cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019" : 5 Documents clear
Uji Kinerja Dekortikator Sistem Kering Untuk Daun Sisal Gatot Suharto Abdul Fatah; Dwi Adi Sunarto; Yoga Angangga Yogi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.86-92

Abstract

Tanaman sisal (Agave sisalana L.) merupakan tanaman serat alam yang dimanfaatkan untuk membuat tali, kertas, kain, alas kaki, topi, tas, karpet, papan permainan, dan bahan industri penting lainnya. Pengembangan sisal berada di daerah marginal dengan ciri utamanya keterbatasan ketersediaan air, sehingga kegiatan usaha tani sisal mulai dari budidaya hingga pasca panen harus mempertimbangkan kondisi tersebut. Untuk proses penyeratan daun sisal diperlukan mesin penyerat atau dekortikator.  Mesin dekortikator yang tersedia saat ini berkerja dengan sistem basah menggunakan aliran air. Untuk mendukung pengembangan sisal di Indonesia, dekortikator tersebut perlu dimodifikasi fungsinya untuk penyeratan daun sisal dengan sistem kering atau tanpa aliran air.  Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kinerja dekortikator yang bekerja untuk proses penyeratan daun sisal dengan sistem kering. Penelitian dirancang menggunakan rancangan percobaan acak lengkap (RAL) dengan jumlah ulangan berbeda (5-10 ulangan), dan perlakuan disusun secara faktorial. Faktor pertama terdiri dari 2 perlakuan yaitu sistem penyeratan kering dan sistem penyeratan basah (pembanding). Faktor kedua terdiri dari 4 perlakuan kecepatan putaran silinder mesin yaitu 600 rpm, 700 rpm, 800 rpm, dan 900 rpm. Sampel daun segar yang digunakan dalam setiap perlakuan sebanyak 5 pelepah daun dengan berat total berkisar 3,5 - 5 kg.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekortikator dapat berfungsi untuk proses dekortikasi atau penyeratan daun sisal dengan sistem kering. Kapasitas penyeratan sebesar 101 – 127 kg daun segar per jam dengan rendemen hasil serat kering sebesar 4,66 – 4,86 % serat kering per jam pada kecepatan putaran silinder 600 – 900 rpm. Perlakuan kecetapan silinder 600 rpm merupakan kecepatan yang paling efisien. PERFORMANCE TEST OF DRY SYSTEM DECORTICATOR FOR SISAL LEAVES Sisal plant (Agave sisalana L.) is a natural fiber plant that is used to make ropes, paper, cloth, footwear, hats, bags, carpets, board games, and other important industrial materials. Sisal crop development is in marginal areas with the main characteristic i.e., the limited availability of water, therefore sisal farming activities for cultivation to post-harvest must consider these conditions. To obtained sisal fibers, decorticator is needed . Currently available decorticator is set to wet systems, i.e., using water flow. To support the development of sisal in Indonesia, the function of the decorticator needs to be modified for sizing the sisal leaves with a dry or no water flow system. The purpose of this study is to test the performance of dry sysrwm decorticator to sisal-leaf-fibering process. The study was designed using a completely randomized design (CRD) with a number of different replicates (5-10 replicates), and treatments arranged in factorial. The first factor consists of 2 treatments, namely a dry system and a wet system (as comparison). The second factor consisted of 4 treatments of engine cylinder rotation speed of 600 rpm, 700 rpm, 800 rpm and 900 rpm. Fresh leaf samples used in each treatment were 5 leaf midribs with a total weight ranging from 3.5 - 5 kg. The results showed that the decotator could function for the process of decortication for sisal leaves with a dry system. Fibrous capacity of 101 - 127 kg of fresh leaves per hour with dry fiber yields of 4.66 - 4.86% per hour at cylinder rotation speed of 600 - 900 rpm. The 600 rpm cylinder speed treatment is the most efficient speed.
Pengaruh Ukuran Sampel dan Lama Waktu Destilasi terhadap Rendemen Minyak Atsiri Tembakau Lokal Indonesia Elda Nurnasari; Heri Prabowo
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.47-57

