cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Pertanian Indonesia: Status Terkini dan Arah Pengembangan ke Depan Yiyi Sulaeman; Ropik S.; Saefoel Bachri; Mas Teddy Sutriadi; Dedi Nursyamsi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n2.2015.%p

Abstract

Abstrak: Data dan informasi sumberdaya lahan telah banyak disediakan, yang menjadi tantangan adalah mencari cara bagaimana: (i) data dan informasi itu tersedia lestari, diperbaharui secara periodik, serta dapat diakses dengan cepat dan mudah, (ii) masyarakat luas mengetahui keberadaanya dan memahami isinya sesuai dengan keperluannya, (iii) meningkatkan nilai tambah data sebagai sumber data dan informasi lainnya, dan (iv) menjadi acuan dalam kebijakan keruangan bidang sumberdaya lahan dan pengembangan wilayah. Keempat tantangan itu dijawab dengan pembangunan dan pengembanagn sistem informasi geospasial berbasis internet. Tulisan ini mendiskusikan status terkini dan arah pengembangan ke depan dari sistem informasi sumberdaya lahan pertanian. Sistem informasi telah dibangun dan dikembangkan sejak era tahun 1980-an, namun seiring dengan kemajuan dibidang pendukung sistem, perbaruan dan pengembangan terus dilakukan. Saat ini Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan (BBSDLP) telah mengembangkan SIMADAS, IndoSoilObs, IndoSoilMap, Basisdata KL, SPKL, SI SULTAN, MOPET, dan KATALOG PETA sebagai bagian sistem informasi sumberdaya lahan pertanian.Masing-masing aplikasi mempunyai fasilitas dan fungsi khusus yang dikaitakan dengan pengelolaan, penelusuran, pemrosesan, dan diseminasi data dan informasi. Aplikasi ini terus dikembangkan dan diperbaharui (update) sistem dan isi/datanya. Isu-isu ke depan berkaitan dengan data dan informasi, software dan hardware, sumberdaya manusia, dan geovisuaslisasi akan mempengaruhi operasionalisasi sistem informasi dan aplikasi yang telah dibangun. Strategi ke depan untuk setiap isu tersebut juga didiskusikan.Abstract: Voluminous land resource data and information is available, the remaining challenge are: (i) how to sustain data availability, to update data periodically, and to ease data accessibility; (ii) how to disseminate to public the metadata about its availability and tailor the content according to its need, (iii) to increase data added value, and (iv) to offer such data as reference for spatial policy on land resource and regional development. This challenges are answered by developing internet-based geospatial information system. This paper discuss the current status and future direction of agricultural land resource information system. Information system has been developed since 1980, yet it need to be developed and updated to tailor with advances in supporting system. Currently Indonesian Center for Agricultural Land Resource Research and Development (ICALRD) has been developing SIMADAS, IndoSoilObs, IndoSoilMap, Basisdata KL, SPKL, SI SULTAN, Mopet, and KATALOG PETA as part of agricultural land resource information system. Each application offer facilities and special function related to managing, browsing, processing, and disseminating data and information. These application are being developing its system and updating its content. The future challenge related to data and information management, software and hardware, human resource, and geovisualization will influence operating of established information system and applications. Future strategies to cope with the issues are discussed. 
The Role of Land Conservation in Plantation Management A ABAS IDJUDIN
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 5, No 2 (2011)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v5n2.2011.%p

Abstract

The main problem of agricultural activities in the steep slope upland area if without adequate soil conservation practices is that it will results in soil erosion. Soil erosion causes agricultural land degradation which reduces the physical, chemical, and biological soil roperties and decreases land productivities. Soil erosion is very harmful to agricultural land productivities, because loss of the fertile topsoil in a relatively short time causes decrease of fertility and productivity of the soils. The role of conservation techniques are the way of soil conservation, which have three principles of definitions, i.e. a) to protect the soil against soil degradation, b) to improve the degraded soil, and c) to make the soil more fertile. Soil conservation practice in the field have used two methods i.e. mechanical conservation methods and vegetative conservation methods. Mechanical conservation method is the earth embankments constructed across the slope to intercept surface run off and to protect soil erosion (soil cultivation along the contour, terraces constructed, contour bank, waterways ditch, drop structure, silt pit, checkdam, gully plug, etc). While the vegetative methode are reducing the kinetic energy of the raindrops on the soil surface, reducing the run off velocity, increasing infiltration rate and reducing soil water contents. The effectiveness of soil conservation techniques in uplands area on the the soil erosion and the land productivity is different in each location. This is because of the difference of the land capability (site specific, soil behavior and properties, and the climate). Farmers’ motivation as the user of the soil conservation technologies is included as one on the determinant factors of the successfulness in improving degraded upland and in increasing land productivity.
Peranan Arang Aktif dalam Mitigasi Residu Pestisida pada Tanaman Komoditas Strategis E. Srihayu Harsanti; A.N. Ardiwinata; Mulyadi Mulyadi; A. Wihardjaka
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 7, No 2 (2013)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v7n2.2013.%p

Abstract

Abstrak. Pestisida memegang peranan penting dalam mempertahankan hasil tanaman tinggi. Namun penggunaannya yang tidak tepat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Akumulasinya di dalam tanah, air, dan produk pertanian yang melebihi kadar batas maksimum residu akan menurunkan kualitas lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu upaya mitigasi residu pestisida adalah ameliorasi dengan menggunakan arang aktif yang bahannya dapat berasal dari limbah pertanian. Arang aktif efektif menurunkan residu pestisida dalam tanah dan produk pertanian, baik pestisida organoklorin, organofosfat, ataupun karbamat. Pemberian arang aktif dari tempurung kelapa dan tongkol jagung baik dengan atau tanpa diperkaya mikroba konsorsia efektif menurunkan kadar residu lindan dan aldrin di tanaman sawi.Abstract. Pesticide plays an important role in maintaining high crop yields. However, its inappropriate use affects negative impact on the environment. Its accumulation in soil, water, and agricultural products that exceed the maximum residue limit will reduce environmental quality and human health. Amelioration using activated charcoal is one of efforts to mitigate pesticide residues. Activated charcoal materials can be derived from agricultural wastes. Activated charcoal effectively reduces pesticide residues in soil and agricultural products, either organochlorine pesticides, organophosphates, or carbamates. Application of activated charcoal from coconut shell and corn cob with or without enrichment with microbial consortia effectively reduce the levels of lindane and aldrin residues in vegetable plants such as mustard.
Inventarisasi Emisi GRK Lahan Pertanian di Kabupaten Grobogan dan Tanjung Jabung Timur dengan Menggunakan Metode IPCC 2006 dan Modifikasinya Miranti Ariani; M. Ardiansyah; Prihasto Setyanto
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 9, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v9n1.2015.%p

