cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No 1 (2012): April 2012" : 10 Documents clear
Pemanfaatan Ekstrak Tanaman untuk Atraktan Predator dan Parasitoid Wereng Kapas Asbani, Nur; Amir, A.M.; Nurindah, .; Sunarto, Dwi Adi; Sujak, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kapas dalam negeri adalah serangan serangga hama. Hama utama tanaman kapas adalah wereng kapas, Amrasca biguttulla. Pengendalian wereng kapas dengan pe-nyemprotan insektisida berakibat pada meningkatnya populasi penggerek buah. Pemanfaatan predator dan parasitoid wereng kapas merupakan solusi pengendalian yang tepat. Penggunaan atraktan untuk mening-katkan populasi predator dan parasitoid pada pertanaman kapas akan meningkatkan peran musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik yang efektif. Ekstrak tanaman, terutama yang berupa minyak atsiri, telah banyak digunakan sebagai atraktan musuh alami, tetapi belum banyak yang menggunakannya sebagai atrak-tan musuh alami wereng kapas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ekstrak beberapa tanaman yang diduga dapat berfungsi sebagai atraktan bagi parasitoid telur dan predator wereng kapas di laboratorium dengan pengujian secara olfaktometri dan mengujinya di lapangan dengan menggunakan metode perangkap yang dilengkapi dispenser untuk atraktan. Pengujian di lapangan dilakukan pada pertanaman kapas. Ekstrak tanaman yang diuji adalah daun kapas yang telah terinfestasi oleh A. biguttulla, batang dan daun jagung, dan daun teh hitam (Melalaeuca brachteata) dengan menggunakan pelarut organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dapat dimanfaatkan sebagai atraktan parasitoid telur wereng kapas. Parasitoid telur menunjukkan respon positif terhadap minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dalam uji olfaktometri di laboratorium. Pada uji lapangan, peningkatan populasi parasitoid dengan penam-bahan kedua atraktan tersebut dapat mencapai 176% dibandingkan kontrol. Minyak atsiri dari ekstrak tanaman yang diuji tidak mempunyai pengaruh terhadap predator jenis kumbang kubah, kumbang kembara, kepik mirid, dan sayap jala. ABSTRACTThe Use of Plant Extract for Attractant of Predators and Parasitoids of Cotton LeafhopperCotton production is restricted by pest attack. The key pest of cotton is cotton leafhopper, Amrasca biguttula. Aerial spray to control of this pest caused the increase of bollworm population. Therefore, the use of parasitoids and predators could be a proper method to control the leafhoppers. The use of attractant to in-crease predator and parasitoid population on cotton field would also increase the role of those natural enemies as an effective biotic mortality factor. Plant extracts, especially in the form of essential oils, have been used as attractants for the natural enemies; however attractant for natural enemies of cotton leafhopper has not been intensively developed. Therefore, this research aims were to evaluate some plant extracts that may function as an attractant for egg parasitoid and predators of cotton leafhopper in laboratory tests using olfactometry method, and also to test the effectiveness of the attractant in increasing population of parasi-toids and predators in cotton fields. The plant extracts were of leafhopper-infested-cotton leaves, maize stalks and leaves, and Melalaeuca brachteata leaves, using organic solvents. Results showed that the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves could be used as an attractant for the hopper egg parasitoids. The parasitoids showed positive response to the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves in olfactometry tests. The use of those attractants in cotton fields increased parasitoid population by 179% compared to the control. Essential oils of the tested pants did not have any effect on predators, such as ladybird beetles, staphylinid beetles, mirid bugs, as well as lacewings.Keywords: Essential oils, attractant, parasitoid, predator, cotton leafhopper.
