cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jurnallitbang@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02164418     EISSN : 25410822     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 261 Documents
Kontaminasi Mikotoksin pada Buah Segar dan Produk Olahannya serta Penanggulangannya Miskiyah, Miskiyah; Winarti, Christina; Broto, Wisnu
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n3.2010.p79-85

Abstract

Indonesia merupakan negara tropis yang memungkinkan aneka tanaman buah tumbuh dan berproduksi. Penerapan teknologi produksi dan penanganan pascapanen yang kurang memadai akan mengakibatkan inkonsistensi mutu buah yang dihasilkan. Kontaminasi mikotoksin merupakan salah satu masalah pascapanen produk pertanian di Indonesia. Penelitian mengenai kontaminasi mikotoksin pada komoditas buah di Indonesia belum banyak diungkapkan, namun penelitian sejenis sudah banyak dipublikasikan di luar negeri, terutama kontaminasi mikotoksin pada aneka buah subtropis. Beberapa jenis mikotoksin yang umumnya mencemari aneka buah subtropis dan produk olahannya adalah patulin, aflatoksin, okratoksin, dan alternariol. Genus kapang yang teridentifikasi pada buah dan berpotensi menghasilkan mikotoksin antara lain adalah Fusarium sp., Aspergillus sp., Penicillium sp., dan Alternaria sp. Penanganan pascapanen buah merupakan salah satu titik kritis terjadinya infeksi kapang penghasil mikotoksin. Penanganan buah seperti pemanenan yang tepat, penanganan pascapanen yang baik, pembuangan kotoran, dan pencucian dapat menurunkan tingkat kontaminan pada buah segar. Pada buah olahan seperti sari buah, untuk menurunkan kontaminan dapat dilakukan dengan penghilangan bagian buah yang berkapang, perlakuan enzim, dan penjernihan.
KARAKTERISTIK DAN PERMASALAHAN TANAH MARGINAL DARI BATUAN SEDIMEN MASAM DI KALIMANTAN Suharta, Nata
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n4.2010.p139-146

Abstract

Characteristics and problems of marginal soils from acid sedimentary rocks in KalimantanMarginal or suboptimal soils are potential for agricultural development such as food crops, estate crops, and industrial planted forest. These soils have low fertility status and susceptible to erosion. In Kalimantan, the marginal soils cover about 30.15 million ha or 57.22% of the total island area, with the major soils consist of Ultisols, few Oxisols, and Inceptisols. The physical properties of marginal soils from acid sedimentary rock are mostly influenced by the type of parent materials ( sandstone or claystone ) , while the chemical properties showed the similar characteristics indicating acid soil reaction, vary in organic matter, and low in cation exchange capacity, exchangeable bases, base saturation, mineral reserve, as well as P and K potentials, but the Al saturation is high. Agricultural development on these soils, other than the physical and chemical properties, should consider the relief condition. The areas with flat to undulating relief are recommended for perennial or food crops, while the annual or estate crops and industrial planted forest can be developed until the hilly area. Land management such as fertilization to improve nutrient status, liming to increase soil reaction and to decrease Al reactivity, and soil conservation practice were recommended. In this time, most of the marginal soils were utilized for estate crops development, such as oil palm, rubber, pepper, and industrial planted forest, and only a limited area for food crops.Keywords: Marginal soil, acid sedimentary rock, Ultisols, Oxisols, Inceptisols, Kalimantan
PERKEMBANGAN DAN PROSPEK PERAKITAN PADI TIPE BARU DI INDONESIA Abdullah, Buang; Tjokrowidjojo, Soewito; Sularjo, Sularjo
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v27n1.2008.p1-9

