cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Alamat Kantor Editor Jurnal Jalan Tentara Pelajar 3A, Bogor 16111 Jawa Barat, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Plasma Nutfah
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14104377     EISSN : 25491393     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by The Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), The Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. This peer-refereed journal covering the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation, of all kinds of genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes. Manuscripts submitted to this journal are those that have never been published in other journals. This journal is published in one volume of two issues per year (June and December). We invite authors to submit the manuscripts to this journal in English or Indonesian. Detail information about the journal, including author guidelines and manuscript template, is available on the website (http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/bpn). The manuscript should be submitted electronically through our submission system. Buletin Plasma Nutfah (BPN) is an open access scientific journal published by Indonesian Center for Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research and Development (ICABIOGRAD), Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD), Ministry of Agriculture. BPN Accredited by Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia (No. 21/E/KPTP/2018) for period of 2016-2020. This peer-refereed journal covers the area of genetic resources including exploration, characterization, evaluation, conservation, diversity, traditional knowledge, management and policy / regulation related to genetic resources: plants, animals, fishes, insects and microbes which has never been published in other Journal
Arjuna Subject : -
Articles 296 Documents
Perbanyakan Klonal Temu Mangga (Curcuma mangga) melalui Kultur In Vitro Sri Hutami; Ragapadmi Purnamaningsih
Buletin Plasma Nutfah Vol 9, No 1 (2003): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v9n1.2003.p39-44

Abstract

AbstractCurcuma mangga is a medicinal crop species. This species has a good prospect for further development in conjunction with the back to nature concept in traditional medicine recently. C. mangga was expected to have atsiri oil content, therefore, further research is needed. Currently cultivation of C. mangga is not done intesively and comercially. Plant multiplication through in vitro culture could provide seedling rapidly and continously for big area. The aim of this experiment was to find the best medium for clonal multiplication and aclimatization of C. mangga. The experiment was conducted at Tissue Culture Laboratory of Indonesian Agricultural Biotechnology and Genetic Resources Research Institute from April 2001 to May 2002. Repeated sub culture, growth regulator were applied to increase multiplication and some growth medium were used for aclimatization. The treatment combination between basic medium (MS and Gamborg) with three growth regulators (BAP, kinetin, and thidiazuron) were applied. Several growth media were used for aclimatization in green house (1) soil + manure; (2) Soil + rice husk; (3) soil + compost; (4) soil + casting (1 : 1). Complete randomized design with 10 replication for in vitro culture and 8 replications for aclimatization were used in this experimant. The result showed that there was no interaction between basic medium and growth regulator with plant height, number of bud, and number of leaf. There was no significant different in plant height, number of bud and number of leaf at MS medium, Gamborg or combination with BAP, kinetin, and thidiazuron at 1 month after planting. There was interaction between basic medium and growth regulator with length and number of root C. mangga 1 month after planting. The best medium for clonal multiplication of C. mangga were Gamborg + kinetin 3-5 mg/l and thidiazuron 0.5 mg/l. The best medium for aclimatization was soil + manure (1 : 1).AbstrakTemu mangga (Curcuma mangga) merupakan tanaman yang biasa dipakai untuk keperluan dapur dan obat tradisional. Kecenderungan kuat untuk kembali kepada cara-cara pengobatan yang menerapkan konsep back to nature, menyebabkan tanaman ini mempunyai prospek untuk dikembangkan. Tanaman temu mangga diduga mengandung minyak atsiri. Sampai saat ini, budi daya tanaman temu mangga belum intensif dan belum komersial. Perbanyakan tanaman melalui kultur in vitro terbukti dapat mempercepat pengadaan bibit skala besar sesuai kebutuhan secara berkesinambungan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui media yang cocok untuk perbanyakan klonal dan aklimatisasi tanaman temu mangga. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (Balitbiogen), Bogor pada April 2001-Mei 2002. Penelitian meliputi perlakuan subkultur berulang, penggunaan zat pengatur tumbuh untuk meningkatkan multiplikasi biakan, dan penggunaan beberapa komposisi media tanam pada tahap aklimatisasi. Perlakuan media tumbuh pada penanaman secara in vitro adalah kombinasi antara media dasar (MS dan Gamborg) dengan 3 macam zat pengatur tumbuh (BAP, kinetin, dan thidiazuron) pada beberapa taraf konsentrasi. Aklimatisasi di rumah kaca menggunakan beberapa media tumbuh, yaitu (1) campuran tanah + pupuk kandang, (2) tanah + sekam, (3) tanah + kompos, (4) tanah + casting dengan perbandingan 1 : 1. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap dengan 10 ulangan pada perlakuan media secara in vitro dan 8 ulangan pada aklimatisasi. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada interaksi antara media dasar (MS dan Gamborg) dengan zat pengatur tumbuh terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas, dan jumlah daun temu mangga. Baik media dasar MS, Gamborg, maupun kombinasi pemberian BAP, atau kinetin dengan thidiazuron tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah tunas, dan jumlah daun temu mangga umur 1 bulan. Interaksi antara media dasar (MS dan Gamborg) dengan zat pengatur tumbuh berpengaruh nyata terhadap panjang dan jumlah akar temu mangga umur 1 bulan. Media terbaik untuk perbanyakan klonal tanaman adalah Gamborg dengan penambahan kinetin 3-5 mg/l dan thidiazuron 0,5 mg/l. Media untuk aklimatisasi temu mangga terbaik adalah tanah + pupuk kandang (1 : 1).
Karakter Buah Galur Melon Generasi S6 dan S7 Makful Makful; Hendri Hendri; Sahlan Sahlan; Sunyoto Sunyoto; Kuswandi Kuswandi
Buletin Plasma Nutfah Vol 23, No 1 (2017): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v23n1.2017.p1-12

