cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ilmiah nasional yang dikelola oleh Balai Penelitian Tanaman Pemanis, dan Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan untuk menerbitkan hasil penelitian dan pengembangan, dan tinjauan (review) tanaman pemanis, serat buah, serat batang/daun, tembakau, dan minyak industri. Buletin ini membuka kesempatan kepada umum yang meliputi para peneliti, pengajar perguruan tinggi, dan praktisi. Makalah harus dipersiapkan dengan berpedoman pada ketentuan-ketentuan penulisan yang disajikan pada setiap nomor penerbitan. Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan April dan Oktober, satu volume terdiri atas 2 nomor. Akreditasi No. 508/Akred/P2MI-LIPI/10/2012, ISSN: 2085-6717, e-ISSN: 2406-8853, Mulai terbit: April 2009
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 1 (2014): April 2014" : 10 Documents clear
Kesesuaian Galur-Galur Harapan Kapas Berdaun Okra dalam Sistem Tumpang Sari Dengan Kedelai Riajaya, Prima Diarini; Kadarwati, Fitriningdyah Tri
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Galur-galur kapas berdaun okra atau menjari berpotensiuntuk ditanam pada tata tanam rapat dalam sistem tumpangsari dengan palawija karena bentuk daun yang menjari dapat meneruskan intersepsi cahaya ke ca-bang bagian bawah, namun kesesuaiannya perlu diteliti. Penelitian lapang dilakukan di Kebun Percobaan Ka-rangploso, Malang mulai AprilsampaiSeptember 2011 bertujuan untuk mendapatkan galur-galur kapas ber-daun okra yang sesuai pada sistem tumpang sari dengan kedelai. Bahan tanaman yang digunakan adalah 4 galur harapan kapas berdaun okra dan 2 varietas kapas berdaun normal terdiri atas 98031/1/7, 98039/6, 98040/3, 98048/2, Kanesia 8, dan Kanesia 10. Galur-galur kapas tersebut tahan terhadap hama penggerek buah dan mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Monokultur kapas dan kedelai ditanam untuk menghitung penurunan produksi tumpang sari terhadap monokultur dan menghitung Nilai Kesetaraan Lahan (NKL). Parameter yang diamati pada ta-naman kapas adalah tinggi tanaman, lebar kanopi, jumlah cabang vegetatif dan generatif, serta jumlah buah/ tanaman setiap dua minggu mulai 60–120 HST. Bobot buah, jumlah buah terpanen, hasil kapas berbiji, dan hasil kedelai diamati saat panen. Parameter pertumbuhan yang diamati pada jagung maupun kedelai adalah tinggi tanaman dan lebar kanopi. Hasil penelitian menunjukkan galur kapas berdaun okra yaitu galur 98048/2 mempunyai kesesuaian yang tinggi bila ditumpangsarikan dengan kedelai dengan hasil kapas 1.888 kg/ha dan kedelai 1.492 kg/ha, dengan 67,3% dari potensi hasil galur tersebut dan NKL 1,3. Tingkat penurunan hasil kapas dan kedelai masing-masing 33% dan 39% terhadap monokultur. Hasil kapas monokultur galur 98048/2 tertinggi dibanding galur okra lainnya yaitu 2.837 kg/ha, dengan 101,1% dari potensi hasil galur tersebut. Penurunan hasil kedelai lebih tinggi (45–47%) bila ditumpangsarikan dengan kapas berdaun nor-mal dibanding galur okra (36–44%).    