Keragaman Pertumbuhan dan Hasil Populasi Tanaman Jarak Pagar IP-3A Nurnasari, Elda; Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Potensi produksi jarak pagar (Jatropha curcas L.) provenan Improved Population (IP) merupakan hasil pre-diksi dari produksi individu tanaman terbaik pada umur satu tahun dari suatu populasi tanaman. Sampai saat ini produksi jarak pagar secara aktual masih jauh lebih rendah dari potensinya. Keragaman tanaman diduga menjadi salah satu penyebab kesenjangan tersebut. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kera-gaman pertanaman IP-3A dilakukan pada Agustus–Desember 2010 di Kebun Percobaan Asembagus, Situ-bondo. Pertanaman IP-3A berumur 2 tahun, baik yang berasal dari benih maupun setek diambil 75 contoh ta-naman untuk diamati pertumbuhan dan produksinya. Data yang diperoleh dianalisis keragamannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman dan produksi biji per tanaman jarak pagar IP-3A, baik yang berasal dari benih maupun setek, sangat beragam. Koefisien keragaman pertumbuhan tanaman yang meliputi tinggi tanaman, diameter kanopi, diameter batang, dan panjang per ruas batang lebih kecil dari 20%, sedangkan jumlah daun, diameter batang utama, panjang batang, volume batang, jumlah ruas ba-tang, dan volume per ruas batang berkisar 20–50%. Koefisien keragaman komponen produksi yaitu jumlah tandan berbuah, jumlah buah per tandan, dan jumlah buah per tanaman berkisar 50−160%. Koefisien kera-gaman produksi biji berkisar 98−160% dengan produksi maksimum sebesar 4,30−8,55 kali produksi rerata-nya. Keragaman produksi biji yang tinggi menyebabkan adanya kesenjangan antara potensi produksi dengan aktualnya.   Growth And Yield Variability of Jatropha IP-3A Plant Population ABSTRACT Potential yield of Improved Population (IP) provenances were predicted from the best yield of individual plants in one year old population. In the field, actual yield of jatropha is lower than its potency. The high va-riability in plant population may cause the divergence of the yields. A research to find out production varia-bility of IP-3A was conducted from August to December 2010 at Asembagus Experimental Station, Situbon-do. Seventy five sample plants were taken from IP-3A plantation aged 2 years from seedling and stem cutting. The sample plants were observed for their growth and yield. Variability analysis was used in this research. The result showed that plant growth and yield of jatropha IP-3A plantation, both from seedling and stem cutting were varied. Coefficient variability of plant growth including plant height, canopy diameter, stem diameter, and stem length per internode was less than 20%, whereas those of number of leaves, main stem diameter, stem length, stem volume, number of stem internodes, and volume of stem internodes ranged from 20−50%. The coefficient variability of yield components, including number of fruit bunches, the number of fruits per bunch, and number of fruit per plant ranged from 50−160%. The coefficient variability of yield ranged from 98–160%, which is 4.30 to 8.55 times of the average yields. The high variability of yield may explain the jatropha yield gap between its potency and actual.    
Tanggapan Fisiologi Tanaman Tembakau Temanggung terhadap Dosis Pupuk Nitrogen serta Kaitannya dengan Hasil dan Mutu Rajangan Djumali, .
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau temanggung merupakan tembakau lokal yang berkadar nikotin tinggi. Ketersediaan hara N dalam tanah dapat mempengaruhi hasil dan kandungan nikotin rajangan kering. Percobaan dilakukan di rumah ka-ca Balittas Malang selama Maret–Agustus 2009. Perlakuan terdiri atas 6 dosis pupuk N (0; 1,62; 3,64; 4,86; 6,48; dan 8,10 g N/tanaman) disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Setiap perlakuan dalam satu ulangan terdiri atas 4 pot dan setiap pot diberi pupuk dasar 2,70 g P2O5 + 1,35 kg pupuk kandang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah fisiologi