cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2014)" : 72 Documents clear
PERBANDINGAN KEKUATAN LENTUR BALOK BETON BERTULANG DENGAN MENGGUNAKAN PERKUATAN CFRP DAN GFRP Ginardi, Ireneus Petrico; Anggraini, Retno; Suseno, Hendro
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.061 KB)

Abstract

Salah satu material perkuatan yang mulai marak digunakan adalah Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) dan Glass Fiber Reinforced Polymer (GFRP). Kedua material tersebut diuji kekuatannya saat dipasangkan pada balok beton bertulang, sehingga dapat diketahui pengaruhnya terhadap kuat lentur balok. Selain itu, bisa juga diketahui bahan mana yang lebih kuat, CFRP ataukah GFRP. Balok yang digunakan pada penelitian ini adalah balok dengan ukuran 10x15x120 cm3. Balok yang digunakan berjumlah 9 dan dibagi menjadi 3 kelompok. Kesembilan balok ini dibebani sampai runtuh sehingga diketahui beban maksimal yang dapat ditahan oleh balok. Perbaikan menggunakan CFRP dan GFRP sangat efektif, karena kedua material ini mempunyai mutu yang besar. Selain itu, profil kedua material ini sangat tipis dan ringan, sehingga tidak akan memperburuk tampilan struktur dan tidak menambah beban struktur. Hasil penelitian dan analisis menggunakan CFRP dan GFRP menunjukkan peningkatan kekuatan lentur balok yang signifikan. CFRP dapat menambah kekuatan lentur balok sampai 65,934%, sedangkan GFRP hanya sebesar 43,956%. Sedangkan untuk perbandingan kedua material ini, CFRP lebih unggul daripada GFRP dalam hal menambah kekuatan lentur. Kata kunci : Perkuatan, Kuat Lentur, Balok, CFRP, GFRP 
TEGANGAN DAN ROTASI BATANG TEPI BAWAH JEMBATAN “BOOMERANG BRIDGE” AKIBAT VARIASI POSISI PEMBEBANAN Widya A, Erwin; Dewi, Sri Murni; Remayanti, Christin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.355 KB)

Abstract

Jembatan “Boomerang Bridge” merupakan Jembatan model rangka baja yang memperoleh penghargaan Juara I dalam Kompetisi Jembatan Indonesia ke-9 Tahun 2013. Terdapat perbedaan nilai lendutan antara perencanaan dengan kondisi lapangan, sehingga dilakukan penelitian juga pada variabel lain yaitu tegangan batang dan rotasi batang tepi bawah. Tahap pertama yaitu uji elastisitas baja dengan bahan yang sejenis dengan profil rangka. Nilai elastisitas yang diperoleh sebesar 183.102,5 MPa. Tahap selanjutnya adalah perhitungan teoritis dan hasil pengujian untuk mendapatkan nilai regangan, gaya batang, tegangan, dan rotasi batang. Perbedaan antara perhitungan teoritis dengan pengujian dinyatakan dalam persentase perbandingan. Perbandingan nilai tegangan dari hasil perhitungan teoritis dan pengujian yaitu seperempat bentang dekat tumpuan sendi sebesar 8,922%, di tengah bentang sebesar 5,476%, dan seperempat bentang dekat tumpuan rol sebesar 7,522%. Perbandingan rotasi teoritis dengan pengujian didapatkan nilai persentase sebesar 22,365% dan sama di berbagai posisi pembebanan. Kata kunci : Boomerang bridge, regangan, gaya batang, tegangan, rotasi, perbandingan
Pengaruh Variasi Jarak Celah Pada Dinding Pasangan Beton Bertulang Penahan Tanah Terhadap Deformasi Lateral dan Sedimen yang Lolos Celah Pramono, Riska Anshar
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.315 KB)