Keragaan Kelembagaan Dalam Agribisnis Gula di Sulawesi Selatan Husnah, Nurdiah; Tandisau, Peter; Herniwati, .; Djuhry, Fadjry
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelembagaan dalam pengembangan agribisnis gula merupakan upaya peningkatan kualitas hidup masyara-kat tani, yang dicapai melalui investasi teknologi, pengembangan produktivitas tenaga kerja, pembangunan sarana ekonomi, serta penataannya, sumber daya manusia dan sumber daya alam. Permasalahan utama yang dihadapi berkaitan dengan agribisnis gula, yaitu (1) produktivitas yang cenderung turun yang disebab-kan antara lain karena penerapan teknologi on farm dan efisiensi pabrik gula yang rendah; (2) impor gula yang semakin meningkat; (3) harga gula domestik tidak stabil yang disebabkan oleh sistem distribusi yang kurang efisien dan (4) pemanfaatan kelembagaan penunjang agribisnis.  Dilihat dari berbagai aspek,seperti potensisumberdayayang dimiliki, arah kebijakan pembangunan nasional, potensi pasar domestik produk-produk agribisnis, Sulawesi Selatan memiliki prospek untuk mengembangkan sistem agribisnis gula.  Hasil penelitian menunjukkanbahwasistem agribisnis gula meliputi beberapa subsistem yang terdiri atas subsistem hulu, sub-sistem on farm, subsistem hilir, dan subsistem lembaga penunjang agribisnis yang masing-masing memiliki peran dan sebagai sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait. Secara integral terkait antara sektor perkebunan di on farm dan sektor industri di hulu dan hilir, kon-disi inilah yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik secara nasional.  Institutions in the sugar agribusiness is efforts to increase the quality of life of farmers, which is achieved through technology investment, the development of labor productivity, the development of the economy, as well as arrangement of human and natural resources. The main problems associated with sugar agribusiness, namely: (1) productivity tends to decline due in part because the application of the technology on farm and factory efficiency of sugar mill is low, (2) increasing sugar imports, (3) the price of domestic sugar unstable due to the inefficient distribution system, and (4) the utilization of institutional support agribusiness. Viewed from various aspects, such as the potential resources, the direction of national development policies, domes-tic market potential for the products of agribusiness, South Sulawesi has the prospect to develop the sugar agribusiness system. The results showed that the sugar agribusiness system includes multiple subsystems consisting of upstream subsystems, on farm subsystems, and downstream subsystem. Those support agri-business institutions that each have a role and as a system, which can not be separated from each other, merge with each other and mutually related. Integrally, related to the plantation sector in the industrial sec-torona frame of upstream as well as downstream, would create the conditions foreconomic growth nationally.
Potensi Beberapa Isolat Bakteri Pelarut Fosfat Asal Lahan Tebu di Jawa Timur Berdasarkan Aktivitas Enzim Fosfatase Rahayu, Farida; Mastur, .; Santoso, Budi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Fosfor (P) merupakan hara esensial untuk pertumbuhan tanaman karena P berperan penting dalam banyak ak-tivitas metabolisme tanaman. Tanaman memperoleh P dari larutan tanah dalam bentuk anion. Namun, anion P sangat reaktif dan dapat mudah terikat oleh unsur Al, Fe, Mg, dan Ca. Dalam bentuk tersebut, P sangat tidak terlarut sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) berperan penting dalam meningkatkan ketersediaan P dalam tanah sehingga potensi BPF yang diisolasi dari lahan tebu perlu diidentifikasi. Kegiatan identifikasi potensi bakteri pelarut fosfat dilakukan mulai Januari–Desember 2012 di Laboratorium Bioprosesing Balai Penelitan Tanaman Pemanis dan Serat, Malang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan eksplorasi bakteri pelarut fosfat dan seleksi berdasarkan kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat dieksplorasi dari lahan tebu di Jawa Timur yaitu di Kabupaten Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo. Dari 65 isolat bakteri yang berhasil diisolasi, 22 isolat bakteri diantaranya berpotensi sebagai bakteri pelarut fosfat (BPF). Setelah dilakukan uji lebih lanjut, diperoleh 9 isolat unggul bakteri pelarut fosfat yaitu SD-10, Bl-1, KD-5, ML-2, LJ II-3 yang menunjukkan aktivitas fosfatase tinggi di hari pertama, sedangkan LJ I -3 dan BD-2 menunjukkan aktivitas fosfatase pada hari kedua dan SD-7 serta BL-4 termasuk dalam 9 besar isolat dengan diameter zona bening terbesar. Luas daerah zona bening secara kualitatif menunjukkan besar kecilnya kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat BPF tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki ketersediaan P di tanah dan mampu memperbaiki kualitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu. Phosphorus (P) is an essential nutrient for plant growth, because it plays an important role in many metabolisms activities. Plants obtain P from soil solution as anion. However, phosphate anions are very reactive and can be immobilized through precipitation with Al, Fe, Mg, and Ca. In these form, phosphate is insoluble and unavailable to plants. Phosphate solubilizing bacteria (PSB) plays important role in dynamics and availability of P in soil. So, the potency of PSB isolates which were explored from sugarcane soil of East Java might be important to be identified. Identification based on activity of phosphatase enzyme was conducted from January–December 2012 in Bioprocessing Laboratory Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute, Malang. The aim was to explore and select PSB based on their ability to dissolve of P. Isolation of PSB was collected from sugar cane land of East Java included Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso and Situbondo. Among 65 bacterial isolates, 22 bacterial isolates were potentially as PSB. After a further test, we obtained 9 isolate had high enzyme activities, ie. SD-10, BL-1, KD-5, ML-2 and LJ II-3 had phosphatase activity on the first day, whereas LJ I-3 dan BD-2 had an activity at the second day, while SD-7 and BL-4 had largest diameter of clear zones. Phosphate solubilizing bacteria isolate is expected to increase improve availability of P in the soil, quality and development of plants.