tanaman (kandungan N-daun, klorofil, bobot spesifik daun, laju fotosintesis, respirasi, efisiensi cahaya mereduksi CO2 (EF0), dan koefisien respirasi pemeliharaan daun (KRPD)), hasil rajangan kering, dan kandungan nikotin tembakau temanggung dipengaruhi oleh dosis pu-puk N dengan membentuk kurva kuadratik tertutup, dosis maksimum masing-masing sebesar 7,89; 7,89; 54,75; 9,50; 26,25; 21,50; 10,00; 6,08; dan 6,86 g N/tanaman. Peubah fisiologi tanaman yang paling menen-tukan hasil rajangan kering berturut-turut adalah klorofil, N-daun, laju respirasi, dan bobot spesifik daun. Adapun peubah fisiologi tanaman yang paling menentukan kandungan nikotin berturut-turut adalah fotosin-tesis, KRPD, respirasi, dan kandungan klorofil.   Physiological Responses of Temanggung Tobacco to Dose of Nitrogen Fertilizer and Its Relationship with Dry Slice Yield and Nicotine Content ABSTRACT   Temanggung tobacco is a local tobacco, with high nicotine content. Nitrogen available in soil affects dry sliced yield and nicotine content. The experiment was conducted in glasshouse of IToFCRI Malang from March–August 2009. The treatment consist of six levels of N fertilizer (0, 1.62, 3.64, 4.86, 6.48, and 8.10 g N/plant), were arranged in randomized block design with three replications. Every threatment in one repli-cation received 2.70 g P2O5 + 1.35 kg manure. The results showed that physiological plant parameters (N-leaf, chlorophyll content, specific leaf weight, photosynthesis rate, respiration rate, light efficiency to CO2 re-duction (EF0), and coefficient of leaf maintenance respiration (CLMR)), dry slice yield, and nicotine content were affected by N rates. The response of these parameters on N fertilizer were expressed by closed qua-dratic curves, which maximum rate of N fertilizer were 7.89, 7.89, 54.75, 9.50, 26.25, 21.50, 10.00, 6.08, and 6.86 g N/plant respectively.  Dry sliced yield were affected by chlorophyll content, respiration rate, and specific leaf weight. Nicotine content were affected by photosynthesis rate, CLMR, respiration rate, and chlo-rophyll content.    
Potensi Pemanfaatan Limbah Tebu sebagai Pakan Fermentasi Probiotik Khuluq, Ahmad Dhiaul
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program swasembada gula 2014 memberikan dampak perluasan area pertanaman tebu. Pada tahun 2010 luas areal tebu telah mencapai 418.259 ha dengan produksi tebu nasional 34.218.549 ton, sehingga diha-silkan limbah daun tebu dan bagas sebanyak 16,7 juta ton yang sangat potensial untuk pakan ternak. Ino-vasi teknologi dibutuhkan dalam peningkatan kandungan nutrisi limbah tebu yang masih rendah. Pembuatan pakan fermentasi probiotik dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan nutrisi dan daya cerna pakan. De-gradasi senyawa organik dapat dilakukan dengan bantuan bakteri selulolitik, lignolitik, dan hemiselulolitik. Mikroba yang dapat dimanfaatkan dalam pakan fermentasi probiotik meliputi jamur (Aspergillus niger, Pha-nerochaete chrysosporium), khamir (Saccharomyces cerevisieae), dan bakteri (Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptococcus).Sugar self-sufficiency programs in 2014 impact the extension of sugarcane planting area. In 2010, sugarcane area have reached 418,259 ha with a nation production of 34,218,549 tons of sugarcane, so that the result-ing waste sugarcane leaves and bagasse as many as 16.7 million tons with huge potential for livestock feed. Technological innovation is needed in improving the nutrition content of low sugarcane waste. Preparation of feed probiotics fermentation may be an alternative to improve the nutrients and digestibility of feed. Degra-dation of organic compounds can be done by cellulolytic, lignolitic, and hemicelulolitic bacteria. Microbes that can be utilized in feed probiotics fermentation include fungi (Aspergillus niger, Phanerochaete chrysospo-rium), yeast (Saccharomyces cerevisiae), and bacteria (Lactobacillus, Bifidobacterium, and Streptococcus).
