cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Teknologi Pengelolaan Lahan Rawa Berkelanjutan: Studi Kasus Kawasan Ex PLG Kalimantan Tengah Didi Ardi Suriadikarta
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Lahan rawa adalah lahan yang sepanjang tahun, atau selama waktu yang panjang dalam setahun, selalu jenuh air (saturated water), atau tergenang (waterlogged). Luas lahan rawa Indonesia ± 33,4 juta ha, yang terdiri atas lahan rawa pasang surut sekitar 20 juta ha dan lahan lebak 13,4 juta ha. Lahan pasang surut yang telah direklamasi 3,84 juta ha yang terdiri atas 0,94 juta ha oleh pemerintah dan sisanya oleh swadaya masyarakat lokal.Pada lahan rawa umumnya dijumpai tanah mineral dan tanah gambut. Teknologi pengelolaan lahan rawa antara lain adalah teknologi pengelolaan tanah dan air (tata air mikro, dan penataan lahan), teknologi ameliorasi tanah dan pemupukan, penggunaan varietas yang adaptif, teknologi pengendalian hama dan penyakit, pengembangan Alsintan, serta pemberdayaan kelembagaan petani. Kawasan Lahan Gambut satu juta ha eks PLG di kalimantan Tengah, mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan budidaya pertanian, dan kawasan konservasi. Kawasan budi daya pertanian dilaksanakan pada kawasan gambut < 3 m, yang dapat dikembangkan untuk lahan sawah, perkebunan, perikanan, dan hutan tanaman industri (HTI), berdasarkan kepada kriteria kesesuaian lahan. Kawasan konservasi berada pada wilayah gambut dengan ketebalan > 3 m dan juga daerah-daerah tertentu yang mempunyai keanekaragaman hayati (flora dan fauna), dan di bawah gambut lapisan sulfidik dan atau pasir kuarsa. Pembukaan lahan gambut harus dilakukan melalui perencanaan yang matang, dan hati-hati, dan perlu ditunjang dengan analisa dampak lingkungan yang handal serta pemahaman terhadap kondisi sosial budaya masyarakat lokal.ABSTRACT. Swampy areas is a land which is prolong or periodically saturated with water or waterlogged each year. The tidal swamp areas in Indonesia occupied approximately 33.4 millions ha consisting of 20 millions ha brackish water tidal land and 13,4 millions ha fresh water tidal land. In swampy areas peat and mineral soils normally found. The reclaimed tidal swampy area amounted to 3.84 million ha consisting of 0.94 million ha reclaimed by government and the remainder by local communities. Technologies for managing swampy areas included soil and water management, soil ameliorant, fertilization, adaptive crop varieties, pest and diseases management control, and mechanic development and empowerment of farmer’s organization. The former peatland soil project of one million ha in Central Kalimantan has potential areas to be developed as agricultural cultivation and conservation area. The area for agricultural practices should be directed to peatland with < 3 m depth and used for paddy field, estate crops, fishery, and agroforestry. Conservation areas were directed to peatland with thickness of more than 3 m, areas having biodiversity, and areas underlain by pyrite or quartz. Land clearing on peatland should follow thorough planning and supported by reliable analysis of environmental impact and social conditions of local community.