Perencanaan Usaha Tani Lahan Kering Berkelanjutan Berbasis Tembakaudi Sub-DAS Progo Hulu (Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah) Suyana, Jaka
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akibat dari teknik budi daya yang kurang mengindahkan kaidah konservasi tanah dan air, pada kemiringan berbukit dan curam, serta curah hujan yang tinggi pada usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu telah menyebabkan terjadinya erosi yang parah dan degradasi lahan. Penelitian ini bertuju-an: (1) mengkaji kondisi biofisik lahan dan karakteristik usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo hulu; (2) mengkaji pengaruh teknologi konservasi tanah dan air (KTA) spesifik lokasi terhadap limpasan permukaan dan erosi; dan (3) merumuskan perencanaan sistem pertanian konservasi untuk mewu-judkan sistem usaha tani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei, percobaan lapangan, dan analisis di laboratorium. Data karakteristik lahan, karakteristik usaha tani, serta data limpasan permukaan dan erosi dianalisis secara deskriptif dan dilan-jutkan dengan analisis ragam (uji F) dan uji HSD 5%. Selanjutnya pengembangan rekomendasi agroteknolo-gi diformulasikan melalui teknik simulasi dengan program Powersim Versi 2.5d. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan lahan pada usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu pada umumnya (58,4%) sesuai dengan kelas kemampuan lahan dan sisanya 41,6% tidak sesuai dengan kelas ke-mampuan lahan. Terdapat 77,2% lahan memiliki nilai prediksi erosi lebih besar dari nilai erosi yang dapat di-toleransikan (ETol) dan perlu penyempurnaan dalam teknologi KTA. Usaha tani lahan kering berbasis usaha tani tembakau di Sub-DAS Progo Hulu didominasi pola tanam jagung-tembakau (51,0%) dan cabai-temba-au (29,2%), dengan pendapatan usaha tani masih di atas nilai kebutuhan hidup layak (KHL). Perlakuan pem-berian mulsa batang tembakau dikombinasikan rumput penguat teras (Setaria spacelata) dapat menekan erosi 15–19% pada dosis 7 ton/ha dan 31–43% pada dosis 14 ton/ha batang tembakau, sedangkan tumpang sari koro merah dengan tembakau dikombinasikan penggunaan mulsa batang tembakau 7 ton/ha dapat menekan erosi 13–20%. Pengembangan usaha tani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu dapat diwujudkan dengan penyempurnaan teknologi KTA yang meliputi: (a) perlakuan rumput setaria sebagai penguat teras + mulsa batang tembakau 7 ton/ha atau perlakuan tumpang sari koro merah dengan tembakau + mulsa batang tembakau 7 ton/ha pada kemiringan lereng 8–15%; (b) teras miring + perlakuan rorak pada kemiringan lereng 15–30%; dan (c) perlakuan rumput setaria sebagai penguat teras miring + mulsa batang tembakau 14 ton/ha + rorak pada kemiringan lereng >30%.  Due to inadequate soil and water conservation practices in farming activity at tobacco based farming sys-tems, severe erosion and land degradation had been occuring in almost all upland agriculture in Progo Hulu Sub-watershed. This research was conducted: (1) to study land’s biophysic conditions and the characteris-tics of tobacco based farming systems, (2) to study and analyze the impact of various soil and water conser-vation practices on erosion, (3) to study and design sustainable conservation farming systems in tobacco based farming systems. This research by using a survey method, field experiments, and laboratory analysis.Data characteristics of land, farm characteristics, surface run off and erosion by using descriptive analyzed and followed by analysis of variance (F test) and 5% HSD test. The development of agrotechnology recom-mendations formulated by simulation techniques using program Powersim Version 2.5 