cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Evaluasi Kesesuaian Lahan Mineral dan Gambut untuk Peremajaan Tanaman Kelapa Sawit (Studi Kasus pada Beberapa Kebun Plasma di Provinsi Riau) I Gusti Putu Wigena; D. Subardja; Andriati Andriati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Kesesuaian lahan sangat berkaitan dengan potensi perkebunan kelapa sawit plasma yang mampu berproduksi secara optimum dan berkelanjutan sehingga sangat diperlukan baik untuk pembangunan kebun baru maupun peremajaan (replanting). Untuk itu, dilakukan penelusuran kegiatan karakterisasi lahan mineral dan gambut serta evaluasi kesesuaiannya untuk peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif di beberapa kebun plasma selama periode 3 tahun dari 2007-2009. Semua kebun bermitra dengan PTPN 5 yaitu kebun plasma Sei Pagar Kabupaten Kampar Kiri dengan agroekosistem gambut dangkal (<300 cm), Sei Galuh Kabupaten Kampar Kanan dengan agroekosistem gambut dalam (500-1200 cm), dan Sei Tapung Kabupaten Rokan Hulu dengan agroekosistem tanah mineral kering masam, Provinsi Riau. Gambut dangkal mendominasi kebun kelapa sawit plasma di Sei Pagar, memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara (nr) dengan produktivitas rata-rata > 24 t tbs ha-1 th-1. Selain itu, ditemui juga lahan berbahan induk alluvial masam bergambut yang memiliki kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas ketersediaan unsur hara rendah dan retensi unsur hara (ns,nr), dengan produktivitas rata-rata >20 t tbs ha-1 th-1. Gambut dalam terdapat di kebun plasma Sei Galuh, memiliki kelas kesesuaian lahan sesuai marginal (S3), pembatas perkembangan perakaran, ketersediaan unsur hara rendah, dan retensi unsur hara (rc,ns,nr) dengan produktivitas rata-rata <12 t tbs ha-1 th-1. Kebun kelapa sawit plasma di Sei Tapung didominasi oleh tanah mineral kering masam dengan topografi datar-berbukit, ada hubungan antara persentase lereng dengan kelas kesesuaian dan produktivitas kelapa sawit. Pada topografi datar (lereng 0-3%), kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara (nr), dengan produktivitas rata-rata >20,43 t tbs ha-1 th-1. Pada topografi berombak-bergelombang (lereng 3-8%), kelas kesesuaian lahan cukup sesuai (S2), pembatas retensi unsur hara dan bahaya erosi ringan (nr,eh), dengan produktivitas rata-rata >17,21 t tbs ha-1 th-1. Pada topografi berbukit (lereng>15%), kelas kesesuaian lahan sesuai marginal (S3), pembatas bahaya erosi, perkembangan perakaran, dan retensi unsur hara (eh,rc,nr) dengan produktivitas rata-rata <16,44 t tbs ha-1 th-1.Abstract. Land suitability evaluation has a significant correlation with the potential of smallholder oil palm plantation for optimum and sustainable production so that this activity become a prerequisite for both development of new plantation and replanting. Based on this reason, a review on the charachterization of mineral and peatland and its suitability evaluation for replanting of oil palm plantation on several smallholder oil palm plantation were conducted for the periode of 3 years, from 2007-2009. All plantation are under PTPN 5 partnership collaboration, namely Sei Pagar, Kampar Kiri Regency with shalow peat agroecosystem, Sei Galuh Kampar Kanan Regency with deep peat agroecosystem, and Sei Tapung Rokan Hulu Regency with mineral soil agroecosystem, Riau Province. The plantation areas are in Sei Pagar, dominated by shalow peatlands (<300 cm) with moderate suitability status (S2), and nutrients retention as a constraint (nr) and the average productivity is >24 t fruit bunches ha-1year-1. There is also found acidic clay alluvial as parent materials with moderate suitability status (S2), and root condition and nutrients retention (rc,nr) as constraints, and the average producitivity is >20 t fruit bunches ha-1 year-1. Deep peatlands (500-1200 cm) are located at Sei Galuh with marginal suitability status (S3), and root condition, nutrients supply, and nutrients retention as the constraint (rc, ns,nr), and average productivity <12 t fruit bunches ha-1year-1. Sei Tapung areas are dominated by upland acid mineral soils with plain-highly topography. In this location, and there is a significant correlation between slope degrees and land sutaibility status and oil palm