cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 72 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2014)" : 72 Documents clear
PENGARUH CAMPURAN KADAR BOTTOM ASH DAN LAMA PERENDAMAN AIR LAUT TERHADAP POLA, LEBAR DAN KEDALAMAN RETAK PADA BALOK Dimas P G, Dwi Yulianto; S, Roland Martin; N, Christin Remayanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.658 KB)

Abstract

Dari pengujian ini didapatkan bahwa terdapat pengaruh variasi campuran bottom ash dimana nilai kuat tekan yang paling tinggi terjadi pada campuran bottom ash 10%. Demikian juga halnya dengan hasil pengamatan pola retak, dimana hingga terjadi kegagalan geser pada balok uji dengan keruntuhan geser. Hal ini terjadi pada balok beton dengan keruntuhan geser perendaman 28 hari campuran bottom ash 10%. Perbedaan kemunculan retak awal pada benda uji dengan keruntuhan geser perendaman 14 hari menunjukkan pengaruh variasi kadar campuran bottom ash terhadap lebar retak. Berikut juga dengan besar nilai lebar retak maksimum pada balok dengan keruntuhan lentur durasi perendaman 28 hari yang dianalisis oleh peneliti. Yaitu, 0,16 mm pada campuran bottom ash 0%; 0,10 mm pada campuran bottom ash 10%; 0,12 mm pada campuran bottom ash 20% dan sebesar 0,13 mm pada campuran bottom ash 25%. Variasi durasi perendaman air laut juga memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Seperti pada keruntuhan lentur perendaman 14 hari yaitu dengan lebar retak 0,10 mm untuk campuran bottom ash 0%; 0,13 mm untuk campuran bottom ash 10%; 0,14 mm untuk campuran bottom ash 20% dan 0,12 mm untuk campuran bottom ash 25%. Dengan lebar retak maksimum yang diijinkan oleh ACI Code untuk daerah basah khususnya dalam lingkup air laut adalah 0.15 mm dan sering dibulatkan menjadi 0.20 mm, sehingga hasil penelitian ini masih bisa digunakan sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya. Keterbatasan alat uji menjadi masalah utama dalam pengukuran kedalaman retak. Hal ini menyebabkan tidak dapat dihimpunnya data dengan baik.   Kata kunci: bottom ash, balok beton, rendaman, kuat tekan beton, uji silinder, pembebanan lentur, uji UPV, pola retak, lebar retak, kedalaman retak
PERILAKU DINAMIS PORTAL BAJA BIDANG BERTINGKAT DENGAN VARIASI BUKAAN TITIK PUNCAK PENGAKU DIAGONAL GANDA “K” Fadla, Hafizh; Suseno, Hendro; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.845 KB)

Abstract

Gedung tinggi merupakan bangunan modern yang dipakai untuk menampung dan mendukung aktivitas manusia didalamnya. Secara umum pembangunan gedung harus memberi kenyamanan dan keamanan bagi penghuninya selama umur pakainya. Salah satu bentuk struktur utama adalah rangka kaku atau portal dari bahan profil baja dengan elemen balok dan kolom, baja sendiri memiliki keunggulan dalam hal rasio antara berat sendiri dengan daya dukung beban yang dapat dipikulnya. Dalam proses analisisnya menggunakan “Metode Elemen Hingga” berdasarkan metode kekakuan langsung yang dimudahkan untuk mendapatkan hasil yang lebih sederhana. Untuk proses perhitungannya menggunakan Software STAAD Pro dengan memvariasikan 3 model gedung (15, 21, dan 27 lantai) dan setiap gedung terdiri dari 4 macam tipe portal (tipe terbuka, tipe 0, tipe A, tipe B, dan tipe C). Dari hasil analisis yang telah dilakukan pada portal beberapa tipe bukaan pengaku (A, B, dan C) terhadap jumlah lantai (15, 21, dan 27 lantai), diperoleh keluaran berupa nilai simpangan antar lantai maksimum dan frekuensi natural yang dibandingkan dengan rasio tinggi portal terhadap lebar portal dan rasio panjang bukaan pengaku terhadap bentang portal. Adanya bukaan pengaku memberikan perlakuan setiap portal berbeda walaupun diberi pembebanan yang sama. Kesimpulan yang didapatkan dari hasil analisis adalah semakin lebar bukaan pengaku maka kekakuan akan semakin kecil sehingga simpangan antar lantai maksimum akan semakin besar dan frekuensi natural akan semakin kecil. Apabila ditinjau dari setiap jenis tingkat, perubahan simpangan antar lantai maksimum semakin meningkat dan frekuensi naturalnya semakin menurun secara linier.Kata kunci : bracing, portal baja, simpangan antar lantai maksimum, frekuensi natural.
AKURASI PENGUKURAN LEBAR RETAK PERMUKAAN PADA BETON MENGGUNAKAN PORTABLE SCANNER DENGAN VARIASI RESOLUSI PEMINDAIAN Harriani, Novi Dwi; Zacoeb, Achfas; Martin, Roland
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.097 KB)

Abstract

Beton merupakaan salah satu bahan yang paling sering digunakan di  dunia konstruksi. Dalam pelaksanaannya di lapangan tidak menutup kemungkinan terjadi kegagalan. Salah satu kegagalan yang terjadi  adalah keretakan pada beton (crack). Metode Scanning Image Analysis dilakukan untuk mengevaluasi struktur beton dengan cara memindai permukaan beton yang mengalami keretakan menggunakan alat portable scanner dengan bantuan software pengolah gambar untuk memprosesnya. Pada portable scanner ini, dilakukan pengukuran dengan tiga variasi resolusi pemindaian yaitu 300 dpi, 600 dpi dan 900 dpi. Penelitian dilakukan dimana posisi retak berada di posisi bawah, karena posisi bawah inilah yang paling sulit dilakukan di lapangan. Kemudian hasilnya akan dibandingkan dengan lebar aktualnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat akurasi hasil pengukuran portable scanner dibandingkan dengan microcrack detector dan jangka sorong pada pengukuran lebar retak permukaan beton dan untuk mengetahui pengaruh variasi resolusi pemindaian pada portable scanner terhadap pengukuran lebar retak permukaan pada beton. Tingkat akurasi pengukuran menggunakan portable scanner ditunjukkan dengan nilai kesalahan relatif. Kesalahan relatif tertinggi pada hasil pengukuran lebar retak menggunakan portable scanner yaitu 3,350% terhadap microcrack detector dan 4,680% terhadap jangka sorong. Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa nilai kesalahan relatif kurang dari 5% sehingga akurasi masih di dalam batas toleransi. Berdasarkan analisis varian dengan uji F untuk hasil pengukuran menggunakan portable scanner antar resolusi pemindaian terhadap hasil pengukuran lebar retak menunjukkan Fhitung < Ftabel artinya tidak terdapat pengaruh resolusi pemindaian portable scanner pada hasil pengukuran lebar retak. Kata kunci: beton, portable scanner, resolusi pemindaian, retak
Studi Perencanaan Desain Sambungan Balok-Kolom Dengan Sistem Pracetak Pada Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Rahmadhan, Gita Yusuf; Hidayat, M. Taufik; N, Christin Remayanti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.81 KB)

Abstract

Banyaknya gedung – gedung yang dibangun membuat lahan yang tersedia semakin lama semakin sempit. Oleh karena itu, banyak daerah yang mulai membangun gedung – gedung bertingkat untuk mengatasi kekurangan lahan yang tersedia. Pembangunan gedung bertingkat saat ini sebagian besar menggunakan dua metode, yaitu dengan metode beton bertulang konvensional dengan menggunakan bekisting yang dicor di tempat dan menggunakan metode beton bertulang pracetak yang dibuat di pabrik atau di lokasi proyek kemudian dirakit. Konsep pembangunan gedung tahan gempa mengacu ke dalam SNI 03-2847-2002 dan SNI 03-1726-2002 sehingga acuan kedua peraturan tersebut akan didapatkan struktur yang tahan gempa, efektif, dan efisien. Studi ini merupakan perhitungan gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang dengan zona gempa 4. Dari hasil studi didapatkan bahwa dimensi balok induk berukuran 40 cm x 60 cm dengan tulangan lentur digunakan D19 dan tulangan geser 10. Untuk struktur kolom lantai 1 hingga lantai 4 berukuran 80cm x 100 cm dengan menggunakan tulangan lentur D29 dan tulangan geser 10 dan lantai 5 hingga lantai 8 menggunakan dimensi 70 cm x 90 cm dengan menggunakan tulangan lentur D29 dan tulangan geser 10. Panjang penyaluran balok – kolom yang digunakan tidak boleh kurang dari 668,16 mm  Ukuran kolom dan balok berukuran cukup besar karena struktur diasumsi tidak menggunakan dinding geser.
PENGARUH CAMPURAN KADAR BOTTOM ASH DAN LAMA PERENDAMAN AIR LAUT TERHADAP LENDUTAN PADA BALOK Novianto, Muhadi Wiji; S, Ristinah; Simatupang, Roland Martin
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561 KB)