Abstract

Tanaman tembakau merupakan tanaman yang memiliki aroma yang khas, hal ini menunjukkan bahwa tembakau mengandung minyak atsiri. Ekstraksi minyak atsiri tembakau terkendala rendahnya rendemen minyak atsiri yang dihasilkan. Minyak atsiri tembakau merupakan salah satu diversifikasi produk tembakau non rokok yang dapat dimanfaatkan dalam bidang biofarmaka (antibakteri) dan kosmetik (parfum badan). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ukuran sampel dan lama waktu destilasi terhadap rendemen minyak atsiri tembakau lokal Indonesia. Daun tembakau berasal dari enam daerah sentra tembakau di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Enam daerah tersebut antara lain Temanggung, Yogyakarta, Purwodadi, Boyolali, Blitar dan Probolinggo. Minyak atsiri tembakau diperoleh dengan metode destilasi uap-air dengan variasi ukuran sampel daun tembakau dan lama waktu destilasi. Penelitian dilakukan dengan dua kali ulangan. Lama waktu destilasi yang digunakan adalah 2; 4; dan 6 jam, sedangkan ukuran serbuk daun tembakau yang digunakan adalah 6; 8; dan 10 mesh. Rendemen tertinggi diperoleh pada daun tembakau ukuran 10 mesh tembakau Boyolali yakni sebesar 3,39% dengan waktu destilasi selama 6 jam.Effect of Sample Size and Destilation Time on Rendement of Indonesian Tobacco Essential OilTobacco plants are plants that have a distinctive aroma, this shows that tobacco contains essential oils. Tobacco essential oil extraction is constrained by the low yield of essential oil produced. Tobacco essential oil is a diversification of non-tobacco products that can be utilized in the field of biopharmaca (antibacterial) and cosmetics (body perfume). This study aims to extract local tobacco essential oil and increase its yield through variations in leaf powder size and distillation time. Tobacco leaves originate from six tobacco centers in Central and East Java. The six regions are Temanggung, Yogyakarta, Purwodadi, Boyolali, Blitar and Probolinggo. Tobacco essential oil is obtained by the steam water distillation method with variations in the size of the tobacco and the time of distillation. The study was conducted with two replications. The duration of distillation used is 2; 4; and 6 hours, while the size of tobacco leaf powder used is 6; 8; and 10 mesh. The highest yield was obtained in Boyolali tobacco leaf size of 10 mesh which is 3.39% with a distillation time of 6 hours.
Genetika Ketahanan Tanaman Kenaf Terhadap Nematoda Patogen Parnidi Parnidi; Lita Soetopo; Damanhuri Damanhuri; Marjani Marjani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.65-72

Abstract

Nematoda puru akar merupakan salah satu nematoda parasit pada tanaman yang menyerang akar tanaman. Penurunan hasil pertanian diseluruh dunia akibat gangguan nematoda patogen mencapai 19-67%. Penggunaan tanaman resisten terhadap nematoda merupakan cara pengendalian yang efektif untuk menekan kepadatan populasi nematoda dan membatasi kerusakan, sehingga dapat menekan kehilangan hasil tanaman. Tulisan ini merupakan tinjauan yang membahas genetika ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda patogen. Untuk mengetahui ketahanan tanaman terhadap hama dan penyakit tidak dapat terlepas dari pola pewarisan ketahanan genetik dari tanaman itu sendiri. Pola pewarisan sifat ketahanan suatu varietas terhadap nematoda puru akar, tipe ketahanan, mekanisme ketahanan, dan sumber ketahanan genetik perlu diketahui sebelum memulai program perbaikan ketahanan tanaman. Pola pewarisan genetik atau heritabilitas merupakan parameter yang menggambarkan daya waris individu kepada keturunannya atau derajat kemiripan diantara keduanya untuk sifat tertentu dalam menganalisis pengaruh genetik dan lingkungan terhadap kemiripan tersebut. Pola pewarisan ketahanan genetik tanaman terhadap nematoda puru akar bersifat monogenik sederhana, oligogenik atau bahkan poligenik. Jumlah gen pengendali sifat ketahanan tanaman terhadap nematoda patogen berkisar antara satu hingga empat gen. Ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda patogen yang dikendalikan oleh gen monogenik adalah sebesar 52%, oligenik sebesar 28% dan sebesar 20% dikendalikan oleh gen poligenik. Ketahanan tanaman kenaf terhadap nematoda Meliodogyne sp. dikendalikan oleh gen monogenik yang bersifat dominan. Genetic Resistance of Kenaf to Root-knot NematodeRoot-knot nematode is one of the parasitic nematodes in plants that attack plant roots. Decline in agricultural yields worldwide due to pathogenic nematode infection reaches 19–67%. The use of plants resistant to nematodes is an effective control method to reduce the population density of nematodes and limit damage, so as to reduce the loss of crop yield. This paper is a review that discusses the genetic of kenaf resistance to pathogenic nematodes. To find out the resistance of plants to pests and diseases can not be separated from the inheritance patterns of genetic resistance of the plants themselves. The inheritance pattern of a variety's resistance characteristics to root-knot nematodes, the type of resistance, the mechanism of resistance, and the source of genetic resistance need to be known before starting a plant resistance improvement program. The pattern of genetic inheritance or heritability is a parameter that describes an individual's inheritance to his offspring or the degree of similarity between the two for certain traits in analyzing genetic and environmental influences on these similarities. The pattern of inheritance of plant genetic resistance to root purebred nematodes is simple, oligogenic or even polygenic. The number of genes controlling the nature of plant resistance to pathogen nematodes ranges from one to four genes. The resistance of kenaf plants to pathogenic nematodes controlled by monogenic genes is 52%, oligenic is 28% and 20% is controlled by polygenic genes. The resistance of kenaf plants to Meliodogyne sp. nematodes is controlled by dominant monogenic genes
Efektifitas Dolomit Dalam Mempertahankan pH Tanah Inceptisol Perkebunan Tebu Blimbing Djatiroto Basuki Basuki; Vega Kartika Sari
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.58-64

Abstract

Produktivitas tebu dipengaruhi oleh lingkungan biotik dan abiotik. Lingkungan abiotik salah satunya adalah pH tanah yang dipengaruhi oleh bahan induk tanah, dan pupuk. Penggunaan pupuk anorganik secara terusmenerus menurunkan pH tanah. Penggunaan amelioran seperti dolomit dan kapur pertanian (kaptan) dapat menjadi solusi untuk meningkatkan pH tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dolomit terhadap pH tanah inceptisol di perkebunan tebu. Penelitian menggunakan metode observasi dan eksperimen. Eksperimen dengan perlakuan: A. 160 kg N/ha + 72 kg P2O5 /ha + 60 kg K2O/ha; B. 160 kg N/ha + 72 kg P2O5 /ha + 60 kg K2O/ha+ kaptan 2.000 kg/ha; dan C. 160 kg N/ha +72 kg P2O5 /ha + 60 kg K2O/ha+ dolomit 2.000 kg/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengunaan dolomit dengan dosis 2.000 kg/ha lebih efektif mempertahankan pH tanah dibandingkan kaptan. Dolomit mempertahankan pH tanah hingga 17 bulan setelah aplikasi. Nilai pH 17 bulan setelah aplikasi dolomite adalah 6,64; sedangkan pada perlakuan kaptan memiliki pH tanah 5,56. Reaksi dolomit di tanah dalam mempertahankan pH tanah adalah 1, 26 kali lebih efektif dibandingkan kaptanThe Effectiveness of Dolomite in Maintaining Inceptisol Soil pH of Blimbing Sugarcane Plantation in DjatirotoSugarcane productivity is influenced by the biotic and abiotic environment. One of the abiotic environments is soil pH. Soil pH is influenced by soil parent material, and fertilizer. The use of inorganic fertilizers continuously reduces soil pH. The use of ameliorants such as the use of dolomite and agricultural lime can be a solution. This study aims to determine the effectiveness of dolomite on the soil pH of inceptisol soil Sugar Cane Plantation. The research method uses observation and experimental methods. Experiments with treatment included A. 160 kg nitrogen / hectare + 72 kg P2O5 / hectare + 60 kg K2O / hectare; B. 160 kg nitrogen / hectare + 72 kg P2O5/ hectare + 60 kg K2O / hectare + 2,000 kg agricultural lime / hectare; C. 160 kg nitrogen / hectare + 72 kg P2O5 / hectare + 60 kg K2O / hectare + dolomite 20 quintal / hectare. The results showed the use of dolomite at a dose of 2,000 kg / hectare was more effective in maintaining soil pH compared to agricultural lime. Dolomite maintains soil pH for up to 17 months after application. The pH value, the dolomite treatment was 6.64, while the agricultural lime soil pH treatment was 5.56. Dolomite reaction in the soil in maintaining soil pH of 1.26 times agricultural lime.
Pemanfaatan Lignin dari Biomassa Tanaman Serat Untuk Sumber Bioenergi Farida Rahayu; Mala Murianingrum; Nurindah Nurindah
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 11, No 2 (2019): OKTOBER 2019
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/btsm.v11n2.2019.73-85

Abstract

AbstrakBiomassa lignosellulosa memiliki potensi sebagai material penghasil bahan kimia dan biomaterial.  Lignin adalah polimer alami yang ketersediaannya paling melimpah kedua setelah selulosa. Lignin merupakan biopolimer berbasis fenol dan memiliki kandungan karbon lebih tinggi daripada oksigen yaitu dengan ratio 2:1 sehingga kandungan energinya lebih besar daripada selulosa. Hal ini menjadikan lignin sebagai bahan baku untuk  memproduksi bahan bakar dan senyawa aromatik seperti fenol, benzene, toluene, xilen, karbon fiber, karbon aktif dan material komposit lainnya. Bahan-bahan tersebut digunakan secara berkelanjutan dalam suatu produksi, sebagai sumber energi, katalis dan untuk mengatasi polusi lingkungan atau kontaminasi. Tersedia berbagai sumber lignin, termasuk tanaman serat seperti agave, kenaf dan rami. Sifat fisik dan sifat kimia lignin akan berbeda antara satu dengan lainnya tergantung dari asal sumbernya dan metode ekstraksi yang digunakan. Keberhasilan dalam mencapai tujuan pemanfaatan lignin tergantung pada pengembangan teknologi untuk mengatasi tantangan-tantangan, seperti: 1) teknologi pretreatmen yang efisien dan teknologi ektraksi untuk pemisahan lignin dengan kemurnian tinggi; 2) analisis dan karakterisasi kuantitatif yang tepat untuk lignin dalam proses transformasi kimia; 3) pendekatan baru untuk konversi lignin menjadi produk berharga. Tinjauan ini merangkum inovasi mutakhir terbaru dari konversi lignin dengan fokus pada tiga aspek utama yang disebutkan di atas serta potensi tanaman serat sebagai sumber lignin yang terbarukan.Abstract Utilization of Lignin from fiber crops biomass for bioenergy resources Lignocellulosic biomass has the potential to produce chemicals and biomaterials. Lignin is a natural polymer whose availability is the second most abundant after cellulose. Lignin is a phenol-based biopolymer and has a higher carbon content than oxygen in a ratio of 2: 1, so that the energy content is greater than cellulose. This makes lignin as a raw material for producing fuels and aromatic compounds such as phenols, benzene, toluene, xylene, carbon fiber, activated carbon and other composite materials. These materials are used sustainably in a production, as a source of energy, as a catalyst and to overcome environmental pollution or contamination. Various sources of lignin are available, including fiber plants such as agave, kenaf and flax. The physical and chemical properties of lignin differ from one another depending on the origin of the source and the extraction method used. Success in achieving the goal to utilize lignin depends on developing technology to overcome the following challenges, such as: 1) efficient pretreatment technology and extraction technology for the separation of high-purity lignin; 2) appropriate quantitative analysis and characterization for lignin in the process of chemical transformation; 3) a new approach to the conversion of lignin into valuable products. This review summarizes the latest up-to-date innovations of lignin conversion with a focus on the three main aspects mentioned above and the potential of fiber crops as a source of renewable lignin

Page 1 of 1 | Total Record : 5