Abstract

Abstrak. Lahan pertanian menyumbangkan emisi gas rumah kaca (GRK) melalui beberapa proses. Skala global dan nasional, perhitungan besaran emisi GRK telah banyak dilakukan, baik dalam bentuk studi ilmiah maupun laporan nasional terkait status dan emisi di suatu negara. Inventarisasi GRK dalam skala kawasan, mencakup pengumpulan serta pembangunan data aktivitas, penentuan sasaran penurunan emisi pada penyumbang emisi utama serta membandingkan hasil perhitungan metode IPCC 2006 dan metode modifikasinya. Sumber emisi GRK utama berdasarkan jenis gas di dua kabupaten adalah gas CH4 (pengelolaan lahan sawah, fermentasi enterik dan pengelolaan kotoran ternak) yaitu sebesar > 50% (dalam CO2e). Total emisi GRK Kabupaten Grobogan dan Tanjung Jabung Timur dari tahun 2006-2011 dengan menggunakan metode IPCC 2006 adalah sebesar 678-758 Gg CO2e dan 543-659Gg CO2e, sedangkan dengan menggunakan metode IPCC 2006 modifikasi adalah sebesar 670-744 Gg CO2e dan 540-658 Gg CO2e. Emisi ini diperkirakan akan terus meningkat mencapai angka 898 Gg CO2e dan 820 Gg CO2e di tahun 2020 jika tidak ada aksi mitigasi. Total emisi di kedua provinsi dengan menggunakan metode IPCC 2006 asli dan modifikasinya hanya berbeda sebesar 1%. Modifikasi metode yang dilakukan pada perhitungan emisi N2O langsung dari tanah sawah irigasi bisa digunakan karena lebih mudah dan sederhana dalam pengumpulan data aktivitas dan perhitungannya.Abstract. Agricultural land contributes to greenhouse gas(GHG) emissions through several processes. In global and national scale, GHG emissions have been presented in scientific studies and national reports. Regional inventory mostly gathered and generate activity data, define mitigation action to main emission contributors and to compare original and modified IPCC 2006 Guidelines. CH4 emissions (rice cultivation, enteric fermentation and manure management) was the main contributor to overall GHG emissionsin the two districts with the amount of > 50% (in CO2e). Overall Grobogan and East Tanjung Jabung GHG emissions from years 2006-2011 using IPCC 2006 was 678-758 Gg CO2e and 543-659 Gg CO2e respectively and overall GHG emissions using modified IPCC 2006 was 670-744 Gg CO2e and 540-658 Gg CO2e. This emission in Grobogan and East Tanjung Jabung were expected to continue rising and reach the figure of 898 Gg CO2e and 820 Gg CO2e in 2020 if no mitigation actions implemented.The result of IPCC 2006 and it’s modification method was only 1% different in overall GHG emission in two region. The modification method to direct N2O emission from irrigated rice could be used because it’s simpler and easier both in gathering activity data and the calculation itself.
Pemberdayaan Sumberdaya Hayati Tanah Untuk Rehabilitasi Tanah Ultisol Terdegradasi Subowo G.
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 6, No 2 (2012)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v6n2.2012.%p

Abstract

Abstrak. Ultisol merupakan salah satu tanah tua, terdapat horizon argilik/iluviasi yang padat, mengalami pencucian intensif, tanah lapisan atas tipis, kesuburan rendah, dan tanah banyak mengalami degradasi. Sejalan permasalahan tersebut, upaya rahabilitasi tanah Ultisol terdegradasi di kawasan megabiodiversity seperti halnya di Indonesia dapat diupayakan dengan pemberdayaan sumberdaya hayati tanah. Fauna tanah yang mampu membuat liang di dalam tanah dapat mengurangi erosi dan pencucian hara, mikroba pelarut P dapat meningkatkan ketersediaan P tanah, mikroba penambat N2-bebas dapat meningkatkan ketersediaan hara N tanaman, dan pengkayaan populasi organisme tanah lainnya untuk meningkatkan daur hara dan konservasi C-organik tanah. Untuk mewujudkan peranan organisme tanah tersebut perlu diikuti pemberian bahan organik ataupun pupuk sebagai sumber hara dan energi, serta pengendalian jenis dan jumlah populasi organisme tanah yang memiliki peranan penting dalam memperbaiki kesuburan tanah sesuai dengan target perbaikan yang diharapkan.Abstract. Ultisol is one of the highly weathered soils, with solid agrillic or illuvial horizon, intensive leaching, a thin top layer, low fertility, and a lot of soil degradation. Along these problems, attempts to rehabilitate degraded Ultisols in megabiodiversity areas like Indonesia could be performed by empowering soil biological resources. Soil fauna having ability to create soil pores could reduce erosion and nutrient leaching, microbes have ability to dissolved P and P-availability, microbes able to fix N2 from atmosphere to increase soil nutrient, and the enrichment of populations of other soil organisms to improve nutrient cycling and soil C-organic preservation. To achieve the role of soil microorganisms, it is necessary to apply organic matter as sources of nutrients and energy, controlling the type and number of populations of soil organisms which have an important role in improving soil fertility according to the expected targets.
Peluang dan Tantangan Implementasi Model Pertanian Konservasi di Lahan Kering Achmad Rachman
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.77-90

Abstract

Abstrak. Pertanian konservasi adalah salah satu alternatif model pada praktek pertanian di lahan kering yang dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas tanaman, efisiensi usahatani, dan kualitas lingkungan melalui perbaikan kualitas tanah. Tulisan ini membahas prospek penerapan pertanian konservasi untuk meningkatkan kualitas tanah dan produktivitas lahan kering. Model pertanian konservasi lebih menekankan pada perbaikan kandungan bahan organik tanah melalui kombinasi 3 pendekatan yaitu olah tanah minimum, pemulsaan, dan pengaturan pola tanam. Introduksi model pertanian konservasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia, yang umumnya lahan pertaniannya berskala sempit (<1 ha) dihadapkan pada masalah perkembangan gulma dan penurunan produktivitas pada fase awal implementasi, dan lahan yang tidak bersih sehingga berpotensi memicu munculnya hama dan penyakit tertentu. Namun demikian, model pertanian konservasi ini berpotensi untuk mengubah lahan kering terdegradasi atau tidak produktif menjadi lahan pertanian produktif dengan efisiensi usahatani yang tinggi. Dengan manfaat jangka panjang tersebut, maka implementasi pertanian konservasi di lahan kering, yang potensinya mencapai 29,4 juta ha, akan meningkatkan secara signifikan kontribusi lahan kering terhadap upaya mempertahankan swasembada pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani lahan kering. Diperlukan proses dan modifikasi untuk mengadaptasikan teknologi ini yang disesuaikan dengan karakteristik agroekosistem, konidisi sosial, dan ekonomi lokal setempat, sehingga berbagai kendala adopsi dapat diminimalisir dan manfaat dapat dioptimalkan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu, diperlukan dukungan pemerintah dalam bentuk pelatihan, advokasi, dan bantuan input usahatani untuk meminimalisir resiko kerugian petani terutama pada tahap awal implementasi teknologi.Abstract. Conservation agriculture is an alternative model to agricultural practices in dryland which in the long term provides a number of benefits including an increase in crop productivity, farm input efficiency and environmental quality through the improvement of soil quality. This paper discusses the prospect for implementing conservation agricultural to improve soil quality and productivity of dryland. The conservation agriculture model emphasizes the improvement of soil organic matter content through a combination of 3 approaches, namely minimum tillage, mulching, and cropping pattern. Introduction of conservation agriculture into developing countries like Indonesia, which are generally small-scale farming (<1 ha), will face a number of obstacles caused by short-term and immediate shortcomings of the technology. These shortcomings include weed development and productivity decline in the early phase of implementation, and the potential to trigger the emergence of certain pests and diseases due to unclean land. However, the practice has the potential to transform degraded or unproductive drylands into more efficient and productive agricultural land. With those long-term benefits of conservation agriculture, its implementation to 29.4 million ha of dryland of Indonesia will boost significantly the contribution of dryland agriculture in sustaining national food self sufficiency and improving the welfare of dryland farmers. Processes and modifications are needed to adapt this practice to suit local agroecosystem, social and local economic characteristics so that various adoption constraints can be minimized and short-term and long-term benefits can be optimized. In addition, government supports are needed in the form of training, advocacy and farm inputs subsidies to minimize the risk of loss of farmers especially in the early stages of technology implementation.
Teknologi Peningkatan Produktivitas Lahan Bekas Tambang Timah Asmarhansyah Asmarhansyah
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.91-106

Abstract

ABSTRAKKegiatan penambangan timah telah secara nyata mengakibatkan kerusakan lingkungan biofisik lahan dan status ekonomi dan sosial masyarakat sekitar tambang. Selain itu, lahan bekas tambang timah memiliki sifat fisika, kimia, dan biologi tanah yang tergolong buruk dan bukan merupakan media tanam yang ideal untuk pertumbuhan dan produksi tanaman. Penanganan dan perbaikan kualitas lahan bekas tambang timah harus dilakukan sebelum lahan tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian produktif. Teknologi peningkatan produktivitas lahan dan tanaman sangat diperlukan, melalui inovasi teknologi pertanian. Peningkatan produktivitas tersebut patut mempertimbagkan sumberdaya yang terkait dengan lahan bekas tambang timah, meliputi sumber lahan, tanaman, peternakan, dan air. Aplikasi bahan organik dan bahan pembenah tanah mampu memperbaiki kualitas lahan bekas tambang timah. Implementasi sistem pertanian terintegrasi akan mampu meningkatkan produktivitas lahan bekas timbang timah untuk pertanian produktif secara komprehensif dan berkelanjutan.Kata kunci: lahan, tambang timah, produktivitas
Ketersediaan Lahan Mendukung Ekspor Jagung Kabupaten Bengkayang ke Malaysia Masganti Masganti; Ani Susilawati; Muhammad Yasin
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.107-116

Abstract

Abstrak. Jagung merupakan tanaman multifungsi, tetapi di Indonesia lebih banyak dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak. Kelangkaan komoditas ini di pasaran berefek ganda terhadap industri pakan, harga pakan dan harga ayam potong dan telur. Kebijakan Pemerintah melarang impor jagung dan mengekspor 3,0 juta ton jagung ke Malaysia perlu didukung secara penuh dan konsisten. Kabupaten Bengkayang merupakan sentra produksi jagung Kalimantan Barat dengan kontribusi 76,71%. Petani di kabupaten ini sudah terbiasa membudidayakan jagung dengan rata-rata produktivitas 4,07 t ha-1. Dari 17 kecamatan yang ada, semuanya mempunyai tradisi menghasilkan jagung. Peningkatan produksi jagung melalui perluasan areal tanam dengan memanfaatkan sekitar 183.934,5 ha lahan yang merupakan (1) perluasan areal tanam melalui pemanfaatan lahan kehutanan APL dan HP, (2) tumpangsari dengan tanaman perkebunan, (3) optimasi lahan bera, dan (4) intensifikasi daerah sentra produksi. Dengan memanfaatkan lahan tersebut, Kabupaten Bengkayang berpotensi menghasilkan 665.434 ton jagung pipilan kering atau setara dengan 21,85% quota ekspor jagung ke Malaysia. Perluasan areal tanam jagung di Kabupaten Bengkayang perlu didukung oleh hal-hal teknis seperti (a) ketersediaan tenaga kerja yang terampil, Alsintan (pengolah tanah, pemeliharaan, pemanen, dan pemipil, dryer), lantai jemur, air, saprodi (benih, insektisida, herbisida), dan pupuk organik, (b) pendampingan teknologi dari penyuluh dan peneliti, dan (c) kelembagaan seperti kios saprodi dan organisasi petani.
Pengelolaan Lansekap Lahan Bekas Tambang: Pemulihan Lahan Dengan Pemanfaatan Sumberdaya Lokal (In-Situ) Deddy Erfandi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.55-66