productivity. On the plain topography (slope 0-3%), land suitability is a moderate (S2) and nutrients retention (nr) as constraint with average productivity >20,43 t fruit bunches/ha/year. The lands with undulating-rolling tofographiq (slope degree 3-8%), land suitability status was moderate suitable (S2), nutrients retention and slighty erosion hazard (nr,eh) as the constraints and average productivity is >17,21 t fruit bunches ha-1year-1. On the hilly topography areas (slope >15%), the lands are marginal suitability status (S3) with heavy erosion hazard, root condition, and nutrients retention as constraints, and average oil palm productivity is <16,44 t fruit bunches ha-1year-1.
Pengembangan dan Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian Mendukung Optimalisasi Pengelolaan Lahan Kering Masam Irawan Irawan; Ai Dariah; Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Peranan lahan kering masam dalam mendukung pembangunan pertanian nasional sangat penting, baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan nasional maupun untuk pengembangan tanaman perkebunan. Tingkat produktivitas yang dicapai pada lahan kering masam masih lebih rendah dibanding potensinya, sehingga pendekatan optimamalisasi harus menjadi salah satu prioritas pembangunan pertanian ke depan. Mengingat tingkat kesuburan tanah pada lahan kering masam umumnya tergolong rendah, maka diperlukan berbagai masukan inovasi teknologi, baik untuk menanggulangi faktor pembatas lahan maupun untuk mengoptimalkan produktivitasnya. Pengembangan inovasi teknologi pengelolaan lahan kering masam telah menghasilkan beberapa teknologi unggulan, antara lain teknologi pengayaan unsur P dan K, teknik pemberian kapur, dan teknologi konservasi tanah dan air. Permasalahan diseminasi inovasi teknologi pertanian umumnya terkait dengan kesenjangan adopsi teknologi, kesenjangan hasil dan kendala sosial-ekonomi petani. Sebagian besar petani lahan kering masam mengelola lahannya secara subsisten, produktivitasnya rendah, senjang hasil dan adopsi teknologi masih tinggi, dan keberlanjutannya tidak diperhatikan sehingga berdampak terhadap terjadinya proses degradasi lahan. Guna memecahkan masalah tersebut dari aspek diseminasi diperlukan model diseminasi inovasi berbasis teknologi informasi yang dapat memanfaatkan berbagai bentuk media diseminasi dan saluran komunikasi para pemangku kepentingan yang terkait. Diseminasi melalui pendekatan model spektrum diseminasi multi channel (SDMC) memungkinkan inovasi teknologi pertanian hasil penelitian dapat didistribusikan secara cepat kepada para penggunanya.Abstract. The role of upland acid soils in supporting national agricultural development is very important to fulfill national food needs as well as to develop estate plantations. The level of productivity achieved on upland acid soils was still lower than its potential, so the optimation approach should be one of the priorities of the agricultural development in the future. Since the level of soil fertility on upland acid soils is generally low, then it is needed the input of various technological innovations, both to overcome the limiting factor of land as well as to optimize its productivity. Development of technological innovation management on upland acid soils has produced some prospective technologies, such as enrichment of P and K elements technology, the technique of lime application, as well as soil and water conservation technology. Most of dissemination problems related to adoption and yield gaps, and farmers’ socio-economic aspect. Most of the upland acid soils farmers managed the land in subsistence, low soil productivity, high gap on yield and technology adoption, and its continuation of farming development was not noted, hence gave impact to land degradation processes. To overcome such problems in perspective of dissemination aspect, it needs innovation dissemination model based on required information technology which utilizes a variety of dissemination means and communication channels of related stakeholders. Dissemination through multi-media channel systems approach may allow agricultural technology innovations to distribute quickly to its users. 
Cover JSL Vol.7(1) 2013 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n1.2013.%p