d. The results showed that land use in tobacco-based farming systems at Progo-Hulu sub-watershed was generally (58.4%) suitable to its land capability and 41.6% were not suitable. The predicted erosion on approximately 77.2% of lands were higher than local tollerable soil loss which need improvement of soil and water conservation techniques. Tobacco based farming systems was dominated by maize-tobacco (51.0%) and chili-tobacco (29.2%) cropping patterns; farmers income on this farming systems were higher than the income that can support worthed life living standard. The application of crop residue (tobacco stems) as mulch with rate of 7 tones/ha and 14 tones/ha combined with grassed bench terraces ((Setaria spacelata) reduced erosion as much as 15–19% and 31–43%, respectively. Meanwhile, red bean-tobacco intercropping combined with crop residue mulch of 7 tones/ ha had suppressed erosion 13–20%. Sustainable tobacco-based farming systems could be developed in this area by practicing improved soil and water conservation technologies with: (a) setaria grass to strengthen terraces + 7 tones/ha of crop residue mulch or red bean and tobacco intercropping + 7 tones/ha of crop residue mulch on 8–15% slope; (b) broad base terraces + adequate slit pit on 15–30% slope; and (c) setaria grass to strengthen broadbase terraces + 14 ton/ha of crop residue mulch + adequate slit pit on >30% slope.
Potensi dan Peluang Biji Jarak Pagar untuk Substitusi Bahan Bakar Kompor Masak Skala Rumah Tanggadi Pedesaan Hastono, Abi Dwi
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang diprogramkan sebagai salah satu penghasil sum-ber energi baru dan terbarukan. Pemanfaatan biji jarak pagar sebagai sumber energi di pedesaan Indonesia belum banyak dipublikasikan.  Tulisan tinjauan ini bertujuan untuk membahas potensi biji jarak pagar yang sudah ada di pedesaan untuk bahan bakar kompor masak skala rumah tangga sebagai substitusi minyak ta-nah dan LPG. Kompor berbahan bakar biji jarak pagar hasil perekayasaan Balittas berpeluang besar untuk diaplikasikan guna memenuhi kebutuhan memasak skala rumah tangga di pedesaan.  Penyediaan biji jarak pagar sebagai bahan bakar kompor dapat diperoleh dengan mengusahakan tanaman jarak pagar yang sudah ada supaya berproduksi sesuai dengan kebutuhan, atau menanam lagi sesuai dengan program pengembang-an komoditas ini. Peningkatan produksi biji jarak pagar tersebut dapat dicapai melalui penerapan sistem budi daya yang tepat.  Penggunaan kompor berbahan bakar biji jarak pagar dengan kapasitas 600 g, konsumsi bahan bakar sebanyak 300 gram biji jarak per jam menghasilkan nyala api di dalam kompor sekitar 420oC dapat menyubstitusi penggunaan LPG sebesar 20% atau mengganti penggunaan kayu bakar sebesar35% untuk kebutuhan memasak skala rumah tangga.  Physic nut (Jatropha curcas L.) has been recommendedas one of a new and renewable energy source. Uti-lization of physic nut seeds as an energy source in Indonesian villages has not been intensively published.  This review is aimed to discuss a possibility of the utilization of existed jatropha seeds existing in some vi-llages for household stove as a substitute for kerosene or LPG.  The stove using jatropha seed was designed by Balittas and prospective to be applied to fulfill the cooking need at household level in the village. The seed supply could be obtained from the existing jatropha plants by applying cultural practices to get the seed pro-duction as much as needed for cooking.  The use of jatropha seed stove (capacity 600 g; consumption 300 g/h, heat production around 420oC would substitute or replace the use of LPG and/or fire woods the villagers usually used by 20% and 35%, respectively.
