cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011" : 10 Documents clear
Karakter Tanaman Tembakau Temanggung yang Berpengaruh Terhadap Hasil dan Mutu Rajangan Kering Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peningkatan hasil dan mutu rajangan kering tembakau temanggung dapat dilakukan bila telah diketahui ka-rakter tanaman yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering. Penelitian yang bertujuan untuk menentukan karakter utama tembakau temanggung yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang pada Oktober−Desember 2010. Lima karakter fisiologis utama, lima karakter fenologis utama, dan lima karakter pertumbuhan tanaman uta-ma, hasil, dan mutu rajangan diambil dari data base penelitian tahun 2008. Analisis regresi linier berganda langkah mundur dilakukan untuk menentukan karakter utama yang mempengaruhi hasil dan mutu rajangan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 karakter utama tembakau temanggung yang mem-pengaruhi hasil rajangan kering dan 8 karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering. Keenam karakter utama yang mempengaruhi hasil rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara verturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 0−30 hst, bobot kering daun, jum-lah satuan panas dari daun muncul−daun berhenti meluas, jumlah satuan panas dari panen pertama−pa-nen akhir, jumlah satuan panas dari berbunga−panen akhir, dan tinggi tanaman. Dari keenam karakter uta-ma tersebut, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 0−30 hst, jumlah satuan panas dari panen pertama−panen akhir, dan jumlah satuan panas dari berbunga−panen akhir berpengaruh negatif terhadap hasil rajangan kering, sedangkan yang lainnya berpengaruh positif. Adapun kedelapan karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara berturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin dan pertumbuhan tajuk pada 60 hst−panen akhir, partisi kar-bohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 30−45 hst, jumlah satuan panas dari tanam−pemangkasan, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan daun pada 0−30 hst, jumlah satuan panas dari daun berhenti meluas−daun dipanen, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan bunga, dan tinggi tanaman. Dari kedelapan karakter utama tersebut, partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin pada 60 hst−panen akhir dan untuk tajuk pada 30− 45 hst serta jumlah satuan panas dari daun berhenti meluas−daun dipanen berpengaruh positif terhadap mutu rajangan kering, sedangkan yang lainnya berpengaruh negatif. Yield and quality of dry sliced temanggung tobacco could increase when the plant characters which affect them have been identified. The aim of the research was to identify the important plant characters which affect yield and quality of dry sliced temanggung tobacco. The experiment was conducted at Indonesian To-bacco and Fiber Crops Research Institute (IToFCRI), Malang from October to December 2010. A data base of the research result in 2008 was used as data source for five physiological characters, five phenological characters, five plant growth characters, dry sliced yield, and quality. Backward stepwise analysis was used to determine the important plant characters wich affect the dry sliced yield and quality. The results showed that the were six important characters that affected dry sliced yield and eight main characters affected dry sliced quality. The six characters that affected dry sliced yield sorted from the largest were carbohydrate partitioning for shoot growth in 0−30 dap, leaf dry weight, total heat unit from leaf initiation to harvesting period, total heat unit from first harvesting to final harvesting, total heat unit from flowers initiation to final harvesting, and plant height. The carbohydrate partitioning for shoot growth in 0−30 dap, total heat unit from first harvesting to final harvesting, and total heat unit from flowers initiation to final harvesting had ne-gative effect on dry sliced yield, and the others had positive effects. The eight characters that affected dry sliced quality sorted from the largest were carbohydrate partitioning for nicotine formation and the shoot growth from 60 dap−final harvesting, carbohydrate partitioning for shoot growth in 30−45 dap, total heat unit from planting to topping, carbohydrate partitioning for leaf growth in 0−30 dap, total heat unit from ter-minal leaf expansion to harvesting period, carbohydrate partitioning for the flower growth, and plant height. The carbohydrate partitioning for nicotine formation from 60 dap−final harvesting, carbohydrate partitioning for shoot growth in 30−45 dap, and total heat unit from terminal leaves expansion to leaf harvest had posi-tive effect on dry sliced quality and the others had negative effect.
