control, and using chemical or botanical pesticides, either in combination or a single application are suggested to control the pest.Keywords: Sweet potato, gall mites, Eryophyes gastroticus, control ABSTRAKTungau puru (gall mite) merupakan hama ubi jalar pada musim kemarau dan telah menyebar di berbagai sentra produksi ubi jalar di Indonesia. Gejala serangan ditandai dengan terbentuknya puru atau benjolan pada daun, tangkai daun, dan batang dengan bagian ujung puru terdapat lubang kecil. Serangan tungau puru menurunkan hasil ubi jalar sekitar 11%. Selain menurunkan hasil umbi, serangan puru juga menyebabkan petani sulit memperoleh setek sehat sebagai bahan perbanyakan tanaman. Tungau puru dapat dikendalikan dengan memadukan beberapa komponen pengendalian, antara lain penggunaan setek batang bebas puru, sanitasi lingkungan, pengaturan waktu tanam, pengendalian mekanis, dan pengendalian dengan pestisida nabati ataupun kimia.Kata kunci: Ubi jalar, tungau puru, Eryophyes gastroticus, pengendalian
Kandungan Bahan Aktif TanKandungan Bahan Aktif Tanaman Pegagan Dan Khasiatnya Untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuhaman Pegagan dan Khasiatnya untuk Meningkatkan Sistem Imun Tubuh Sutardi Sutardi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n3.2016.p121-130

Abstract

ABSTRACTPegagan (Centella asiatica (L) Urban) is a herb that is usually used as traditional medicine for various types of diseases. The plant contains three bioactive compounds, namely triterpenoid, steroid, and saponin, antioxidants those are beneficial for health. Pegagan plant is useful as a raw material for anti-dementia and anti-stress, drugs for weak nerves, fever, bronchitis, diabetes, psichoneurosis, hemorrhoids, and high blood pressure, and for increasing appetite and maintain the vitality. Pegagan also contains mineral salts such as potassium, sodium, magnesium, calcium and iron, phosphorus, essential oils, pectine, amino acids and vitamin B, and bitter substance vellarine. Based on the contents of active compounds and its use for increasing human health, information on phytochemicals and the body,s immune system, as well as prospect of pegagan development in Indonesia is required.Keywords: Centella asiatica, triterpenoid, steroid, saponin, medicine traditional, immuneAbstrakPegagan (Centella asiatica (L.) Urban) merupakan tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk menyem-buhkan berbagai penyakit. Pegagan mengandung bahan aktif alkaloid, saponin, tanin, flavonoid, steroid, dan triterpenoid. Tiga golongan bioaktif, yaitu triterpenoid, steroid, dan saponin termasuk antioksidan yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Bahan aktif tersebut merupakan bahan baku obat tradisional yang bermanfaat sebagai antipikun, antistres, obat lemah syaraf, demam, bronkhitis, kencing manis, psikoneurosis, wasir, dan tekanan darah tinggi, serta untuk menambah nafsu makan dan menjaga vitalitas. Tanaman pegagan juga mengandung garam mineral antara lain kalium, natrium, magnesium, kalsium, dan besi, fosfor, minyak atsiri, pektin, asam amino, vitamin B, dan zat pahit vellarine. Berdasarkan kandungan bahan aktif dan manfaatnya bagi kesehatan, diperlukan informasi mengenai fitokimia dan manfaatnya bagi sistem imun tubuh, serta prospek pengembangan tanaman pegagan di Indonesia.
DAYA SAING KOMODITAS JAGUNG INDONESIA MENGHADAPI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN Zulkifli Mantau
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n2.2016.p89-97

Abstract

Indonesia merupakan produsen jagung terbesar di Asia Tenggara. Produksi jagung Indonesia mencapai 18,5 juta ton pada tahun 2013, disusul Filipina pada urutan kedua dengan total produksi 7,4 juta ton. Komoditas jagung di Provinsi Lampung memiliki keunggulan komparatif (0,33) lebih tinggi dibanding di Jawa Timur (0,44), Kalimantan Selatan (0,62), Sulawesi Utara (0,65), dan Gorontalo (0,86). Sementara itu, keunggulan kompetitif  Provinsi Jawa Timur lebih tinggi (0,45) dibanding Lampung (0,63), Kalimantan Selatan (0,56), Sulawesi Utara (0,97), dan Gorontalo (1,34). Dalam menyambut era perdagangan bebas ASEAN, Indonesia telah melahirkan regulasi penting, yaitu UU No 7 Tahun 2014 tentang perdagangan sebagai salah satu strategi untuk membendung membanjirnya produk impor masuk ke Indonesia. UU ini antara lain mengatur ketentuan umum tentang perizinan bagi pelaku usaha  dalam kegiatan perdagangan agar menggunakan bahasa Indonesia dalam pelabelan dan peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Kebijakan yang perlu ditempuh pemerintah baik di pusat maupun daerah adalah membuka seluas-luasnya iklim investasi industri jagung di Indonesia, sehingga diharapkan meningkatkan daya saing jagung Indonesia dalam menghadapi MEA. Di lain pihak, kebijakan proteksi komoditas dan produk industri jagung dalam negeri perlu dilaksanakan secara hati-hati sesuai aturan atau persyaratan WTO agar Indonesia terhindar dari klaim negara-negara pesaing.
PROGRAM PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KEDELAI DALAM PENINGKATAN PRODUKSI DAN K PENDAPATAN PETANI Amar K Zakaria
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n4.2010.p147-153

Abstract

Soybean agribusiness development program in increasing production and farmer’s income The domestic soybean production decreased continuously in the period of 19902009 in line with the sharp decline in planted area. To fulfill the domestic soybean demand, import was conducted. From the farmers’ side, the decrease in planted area shows the low participation of farmers’ in soybean planting because soybean farming is not benefited for them. Implementation of incentive policy program is one of efforts to increase soybean production towards self-sufficiency. However, increasing soybean production is not only related with the technical aspects, but it also needs strategies to strengthen farmers’ participation in soybean farming. Government policies are needed to increase farmers’ participation in soybean farming. These include improving soybean business administration, fixing floor price, intensifying extension activities, provisioning appropriate technologies, and other stimulating incentives.Keywords: Soybean agribusiness, farmers’ participation, production, income
PEMANFAATAN KOMODITAS PANGAN LOKAL SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF DI PAPUA A. Wahid Rauf; Martina Sri Lestari
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v28n2.2009.p54 - 62

Abstract

Utilization of local food as alternative food sources in PapuaPapua Province has a potential biodiversity including local food sources. Local food in Papua that has been used as main sources of carbohydrate for the local people are sago, millet, and root crops (sweet potato, taro, and yam). Root crops are mostly cultivated and consumed by local people in the lowland to highland area, while the people staying at beach area generally consume sago as a primary food. Some kinds of sweet potato, taro, and sago were adapted and consumed by local people for generation. In this case, those commodities must be developing as primary food sources for local community and also as substitute for rice. Besides utilized as primary food and important materials for ceremonial customs by local people, local foods has also been initiated for developing product diversification by home industry. This article discussed utilization of local food of Papua as an alternative food source, with main emphasize on root crops and sago, to support regional and national food security.

Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue