cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2019): April 2019" : 5 Documents clear
Pengaruh Pupuk Kandang dan Insektisida Kimia Terhadap Efektivitas Jamur Metarhizium anisopliae pada Uret Tebu, Lepidiota stigma I Gusti Agung Ayu Indrayani; Kristiana Sri Wijayanti; Heri Prabowo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.33-45

Abstract

Uret tebu Lepidiota stigma (Coleoptera: Scarabaeidae) adalah salah satu hama penting pada tanaman tebu yang pada tingkat serangan parah menyebabkan penurunan produksi tebu. Pengendalian hama uret ini dengan menggunakan jamur M. anisopliae menawarkan suatu teknik pengendalian yang biologis, efektif, dan aman bagi lingkungan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorum Patologi Serangga dan di rumah kasa Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) Malang dengan tujuan untuk mengevaluasi efektifitas jamur M. anisopliae terhadap uret tebu, L. stigma. Penelitian terdiri atas pengujian di laboratorium dan di rumah kasa. Perlakuan yang diuji di laboratorium adalah: (1) M. anisopliae  (MA), (2) M. anisopliae + imidakloprid 5% (1 mg/vial) imidakloprid 1 mg/vial  (MA +  K-1), (3) M. anisopliae + pupuk kandang (MA + P), (4) M. anisopliae + imidakloprid 5% (2 mg/vial), imidakloprid 2 mg/vial (MA + K-2), (5) Metastigma (produk bioinsektisida berbasis jamur M. anisopliae sebagai pembanding) , dan (6) Kontrol (tanpa perlakuan). Perlakuan yang sama juga diujikan di rumah kasa. Perlakuan di laboratorium disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan empat ulangan dan perlakuan di rumah kasa disusun dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), diulang empat kali. Parameter yang diamati di laboratorium dan di rumah kasa adalah mortalitas uret L. stigma. Hasil penelitian di laboratorium menujukkan bahwa penambahan pupuk kandang pada jamur M. anisopliae efektif meningkatkan mortalitas uret sebesar 12,9%, sedangkan di rumah kasa penambahan pupuk kandang maupun insektisida kimia imidakloprid pada jamur M. anisopliae tidak efektif meningkatkan mortalitas uret L. stigma. Influence of Animal Manure and Chemical Insecticide on Effectivity of Metarhizium anisopliae against Sugarcane White grub, Lepidiota stigmaWhite grub Lepidiota stigma (Coleoptera: Scarabaeidae) is one of important insect pest on sugar cane which is on highest level of attack causes decline production of sugar cane. Control this pest by using entomopathogenic fungi M. anisopliae offer a biological control technique that is effective and environmentally friendly. This study conducted in laboratory and in screen house with aimed to evaluate the influence of animal manure and chemical insecticide imidakloprid on the effectivity of M. anisopliae against sugarcane white grub, L. stigma. In the laboratory study, treatments tested were (1) M. anisopliae, (2) M. anisopliae + imidacloprid 5% (1 mg/vial), (3) M. anisopliae + manure, (4) M. anisopliae + imidacloprid 5% (2 mg/vial), (5) Metastigma (comparison treatment), and (6) Untreated control. The equal treatments were also tested in screen house study. Treatments in the laboratory study were arranged in Completely Randomized Design (CRD) with four replications, while the treatments in screen house were arranged in Randomized Block Design (RBD) with four replicates. Parameters observed in both laboratory and screen house studies were mortality of whitegrub, L. stigma. Results showed that in the laboratory, addition of animal manure on M. anisopliae application increased 12.9% of white grub mortality, however, at screen house study on addition of animal manure or imidacloprid 5% on M. anisopliae application was less effective in order to enhance the mortality of white grub. 
Ketahanan Delapan Klon Abaka (Musa textilis) Terhadap Fusarium oxysporum F sp. cubesence Titiek Yulianti; Kristiana Sri Wijayanti; Cece suhara; Untung Setyobudi; Marjani Murtojo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.1-7