Respon Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Terhadap Lima Jenis Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Nurnasari, Elda; Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan tanaman jarak pagar mengalami beberapa kendala, di antaranya produksi biji yang rendah. Hal ini terkait dengan rendahnya jumlah bunga betina yang dihasilkan dalam satu malai. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) terhadap pertumbuhan, pem-bungaan, dan produksi jarak pagar, dilakukan di KP Asembagus pada bulan Januari−Desember 2010. Lima jenis bahan aktif ZPT meliputi paclobutrazol, asam geberelin (GA3), asam naptalin asetik (NAA), mepiquat klorida, dan 2,4-D, serta perlakuan kontrol (tanpa bahan aktif ZPT), diaplikasikan pada tanaman jarak pagar berumur 1 tahun dan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa aplikasi ZPT mempengaruhi jumlah cabang, jumlah bunga jantan, jumlah bunga betina, dan jumlah buah, namun tidak mempengaruhi tinggi tanaman dan lebar kanopi. NAA menghasilkan jumlah buah yang paling banyak (121,4 buah per tanaman) sedangkan GA3 mempercepat pemunculan bunga (8,33 hari setelah aplikasi). Development of physic nut is facing some problems, one of them is low seed production. This is related to the low number of female flowers which are produced in a panicle. The aim of the study is to determine the effect of plant growth regulator (PGR) on growth, flowering, and seed production, it was conducted at Asembagus Experimental Station, Situbondo from January to December 2010. Five kinds of plant growth re-gulator i.e. paclobutrazol, geberelline acid (GA3), naphthalene acetic acid (NAA), mepiquat chloride, and 2,4-D, and control (without PGR) were applied on one-year-old of J. curcas and arranged in a randomized block de-sign with three replications. The results showed that PGR application affects the number of branches, male flower, female flower, and fruit, but not affected plant height and canopy width. NAA gave the highest number of fruit, i.e. 121.4 capsules per plant, and GA3 triggered the earliest flowering, i.e. at 8.33 days after application.
Pengolahan Daun Tembakau dan Dampaknya Terhadap Lingkungan Tirtosastro, Samsuri; Murdiyati, A.S.
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau merupakan bahan baku utama industri hasil tembakau seperti rokok keretek, cerutu, tembakau iris, dan lain-lain. Sebelum digunakan, daun tembakau harus melalui proses pengolahan. Pengolahan tembakau pada dasarnya merupakan kegiatan pengeringan, dengan penerapan suhu bertahap atau disebut proses kiu-ring (curing). Dalam proses pengolahan tembakau diperlukan energi, yang selama ini berasal dari panas ma-tahari, udara panas buatan hasil pembakaran kayu, minyak tanah, batu bara, LPG (liquefied petroleum gas), atau limbah pertanian. Penggunaan bahan bakar ini menyebabkan polusi udara, sehingga mencemari ling-kungan dan meracuni pekerja. Tembakau sendiri mengandung bahan berbahaya seperti, debu tembakau, ni-kotin, residu pestisida, TSNA (tobacco spesific nitrosamine), B-a-P (benzo-a-pyrene), dan lain-lain. Petunjuk pengendalian bahan berbahaya dan dampak lingkungan tersebut, selama ini sudah tersedia secara lengkap yang ditetapkan oleh organisasi tembakau dunia Coresta dan diimplementasikan oleh perusahaan-perusaha-an mitra petani. Petani yang sistem produksinya dalam bentuk kemitraan dengan perusahaan-perusahaan tembakau, telah melakukan pengendalian dengan baik. Dampak negatif penggunaan bahan bakar dapat di-tekan dengan sistem pemanasan tidak langsung (flue-curing), sedangkan penggunaan batu bara dilakukan dengan tungku pembakaran gasifikasi. Implementasi selanjutnya, selain diperlukan sistem inspeksi sesuai ketentuan juga perlu didorong terbentuknya kemitraan antara perusahaan tembakau dan petani. Tobacco leaf is the main raw material of tobacco industries such as cigarette, cigar, slices tobacco, etc. Be-fore being used, tobacco leaves have to go through processing. Tobacco processing is basically a drying acti-vity, with the application of temperature or a gradual process called curing. In the processing of tobacco ener-gy needed, which is derived from the hot sun, hot air made by the burning wood, kerosene, coal, LPG (li-quefied petroleum gas), or agricultural waste. The use of these fuels causes air pollution, thus contaminating the environment and poisoning workers. Tobacco itself contain hazardous materials such as tobacco dust, ni-cotine, pesticide residue, TSNA (tobacco specific nitrosamines), B-a-P (benzo-a-pyrene) and others. In-structions on control of hazardous materials and environmental impact, as long as it is available completely de-termined by the organization of the world tobacco Coresta and implemented by partner company of farmers. Farmer production systems in the form of partnership with tobacco companies, has done well control. The ne-gative impact of fuel use could be reduced by an indirect heating system (flue-curing), while the use of coal gasification is done by burning stove. Subsequent implementation, in addition to the required inspection sys-tem according to the provisions, should also be encouraged such as partnerships between tobacco companies and farmers.