Abstract

Abstrak. Salah satu pemanfaatan lahan yang memiliki dampak negative terhadap kualitas lahan adalah kegiatan penambangan. Dengan ekploitasi lahan yang intensif menyebabkan permukaan lahan (lansekap) menjadi tidak beraturan. Limbah sisa hasil tambang yang berada dipermukaan lahan seperti batuan sisa bahan tambang (overburden), sisa bahan tambang yang berbentuk pasir (tailing) dan air asam tambang serta limbah batuan yang mengandung logam berat sering menimbulkan kualitas lahan menjadi stress. Bahan sisa limbah hasil tambang memiliki kandungan bahan organik dan kelembaban tanah yang sangat rendah, tanah mudah padat. Lapisan tanah atas pada lahan bekas tambang sangat heterogen dan memiliki berat isi tinggi, bersifat toksik dan hara makro menjadi tidak tersedia bagi tanaman sehingga tanaman tidak tumbuh dan berproduksi serta memiliki populasi mikroba tanah rendah. Pengelolaan lansekap pada lahan bekas tambang tidak terlepas dari tindakan konservasi tanah, karena selain memperbaiki tanah untuk media tumbuh tanaman, juga mengurangi dampak negative terhadap erosi dan aliran permukaan. Salah satu pendekatan dalam pengelolaan lansekap adalah meningkatkan kualitas tanah yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pencegahan degradasi lahan dan membangun sumber bahan organik in-situ, melalui rotasi tanaman, sistim pengolahan tanah, penggunaan mulsa tanaman, tanaman penutup tanah dan pertanaman berlereng. Pemanfaatan sumberdaya lokal menjadi penting dalam rangka meningkatkan kualitas lahan bekas tambang. Namun hal terpenting bahwa pembenah tanah harus potential memperbaiki sifat fisik, kimia dan mikrobiologi tanah, serta bahan pembenah tanah atau ameliorant merupakan sumberdaya lokal.  Abstract. One use of land that has a negative impact on the quality of land is mining. With the intensive exploitation of land which causes the surface of the land (landscape) becomes irregular. Residual waste that is surface mined land as mine waste rock material (overburden), residual minerals in the form of sand (tailings) and acid mine drainage and waste rock containing heavy metals often cause the quality of land to become stressed. Waste material mined residual organic matter and soil moisture is very low, easy to soil solid. A layer of topsoil on mined lands is very heterogeneous and have a high bulk density, toxic and macro nutrients unavailable to plants so that the plants do not grow and produce, and have low soil microbial populations. Landscape management on mined land can not be separated from soil conservation measures, because in addition to improve the soil for plant growth media, also reduces the negative impact on erosion and runoff. One approach in the management of the landscape is improving soil quality that are environmentally friendly and sustainable. Prevention of land degradation and build a sources of organic material in-situ, through crop rotation, tillage systems, crop mulching, cover crops and crop cycle. Utilization of local resources to be important in order to improve the quality of mined lands. But the most important thing, that soil ameliorant should be potential improve to soil physical, chemical and biological , as well as ameliorant material are a local resource.
Ecohydrology Towards Integrative Ecosystem Modeling: A Review Setyono Hari Adi
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v11n2.2017.67-76

Abstract

Keterkaitan antara air dan ekosistem sudah dikenal sejak lama, akan tetapi konsep ekohidrologi baru saja diperkenalkan sejak tiga dekade yang lalu. Konsep ini memperluas tema penelitian di bidang hidrologi dengan mengintegrasikan parameter ekologi ke dalam proses pemodelannya. Artikel ini ditulis untuk mengidentifikasi tren penelitian di bidang hidrologi selama satu dekade terakhir (2004-2015), dengan tujuan utama untuk mencari kesenjangan antara penelitian hidrologi dan ekologi ke arah pemodelan ekosistem yang terintegrasi. Data dari artikel-artikel bersitasi tinggi di tiga jurnal publikasi internasional di bidang sumber daya air menunjukkan bahwa hanya 10% dari total artikel yang direview mengintegrasikan parameter ekologi secara kuantitatif. Rendahnya persentase integrasi ekologi dalam penelitian di bidang sumber daya air disebabkan oleh tiga kesenjangan ilmiah, meliputi: (1) kesenjangan isu, dimana isu sumber daya air diperlakukan sebagai variabel empiris utama; (2) kesenjangan model, dimana air merupakan satu-satunya parameter yang dipertimbangkan dalam pemodelan; dan (3) kesenjangan data, yang terfokus pada permasalahan ketersediaan data ekologi untuk analisis. Tiga rekomendasi terkait dengan kesenjangan ilmiah ini meliputi: (1) memperkuat konsep ekohidrologi dengan memandang air adalah bagian tidak terpisahkan dari ekosistem bumi yang saling terkait, (2) mendorong integrasi parameter ekologi ke dalam pemodelan hidrologi, dan (3) pengembangan teknik peningkatan skala (resolusi) data yang terintegrasi dengan analisis ketidaktentuan.