Abstract

Cover JSL
Pemberdayaan Lahan Kering Suboptimal untuk Mendukung Kebijakan Diversifikasi dan Ketahanan Pangan Ai Dariah; Nani Heryani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 3 (2014): Edisi Khusus
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n3.2014.%p

Abstract

Abstrak. Kebijakan diversifikasi pangan sebagai salah satu opsi pencapaian ketahanan pangan nasional, tidak bisa lepas dari program pemberdayaan lahan kering, karena lahan kering merupakan penghasil utama pangan alternatif selain beras. Namun demikian, luasan lahan kering yang subur sudah semakin terbatas, sehingga pilihan jatuh pada lahan kering suboptimal. Oleh karena itu diperlukan inovasi teknologi untuk menanggulangi faktor pembatas lahan kering suboptimal, sehingga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian khususnya tanaman pangan. Paper ini membahas usaha pemberdayaan lahan kering suboptimal untuk mendukung kebijakan ketahanan dan diversifikasi pangan, bahasan meliputi potensi lahan kering suboptimal untuk pengembangan tanaman pangan, kendala utama pemanfaatan lahan suboptimal untuk pengembangan tanaman pangan, dan berbagai inovasi teknologi pengelolaan lahan untuk pemberdayaan dan optimalisasi lahan kering suboptimal sebagai pendukung ketahanan pangan.Abstract. Food diversification policy can not be separated from dry land empowerment program, as dry land was a major producer of food alternatives to rice. However, the fertile dry land area is getting limited, so the suboptimal upland as an alternative. Therefore, it is necessary technological innovation to overcome suboptimal land limiting factor, so it can be utilized to the development of agriculture especially for food crops. This paper discusses the effort to empower sub-optimal dry land to support food diversification policy, the discussion includes the potency of sub-optimal upland for food crop development, the main constraints of suboptimal dry land for food crop development, and various technological innovation to empower land management and optimization of suboptimal upland as support food security.
Teknologi Peningkatan Produktivitas Lahan Endapan Volkanik Pasca Erupsi Gunung Merapi Abdullah Abas Idjudin; Mas Dedy Erfandi; Sutono Sutono
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n1.2012.%p

Abstract

ABSTRAK. Material piroklastik hasil erupsi Gunung Merapi (Oktober-November 2010) mengakibatkan kerusakan fisik sumberdaya lahan (tanaman, air, ternak) dan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat di daerah bencana. Penanganan perbaikan dan pemulihan lahan-lahan yang terkena erupsi perlu dilakukan secara bertahap dan komprehensif yang disesuaikan dengan kemampuan masyarakat dan dukungan pemerintah. Peranan teknologi dan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu upaya perbaikan produktivitas lahan endapan volkanik pasca erupsi Gunung Merapi. Abu volkan yang jatuh ke permukaan tanah, mengalami proses sementasi dan mengeras, menyebabkan berat jenis (BD) tanah meningkat, sedangkan Ruang Pori Total (RPT) dan permeabilitas tanah menurun. Pengendalian erosi (penanaman Flemingia congesta, C. Calotirtus, dan glirisidia searah kontur), dan stabilisasi lahar dengan penanaman rumput Bahia dan Flemingia congesta sekaligus untuk mereklamasi lahan pasir eks lahar Gunung Merapi. Teknologi peningkatan produktivitas lahan volkanik dapat dilakukan dengan cara teknik konservasi vegetatif (penggunaan rumput raja, guatemala, dan gajah; dibarengi tanaman legum glirisidia) dapat mengendalikan erosi di bawah ambang batas erosi terbolehkan. Dengan semakin terkendalinya erosi tanah, berdampak terhadap peningkatan mutu lahan, produksi tanaman semusim dan pengadaan rumput pakan serta populasi ternak ruminansia.ABSTRACT. Pyroclastic materials derived from Merapi volcano eruption caused physical damage on land resources (crops, water, and livestock) and socio-economic life of communities in the affected areas. Solving problems and restoration of land affected by the eruption should be performed gradually and comprehensively based on community ability and government support. The role of technology and the existing research results could be considered as one of the alternatives to improve productivity of land covered by Merapi eruption deposits. Volcanic ash falling on land surfaces experienced cementation and hardness and caused high soil bulk density (BD), while the total pore space (RPT) and soil permeability decreased. Erosion control by growing Flemingia congesta, C. calotirtus, and Gliricidia in a manner that parallel to contour line. In addition, Bahia grass and bamboo plants are used to stabilize sandy land and reclamation of the former Merapi lahar. The technology for increasing the productivity of volcanic land can be done by planting animal feed grass on the ridge or riser. This is also useful to control soil erosion, increase land quality, crop production, and livestock feed.
Teknologi Pemupukan Mendukung Jarwo Super Husnain Husnain; Dedi Nursyamsi; Muhammad Syakir
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 10, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v10n1.2016.%p