Keefektifan Kalsium Polisulfida terhadap Rhizoctonia solani dan Rhizoctonia bataticola secara In Vitro Hidayah, Nurul; Wijayanti, Kristiana Sri; Asbani, Nur
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rhizoctonia solani dan R. bataticola merupakan jamur patogen pada tanaman kapas yang sulit dikendalikan, karena dapat menghasilkan sklerosia sebagai struktur istirahatnya di dalam tanah meskipun tidak ada inang. Perlindungan tanaman sejak awal perlu dilakukan untuk melindungi dari serangan patogen tersebut. Pengguna-an kalsium polisulfida yang merupakan pestisida ramah lingkungan dapat menjadi alternatif untuk mengenda-likan penyakit yang diakibatkan kedua jamur tersebut. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan kalsium polisulfida dalam menghambat pertumbuhan jamur R. solani dan R. bataticola secara in vitro. Tu-juh level konsentrasi kalsium polisulfida yakni 0% (kontrol); 0,5%; 1%; 1,5%; 2%; 2,5%; dan 3% masing-masing dituang ke dalam cawan petri kemudian ditambahkan dengan 10 ml media PDA (Potato Dextrose Agar). Inokulum R. solani dan R. bataticola masing-masing secara terpisah diinokulasikan setelah media pa-dat dan diinkubasi pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara in vitro, kalsium polisulfida hanya mampu menghambat pertumbuhan miselia jamur R. solani dan R. bataticola sampai dengan hari kedua setelah perlakuan. Setelah itu persentase penghambatannya berangsur-angsur menurun. Both of Rhizoctonia solani and R. bataticola are the difficult fungal pathogens to control since they can pro-duce sclerotia as the resting spore in the soil even though there is no host. An early plant protection is im-portant to defend from the pathogen infection. The use of calcium polysulfide, an environmentally friendly pesticide, could be an alternative method to control diseases caused by both of them. The objective of this research was to identify the potency of calcium polysulfide in inhibiting of R. solani and R. bataticola growth in vitro. There were seven level of concentration of calcium polysulphide, ie. 0% (control), 0.5%, 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, and 3%, were poured onto petridish and added by PDA medium. R. solani and R. bataticola inocula were inoculated onto agar plate separately and incubated in room temperature. The result indicated that calcium polysulfide could inhibit the growth of R. solani and R. bataticola in vitro until two days after inoculation (dai), after that its capability was decreased slowly.
Tanggapan Fisiologi Tanaman Tembakau Temanggung terhadap Dosis Pupuk Nitrogen serta Kaitannya dengan Hasil dan Mutu Rajangan . Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v4n1.2012.10-20

Abstract

Tembakau temanggung merupakan tembakau lokal yang berkadar nikotin tinggi. Ketersediaan hara N dalam tanah dapat mempengaruhi hasil dan kandungan nikotin rajangan kering. Percobaan dilakukan di rumah ka-ca Balittas Malang selama Maret–Agustus 2009. Perlakuan terdiri atas 6 dosis pupuk N (0; 1,62; 3,64; 4,86; 6,48; dan 8,10 g N/tanaman) disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 3 ulangan. Setiap perlakuan dalam satu ulangan terdiri atas 4 pot dan setiap pot diberi pupuk dasar 2,70 g P2O5 + 1,35 kg pupuk kandang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah fisiologi tanaman (kandungan N-daun, klorofil, bobot spesifik daun, laju fotosintesis, respirasi, efisiensi cahaya mereduksi CO2 (EF0), dan koefisien respirasi pemeliharaan daun (KRPD)), hasil rajangan kering, dan kandungan nikotin tembakau temanggung dipengaruhi oleh dosis pu-puk N dengan membentuk kurva kuadratik tertutup, dosis maksimum masing-masing sebesar 7,89; 7,89; 54,75; 9,50; 26,25; 21,50; 10,00; 6,08; dan 6,86 g N/tanaman. Peubah fisiologi tanaman yang paling menen-tukan hasil rajangan kering berturut-turut adalah klorofil, N-daun, laju respirasi, dan bobot spesifik daun. Adapun peubah fisiologi tanaman yang paling menentukan kandungan nikotin berturut-turut adalah fotosin-tesis, KRPD, respirasi, dan kandungan klorofil.   Physiological Responses of Temanggung Tobacco to Dose of Nitrogen Fertilizer and Its Relationship with Dry Slice Yield and Nicotine Content  ABSTRACT Temanggung tobacco is a local tobacco, with high nicotine content. Nitrogen available in soil affects dry sliced yield and nicotine content. The experiment was conducted in glasshouse of IToFCRI Malang from March–August 2009. The treatment consist of six levels of N fertilizer (0, 1.62, 3.64, 4.86, 6.48, and 8.10 g N/plant), were arranged in randomized block design with three replications. Every threatment in one repli-cation received 2.70 g P2O5 + 1.35 kg manure. The results showed that physiological plant parameters (N-leaf, chlorophyll content, specific leaf weight, photosynthesis rate, respiration rate, light efficiency to CO2 re-duction (EF0), and coefficient of leaf maintenance respiration (CLMR)), dry slice yield, and nicotine content were affected by N rates. The response of these parameters on N fertilizer were expressed by closed qua-dratic curves, which maximum rate of N fertilizer were 7.89, 7.89, 54.75, 9.50, 26.25, 21.50, 10.00, 6.08, and 6.86 g N/plant respectively.  Dry sliced yield were affected by chlorophyll content, respiration rate, and specific leaf weight. Nicotine content were affected by photosynthesis rate, CLMR, respiration rate, and chlo-rophyll content.  