Kesesuaian Galur-Galur Harapan Kapas Berdaun Okra dalam Sistem Tumpang Sari Dengan Kedelai Prima Diarini Riajaya; Fitriningdyah Tri Kadarwati
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.11-22

Abstract

Galur-galur kapas berdaun okra atau menjari berpotensiuntuk ditanam pada tata tanam rapat dalam sistem tumpangsari dengan palawija karena bentuk daun yang menjari dapat meneruskan intersepsi cahaya ke ca-bang bagian bawah, namun kesesuaiannya perlu diteliti. Penelitian lapang dilakukan di Kebun Percobaan Ka-rangploso, Malang mulai AprilsampaiSeptember 2011 bertujuan untuk mendapatkan galur-galur kapas ber-daun okra yang sesuai pada sistem tumpang sari dengan kedelai. Bahan tanaman yang digunakan adalah 4 galur harapan kapas berdaun okra dan 2 varietas kapas berdaun normal terdiri atas 98031/1/7, 98039/6, 98040/3, 98048/2, Kanesia 8, dan Kanesia 10. Galur-galur kapas tersebut tahan terhadap hama penggerek buah dan mempunyai tingkat produktivitas yang tinggi. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok yang diulang tiga kali. Monokultur kapas dan kedelai ditanam untuk menghitung penurunan produksi tumpang sari terhadap monokultur dan menghitung Nilai Kesetaraan Lahan (NKL). Parameter yang diamati pada ta-naman kapas adalah tinggi tanaman, lebar kanopi, jumlah cabang vegetatif dan generatif, serta jumlah buah/ tanaman setiap dua minggu mulai 60–120 HST. Bobot buah, jumlah buah terpanen, hasil kapas berbiji, dan hasil kedelai diamati saat panen. Parameter pertumbuhan yang diamati pada jagung maupun kedelai adalah tinggi tanaman dan lebar kanopi. Hasil penelitian menunjukkan galur kapas berdaun okra yaitu galur 98048/2 mempunyai kesesuaian yang tinggi bila ditumpangsarikan dengan kedelai dengan hasil kapas 1.888 kg/ha dan kedelai 1.492 kg/ha, dengan 67,3% dari potensi hasil galur tersebut dan NKL 1,3. Tingkat penurunan hasil kapas dan kedelai masing-masing 33% dan 39% terhadap monokultur. Hasil kapas monokultur galur 98048/2 tertinggi dibanding galur okra lainnya yaitu 2.837 kg/ha, dengan 101,1% dari potensi hasil galur tersebut. Penurunan hasil kedelai lebih tinggi (45–47%) bila ditumpangsarikan dengan kapas berdaun nor-mal dibanding galur okra (36–44%).  
Keragaan Kelembagaan Dalam Agribisnis Gula di Sulawesi Selatan Nurdiah Husnah; Peter Tandisau; . Herniwati; Fadjry Djuhry
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.1-10

Abstract

 Kelembagaan dalam pengembangan agribisnis gula merupakan upaya peningkatan kualitas hidup masyara-kat tani, yang dicapai melalui investasi teknologi, pengembangan produktivitas tenaga kerja, pembangunan sarana ekonomi, serta penataannya, sumber daya manusia dan sumber daya alam. Permasalahan utama yang dihadapi berkaitan dengan agribisnis gula, yaitu (1) produktivitas yang cenderung turun yang disebab-kan antara lain karena penerapan teknologi on farm dan efisiensi pabrik gula yang rendah; (2) impor gula yang semakin meningkat; (3) harga gula domestik tidak stabil yang disebabkan oleh sistem distribusi yang kurang efisien dan (4) pemanfaatan kelembagaan penunjang agribisnis.  Dilihat dari berbagai aspek,seperti potensisumberdayayang dimiliki, arah kebijakan pembangunan nasional, potensi pasar domestik produk-produk agribisnis, Sulawesi Selatan memiliki prospek untuk mengembangkan sistem agribisnis gula.  Hasil penelitian menunjukkanbahwasistem agribisnis gula meliputi beberapa subsistem yang terdiri atas subsistem hulu, sub-sistem on farm, subsistem hilir, dan subsistem lembaga penunjang agribisnis yang masing-masing memiliki peran dan sebagai sebuah sistem yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya, saling menyatu dan saling terkait. Secara integral terkait antara sektor perkebunan di on farm dan sektor industri di hulu dan hilir, kon-disi inilah yang akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang baik secara nasional. Institutions in the sugar agribusiness is efforts to increase the quality of life of farmers, which is achieved through technology investment, the development of labor productivity, the development of the economy, as well as arrangement of human and natural resources. The main problems associated with sugar agribusiness, namely: (1) productivity tends to decline due in part because the application of the technology on farm and factory efficiency of sugar mill is low, (2) increasing