Abstract

Karakterisasi galur sangat dibutuhkan untuk mendapatkan informasi tentang keunggulannya. Sejak tahun 2009 sampai 2011 Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika melakukan penggaluran melon dan telah menghasilkan delapan galur S5. Dalam kegiatan penggaluran, materi pemuliaan galur generasi S6 dan S7 diuji di Kebun Percobaan Sumani, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Sumatra Barat. Penelitian ini bertujuan untuk membentuk galur murni melon dengan keunggulan sifat-sifat tertentu dan dapat diusulkan sebagai varietas unggul baru kategori open pollinated. Rancangan penelitian yang digunakan ialah Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan 10 perlakuan varietas melon (delapan galur melon, yaitu 86DH, 86P, Nomani-R, 411, 78K, 86M, MB3, MB4, dan pembanding yang sudah adaptif di lokasi penanaman, yaitu Amanta, Sweet M-10, dan Glamour) dengan ulangan tiga kali di mana setiap ulangan terdiri atas 20 tanaman. Penelitian dilakukan mulai dari Januari 2012–Desember 2013 dengan cara melakukan penanaman galur S6 danS7 dan karakterisasi morfologi tanaman. Data kualitatif yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif, sedangkan data kuantitatif dianalisis menggunakan analisis varian (Anova). Hasil pengamatan karakter galur melon generasi S6 menunjukkan bahwa rerata tertinggi bobot buah diperoleh dari galur 86DH, Amanta (pembanding) dan MB3 dengan bobot antara 2,01–1,69 kg, sedangkan untuk TSS selain galur melon Nomani-R (MB10), 9 galur melon yang diuji memiliki nilai TSS antara 11,1–12,7 °Bx. Berdasarkan karakter warna daging buah, warna kulit, dan tekstur daging buah, galur 86DH, 78K, Nomani-R, dan 411 mengekspresikan keseragaman. Hasil pengamatan karakter galur melon pada generasi S7 menun-jukkan bahwa galur melon 86P unggul pada karakter bobot dan galur 86M, 86P, dan Nomani-R unggul pada karakter rasa manis dibanding dengan varietas pembanding Glamour. Galur melon 86M, 78K, 411, Nomani-R, dan MB3 seragam dan stabil untuk semua karakter yang diamati. Galur melon 86DH, 86P, dan MB4 masih bervariasi untuk keragaan kulit buah dan warna daging buah.
Potensi Hasil Aksesi Plasma Nutfah Ubi Jalar di Dataran Tinggi Minantyorini Minantyorini; Sutoro Sutoro; Sujarno Sujarno
Buletin Plasma Nutfah Vol 22, No 1 (2016): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v22n1.2016.p31-40