Abstract

Beton merupakan salah satu bahan bangunan yang merupakan campuran heterogen antara agregat kasar dan agregat halus dengan pengikat semen dan air yang dalam proses pencampurannya mengalami proses pengerasan atau hidrasi dalam kurun waktu tertentu. Pada umumnya elemen – elemen pokok pada konstruksi bangunan terutama kolom, balok dan plat yang dibuat dengan beton. Dari sisi ekonomis, selain mudah dibuat dan mudah dibentuk, bahan beton juga memiliki keunggulan lain yaitu agregat pengisi pasir dan kerikil atau batu pecah sangat berlimpah di alam sehingga mudah didapat. Dari segi kekuatan, bahan beton memiliki kekuatan tekan yang sangat tinggi, artinya beton sangat ideal untuk menerima beban tekan. Lendutan merupakan fungsi dari pembebanan dan kekakuannya. Perilaku hubungan beban dan defleksi pada balok beton bertulang pada dasarnya dapat diidealisasikan menjadi bentuk trilinier. Bentuk trinlinier tersebut membagi kondisi lendutan menjadi tiga bagian yaitu daerah I sebagai kondisi elastis, daerah II sebagai kondisi kemampuan layan/serviceability, dan daerah III sebagai kondisi plastis. Daerah serviceability merupakan daerah yang dibatasi dengan terjadinya retak pertama pada beton hingga pada pembebanan 70% beban maksimum yang mampu ditahan balok. Pada penelitian lendutan balok digunakan benda uji balok beton bertulangan dengan dimensi 70 mm x 100 mm x 1100 mm, dan benda uji silinder 150 mm x 300mm untuk uji kuat tekan. Benda uji balok dan silinder dibuat dengan variasi bottom ash sebagai pengganti agregat halus sebesar 0%, 10%, 20%, dan 25%. Data lendutan diperoleh dengan pembacaan dial gauge pada setiap pembebanan.. Berdasar penelitian didapatkan nilai kuat tekan beton bottom ash lebih rendah dibanding kuat tekan beton normal. Menurunnya kuat tekan beton berpengaruh pada lendutan yang terjadi. Untuk nilai beban yang sama lendutan balok beton bottom ash sedikit lebih besar dibanding balok beton normal.Kata kunci: bottom ash, agregat halus, lendutan, balok
PENGARUH CAMPURAN KADAR BOTTOM ASH DAN LAMA PERENDAMAN AIR LAUT TERHADAP KUAT GESER PADA BALOK Yodyawira, Kemal; S, Ristinah; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.711 KB)

Abstract

Batubara yang digunakan sebagai sumber energy menghasilkan residu berupa fly ash dan bottom ash. Di Indonesia banyak dijumpai bottom ash dimana volumenya akan terus bertambah tiap tahun. Keberadaan bottom ash ini dianggap sebagai limbah yang dapat mencemari lingkungan dan mengganggu masyarakat sekitar. Penelitian menggunakan balok beton bertulang berukuran 7 x 10 x 110 cm sejumlah 24 benda uji dengan 4 variasi kadar campuran bottom ash dan 3 variasi lama perendaman dengan air laut. Setiap variasi penelitian digunakan 2 benda uji balok beton bertulang dan tiap benda uji diberikan sampel beton silinder sejumlah 3buah.Variasi kadar campuran bottom ash yang digunakan adalah 0%, 10%, 20%, dan 25% sedangkan lama perendaman yang digunakan adalah 7, 14, dan 28 hari. Ujian kuat geser pada balok dengan tumpuan sendi-sendi menggunakan alat hydrolic jack dimana pembacaan bebannya menggunakan load cell. Metode yang digunakan untuk pengolahan data adalah metode statistik ANOVA 2 arah dan regresi. Dari pengujian ini didapatkan bahwa terdapat pengaruh variasi campuran bottom ash dimana nilai hasil uji balok dimana Pn uji yang paling tinggi terjadi pada campuran bottom ash 10% sehingga kuat geser yang paling tinggi terjadi pada prosentase tersebut. Sedangkan untuk nilai kuat tekan dan Pn uji yang paling rendah terjadi pada campuran bottom ash 25%. Berdasarkan hasil analisis statistik uji F dua arah dengan α = 0,05, menunjukkan bahwa ada pengaruh lama perendaman dengan menggunakan air laut akan tetapi tidak terlalu signifikan terhadap nilai kuat geser  pada balok. Vuuji rata-rata padabalokbetonbertulangdenganvariasicampuranbottom ash 0%, 10%, 20%, dan 25% padarendaman 7 harisecaraberturut-turut 625 kg, 700 kg, 615 kg, dan 636,25 kg. Rendaman 14 harisebesar 611,25 kg, 672,5 kg, 615 kg, dan 615 kg. Rendaman 28 harisebesar 592,5 kg, 695 kg, 625  kg, dan 650 kg.   Kata kunci: bottom ash, rendaman, balokbetonbertulang,kuattekanbeton, kuatgeser, ujisilinder, ujibalok
PENGARUH CAMPURAN KADAR BOTTOM ASH DAN LAMA PERENDAMAN AIR LAUT TERHADAP KUAT TEKAN PADA SILINDER BETON Arinata, Achmad Subki; Hidayat, M. Taufik; Wibowo, Ari
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.536 KB)

