cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Perspektif : Review Penelitian Tanaman Industri
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 14128004     EISSN : 25408240     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah Perspektif Review Penelitian Tanaman Industri diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan yang memuat makalah tinjauan (review) fokus pada Penelitian dan kebijakan dengan ruang lingkup (scope) komoditas Tanaman Industri/perkebunan, antara lain : nilam, kelapa sawit, kakao, tembakau, kopi, karet, kapas, cengkeh, lada, tanaman obat, rempah, kelapa, palma, sagu, pinang, temu-temuan, aren, jarak pagar, jarak kepyar, dan tebu.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008" : 7 Documents clear
Perbaikan Ketahanan Abaka Terhadap Fusarium dan Prospek Pengembangannya SUDJINDRO SUDJINDRO
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKPerbaikan genetik klon abaka melalui hibridisasi relatif sulit dilakukan karena sempitnya keragaman genetik tanaman   tersebut. Hal  ini  disebabkan  abaka diperbanyak  secara  vegetatif.  Sebagai  alternatif, peningkatan keragaman genetik tanaman abaka dapat dilakukan  dengan  mutasi  dan  induksi  keragaman somaklonal  dalam  kultur  in  vitro. Untuk mengidentifikasi mutan atau varian  dengan karakter unggul tertentu, perlu dilanjutkan dengan seleksi in vitro. Mutasi dengan menggunakan mutagen kimia Etil Metan Sulfonat (EMS) yang dilanjutkan dengan seleksi in vitro telah menghasilkan varian-varian abaka yang resisten terhadap Fusarium oxysporum f.sp cubense (Foc). Pengembangan klon abaka resisten terhadap Foc dapat mengurangi biaya produksi  sehingga  akan meningkatkan  keuntungan  petani  atau  pengusaha dalam  pengembangan agribisnis abaka di Indonesia.Kata kunci: Musa textilis Nee., Fusarium oxysporum f.sp. cubense, seleksi in-vitro ABSTRACTImprovement of Abaca Resistance to Fusarium and its Development ProspectGenetic  improvement  of  abaca  clones  through hybridization is relatively difficult due to the narrow genetic variability of this crop. The narrow genetic variability   of   abaca   caused   by   its   propagated vegetatively.  Alternatively,  genetic  improvement  of abaca could be conducted by mutation and somaclonal variation  inductions  through  in  vitro  culture.  To identify  mutants  or  variants  with  certain  superior character,  it  is  necessary  continued  with  in  vitro selection.  Mutation  of  abaca  which  was  conducted using chemical mutagen Ethyl Methane Sulphonate (EMS) followed by in vitro selection has resulted in resistant variants to Fusarium oxysporum f.sp cubense (Foc). Cultivation of the abaca variants resistant to Foc will  decrease  total  production  cost  and  of  crease farmers’ profit in abaca agribusiness in Indonesia.Key words: Musa textilis Nee, Fusarium oxysporum f.sp. cubense, in-vitro selection
Rekomendasi Waktu Tanam Kapas di Lahan Tadah Hujan PRIMA DIARINI RIAJAYA
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKPenanaman kapas di lahan tadah hujan membutuhkan perkiraan  waktu  tanam  yang  tepat  agar  tanaman mendapatkan   suplai   air   yang   cukup   selama pertumbuhannya.  Rekomendasi waktu tanam kapas di daerah tadah hujan Sulawesi Selatan, Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, dan Nusa Tenggara Barat telah ditetapkan berdasarkan analisis data curah hujan lebih dari 20 tahun dengan metode peluang Markov Order Pertama   dan   perhitungan   peluang   selang   kering berturut-turut.    Rekomendasi  waktu  tanam  dalam minggu  tanam  paling  lambat (MPL)  di  Sulawesi Selatan yaitu di Kabupaten Jeneponto, Takalar dan sebagian besar Gowa berkisar minggu I-IV Desember. Sedangkan di Kabupaten Soppeng dan Wajo berkisar minggu III Februari sampai minggu III Maret.  