sugar imports, (3) the price of domestic sugar unstable due to the inefficient distribution system, and (4) the utilization of institutional support agribusiness. Viewed from various aspects, such as the potential resources, the direction of national development policies, domes-tic market potential for the products of agribusiness, South Sulawesi has the prospect to develop the sugar agribusiness system. The results showed that the sugar agribusiness system includes multiple subsystems consisting of upstream subsystems, on farm subsystems, and downstream subsystem. Those support agri-business institutions that each have a role and as a system, which can not be separated from each other, merge with each other and mutually related. Integrally, related to the plantation sector in the industrial sec-torona frame of upstream as well as downstream, would create the conditions foreconomic growth nationally.
Potensi Beberapa Isolat Bakteri Pelarut Fosfat Asal Lahan Tebu di Jawa Timur Berdasarkan Aktivitas Enzim Fosfatase Farida Rahayu; . Mastur; Budi Santoso
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.23-31

Abstract

 Fosfor (P) merupakan hara esensial untuk pertumbuhan tanaman karena P berperan penting dalam banyak ak-tivitas metabolisme tanaman. Tanaman memperoleh P dari larutan tanah dalam bentuk anion. Namun, anion P sangat reaktif dan dapat mudah terikat oleh unsur Al, Fe, Mg, dan Ca. Dalam bentuk tersebut, P sangat tidak terlarut sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) berperan penting dalam meningkatkan ketersediaan P dalam tanah sehingga potensi BPF yang diisolasi dari lahan tebu perlu diidentifikasi. Kegiatan identifikasi potensi bakteri pelarut fosfat dilakukan mulai Januari–Desember 2012 di Laboratorium Bioprosesing Balai Penelitan Tanaman Pemanis dan Serat, Malang. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan eksplorasi bakteri pelarut fosfat dan seleksi berdasarkan kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat dieksplorasi dari lahan tebu di Jawa Timur yaitu di Kabupaten Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso dan Situbondo. Dari 65 isolat bakteri yang berhasil diisolasi, 22 isolat bakteri diantaranya berpotensi sebagai bakteri pelarut fosfat (BPF). Setelah dilakukan uji lebih lanjut, diperoleh 9 isolat unggul bakteri pelarut fosfat yaitu SD-10, Bl-1, KD-5, ML-2, LJ II-3 yang menunjukkan aktivitas fosfatase tinggi di hari pertama, sedangkan LJ I -3 dan BD-2 menunjukkan aktivitas fosfatase pada hari kedua dan SD-7 serta BL-4 termasuk dalam 9 besar isolat dengan diameter zona bening terbesar. Luas daerah zona bening secara kualitatif menunjukkan besar kecilnya kemampuan bakteri dalam melarutkan fosfat. Isolat BPF tersebut diharapkan dapat membantu memperbaiki ketersediaan P di tanah dan mampu memperbaiki kualitas pertumbuhan dan perkembangan tanaman tebu. Phosphorus (P) is an essential nutrient for plant growth, because it plays an important role in many metabolisms activities. Plants obtain P from soil solution as anion. However, phosphate anions are very reactive and can be immobilized through precipitation with Al, Fe, Mg, and Ca. In these form, phosphate is insoluble and unavailable to plants. Phosphate solubilizing bacteria (PSB) plays important role in dynamics and availability of P in soil. So, the potency of PSB isolates which were explored from sugarcane soil of East Java might be important to be identified. Identification based on activity of phosphatase enzyme was conducted from January–December 2012 in Bioprocessing Laboratory Indonesian Sweetener and Fiber Crops Research Institute, Malang. The aim was to explore and select PSB based on their ability to dissolve of P. Isolation of PSB was collected from sugar cane land of East Java included Sidoarjo, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Bondowoso and Situbondo. Among 65 bacterial isolates, 22 bacterial isolates were potentially as PSB. After a further test, we obtained 9 isolate had high enzyme activities, ie. SD-10, BL-1, KD-5, ML-2 and LJ II-3 had phosphatase activity on the first day, whereas LJ I-3 dan BD-2 had an activity at the second day, while SD-7 and BL-4 had largest diameter of clear zones. Phosphate solubilizing bacteria isolate is expected to increase improve availability of P in the soil, quality and development of plants.