Abstract

Bottom Ash adalah limbah hasil pembakaran batu bara dimana jumlahnya akan terus meningkat selama industri terus berproduksi. Penanganan limbah ini dilakukan dengan cara menimbunnya di lahan kosong sehingga apabila volume limbah semakin bertambah maka semakin luas pula area yang diperlukan untuk menimbunnya. Berbagai potensi tersebut dimanfaatkan dengan pembangunan berbagai prasarana penunjang. Prasarana penunjang tersebut seperti pelabuhan laut, anjungan lepas pantai, jembatan, tempat peristirahatan, dermaga dan sebagainya. Dalam proses pembuatannya kontak dengan air laut terkadang tidak dapat dihindarkan. Tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui  pengaruh campuran spesi semen dengan Bottom Ash terhadap nilai kuat tekan beton dengan variasi campuran persentase  0%, 10%, 20%, 25% dan direndam air laut pada durasi 7, 14, 28 hari. Faktor campuran kadar Bottom Ash dan lama perendaman air laut pada silinder beton menunjukkan bahwa penambahan Bottom Ash sebagai pengganti semen sebanyak 10% memiliki peningkatan kekuatan beton dari beton normal (kadar Bottom Ash 0%) sebanyak 1,95 MPa untuk rendaman 7 hari, 3,87 MPa untuk rendaman 14 hari, 0,5 MPa untuk rendaman 28 hari. Dan untuk kuat tekan pada rendaman 14 hari dan 28 hari mengalami penurunan kekuatan beton secara tidak signifikan. Setelah mengetahui hasil dan pembahasan pengaruh campuran kadar bottom  ash dan lama perendaman air laut terhadap kuat tekan pada silinder beton, maka hal ini menunjukkan dengan penurunan kuat tekan seiring dengan bertambahnya Bottom Ash yang digunakan, karena sifat semen yang mampu mengikat dan mengeras tidak dapat digantikan seluruhnya oleh Bottom Ash dan juga karena penggunaan air dalam jumlah yang sama dalam semua variasi. Lamanya perendaman menggunakan air laut mempunyai pengaruh yang tidak terlalu signifikan terhadap nilai kuat tekan pada silinder beton. Hal ini disebabkan air laut memperlambat proses hidrasi atau pengerasan pada beton.   Kata kunci :    Bottom Ash, silinder beton, rendaman, air laut, kuat tekan beton
Pengaruh Campuran Kadar Bottom Ash Dan Lama Perendaman Air Laut Terhadap Kapasitas Lentur Pada Balok ., Wisnu; Hidayat, M. Taufik; Nuralinah, Devi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (536.75 KB)

Abstract

Salah satu cara memanfaatkan bottom ash adalah dengan menggunakan material tersebut sebagai bahan pengganti semen pada campuran beton. Untuk mengetahui hasil  pengaruh bottom ash dan lama perendaman dengan air laut maka pada penelitian  ini dilakukan  pengujian  kuat tekan  pada silinder dan  kuat lentur pada balok. Penelitian menggunakan balok beton bertulang berukuran 7 x 10 x 110 cm sejumlah 24 benda uji dengan 4 variasi kadar campuran bottom ash 0%, 10%, 20%, dan 25% sedangkan lama perendaman yang digunakan adalah 7, 14, dan 28 hari.Dari pengujian ini didapatkan bahwa terdapat pengaruh variasi campuran bottom ash dimana nilai kuat tekan yang paling tinggi terjadi pada campuran bottom ash 10%. Demikian juga halnya dengan hasil uji balok dimana Pn uji yang paling tinggi terjadi pada campuran bottom ash 10% sehingga kapasitas lentur yang paling tinggi terjadi pada prosentase tersebut. Sedangkan untuk nilai kuat tekan dan Pn uji yang paling rendah terjadi pada campuran bottom ash 25%. Berdasarkan hasil analisis statistik uji F dua arah dengan α = 0,05, menunjukkan bahwa lama perendaman tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada kapasitas lentur pada balok. Mn uji rata-rata pada balok beton bertulang dengan variasi campuran bottom ash 0%, 10%, 20%, dan 25% pada rendaman 7 hari secara berturut-turut 209,25 kgm, 228,375 kgm, 201,375 kgm, dan 191,8125 kgm. Rendaman 14 hari sebesar 207 kgm, 230,625 kgm, 209,25 kgm, dan 197,1 kgm. Rendaman 28 hari sebesar 218,8125 kgm, 225,5625 kgm, 217,4625 kgm, dan 199,125 kgm. Kata kunci :    bottom ash, rendaman, kuat tekan beton, kapasitas lentur
Studi Analisis Sambungan Balok-Kolom Dengan Sistem Pracetak Pada Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang Wiranata, Arga; S, Ristinah; Hidayat, M. Taufik
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (791.611 KB)

