cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sumberdaya Lahan
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 19070799     EISSN : 27227731     DOI : -
diterbitkan oleh Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Jurnal Sumberdaya lahan terbit 2 kali setahun memuat suatu tinjauan terhadap hasil-hasil penelitian atau terhadap suatu topik yang berkaitan dengan aspek tanah, air, iklim, dan lingkungan pertanian
Arjuna Subject : -
Articles 212 Documents
Modifikasi Metode Evaluasi Kesesuaian Lahan Berorientasi Perubahan Iklim Sukarman Sukarman; Anny Mulyani; Setiyo Purwanto
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v12n1.2018.1-11

Abstract

Abstract. Evaluasi lahan adalah salah satu instrumen yang biasa digunakan dalam menilai   kesesuaian lahan untuk berbagai komoditas pertanian di suatu wilayah.  Lahan dapat diklasfikasikan sesuai untuk pengembangan komoditas tertentu jika secara biofisik maupun secara sosial ekonomi tergolong sesuai. Parameter yang digunakan dalam menilai suatu lahan adalah karakteristik lahan,  diantaranya adalah unsur iklim, yaitu curah hujan rata-rata tahunan, temperatur udara rata-rata tahunan dan kelembaban udara.  Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan saran dan rekomendasi untuk menambahkan parameter pada karakteristik tanah yang digunakan dalam penilaian kesesuaian lahan berbagai komoditas pertanian sebagai akibat dari perubahan iklim. Saat ini di dunia telah terjadi perubahan iklim yang berdampak pada karakteristik lahan di suatu wilayah.  Umumnya, perubahan iklim dianggap sebagai salah satu ancaman yang sangat serius terhadap sektor pertanian dan berpotensi mendatangkan masalah baru bagi keberlanjutan produksi pangan dan sistem produksi pertanian. Secara umum, perubahan iklim akan menyebabkan terjadinya ancaman kekeringan, banjir dan kenaikan muka air laut. Hal tersebut berdampak terhadap penyusutan dan degradasi (penurunan fungsi dan kualitas) sumberdaya lahan, air dan infrastruktur irigasi. Kejadian tersebut menyebabkan terjadinya penurunan pertumbuhan serta produksi tanaman.  Oleh karena itu faktor kerentanan kekeringan, kerentanan banjir dan kenaikan permukaan air laut diusulkan untuk dijadikan parameter penilaian kesesuaian lahan agar hasil penilaian kesesuaian lahan sesuai dengan kondisi sebenarnya.  Abstract. Land evaluation is one of the instruments commonly used in land suitability assessment for various agricultural commodities in a region. Land can be classified suitable for the development of certain commodities if it is biophysically and socio-economically appropriate. The parameters used in assessing land suitability are the characteristics of the land, including the elements of climate, namely annual average rainfall, annual average air temperature and air humidity. The objective of this paper is to provide advices and recommendations for adding parameters on land characteristics used in the assessment of land suitability of various agricultural commodities as caused of climate change. At present, the world climate change has occurred which has an impact on the characteristics of land in a region. Generally, climate change is considered to be one of the most serious threats to the agricultural sector and has the potential to bring new problems to the sustainability of food production and agricultural production systems. In general, climate change may cause threats in the droughts, floods and sea level rise. This could have an impact on reduction and degradation (decreased function and quality) of land resources, water and irrigation infrastructure. This situation caused a decrease in plant growth and production. Therefore, factors of drought susceptibility, flood vulnerability and sea level rise are proposed to be used as parameters for land suitability evaluation in order to determine land suitability which represent actual conditions. 
Sistem Alley Cropping: Analisis SWOT dan Strategi Implementasinya di Lahan Kering DAS Hulu Ratri Ariani; Umi Haryati
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v12n1.2018.13-31