Potensi dan Pemanfaatan Lahan Gambut Dangkal untuk Pertanian Masganti Masganti; Khairil Anwar; Maulia Aries Susanti
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n1.2017.43-52

Abstract

Abstrak. Lahan gambut terbentuk karena adanya penambahan bahan organik segar yang lebih cepat daripada perombakannya, sehingga terjadi timbunan organik dari waktu ke waktu. Gambut Indonesia sangat potensial dimanfaatkan untuk penyediaan bahan pangan. Pemanfaatan lahan gambut yang lebih masif untuk memasok bahan pangan dipicu oleh (1) laju alih fungsi lahan pertanian, (2) pertambahan jumlah penduduk, dan (3) keinginan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia dunia. Tanah gambut dalam sistem klasifikasi tanah USDA termasuk dalam ordo Histosol. Tanah gambut juga dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat dekomposisi, kesuburan, fisiografi, proses pembentukan, bahan penyusun dan ketebalan gambut. Berdasarkan ketebalan gambut, tanah gambut dengan ketebalan 50-100 cm dikategorikan sebagai gambut dangkal/tipis. Karakteristik dan potensi lahan gambut antaralain ditentukan oleh sifat kimia, fisika dan biologi. Semakin tebal gambut, semakin rendah potensinya untuk budidaya tanaman pangan dan hortikultura. Potensi lahan gambut dangkal/tipis di Indonesia diperkirakan sekitar 5.241.473 ha atau 35,17% dari total luas lahan gambut Indonesia, tersebar di Pulau Papua (2.425.523 ha), Pulau Sumatera (1.767.303 ha), dan Pulau Kalimantan (1.048.611 ha). Lahan tersebut baru sebagian kecil dimanfaatkan petani untuk budidaya tanaman pangan, dan hortikultura dengan produktivitas yang tergolong rendah. Kebakaran lahan gambut dan faktor lainnya menyebabkan terjadinya dinamika luas lahan gambut tipis. Potensi gambut tipis dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman pangan seperti padi, jagung, dan kedelai, tanaman hortikultura buah-buahan seperti nenas, pisang, pepaya, melon, dan tanaman hortikultura sayuran berupa tomat, pare, mentimun, cabai, kangkung, dan bayam. Kontribusi lahan gambut tipis terhadap produksi tanaman pangan dan hortikultura diperkirakan 50-60% dari total produksi lahan gambut.Abstract. Peatlands are formed by continuous addition of fresh organic materials faster than its decomposition, resulted in accumulation of undecomposed organic material from time to time. Indonesia's peatlands are highly potential to be cultivated to produce a variety of foods. The more massive use of peatlands to supply food is triggered by (1) the rate of conversion of agricultural land, (2) population growth, and (3) the desire to feed the world. In the USDA Classification System, peat soils belong to the order of Histosol. Peat soils may also be classified by decomposition rate, fertility, physiography, formation process, constituents and thickness of peat. Based on peat thickness, peat soil with thickness > 50-100 cm is categorized as shallow/thin peat. The characteristics and potentials of peatlands among other areas are determined by chemical, physical and biological characteristics. The thicker the peat, the lower the potential for cultivation of food crops and horticulture. Differences in classification results in differences in peat characteristics such as chemical, physical and biological properties. The potential of shallow peatlands in Indonesia is estimated at 5,241,473 ha or about 35.17% of Indonesia's total peatland area, spread over Papua (2,425,523 ha), Sumatra (1,767,303 ha) and Kalimantan (1,048.611 ha). Only a small proportion of shallow peatlands are used by farmers for cultivation of food crops and horticulture, but the productivity is low. Peatland fires and other factors have led to dynamics of widespread of shallow peatland. Shallow peatlands can be utilized for cultivation of food crops such as rice, corn, and soybeans, horticultural crops such as pineapple, banana, papaya, melon, and vegetable horticultural crops such as tomatoes, pare, cucumber, chilli, kale, and spinach. The contribution of shallow peatlands to the production of food crops and horticulture is estimated to be 50-60% of the total peatland production.