Pemanfaatan Ekstrak Tanaman untuk Atraktan Predator dan Parasitoid Wereng Kapas . Nurindah; Dwi Adi Sunarto; . Sujak; Nur Asbani; A.M. Amir
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v4n1.2012.21-31

Abstract

Salah satu kendala dalam peningkatan produksi kapas dalam negeri adalah serangan serangga hama. Hama utama tanaman kapas adalah wereng kapas, Amrasca biguttulla. Pengendalian wereng kapas dengan pe-nyemprotan insektisida berakibat pada meningkatnya populasi penggerek buah. Pemanfaatan predator dan parasitoid wereng kapas merupakan solusi pengendalian yang tepat. Penggunaan atraktan untuk mening-katkan populasi predator dan parasitoid pada pertanaman kapas akan meningkatkan peran musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik yang efektif. Ekstrak tanaman, terutama yang berupa minyak atsiri, telah banyak digunakan sebagai atraktan musuh alami, tetapi belum banyak yang menggunakannya sebagai atrak-tan musuh alami wereng kapas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ekstrak beberapa tanaman yang diduga dapat berfungsi sebagai atraktan bagi parasitoid telur dan predator wereng kapas di laboratorium dengan pengujian secara olfaktometri dan mengujinya di lapangan dengan menggunakan metode perangkap yang dilengkapi dispenser untuk atraktan. Pengujian di lapangan dilakukan pada pertanaman kapas. Ekstrak tanaman yang diuji adalah daun kapas yang telah terinfestasi oleh A. biguttulla, batang dan daun jagung, dan daun teh hitam (Melalaeuca brachteata) dengan menggunakan pelarut organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dapat dimanfaatkan sebagai atraktan parasitoid telur wereng kapas. Parasitoid telur menunjukkan respon positif terhadap minyak atsiri dari ekstrak daun kapas yang terserang A. biguttulla dan daun teh hitam dalam uji olfaktometri di laboratorium. Pada uji lapangan, peningkatan populasi parasitoid dengan penam-bahan kedua atraktan tersebut dapat mencapai 176% dibandingkan kontrol. Minyak atsiri dari ekstrak tanaman yang diuji tidak mempunyai pengaruh terhadap predator jenis kumbang kubah, kumbang kembara, kepik mirid, dan sayap jala. ABSTRACTThe Use of Plant Extract for Attractant of Predators and Parasitoids of Cotton LeafhopperCotton production is restricted by pest attack. The key pest of cotton is cotton leafhopper, Amrasca biguttula. Aerial spray to control of this pest caused the increase of bollworm population. Therefore, the use of parasitoids and predators could be a proper method to control the leafhoppers. The use of attractant to in-crease predator and parasitoid population on cotton field would also increase the role of those natural enemies as an effective biotic mortality factor. Plant extracts, especially in the form of essential oils, have been used as attractants for the natural enemies; however attractant for natural enemies of cotton leafhopper has not been intensively developed. Therefore, this research aims were to evaluate some plant extracts that may function as an attractant for egg parasitoid and predators of cotton leafhopper in laboratory tests using olfactometry method, and also to test the effectiveness of the attractant in increasing population of parasi-toids and predators in cotton fields. The plant extracts were of leafhopper-infested-cotton leaves, maize stalks and leaves, and Melalaeuca brachteata leaves, using organic solvents. Results showed that the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves could be used as an attractant for the hopper egg parasitoids. The parasitoids showed positive response to the essential oils of leafhopper-infested-cotton leaves and black-tea tree leaves in olfactometry tests. The use of those attractants in cotton fields increased parasitoid population by 179% compared to the control. Essential oils of the tested pants did not have any effect on predators, such as ladybird beetles, staphylinid beetles, mirid bugs, as well as lacewings.Keywords: Essential oils, attractant, parasitoid, predator, cotton leafhopper.