Abstract

Abstrak. Terobosan program Jarwo Super yang merupakan integrasi berbagai Teknologi Badan Litbang Pertanian diharapkan dapat meningkatkan produktivitas komoditas padi. Adapun komponen teknologi Jarwo Super terdiri dari budidaya jajar legowo, pemanfaatan alat mesin pertanian, benih unggul, pemupukan dengan dosis optimal menggunakan PUTS, pemanfaatan dekomposer M-Dec dalam pengelolaan limbah jerami, pemanfaatan pupuk hayati dalam seed treatment (Agrimeth) dan biopestisida untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman. Teknologi pemupukan baik anorganik, organik serta hayati memberikan kontribusi signifikan dalam paket teknologi Jarwo Super. Pemupukan secara umum memberikan kontribusi minimal 20% dalam sistem produksi pertanian. Dengan demikian, rekomendasi pemupukan yang sesuai dengan status hara tanah, optimal untuk varietas hasil tinggi dengan target hasil optimal sangat dibutuhkan. Penggunaan bahan organik seperti jerami padi yang berlimpah di lahan sawah perlu digalakkan kembali mengingat kompos jerami mengandung berbagai unsur hara terutama K dan Si serta memiliki fungsi meningkatkan kondisi fisik dan biologi tanah. Untuk mempercepat proses pembusukan jerami maka diperlukan dekomposer yang dapat memperpendek proses dekomposisi. Berbagai mikroba unggul dalam tanah dapat berfungsi dalam proses dekomposisi bahan organik, menghancurkan komponen toksik, transformasi inorganik, fiksasi N, Rhizobacteria, dan proteksi tanaman. Isolasi mikroba unggul dengan fungsi diatas menjadi cikal bakal formulasi pupuk hayati. Pupuk hayati dapat digunakan sebagai seed treatment, diberikan ke tanah dan tanaman sesuai dengan fungsinya. Berbagai jenis pupuk (anorganik, organik, hayati) yang diproduksi perlu diatur agar tidak merugikan konsumen yang sebagian besar adalah petani.Abstract. Breakthrough program called Jarwo Super is an integration of various technologies of IAARD is expected to increase rice productivity. The program includes in Jarwo Super are Jajar Legowo (skip row), mechanization, high yield variety, balance fertilization with optimal dose (using paddy soil test kits PUTS), rice straw management (using decomposer M-Dec), the use of biofertilizers (Agrimeth) and biopesticides. Proper fertilizer management of inorganic, organic and biofertilizer will contributed significantly in the Jarwo Super Technology. In general, fertilizer contribute at least 20% in agricultural production systems. Thus, the fertilizer recommendation must consider soil nutrient status and high nutrient uptake by new variety. The use of organic materials such as rice straw which is abundant in rice fields should be encouraged recall straw compost contains variety of nutrients, especially K and Si as well as having the function of improving the physical and biological soil. Decomposer is required to speed up the decomposition process. Various microbes in the soil play important function in the soil such as decomposition of organic matter, destroying the toxic components, inorganic transformation, N fixation, Rhizobacteria, and plant protection. Isolation of microbes which having improtant function as mention above became the key in formulation of biofertilizer. Biofertilizer can be used as a seed treatment, soil and plants according to their function. Various types of fertilizers (inorganic, organic, biofertilizer) that is produced and commercially used should be regulated to protect farmer as the most user.
Perkembangan Pemetaan Zona Agro-Ekologi (ZAE) di Indonesia Hikmatullah Hikmatullah; Sofyan Ritung
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 8, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v8n1.2014.%p

Abstract

Abstrak. Peta Zona Agro-Ekologi atau yang populer dengan peta AEZ adalah data geospasial tematik turunan dari peta tanah atau satuan lahan, yang menyajikan sebaran satuan-satuan lahan yang mempunyai kesamaan karakteristik iklim, terrain, tanah, dan potensi untuk pengembangan komoditas pertanian. Peta AEZ awalnya dikembangkan oleh FAO sekitar tahun 1978 pada skala kecil untuk membantu negara-negara berkembang di Afrika dalam menyediakan informasi geospasial sumberdaya lahan untuk perencanaan penggunaan lahan. Di Indonesia, peta AEZ berbasis pulau skala 1:1.000.000 dan provinsi skala 1:250.000 telah diperkenalkan pada awal tahun 1990-an menggunakan sumber data dari peta tanah tinjau atau peta sistem lahan. Peta AEZ tersebut memberikan informasi pewilayahan komoditas pertanian, yang dapat dimanfaatkan untuk membantu perencanaan pertanian tingkat nasional dan provinsi. Saat ini peta AEZ skala 1:250.000 berbasis provinsi telah diterbitkan tahun 2013 untuk seluruh Indonesia dengan menggunakan peta dasar rupabumi terbaru dari Badan Informasi Geospasial (BIG) mendukung Gerakan Menuju Kebijakan Satu Peta (One Map Policy). Untuk perencanaan operasional tingkat kabupaten, peta AEZ tersebut perlu didetilkan delineasinya menjadi skala 1:50.000 yang berbasis wilayah kabupaten. Penyusunan peta AEZ skala 1:50.000 sudah dimulai sejak awal tahun 2000-an, tetapi secara sistematis baru dimulai tahun 2012 dan ditargetkan selesai akhir tahun 2017 untuk seluruh kabupaten/kota di Indonesia. Perencanaan dan strategi yang efektif dan pendanaan yang mencukupi sangat diperlukan untuk mendukung percepatan penyelesaian peta-peta tersebut. Kendala yang dihadapi dalam penyelesaian penyusunan peta AEZ skala 1:50.000 seluruh wilayah kabupaten antara lain keterbatasan tenaga peneliti dan teknisi, tingkat kehandalan/akurasi peta, diseminasi hasil, dan pembaharuan peta-peta. Pemanfaatan data geospasial sumberdaya lahan yang akurat dapat mendukung perencanaan pengembangan pertanian yang lebih terarah.Abstract. The agro-ecological zone map, as popular as AEZ map, is the thematic geospatial data derived from soil or land unit maps that indicates the distribution of land units which have similar characteristic of climate, terrain, soils, and potency for agricultural commodity development. The AEZ map was firstly developed by FAO in 1978 for small scale to help developing countries of Africa in providing land resource geospatial data for landuse planning. In Indonesia, the AEZ map was introduced in the early of 1990’s at scales of 1:1000,000 for island-basis and 1:250,000 for provincial-basis derived from the available reconnaissance soil or land system maps. The AEZ map gives general information on the direction of agricultural commodity zoning for supporting both national and provincial planning. Recently, the AEZ base maps published by Geospatial Information Agency to support One Map Policy movement. By increasing the need of the geospatial data at larger scale, the AEZ map should be detailed the map unit delineations into 1:50,000 scale. The AEZ maps at scale of 1:50,000 were firstly created in the early of 2000’s, but systematically they have been created on the regency-basis since 2012, and they will be completed for the whole regencies of Indonesia in the end of 2017. The effective planning and strategy, and sufficient cost are needed to speed up of completing these maps. Constraints for completing the maps include the limited number of researchers and technicians, level of map reliability/accuracy, dissemination of result, and updating the maps. The use of accurate geospatial land resource data could support the agricultural development planning properly.