Abstract

Untuk memperoleh sistem tembok penahan tanah yang kuat, tahan lama dan mampu mengikuti kontur lereng sungai, dirancanglah suatu dinding penahan tanah yang memiliki celah guna mengalirkan air secara dua arah yang terbuat dari susunan bata beton bertulang berongga yang kemudian diisi tulangan dan grout. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi jarak celah antar elemen dinding pasangan bata beton bertulang terhadap hubungan beban dengan deformasi lateral dinding penahan tanah dengan variasi jarak celah vertikal 1 cm; 1,5 cm dan 2 cm. Pengujian dilakukan dengan pemodelan dalam boks ukuran panjang 1 m, lebar 0,98 m dan tinggi 1 m. Untuk mengetahui pengaruh variasi jarak celah antar elemen dinding pasangan bata beton bertulang terhadap jumlah sedimen yang lolos celah pada dinding yang menggunakan dan tidak menggunakan filter ijuk, dilakukan simulasi hujan dengan mengaliri pipa berlubang yang diletakkan di atas tanah urug. Hasil percobaan dan analisis secara teoritis menghasilkan bahwa variasi jarak celah pada dinding bercelah menunjukkan pengaruh yang tidak terlalu signifikan terhadap deformasi lateral ketika mengalami beban lateral. Dinding hanya mengalami sedikit penambahan deformasi antara dinding dengan celah 1,5 cm dengan 2 cm. Sedangkan jumlah sedimen yang lolos mulai meningkat secara signifikan pada jarak celah 1,5 dan 2 cm sampai model tes membentuk lereng. Penggunaan ijuk sebagai filter pada sisi dalam dinding mengakibatkan tidak adanya pasir yang lolos celah. Kata kunci: Dinding penahan tanah, bata beton bertulang, celah dinding, tanah lereng 
PERENCANAAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN BETEK DENGAN MENGGUNAKAN JEMBATAN RANGKA BAJA “BOOMERANG BRIDGE” SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI JEMBATAN GANTUNG Kustiawan, Fery; P. Budio, Sugeng; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.405 KB)

Abstract

Jembatan Betek merupakan jembatan gantung untuk pejalan kaki yang menjadi jalur alternatif yang dipilih pengendara sepeda motor untuk menyeberangi aliran sungai Brantas. Namun meningkatnya volume pengguna jembatan tersebut tidak sebanding dengan kelayakan dari jembatan tersebut. Terdapat beberapa kerusakan yang cukup mengkhawatirkan pada struktur atas jembatan gantung Betek. Oleh sebab itu, dengan beberapa pertimbangan diputuskan untuk mengganti struktur atas jembatan ini dengan menggunakan struktur jembatan tipe rangka baja. Model Jembatan yang akan digunakan untuk dasar perencanaan jembatan Betek ini merupakan penerapan dari jembatan “Boomerang Bridge” yang telah digunakan pada Kompetisi Jembatan Indonesia ke-09 yang telah dilaksanakan pada Desember 2013. Jembatan Betek direncanakan dengan panjang bentang 21 m dan lebar 3 m. Konstruksi atas jembatan direncanakan menggunakan pelat beton bertulang dengan tebal 20 cm. Gelagar memanjang menggunakan profil baja WF 250.125.5.8 yang terpasang secara komposit dengan pelat lantai kendaraan dan gelagar melintang menggunakan profil baja WF 350.175.7.1. Pipa sandaran direncanakan menggunakan pipa baja dengan diameter 3,5” dan tebal 2,8 mm. Ikatan angin atas dan bawah menggunakan baja profil siku L.50.50.5 dan Rangka baja pada gelagar induk menggunakan baja profil WF 250.250.9.14. Dan untuk metode pelaksanaan perakitan jembatan menggunakan system perancah yang dikombinasikan dengan memanfaatkan kabel pada jembatan lama. Kata Kunci: Perencanaan Jembatan, Jembatan Rangka Baja, Jembatan Betek, Boomerang Bridge, Jembatan gantung
PENGARUH VARIASI CAMBER TERHADAP PERILAKU JEMBATAN RANGKA BAJA Prayogi, Arie; Zacoeb, Achfas; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.073 KB)