Abstract

Abstrak. Ditinjau dari segi luasan, lahan kering di Indonesia merupakan lahan yang cukup potensial, untuk dikembangkan sebagai areal pertanian. Namun usaha pertanian di areal ini dihadapkan pada beberapa kendala, diantaranya karena lahan ini banyak tersebar di daerah pegunungan dengan topografi yang curam sehingga rawan erosi. Untuk itu usahatani konservasi mutlak perlu dilakukan. Teknik konservasi mekanik berupa teras bangku, yang telah banyak dikenal dan diadopsi petani, diyakini dapat menurunkan erosi, namun teknik ini tidak selalu cocok diimplementasikan pada semua kondisi, selain memerlukan biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu, teknik konservasi vegetatif lebih disarankan untuk diapliksikan di areal ini. Sistem pertanaman lorong (alley cropping) merupakan teknik konservasi vegetatif yang telah terbukti efektif mengendalikan erosi dan aliran permukaan (runoff), kehilangan hara, meningkatkan produktivitas tanah dan tanaman, efisien dari segi biaya, serta dapat diadopsi oleh petani berdasarkan hasil-hasil penelitian. Dengan demikian, sistem pertanaman lorong berpeluang untuk dikembangkan di areal lahan kering dengan memperhatikan keunggulan dan kelemahannya. Makalah ini mengemukakan tentang keunggulan dan kelemahan sistem pertanaman lorong serta peluang dan tantangan yang akan dihadapi di dalam implementasinya di lahan kering berdasarkan hasil analisis SWOT (strengths, weeknesses, opportunities, threats). Pengembangan strategi untuk implementasi sistem alley cropping meliputi strategi yang bersifat teknis dan non teknis.Abstract. In terms of area, upland in Indonesia is a potential land to be developed as an agricultural area. However, this agricultural bussines on this area is faced with several problem, some of them is because the agricultural land is spread in mountainouns area with a steep topography that is easy to erosion, therefore conservation agriculture system is absolutely needed. Mechanical soil conservation techniques such as bench terrace which have been widely known and farmer-friendly are believed to reduce erosion, but this technique is not always suitable to be implemented in all condition other than requiring high cost, therefore vegetative conservation vegetative conservation techniques are more suggested to control erosion in this area. Alley cropping system is a vegetative conservation technique that has been proven effective in controlling erosion and runoff, nutrient loss, increasing land and crop productivity, cost efficient and can be adopted by farmers based on the research results. Thus, the alley cropping system is likely to be developed in upland area with attention to its advantages and disadvantages. This paper presents the advantages and disadvantages of alley cropping system and the opportunities and challenges that will be faced in its implementation in upland based on SWOT (strengths, weeknesses, opportunities, threats) analysis. Development of strategy for implementation of alley cropping system includes technical and non technical strategy. 
Penggunaan Prakiraan Musim untuk Pertanian di Indonesia: Status Terkini dan Tantangan Kedepan Yeli Sarvina; Elza Surmaini
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v12n1.2018.33-48

Abstract

Prakiraan musim sangat penting dalam pengambilan keputusan usaha tani karena variabilitas iklim yang semakin meningkat sebagai dampak dari perubahan iklim. Prakiraan musim memiliki potensi untuk bisa membantu pengambil kebijakan dan keputusan pertanian. Kajian empirik dan literatur serta kuantifikasi nilai ekonomi pemanfaatan prakiraan iklim di Indonesia untuk pertanian masih sangat terbatas. Tulisan ini merupakan tinjauan mengenai pemanfaatan prakiraan musim dalam sistem usahatani, perkembangan terkini prakiraan musim, nilai ekonomi prakiraan musim, kendala dan tantangan ke depan. Kajian nilai ekonomi prakiraan musim untuk pertanian masih belum banyak dilakukan, kuantifikasi manfaat prakiraan musim sangat penting untuk meyakinkan pengambil kebijakan atau petani bahwa prakiraan musim memberikan manfaat bagi pertanian. Prakiraan musim masih sulit dipahami oleh petani bahkan penyuluh. Beberapa user interface telah dikembangkan untuk memudahkan memanfaatkan prakiraan musim untuk pertanian. Peningkatan akurasi prakiraan musim ke depan harus menjadi prioritas pembangunan pertanian dan merupakan salah satu investasi penting dalam adaptasi variabilitas dan perubahan iklim. Peningkatan akurasi prakiraan musim sangat tergantung pada kapasitas sumber daya manusia serta sarana pendukung seperti sistem pemantauan dan pengamatan data iklim, pengembangan model prakiraan musim .Pengembangan berbagai user interface yang lebih mudah dipahami dan diaplikasikan oleh petani harus dilakukan
Pengaruh Pola Rotasi Tanaman terhadap Perbaikan Sifat Tanah Sawah Irigasi Agus Suprihatin; Johanes Amirullah
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v12n1.2018.49-57