Teknologi Ramah Lingkungan dalam Budidaya Kelapa Sawit di Lahan Gambut Terdegradasi Masganti Masganti; Nurhayati Nurhayati; Rachmiwati Yusuf; Hery Widyanto
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak. Lahan gambut merupakan lahan yang sangat potensial dimanfaatkan untuk tujuan pertanian. Selain fungsi produksi,lahan gambut juga berfungsi dalam sistem hidrologi dan lingkungan. Diperkirakan dari total 14,95 juta hektar lahan gambutIndonesia, sekitar 6,66 juta hektar lahan ini telah terdegradasi. Degradasi lahan gambut menyebabkan fungsi hidrologi, produksi,dan lingkungan menjadi berkurang yang ditandai dengan penurunan produktivitas, pada musim hujan terjadi banjir, dan padamusim kemarau terjadi kekeringan, bahkan kebakaran. Gambut yang terdegradasi mempunyai kesuburan tanah yang lebihrendah, daya pegang air dan porositas lebih rendah, dan jenis dan populasi mikroorganisme lebih sedikit. Degradasi lahan gambutdisebabkan oleh aktivitas manusia seperti pengelolaan air yang salah, penambangan, dan penebangan pohon. Kriteria gambutterdegradasi meliputi (a) kadar karbon < 35 t ha-1, atau (b) tanaman penutup tanahnya merupakan semak belukar atau lahantersebut merupakan lahan terbuka bekas tambang. Meskipun terdegradasi, petani kelapa sawit banyak memanfaatkan lahan ini,sekitar 20-25% lahan gambut terdegradasi dimanfaatkan untuk budidaya kelapa sawit. Untuk itu diperlukan teknologi ramahlingkungan yang mampu menurunkan emisi GRK, meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Teknologi tersebutmeliputi pengelolaan air menggunakan kanal blok, penggunaan amelioran Tankos dan tumpangsari tanaman.Abstract. Peatlands are potential land used for agricultural purposes. In addition to the production function, peatlands alsofunctions in hydrology and environmental systems. It is estimated that of a total of 14.95 million hectares of Indonesia'speatlands, about 6.66 million hectares of land has been degraded. Peatland degradation caused hydrological function, production,and the environment is reduced which is characterized by a decrease in productivity, floods in the rainy season, and droughts inthe dry season, even a fire. Degraded peat has lower in soil fertility, water holding capacity and porosity, and less in the type andpopulation of microorganisms. Peatland degradation caused by human activities such as poor water management is wrong,mining, and felling trees. Degraded peat criteria include (a) the carbon content <35 t ha-1, or (b) the land cover plants are shrubsor open land is a former mining land. Although degraded, oil palm growers are making use of this land, about 20-25% of degradedpeat lands utilized for the cultivation of oil palm. It is necessary for environment friendly technologies that can reduce greenhousegas emissions, improve productivity and income of farmers. These include water management technologies to use chanal block,use ameliorant Tankos and intercropped plants.
Karakteristik dan Potensi Lahan Sub Optimal untuk Pengembangan Pertanian di Indonesia Anny Mulyani; Muhrizal Sarwani
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n1.2013.%p