Keefektifan Kalsium Polisulfida terhadap Rhizoctonia solani dan Rhizoctonia bataticola secara In Vitro Nurul Hidayah; Kristiana Sri Wijayanti; Nur Asbani
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v4n1.2012.32-36

Abstract

Rhizoctonia solani dan R. bataticola merupakan jamur patogen pada tanaman kapas yang sulit dikendalikan, karena dapat menghasilkan sklerosia sebagai struktur istirahatnya di dalam tanah meskipun tidak ada inang. Perlindungan tanaman sejak awal perlu dilakukan untuk melindungi dari serangan patogen tersebut. Pengguna-an kalsium polisulfida yang merupakan pestisida ramah lingkungan dapat menjadi alternatif untuk mengenda-likan penyakit yang diakibatkan kedua jamur tersebut. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi kemampuan kalsium polisulfida dalam menghambat pertumbuhan jamur R. solani dan R. bataticola secara in vitro. Tu-juh level konsentrasi kalsium polisulfida yakni 0% (kontrol); 0,5%; 1%; 1,5%; 2%; 2,5%; dan 3% masing-masing dituang ke dalam cawan petri kemudian ditambahkan dengan 10 ml media PDA (Potato Dextrose Agar). Inokulum R. solani dan R. bataticola masing-masing secara terpisah diinokulasikan setelah media pa-dat dan diinkubasi pada suhu kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara in vitro, kalsium polisulfida hanya mampu menghambat pertumbuhan miselia jamur R. solani dan R. bataticola sampai dengan hari kedua setelah perlakuan. Setelah itu persentase penghambatannya berangsur-angsur menurun. Both of Rhizoctonia solani and R. bataticola are the difficult fungal pathogens to control since they can pro-duce sclerotia as the resting spore in the soil even though there is no host. An early plant protection is im-portant to defend from the pathogen infection. The use of calcium polysulfide, an environmentally friendly pesticide, could be an alternative method to control diseases caused by both of them. The objective of this research was to identify the potency of calcium polysulfide in inhibiting of R. solani and R. bataticola growth in vitro. There were seven level of concentration of calcium polysulphide, ie. 0% (control), 0.5%, 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, and 3%, were poured onto petridish and added by PDA medium. R. solani and R. bataticola inocula were inoculated onto agar plate separately and incubated in room temperature. The result indicated that calcium polysulfide could inhibit the growth of R. solani and R. bataticola in vitro until two days after inoculation (dai), after that its capability was decreased slowly.