Cover JSL Vol.10(1) 2016 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Jurnal Sumberdaya Lahan Vol.10 No. 1, Juli 2016
Sistem Surjan: Kearifan Lokal Petani Lahan Pasang Surut dalam Mengantisipasi Perubahan Iklim Ani Susilawati; Dedi Nursyamsi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Abstrak. Sektor pertanian merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim yang berpotensi memberikan dampakbesar terhadap ketahanan pangan nasional. Selain perubahan iklim, pembangunan pertanian menghadapi berbagai kendala, antaralain alih fungsi lahan pertanian menjadi non pertanian sehingga usaha pengembangan pertanian diarahkan ke lahan marginalseperti lahan rawa pasang surut. Penataan lahan ini perlu dilakukan agar kondisi lahan sesuai untuk kebutuhan tanaman sehinggaproduktivitasnya menjadi optimal. Sistem surjan adalah salah satu bentuk penataan lahan yang biasa dilakukan oleh petani lahanpasang surut dan terbukti mampu mengantisipasi perubahan iklim. Sistem ini memiliki perspektif budaya, ekologi, dan ekonomi,yang memadukan antara kearifan lokal dengan inovasi teknologi terkini. Paket teknologi dalam sistem surjan meliputi:pengelolaan air sistem satu arah yang dilengkapi pintu otomatis (flapgates) dan tabat (stoplog), penggunaan tanaman adaftif lahanpasang surut, pengolahan tanah minimum, kalender tanam rawa terpadu, aplikasi DSS lahan rawa pasang surut, dan penggunaanpupuk biotara.Abstract. Agricultural sector is the most vulnerable sector to climate change that could potentially contribute a great impact onnational food security. Beside climate change, agricultural development faces many obstacles, including a conversion ofagricultural land into non-agriculture so that agriculture extensification are directed to marginal land areas such as tidalswamplands. Lands arrangement is needed to make favorable soil condition to plants growth so that its productivity increases.Surjan system is a land arrangement which is usually applicated by tidal swampland farmers and has high ability to anticipateclimate change. This system has cultural, ecological, and economical perspectives which combines local knowledge with the latesttechnological innovations. The technologies in surjan system include: one way system of water management with automatic door(flapgates) and tabat (stoplog), use of adaptive plant on tidal swampland, soil minimum tillage, applicatiopn of integrated croppingcalender and DSS of tidal swamplands as well as use of biotara fertilizer.
Peranan Pupuk Organik dalam Peningkatan Produktivitas Tanah dan Tanaman Wiwik Hartatik; Husnain Husnain; Ladiyani R. Widowati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak: Pupuk organik berperan dalam meningkatkan kesuburan fisik, kimia dan biologi tanah serta mengefisienkanpenggunaan pupuk anorganik. Kualitas dan komposisi pupuk organik bervariasi tergantung dari bahan dasar kompos dan prosespembuatannya. Penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong (alley cropping) maupun tanaman penutup tanah (covercrop) serta bahan organik insitu, perlu diintensifkan untuk mendukung pemanfaatan pupuk organik non komersial danpemulihan kesuburan tanah.Pemberdayaan masyarakat dan kelompok tani dalam pengadaan pupuk organik dapat dilakukanmelalui: a) melatih petani membuat pupuk organik insitu yang berasal dari kotoran ternak dan sisa tanaman yangdikomposkan;b) mendorong petani melakukan diversifikasi usaha pertanian berbasis ternak; dan c) mendorong petanimelakukan pengelolaan bahan organik insitu terutama pada lahan kering. Pemanfaatan pupuk organik telah diterapkan dalamsistem budidaya pertanian organik (organic farming) dan System rice of intensification (SRI). Pemberian pupuk organik yangdikombinasikan dengan pupuk anorganik, telah diterapkan dalam sistem pengelolaan tanaman terpadu (PTT), sistem integrasipadi/palawija dan ternak (SIPT), sistem pertanian mandiri yang mengintegrasikan ternak dan tanaman crop livestock system(CLS).Abstract: It is inevitable that organic fertilizer plays a major role in increasing the fertility of the physical, chemical and biologicalas well as the efficient use of inorganic fertilizers. The main composition of organic fertilizer when it decomposes will consist ofmostly water and cellulose, hemiselulose, lignin, and a small portion main macro nutrients, secondary macro nutrients, microelements and silica. There is also a growth regulating enzymes and vitamins as a byproduct of microbial decomposition. The maincomponent or specific parameters have a major role and the speed of the process of transformation of organic fertilizer into theform of mineral nutrients and the end product is humus. The significance of organic fertilizer is widely recognized by agriculturalresearchers and practitioners. In addition the use of organic fertilizers in paddy fields and dry land cultivation system ofagriculture that combines inorganic fertilizer and organic, has strived implemented by the government in this case the Ministry ofAgriculture that the system of integrated crop management (ICM), system integration paddy/crops and livestock (SIPT), anindependent agricultural systems that integrate livestock and crop plants livestock system (CLS). If the awareness of farmers onthe use of organic fertilizers increases, the availability of both in situ and have to come from outside should be available insufficient quantity and good quality. Technological innovation of Agricultural Research and Development Agency to support theuse of organic fertilizers continue to research and develop. Currently available guidebooks and technological innovation, such asland management guidelines, management guidelines of organic materials and organic fertilizer, granular organic fertilizerproduct (Tithoganik, POG, POCr), and decomposers products to accelerate the process of decomposition (such as M-dec).Opportunities and challenges in increasing stakeholder awareness is not a barrier in optimizing organic fertilizer. The key is thesynergistic integration between institutions regulatory, technical institutions, Research Agency, producers and users in theimplementation of socialization, production, guidance and supervision. 
Cover JSL Vol.7(2) 2013 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Cover JSL
Penggunaan Citra Penginderaan Jauh untuk Mendukung Mitigasi Dampak Perubahan Iklim di Sektor Pertanian Kusumo Nugroho; Wahyunto Wahyunto
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Penggunaan citra penginderaan jauh dalam menghadapi dampak perubahan iklim saat ini, memerlukan data geospasialdalam identifikasi dampak dan sumber sumber yang berpengaruh terhadap perubahan iklim. Dampak perubahan iklim yangberdampak pada lahan dan lingkungan dapat dikaji dari penginderaan jauh, adalah suhu udara, curah hujan, kenaikan air laut(batimetri) dan proses kebakaran lahan. Dampak perubahan iklim terhadap sumberdaya lahan dapat dikaji dengan penginderaanjauh seperti berkurangnya areal hutan, kebakaran hutan dan lahan, perubahan ekologi dan kondisi hutan dan keanekaragamanhayati. Perubahan lahan, akibat kekeringan kebanjiran atau perubahan luapan. Penginderaan jauh dapat mengkaji kenaikan suhu,dan estimasi emisi gas rumah kaca selain perubahan pola curah hujan, dan kejadian iklim ekstrim. Intrusi air laut yang berkaitandengan perubahan garis pantai dapat dirunut dari penginderaan jauh. Data spasial dari penginderaan jauh juga menjadi dasarpenggunaan tanaman rendah emisi, cara mengelola air untuk mengurangi terjadinya oksidasi bahan organik. Peran penginderaanjauh untuk mitigasi perubahan iklim dapat diperhatikan dalam hal pengamatan sumberdaya lahan dan hidrologi, lahan gambut,biomasa sebagai sumber cadangan karbon, monitoring perubahan pengunaan lahan, indikator penting terjadinya perubahankondisi hidrologi. Makalah ini membahas peranan teknik penginderaan jauh dalam menyikapi dampak perubahan iklim terhadapsumber daya tanah dan air di Indonesia dengan contoh-contoh aplikasi yang telah dilakukan.Abstract. The use of remote sensing image in the face of climate change impacts at this time, require the identification of theimpact of geospatial data and resources that affect climate change. Impact of climate change on land and environmental impactcan be seen from remote sensing, is the air temperature, precipitation, sea level rise (bathymetry) and the process of land fires.The impact of climate change can be observed by remote sensing through the reduction of forest area, forest and land fires,changes in forest conditions and the ecology and biodiversity changes in land, flood or drought due to changes in the floodingbehaviour. Remote sensing can assess the increase in temperature, and estimation of greenhouse gas emissions in addition tochanges in rainfall patterns, and extreme climate events. Seawater intrusion associated with changes in the shoreline can betraced from remote sensing. Spatial data from remote sensing is also the basis for the use of low-emission plants, how to managethe water to reduce the oxidation of organic matter. The role of remote sensing for the mitigation of climate change can beaddressed in terms of land resources and hydrological observations, peat, biomass as a source of carbon stocks, monitoringchanges in land use, an important indicator of changes in hydrological conditions. This paper discusses the role of remote sensingtechniques in addressing the impacts of climate change on land and water resources in Indonesia with examples of applicationsthat have been done.
Dampak Kebakaran Lahan Terhadap Kesuburan Fisik, Kimia, Dan Biologi Tanah Serta Alternatif Penanggulangan Dan Pemanfaatannya M. Anang Firmansyah; Subowo G.