Abstract

Development and prospect of new plant type of rice in IndonesiaNew plant type of rice (NPT) has higher yield potential than that of existing high-yielding varieties. Therefore, it is urgent to develop rice varieties having high yield potential to increase rice yield and production. Development of NPT in Indonesia has been started in 1995. Four NPT varieties were released, namely Cimelati (2001) , Gilirang (2002) , Ciapus (2003) , and Fatmawati (2003) . However, those varieties still have disadvantages, such as few tillers and high sterility, and consequently their yield potential are not as high as proposed. NPT which is suitable to Indonesia as a tropical country and pest and disease are still major problem, should have short and sturdy stems(80-100 cm), 12–18 tillers, 150–250 grains/panicle, 85–95% filled grain, weight of 1,000 grains 25-26 g, early maturity (110–120 days) , erect, thick, dark green and have V form leaves, 2-3 leaves stay-green at filing grain stage, long-deep root system, resistant to major pests and diseases, slender grains, and good grain and cooking quality. NPT having those characters could yield 9–13 t/ha and more stable in productivity. In 2001, the NPT development has being intensified by utilizing various gene sources from indica, japonica, and wild species of rice. A number of advanced lines have been produced having better characters than that of NPT varieties released such as better grain filling and resistance against major insects and diseases. Since 2004, recurrent selection and anther culture methods have been implemented to harness NPT development. Elit lines having high yield potential have been produced by using these methods.Keywords: Rice, selection, yield, anther culture, double haploid
PENGENDALIAN PENYAKIT TANAMAN PADI BERWAWASAN LINGKUNGAN MELALUI PENGELOLAAN KOMPONEN EPIDEMIK Nuryanto, Bambang
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v37n1.2018.p1-8

Abstract

                                                          ABSTRAKControl of rice diseases still rely on the use of synthetic chemical pesticides are relatively expensive so that control costs increase, reaching 25% of total production costs. In addition, the use of pesticides has been proven to pollute the environment, especially if applied in an uncontrolled manner. Environmental manipulation or ecological engineering has the potential to suppress the development of plant diseases. This can be done by selectively managing the cultivated components, including the selection of resistant varieties, the use of healthy seeds, perfect soil preparation, the use of organic materials, the simultaneous cultivation at the right time, balanced fertilization and regulation of irrigation crops. In addition to effective, disease control technology based on epidemic components can also reduce production costs by 60% and reduce the yield rate of rice up to 30%. Application of environmentally friendly disease control technology has many advantages in supporting the growth of rice plants. Development of ecology-based rice disease control technology at farmer level require field supervision or through a comprehensive field school.Keywords: Rice plant, disease control, ecology, epidemic ABSTRAKPengendalian penyakit tanaman padi hingga kini masihmengandalkan penggunaan pestisida kimia sintetik yang relatifmahal sehingga biaya pengendalian meningkat, mencapai 25% daritotal biaya produksi. Selain itu, penggunaan pestisida sudah terbuktimencemari lingkungan, terutama jika diaplikasikan secara tidakterkendali. Manipulasi lingkungan atau rekayasa ekologi berpeluangmenekan perkembangan penyakit tanaman. Hal ini dapatdilakukan dengan mengelola komponen budi daya secara selektif,di antaranya pemilihan varietas tahan, penggunaan benih sehat,pengolahan tanah sempurna, penggunaan bahan organik,keserempakan tanam pada waktu yang tepat, pemupukanberimbang dan pengaturan pengairan tanaman. Selain efektif,teknologi pengendalian penyakit berdasarkan komponen epidemikini juga dapat menekan biaya produksi hingga 60% dan mengurangitingkat kehilangan hasil padi sampai 30%. Penerapan teknologipengendalian penyakit ramah lingkungan ini memiliki berbagaikelebihan dalam mendukung pertumbuhan tanaman padi.Pengembangan teknologi pengendalian penyakit tanaman padiberbasis ekologi di tingkat petani memerlukan pendampingan dilapangan atau melalui sekolah lapangan yang komprehensifKata kunci: Padi, pengendalian penyakit, ekologi, epidemik
Spesies Padi Liar (Oryzaspp.) Sebagai Sumber Gen Ketahanan Cekaman Abiotik Dan Biotik Pada Padi Budi Daya Suhartini, Tintin
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n4.2016.p197-207