Abstract

Plasma nutfah ubi jalar yang telah dikoleksi dari Sulawesi, NTT, Bali, NTB, dan daerah lainnya perlu dikarakterisasi dan di-evaluasi untuk menentukan identitas, pengelolaan konservasi, dan hasil pemanfaatannya. Salah satu parameter yang perlu diketahui ialah potensi hasil. Tujuan evaluasi plasma nutfah ubi jalar ini adalah mengelompokkan aksesi-aksesi berdasarkan potensi hasil pada umur panen 8, 9, dan 10 bulan setelah tanam (BST). Sebanyak 533 aksesi plasma nutfah ubi jalar, masing-masing ditanam 10 tanaman/aksesi, dengan jarak tanam 25 cm × 100 cm dan ditanam satu bibit/tanaman. Dosis pemupukan yang digunakan ialah 60 kg NO3, 35 kg P2O5 dan 75 kg K2O per ha, 1/3 dosis N dan K dan seluruh dosis P diberikan pada saat tanam, 2/3 dosis N dan K diaplikasikan pada saat tanaman berumur satu bulan. Pengelompokan menggunakan tingkat kemiripan 75%. Hasil evaluasi menunjukkan pengelompokan 134 aksesi berdasarkan produktivitas pada umur panen 8 BST menghasilkan 4 kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri atas 130, 2, 1, dan 1 aksesi. Lima aksesi dari kelompok 2 dan 3 mempunyai potensi hasil 2.433–3.767 g/tanaman. Pada umur panen 9 BST, pengelompokan 179 aksesi juga menghasilkan 4 kelompok, yang masing-masing kelompok terdiri atas 36, 9, 2, dan 132. Dari kelompok 2 dan 3 diketahui 48 aksesi mempunyai potensi hasil 1.468–2.333 g/tanaman. Pada umur panen 10 BST, pengelompokan 50 aksesi menghasilkan 6 kelompok. Dari kelompok 3 dan lima diketahui 35 aksesi mempunyai potensi hasil 1.211–1.416 g/tanaman. Hasil evaluasi juga menunjukkan 37 aksesi belum berumbi pada 12 BST.
Back Matter Bul PN Vol 22 No 1 Buletin Plasma Nutfah
Buletin Plasma Nutfah Vol 21, No 1 (2015): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v21n1.2015.p%p

Abstract

Potensi Pohon Kulim (Scorodocarpus borneensis Becc.) di Kelompok Hutan Gelawan Kampar, Riau N. M. Heriyanto; R. Garsetiasih
Buletin Plasma Nutfah Vol 10, No 1 (2004): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v10n1.2004.p37-42

Abstract

AbstractThe potencial study of kulim tree (Scorodocarpus borneensis Becc.) conducted at Gelawan Forest Complex, Kamper District, Riau in April 2001. Square plot of 1 x 1 km (100 ha) was used. Five systematically arranged strips of 1,000 x 20 m were used, where distance between strips was 200 m. Observation were done on seedling, sapling, pole, and tree within each strip. Results indicated that kulim stand was abnormal where more trees were found than number and that of the poles, sapling, and seedling. The stage percentageof tree, pole, sapling, and seedling were 41 (41.84%), (18.37%), 14 (14.28%), and 25 (25.51%), respectively. The potencial kulim log with the diameter 20 cm were 367.287.04 m3 while those of 50 cm were 186.344,16 m3. The use of kulim wood in Kampar District for ship industry and house construction was 23.366 m3/year. This indicated that kulim wood of 50 cm in diameter would be enought for only 8 years to come. Factor affecting the availability of kulim wood were human, over exploitation, no regeneration, physiology forest conversion, and insect pest.AbstrakKajian potensi pohon kulim (Scorodocarpus borneensis Becc.) di kelompok hutan Gelawan, Kabupaten Kampar, Riau, dilakukan pada bulan April 2001. Pengkajian menggunakan satuan contoh berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 1 x 1 km (100 ha). Di dalam plot bujur sangkar dibuat lima jalur ukur yang diletakkan secara sistematis dengan jarak antarjalur 200 m, lebar jalur 20 m, panjang 1.000 m, dan pada jalur ini dilakukan pengukuran terhadap semai, pancang, tiang, dan pohon. Jumlah satuan contoh terdiri atas tiga plot. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa struktur tegakan kayu kulim sudah tidak normal, hal ini ditunjukkan oleh jumlah pohon yang lebih banyak daripada permudaan. Dari hasil analisis vegetasi diketahui jumlah tegakan kulim di seluruh jalur ukur adalah tingkat pohon 42%, tiang 18%, pancang 14%, dan tingkat semai 26%. Potensi kayu kulim yang berdiameter >20 cm adalah 367.287 m3, sedangkan yang berdiameter >50 cm adalah 186.344 m3. Penggunaan kayu kulim di Kabupaten Kampar untuk keperluan industri perkapalan dan bangunan mencapai 23.366 m3/tahun. Dengan demikian, kayu kulim yang berdiameter >50 cm di hutan alam hanya mampu bertahan sampai 8 tahun. Penyebab kelangkaan kayu kulim di Kabupaten Kampar adalah faktor manusia berupa eksploitasi yang berlebihan tanpa diimbangi dengan regenerasi, selain itu juga faktor fisiologi, konversi hutan, dan banyaknya hama yang merusak/memakan buah kulim.
Keragaman Morfologi dan Kandungan Protein Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) Try Zulchi; Husni Puad
Buletin Plasma Nutfah Vol 23, No 2 (2017): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v23n2.2017.p91-100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman sumber daya genetik (SDG) kacang tanah berdasarkan karakter morfoagronomis dan kandungan protein biji. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Cikeumeuh Balai Besar Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB Biogen) dan Laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Pascapanen), Bogor pada tahun 2013. Sebanyak 240 aksesi plasma nutfah kacang tanah koleksi bank gen BB Biogen digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan adanya keragaman yang relatif tinggi pada karakter tinggi tanaman, jumlah polong muda, bobot polong per tanaman, dan hasil polong. Hasil analisis klaster menghasilkan 9 klaster. Di antara 9 klaster tersebut, terdapat satu klaster yang beranggotakan sebanyak 221 aksesi, sedangkan klaster yang lain terdiri atas 1-8 aksesi. Terdapat beberapa aksesi yang terpisah dari klaster yang lainnya dan memiliki sifat yang spesifik. Aksesi-aksesi tersebut di antaranya adalah Leuweungkolot (pertumbuhan tanaman tinggi), Tapir-1 (jumlah cabang banyak), Hobotama (jumlah polong isi banyak), Lokal Tretes dan Lokal Subang (hasil polong tinggi), dan Lokal Subang XI (kandungan protein >30%). Aksesi-aksesi dengan karakteristik spesifik tersebut berpotensi sebagai sumber tetua persilangan.
Pemanfaatan Dedak Padi sebagai Pakan Tambahan Rusa R. Garsetiasih; N. M. Heriyanto; Jaya Atmaja
Buletin Plasma Nutfah Vol 9, No 2 (2003): Desember
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v9n2.2003.p23-27

Abstract

AbstractThe experiment was conducted to study growth of deer (Cervus timorensis) fed on mixture of grass, nampong leaves and rice bran. Each of four head deers of 6-8 months old with 22.5-34.5 kgs of weight was consecutively feed on grass with nampong (treatment R0), grass with leaves of nampong and 1% rice bran (treatment R1), grass with leaves of nampong and 1,5% rice bran (treatment R2), grass with leaves of nampong and 2% rice bran (treatment R3). Percentages of the rice bran were based on the average initial weight of the deer. The result showed that the treatment of R2 tended to give better growth than other treatments. Statistical analysis result showed that among the treatment to the deer growth are non significant.AbstrakPenelitian pengaruh pemberian hijauan pakan berupa rumput dan daun nampong dengan campuran dedak padi telah dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan rusa Timor (Cervus timorensis). Penelitian menggunakan empat ekor rusa umur 6- 8 bulan dengan bobot badan berkisar antara 22,5-34,5 kg. Perlakuan yang diberikan adalah rumput dan daun nampong (R0), rumput dan daun nampong ditambah 1% dedak padi (R1), rumput dan daun nampong ditambah 1,5% dedak padi (R2), rumput dan daun nampong ditambah 2% dedak padi (R3). Dedak padi diberikan berdasarkan bobot badan awal rusa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian rumput dan daun nampong ditambah 1,5% dedak padi (R2) cenderung memberikan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan rusa.
Front Matter Bul PN Vol 23 No 1 Buletin Plasma Nutfah
Buletin Plasma Nutfah Vol 23, No 1 (2017): June
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v23n1.2017.p%p