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n2.2012.%p

Abstract

Abstrak. Makalah membahas dampak kebakaran lahan terhadap kesuburan tanah yang meliputi sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Kebakaran lahan pada awalnya akan menurunkan kenekaragaman hayati tanah, kandungan bahan organik tanah dan selanjutnya dalam jangka pendek mampu meningkatkan pH tanah, meningkatkan N-NH4+, fosfor tersedia, Na+, K+ dan Mg2+, menurunkan KTK, dan Ca2+ dan populasi biologi tanah. Sifat tanah yang paling peka terhadap kebakaran lahan adalah sifat biologi tanah termasuk hama-penyakit bawaan tanah yang hidup di permukaan tanah. Pembakaran lahan sengaja hendaknya diarahkan pada lahan yang potensial untuk pengembangan pertanian, namun memiliki endemi serangan hama-penyakit bawaan tanah. Pemanfaatan lahan pasca kebakaran dapat dilakukan dengan pencegahan terjadinya erosi oleh air hujan, pemberian bahan organik yang tidak mengandung hama-penyakit tanaman; pilihan komoditas dari jenis tanaman sederhana yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan cepat tumbuh. Aplikasi pupuk hayati dapat dilakukan secara maksimal, baik jenis/fungsi, jumlah maupun penempatannya dengan diikuti pemberian bahan organik secukupnya. Seluruh organisme fungsional yang dapat memperbaiki sifat fisik maupun kimia/hara dapat diaplikasikan dengan tetap memperhatikan pencegahan adanya kontaminasi hama-penyakit bawaan tanah.Abstract. The paper discussed the impact of fires on soil fertility including soil physical, chemical, and biological aspects. Fires initially lowered soil biodiversity, organic matter content and further in the short term increased soil pH, N-NH4+, available phosphorus, Na+, K+ and Mg2+, but decreased CEC, Ca2+, and biological population of the soil. The most susceptible soil properties were soil biological properties and soil pest-borne disease living on the soil surface. Deliberately burning the land should be directed to the potential land for agriculture, but has endemic soil-borne disease. Post-fire land use can be done by preventing erosion, application organic materials that do not contain plant pests and disease, selection of crops having high economic value and grow rapidly. Application of biofertilizers included type/function, rate, and placement and accompanied by sufficient organic matter application. All microorganism having ability to improve soil physical and chemical properties could be applied to the soils and that contamination of the soil borne diseases should be prevented.
Degradasi Lahan di Indonesia: Kondisi Existing, Karakteristik, dan Penyeragaman Definisi Mendukung Gerakan Menuju Satu Peta Wahyunto Wahyunto; Ai Dariah
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 2 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n2.2014.%p

Abstract

Abstrak. Degradasi lahan adalah proses penurunan produktivitas lahan, baik yang sifatnya sementara maupun tetap. Lahan terdegradasi dalam definisi lain sering disebut lahan tidak produktif, lahan kritis, atau lahan tidur yang dibiarkan terlantar tidak digarap dan umumnya ditumbuhi semak belukar. Lahan yang telah terdegradasi berat dan menjadi lahan kritis luasnya sekitar 48,3 juta ha atau 25,1% dari luas wilayah Indonesia. Untuk lahan gambut dari sekitar 14,9 juta ha lahan gambut di Indonesia, ± 3,74 juta ha atau 25,1 % dari total luas gambut telah terdegradasi dan ditumbuhi semak belukar. Proses degradasi lahan dimulai dengan tidak terkontrolnya konversi hutan, dan usaha pertambangan kemudian diikuti dengan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan potensi dan pengelolaan lahan yang kurang tepat. Lahan terdegradasi baik di tanah mineral maupun gambut ini menjadi sumber emisi Gas Rumah Kaca (GRK) karena rentan terhadap kebakaran di musim kemarau panjang. Sesuai Perpres No. 61 tahun 2011 dan himbauan dari Kelompok Bank Dunia, bahwa “rehabilitasi lahan terdegradasi/terlantar harus memprioritaskan investasi pada sektor pertanian dan perkebunan kelapa sawit untuk produksi pertanian/perkebunan yang berkelanjutan”, hal tersebut perlu direalisasikan secara nasional. Dalam inisiatif “Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation Plus” (REDD+), lahan terdegradasi juga menjadi isu utama yang ditangani. Namun hingga saat ini, Indonesia belum memiliki definisi, metodologi pemetaan, dan kebijakan pengelolaan lahan terdegradasi yang terintegrasi. Oleh karena itu diperlukan kebijakan yang didasarkan pada kesepahaman tentang lahan terdegradasi yang memuat aspek definisi dan karakteristiknya, dari berbagai sektor Kementerian/Lembaga (K/L) yang berkaitan dengan degradasi lahan. Penyeragaman melalui gerakan menuju satu peta (ONE MAP POLICY movement) yaitu satu referensi, satu database, satu prosedur/protokol, satu geoportal) menjadi kebutuhan mutlak.Abstract. Land degradation is the decline in land productivity, either temporary or permanent. Due to further degradation process, will become unproductive land and it is called as critical land. Existing strong degraded land and become critical land area around of 48.3 million ha or25.1% of the total area of Indonesia. Indonesian peatland for about of 14.9 million ha, and as amounts of 3.74 million ha or 25.1% of the total area have been degraded and covered by shurbs and bushes. Degraded land as an impact of uncontrolled forest conversion and mining, followed by incompatible land use and un-appropriate land management. Degraded land (both on mineral soil and peatsoil) is a source of green house gas emissions (GHG) as susceptible to fires in the long dry season period. As per Presidential Decree No. 61 in 2011 and the appeal of the World Bank Group, that for the "rehabilitation of degraded lands/abandoned land should prioritize investment for sustainable agriculture and oil palm plantations and needs to be realized nationally. In the initiative "Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation Plus" (REDD +), degraded land is also a major issue to be addressed. But until now, Indonesia does not have a definition, mapping methodology, and policy of integrated management on degraded lands. National Development Policy needs to be based on an understanding of the degraded land as outlined in the definition and its characteristics, from various sectors. Standardized on degraded land through ONE MAP policy movement (one reference, one database, one procedure/protocol, the geoportal) becomes an absolute necessity.
Teknologi Nano untuk Pertanian: Aplikasi Hidrogel untuk Efisiensi Irigasi Setyono Hari Adi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Hidrofilik gel atau hidrogel adalah jaringan makromolekul yang dapat menyerap dan melepaskan air tergantung pada rangsangan eksternal, seperti pH, kelembaban, suhu, dan tekanan lingkungan sekitarnya. Tergantung pada pemilihan material dan teknik sintesisnya, hidrogel termasuk ke dalam produk teknologi nano dengan ukuran rongga permukaan antara 50-200 nm (SEM) dan luas permukaan ~300 m2/gram (BET). Aplikasi hidrogel di bidang pertanian telah terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air, yang juga mampu menurunkan erosi. Dalam makalah ini, teknologi yang berhubungan dengan proses produksi hidrogel, seperti jenis material, aplikasi secara umum, metode sintesis, pengujian dan karakterisasi, akan ditinjau dengan pertimbangan penggunaan material yang memiliki biokompatibilitas terhadap lingkungan dan teknik sintesis dan pengujian yang sederhana dan ramah lingkungan.ABSTRACT. Hydrophilic gels or hydrogels is a macromolecular network which is able to reversibly absorb and release water, depending on the external stimuli such as: pH, temperature, humidity, and pressure of its application medium. Depending on the based material and the synthesize technique, hydrogel can be a nano product with the structural cavity size is in between 50-200 nm (SEM) and surface area of ~300 m2/gram (BET). Application of hydrogel for agriculture has been proven to increase water use efficiency, and decrease erosion dramatically. In this paper, technology related to production process of hydrogel, such as the based materials, potential application in general, the synthesize, testing and characterization methods will be reviewed, in which low cost technique and biocompatibility are to be considered. 

Page 10 of 22 | Total Record : 212