Abstract

ABSTRACTWild rice species could be used  for improvement of rice varieties because they have a good character for resistance to biotic and abiotic stresses. Some of Indonesian wild rice species are Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon and O. schlechteri. IRRI has a collection of 2,500 accesions of wild rice and 18 species were collected in ICABIOGRAD, Bogor. Some species of wild rice are known to have resistance genes to biotic and abiotic stresses. A number ofaccessions of O.  officinalis contained resistance gene to brown planthopper, blast disease, bacterial leaf blight (BLB) and sheath rot. One of the species that has resistance to pests and diseases is O. minuta. The resistance to tungro virus occurs in O. punctata. Tolerance to drought, Al and Fe toxicities occurs in wild rice species of O. sativa genome AA group. Resistance genes from wild rice species can be inserted into cultivated rice through conventional techniques in combination with biotechnology, while gene transfer and gene detection from wild rice to cultivated rice can be done through cross breeding, molecular markers, backcrossing and embryo rescue. The success of introgression of resistance genes from wild rice species to cultivated rice will increase genetic diversity of rice. As an example O. minuta has been implemented in introgression of BLB resistance gene on IR64. Introgression of O. nivara gene in IRRI had improved some superior rice varieties in Indonesia, namely IR30, IR32, IR34, IR36 and IR38, which were tolerant to brown planthopper, dwarf virus and bacterial leaf blight. Oryza rufipogon wich has BLB and blast resistance gene has been used for improvement of new varieties Inpari Blas and Inpari HDB which were released in 2013.Keywords: Oryza spp., varietal improvement, resistance genes, biotic stresses, abiotic stressesAbstrakSpesies padi liar dapat dimanfaatkan dalam perakitan varietas unggul karena memiliki gen ketahanan terhadap cekaman biotik dan abiotik. Spesies padi liar yang ada di Indonesia adalah Oryza meyeriana, O. granulata, O. longiglumis, O. officinalis, O. ridleyi, O. rufipogon, dan O. schlechteri. IRRI memiliki koleksi 2.500 aksesi padi liar dan 18 spesies dikoleksi di BB Biogen. Sejumlah aksesi O. officinalis memiliki gen ketahanan terhadap wereng coklat, penyakit blas, hawar daun bakteri (HDB), dan busuk pelepah. Salah satu spesies yang memiliki ketahanan terhadap hama-penyakit tersebut adalah O. minuta. Ketahanan terhadap virus tungro terdapat pada O. punctata. Toleransi terhadap kekeringan, keracunan Al, dan Fe terdapat pada spesies padi liar kelompok O. sativa genom AA. Gen ketahanan dari spesies padi liar dapat dimasukkan (introgresi) ke dalam padi budi daya melalui teknik konvensional yang dikombinasikan dengan bioteknologi, sementara transfer gen dapat melalui persilangan, marka molekuler, silang balik, dan penyelamatan embrio. Keberhasilan introgresi gen ketahanan dari spesies padi liar ke padi budi daya akan meningkatkan keragaman genetik tanaman. Spesies padi liar O. minuta telah dimanfaatkan dalam introgresi gen ketahanan HDB pada varietas IR64. Introgresi gen asal O. nivara di IRRI menambah varietas unggul di Indonesia, yaitu IR30, IR32, IR34, IR36, dan IR38, yang toleran terhadap wereng coklat, virus kerdil rumput, dan HDB. Spesies padi liar O. rufipogon yang memiliki gen ketahanan HDB dan blas telah digunakan dalam pembentukan varietas unggul baru Inpari HDB dan Inpari Blas yang dilepas pada 2013.
Keragaman Genetik dan Potensi Pengembangan Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) di Indonesia Krisnawati, Ayda
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 29, No 3 (2010): September 2010
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v29n3.2010.p113-119