Abstract

Pembangunan tiada henti-hentinya untuk terus dikembangkan. Akan tetapi dengan Banyaknya gedung – gedung yang dibangun membuat lahan yang tersedia semakin lama semakin sempit. Oleh karena itu, banyak daerah yang mulai membangun gedung–gedung bertingkat untuk mengatasi kekurangan lahan yang semakin sempit. Pembangunan gedung bertingkat saat ini sebagian besar masih tetap menggunakan metode beton bertulang konvensional dengan menggunakan bekisting yang dicor di tempat yang akan menelan biaya lebih mahal karena membutuhkan banyak sekali bekisting. Akan tetapi sekarang ada trobosan baru untuk mengurangi penggunaan bekisting yang banyak, yaitu dengan menggunakan metode pracetak yang dibuat di pabrik atau di lokasi proyek kemudian dirakit. Konsep pembangunan mengacu ke dalam SNI 03-2847-2002 dan SNI 03-1726-2002 sehingga acuan kedua peraturan tersebut akan didapatkan struktur yang tahan gempa, efektif, dan efisien. Dalam studi ini merupakan analisis gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang dengan zona gempa 4 yang di rencanakan kembali dengan menggunakan metode pracetak. Dari hasil studi didapatkan bahwa dimensi balok induk berukuran 40 cm x 60 cm dengan tulangan lentur digunakan D19 dan tulangan geser 10 harus memenuhi syarat aman terhadap kapasitas momen yang ada. Untuk struktur kolom lantai 1 hingga lantai 4 berukuran 80cm x 100 cm dengan menggunakan tulangan lentur D29 dan tulangan geser 10 dan lantai 5 hingga lantai 8 menggunakan dimensi 70 cm x 90 cm dengan menggunakan tulangan lentur D29 dan tulangan geser 10 harus bisa menahan berat beban yang ada diatasnya.Kata kunci : Sistem pracetak sambungan balok-kolom
Perencanaan Dinding Geser pada Struktur Gedung Beton Bertulang dengan Sistem Ganda Robach, Choerur; Anggraini, Retno; Zacoeb, Achfas
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.603 KB)

Abstract

Dinding geser pada Sistem Ganda sebagai salah satu alternatif sistem struktur, disyaratkan untuk memikul sebagian besar beban lateral, yaitu maksimum sebesar 75%. Distribusi beban lateral pada struktur dengan Sistem Ganda adalah proporsional sesuai dengan kekakuan relatif masing-masing komponennya. Selanjutnya, dengan beban yang sudah terdistribusi, dilakukan perencanaan pada dinding geser. Dengan menetapkan kekakuan relatif dinding geser terhadap seluruh gedung, akan didapatkan dimensi dinding geser yang diperlukan untuk memenuhi kekakuan rencana. Selanjutnya, dilakukan perhitungan massa gedung dan didapatkan gaya gempa berupa gaya geser dasar nominal V. Dengan Analisis Statik Ekuivalen didapatkan gaya geser dasar horizontal Fi untuk tiap lantainya. Gaya geser Fi kemudian didistribusikan ke tiap portal yang proporsinya sesuai dengan kekakuan relatifnya, sesuai dengan syarat Sistem Ganda. Dengan memodelkan dinding geser sebagai struktur kantilever, didapatkan gaya geser dan momen lentur, dan dari analisis terhadap tributary area (area yang didukung oleh dinding geser), didapatkan gaya aksial yang bekerja pada penampang dinding geser. Dari gaya-gaya dalam hasil analisis tersebut, direncanakan tulangan tulangan horizontal dan vertikal. Kemudian dari tulangan vertikal yang terpasang, dilakukan pemeriksaan kapasitas penampang terhadap lentur dan aksial dengan bantuan diagram interaksi.   Kata kunci : gedung, beton bertulang, Sistem Ganda, dinding geser, komponen batas.