Abstract

Camber merupakan ruang terbuka  yang terdapat pada bawah jembatan yang memanfaatkan lengkungan lantai kendaraan jembatan. Camber biasa disebut dengan anti lendutan karena camber dibuat untuk melawan lendutan yang mungkin terjadi akibat beban yang bekerja. Jika terjadi lendutan maka tidak akan melebihi garis netral jembatan sehingga masih memungkinkan ruang kosong untuk kegiatan di bawah jembatan. Pada penelitian ini menggunakan analisis software analisa struktur dengan menggunakan 12 model jembatan yang terdiri dari empat variasi tipe rangka dan tiga variasi ketinggian camber. Empat variasi tipe rangka itu adalah Pratt Truss, Howe Truss, Warren Truss dan K-Truss dan tiga variasi camber itu adalah 0, 0,07 dan 0,14 meter atau 0%, 1,17% dan 2,33%. Analisa pembebanan menggunakan beban terpusat dengan penambahan beban setiap 200 kg sampai masing-masing model jembatan mengalami lendutan 1/800l atau 7,5 mm. Tujuannya untuk mengetahui tipe rangka manakah yang paling efektif ditinjau dari beban maksimum yang mampu ditahan, lendutan yang terjadi pada beban tertentu dan nilai gaya batangnya terhadap berat sendiri jembatannya. Hasil analisis menunjukan bahwa semua model jembatan cenderung mengalami penurunan efektifitas akibat perlakuan pemberian camber. Beban maksimum yang mampu ditahan terbesar yaitu pada model K-Truss camber 0% dengan beban 3010,79 kg sedangkan model yang terlemah yaitu Howe Truss camber 2,33% dengan beban 2163,12 kg. Lendutan struktur terkecil pada saat beban 2000 kg terjadi pada model K-Truss camber 0% sebesar 5,07 mm dan lendutan terbesar terjadi pada model Howe Truss camber 2,33% sebesar 6,96 mm. Jadi camber dipakai bukan untuk mengurangi lendutan melainkan untuk memberi ruang kosong di bawah jembatan. Kata kunci: beban maksimum, efektifitas, lendutan, tipe jembatan rangka, variasi camber
DEFLEKSI BALOK MELINTANG DAN TEGANGAN BATANG DIAGONAL TEPI JEMBATAN “BOOMERANG BRIDGE” AKIBAT VARIASI POSISI PEMBEBANAN Afrizal, Danny Zuan; Dewi, Sri Murni; N, Christin Remayanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.235 KB)

Abstract

Jembatan Boomerang sendiri merupakan jembatan rangka dengan konfigurasi rangka jenis K-truss. Dalam perhitungan secara teoritis dan kenyataan lendutan yang dihasilkan sangat berbeda, Perbedaan angka lendutan secara teoritis dengan pengujian lapangan inilah yang menjadi dasar dari penelitian ini. Dengan meninjau lendutan balok melintang dan tegangan batang diagonal rangka tepi nantinya akan dapat dilihat pengaruh perletakkan beban yang diberikan. Pada penelitian ini dilakukan pengujian serta perhitungan teoritis sebagai perbandingan. Pengujian dilakukan dengan memberikan beban garis dengan menggunakan balok pemerata atas beban terpusat 400 Kg. Beban diletakkan pada poisisi 1 (1/4 bentang kiri jembatan), posisi 2 (1/2 bentang jembatan) dan posisi 3 (1/4 bentang kanan jembatan). Pengujian untuk memperoleh besar tegangan dilakukan dengan menggunakan strain gauge, sedangkan untuk lendutan digunakan LVDT. Sedangkan untuk perhitungan teoritis digunakan program. Pengujian elastisitas bahan juga dilakukan untuk ketelitian hasil pengujian dan perhitungan. Hasil pengujian dan perhitungan teoritis sama-sama menyatakan bahwa posisi beban sangat berpengaruh terhadap tegangan batang diagonal tepi juga lendutan balok melintang yang terjadi. Selain itu didapatkan hasil yang cukup berbeda jauh antara pengujian dengan perhitungan teoritis. Kata kunci: Boomerang Bridge, batang diagonal, balok melintang.
PEMANFAATAN MINERAL LOKAL ZEOLIT ALAM TERHADAP PERILAKU LENTUR BALOK SELF-COMPACTING CONCRETE (SCC) Arisandi, Sukarno Yudha; Syamsudin, Ristinah; Nuralinah, Devi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1150.931 KB)