Abstract

Abstrak. Penggenangan terus-menerus di lahan sawah akan berpengaruh terhadap keseimbangan kimia dan biologi tanah. Pergantian aerobik dan anaerobik di lahan sawah merupakan satu kontrol alami yang efektif mengendalikan keseimbangan biologi dan nonbiologi sehingga tanah sawah menjadi sehat dan tetap produktif. Penerapan rotasi tanamanantara tanaman padi dengan palawija maupun hortiklutura merupakan salah alternatif yang bijak untuk tetap mempertahankan produktivitas dan kesuburan lahan, dan perekonomian petani. Penerapan rotasi tanam memiliki peranan terhadap beberapa aspek antara lain agronomi, ekonomi dan lingkungan. Pengelolaan lahan pertanian tanah sawah secara terus-menerus pada berbagai rotasi tanam dapat meningkatkan berat jenis tanah, dan persentase fraksi lempung dalam tanah sawah. Rotasi tanaman padi-palawija/hortikultura dapat memperbaiki srtuktur tanah melalui peningkatan nilai MWD. Penerapan rotasi tanaman secara terus-menerus berpengaruh nyata terhadap perubahan sifat kimia tanah seperti pH, N-total, P dan K-tersedia, KPK tanah, dan C-organik. Penerapan rotasi tanaman padi-jagung pada 1 – 2 tahun pertama memberikan kadar N-total tanah, NO3- dan DOC yang sangat tinggi. Penanaman jagung di musim kemarau pada rotasi tanaman padi-jagung dapat menyimpan air dan menekan pencucian hara, daripada penanaman padi-padi dalam jangka panjang. Pengembalian nutrisi nitrogen dalam rotasi tanaman dapat dilakukan melalui penanaman tanaman legum setelah penanaman tumbuhan serealia dan sejenisnya.Abstract. Continuous flooding in paddy fields will disrupt the biological and chemical balance of the soil. Substitution of aerobics and anaerobics in paddy fields is a natural control that effectively controls the biological and nonbiological balance so that the paddy fields become healthy and remain productive. Application of plant rotation between rice plants with crops and horticulture is a wise alternative to maintain the productivity and fertility of paddy field, and the economy of farmer. Application of rotation has a role to play on several aspects such as agronomy, economy and environment. Continuous management of paddy field on various rotations of cropping can increase bulk density, and the percentage of clay fraction in paddy soil. Rotation of rice-upland/horticulture can improve soil structure by increasing the value of MWD. Continuous application of crop rotation has a significant effect on changes in soil chemical properties such as pH, totalN, available P and K, CEC, and organic carbon. The application of rotation of rice-maize in the 1–2 years can give very high total N, NO3- and DOC levels. The planting of maize in the dry season on a rotation of rice-maize can store water and suppress nutrient leaching, rather than long-term rice-rice cultivation. Return of nitrogen nutrients in crop rotation can be done through planting legumes after planting cereals and the like.
Parameter Iklim sebagai Indikator Peringatan Dini Serangan Hama Penyakit Tanaman Erni Susanti; Elza Surmaini; Woro Estiningtyas
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v12n1.2018.59-70

Abstract

Abstract. Efek negatif pemanasan global akan mempengaruhi sebagian besar organisme hidup termasuk hama penyakit tanaman. Variabel iklim seperti suhu, curah hujan, kelembaban, dan atmosfer gas akan berinteraksi dengan makhluk hidup/tanaman dengan berbagai cara dengan mekanisme yang beragam. Perubahan suhu dan konsentrasi CO2 mempengaruhi mahkluk hidup/tanaman secara langsung dalam hal jaringan dan alokasi fotosintesis organ spesifik dan secara tidak langsung melalui perubahan distribusi geografis dan dinamika populasi hama penyakit tanaman. Peningkatan suhu akan menyebabkan serangga/hama menjadi lebih berlimpah, ada kaitan kuat antara ledakan (outbreak) hama penyakit tanaman dengan variabiltas iklim. Model hubungan parameter iklim dengan serangan hama penyakit tanaman dapat digunakan sebagai teknologi adaptasi peringatan dini untuk mencegah terjadinya serangan hama penyakit tanaman, agar kehilangan hasil tanaman dapat ditekan. Konsep tulisan ini adalah pentingnya membangun peringatan dini serangan OPT berbasis model persamaan iklim dengan serangan OPT, sehingga data prediksi iklim dapat dimanfaatkan, dan kehilangan hasil akibat serangan OPT dapat ditekan. Selain itu agar sistem dapat berkembang dan berkisinambungan pembangunan sistem peringatan dini perlu integrasi beberapa instansi terkait, yaitu Kementerian Pertanian dan Universitas sebagai penyusun model prediksi dan BMKG sebagai penyedia data prediksi iklimnya.
Cover JSDL Vol. 11 No. 1 Juli 2017 Ika Mustika Sundari
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover depan
Cover JSDL Vol. 11 No. 2 Desember 2017 Ika Mustika Sundari
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 11, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cover depan
Reklamasi Lahan Bekas Tambang Timah Berpotensi sebagai Lahan Pertanian di Kepulauan Bangka Belitung asmarhansyah asmarhansyah; Rahmat Hasan
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 12, No 2 (2018)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v12n2.2018.73-82

Abstract

Abstrak. Lahan bekas tambang timah berpeluang untuk dimanfaatkan sebagai areal pertanian dalam upaya pemenuhan kebutuhan pangan dan mengatasi persoalan lingkungan pasca penambangan. Tujuan makalah ini adalah untuk mengkaji upaya reklamasi lahan bekas tambang timah untuk dijadikan areal pertanian di Kepulauan Bangka Belitung. Luas seluruh izin usaha penambangan (IUP) yang telah diterbitkan oleh pemerintah pusat dan daerah dan dimiliki oleh perseroan di darat sebesar 327.524 ha, sedangkan luas IUP di laut 183.837 ha. Aspek biofisik lahan sangat menentukan keberhasilan reklamasi lahan bekas tambang timah. Pemanfaatan lahan bekas tambang timah sebagai areal pertanian menemui sejumlah kendala biofisik lahan, seperti bentang lahan (lanskap) yang tidak beraturan, hilangnya lapisan atas tanah (top soil), rendahnya status kesuburan tanah, dan terganggunya kualitas air kolong. Selain aspek biofisik, upaya reklamasi juga patut mempertimbangkan aspek sosial ekonomi, seperti status kepemilikan lahan, pengetahuan dan keterampilan petani, dan kelayakan biaya usaha tani. Penyimpanan tanah pucuk, penataan lahan, penggunaan amelioran, pengembangan Legume Cover Crops, implementasi Integrated Farming Systems, dan perbaikan kualitas air kolong di lahan bekas tambang timah diyakini mampu meningkatkan kualitas dan daya dukung lahan bekas tambang timah untuk areal pertanian. Reklamasi lahan bekas tambang timah juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat, pemerintah daerah, dan perusahaan tambang timah. Kegiatan reklamasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat setempat untuk berusaha tani di lahan bekas tambang timah dapat dijadikan sebagai salah satu indikator keberhasilan reklamasi pasca penambangan.Abstract. Abandoned tin-mining lands have the potential to be used as agricultural areas in order to fulfill food demand and solve the environmental problems derived from mining activities. The purpose of this paper is to assess the reclamation measures on abandoned-tin mining areas which could be used as agricultural areas in Bangka Belitung Islands. The total areas of the mining business license (IUP) issued by the central and local government and owned by the company are 327,524 ha in inland and 183,837 ha in the sea. Biophysical aspects largely determines the success of reclamation of abandoned tin-mining areas. Utilization of abandoned-tin mining areas as agricultural areas is facing land biophysical constraints, such as undulating landscape, losses of top soil, low soil fertility status, and disruption of water quality of tin-mining pond. In addition to the biophysical aspects, reclamation efforts should also consider the socio-economic aspects, including land ownership status, knowledge and skills of farmers, and the feasibility of the cost of farming systems. Conservation of top soil, arrangement of land, development of legume cover crops, implementation of Integrated Farming Systems, and improvement of water quality in the area under the former tin mine are believed to improve the quality and carrying capacity of abandoned tin-mining areas to be used as agricultural areas. Reclamation of abandoned tin-mining areas also requires the active participation of the community, local government, and tin mining company. Reclamation activities that can provide benefits to local communities for farming in tin mined land can be used as one indicator of the success of the post-mining reclamation.
Characteristics of Spodosols, Limitation and Usage Potential NATA SUHARTA; EDI YATNO
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v3n1.2009.%p