Abstract

Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang Nfn Suryadi; NFn Luthfy; Yenni Kusandriani; NFn Gunawan
Buletin Plasma Nutfah Vol 9, No 1 (2003): Juni
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v9n1.2003.p7-11

Abstract

AbstrackTo increase the variability of yard-long bean genetic resources, exploration was conducted to Sumatera and East Java on 2 to 10 march 2000. The collector team led by RIV scientists, had succesfully collected a total of 35 accession numbers. The accession collected were planted at Subang station (100 m asl) during rainy season of 2001. Characterization of yard-long bean germplasm aimed at utilizing them as parents in breeding program. Each accession was planted 20 plants per plot with plant distance 70 x 30 cm. Plants were fertilized at the rate of 20 t/ha stable manure and 500 kg NPK (15-15-15) applied two days before panting. The results of this research was a description of genetic resources that will be exchanged in breeding to get high yielding varieties of yard-long bean with better quality.AbstrakUntuk memperluas keragaman sumber genetik kacang panjang telah dilakukan eksplorasi di Sumatera dan Jawa Timur pada tahun 2000. Tim kolektor yang dipimpin peneliti Balitsa berhasil mengumpulkan 35 nomor plasma nutfah kacang panjang. Semua nomor yang dikoleksi ditanam di KP Subang (100 m dpl) pada MH 2001. Karakterisasi dilakukan untuk mendapatkan deskripsi dalam program pemuliaan. Tiap nomor ditanam 20 tanaman per petak dengan jarak tanam 70 x 30 cm. Tanaman dipupuk dengan pupuk kandang domba sebanyak 20 t/ha dan NPK (15-15-15) dengan dosis 500 kg/ha. Hasil penelitian ini menghasilkan deskripsi plasma nutfah tanaman kacang panjang untuk pertukaran informasi mengenai sumber genetik yang akan digunakan dalam pemuliaan untuk mendapatkan varietas unggul dengan kualitas yang lebih baik.
Stabilitas Genetik Karakter Bobot Umbi Sumber Daya Genetik Talas (Colocasia esculenta L.) Koleksi BB Biogen Mamik Setyowati; Minantyorini Minantyorini
Buletin Plasma Nutfah Vol 22, No 2 (2016): December
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/blpn.v22n2.2016.p119-126

Abstract

Perakitan varietas unggul talas ditentukan oleh ketersediaan plasma nutfah sebagai sumber gen yang akan digunakan dalam program pemuliaan tanaman talas. Koleksi plasma nutfah talas yang telah ada perlu dimanfaatkan. Untuk memanfaatkan plasma nutfah perlu diketahui karakteristik adaptabilitas yang dimiliki oleh plasma nutfah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmendapatkan informasi daya adaptabilitas hasil umbi plasma nutfah talas dari koleksi yang telah dimiliki oleh BB Biogen. Plasma nutfah tanaman talas banyak 149 aksesi koleksi BB Biogen telah ditanam di Kebun Percobaan Pacet, Jawa Barat pada tahun 2008–2013. Analisis data bobot umbi dilakukan untuk  mengetahui tingkat adaptabilitas bobot umbi terhadap indeks lingkunganmelalui analisis regresi linier Y = bo + b1 X, Y = bobot umbi dan X = indeks lingkungan. Hasil evaluasi bobot umbi plasma nutfah talas pada lingkungan yang memiliki variasi relatif kecil umumnya tidak mengalami perubahan hasil. Aksesi yang memiliki adaptabilitas negatif terhadap perubahan lingkungan, semakin baik lingkungan semakin rendah bobot umbinya adalah varietas Ungu/Ketan dan Kimpul. Aksesi talas yang memiliki respons negatif dapat dikembangkan atau bahan pemulian talas untuk lahan marginal. Aksesi yang memiliki adaptabilitas positif, semakin baik lingkungan semakin tinggi bobot umbinya terdapat 12 aksesi. Dua aksesi yang mengindikasikan lebih peka terhadap perubahan lingkungan dibandingkan dengan aksesi yang lain adalah varietas Karangasem dan Talas Sutera. Varietas Talas Lumbu Ireng, Bentul Koneng, Sutera, dan Lompong dapat memiliki hasil tinggi yang stabil dan dapat dikembangkan lebih lanjut, sebagai bahan pemuliaan talas.