Abstract

Abstrak. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan pangan nasional, semakin meningkat pula kebutuhan lahan untuk pengembangan pertanian. Oleh karena terbatasnya cadangan lahan pertanian subur, maka untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional harus memanfaatkan lahan sub optimal. Lahan sub optimal adalah lahan yang secara alamiah mempunyai produktivitas rendah karena faktor internal dan eksternal. Untuk mengidentifikasi karakteristik dan potensi lahan sub optimal di Indonesia, telah dilakukan analisis terhadap basisdata sumberdaya lahan yang tersedia baik secara tabular maupun spasial dengan menggunakan GIS, serta berdasarkan hasil kajian di lapangan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa lahan sub optimal dapat dipilah menjadi lahan kering masam, lahan kering iklim kering, lahan rawa pasang surut, lahan rawa lebak dan lahan gambut. Dari 189,2 juta ha daratan Indonesia, sekitar 108,8 juta ha termasuk lahan kering masam, terluas menyebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Sedangkan lahan kering iklim kering seluas 13,3 juta ha tersebar di Kaltim, Jatim, Bali, NTB dan NTT. Untuk lahan rawa terdiri dari rawa pasang surut seluas 11 juta ha, lahan rawa lebak 9,2 juta ha, dan lahan gambut seluas 14,9 juta ha, terluas terdapat di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Dari 157,2 juta ha lahan sub optimal, sekitar 91,9 juta ha sesuai untuk pengembangan pertanian, dan sekitar 71,2 juta ha telah digunakan untuk lahan pertanian, pembangunan infrastruktur, dan pemukiman. Sisanya merupakan lahan cadangan masa depan, yang akan bersaing pemanfaatannya baik dalam sub sektor (perkebunan, pangan, hortikultura) maupun antar sektor (pertambangan, perindustrian, infrastruktur, pemukiman). Pemanfaatan lahan sub optimal akan menjadi tumpuan harapan masa depan, namun memerlukan inovasi teknologi untuk mengatasi kendalanya sesuai karakteristik dan tipologi lahannya. Intensifikasi lahan pertanian eksisting juga perlu dilakukan untuk menjawab tantangan peningkatan permintaan terhadap pangan dan hasil pertanian lainnya.Abstract. The demand for agricultural land increases with the increasing population and the demand for food. Availability of the fertile, more suitable land, is decreasing and thus future development should include sub-optimal lands. Sub-optimal lands are those land with low natural fertility due to the intrinsic properties and environmental forming factors. For evaluating the characteristics and potentials of Indonesian sub-optimal lands we analyzed the tabular and spatial land resources database using the Geographical Information Systems (GIS) and field observations. The analysis resulted in groupings of sub-optimal lands into, acid upland, semi-arid upland, acid sulfate tidal swamp, inland swamplands and peatland. From the total of 189.2 million ha Indonesian land, about 108.8 million ha is classified as acid upland, distributed mainly in Sumatra, Kalimantan and Papua. Semi-arid uplands of 13.3 million ha is distributed in East Kalimantan, East Java, Bali, West Nusa Tenggara and East Nusa Tenggara. The swampland, consisted of 11 million ha tidal swamps, 9.2 million ha inland swamp and 14.9 million ha peatlands in Sumatra, Kalimantan and Papua. Among the 157.2 million ha sub-optimal lands, about 91.9 million ha are suitable, but 70 million ha have been used for various uses of agriculture, infrastructure and settlement, and the remaining 21.9 million ha can be considered as land reserve for future uses with an intensified competition between sub-sectors (plantations, food crops, horticulture) as well as across sectors (mining, industry, infrastructure, settlement). The use of sub-optimal lands will become the last resort that should be managed wisely by technological innovation in accordance with the land characteristics and typologies. Maintenance and intensification of existing agricultural must also be done to address the ever-increasing demands for food, oil, fiber and timber.
Cover JSL Vol.9(1) 2015 Jurnal Sumberdaya Lahan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Cover JSL

Page 8 of 22 | Total Record : 212