Perencanaan Usaha Tani Lahan Kering Berkelanjutan Berbasis Tembakaudi Sub-DAS Progo Hulu (Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah) Jaka Suyana
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.32-49

Abstract

Akibat dari teknik budi daya yang kurang mengindahkan kaidah konservasi tanah dan air, pada kemiringan berbukit dan curam, serta curah hujan yang tinggi pada usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu telah menyebabkan terjadinya erosi yang parah dan degradasi lahan. Penelitian ini bertuju-an: (1) mengkaji kondisi biofisik lahan dan karakteristik usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo hulu; (2) mengkaji pengaruh teknologi konservasi tanah dan air (KTA) spesifik lokasi terhadap limpasan permukaan dan erosi; dan (3) merumuskan perencanaan sistem pertanian konservasi untuk mewu-judkan sistem usaha tani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei, percobaan lapangan, dan analisis di laboratorium. Data karakteristik lahan, karakteristik usaha tani, serta data limpasan permukaan dan erosi dianalisis secara deskriptif dan dilan-jutkan dengan analisis ragam (uji F) dan uji HSD 5%. Selanjutnya pengembangan rekomendasi agroteknolo-gi diformulasikan melalui teknik simulasi dengan program Powersim Versi 2.5d. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan lahan pada usaha tani lahan kering berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu pada umumnya (58,4%) sesuai dengan kelas kemampuan lahan dan sisanya 41,6% tidak sesuai dengan kelas ke-mampuan lahan. Terdapat 77,2% lahan memiliki nilai prediksi erosi lebih besar dari nilai erosi yang dapat di-toleransikan (ETol) dan perlu penyempurnaan dalam teknologi KTA. Usaha tani lahan kering berbasis usaha tani tembakau di Sub-DAS Progo Hulu didominasi pola tanam jagung-tembakau (51,0%) dan cabai-temba-au (29,2%), dengan pendapatan usaha tani masih di atas nilai kebutuhan hidup layak (KHL). Perlakuan pem-berian mulsa batang tembakau dikombinasikan rumput penguat teras (Setaria spacelata) dapat menekan erosi 15–19% pada dosis 7 ton/ha dan 31–43% pada dosis 14 ton/ha batang tembakau, sedangkan tumpang sari koro merah dengan tembakau dikombinasikan penggunaan mulsa batang tembakau 7 ton/ha dapat menekan erosi 13–20%. Pengembangan usaha tani lahan kering berkelanjutan berbasis tembakau di Sub-DAS Progo Hulu dapat diwujudkan dengan penyempurnaan teknologi KTA yang meliputi: (a) perlakuan rumput setaria sebagai penguat teras + mulsa batang tembakau 7 ton/ha atau perlakuan tumpang sari koro merah dengan tembakau + mulsa batang tembakau 7 ton/ha pada kemiringan lereng 8–15%; (b) teras miring + perlakuan rorak pada kemiringan lereng 15–30%; dan (c) perlakuan rumput setaria sebagai penguat teras miring + mulsa batang tembakau 14 ton/ha + rorak pada kemiringan lereng >30%. Due to inadequate soil and water conservation practices in farming activity at tobacco based farming sys-tems, severe erosion and land degradation had been occuring in almost all upland agriculture in Progo Hulu Sub-watershed. This research was conducted: (1) to study land’s biophysic conditions and the characteris-tics of tobacco based farming systems, (2) to study and analyze the impact of various soil and water conser-vation practices on erosion, (3) to study and design sustainable conservation farming systems in tobacco based farming systems. This research by using a survey method, field experiments, and laboratory analysis.Data characteristics of land, farm characteristics, surface run off and erosion by using descriptive analyzed and followed by analysis of variance (F test) and 5% HSD test. The development of agrotechnology recom-mendations formulated by simulation techniques using program Powersim Version 2.5 d. The results showed that land use in tobacco-based farming systems at