Di Bone dan  Bulukumba  MPL  berkisar  minggu  III  Maret sampai minggu III April.  MPL di Jawa Timur yaitu di Kabupaten Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Jember dan Banyuwangi berkisar minggu I-IV Desember, dan di kabupaten Lumajang berkisar minggu I Januari, kemudian di Kabupaten Lamongan, Mojokerto dan Tuban berkisar minggu II Desember sampai minggu I Januari.  MPL di Jawa Tengah meliputi Kabupaten Grobogan dan Wonogiri berkisar minggu I Desember sampai   minggu   I   Januari   sedangkan   di   Blora, Pemalang,  Tegal  dan  Brebes  adalah  minggu  I-IV Januari.    MPL  di  Nusa  Tenggara  Barat  yaitu  di sebagian   besar   Lombok   dan   Sumbawa   berkisar minggu I-II Desember.  Tipe iklim di wilayah tersebut didominasi oleh tipe iklim D dan E dengan musim hujan hanya 3-4 bulan sehingga mempunyai resiko tinggi   terhadap   kekeringan.   Untuk   meningkatkan produktivitas kapas di lahan kering maka tambahan air   irigasi   mutlak   diperlukan   untuk   mengatasi kekurangan air atau kekeringan.Kata kunci: Gossypium hirsutum, waktu tanam, periode kering ABSTRACTRecommendation on Rainfed Cotton Planting TimesRecommendation on cotton planting time is needed as cotton is mostly grown under rainfed condition.  The right   planting   times   were   determined   for   South Sulawesi, East Java, Central Java, DIY, and West Nusa Tenggara. The rainfall analysis was done based on more than 20 years daily rainfall data using Markov Chain First Order Probability and dry spell probability method. The planting times in South Sulawesi varied from the first week to the forth week of December for Jeneponto, Takalar and Mostly Gowa. The planting times in Soppeng and Wajo were ranged from the third week  of  February  to  the  third  week  of  March. Moreover,   cotton   planting   times   in   Bone   and Bulukumba were ranged from the third week of March to the third week of April. The planting times in East Java varied from the first week to the forth week of December   for   Pasuruan,   Probolinggo,   Situbondo, Jember   and   Banyuwangi.   The   planting   times   in Lumajang, Lamongan, Mojokerto and Tuban ranged from mid December to early January.  The planting times in Central Java varied from the first week of December to the first week of January for Grobogan and Wonogiri.  The planting times in Blora, Pemalang, Tegal and Brebes  were ranged from early to late January. The planting times in West Nusa Tenggara varied from the first week to the second week of December for most areas of Lombok and Sumbawa. Lack of water or drought in  rainfed cotton growing areas  is  a  regular  phenomenon  since  cotton  is developed in the dry areas (climate classification D and E) to which rainfall only lasts three to four months. Irrigation water is highly needed in rainfed areas to meet the crop water need especially when lack of water or drought occurs.Key words: Gossypium hirsutum, planting time, dry spell
Perkembangan Jambu Mete dan Strategi Pengendalian Hama Utamanya ELNA KARMAWATI
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKTanaman jambu mete menghasilkan komoditas ekspor yang memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan relatif stabil dibanding komoditas ekspor Indonesia lainnya. Selain gelondong dan kacang  mete tanaman tersebut menghasilkan pula minyak laka dan produk lain yang diolah dari buah semu. Arealnya bertambah  terus tiap tahun,  sehingga  akhir 2006  mencapai 595.111  ha. Organisme  pengganggu  tumbuhan  terutama  hama merupakan   salah   satu   penyebab   kematian   dan mengakibatkan  produktivitas  serta  mutu  menjadi rendah.   Pada   beberapa   daerah   sentra   produksi Helopeltis  merupakan  hama  yang  luas  serangannya paling tinggi diikuti oleh S. indecora dan hama lainnya. Beberapa   permasalahan telah   ditemukan   yang menyebabkan hama Helopeltis spp seringkali muncul atau  Sanurus  menjadi  hama  baru,  diantaranya  a). percabangan tanaman yang semakin banyak sehingga tumpang tindih dan mengakibatkan perubahan iklim mikro, b). Helopeltis spp dan S. indecora mempunyai rentang   tanaman   inang   yang   sangat   lebar   dan berlimpah  di  lapangan,  c).  penggunaan  insektisida kimia  yang  berlebihan,  d).  kurangnya  pengetahuan petani  mengenai tanaman sela, e). adanya interaksi antara Helopeltis spp, S. indecora dan Delichoderus sp. Upaya  pengendalian  sebelum  tahun 2001  sebagian besar  masih    menggunakan  bahan  kimia,  namun perbaikan-perbaikan teknologi  telah dilakukan setiap tahun. Strategi pengendalian yang digunakan adalah a).  pemanfaatan  dan  perekayasaan  lingkungan pertanaman jambu mete, b). pengkajian skala luas di beberapa agroekologi sekaligus melanjutkan pembinaan  pemandu  dan  petani  dalam  wadah sekolah  langsung pengendalian hama terpadu (SLPHT).Kata  kunci:  Anacardium  occidentale  L.,  gelondong  , kacang  mete,  Helopeltis  spp.,  Sanurus indecora,  iklim  mikro,  tanaman  inang, perekayasaan lingkungan, SLPHT ABSTRACTCashew   nut   Development   and   Control Strategy of Its Main PestsCashew plant produces export commodity having a very high value and stability compared with other Indonesian  export  commodities.  Beside    shells  and nuts, the plant produces  lacca oil and other  products from the fruits. The cashew growing area increases every year and the end of 2006 achieved 595.111 ha. Pests can cause  the death or the lower productivity and nut quality. In several production area, Helopeltis has  the  largest  attack  area,  followed  by  Sanurus indecora or other pests. Several problems have been found in the  field, such as: a). more branches produced by   the   plant   caused   micro   climate   changes,   b). Helopeltis spp and  S. indecora have a very wide host range, c). the over usage of  synthetic insecticide, d). the lack of farmers knowledge of intercropping, e). there is interaction  among Helopeltis spp, S. indecora and Dolichoderus sp. Before 2001, synthetic insecticide were commonly used for controlling insect pest. Since then, other control methods have been developed. The control strategy are a). ecosystem engineering and its utilization surrounding cashew plantation and b). large scale  assessment  of  agroecologies  and  farmer  and extension   worker   supervision   in   Field   School   of Integrated Pest Management (FSIPM).Key words : Anacardium occidentale L., shell, cashew, Helopeltis  spp,  Sanurus indecora, micro climate, host     plant,      ecosystem engineering, FSIPM
Pengendalian Hama Kapas Menggunakan Mulsa Jerami Padi SUBIYAKTO SUBIYAKTO; I G.A.A. INDRAYANI
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKTeknik  pengelolaan  serangga  hama  dan  budidaya tanaman    mempunyai    suatu    kesamaan,    yaitu menciptakan  ekosistem  alami.  Penggunaan  mulsa jerami  padi  adalah  upaya  manipulasi  habitat  yang menyebabkan  iklim  mikro  lebih  kondusif  terhadap perkembangan mikroartropoda tanah dan artropoda predator serangga hama. Pemberian mulsa jerami padi dapat meningkatkan peran artropoda predator sebagai pengendali  alami  serangga  hama,  sehingga  dapat mengurangi  frekuensi  ambang  populasi  hama  dan mengurangi penggunaan insektisida. Pemberian mulsa jerami padi 6 ton/ha pada tanaman kapas tumpangsari dapat   mengurangi   penggunaan   insektisida 57%. Dilihat dari aspek budidaya, pemberian mulsa jerami dapat  menjaga  kelembapan  dan  suhu  permukaan tanah.  Pemberian  mulsa  jerami  padi  pada  kapas tumpangsari kedelai dapat meningkatkan hasil panen kapas 21%   dan   kedelai 31%.   Kebiasaan   petani membakar jerami dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan mikroorganisme, khususnya mikroartropoda   tanah   dan   artropoda   predator serangga hama.Kata kunci: Gossypium hirsutum, pengendalian hama, mulsa, jerami padi, tumpangsari. ABSTRACTCotton insect pest control by using paddy straw mulchInsect pest management and cultural techniques have been applying for plant management based on natural ecosystem   properties. Habitat   manipulation   by applying  paddy  straw  mulch  is  one  of  biological approach   to   increase   micro   climate   environment become suitable for growth and development of soil arthropod population. Paddy straw mulch of 6 ton/ha enhanced   the   role   of   soil   microarthropods   and predators, reduced the frequency of pest population threshold,  and  decreased  the  chemical  insecticide application for insect control by 57%. Straw mulch can also be used to maintain moisture and temperature of soil surface needed by arthropod for their population development. Cotton yield  increased by 21% while soybean   about 31%   in   cotton   intercropped   with soybean when paddy straw mulch were applied before planting during cotton season. Sanitation by burning paddy  straw  after  harvest  would  make  the  soil environment unsuitable for growth and development of soil microorganisms due to killed by this activity.Key   words:   Pest   control,   paddy   straw   mulch, intercropped.
Inventarisasi Hama dan Penyakit Penting Pada Tanaman Kelapa MARHAENI, LULUK SUTJI
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKHama  dan  penyakit  (OPT)  merupakan  salah  satu faktor   penghambat   dalam   peningkatan   produksi kelapa  bahkan  berbagai  OPT  dapat  menimbulkan kerugian   yang   cukup   besar   antara   lain   Oryctes rhinoceros;  Sexava  sp.,  Artona  catoxantha,  Bronstispa longissima sedangkan penyakit yang sangat merugikan adalah penyakit busuk pucuk (PBP), penyakit gugur buak (PGB)  yang  disebabkan  Phytophthora  sp  dan penyakit layu kelapa (PLK) serta penyakit layu natuna. Beberapa  OPT  telah    luas  penyebaran  hampir  di seluruh   wilayah   Indonesia,   namun   ada   juga penyebaran hanya di daerah tertentu seperti Sexava dan penyakit layu natuna, oleh karena itu inventarisasi OPT  kelapa  dapat  memberikan  gambaran  tentang penyebarannya  sehingga  dapat  mengantisipasi  bagi wilayah tertentu yang rentan terhadap OPT tersebut sehingga dapat mengambil tindakan prefentif untuk mencegah  keluar  masuknya  bahan  tanaman  atau media lainnya yang berpotensi menyebarkan OPT ke daerah yang baru.Kata kunci: Kelapa, hama, penyakit, inventarisasi ABSTRACTInventarization of important pest and diseases on coconut treePest  and disease ( OPT) is known as  a limiting factor in increase coconut production. Even though several pest and diseases like: Oryctes rhinoceros, Sexava sp., Artona catoxantha, Brostispa longissima  participate in a large scale in destroy coconut palm. In term of disease several names recognized attack the coconut because of phytophthora sp and unknown disease by mycoplasm. Several pest and diseases have been widely spreading throughout The country, but another only in certain region like Sexava and natuna disease.  It  is  suggested for   inventarization   programmed   to   know   the spreading   of   pest   and   diseases   throughout.   The country   base   an   level   of   incident.   Preventive curements  for crops material should be determine an priority number one especially from abroad.Key word: Cocos nucivera, pest, disease, inventarization
Strategi Pengembangan Bio-etanol Berbasis Sagu di Maluku BUSTAMAN, SJAHRUL
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.%p

Abstract