Analisis Ekonomi Penggunaan Minyak Biji Kapas (MBK) untuk Bahan Bakar Nabati Basuki, Teger; Hartono, Joko
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara ekonomi efisiensi penggunaan minyak biji kapas sebagai bahan bakar nabati (BBN) untuk kompor Semawar 203. Perlakuan yang diteliti sebanyak lima perlakuan, yaitu (1) 100% minyak biji kapas, (2) 75% minyak biji kapas dicampur 25% kerosin, (3) 50% minyak biji ka-pas dicampur 50% kerosin, (4) 25% minyak biji kapas dicampur 75% kerosin, (5) 100% kerosin. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa dengan menggunakan kompor tekan Semawar tipe 203 dengan bahan bakar campuran antara 50% minyak biji kapas (MBK) dan 50% kerosin menunjukkan efisiensi tertinggi. Dengan biaya sebesar Rp 689,00 mampu untuk mendidihkan 2 liter air dalam waktu 6,20 menit (waktu didihnya pa-ling cepat di antara perlakuan lainnya). Purpose of this study was to analyze the efficiency of cotton seed oil used as a biofuel using Semawar 203 stove. The treatments consist of, i.e.: (1) 100% cotton seed oil, (2) 75% cotton seed oil mixture 25% kero-sene, (3) 50% cotton seed oil mixture 50% kerosene, (4) 25% cotton seed oil mixture 75% kerosene, (5) 100% kerosene. The results showed that by using the stove press Semawar type 203 with a fuel mixture of 50% cotton seed oil and 50% kerosene had the highest efficiency of cost. At a cost of Rp689,00 the mixture was able to boil 2 liters of water in 6.20 minutes (boiling time fastest among other treatments).
Prospek Pengembangan Kapas Organik di Indonesia Yulianti, Titiek
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pertanian organik pada tanaman pangan mulai diminati masyarakat karena produknya lebih sehat dan pengelolaannya memperhatikan lingkungan, siklus biologi, dan keanekaragaman hayati setempat. Kecende-rungan ini merembet ke tanaman nonpangan, seperti kapas yang menggunakan pestisida dan pupuk sintetis sangat besar. Syarat pengembangan kapas organik cukup ketat karena selain larangan menggunakan bahan kimia sintetis, juga pendokumentasian untuk memperoleh sertifikat organik. Meskipun serat kapas organik harganya lebih tinggi, namun produktivitasnya cenderung rendah. Keuntungan yang paling signifikan dalam pengembangan kapas organik adalah perbaikan lingkungan, mulai dari kesuburan lahan, aktivitas mikroba, dan siklus biologi sampai peningkatan keanekaragaman hayati. Pengembangan kapas di Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya produktivitas dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri sehingga pengem-bangan kapas organik belum menjadi prioritas meskipun kelestarian biologi dan lingkungan harus tetap di-perhatikan. Oleh karena itu, sistem pertanian input rendah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan meru-pakan pilihan yang dapat dikembangkan untuk kapas. People are now paying more interest on healthy products from organic agriculture especially for food crops. Organic agriculture system based on ecological concern which enhances biodiversity, biological cycles of the land. This interest is now moving to nonfood crops, such as cotton that need high concentration of pesticide and fertilizer for its production. Developing organic cotton requires strictly standard and condition, such as no synthetic chemical fertilizers and pesticides, or detail documents to get organic sertificate. Although, price of organic cotton fiber is higher, but its production is lower compared to conventional one. However, there are still significant advantages in developing organic cotton, i.e. environmental improvements: from soil ferti-lities, microbial activities, biological cycles to promoting biodiversity. At the moment, the need of cotton fiber is mainly from import, on the other side organic cotton productivity tends to low. Hence, development of or-ganic cotton is not priority, yet biological and environmental sustainability ask for attention. Another alterna-tive choice which more practicable to develop cotton in Indonesia is a sustainable and ecofriendly with low input agricultural system.
Pengolahan Daun Tembakau dan Dampaknya Terhadap Lingkungan Samsuri Tirtosastro; A.S. Murdiyati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n2.2011.80-88

Abstract

Tembakau merupakan bahan baku utama industri hasil tembakau seperti rokok keretek, cerutu, tembakau iris, dan lain-lain. Sebelum digunakan, daun tembakau harus melalui proses pengolahan. Pengolahan tembakau pada dasarnya merupakan kegiatan pengeringan, dengan penerapan suhu bertahap atau disebut proses kiu-ring (curing). Dalam proses pengolahan tembakau diperlukan energi, yang selama ini berasal dari panas ma-tahari, udara panas buatan hasil pembakaran kayu, minyak tanah, batu bara, LPG (liquefied petroleum gas), atau limbah pertanian. Penggunaan bahan bakar ini menyebabkan polusi udara, sehingga mencemari ling-kungan dan meracuni pekerja. Tembakau sendiri mengandung bahan berbahaya seperti, debu tembakau, ni-kotin, residu pestisida, TSNA (tobacco spesific nitrosamine), B-a-P (benzo-a-pyrene), dan lain-lain. Petunjuk pengendalian bahan berbahaya dan dampak lingkungan tersebut, selama ini sudah tersedia secara lengkap yang ditetapkan oleh organisasi tembakau dunia Coresta dan diimplementasikan oleh perusahaan-perusaha-an mitra petani. Petani yang sistem produksinya dalam bentuk kemitraan dengan perusahaan-perusahaan tembakau, telah melakukan pengendalian dengan baik. Dampak negatif penggunaan bahan bakar dapat di-tekan dengan sistem pemanasan tidak langsung (flue-curing), sedangkan penggunaan batu bara dilakukan dengan tungku pembakaran gasifikasi. Implementasi selanjutnya, selain diperlukan sistem inspeksi sesuai ketentuan juga perlu didorong terbentuknya kemitraan antara perusahaan tembakau dan petani. Tobacco leaf is the main raw material of tobacco industries such as cigarette, cigar, slices tobacco, etc. Be-fore being used, tobacco leaves have to go through processing. Tobacco processing is basically a drying acti-vity, with the application of temperature or a gradual process called curing. In the processing of tobacco ener-gy needed, which is derived from the hot sun, hot air made by the burning wood, kerosene, coal, LPG (li-quefied petroleum gas), or agricultural waste. The use of these fuels causes air pollution, thus contaminating the environment and poisoning workers. Tobacco itself contain hazardous materials such as tobacco dust, ni-cotine, pesticide residue, TSNA (tobacco specific nitrosamines), B-a-P (benzo-a-pyrene) and others. In-structions on control of hazardous materials and environmental impact, as long as it is available completely de-termined by the organization of the world tobacco Coresta and implemented by partner company of farmers. Farmer production systems in the form of partnership with tobacco companies, has done well control. The ne-gative impact of fuel use could be reduced by an indirect heating system (flue-curing), while the use of coal gasification is done by burning stove. Subsequent implementation, in addition to the required inspection sys-tem according to the provisions, should also be encouraged such as partnerships between tobacco companies and farmers.
Respon Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Terhadap Lima Jenis Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) Elda Nurnasari; . Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n2.2011.71-79

Abstract

Pengembangan tanaman jarak pagar mengalami beberapa kendala, di antaranya produksi biji yang rendah. Hal ini terkait dengan rendahnya jumlah bunga betina yang dihasilkan dalam satu malai. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) terhadap pertumbuhan, pem-bungaan, dan produksi jarak pagar, dilakukan di KP Asembagus pada bulan Januari−Desember 2010. Lima jenis bahan aktif ZPT meliputi paclobutrazol, asam geberelin (GA3), asam naptalin asetik (NAA), mepiquat klorida, dan 2,4-D, serta perlakuan kontrol (tanpa bahan aktif ZPT), diaplikasikan pada tanaman jarak pagar berumur 1 tahun dan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian me-nunjukkan bahwa aplikasi ZPT mempengaruhi jumlah cabang, jumlah bunga jantan, jumlah bunga betina, dan jumlah buah, namun tidak mempengaruhi tinggi tanaman dan lebar kanopi. NAA menghasilkan jumlah buah yang paling banyak (121,4 buah per tanaman) sedangkan GA3 mempercepat pemunculan bunga (8,33 hari setelah aplikasi). Development of physic nut is facing some problems, one of them is low seed production. This is related to the low number of female flowers which are produced in a panicle. The aim of the study is to determine the effect of plant growth regulator (PGR) on growth, flowering, and seed production, it was conducted at Asembagus Experimental Station, Situbondo from January to December 2010. Five kinds of plant growth re-gulator i.e. paclobutrazol, geberelline acid (GA3), naphthalene acetic acid (NAA), mepiquat chloride, and 2,4-D, and control (without PGR) were applied on one-year-old of J. curcas and arranged in a randomized block de-sign with three replications. The results showed that PGR application affects the number of branches, male flower, female flower, and fruit, but not affected plant height and canopy width. NAA gave the highest number of fruit, i.e. 121.4 capsules per plant, and GA3 triggered the earliest flowering, i.e. at 8.33 days after application.