Progo-Hulu sub-watershed was generally (58.4%) suitable to its land capability and 41.6% were not suitable. The predicted erosion on approximately 77.2% of lands were higher than local tollerable soil loss which need improvement of soil and water conservation techniques. Tobacco based farming systems was dominated by maize-tobacco (51.0%) and chili-tobacco (29.2%) cropping patterns; farmers income on this farming systems were higher than the income that can support worthed life living standard. The application of crop residue (tobacco stems) as mulch with rate of 7 tones/ha and 14 tones/ha combined with grassed bench terraces ((Setaria spacelata) reduced erosion as much as 15–19% and 31–43%, respectively. Meanwhile, red bean-tobacco intercropping combined with crop residue mulch of 7 tones/ ha had suppressed erosion 13–20%. Sustainable tobacco-based farming systems could be developed in this area by practicing improved soil and water conservation technologies with: (a) setaria grass to strengthen terraces + 7 tones/ha of crop residue mulch or red bean and tobacco intercropping + 7 tones/ha of crop residue mulch on 8–15% slope; (b) broad base terraces + adequate slit pit on 15–30% slope; and (c) setaria grass to strengthen broadbase terraces + 14 ton/ha of crop residue mulch + adequate slit pit on >30% slope.
Potensi dan Peluang Biji Jarak Pagar untuk Substitusi Bahan Bakar Kompor Masak Skala Rumah Tanggadi Pedesaan Abi Dwi Hastono
Buletin Tanaman Tembakau, Serat & Minyak Industri Vol 6, No 1 (2014): April 2014
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bultas.v6n1.2014.50-58

Abstract

Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang diprogramkan sebagai salah satu penghasil sum-ber energi baru dan terbarukan. Pemanfaatan biji jarak pagar sebagai sumber energi di pedesaan Indonesia belum banyak dipublikasikan.  Tulisan tinjauan ini bertujuan untuk membahas potensi biji jarak pagar yang sudah ada di pedesaan untuk bahan bakar kompor masak skala rumah tangga sebagai substitusi minyak ta-nah dan LPG. Kompor berbahan bakar biji jarak pagar hasil perekayasaan Balittas berpeluang besar untuk diaplikasikan guna memenuhi kebutuhan memasak skala rumah tangga di pedesaan.  Penyediaan biji jarak pagar sebagai bahan bakar kompor dapat diperoleh dengan mengusahakan tanaman jarak pagar yang sudah ada supaya berproduksi sesuai dengan kebutuhan, atau menanam lagi sesuai dengan program pengembang-an komoditas ini. Peningkatan produksi biji jarak pagar tersebut dapat dicapai melalui penerapan sistem budi daya yang tepat.  Penggunaan kompor berbahan bakar biji jarak pagar dengan kapasitas 600 g, konsumsi bahan bakar sebanyak 300 gram biji jarak per jam menghasilkan nyala api di dalam kompor sekitar 420oC dapat menyubstitusi penggunaan LPG sebesar 20% atau mengganti penggunaan kayu bakar sebesar35% untuk kebutuhan memasak skala rumah tangga. Physic nut (Jatropha curcas L.) has been recommendedas one of a new and renewable energy source. Uti-lization of physic nut seeds as an energy source in Indonesian villages has not been intensively published.  This review is aimed to discuss a possibility of the utilization of existed jatropha seeds existing in some vi-llages for household stove as a substitute for kerosene or LPG.  The stove using jatropha seed was designed by Balittas and prospective to be applied to fulfill the cooking need at household level in the village. The seed supply could be obtained from the existing jatropha plants by applying cultural practices to get the seed pro-duction as much as needed for cooking.  The use of jatropha seed stove (capacity 600 g; consumption 300 g/h, heat production around 420oC would substitute or replace the use of LPG and/or fire woods the villagers usually used by 20% and 35%, respectively.

Page 1 of 1 | Total Record : 10