ABSTRAKBio-etanol  adalah  cairan  biokimia  dari  proses fermentasi  karbohidrat  dengan  bantuan  mikro-organisme, dan dilanjutkan dengan proses distilasi. Upaya   pengembangan   bio-etanol   sudah   begitu mendesak,  terutama  bertujuan mengurangi  beban penderitaan  masyarakat  akibat  kenaikan  BBM  dan pasokan yang tidak menentu pada masyarakat yang tinggal  di  pulau  kecil  dan  terpencil.   Tulisan  ini memberikan gambaran tentang bio-etanol yang dapat diproduksi di Maluku. Hasil analisis faktor kekuatan, kelemahan,  kesempatan  dan  ancaman  pada pengembangan industri  bio-etanol  di Maluku, memberikan   prospek yang  baik. Strategi pengembangan bio-etanol dikelompokan atas beberapa pola skala usaha seperti skala rumah tangga, UMKM, komersial  dan  pola  plasma-inti.  Kebijakan  Pemda Maluku diperlukan untuk mendukung pembangunan bio-etanol   dalam   usaha   meningkatan   pendapatan masyarakat dan penyerapan tenaga kerja.Kata kunci: Metroxylon spp., pengembangan bio-etanol, Maluku. ABSTRACTStrategy of Bio-ethanol Development Base on Sago in MoluccasBio-ethanol   is   biochemical liquid  produced by fermentation of carbohydrate with microorganism and followed by distillation. The development of the bio-ethanol is urgently needed as to help reducing the public burden due to the increasing of oil price and uncertainly oil supply especially for Moluccas society in small island. This paper shows that bio-ethanol can be  produced  in  Moluccas.  SWOT  analysis  results showed that bio-ethanol industry development gave good prospect. Strategy of bio-ethanol development can be recommended by some pattern such as house hold scale, small-micro scale, commercial scale and nucleus-plasm pattern. The regional authority should be convinced about the necessity of supporting bio-ethanol production in order to increasing community income and absorbing labor.Key words: Bio-ethanol development, moluccas.
Inventarisasi Hama dan Penyakit Penting Pada Tanaman Kelapa LULUK SUTJI MARHAENI
Perspektif Vol 7, No 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Puslitbang Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/p.v7n2.2008.112-117

Abstract

Hama dan penyakit (OPT) merupakan salah satu faktor penghambat dalam peningkatan produksi kelapa bahkan berbagai OPT dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar antara lain Oryctes rhinoceros; Sexava sp., Artona catoxantha, Bronstispa longissima sedangkan penyakit yang sangat merugikan adalah penyakit busuk pucuk (PBP), penyakit gugur buak (PGB) yang disebabkan Phytophthora sp dan penyakit layu kelapa (PLK) serta penyakit layu natuna. Beberapa OPT telah luas penyebaran hampir di seluruh wilayah Indonesia, namun ada juga penyebaran hanya di daerah tertentu seperti Sexava dan penyakit layu natuna, oleh karena itu inventarisasi OPT kelapa dapat memberikan gambaran tentang penyebarannya sehingga dapat mengantisipasi bagi wilayah tertentu yang rentan terhadap OPT tersebut sehingga dapat mengambil tindakan prefentif untuk mencegah keluar masuknya bahan tanaman atau media lainnya yang berpotensi menyebarkan OPT ke daerah yang baru.Kata kunci: Kelapa, hama, penyakit, inventarisasi ABSTRACTInventarization of important pest and diseases on coconut treePest and disease ( OPT) is known as a limiting factor in increase coconut production. Even though several pest and diseases like: Oryctes rhinoceros, Sexava sp., Artona catoxantha, Brostispa longissima participate in a large scale in destroy coconut palm. In term of disease several names recognized attack the coconut because of phytophthora sp and unknown disease by mycoplasm. Several pest and diseases have been widely spreading throughout The country, but another only in certain region like Sexava and natuna disease. It is suggested for inventarization programmed to know the spreading of pest and diseases throughout. The country base an level of incident. Preventive curements for crops material should be determine an priority number one especially from abroad.Key word: Cocos nucivera, pest, disease, inventarization.

Page 1 of 1 | Total Record : 7