Abstract

Self-Compacting Concrete (SCC) is a technological innovation in the manufacture of concrete that does not require compaction process to occupy formwork and solidified itself. In this research the manufacture of SCC used to harness the potential of local natural zeolite material which has almost the same chemical compound with fly ash or silica fume. The research was conducted through the manufacture of test specimens in 3 variations SCC without natural zeolite and natural zeolite were added levels of 5%, 10%, and 15% of the weight of the cement used in the mix. Beam has a main reinforcement 2-Æ8. The performed test is filling ability test, compressive strength of concrete, and flexural strength of concrete. Filling ability of SCC was measured by the test method slump flow and V-funnel test. From flexural strength testing were obtained ultimate load and beam deflection curves. The obtained results are given of natural zeolite levels influence on the flexural strength beams. The higher levels of natural zeolites are increase the result of flexural strength, but is limited to 10% levels When compared with normal concrete beams the flexural strength beam SCC natural zeolite amounted to 132,74 kg/cm2 has a 6.49% percentage increase. This is because the SCC natural zeolite beams with levels 10% and 15% of natural zeolite have a plastic phase is longer so the load can be held to be more bigger in line with the ability of beam deformation. The increase percentage reaches 18.46% when compared with normal concrete beam. Keywords : Beams, flexural strength, deflection, SCC, natural zeolite.
PENGARUH PENGGUNAAN MINERAL LOKAL ZEOLIT ALAM TERHADAP KARAKTERISTIK SELF-COMPACTING CONCRETE (SCC) Poerwadi, Mahmud Rekarifin; Zacoeb, Achfas; Syamsudin, Ristinah
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.395 KB)

Abstract

Self-Compacting Concrete (SCC) is a technological innovation in the manufacture of concrete that does not require compaction process to occupy formwork and solidified himself. In this research the manufacture of SCC used to harness the potential of local natural zeolite material. The research was conducted through the manufacture of test specimens in 3 variations SCC without natural zeolite and natural zeolite were added levels of 5%, 10%, and 15% of the weight of the cement used in the mix with the use slump flow additon of 1.5% of the weight of cement and FAS used at 0.49. Tests were performed is testing setting time, filling ability and strength of concrete. It also conducted a cost analysis comparison between SCC without natural zeolite with SCC using natural zeolite. Research results obtained are given natural zeolite levels affect the setting time of SCC, the higher levels of natural zeolite as a partial replacement of cement given the longer time required to reach the initial and final setting time. Filling ability of concrete increased accordingly increase the amount of natural zeolites are given optimum compressive strength obtained at 28 days was 28.06 MPa with high levels of natural zeolite were given by 10%. If viewed from the increased variety of natural zeolite with a compressive strength of concrete produced, the optimum value obtained from the regression equation y = -0,0605x2-1,3865 amounted to 11.45%. The use of natural zeolite as a partial replacement for cement can reduce the cost of making SCC. However, SCC manufacture using natural zeolite does not have significant difference when viewed from the economical. Keywords: Cost analysis,  compressive strength, natural zeolite, SCC, setting time,
STUDI ANALISIS MODIFIKASI BATANG TEGAK LURUS DAN SAMBUNGAN BUHUL TERHADAP LENDUTAN, TEGANGAN PELAT BUHUL DAN KEBUTUHAN MATERIAL PADA JEMBATAN RANGKA BAJA AUSTRALIA KELAS A Thonthowi, Muhammad Syahid
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.088 KB)