Abstract

Spodosols characterized by the presence of spodic and albic horizons, are problem soils due to low productivity, coarse texture and low nutrient status. This soil was generally covered by alang-alang or shrub and bush. The soils were generally distributed in cold climate or wet tropical areas with high rainfall. The objectives of this paper were to discuss the characteristics ofSpodosols in Kalimantan and Sumatra and the possibility of their utilization. In Indonesia, this soil is found in Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, and Papua Islands. Parent materials of the soils were originated from quartz sand, sediment or acid sedimentary rocks (quartz sandstone) with low nutrients status. Physiographically, the soils were distributed in alluvial plain, colluvial, sand beach, sand dune, tectonic plain and sandstone plateau on elevation of 5 to >1,500 m asl, with flat to nearly undulating relieves. The soil physical properties were characterized by coarse texture and the presence of root limiting layer such as fragipan, duripan, or placic horizon (organo-metal complex) with various depth. The soil chemical properties were characterized by acid soil reaction, very low exchangeable bases, P and K nutrient, and mineral reserve. Cation exchange capacity of the soils depends on their soil organic matter content. Based on the soil characteristics, most Spodosols were not suitable for agricultural land development. Therefore the Spodosols usages should be directed not only for production increases but also for environmental healthiness and soilcare. The Spodosols land that have been opened needs to be optimally used in order to increase soil quality through appropriate soil and plant management. The new land cleared for agriculture and production forest needs carefully actions with localizing the Spodosols distribution in order to maintain the natural vegetations as conservation forest or recreation areas.
Contribution of Earthworms to Increase Soil Fertility and Soil Organism Activities EA KOSMAN; SUBOWO GITOSUWONDO
Jurnal Sumberdaya Lahan Vol 4, No 2 (2010)
Publisher : Indonesian Center for Agriculture Land Resource Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jsdl.v4n2.2010.%p

Abstract

Upland in the wet tropical region is dominated by acid soils, low organic matter content, and compacted subsoil layer (especially argillic horizone). The compacted soil inhibit penetration of plant roots and surface water infiltration and increase surface runoff and soil erosion, and low soil productivity. Soil fertility restoration through mechanical processing is difficult to be done, beside damaging the plant roots but also increasing soil erosion. Empowerment of earthworms in their life cycle can make a hole in the soil (burrower), prevent soil compaction, improve soil aeration, spreading organic matter and organic matter inhibits the rate of depreciation of land, and increase soil biological activity, and further can improve soil fertility without disrupting growth plants.