Analisis Ekonomi Penggunaan Minyak Biji Kapas (MBK) untuk Bahan Bakar Nabati Teger Basuki; Joko Hartono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n2.2011.66-70

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara ekonomi efisiensi penggunaan minyak biji kapas sebagai bahan bakar nabati (BBN) untuk kompor Semawar 203. Perlakuan yang diteliti sebanyak lima perlakuan, yaitu (1) 100% minyak biji kapas, (2) 75% minyak biji kapas dicampur 25% kerosin, (3) 50% minyak biji ka-pas dicampur 50% kerosin, (4) 25% minyak biji kapas dicampur 75% kerosin, (5) 100% kerosin. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa dengan menggunakan kompor tekan Semawar tipe 203 dengan bahan bakar campuran antara 50% minyak biji kapas (MBK) dan 50% kerosin menunjukkan efisiensi tertinggi. Dengan biaya sebesar Rp 689,00 mampu untuk mendidihkan 2 liter air dalam waktu 6,20 menit (waktu didihnya pa-ling cepat di antara perlakuan lainnya). Purpose of this study was to analyze the efficiency of cotton seed oil used as a biofuel using Semawar 203 stove. The treatments consist of, i.e.: (1) 100% cotton seed oil, (2) 75% cotton seed oil mixture 25% kero-sene, (3) 50% cotton seed oil mixture 50% kerosene, (4) 25% cotton seed oil mixture 75% kerosene, (5) 100% kerosene. The results showed that by using the stove press Semawar type 203 with a fuel mixture of 50% cotton seed oil and 50% kerosene had the highest efficiency of cost. At a cost of Rp689,00 the mixture was able to boil 2 liters of water in 6.20 minutes (boiling time fastest among other treatments).
Karakter Tanaman Tembakau Temanggung yang Berpengaruh Terhadap Hasil dan Mutu Rajangan Kering . Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n2.2011.57-65

Abstract

Peningkatan hasil dan mutu rajangan kering tembakau temanggung dapat dilakukan bila telah diketahui ka-rakter tanaman yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering. Penelitian yang bertujuan untuk menentukan karakter utama tembakau temanggung yang berpengaruh terhadap hasil dan mutu rajangan kering dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang pada Oktober−Desember 2010. Lima karakter fisiologis utama, lima karakter fenologis utama, dan lima karakter pertumbuhan tanaman uta-ma, hasil, dan mutu rajangan diambil dari data base penelitian tahun 2008. Analisis regresi linier berganda langkah mundur dilakukan untuk menentukan karakter utama yang mempengaruhi hasil dan mutu rajangan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 karakter utama tembakau temanggung yang mem-pengaruhi hasil rajangan kering dan 8 karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering. Keenam karakter utama yang mempengaruhi hasil rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara verturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 0−30 hst, bobot kering daun, jum-lah satuan panas dari daun muncul−daun berhenti meluas, jumlah satuan panas dari panen pertama−pa-nen akhir, jumlah satuan panas dari berbunga−panen akhir, dan tinggi tanaman. Dari keenam karakter uta-ma tersebut, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 0−30 hst, jumlah satuan panas dari panen pertama−panen akhir, dan jumlah satuan panas dari berbunga−panen akhir berpengaruh negatif terhadap hasil rajangan kering, sedangkan yang lainnya berpengaruh positif. Adapun kedelapan karakter utama yang mempengaruhi mutu rajangan kering mulai dari yang paling besar pengaruhnya secara berturut-turut adalah partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin dan pertumbuhan tajuk pada 60 hst−panen akhir, partisi kar-bohidrat untuk pertumbuhan tajuk pada 30−45 hst, jumlah satuan panas dari tanam−pemangkasan, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan daun pada 0−30 hst, jumlah satuan panas dari daun berhenti meluas−daun dipanen, partisi karbohidrat untuk pertumbuhan bunga, dan tinggi tanaman. Dari kedelapan karakter utama tersebut, partisi karbohidrat untuk pembentukan nikotin pada 60 hst−panen akhir dan untuk tajuk pada 30− 45 hst serta jumlah satuan panas dari daun berhenti meluas−daun dipanen berpengaruh positif terhadap mutu rajangan kering, sedangkan yang lainnya berpengaruh negatif. Yield and quality of dry sliced temanggung tobacco could increase when the plant characters which affect them have been identified. The aim of the research was to identify the important plant characters which affect yield and quality of dry sliced temanggung tobacco. The experiment was conducted at Indonesian To-bacco and Fiber Crops Research Institute (IToFCRI), Malang