Abstract

Penyakit layu Fusarium pada tanaman Abaka (Musa textilis L.) yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum  f sp. cubesence (Foc) merupakan salah satu kendala terhambatnya perkembangan Abaka di Indonesia karena menyebabkan penurunan kualitas serat.  Gejala serangan Foc adalah terbelahnya batang semu bagian luar dan warna daun berubah menjadi kuning pucat sampai kuning kecoklatan kemudian layu.  Indonesia belum memiliki varietas unggul untuk mendukung pengembangan Abaka, meskipun Balittas memiliki koleksi plasma nutfah yang cukup.  Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi ketahanan delapan klon Abaka yang memiliki potensi produksi tinggi terhadap infeksi Foc.  Penelitian dilakukan di rumah kaca Balittas pada tahun 2018.  Sebanyak delapan klon abaka (UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, dan UB-5) yang diuji disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan tiga kali ulangan.   Isolat Foc yang digunakan berasal dari tanaman abaka yang menunjukkan gejala layu Fusarium.    Masing-masing klon ditanam dalam polibag berukuran 500 g satu tanaman per polibag. Setiap klon ditanam sebanyak 10 polibag per ulangan.  Benih abaka berumur 3 bulan direndam selama 24 jam dalam suspensi konidia Foc dengan kerapatan105/ml. Pengamatan kejadian penyakit dilakukan setiap 5 hari sekali sampai tanaman berumur 60 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa,  tidak ada klon abaka yang diujikan tahan terhadap Foc melainkan rentan (UB8 dan Tangongon) dengan tingkat kejadian penyakit 43,3% - 46,7% dan sangat rentan (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7,  UB-11, dan UB-5) dengan tingkat kejadian 56,7% - 96,7%. Resistance of Eight Clones of Abaca (Musa textilis) to Fusarium oxysporum F sp. cubesenceABSTRACT.Fusarium wilt on Abaca (Musa textilis L.) caused by Fusarium oxysporum f sp. cubesence (Foc) was one of the obstacles to development of Abaca in Indonesia since it decreased fibre quality. Symptom of Foc infection was splitted of the outer low pseudostem and discoloured of the leaf sheat to pale yellow or brownish yellow and then wilt. Indonesia has not released a superior variety (ies) to support the development of Abaca, although Balittas has enough germplasm collection.  This paper reported the resistance of eight Abaca clones, which have high potential production, to Foc.  The trial activity has been conducted in the screen house of BALITTAS in 2018.  The tested clones were:  UB4, Tangongon, Tangongon 70-3-1-1-2, UB-7, Cilacap, UB-8, UB-11, and UB-5 which was arraned in randomized block design with three replicates. Foc was isolated diseased abaca with wilt and yellow leaf symptom. Each clone was grown in sterilised soil in a 500 g polybag, with 10 three months old plants for each replicate.  The plants were soaked in conidial suspension (105/ml) for 24 hours.  Disease incidence was observed every five days for 60 days.  Result of the test showed, none of the clones was resistant to Foc but susceptible (UB8 and Tangongon) with disease incidence rates of 43.3% - 46.7% and very susceptible (Cilacap, UB4, Tangongon 70-3-1-1 -2, UB-7, UB-11, and UB-5) with an incidence rate of 56.7% - 96.7%, respectively.
Profil Minyak Biji dari Empat Varietas Rosela Herbal (Hisbiscus sabdariffa var. sabdariffa) Indonesia Elda Nurnasari; Tantri Dyah Ayu Anggraeni; Nurindah Nurindah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.8-15

Abstract

Rosela herbal dibudidayakan untuk diambil kalik (kelopak bunga) sebagai bahan baku minuman herbal. Produk samping dari budidaya rosela herbal salah satunya adalah biji rosela. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi komposisi senyawa asam lemak dan kadar minyak biji rosella dari empat varietas unggul rosella herbal (Roselindo 1, Roselindo 2, Roselindo 3, dan Roselindo 4 dan membahas potensinya sebagai bahan pangan). Minyak biji rosella herbal diekstrak dengan cara pengepresan dan analisa profil asam lemak dengan metode GCMS. Biji rosela herbal mempunyai kadar minyak yang cukup tinggi, yaitu antara 23,25 – 27,31%. Asam linoleat, asam oleat, asam palmitat dan asam nonadekanoat adalah asam lemak utama pada empat varietas rosela herbal. Pengelompokan varietas rosela berdasarkan persentase kemiripan kandungan minyak dan asam lemak menunjukkan bahwa Roselindo 1 berada dalam satu kelompok dengan Roselindo 3 dan Roselindo 2 dengan Roselindo 4.  Senyawa asam lemak dari Roselindo 1 dan Roselindo 3 asam adalah dari kelompok asam lemak tak jenuh (UFA) yakni asam linoleat pada Roselindo 1 dan asam oleat pada Roselindo 3.  Senyawa asam lemak utama varietas Roselindo 2 dan Roselindo 4 adalah asam nonadekanoat. Berdasarkan jenis asam lemak tersebut maka minyak biji rosella termasuk dalam kategori minyak yang aman dikonsumsi (edible oil) dan juga berkhasiat bagi kesehatan.Profile of Four Varieties of Indonesian Herbal Roselle (Hisbiscus sabdariffa var. sabdariffa) Herbal roselle is cultivated for calices production as raw material for herbal drinks. One of the by products from herbal roselle cultivation is roselle seeds. This study was conducted to evaluate the composition of fatty acid compounds and roselle seed oil content of four herbal roselle superior varieties (Roselindo 1, Roselindo 2, Roselindo 3, and Roselindo and discuss their potency as a foodstuff 4). Herbal roselle seed oil is extracted using pressing method and analyzing fatty acid profiles using GC-MS method. Herbal roselle seeds have high oil content, i.e., 23.25 - 27.31%. Linoleic acid, oleic acid, palmitic acid and nonadecanoic acid are the main fatty acids in four herbal rosela varieties. The grouping of rosela varieties based on the percentage similarity of oil content and fatty acids shows that Roselindo 1 is in one group with Roselindo 3 and Roselindo 2 with Roselindo 4. The main fatty acids of Roselindo 1 and Roselindo 3 are from a group of unsaturated fatty acids (UFA), namely linoleic acid on Roselindo 1, and oleic acid in Roselindo 3  The main  fatty acid compounds of Roselindo 2 and Roselindo 4 are nonadecanoic acid. Based on these types of fatty acids, rosella seed oil of Roselindo varieties is in the category of edible oil and is also beneficial for health.
Pengaruh Perlakuan Pelapisan Benih (seed coated) terhadap Viabilitas Benih Tiga Varietas Kapas (Gossypium hirsutum L.) Taufiq Hidayat RS; Nurindah Nurindah; Anik Herawati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.16-23

Abstract

Seed coated merupakan teknologi pelapisan benih dengan bahan tertentu untuk mempertahankan mutu benih dan membuat bentuk benih lebih teratur. Prosesing benih kapas saat ini masih menggunakan bahan kimia seperti asam sulfat (acid seed delinted) untuk menghilangkan kabu-kabu (linter) yang masih menempel pada biji setelah proses pemisahan serat dan biji. Acid Seed delinted memungkinkan terjadinya kerusakan kulit hingga lembaga biji dan dapat menimbulkan masalah lingkungan dari limbah yang dihasilkan dalam proses tersebut. Teknik pelapisan benih (seed coated) berpeluang untuk diterapkan dalam proses perbenihan kapas, sehingga proses tersebut menjadi ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pelapisan benih pada tiga varietas terhadap viabilitas benih kapas. Penelitian ini menggunakan Rancangan Faktorial dalam rancangan acak kelompok (RAK). Faktor Pertama terdiri atas empat perlakuan benih yaitu benih berkabu tanpa perlakuan (kontrol), benih diperlakukan dengan acid delinted, benih dilapisi (coated) dengan tapioka, kaolin, dan arabic gum. Faktor kedua terdiri atas varietas kapas yaitu Kanesia 10, Kanesia 18, dan Kanesia 19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan benih dengan arabic gum menghasilkan viabilitas benih yang terbaik dan benih kapas varietas Kanesia 10 menunjukkan persentase keserempakan tumbuh, persentase daya berkecambah, dan persentase potensi tumbuh maksimum terbaik masing-masing 92,25%; 96,25% dan 98,00%. Perlakuan coated benih kapas dengan arabic gum berpotensi untuk diterapkan dalam perbenihan kapas sebagai alternatif teknik acid delinting yang kurang ramah lingkungan Effect of Seed Coating on the Seeds Viability of Three Cotton Varieties (Gossypium hirsutum L.)Seed coating technology with certain materials is objected to maintain seed quality and to make seed shapes more regular. Currently, cotton seeds processing is using chemicals such as sulfuric acid (acid seed delinted) to remove the linter which is still attached to the seeds after the separation of fibers and seeds. Acid seed delinting could causing damage on the seed skin as well as to the seed embryo and also cause environmental problems from the waste produced in the process. Seed coated technology has the prospect to be applied in the process of cotton seeding, so the process becomes environmentally friendly. This study aims to evaluate the effect of seed coating treatment on three cotton varieties on the seed viability. This study uses Randomized Block Design Factorial. The first factor consisted of four seed treatments namely fuzzy seed (control), seed delinted, seed coated with tapioca and kaolin and seed coated with arabic gum. The second factor were cotton varieties namely Kanesia 10, Kanesia 18, and Kanesia 19. The results showed that the interaction between seed treatments with cotton varieties significantly affected the radicular length parameters and produced a coefficient of varians 9.85%. Seed coated with arabic gum showed the best results for all observation parameters. Kanesia 10 showed the best of growing simultaneity, germination, and the potential maximum growth by 92%, 96%, and 98%, recpectively. The cotton cotton seed coated with arabic gum is prospective to be applied in the cotton seeding process as an alternative to the acid delinting technique that is not environmentally friendly.
Kekerabatan Plasma Nutfah Tebu Berdasarkan Karakter Morfologi Ruly Hamida; Parnidi Parnidi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 1 (2019): April 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n1.2019.24-32

Abstract

Karakterisasi morfologi tanaman tebu (Saccharum officinarum) sangat diperlukan sebagai pendukung perakitan varietas unggul melalui identifikasi sumber plasma nutfah yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memanfaatkan peluang data morfologi deskriptif, untuk menduga jarak dan hubungan kekerabatan genetik antar aksesi. Analisis clustering dilakukan menggunakan program Minitab 15, berdasar metode complete lingkage atau berdasarkan jarak terbesar dari 105 aksesi tebu. Hasil analisis menghasilkan 8 komponen utama dengan proporsi keragaman 75,4%. Selanjutnya analisis clustering pada 105 aksesi plasma nutfah tebu terbagi menjadi 15 kelompok pada derajat kemiripan 60%. Karakter bentuk telinga daun berkontribusi paling besar terhadap keragaman total. Genetic Relationship of Sugarcane Germplasm from Study on Morphological CharactersMorphological characterization of sugarcane (Saccharum officinarum) is required to support superior variety improvement by identification of germplasm resources. The purpose of this research was to know the diversity and genetic relationship of sugarcane germplasm from exploration in Java, based on morphological data as a contribution in the plant breeding process. The clustering analysis was done on Minitab 15 software by the complete linkage method or the greatest distance for 105 sugarcane accessions. The results showed there have 8 major components with the 75.4% of diversity proportion. While, clustering analysis for 105 sugarcane accession was divided into 15 groups with 60% degree of similarity. Shape of auricle had significant contribution to the total diversity of sugarcane. Keywords: Saccharum officinarum, germplasm, morphology, genetic relationship

Page 1 of 1 | Total Record : 5