Abstract

Jembatan rangka baja Australia kelas A mempunyai bentuk konfigurasi jembatan warren dengan ciri khas elemen diagonal tanpa elemen vertikal. Pada jembatan tipe ini sambungan batang di setiap buhul mempunyai jarak yang relatif besar sehingga, pelat sambung mengalami tegangan yang berlebih akibat momen sekunder yang bekerja dan gaya batang yang tidak ditransfer ke batang lain secara langsung. Pada studi ini jembatan dimodifikasi dengan menambahkan batang tegak lurus dan memodelkan sambungan buhul dengan batang yang bertemu pada satu titik. Selanjutnya dilakukan analisis modifikasi batang tegak lurus dan sambungan buhul terhadap lendutan, tegangan pelat buhul dan kebutuhan material pada jembatan rangka baja Australia kelas A. Studi ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan lendutan yang terjadi antara jembatan rangka baja Australia kelas A dan jembatan rangka baja Australia kelas A dengan modifikasi batang tegak lurus, perbedaan tegangan yang terjadi pada pelat sambung buhul dengan gaya batang terbesar antara jembatan rangka baja Australia kelas A dan jembatan rangka baja Australia kelas A dengan modifikasi sambungan buhul serta perbedaan kebutuhan material antara jembatan rangka baja Australia kelas A dan jembatan rangka baja Australia kelas A dengan modifikasi batang tegak lurus. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa penambahan batang tegak lurus mempunyai pengaruh lebih besar dalam hal mengurangi lendutan jembatan pada bentang pendek dari pada bentang panjang. Modifikasi buhul dengan mempertemukan batang-batang pada satu titik berpengaruh pada persebaran tegangan pada pelat penyambung, dibuktikan dengan kondisi pelat eksisting mengalami tegangan yang lebih besar pada beberapa titik sekitar baut dari pada pelat kondisi ideal (modifikasi). Dari segi kebutuhan material baja dan selisih lendutan, penambahan batang tegak lurus untuk mengurangi lendutan lebih cocok diterapkan pada jembatan dengan bentang yang pendek.     Kata Kunci : Jembatan Rangka Baja Australia Kelas A, Modifikasi Batang Tegak Lurus, Modifikasi Sambungan Buhul, Kebutuhan Material.
Akurasi Pengukuran Lebar Retak Permukaan pada Beton Menggunakan Portable Scanner dengan Variasi Posisi Pemindaian Sagita, Filliyani; Zacoeb, Achfas; S, Roland Martin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.735 KB)

Abstract

Alat untuk evaluasi lebar retak beton selama ini adalah penggaris, jangka sorong, atau microcrack detector. Alat-alat tersebut digunakan secara manual, yaitu dengan mengukur langsung lebar retak di lapangan dan membaca hasil pengukuran. Namun selayaknya alat yang digunakan secara manual, banyak ditemukan kekurangan. Seiring perkembangan teknologi telah ditemukan alternatif pengukuran lain untuk retak beton yaitu scanning image analysis, menggunakan portable  scanner. Hasil pengukuran dengan portable scanner akan dibandingkan dengan jangka sorong dan microcrack detector dalam tiga posisi yaitu dengan retak di permukaan atas (posisi A), permukaan bawah (posisi B), dan samping (posisi S). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi posisi pemindaian menggunakan portable  scanner terhadap lebar retak dan mengetahui tingkat akurasi hasil pembacaan portable scanner dibandingkan dengan microcrack detector dan jangka sorong pada pengukuran lebar retak permukaan beton. Berdasarkan uji hipotesa analisa statistik dengan uji F satu arah pada setiap posisi A, posisi B, dan posisi S menggunakan portable scanner diperoleh Ftabel 3,402 > Fhitung 0,2971. Begitupun dengan uji F membandingkan hasil portable scanner dengan jangka sorong dan microcrack detector pada masing-masing posisi, Ftabel 3,402 > Fhitung posisi A 0,758, posisi S 0,148, dan B 0,263. Kedua hasil tersebut menunjukkan bahwa variasi posisi pemindaian tidak mempengaruhi hasil pengukuran lebar retak. Kesalahan relatif pada masing-masing posisi pemindaian menggunakan portable scanner dibandingkan dengan microcrack detector dan jangka sorong tidak terdapat kesalahan relatif (KR) melebihi 5% sehingga akurasi masih dalam batas toleransi. Masing-masing KR maksimum untuk microcrack detector sebagai pengukur absolut adalah 3,5% dan untuk jangka sorong adalah 4,8%. Kata kunci: beton, portable scanner, posisi pemindaian, retak.