Abstract

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus L.) merupakan tanaman tropis yang memiliki banyak fungsi, yakni sebagai bahan pangan bernutrisi prima dan sebagai tanaman penutup tanah. Seluruh bagian tanaman dapat dikonsumsi dan kaya akan protein. Tanaman kecipir juga berguna sebagai penyubur tanah, bahan pakan ternak, obat tradisional, dan pengendali erosi di lahan kering. Pusat asal-usul kecipir adalah Papua Nugini, Mauritius, Madagaskar, dan India, sedangkan pusat keanekaragaman terbesar terdapat di Papua Nugini dan Indonesia. Makalah ini mengulas keragaman genetik kecipir di Indonesia, multifungsi kecipir, dan prospek pengembangannya. Ragam kecipir di Indonesia cukup banyak, namun karakterisasi plasma nutfah kecipir di Indonesia belum dilakukan. Ciri pemertela kecipir telah dibuat oleh IBPGR, dan panduan pemertela tersebut dapat diterapkan untuk karakterisasi plasma nutfah kecipir di Indonesia. Prospek pengembangan kecipir di Indonesia cukup besar ditinjau dari ragam pemanfaatannya, kandungan nutrisi, maupun dari aspek ekologis yang sangat sesuai dengan wilayah Indonesia.
Peluang Peningkatan Produksi Padi Di Lahan Rawa Lebak Lampung Pujiharti, Yulia
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v36n1.2017.p13-20

Abstract

Opportunity to Increase Rice Production in Fresh Water Swampy Land in LampungThe area of fresh water swampy land in Lampung in 2012 was 55,714 ha with rice productivity of 5.13 t/ha so it is possible to be increased. The article discusses opportunity to increase rice production in fresh water swampy land in Lampung. Increasing rice yield can be done by enhancing cropping index and land productivity, lowering yield gap and decreasing yeld loss. Cropping index in fresh water swampy land can be increased by cultivating rice with surjan system, while rice yield is increased by integrated crop management (ICM) which its components include the use of improved varieties, planting with legowo 2: 1 or 4: 1, fertilizer application according to plant need, water management to prevent rice plant from submerging or drought, and integrated pest management. Rice yield gap is decreased by implementing location specific technologies and intensifying counseling to farmers, while yield loss is lowered by applying integrated pest management and using agricultural tools and machineries in rice farming. These production increases have an impact on the regional and national food availability in an effort to achieve rice self-sufficiency.Keywords: Rice, production, fresh water swampy land, growth sourceABSTRAKLuas lahan rawa lebak di Provinsi Lampung pada tahun 2012 mencapai 55.714 ha dengan tingkat produktivitas padi 5,13 t/ha sehingga masih berpeluang ditingkatkan. Tulisan ini membahas peluang peningkatan produksi padi di lahan rawa lebak di Lampung. Peningkatan produksi dapat dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas lahan, mengurangi senjang hasil, dan menurunkan kehilangan hasil. Indeks pertanaman di lahan rawa lebak dapat ditingkatkan dengan menerapkan sistem surjan. Sementara produktivitas ditingkatkan melalui pengelolaan tanaman terpadu (PTT) dengan komponen teknologinya antara lain penggunaan varietas unggul baru, cara tanam legowo 2:1 atau 4:1, pemberian hara sesuai kebutuhan tanaman, pengelolaan tata air sehingga tanaman padi terhindar dari terendam atau kekeringan, serta pengelolaan hama dan penyakit secara terpadu. Penurunan senjang hasil dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi spesifik lokasi dan mengintensifkan penyuluhan ke petani. Sementara kehilangan hasil dapat dikurangi melalui penerapan pengelolaan hama dan penyakit secara terpadu dan penggunaan alat dan mesin pertanian pada kegiatan usaha tani. Peningkatan produksi ini akan berdampak pada peningkatan ketersediaan pangan daerah dan nasional dalam upaya mencapai swasembada beras.Kata Kunci: Padi, produksi, rawa lebak, sumber pertumbuhan 
POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN USAHA TANI TERPADU BERBASIS KAWASAN DI LAHAN RAWA Suryana, Suryana
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v35n2.2016.p57-68