Keragaman Pertumbuhan dan Hasil Populasi Tanaman Jarak Pagar IP-3A Elda Nurnasari; . Djumali
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v4n1.2012.1-9

Abstract

ABSTRAK Potensi produksi jarak pagar (Jatropha curcas L.) provenan Improved Population (IP) merupakan hasil pre-diksi dari produksi individu tanaman terbaik pada umur satu tahun dari suatu populasi tanaman. Sampai saat ini produksi jarak pagar secara aktual masih jauh lebih rendah dari potensinya. Keragaman tanaman diduga menjadi salah satu penyebab kesenjangan tersebut. Penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi kera-gaman pertanaman IP-3A dilakukan pada Agustus–Desember 2010 di Kebun Percobaan Asembagus, Situ-bondo. Pertanaman IP-3A berumur 2 tahun, baik yang berasal dari benih maupun setek diambil 75 contoh ta-naman untuk diamati pertumbuhan dan produksinya. Data yang diperoleh dianalisis keragamannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman dan produksi biji per tanaman jarak pagar IP-3A, baik yang berasal dari benih maupun setek, sangat beragam. Koefisien keragaman pertumbuhan tanaman yang meliputi tinggi tanaman, diameter kanopi, diameter batang, dan panjang per ruas batang lebih kecil dari 20%, sedangkan jumlah daun, diameter batang utama, panjang batang, volume batang, jumlah ruas ba-tang, dan volume per ruas batang berkisar 20–50%. Koefisien keragaman komponen produksi yaitu jumlah tandan berbuah, jumlah buah per tandan, dan jumlah buah per tanaman berkisar 50−160%. Koefisien kera-gaman produksi biji berkisar 98−160% dengan produksi maksimum sebesar 4,30−8,55 kali produksi rerata-nya. Keragaman produksi biji yang tinggi menyebabkan adanya kesenjangan antara potensi produksi dengan aktualnya. Growth And Yield Variability of Jatropha IP-3A Plant Population ABSTRACT Potential yield of Improved Population (IP) provenances were predicted from the best yield of individual plants in one year old population. In the field, actual yield of jatropha is lower than its potency. The high va-riability in plant population may cause the divergence of the yields. A research to find out production varia-bility of IP-3A was conducted from August to December 2010 at Asembagus Experimental Station, Situbon-do. Seventy five sample plants were taken from IP-3A plantation aged 2 years from seedling and stem cutting. The sample plants were observed for their growth and yield. Variability analysis was used in this research. The result showed that plant growth and yield of jatropha IP-3A plantation, both from seedling and stem cutting were varied. Coefficient variability of plant growth including plant height, canopy diameter, stem diameter, and stem length per internode was less than 20%, whereas those of number of leaves, main stem diameter, stem length, stem volume, number of stem internodes, and volume of stem internodes ranged from 20−50%. The coefficient variability of yield components, including number of fruit bunches, the number of fruits per bunch, and number of fruit per plant ranged from 50−160%. The coefficient variability of yield ranged from 98–160%, which is 4.30 to 8.55 times of the average yields. The high variability of yield may explain the jatropha yield gap between its potency and actual.  
Potensi Pemanfaatan Limbah Tebu sebagai Pakan Fermentasi Probiotik Ahmad Dhiaul Khuluq
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 4, No 1 (2012): April 2012
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v4n1.2012.37-45

Abstract

Program swasembada gula 2014 memberikan dampak perluasan area pertanaman tebu. Pada tahun 2010 luas areal tebu telah mencapai 418.259 ha dengan produksi tebu nasional 34.218.549 ton, sehingga diha-silkan limbah daun tebu dan bagas sebanyak 16,7 juta ton yang sangat potensial untuk pakan ternak. Ino-vasi teknologi dibutuhkan dalam peningkatan kandungan nutrisi limbah tebu yang masih rendah. Pembuatan pakan fermentasi probiotik dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan nutrisi dan daya cerna pakan. De-gradasi senyawa organik dapat dilakukan dengan bantuan bakteri selulolitik, lignolitik, dan hemiselulolitik. Mikroba yang dapat dimanfaatkan dalam pakan fermentasi probiotik meliputi jamur (Aspergillus niger, Pha-nerochaete chrysosporium), khamir (Saccharomyces cerevisieae), dan bakteri (Lactobacillus, Bifidobacterium, dan Streptococcus).Sugar self-sufficiency programs in 2014 impact the extension of sugarcane planting area. In 2010, sugarcane area have reached 418,259 ha with a nation production of 34,218,549 tons of sugarcane, so that the result-ing waste sugarcane leaves and bagasse as many as 16.7 million tons with huge potential for livestock feed. Technological innovation is needed in improving the nutrition content of low sugarcane waste. Preparation of feed probiotics fermentation may be an alternative to improve the nutrients and digestibility of feed. Degra-dation of organic compounds can be done by cellulolytic, lignolitic, and hemicelulolitic bacteria. Microbes that can be utilized in feed probiotics fermentation include fungi (Aspergillus niger, Phanerochaete chrysospo-rium), yeast (Saccharomyces cerevisiae), and bacteria (Lactobacillus, Bifidobacterium, and Streptococcus).

Page 1 of 1 | Total Record : 10