from October to December 2010. A data base of the research result in 2008 was used as data source for five physiological characters, five phenological characters, five plant growth characters, dry sliced yield, and quality. Backward stepwise analysis was used to determine the important plant characters wich affect the dry sliced yield and quality. The results showed that the were six important characters that affected dry sliced yield and eight main characters affected dry sliced quality. The six characters that affected dry sliced yield sorted from the largest were carbohydrate partitioning for shoot growth in 0−30 dap, leaf dry weight, total heat unit from leaf initiation to harvesting period, total heat unit from first harvesting to final harvesting, total heat unit from flowers initiation to final harvesting, and plant height. The carbohydrate partitioning for shoot growth in 0−30 dap, total heat unit from first harvesting to final harvesting, and total heat unit from flowers initiation to final harvesting had ne-gative effect on dry sliced yield, and the others had positive effects. The eight characters that affected dry sliced quality sorted from the largest were carbohydrate partitioning for nicotine formation and the shoot growth from 60 dap−final harvesting, carbohydrate partitioning for shoot growth in 30−45 dap, total heat unit from planting to topping, carbohydrate partitioning for leaf growth in 0−30 dap, total heat unit from ter-minal leaf expansion to harvesting period, carbohydrate partitioning for the flower growth, and plant height. The carbohydrate partitioning for nicotine formation from 60 dap−final harvesting, carbohydrate partitioning for shoot growth in 30−45 dap, and total heat unit from terminal leaves expansion to leaf harvest had posi-tive effect on dry sliced quality and the others had negative effect.
Prospek Pengembangan Kapas Organik di Indonesia Titiek Yulianti
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 3, No 2 (2011): Oktober 2011
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v3n2.2011.89-95

Abstract

Sistem pertanian organik pada tanaman pangan mulai diminati masyarakat karena produknya lebih sehat dan pengelolaannya memperhatikan lingkungan, siklus biologi, dan keanekaragaman hayati setempat. Kecende-rungan ini merembet ke tanaman nonpangan, seperti kapas yang menggunakan pestisida dan pupuk sintetis sangat besar. Syarat pengembangan kapas organik cukup ketat karena selain larangan menggunakan bahan kimia sintetis, juga pendokumentasian untuk memperoleh sertifikat organik. Meskipun serat kapas organik harganya lebih tinggi, namun produktivitasnya cenderung rendah. Keuntungan yang paling signifikan dalam pengembangan kapas organik adalah perbaikan lingkungan, mulai dari kesuburan lahan, aktivitas mikroba, dan siklus biologi sampai peningkatan keanekaragaman hayati. Pengembangan kapas di Indonesia masih menghadapi masalah rendahnya produktivitas dan pemenuhan kebutuhan dalam negeri sehingga pengem-bangan kapas organik belum menjadi prioritas meskipun kelestarian biologi dan lingkungan harus tetap di-perhatikan. Oleh karena itu, sistem pertanian input rendah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan meru-pakan pilihan yang dapat dikembangkan untuk kapas. People are now paying more interest on healthy products from organic agriculture especially for food crops. Organic agriculture system based on ecological concern which enhances biodiversity, biological cycles of the land. This interest is now moving to nonfood crops, such as cotton that need high concentration of pesticide and fertilizer for its production. Developing organic cotton requires strictly standard and condition, such as no synthetic chemical fertilizers and pesticides, or detail documents to get organic sertificate. Although, price of organic cotton fiber is higher, but its production is lower compared to conventional one. However, there are still significant advantages in developing organic cotton, i.e. environmental improvements: from soil ferti-lities, microbial activities, biological cycles to promoting biodiversity. At the moment, the need of cotton fiber is mainly from import, on the other side organic cotton productivity tends to low. Hence, development of or-ganic cotton is not priority, yet biological and environmental sustainability ask for attention. Another alterna-tive choice which more practicable to develop cotton in Indonesia is a sustainable and ecofriendly with low input agricultural system.

Page 1 of 1 | Total Record : 10