Abstract

Ketersediaan lahan kering dan lahan sawah untuk pengembangan pertanian menurun signifikan antara lain karena alih fungsi lahan untuk keperluan nonpertanian. Di sisi lain, produksi komoditas pertanian perlu ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat. Tulisan ini membahas potensi lahan rawa untuk pengembangan usaha tani terpadu secara berkelanjutan. Luas lahan rawa di Indonesia mencapai 34,93 juta ha. Di Kalimantan Selatan, luas lahan rawa tercacat 4.969.824 ha, terdiri atas lahan rawa pasang surut, lahan gambut, dan rawa lebak yang berpotensi untuk pengembangan pertanian terpadu berbasis kawasan. Per-masalahan dalam pemanfaatan lahan rawa adalah miskin hara, bersuasana anaerob, banyak yang bergambut tebal, berpirit dan bila dialihfungsikan akan mengeluarkan senyawa yang dapat meracuni tanaman (sulfida, besi fero, dan asam-asam organik), serta pH tanah rendah. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa, dukungan teknologi dan sumber daya manusia diperlukan melalui konsep pemanfaatan berbasis kawasan, yang terdiri atas sentra pertanian dan kawasan pertanian. Kawasan pertanian dikembangkan ber-dasarkan kelompok komoditas, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, melalui pendekatan agroekosistem, sistem agribisnis terpadu dan terintegrasi, partisipatif, dan diversifikasi. Tahapan pengembangan meliputi inisiasi, penum-buhan, pengembangan, pemantapan, dan integrasi antarkawasan. Pemanfaatan lahan rawa untuk usaha tani terpadu sangat memungkinkan dengan teknologi pengapuran (amelorasi) dan pemupukan, pemilihan komoditas adaptif di lahan rawa, serta teknologi budi daya yang bersifat ramah lingkungan.
MEMBANGUN MOMENTUM BARU PEMBANGUNAN PEDESAAN DI INDONESIA Erizal Jamal
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v28n1.2009.p7 - 14

Abstract

Developing new momentum of rural development in IndonesiaMuch has happened in the new order era of the Indonesia rural development, including the achievement of a high level of rural economic growth and the development of physical infrastructure. At the same time, Indonesia still faces enormous rural development problems especially it has been far from equitably distributed opportunity among the people to participate in the rural development process itself. When we made some comparison with South Korea, in rural development with Saemaul Undong movement, there are two problems in Indonesia rural development which it related with the loss of the rural development momentum and lack of rural individual and community development. In the beginning of 1960’s, the Indonesia rural condition was relatively same with South Korea, poor infrastructure and massive poverty in rural area. The South Korea rural development based on the systematic human resources development and invested heavily in improving the infrastructure for agriculture production. The Korea government has to ease regulations related to farmland ownership, only farmers should be allowed to own farmland. Through these programs, the number of farmers in rural areas decline sharply and average household land ownership increase in the last twenty years. To accelerate the process of rural development in Indonesia, the government needs to establish a new momentum to capture and combine the spirit of individualities and active participation of the farmers as a part of rural community.
KONSERVASI DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA GENETIK KACANG HIJAU Lukman Hakim
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jp3.v27n1.2008.p16-23

Abstract

Conservation and utilization of mungbean genetic resourcesCurrently 1,024 mungbean germplasm accessions consisted of 142 local and 833 introduced varieties, 32 promising lines, and 17 commercial varieties are being maintained in the National Genebank at Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development. The seeds of mungbean germplasm are preserved in two types of invironment. The active collections are maintained at 15–18 C as short-term storage, while the base collections are kept at -5 C as mid-term storage. A wide range of variability was observed for all the agronomic characters studied, especially for days to maturity, plant height, pods per plant, and seed size. Germplasm evaluation has identified several resistance sources. One accession ( V4281 ) was resistant to beanflies, three accessions were resistant to cercospora leaf spot, and six accessions were resistant to powdery mildew. The variation for protein content of germplasm was not very broad. Two accessions ( VR290 and VR194 ) had the highest protein content of 30%, respectively. Germplasm evaluation also obtained four accessions which had largest seed size and good seed quality. Utilization of mungbean genetic resources has made a significant contribution on mungbean breeding program. Several accessions had been officially released as new cultivars, and a number of accessions have been used as sources of resistance on hybridization program. Currently 19 commercial mungbean varieties have been officially released in the country. oKeywords: Mungbean, genetic resources, conservation, utilization

Filter by Year

2008 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 41, No 1 (2022): Juni, 2022 Vol 40, No 2 (2021): December 2021 Vol 40, No 1 (2021): June, 2021 Vol 39, No 2 (2020): Desember, 2020 Vol 39, No 1 (2020): Juni, 2020 Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue